Pria dengan rambut bercat coklat mengumpat keras, ia baru saja tiba di tempat tongkrongan adik perempuannya setelah lima belas menit yang lalu bocah itu memintanya menjemput. Tetapi begitu sampai, dirinya tak menemukan siapapun kecuali sebuah pesan yang mengatakan bahwa si tengik Naruto telah mendapat tumpangan gratis dari si Uchiha muda. Dan lagi yang membuatnya tak habis pikir, dari mana Naruto yang tukang keluyuran itu bisa terlihat sangat dekat dengan pria beristri, apalagi seorang polisi pula. Setahunya, adiknya yang sok keren itu tidak pernah menyukai orang-orang dengan profesi gengster legal seperti itu, dia juga bukan perayu yang hobi mengencani lelaki jablay. Keh, berfikir untuk pacaran saja sepertinya tidak pernah. Gadis itu terlalu sibuk menimbun uang untuk makanan 'keluarga besarnya' daripada mengencani pria. Kecuali jika dia mencari uang dengan berkencan, oh yeah, sekarang ia jadi berfikir buruk tentang bocah itu.

"Oh, kakak Naruto? Kenapa di sini?" Dan satu lagi yang membuatnya kesal hari ini. Temannya Naruto itu, apa tidak ada yang normal sih?

"Menjemput si tengik." Jawab Kiba ketus. Sama sekali tak mau memandang sang lawan bicara.

"Wah, dia baru saja pergi kencan dengan tuan Sasuke tuh."

Alis Kiba bertaut, sebuah tanda tanya besar hinggap pada benaknya. Ia baru saja akan menstater motor besar Naruto tapi terhenti karena ucapan konyol si pria awet muda, Sasori.

"Kencan?! Jadi dia benar-benar jadi simpanan pria beristri?!" Kiba berseru keras. Tidak menyangka jika yang ia pikirkan akan menjadi kenyataan. Tapi tawa canggung yang sasori perlihatkan, sedikit mengurangi rasa khawatir yang bercokol dalam benaknya. "Ahahaha.. tidak seperti itu jugakan. Well, mereka hanya sedang menjalani bisnis tak tertulis?"

"Bodoh, kau malah membuatku semakin curiga, baka! Katakan, kemana mereka pergi!?" Kepalan tangan teracung, bersiap untuk menghantam wajah mengesalkan si pria awet muda.

"Tidak tahu, sumpah!" Sasori yang panik segera mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan kedua tapak tangannya sebagai penegas bahwa ia memang tidak tahu kemana tujuan dua sejoli itu.

Berdecak sekali lagi, Kiba akhirnya memilih berhenti. Dilihatnya betapa konyol sosok di depannya ini, ia memang normal layaknya lelaki pada umumnya. Hanya saja, entah kenapa Kiba tidak menyukai pria itu sama sekali.

"Hei, kepala merah. Berhenti bersikap seperti bocah. Kau itu lebih tua lima tahun dariku tahu. Cepat cari istri dan jangan dekat-dekat Naruto lagi."

"Wah, jangan sewot begitu. tenang saja, aku akan mencari calon istri yang lebih cantik dari Naruto." Senyum manis sasori tak membuat Kiba ikut tersenyum. Pria muda itu justru semakin lekat menatapnya. Sibuk dengan fikirannya yang melayang kepada Naruto. Kiba memang tidak begitu menyukai Naruto, tapi meskipun begitu hidup selama hampir 15 tahun dengan bocah penuh drama sudah cukup menumbuhkan perasaan sayang dan pedulinya pada gadis itu.

Lima menit jeda yang mereka buat. Hingga Kiba memilih untuk mengutarakan pemikirannya.

"Satu lagi, apa kalian tidak berencana menghentikan semuanya? Kau sudah janji padaku untuk melindunginya, Paman. Jangan buat aku khawatir lebih dari ini. Dia bahkan sama sekali tak mau mendengarkan ku." Ucap Kiba pelan.

".. kami tidak bisa seenaknya sendiri, Kiba. Jangan khawatirkan dia, tapi cobalah untuk mempercayainya. Itu akan membantunya mencari jalan keluar." Bahu kanan di tepuk, Kiba termenung dengan fikirannya. Membiarkan lelaki itu menjauh sampai hilang di balik pintu bus yang berhenti. Mengucapkan memang hal yang paling mudah, tapi mempercayai gadis itu, rasanya amat sulit bagi Kiba.

.

Disclaimer; Massashi Kishimoto

Numb ; B Broke

warning ; - femNaru, slight sasusaku

_slow update_

.

