Kurangkai Puisi dan Simfoni
A Hunter x Hunter Fan Fiction.
Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.
Chapter 3
Ada seuntai kesedihan yang menggantung di kegelapan malam
Rembulan merah yang meneteskan darah
Sewarna dengan amarah di hatimu
Bolehkah aku mengurai kesedihan itu?
Agar senyummu dapat merekah indah
Membakar segala ketidakadilan di bumi
Menguar kabut dan menghapus ilusi
Yang terperangkap dalam penjara keabadian
Rangkaian nada membelenggu jiwa
Memutus perjanjian dan menghapus langkah
Ingin kusentuh dirimu
Memanggil namamu
Membuatmu sadar bahwa aku masih tetap di sini
Menunggu dan mengawasimu…
"Jadi ini, toko bunga yang menjadi lokasi pembunuhan sadis itu?" tanya Kurapika kepada Senritsu yang berdiri di sampingnya. Senritsu hanya mengangguk.
Toko bunga itu tampak asri dari luar. Namun jangan salah, seperti kata pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya, maka petuah kuno itu sangat pas untuk menggambarkan keadaan toko bunga yang tengah dikunjungi oleh Kurapika sekarang. Betul, penampilan toko bunga tersebut amat memikat untuk menarik orang-orang sekitar agar mengunjunginya, tetapi tempat indah itu pula yang dijadikan sasaran seorang pembunuh sadis untuk melakukan serangan mautnya.
Pembunuhan yang begitu menyeramkan terjadi di sebuah toko bunga yang indah. Kurapika tak habis pikir dengan sang pembunuh yang menurutnya begitu tolol mengambil tempat. Mengapa dia begitu tega mengotori kelopak bunga dan dedaunan yang suci dengan cipratan darah?
"Menurutmu, apa pelaku pada pembunuhan kali ini sama dengan pelaku pembunuhan di toko antik beberapa hari yang lalu?" tanya Kurapika.
"Ada kemungkinan, karena…" Senritsu menunjuk sebuah benda. "Ada itu di sini."
Kurapika menoleh ke arah benda yang ditunjuk oleh Senritsu. Sebuah piano yang elegan.
"Pelakunya memakai sonata kegelapan lagi, ya?" ujar Kurapika dengan nada mengejek. "Dia memang tidak mengotori tangannya dengan darah, tetapi tekniknya yang seolah 'bersih' itu tetap menumpahkan darah sebanyak ini… Benar-benar licik…"
Kurapika melangkah, menunduk, dan mengambil setangkai bunga anyelir putih yang terkena noda darah.
"Kalau DIA betul-betul pelakunya…" geram Kurapika sambil menggenggam bunga itu di tangannya erat-erat. "Tak akan kubiarkan dia hidup."
Pedang itu terlepas dengan sukses dari tangan Kuroro. Kuroro memungutnya sambil mendesah.
"Ternyata susah juga," gumamnya pelan, lalu seraut wajah terbayang di pikirannya. "Kalau dia yang mengajariku menggunakan pedang, pasti lebih menyenangkan."
Cahaya mentari hampir tenggelam di ufuk barat. Warna jingga dan lembayung memantul di mana-mana. Kuroro duduk sambil menatap matahari itu.
"Seandainya, saat-saat seperti ini tak harus kulewatkan sendiri," desahnya lagi, sambil tersenyum penuh makna. "Bersamamu pasti jauh lebih membuatku bahagia."
"Aduh, leherku sakit…" ujar Kurapika. "Tidak biasanya aku batuk-batuk sampai sehebat tadi. Ada bersinnya pula."
"Mungkin ada yang lagi memikirkan kamu," Senritsu senyum-senyum.
"Hah? Siapa?" tanya Kurapika penasaran.
"Entahlah…" Senritsu mengangkat bahu. "Itu cuma opiniku saja, kok."
"Hmm… siapa ya…?" Kurapika tampak berpikir serius.
"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan," Senritsu berkata menenangkan. "Kasus pembunuhan ini, bagaimana menurutmu?"
"Ada satu nama yang belakangan ini menggangguku. Tapi aku tidak mau menuduh," ucap Kurapika.
"Siapa?"
"Kuroro Lucifer," lidah Kurapika seolah terjepit ketika mengucapkan nama orang yang sangat dibencinya itu.
"Kenapa kamu merasa dia pelakunya?"
"Yah…" Kurapika tampak gugup. "Entahlah, perasaanku mengatakan begitu."
"Ooh… kamu memiliki feeling seperti itu karena kalian memiliki benang merah, 'kan?"
"Be-benang merah APA?"
"Hehehe… aku hanya bercanda…" Senritsu tertawa. Tawanya tambah meledak tatkala melihat pipi Kurapika yang bersemu merah.
