Chapter 3 : Remember
Sudah kuduga dia bukan manusia, batin Castiel mencelos. Sejak pertama kali bertemu dengan Leyna, sinar wajah yang diliat Castiel bukan seperti saat ia melihat Sam dan Dean. Tapi seperti Anna, teman malaikatnya yang jatuh ke bumi. Sekarang dia yakin, Leyna memang malaikat yang jatuh. Tapi lantas mengapa dia dan Lucifer seakan sudah akrab?
"hai, Haniel."
Leyna meluncurkan air matanya dan sedetik kemudian memeluk Lucifer erat. Castiel yang masih bingung, hanya berdiam kaget dengan adegan ini. Lucifer membalas pelukan Leyna. Lama... Sangat lama.. Seperti mereka sedang saling merindu satu sama lain.
"Lucifer.. sudah lama sekali... terlalu lama.." kalimat Leyna terpatah-patah.
Lucifer mengangguk di bahu Leyna, "tenang, Leyna. Aku disini. Kita bersama lagi."
"Michael.. maafkan Michael, Lucifer. Bagaimanapun juga, saat ini dia tetap menyayangimu."
"aku tau, Haniel. Aku tidak pernah sedikitpun marah pada Michael. Dia saudaraku. Aku tetap menyayanginya seperti dulu. Hanya saja aku sedikit kecewa padanya," kata Lucifer, "bantu aku memenangkan the battle, Haniel."
Leyna melepas pelukannya, "kau akan melakukannya? Membunuh Michael?"
"aku tidak pernah mau membunuh Michael. Bantu aku menyadarkan Michael bahwa kita tidak perlu saling bertengkar," mohon Lucifer.
"tapi Michael tidak akan pernah mau. Dia selalu menuruti perintah Ayah, dan dia ingin semuanya berakhir. Ia ingin surga," jelas Leyna.
"Haniel, kalaupun Michael tidak mau. Bantu aku mengalahkannya. Bantu aku membuktikan bahwa aku benar. Bahwa aku dibuang ke neraka karena membela para malaikat! Aku benar, Haniel! Kenapa Ayah dan Michael begitu saja membuangku!," begitu bentak Lucifer.
"tapi Lucifer, kalau kau memenangkannya, maka banyak kaum manusa akan musnah. Dan bumi Ayah menjadi tak terawat," kata Leyna yang sedikit takut membuat Lucifer marah.
Lucifer seakan tidak percaya dengan kata-kata Leyna, "tapi.. aku benar, bukan? Manusia tidak lebih mulia dari kita.."
"aku sekarang mengerti, Lucifer," kata Leyna sambil memandang ke arah lain, "manusia lebih mulia daripada kita. Karena mereka punya nafsu, mereka saling menyayangi dan rela mati demi sudaranya. Satu hal lagi, sebagian dari mereka berusaha menjadi orang yang baik."
Lucifer terpaku menatap Haniel yang matanya hitam pekat, kontras dengan kulitnya yang putih pucat, "Haniel, sejak kapan kau terpengaruh oleh Winchesters?"
"aku tidak terpengaruh. Aku sekarang hanya manusia, dan aku juga ikut merasakan hal itu," jelasnya, "dan sekarang aku ingat kenapa aku jatuh ke bumi. Itu karena aku ingin dekat dengan Winchesters! Aku ingin tau mengapa mereka begitu spesial di mata Ayah. Dan sekarang aku tau, Dean dan Sam secara tidak langsung adalah kau dan Michael.."
"apa yang Ayah mau?" tanya Lucifer geram sambil memandang ke arah kaca di gedung kosong itu.
"entahlah. Mungkin Ayah hanya ingin memberi tes pada kalian. Kau dan Michael. Sekaligus Sam dan Dean. Mungkin Ayah ingin tau apakah dua malaikat atau dua manusia yang bisa melewati tes nya dengan baik," jelas Leyna.