Cahaya matahari berwarna keemasan, menyorot dari ufuk barat seolah akan tertelan permukaan bumi. Senja hari adalah waktu orang-orang bersiap menghentikan aktifitas mereka, dan kembali ke tempat mereka beristirahat. Naruto sangat menyukai suasana senja, ia suka mendengar detak kota Konoha yang hampir ditelan kegelapan, melihat warna-warni cahaya kota yang bermunculan. Ia juga menyukai bagaimana rona langit yang terbentuk, dari jingga ke biru gelap. Jika dihadapkan pada pemandangan indah dimana ia dapat melihat matahari tenggelam, sorot lampu kota yang berwarna warni dari jauh, serta angin semilir yang menerbangkan hiruk pikuk suasana kota maka dapat dipastikan ia dapat tenggelam dalam fikirannya, lupa dengan segala hal dan menikmatinya sampai matahari benar-benar telah hilang dari peraduannya.

Tetapi, saat ini hal itu sangat mustahil ia lakukan. Penyebabnya adalah pria berusia sekitar 25 tahunan yang baru baru ini memenuhi pikirannya. Namanya Uchiha Sasuke, suami dari wanita bernama Sakura. Dia tampan, tapi punya senyum menyebalkan yang selalu mendominasi wajahnya. Penyebab awalnya adalah ketika Sasuke menampilkan senyum tertulusnya saat ia menyetujui permintaan lelaki itu. Kembali lagi padanya yang tidak bisa tenang, sore ini, ah bukan, di senja hari ini sekembalinya ia dari tepat kerja, Sasuke menghampirinya. Padahal sebelumnya ia telah menelfon Kiba untuk menjemput dirinya dengan motor besar kesayangannya, kurama. Dia tidak bisa menolak, karena entah bagaimana tubuhnya seolah bergerak sendiri membuka pintu penumpang depan dan duduk di sana begitu suara Sasuke yang besar terdengar di telinganya. Layaknya orang yang terhipnotis, ia menjadi linglung begitu sadar telah berada sangat dekat dengan pria itu, berdebar dan salah tingkah.

Dirinya bahkan sampai tidak berani bergerak banyak dari posisinya. Senyum maut Sasuke, dan seringaian yang sebelumnya terasa menyebalkan tiba tiba saja menjadi sangat mengganggu bagi kesehatan jantung dan perutnya. Ia merasa mulas, tapi bukan ingin BAB, melainkan mulas yang menyenangkan, yang terkadang memaksa sudut bibirnya tertarik ke atas secara sembunyi-sembunyi.

".. Dobe, kau dengar tidak sih!" Gerutuan yang menembus pendengarannya, memaksa Naruto kembali pada ke kenyataan. Gadis itu amat terkejut tatkala tangan dingin Sasuke yang lebar menyentuh dahinya. Membuatnya sempat berjenggit dan menggigit bibirnya gugup.

"Kita di sini untuk bicara masalah kemarin, tapi kau sama sekali tidak mendengarkanku. Kupikir kau demam, tapi kepalamu sehat sehat saja. Jadi boleh aku tahu yang kau pikirkan?"

"A.."

"A??" Alis hitam terangkat sebelah, dalam hati Sasuke menikmati ekspresi bocah dihadapannya yang terbentuk. Kedua bola mata biru melebar aneh, menjadi bukti bahwa Naruto sangat gugup saat ini. Bahunya juga nampak menegang dengan kondisi tubuhnya yang bergerak kaku.

Terlalu lama Sasuke menunggu bocah pirang itu melanjutkan ucapannya, akhirnya tawa lepas tak dapat ia pertahankan. Dipukulnya ringan kepala pirang itu, dan membungkuk untuk memegang perutnya yang sakit. Ia bahkan tak peduli lagi terhadap raut terkejut serta marah yang Naruto tampilkan.

".. aduuhh, ya ampuun.. Naruto! Kau konyol sekali. Haha! Ayolah, jangan gugup begitu. Kita hanya akan berdiskusi dan bukannya melakukan hal lain. Bagaimana kau bisa berekspresi seperti bocah bodoh yang menunggu hasil ujian."

"Chk, tidak ada yang salah dengan bersikap gugup. Semua orang mengalaminya, teme!" Pipi bergaris menggembung, bibir yang sewarna delima mengkerut lucu. Dan Sasuke sama sekali tidak sadar bahwa raut merajuk milik Naruto adalah hal paling langka di dunia ini.