Aku menyukaimu… benarkah itu?
Walau itu benar sekalipun
Aku tidak mau percaya!
Aku menolaknya!
Tidak boleh…
Aku tidak boleh memiliki 'perasaan' ini…
Jangan sampai
Aku harus mengakui
Kalau aku memang benar-benar menyukaimu
Kuroro…
Kasus baru. Kali ini bukan sebuah pembunuhan, tetapi kebakaran yang menghanguskan berpuluh-puluh rumah. Namun, berdasarkan bukti-bukti yang ditelaah oleh pihak kepolisian, kebakaran itu disengaja. Meski begitu polisi belum bisa melacak siapa pelakunya. Jadi bisa disimpulkan, kebakaran tersebut bukan karena kasus tabung elpiji 3 kilogram yang meledak seperti yang marak terjadi belakangan ini.
Mendengar kabar itu Kurapika tak tinggal diam. Dia langsung melangkahkan kakinya ke lokasi kejadian, tanpa ditemani siapapun. Padahal, sekarang sedang tengah malam.
Kerumunan orang memenuhi TKP. Kurapika menyeruak di antara puluhan orang tersebut. Napasnya tercekat tatkala melihat siapa yang berada di tengah-tengah kerumunan orang tersebut. Tiga orang polisi… dan Kuroro Lucifer!
Kurapika meyakinkan penglihatannya. Dia menatap wajah seseorang yang tengah dibekuk oleh polisi itu lekat-lekat. Memang betul, itu sungguhan Kuroro!
"Ternyata pria itulah pelaku pembunuhan yang selama ini terjadi," seorang lelaki berbicara di samping Kurapika. "Sayang sekali, cakep-cakep kelakuannya kok begitu."
"Berarti firasatku benar…" bisik Kurapika, nyaris tak terdengar. Matanya menatap sedih ke arah Kuroro. Entah mengapa ia merasa hatinya begitu pilu.
Bola mata Kuroro bergulir, memandang Kurapika. Kurapika tampak kaget karena pandangan mereka berdua saling bertemu. Kuroro tersenyum sekilas, lalu berbisik tanpa suara, namun dari gerak bibirnya Kurapika bisa memahami kalau Kuroro sedang berkata, "Akhirnya kamu datang."
Kurapika menatap kepergian Kuroro yang dibawa oleh polisi dengan mata nanar. Dia merasa bingung dengan kata-kata Kuroro itu. Dia juga merasa heran, kenapa Kuroro tampak menyerahkan diri dengan sukarela? Berbagai pertanyaan terlintas di benaknya…
Apa sebetulnya yang sedang terjadi?
_ to be continued _
Hunter x Hunter Side Story:
Pada suatu hari…
Author : Kurapika!
Kurapika : Ada apa?
Author : Ini… ada yang mau aku kasih tau sama kamu…
Kurapika : Author bawa apa itu?
Author : Oh, ini koran beberapa hari yang lalu. Kamu tau 'kan perihal pembunuhan sadis yang terjadi belakangan ini?
Kurapika : (ngangguk)
Author : Nah, aku tau siapa pelakunya!
Kurapika : Siapa?
Author : Orang itu adalah… KURORO!
Kurapika : WHAT? Jadi feeling-ku selama ini benar?
Author : Nggak mungkin salah, percaya deh sama aku… 'kan aku yang buat fanfic ini… hehehe…
Kurapika : Ya udah, kalo gitu, sini aku pinjam koran-nya! Biar aku labrak si Kuroro itu! (ngambil koran dari tangan author dan kabur)
Author : Lha? Kayaknya Kurapika salah bawa koran, deh… Itu 'kan…
Lalu…
Kurapika : KURORO!
Kuroro : Apa ada? Eh, salah… ada apa?
Kurapika : Ternyata kamu ya dalang dari semua ini? (sambil nunjukin koran di tangannya tepat di muka Kuroro)
Kuroro : Koran apaan sih ini? (membaca tulisan yang tertera di koran tersebut) HAH? Justin Memble dapat double platinum untuk single-nya yang bertajuk 'Bebek'? Memang apa hubungannya sih aku dengan semua ini?
Kurapika : APA? (melihat koran itu) Jadi… si author geblek itu salah ngasih koran? Dasar dodol!
Tak jauh dari situ…
Author : Hehehe… maap yah Kurapika, daku tidak sengaja… Itu 'kan koran dua bulan yang lalu, aku salah ambil koran tadi… hihihi… Biarin aja deh… (kabur secepatnya)
~ Note:
Halo, halo, minna-san!
Apa kabar?
Nggak terasa udah masuk chapter 3 nih…
Makin lebay aja ceritanya… *geplaked*
Bagaimana pendapat minna-san tentang chapter ini?
Review yah…
Bye!
-Azumaya Miyuki-
