Gomen saya cuti lama sekali! Jadi sempat terlantar deh ini fic! Oke langsung aja tanpa banyak basa-basi!

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

dan

Je' T aime © Hime Uguisu

Pairing:

Sasu X Ten X Lee

Slight:

Neji X Gaara, Itachi X Ino (Request by Minami22),

Saku X Lee, Kankuro X Chauji (Request by The Lord of Lucifer)

Summary:

Ino dan Itachi datang untuk menjenguk Sasuke. Sakura datang tiba-tiba dan langsung kejar-kejaran sama Lee kayak difilm India. Tenten langsung panas negliatnya. Sasuke membaca artikel dimajalahnya 'Apakah kamu menyukai seseorang atau tidak?'. Chap. 3 UPDATE! RnR please! OOC, AU, slight NejiGaa, ItaIno, more..

AN:/ Maaf telat Update! Saya sangat berterima kasih atas respon berupa review yang telah kalian berikan! Dan untuk Minami22, nih saya kasih ItaIno di chap ini! Ikuzo! Sebelumnya saya mau Tanya, REVIEWER disini ada yang benci Yaoi? Biar saya kurangin nanti scene yaoinya nih.


You are Baka Maid!

A

Naruto Fanfic

By

Hime Uguisu


"Bocchan, anda sudah sadar?" Tanya Lee saat melihat Sasuke membuka kelopak matanya perlahan. Kheke.. Mulai sekarang Lee ngomongnya pake 'bocchan aja ah' biar kaya Sebas (walaupun jauh banget.. Banget.. Banget...). Sasuke mengucek matanya perlahan sebelum benar-benar menampakkan onyx-nya.

"Ini dimana?" Tanya Sasuke seperti mendesis.

"Ya elah dramatis amat sih! Udah kata pilm di tipi tipi aja begitu sadar nanya 'ini dimana', ya dirumah lah! Udah jelas kan ngeliat ini kamar situ sendiri!" Omel Tenten sambil mengambil minum dari atas nampan yang dibawanya dan memberikannya pada Lee. "Minum air dulu sana." Kata Tenten. Lee pun meraih gelas berisi air putih itu lalu..

Meminumnya! Tenten sukses langsung jatoh gak elit.

"Lee! Itu kan buat Sasuke! Yang pingsan kan nona muda Sasuke!" Bentak Tenten. Lee segera menghentikan minumnya dan segera menyodorkan gelasnya pada Sasuke. Padahal airnya udah diminum setengah. Melihat perlakuan itu, Sasuke merasa murka! (Lebay). Ia menepis gelas itu dengan kasar hingga terlepas dari tangan Lee dan jatuh pecah kelantai.

"Babu sialan! Gak ada yang sopan satu pun! Keluar sana!" Bentak Sasuke sambil menunjuk pintu keluar kamarnya dengan hawa membunuh.

"Baik bocchan!" Teriak Tenten dan Lee bersamaan lalu lari meninggalkan Sasuke dikamar. Tak berapa lama pintu kamar kembali terbuka dan sukses mutusin satu urat saraf Sasuke.

"Heh babu sialan ngapain lag.. Baka aniki!" Teriak Sasuke kaget. Gak capek apa teriak-teriak dari tadi?

"My sweet little brother! Aniki dat.. Auw!" Kata Itachi sambil berlari dengan tangan siap meluk Sasuke tapi langsung jatuh disamping kasur Sasuke karena perutnya ditendang Sasuke yang masih duduk diatas tempat tidur.

"Dasar norak." Ucap Sasuke dingin. Itachi merasa jutaan jarum menghujam jantungnya (pret!). Ia pun berdiri dan duduk ditepi ranjang Sasuke.

"Aniki dengar dari Lee kau pingsan, jadi aniki segera datang kesini." Jelas Itachi dengan senyum ke-kakak-an. Sasuke hanya mendengus kesal lalu menatap Itachi dengan wajah bingung. Beberapa detik kemudian Sasuke clingak clinguk seperti mencari sesuatu. Melihat tingkah laku adik kesayangannya itu (iyalah, orang adenya Sasuke doang kok!), Itachi pun berdehem, lalu bertanya.

"Mencari sesuatu?" Tanya Itachi. Sasuke tidak menggubris sebentar, lalu barulah menjawab.

"Mana istri kesayanganmu itu? Biasanya kan kalian lengket sekali. Dan jangan tersenyum padaku sambil berbicara keigo begitu ya! Dasar kambing berbulu domba!" bentak Sasuke. Itachi hanya manggut-manggut sambil nahan nangis ngedengerin kalimat terakhir adiknya itu. Katanya jenius tapi kok pribahasa aja salah sih?

