Samurai Champloo

Chapter 3 - Is This Love?

Keesokan harinya, siang hari...

Hari ini perasaanku sangat gugup. Perasaan rindu bahwa aku ingin melihat wajahnya; ditambah cara bicaranya yang khas membuatku salah tingkah. Aku yang biasanya berbicara seadanya menjadi malu-malu dan diam mendengar ucapannya. Postur tubuh tegap yang tidak berubah dan senyum kemenangan yang selalu muncul di bibirnya memberikan ketenangan. Cara jalan yang santai dan seperti anak kecil, serta model rambut yang berbeda dari laki-laki biasa memberikan kesan wah! Ya dia! Mugen.

Lelaki yang kukenal dengan keahlian pedangnya sekaligus sikap seenaknya.

''Kenapa kamu mengikutiku, dada rata?'' Mugen bertanya dengan kedua tangan di belakang kepalanya sambil melihat ke arah langit. Ia seolah-olah marah karena bertemu denganku.

Tadi malam...

''Kenapa? Bukannya kau sudah ahli?''

"Hah?" tanyaku padanya.

''Kau seorang sarjana kan? Cepat sini, aku sudah membayarmu!'' Hah? Sarjana? Apa-apaan nih? Ia membawaku ke depan meja belajar dan menyuruhku duduk. Cara bicara yang kasar dan aku tahu suara ini. ''Cepat tuliskan yang aku bicarakan!'' Aku terus bertanya-tanya tentang pekerjaan ini. ''Hei! Jangan bengong saja! Cepat kerjakan!'' Lampu meja yang remang-remang mulai dinyalakan. Keadaan kamar lebih terang dari sebelumnya, tetapi cahaya ini hanya cukup untuk menulis saja. Ia pun mulai membicarakan tentang perjalanannya ke kota ini, gadis-gadis yang ia temui, cara-cara ia mencari uang dan pertarungan yang ia janjikan. Untuk menutup suratnya tentu saja diperlukan nama sang penulis. ''Mugen!'' Aku hanya diam. Dengan cepat aku menoleh ke arah laki-laki tersebut.

''Mugen... Mugen!'' teriakku. Mugen juga menolehkan kepalanya. Ia terkejut melihatku.

''Fuu! Apa yang kaulakukan disini?'' Kami hanya terdiam saling menatap.

''Apa yang kaulakukan disini? Dan surat apa ini?'' balasku. Kepada siapa ia menulis surat ini.

Ia hanya terdiam dan menoleh ke arah jendela seakan-akan menghindari tatapanku. Malam itu kami menghabiskan waktu berdua saja sambil terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sekarang...

''Apa! Dada rata? Bagaimana dengan kamu? Menulis surat saja tidak bisa! Memalukan!'' teriakku membalas pertanyaannya.

''Berisik! Kenapa kau mengikutiku?'' Ia berbalik menghadapku dan suaranya mulai memelan. Bukan Mugen yang biasanya.

''Kita hanya kebetulan berjalan ke arah yang sama.'' jawabku sambil menatap matanya.

''Oh, begitu ya?'' Ia mulai berjalan lagi. Suaranya mengecil. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya.

Dua hari sudah berlalu. Tabungan yang kudapat dari hasil kerja di rumah sarjana itu telah habis digunakan untuk makan. Mugen menggunakan sebagian besar tabungannya untuk berjudi. Kebiasaannya tidak berubah, ia masih suka berjudi dan melalui surat itu, sepertinya ia masih suka bermain wanita dan minum-minum. Jumlah sisa uang kami hanya tinggal sedikit. Selama perjalanan keluar kota, kami terus berbincang-bincang tentang perjalanan sejak perpisahan kami. Ucapan-ucapannya sudah tidak terlalu pedas seperti dulu. Ia juga menggunakan kata-kata yang sopan, bukan yang kasar. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya.

Persimpangan di luar kota mulai terlihat. Mugen pun bertanya, "Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan bersama-sama? Ke arah utara, kan?''

''Uhm.. Baiklah,'' jawabku sambil menganggukkan kepalaku. Aku ingin bertanya kenapa ia mengajakku. Tapi sudahlah, lebih baik melanjutkan perjalanan berdua dibanding seorang diri.

Kini kami mulai memasuki hutan belantara.

Jalan-jalan lebar mulai menyempit. Warna hijau (pohon-pohon rindang) dan biru muda (langit) beserta matahari yang selalu menemani perjalanan kami seolah-olah menghilang tanpa disadari. Pohon-pohon yang kami lewati semakin besar dan lebat. Mereka seakan-akan ingin memakan tubuh manusia kami yang terlihat kecil. Kami tidak mengetahui lagi apakah hari sudah malam. Hutan ini menutupkan dirinya dari dunia luar.

''Ah!'' Aku terjatuh karena tersandung dengan batang pohon besar di sampingku. Cahaya pun sudah tak tampak, hanya remang-remang dari sinar bulan.

''Kau tak apa-apa?'' tanya Mugen dengan lembutnya sambil jongkok melihatku.

''Tidak apa-apa.'' Aku mencoba bangkit berdiri. ''Ah!'' teriakku. Kakiku yang sekarang ini tidak dapat menopang tubuhku. Kakiku keseleo dan sepertinya besok baru sembuh. Hal ini mengganggu perjalanan kami dan aku tidak ingin menghambatnya.

''Sepertinya kau keseleo?'' tanya Mugen.

''Ah.. Tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita! Jaraknya tinggal sedikit lagi." Bagaimana aku bisa tahu tentang jaraknya, bodohnya aku. Seharusnya aku mencari alasan yang lebih tepat. Aku berusaha untuk berdiri, tapi rasa sakit ini lebih kuat dibanding usahaku untuk berdiri. Aku mulai terjatuh lagi. Kini aku hanya dapat duduk di batang pohon itu.

''Bodoh! Tidak apa-apa. Kita istirahat saja di sini, lagipula kita sudah berjalan jauh," jawabnya sambil mengumpulkan ranting-ranting di sekitarnya. Ia mencoba membuat unggun api. Tingkah laku dan cara berbicaranya membingungkanku.

''Lepaskan,'' kata Mugen.

''Hah? Lepaskan?"

"Sepatumu! Dasar! Berpikir bukan-bukan!'' Ia menungguku melepaskan sepatuku.

"Bukan yang itu! Yang satunya lagi! Kaki yang terluka, kaki kanan kan?''

"Ah, iya.'' Perkataan dan tindakan Mugen membuatku salah tingkah. Ia benar-benar menjadi pria santun. Kaki kananku mulai dipegangnya. Ia mengurut kakiku, sehingga urat-urat dan aliran darah kembali seperti semula.

''Yang ini?'' tanyanya. Aku hanya menganggukkan kepala sambil melihatnya. Perasaanku sangat kacau, tidak karu-karuan. Bagaimana bisa Mugen yang dulu menjadi Mugen yang sekarang? Ia berubah seratus delapan puluh derajat! Mugen yang bertindak tanpa berpikir dan berbicara dengan kasar menjadi Mugen yang pendiam dan mulai sensitif dengan sekitarnya meskipun kebiasaannya tidak berubah. Mungkin saja Mugen dirasuki roh baik. Satu hal yang pasti, jantungku berdegup kencang dibanding biasanya.