Malam semakin larut, setelah beberapa hari berkuda, akhirnya mereka sampai ke sebuah desa yang cukup terpencil di kaki Gunung Fuji. Bulan mulai menuruni tahtanya, membuat Sasuke menyimpulkan bahwa saat ini adalah waktu tikus[1]. Ia mengeratkan rangkulan pada sang gadis yang terkulai lemas di dadanya. Pelarian tanpa henti mereka ini memang menguras tenaga.
Sasuke membangunkan gadis itu saat mereka menemukan sebuah rumah yang tidak berpenghuni. Pemuda itu menyalakan api dari ranting pohon sebagai sumber penerangan, beruntung ia menemukan pelita kecil, segera ia nyalakan pelita tersebut. Jerami yang berserakan ia kumpulkan menjadi satu tumpukan, ia tata sedemikian rupa sehingga tumpukan jerami tersebut layak untuk dijadikan alas tidur. Rumah tua ini ia bersihkan seadanya agar dapat mereka gunakan sebagai tempat beristirahat.
Sasuke lalu ke luar rumah, membangunkan Sakura yang hampir tak sadarkan diri di bawah pohon. Gadis itu memang sudah terlalu letih, membuat Sasuke tak tega untuk membiarkannya berjalan ke dalam rumah. Ia menggendong gadis berhelaian merah muda itu dengan begitu hati-hati, membaringkannya di atas jerami. Penerangan mereka semakin redup karena api pada pelita yang semakin kecil.
"Anda tidak tidur?" tanya Sakura di tengah-tengah rasa kantuknya. Mata hijau itu samar-samar melihat sosok Sasuke yang duduk berjaga di dekatnya. Pemuda itu duduk ditemani dengan katana-nya yang berwarna hitam legam.
Penolongnya itu menggeleng.
"Tapi, Anda juga pasti lelah." Mungkin saja jauh lebih lelah dari Sakura.
"Kau yang butuh istirahat."
"Anda mengendalikan kuda sambil menjagaku, Anda jauh lebih letih."
"Tidurlah."
"Tapi ..."
"Aku samurai, sudah biasa menghadapi situasi seperti ini. Terkutuklah aku jika aku tidur dan membiarkan seorang gadis tanpa penjagaan."
Ah, begitu. Benar juga, Sakura hampir lupa kalau pria ini adalah seorang samurai dengan harga diri tinggi. Sasuke pastilah sangat menjunjung tinggi kebanggaan sebagai seorang pria sejati. Lelaki selalu ingin dikenal sebagai pelindung, orang yang menjaga, superior. Rasa lelah pun akan dilawan jika harga diri sudah berbicara.
"Baiklah. Kalau begitu, aku senang karena Anda selalu melindungiku, selamat tidur," ujar Sakura sebelum ia benar-benar memasuki alam mimpi.
Sesaat sebelum pelita padam dan membuat ruangan menjadi gelap, Sasuke menangkap senyuman dalam tidur sang gadis. Hatinya yang tak pernah tersentuh merasakan kehangatan yang tak biasa.
Tidurlah, tak usah kaupedulikan rasa lelahku. Sudah menjadi tugasku untuk menjagamu.
Tidurlah, tak apa aku diserang rasa lelah. Asalkan kau tetap aman.
Tidurlah, aku akan terus berada di sini, tak masalah rasa kantuk ini menyerangku dengan begitu hebat.
Tidurlah, aku akan selalu berada di sini untukmu.
.
.
.
.
.
SHADOW
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari pembuatan fanfiksi ini.
AU
Flashback (full SasuSaku)
Didedikasikan untuk allihyun.
.
.
.
Saat kupikir hidupku sudah tenang, ujian itu kembali datang. Seperti siang dan malam. Di mana ada cahaya, pasti ada bayangan yang mengikuti. Di mana ada bahagia, pasti ada duka yang membayang. Sekali lagi, demi dirimu aku harus mengangkat pedangku.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi menjelang, burung-burung bernyanyi riang menyambut datangnya sang fajar. Kedua kelopak mata Sakura yang tadinya mengatup mulai terbuka perlahan-lahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Sasuke yang tertidur sambil bersandar di dinding kayu—tetap ditemani pedangnya.