"jadi kau tidak mau membantuku," kata Lucifer sambil tetap melamun ke arah luar.
"maaf, Lucifer."
"jadi kau akan berusaha mengehentikanku?" tanya Lucifer yang disambut anggukan Leyna, "di neraka, aku membayangkan seperti apa saat aku sudah keluar. Aku selalu menginginkan kau ada disampingku dan mendukung segala tindakanku seperti dulu. Kita berjalan bersama, kita menentang bersama, kita..." Lucifer menoleh dan menatap lekat mata Leyna, "selalu bersama, Haniel."
Leyna menitihkan air mata, "maaf, Lucifer."
"selama ini aku selalu mempercayaimu sebagai satu-satunya yang setia padaku," jelas Lucifer dan kemudian berjalan ke arah Castiel untuk mematikan api yang ada di sekitarnya, "pergilah."
Castiel lantas berjalan mendekat Leyna. Leyna membalikkan badannya dan berjalan pergi. Namun langkahnya terhenti saat ia ingat satu hal yang belum dikatakannya pada Lucifer, lantas ia menoleh, "goodbye, Lucifer."
Lucifer berdiri tegap menatap Leyna, "see you soon, Haniel."
Kepergian Ellen dan Jo Harvelle membuat semuanya merasa terpukul. Bobby hanya diam dan duduk di kursi rodanya menatap api yang sedikit demi sedikit mulai membakar foto kenangan mereka, tanpa setitik air matapun turun membasahi pipinya. Hanya sesekali matanya berkaca-kaca.
Leyna sangat kehilangan Jo, teman yang sudah dianggap sebagai keluarganya. Tapi yang membuatnya pusing dua kali lipat adalah Lucifer. Dia belum menceritakan hal ini pada Sam, Bobby, dan Dean. Dan dia tadi sempat mewanti-wanti Castiel agar menyimpan hal ini untuk sementara waktu.
"Leyna," panggil Castiel yang kemudian memberi kode mata seakan berkata Can I talk to you for a sec?, kemudian melangkah pergi dari ruangan kerja Bobby. Sam hanya berdiri di samping Bobby, sedangkan Dean menatap kepergian Castiel dan Leyna. Tidak biasanya Castiel mau bicara dengan Leyna.
Sesampainya diluar. Castiel duduk dibagian depan Impala Dean, "so?" melihat Leyna yang masih tak mengerti dan heran, Castiel melanjutkan, "Lucifer. Apa hubunganmu dengan dia?"
"cerita lama, dan panjang." Leyna malas menceritakannya.
"ceritakan," kata Castiel yang menyembunyikan rasa penasarannya.
Leyna mulai menceritakan awal dari kehidupan. Saat dia, Michael, dan Lucifer dulunya sering jalan bersama, bersahabat, berperang bersama. Hingga akhirnya Lucifer dibuang oleh Michel. Dan semakin lama sekitar beberapa tahun yang lalu, Leyna jatuh menjadi manusia karena dirinya memberontak, persis dengan Lucifer. Ia tak menyangka ternyata sesampainya di bumi, ingatannya hilang. Kemudian ia mendengar malaikat berbicara. Tentang Dean dan Sam Winchester yang kemudian ia merasa tak asing dengan nama itu. Yang tak lain, alasan ia memberontak.
"jadi kau masih disisi kami, atau Lucifer?" tanya Castiel.
Leyna menoleh menatap Castiel yang ekspresinya datar, "aku bersamamu, Castiel," katanya sambil memeluk bahu Castiel sebagai tanda kesetiannya. Bagaimanapun juga, selama ini, dari semua malaikat yang pernah ia temui, bagi Leyna Castiel lah yang paling berani dan mirip dengan dirinya. Memberontak.
Castiel menoleh dan melihat senyum Leyna mengembang di bibir mungil milik gadis itu. Dan pelukan yang ditujukan padanya tersebut, mampu membuat hati Castiel sedikit bergetar. Kenapa seperti ini?