"Baiklah, maaf. Kita makan malam dulu kalau begitu, sepertinya kau lapar sekali sampai tidak konsentrasi." Sasuke memutar badan, melangkah untuk kembali ke dalam mobil, diikuti pandangan kedua mata biru jernih Naruto. Gadis itu masih diam bersandar pada cap mobil, untuk sekali lagi mengamati pemandangan kota Konoha dari atas bukit. Rambut pirangnya yang dikuncir tinggi berayun, terbawa angin sore yang berhembus ke arahnya. Gemerlap cahaya lampu terlihat indah seperti kunang kunang yang terperangkap malam, menenangkan dan sukses membuat debaran jantungnya kembali normal.

Ini gila, batin Naruto. Gadis itu bukanlah orang polos yang tidak mengetahui nama dari perasaannya. Ia tahu karena ia pernah mengalaminya, walaupun sebelumnya Naruto tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun, tidak berarti dia memungkiri perasaan semacam ini pada salah seorang pria. Sasuke adalah pria baik, sedikit sombong dan ucapannya selalu menyebalkan. Dia pria mapan, dan telah menikah, ya, menikah dengan wanita cantik pula. Bagaimana mungkin perasaan ini dapat tumbuh ketika ia telah mengetahui fakta itu. Bodoh sekali, sampai Naruto ingin menertawakan dirinya sendiri. Aah, ya ini hanya perasaan sesaat, mungkin ia hanya terlalu mendalami perannya. Dia hanya begitu membenci ekspresi menyebalkan Sasuke, sampai terpukau saat wajah itu menampakkan ekspresi yang lain. Ya, hanya itu.

"Tetap tenang, Naruto. Jangan terbawa perasaan.." bisiknya pada diri sendiri.

Suara deru mesin yang dihidupkan menjadi hal yang menghentikan aktivitasnya menikmati senja. Dia menoleh, dan mendapati kepala Hitam Sasuke menjulur keluar dari jendela pintu kemudi.

"Hei, kau mau kutabrak atau masuk ke dalam? Aku sudah lapar, cepatlah!" Seruan menyebalkan, Naruto mendengus keras. Memukul cap mobil milik Sasuke keras keras sebelum melangkah untuk masuk ke dalam mobil. Kali ini ia lebih memilih tiduran di jok belakang, tanpa menghiraukan seruan kesal Sasuke yang melihat cap mobilnya peok sedikit.

"Tanganmu itu terbuat dari baja ya!"

"Berisik! Jalan saja, pak."

"Huh! Mulutmu kasar sekali, gadis kecil. Kalau kau bukan orang yang menarik minatku, sudah pasti kugilas tubuh kerempengmu itu. Chk! Disaat seperti ini kenapa aku tidak bisa langsung menghajarmu sih, dan ..bla bla bla.."

Pria dan cintanya pada mobil, sarkas Naruto dalam hati. Kedua tangannya terulur, menutup kedua telinganya rapat-rapat menghindari cerewetnya Sasuke. Segala hal yang ia dengar berbaur dengan gemuruh dalam telinganya membuatnya perlahan jatuh tertidur ketika mobil telah menuruni bukit.

.

B broke

.

Dua minggu adalah waktu yang Sasuke habiskan dengan sia-sia, ia telah menghubungi kantor pengurus data warga negara, meminta informasi tentang seorang lelaki berkulit sawo matang dengan rambut pirang dan bermata biru yang entah berkewarganegaraan Konoha, seorang turis, ataupun warga asing, tapi kebanyakan dari mereka yang ditemukan memiliki rambut tak secerah sosok itu, dan punya identitas yang jelas. Anak buahnyapun ia kerahkan mencari segala informasi pada beberapa yang ia curigai, tapi instingnya selalu berkata bukan ketika mengamati hasil pencarian. Sasuke lelah, bahkan selama rentang waktu hampir sebulan tak ada kejadian apapun menyangkut bayangan rubah. Ia khawatir jika bayangan rubah menghentikan aksinya karena takut identitasnya terbongkar. Kecuali jika memang inilah yang mereka rencanakan, membuat para polisi pusing dan beraksi lagi ketika tak ada satupun yang awas.

Kaki jenjang melangkah menuju ruang kantor kepala polisi, dengan mantap memasukinya tanpa repot mengetuk. Suana suram ia dapati saat sepasang onyxnya menangkap sosok tua di tempat duduk kebesarannya menempelkan punggung pada sandaran kursi, dengan kedua bahu yang turun beberapa centi. Sepasang onyx yang sama menampilkan betapa kelelahannya ia. Dan wajah tuanya yang kusam, menjadi bukti bahwa ia tidak merawat diri dengan baik akhir-akhir ini.