"Sudah bangun?"
Sakura sedikit terlonjak karena suara datar lelaki itu mengagetkannya.
"Hm. Kira-kira sekarang pukul berapa?"
Sasuke melihat ke arah jendela yang tidak tertutup. "Sepertinya sekarang waktu kelinci[2]."
Sakura mengangguk-angguk. Ia memperhatikan keadaan sekeliling. Rumah ini cukup kotor, debu menempel di mana-mana. Atapnya juga sepertinya banyak yang bocor, terlihat dari cahaya matahari yang menembus dari atas. "Aku akan membersihkan rumah ini."
"Istirahatmu sudah cukup?"
Sakura mengagguk.
"Aku akan melihat apa yang bisa kita dapat dari desa ini."
Sakura menemukan ember dan beberapa kain yang sudah sangat lusuh. Di belakang rumah terdapat sumur yang sudah cukup tua. Gadis itu lalu mengambil air di sumur dan mulai membersihkan rumah. Rumah ini sepertinya sudah bertahun-tahun tidak ditinggali, terlihat jelas dari debu yang begitu tebal, dinding dari kayu yang mulai lapuk, dan rumput liar yang cukup tinggi di halaman. Siang harinya, Sasuke datang dengan membawa cukup banyak barang. Diantaranya ada makanan untuk makan siang mereka.
"Penduduk desa mengatakan kalau rumah ini memang sudah lama kosong, jadi kita boleh tinggal di sini."
"Syukurlah," timpal gadis itu sambil tersenyum.
Penduduk desa ternyata sangat ramah pada mereka, pada sore hari beberapa orang warga datang untuk membantu Sasuke membenarkan atap dan merapikan rumput yang sudah tinggi. Sakura sampai tersipu malu saat mereka berpikir kalau kedua orang yang berbeda jenis kelamin ini adalah sepasang pengantin baru. Keduanya memilih tidak menjelaskan apa-apa kepada penduduk desa karena tak ingin membuat situasi semakin rumit. Usaha mereka tak sia-sia, rumah tua ini akhirnya terlihat lebih layak untuk ditinggali. Kembali pada malam harinya Sasuke memilih untuk tidak tidur. Ia menyuruh Sakura untuk tinggal di kamar sementara ia berjaga di luar. Dinding yang menjadi pemisah sama sekali bukan halangan. Mereka berdua masih dapat merasakan kehadiran satu sama lain. Suasana ini sungguh membuat hati sang dara diliputi ketenangan.
.
.
.
oOo
.
.
.
Hari demi hari berlalu. Mereka menjalani hidup dalam pelarian ini tanpa ada rasa was-was sedikit pun. Rasanya sangat tenang, tak ada orang yang akan menemukan mereka di sini.
Suatu malam, badai besar menghantam seluruh penjuru desa. Angin yang berembus begitu kencang, hujan sangat deras, petir berlomba-lomba menyambar bumi. Suara-suara yang menggelegar membuat Sakura diliputi rasa takut. Pelan-pelan ia membuka pintu kamar, mengendap-endap menghampiri Sasuke yang bersandar di dinding dekat pintu.
Sasuke yang menyadari kehadiran Sakura membuka matanya. "Ada apa?"
"Aku takut."
"Tenang saja."
"Maukah kau menemaniku di dalam?"
Sasuke tertegun beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
Ia membiarkan Sakura tertidur di lengan kokohnya. Biasanya ia bisa tidur dengan mudah, padahal tempatnya bersandar adalah dinding yang tak nyaman. Namun, sekarang, untuk memejamkan mata pun rasanya begitu sulit. Tempatnya tidur sekarang adalah futon[3], jauh lebih nyaman daripada dinding. Sekarang ada selimut sebagai penghangat—biasanya dalam dinginnya malam, ia tidur tanpa selimut. Tapi, sekarang, ia sama sekali tak bisa tidur.