'Yang bener Serigala berbulu domba Sasuke, kalau kambing berbulu domba ya memang namanya jadi domba.' Batin Itachi nahan ketawa sekaligus nahan nangis.

"Waa~ Sasu-chan mencariku ya? Aku tahu Aku memang cantik tapi tolong jangan perebutkan Aku begitu.." kata Ino yang tiba-tiba nongol masuk kedalem kamar Sasuke. Itachi plus Sasuke langsung swt denger kata-kata Ino. Apalagi Itachi. Kupingnya udah panas denger Ino godain Sasuke mulu. Ino pun berjalan menuju ranjang Sasuke dan duduk ditepi ranjang, tepat disebelah Itachi. Itachi merangkul wanita berambut pirang panjang diikat tinggi itu. Sambil sesekali tangannya membelai helai helai blonde itu. Ino memeluk Sasuke singkat lalu kembali menyandarkan tubuhnya dibahu Itachi.

"Aku sudah sehat, oh ayolah berhenti mengkhawatirkan Aku seperti anak kecil. lagi pula disini sudah ada Lee yang menjagaku." Jelas Sasuke. Namun bukan raut muka lega yang diperlihatkan Itachi, melainkan raut wajah tidak percaya dengan mata disipitkan. Tatapan mengintimidasi.

"Jangan-jangan kau memang punya hubungan special dengan Lee, ya? Tidak kusangka.." kata Itachi sekenanya. Membuat urat marah dikepala Sasuke makin jelas terlihat. Dengan santai ia pun mengayunkan kepalan tangannya untuk menjitak kepala aniki-nya itu.

"Baka aniki! Jangan menuduh yang macam-macam ya! Aku bukan Neji dan Gaara! Aku masih straight!" jawab Sasuke dengan nada sarkartis. Kasian Neji dan Gaa-chan yang tidak tahu apa-apa jadi dipersalahkan. Dasar Sasuke brengse..- *dikasih death glare ama Sasuke kalau ngelanjutin kata-kata*. "Pergilah aniki! Tinggalkan Aku sendiri!" kata Sasuke sudah kembali dengan nada bicaranya yang tenang. Itachi pun hanya angkat tangan lalu berdiri dari tepi kasur Sasuke. Disusul oleh Ino. Mereka pun berjalan bergandengan keluar dari kamar Sasuke.

Didalam kamar tinggalah Sasuke sendirian sedang duduk diranjang dengan tetap mengenakan selimut menutupi kaki sampai pinggangnya. Ia mengalihkan pandangannya pada jendela besar kamarnya yang langsung mengarah ke pekarangan rumahnya. Tepatnya langsung mengarah pada kebun tomat kecil miliknya. Ia tersenyum melihat tomat-tomatnya yang sudah cepat tumbuh besar (?). namun matanya terpaku diam saat sepasang onyx itu menangkap seorang gadis berambut cokelat yang biasa dicepol dua, kini tengah mengikat rambutnya dengan model pony tail. Gadis itu sedang menyiram pohon tomatnya dengan wajah yang damai. Seulas senyum tulus terukir di wajah bodoh Tenten itu *digaplok fans Tenten*. Tanpa sadar, pemuda raven itu pun ikut tersenyum.

"Tenten.." nama itu meluncur begitu saja dari pria raven yang sedang memperhatikan dari kamarnya. Beberapa menit kemudian Sasuke pun segera sadar dan terbangun dari dunia autisnya. Ia mengeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat untuk mengusir pikiran aneh yang sempat bersarang diotaknya yang karatan (?).

.

.

"Itachi~" Ino suara Ino terdengar diseluruh sudut ruang kamar itu. Ya, kamar untuk tamu yang bercat putih itu ditempati Itachi dan Ino karena mereka memutuskan untuk menginap sehari dirumah Sasuke.

"Ada apa, Ino sayang?" Tanya Itachi mendekati istrinya yang sedang merebahkan diri dikasur king size itu. Itachi pun akhirnya ikut merebahkan diri disamping Ino karena tangannya ditarik Ino hingga membuatnya jatuh dikasur. Ino tertawa kecil melihat rambut panjang Itachi yang jadi sedikit acak-acakan. Padahal abis dari salon dulu tuh! Itachi pun membenarkan posisinya jadi berhadap-hadapan dengan Ino. Ia mengelus kepala Ino dengan lembut. Onyx-nya terpesona menatap pancaran cahaya yang dipancarkan oleh pemilik aquamarine itu.