Jawabannya adalah karena Sakura. Gerakan yang dibuat gadis itu bagaikan magnet yang menarik semua atensi Sasuke. Embusan napasnya, gerakan kecil pada kelopak matanya, semuanya. Semua hal-hal kecil tadi membuat fokus lelaki itu hanya mengarah pada sang gadis. Kembali ia berusaha memejamkan mata dan kembali usahanya tak membuahkan hasil. Sasuke menyerah. Dibiarkannya gadis itu menguasai perhatiannya sepanjang malam.
Pemuda ini hanya tak menyangka, kalau pada malam-malam ke berikutnya, kejadian seperti ini akan kembali terulang. Tak tahu siapa yang memulai, yang jelas, mulai malam itu, mereka terus tidur dalam posisi seperti ini. Membuat Sasuke terus tersiksa karena keinginannya pada sang dara semakin tak terbendung.
.
.
.
oOo
.
.
.
Malam hari di musim panas dihabiskan keduanya di teras luar, memandangi langit malam yang dipenuhi dengan taburan bintang. Suasana lagit malam senada dengan yang terjadi di antara mereka, begitu tenang dan damai.
"Sasuke-kun, pernah mendengar legenda tentang Hikoboshi dan Orihime?"
"Pernah, hanya sekilas."
Gadis itu lalu bercerita dengan begitu bersemangat. Ia mulai becerita tentang asal mula Legenda Tanabata[4] yang mulai diperkenalkan sejak zaman Nara[5], legenda mengenai bintang Orihime si gadis penenun yang merupakan putri Raja Langit dan bintang Hikoboshi si penggembala sapi. Pernikahan Orihime dan Hikoboshi yang begitu bahagia membuat mereka melupakan pekerjaan masing-masing. Orihime tak lagi menenun dan Hikoboshi tak lagi menggembalakan sapi. Raja Langit sangat marah karena melihat hal tersebut. Mereka berdua lalu dipisahkan oleh sungai Amanogawa (Galaksi Bimasakti). Orihime begitu bersedih karena dipisahkan dari Hikoboshi. Mereka lalu diizinkan bertemu hanya setahun sekali, yaitu pada hari ketujuh di bulan ketujuh. Namun, jika hujan turun, maka sungai tersebut meluap dan sepasang kekasih itu tak dapat bertemu.
"Makanya pada tanggal sebelumnya, di istana pada zaman Nara diadakan festival untuk berdoa pada dewa dan menyampaikan permohonan," ujar Sakura menutup ceritanya.
"Kalau aku jadi Hikoboshi, aku akan menentang Raja Langit," balas Sasuke.
"Kau menentangnya?"
"Akan kuperjuangkan semua yang kuinginkan."
Kedua insan ini lalu bertatapan dengan cukup lama, begitu intens. Ada energi berbeda yang terpercik melalui tatapan itu. Sasuke menurunkan kepalanya, menempelkan bibirnya pada bibir merah muda milik sosok feminim yang berada di hadapannya. Sakura tak dapat bereaksi banyak, satu-satunya hal yang dapat ia lakukan hanya membelalakan matanya. Sama sekali tak menyangka akan perlakuan dari lelaki yang selama ini menjaganya.
.
.
.
oOo
.
.
.
Suasana di antara mereka menjadi canggung sejak malam itu. Mereka menjadi saling berdiam diri. Kondisi yang sungguh tak nyaman karena Sasuke tak terbiasa dengan sikap diam gadis itu. Pria yang memang pendiam ini tak suka jika gadis yang amat dia sayangi ini juga ikut-ikutan menjadi pendiam. Biasanya mereka selalu punya bahan untuk mengobrol bersama. Suasana seperti ini benar-benar tidak mengenakan. Kuburan pun tidak sesepi ini.