"Ino-chan Aku ingin sesuatu." Kata Itachi sambil terus memperdalam tatapannya dengan Ino. "Apa itu?" balas Ino pelan seperti mendesis. Itachi mendekatkan wajahnya dengan wajah Ino. Berusaha mengeliminasi tiap millimeter jarak mereka. Semakin dekat sampai akhirnya hidung mancung mereka saling bersentuhan. Itachi sedikit memiringkan kepalanya lalu mencium bibir ranum istrinya yang katanya (katanya) selembut dan semerah kelopak bunga mawar merah. Hanyalah sebuah ciuman lembut biasa sampai lidah Itachi berusaha menyusup kedalam mulut Ino. Dengan segera, Ino membuka sedikit bibirnya. Memberi akses untuk pemilik onyx seindah malam itu mengeksplorasi setiap sudut mulutnya. Mulai dari mengabsen deretan gigi putih Ino dengan lidahnya. Ia pun sedikit menekan langit-langit mulut gadis pirang itu dengan lidahnya.

"Err.. ah.. umm.." hanya erangan dan sedikit desahan yang bisa Ino keluarkan saat lidah terlatih suaminya menyusuri mulutnya. Sampai kebutuhan akan oksigen membuat mereka harus menghentikan aktivitas tadi itu. saItachi tersenyum simpul.

"Lanjut, ya?" Tanya Itachi penuh harap. Ino masih berusaha mengatur nafasnya sampai akhirnya ia mengangguk pelan. Dan bagian ini tidak perlu saya ceritakan lagi kan, Minami22?

.

.

"Shiroi bara no hanabira.. lalala.." nyanyi Tenten gak jelas sambil menyiram tanaman dikebun kecil itu. Padahal jelas-jelas yang dihadapannya itu tumbuhan Tomat, bisa-bisanya dia nyanyiin "Shiroi BARA" (tadi itu penggalan lagu Rinne~Rondo, tapi tanpa "lalala"). Ia masih berkonsentrasi memegang selang yang diarahkan pada tumbuhan didepannya sampai tangan dingin menyentuh bahunya.

"Tenten…" desis suara pria dibelakangnya. Merasa namanya dipanggil dengan suara mirip seperti hantu di film horror begitu, otomatis Tenten segera menengok dan mendapati wajah Lee close up. Karena kaget akhirnya Lee didorong sampai jatuh tidak elit dirumput.

"Setan!" teriak Tenten. Suara langkah kaki mendekat kearah mereka. Akhirnya Tenten membuka matanya yang tadi sempat terpejam karena takut. Ia melihat Sasuke sudah berdiri tak jauh dari hadapannya. Tuan muda si bungsu Uchiha itu berkacak pinggang sambil memasang raut muka sebal. Yah~ seperti biasa.

"Dasar babu bodoh, gak ada setan siang-siang. Itu Lee, memang mukanya kayak setan, tapi dia bukan setan. Cuma produk setan yang gagal jadi setan kok." jelas Sasuke gak jelas. Mukanya datar dan mengatakan bahwa dia benar, tapi omongannya berbelit-belit dan gak bisa dicerna oleh otak kecil Tenten.

"Bocchan?" rengek Lee yang udah menahan air mata ngedenger perkataan majikannya. Tenten mengucek matanya lalu kembali menatap Lee yang teronggok didekatnya. Ia pun berjalan menghampiri Lee dan duduk disebelahnya. "Maaf kan Aku, Lee!" kata Tenten dengan raut wajah menyesal. Lee hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut cokelat Tenten.

"Never mind." Ucap Lee tiba-tiba jadi pake bahasa inggris, mungkin karena dia abis makan roti tadi pagi. (apa hubungannya?). Melihat pemandangan pelayannya yang berbunga-bunga dan menyebarkan aura cinta kemana-mana membuat Sasuke jengkel. Dia merasa jadi pajangan dinding. Tidak ada yang menganggap dia ada disini. Karena kesal akhirnya Sasuke pun berdehem keras. Tetap tidak dihiraukan oleh mereka. Tenten sama Lee malah tambah asik ketawa-tawa. Sudah merasa sangat kesal akhirnya Sasuke menendang tubuh Lee sampe mental.

"Sialan! Gua dikacangin!" bentak Sasuke. Lee udah nyusruk sempurna dideket pager. Tenten cengo. Baru Tenten mau berdiri buat nyamperin Lee, tapi niatnya langsung diurungkan begitu melihat Lee yang sudah berhasil berdiri didekati seorang gadis berambut soft pink panjang didekat pagar.