"Sakura ... aku ..." Tampaknya pemuda itu seperti kesulitan menemukan cara yang tepat untuk memecah keheningan ini.
"Aku minta maaf, Sasuke-kun."
Sasuke menatap lurus gadis itu saat kata maaf terucap dari bibir mungilnya.
"Tidak, aku yang—"
"Sasuke-kun, kau menginginkanku?"
Pertanyaan yang benar-benar di luar dugaan. Jangan bilang kalau gadis itu tahu akan perasaan terpendam Sasuke? Akan apa yang selama ini diam-diam disimpan oleh pemuda itu.
"Kutanya sekali lagi ... kau menyukaiku? Menginginkanku?"
Hening lagi selama beberapa saat.
Anggukan perlahan namun mantap dari Sasuke akhirnya menjawab segalanya. Sakura pun menemukan jawaban kenapa pada malam itu Sasuke menciumnya.
.
.
.
oOo
.
.
.
"Kauyakin?" tanya Sasuke. Ia tak ingin gadis itu merasa terpaksa.
Sakura hanya tersenyum, menarik pemuda itu ke arahnya. Ini adalah pengalaman pertama keduanya. Sasuke belum pernah menyentuh seorang gadis sama sekali. Sementara Sakura, ia gadis yang dibesarkan di kuil, sama sekali awam dengan kegiatan seperti ini. Kegiatan paling intim antara pria dan wanita.
Mengandalkan ingatannya, Sasuke mulai bergerak. Ia tidak punya pengalaman dengan perempuan. Tapi, ia sering berada dalam pesta kemenangan setelah perang. Para samurai yang telah mabuk biasanya suka berbicara sesuka hati. Tak jarang mereka menceritakan pengalaman bersama istri mereka atau para pelacur. Jika yang lain tak mau kalah, maka ada yang akan menceritakan pengalaman lain yang lebih menantang. Begitu seterusnya, sampai-sampai tanpa sadar pengalaman terliar masing-masing samurai telah diceritakan. Berdasarkan pengetahuan yang didapat itu, Sasuke mengimprovisasi. Ia tak ingin menyamakan Sakura dengan para pelacur yang dikunjungi samurai-samurai mabuk itu. Gadis ini istimewa, gadis ini harus mendapatkan yang terbaik pada pengalaman pertama mereka.
Jika ada yang pertama, maka selalu ada yang kedua, ketiga, dan seterusnya.
Mereka tak sering melakukannya. Hanya pada saat-saat di mana keduanya ingin berbagi hasrat, menyalurkan energi, melepaskan kekhawatiran. Dengan tangan yang saling menggenggam, bibir yang saling mengecap, kulit yang saling bergesekan, tubuh yang saling menindih. Hawa panas dari embusan napas, tubuh yang lembab akibat keringat, tarikan dorongan yang konstan, tatapan mata yang begitu intens, suara desahan tertahan, erangan, geraman kepuasan, dan panggilan nama masing-masing merupakan mantra tersendiri untuk keduanya.
oOo
Hukum kesetimbangan selalu berlaku sejak awal, bahkan sejak alam semesta ini terbentuk. Ada aksi, maka ada reaksi. Beberapa lama kemudian Sang Hawa merasa ada yang berbeda pada dirinya. Bukan sesuatu yang mengejutkan, hal ini sudah dapat diprediksi sejak pertama kalinya jiwa dan raga mereka menyatu. Untuk meyakinkan diri, gadis itu menyempatkan waktunya untuk mengunjungi tabib desa. Ia memilih pergi pada siang hari, pada saat Sasuke sedang bekerja.
"Sasuke-kun," panggil Sakura setelah makan malam. "Ada yang harus kusampaikan."
"Hn?"
"Aku hamil."
Pria itu tidak menjawab, namun satu pelukan erat Sakura dapatkan. Ia pun membalas pelukan hangat itu. Sangat khas Sasuke, bukan berbicara, tapi langsung menunjukkan melalui tindakan.