"Pagi, Lee!" sapa gadis itu sambil pasang senyum genit yang sangat menyebalkan bagi Tenten.

"Ah! Pagi Sakura-chan! Seperti biasa, semangat masa muda!" seru Lee heboh sampai berapi-api. Lee pun membuka pintu pagar dan mempersilahkan Sakura masuk. Sedangkan sang pemilik rumah aka. Sasuke cuma bisa nahan marah sambil melihatnya dari kejauhan. Sakura sama Lee main kejar-kejaran. Kebetulan ketemu pohon, jadi aja mereka langsung sok ngumpet-ngumpet di pohon dengan gaya film india dan nyanyi India juga. Pas Sakura lari, gak sengaja kakinya kesandung batu dan jatuh nimpa Lee. Mereka langsung blushing-blushing gaje. Sasuke sama Tenten yang ngeliatin pemandangan itu cuma bisa ber-swt-ria.

"Mereka lebay. Siapa itu Sakura?" Tanya Tenten dengan wajah udah siap nonjok orang dengan tangan yang dikepal. Sasuke melirik sedikit kearah Tenten yang kini sudah berdiri disampingnya. Terlihat jelas ekspresi tak suka diwajah Tenten. Terlintas sedikit pemikiran jahil diotak pemuda raven itu.

"Mereka itu udah lama pacaran (bohong), Sakura itu babu rumah sebelah (jujur), dan mereka memang selalu sok romantis-romantisan tiap ketemu (jujur)." Jelas Sasuke. Muka Tenten jadi tambah muram. Mulai keluar hawa-hawa hitam dari tubuhnya. Melihat itu Sasuke jadi tertawa.

"Kenapa kau tertawa, tuan muda sialan?" bentak Tenten. Sasuke hanya mengibaskan tangannya didepan dadanya. "Wajahmu benar-benar menunjukan kalau kau cemburu, haha.. bisa-bisanya kau suka pada manusia lumut itu! Haha.. padahalkan wajahku lebih tampan darinya tapi kenapa kau tidak suka pada.." tawanya segera hilang begitu menyadari kalimat yang keluar dari mulutnya.

Sasuke's POV:

Oh, crap! Kenapa Aku mengatakan hal itu? Memangnya siapa yang peduli kalau Tenten suka padaku. Aku juga tidak pernah ingin dia suka padaku. Tidak! Tidak ingin! Lalu kenapa rasanya Aku kesal jika Lee sedang bersama Tenten dan merasa lega jika Lee tidak sedang bersama Tenten. Tidak, ini tidak mungkin! Aku pun berlari menjauh dari Tenten tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. Aku terus berlari menuju ke kamarku.

Didalam kamar, Aku merebahkan tubuhku diatas kasur empuk king size ku. Menutup mataku perlahan. Ah itu dia! Tanganku membuka laci meja kecil disamping tempat tidurku, meraba-raba isinya dan menemukan sebuah majalah. Aku mengeluarkan majalah itu dari dalam laci kemudian membuka majalah itu. Mencari special artikel yang terdapat didalamnya. Nah ini dia! Judul artikelnya 'Apakah kamu menyukai seseorang atau tidak?'.

NB:/ ciri2 ini sebagian saya ambil dari komik Ouran Koukou Host Club

"Pertama, suaranya mampu menenggelamkan suara orang lain disekelilingmu." Hmm, memang saat tertawa tadi rasanya Aku seperti tidak mendengar suara tawa Lee, coba baca yang lain lagi deh.

"Kedua, jika kau menutup matamu, kau akan dapat melihatnya tersenyum kearahmu." Aku akhirnya memejamkan mataku sejenak. Oh god, rasanya ia seperti menengok kearahku sambil tersenyum! Tidak, tidak! Ini tidak bagus! Aku pun kembali memasukan majalah itu kedalam laci dengan sedikit kasar. Aku takut, Aku tidak mau suka padanya. Tanganku mengacak-acak rambut ravenku dengan frustasi.

"Sasuke.."

"Tidak, Tenten!"

"Ne, Sasuke?"

"Bahkan rasanya seperti ada yang memanggil namaku, tapi tunggu dulu.. itu suara laki-laki.." Aku membuka mataku dan melihat Itachi sudah berdiri disamping tempat tidurku dengan tatapan bingung. Aku terdiam menatapnya.

"Tenten itu.. pembantu mu kan?" Tanya Itachi dengan nada hati-hati. Rasanya Aku yang baru saja membatu, kini sudah terbang menjadi pasir. Jangan-jangan ia mendengarkanku sejak tadi. "Kau menyukainya?" Tanya Itachi lagi-lagi membuyarkan lamunanku. Aku tercekat. Rasanya lidahku kelu. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dengan cepat.

'Kenapa gua jadi gini sih?' batinku. Aku menundukan kepalaku. Itachi akhirnya duduk ditepi ranjangku. Ia menepuk pundakku dengan pelan. Aku sedikit melirik kearahnya sebelum menghela nafas.

'Oke Sasuke tenangkan dirimu! Apa yang bagus dari Tenten?' batinku lagi. Itachi menepuk bahuku.

"Sasuke? Ya, kan?" Tanya Itachi seperti mendesakku. Tidak kok, Aku tidak suka dengannya. Jangan bercanda, Aku baru mengenalnya beberapa hari.

"Cinta bukan soal berapa lama kau mengenalnya." Ucap Itachi tiba-tiba dengan nada sok menggurui. Aku tersentak kaget.

"Sejak kapan kau jadi tukang baca pikiran orang, baka aniki?" tanyaku kaget. Itachi geleng-geleng kepala.

"Pokoknya Aku akan merestui siapapun yang kau pilih Sasuke.." sambung Itachi sambil berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu kamarku. Aku mengambil bantal didekatku dan bersiap melemparnya.

"Memangnya Aku akan menikah apa? Sana pergi kau baka aniki!" teriakku sambil melempar bantal kearah Itachi yang langsung berlari kabur dan menutup pintu kamar. Cih, kuso!

End of Sasuke's POV

.

.

.

Sementara itu didapur..

"Tenten~ ternyata kau sudah disini. Kukira kau masih ada ditaman." Kata Lee yang tiba-tiba masuk kedapur. Ia melihat Tenten sedang memasak sambil memunggunginya.

"Kau kira Aku orang bodoh yang hanya akan diam disana menyaksikan kau pacaran dengan Sakura, huh?" kata Tenten dengan nada sarkartis. Ia pun mengangkat lebih tinggi pisau daging yang sedang ia gunakan, lalu menurunkannya kembali untuk memotong daging sapi itu dengan tempo yang sedikit slow motion, tapi sangat kasar begitu. Sekilas seperti seorang pembunuh yang sedang menakut-nakuti mangsanya. Lee menelan ludah dengan sulit begitu melihat pisau yang terus Tenten gunakan untuk memotong dengan kasar.

"Kau kenapa Tenten? Aku tidak pacaran dengannya kok. sungguh!" kata Lee berusaha berbicara normal padahal udah keringet dingin. Tenten menghentikan kegiatan memotongnya dengan posisi tangannya memegang pisau sampai pisaunya terletak disebelah telinga kanannya,

"Oh!" uacp Tenten dengan penuh penekanan, kemudian menurunkan pisau itu dengan cepat untuk segera menghantam daging dibawahnya. Lee jadi makin takut.

"Me.. memang kena.. na..pa? K.. kau ti.. ti.,. tidak suka?" Tanya Lee gugup. Tenten akhirnya meletakan pisau daging nan tajam itu disebelah kompor. Ia menengok kearah Lee untuk menatap wajah pemuda 20 tahun itu. Usianya memang tak jauh dengan Sasuke.

"Tentu saja Aku tidak suka! Entah kenapa kalau melihatmu dengan gadis lain membuatku kesal tau!" gerutu Tenten. Lee hanya bisa tercengang mendengarnya. "Lee kau memang baik, dank arena itu entah kenapa Aku jadi berasa nyaman kalau didekatmu." Sambung Tenten lagi. Ia menundukkan wajahnya yang sudah merah. Lee terdiam sebentar sebelum mendekati Tenten dan memeluk gadis itu.

"ah Tenten kau berlebihan. Benarkah? Kalau begitu kurasa kita bisa akrab sekali, ya? Hehe.." mendengar ucapan Lee itu Tenten hanya mempererat kepalan tangannya. Ia berusaha menahan air matanya yang entah mengapa ingin keluar.


-To Be Continue-

Huwaa.. pendek atau gimana nih? Maaf kalau banyak typo berseliweran, mata saya bener-bener ngantuk. Saya ngerjain fic ini pas malem banget, bela-belain biar bisa cepet di publish, hehe..

Semoga Reader semua puas ya!

Besok mungkin Sasuke bakal mulai sekolah! :D

THANKS TO:

greengroophy, Ann, 19830710, Minami22, ZephyrAmfoter, Naer Sisra, Rin Akari Dai ichi, miss gooby, Namikaze Sakura, Cloe Eve.

Kalian yang membuat saya semangat ngelanjutin fic ini! arigatou!

Mind to Review, please?