Sifat protektifnya semakin terasa. Terkadang Sakura tak dapat menahan senyumnya karena ulah pria itu. Sasuke terlalu mengkhawatirkan hal yang tak begitu penting.
Tak jarang Sakura bangun pada tengah malam dan mendapati lelaki itu sudah tidak lagi berada pada posisinya. Sasuke menurunkan tubuhnya, tidur sambil memeluk perut Sakura yang sudah membesar, menjaga sang ibu sekaligus si calon bayi.
Dan pada hari kelahiran sang buah hati, Sasukelah yang paling tak tenang. Ia begitu pucat karena tak pernah mengalami situasi seperti ini. Perang paling berbahaya pun tak pernah semenegangkan ini. Bahkan sampai sang bayi lahir pun ia masih terus merasa tegang.
"Sasuke-kun, coba gendong anakmu."
Sasuke sedikit ragu. Takut menyakiti bayi mungil itu.
"Tidak apa-apa, putramu juga ingin merasakan sentuhan ayahnya."
Ibu muda itu terkekeh saat melihat ayah dari anaknya begitu canggung saat menggendong bayi mereka.
"Begini caranya, Sasuke-kun," kata Sakura sembari mengatur tangan Sasuke, membuat bayi itu semakin nyaman dalam gendongan sang ayah. "Wajahnya sepertimu, ya," lanjutnya lagi.
"Hn."
Bayi laki-laki itu memang memiliki wajah yang begitu mirip dengan ayahnya. Rambut gelapnya juga merupakan titisan sang ayah. Mungkin, satu-satunya kemiripan fisik dengan sang ibu hanya terletak pada matanya yang berwarna hijau.
"Sudah dua hari dia terlahir ke dunia, tapi dia belum punya nama ... kau ayahnya, berikanlah dia sebuah nama."
"Sanosuke. Uchiha Sanosuke."
Uchiha Sanosuke, bayi laki-laki yang lahir dari pasangan Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura. Bayi mungil yang nantinya akan tumbuh menjadi bocah yang ceria dan sangat dicintai kedua orangtuanya. Anak laki-laki yang nantinya meninggal dengan cara yang amat kejam. Kematiannya merupakan awal dari perang paling besar pada zaman itu.
.
.
.
.
Tbc
A/N:
1 Waktu tikus: sekitar pukul 24.00-01.00 tengah malam
2 Waktu kelinci: sekitar pukul 05.00-07.00 pagi
3 Futon: perangkat tidur tradisional Jepang. Saat akan tidur futon digelar, dan jika sudah tidak dipakai, futon dilipat kembali. Futon terdiri atas Shikibuton sebagai alas tidur dan kakebuton yang lebih lunak sebagai selimut.
4 Legenda Tanabata: cerita rakyat tentang Orihime dan Hikoboshi, cikal bakalnya festival tanabata. Festival tanabata sendiri diperkenalkan sejak zaman nara (masih sebatas kalangan istana), mulai populer di tengah masyarakat pada zaman edo (1603-1868).
4 Zaman Nara: zaman yang berlangsung pada tahun 710-794 di Jepang
Yosh, ini hanya flashbak singkat mengenai masa-masa SasuSaku sebelum tragedi itu terjadi. Balas review dulu, yang login cek PM.
Ai: lihat nanti sajalah ;)
Uchan: udah upadate ^^
Sami haruchi 2: sasuke terlalu sayang sakura sih, makanya masih mau biarin Oro idup
Mysaki: tuh, sasu, sana cepet selamatin saku
Ananda putri: hoi, nak, ente titisan siapa sebenarnya? Wkwk iya, ada Pein
Rie megumi: Orochi kan cocok jadi orang jahat :D
Shinjuu006: liat aja neh nanti hehe
Guest: yo, udah lanjut
Terima kasih semuanya. Saya tunggu tanggapannya untuk chapter ini.