"Ayah, pulanglah, ibu menunggumu." Ucap lelaki muda itu singkat. Ia dapat mendengar desahan nafas keluar dari sepasang bibir yang nyaris berwarna ungu kehitaman itu.

"Aku tidak bisa tinggal di rumah dengan tenang saat beberapa bangsawan termasuk mertuamu mendesakku segera menangkap para pelaku bayangan rubah, Sasuke. Aku tidak bisa.." keputusasaan jelas terlihat dari wajah yang telah menjadi tua.

Sasuke mendengus, kemudian memandang ke arah lain di sudut ruangan. "Keh, kenapa ayah menjadi lemah seperti ini? Apa ayah sadar kalau hanya dijadikan anjing penjaga bagi mereka. Sudah jelas bahwa mereka telah melakukan korupsi besar besaran, tetapi ayah tetap saja diam seperti pecundang."

"Sasuke! Jaga ucapanmu!"

Mata hitam jelaga beralih, bersirobak dengan mata yang sama milik ayahnya. Rahang sasuke mengeras, begitupun Fugaku. Pria itu merasa marah karena Sasuke menghinanya, dan tidak menyukai bagaimana anaknya menyalahkan dirinya.

"Kenapa, ayah? Ayah takut jika ucapanku didengar orang lain?" Senyum mencemooh terpasang, mata yang dingin itu terbersit kekecewaan. "Kau sama saja dengan mereka, ayah. Meski tidak menerima suap, tetapi yang kau lakukan dengan menutupi kesalahan mereka tanpa menindak tegas adalah hal yang juga menentang prinsip kepolisian Konoha." Lanjut Sasuke.

Fugaku mengepalkan kedua tangannya, alisnya menukik tajam. Dia tahu, dia salah, tapi ia punya alasan melakukan itu semua. "Aku terpaksa, Sasuke. Seharusnya kau mengerti itu, terakhir kali pamanmu bertindak mengadukan mereka, ia dilumpuhkan dan dibuang dari kepolisian. Ini adalah satu-satunya pekerjaanku untuk menghidupimu dan ibumu, aku tidak bisa kehilangan ini hanya karena bertindak ceroboh seperti itu!." Balas Fugaku dengan sedikit menaikkan volume oktaf.

Untuk beberapa saat keduanya hanya berdiam diri, menahan kemarahan masing-masing untuk tidak meledak keluar. Sampai pada hitungan ke sepuluh dalam satuan menit, Sasuke memilih membalikkan badan dan berujar dengan lirih dengan maksud menghentikan kunjungannya, sejujurnya ia terlalu muak bertatap muka dengan ayahnya, pria itu terlalu pengecut dan bodoh karena mau di stir beberapa pejabat negara. Selain itu, sebagai seorang anak, ia hanya merasa kecewa. ya itu saja.

".. setidaknya paman Obito lebih baik darimu, ayah."

"Apa maksudmu, Sasuke?!"

"Dia mau berjuang menegakkan keadilan, perjuangannya saat itu tidaklah sia-sia bukan?, meskipun dia dibuang, tapi dia mampu bangkit dan memperbaiki keadaan dengan caranya sendiri. Jika ayah memang seorang polisi, tentunya ayah mengerti siapalah yang paling bersalah diantara tersangka, bayangan rubah atau orang-orang rakus yang menimbun harta rakyat! -- kalau ayah sudah selesai, segeralah pulang. Aku pergi dulu, selamat malam, Ayah."

Langkah kaki menjauh, suara dentumannya pada lantai semakin mengecil dan menghilang. Meninggalkan Fugaku yang terpekur sendirian di dalam kantornya.

.-.

B broke

.-.

Suasana di pasar besar Konoha sangat ramai akhir pekan ini, banyak anak-anak sampai orang dewasa menghabiskan waktu dengan berbelanja ke toko-toko kecil yang berjajar rapi memanjang. Atau hanya sekedar jalan-jalan dan memanjakan mata. Sebagian dari mereka menyempatkan diri pula untuk mencicipi makanan lezat yang di jual di kedai-kedai atau pedagang kaki lima.

Kyuubi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pasar, dia dengan celana training biru panjang dan jeamper warna krem berjalan santai di tengah ramainya pasar Konoha. Pada telinga kanannya terdapat earphone yang tersambung dengan smartphone miliknya, bukan lagu. Melainkan suara seorang yang sedang menelponnya.

Langkah kakinya yang ringan ia bawa sampai pada sebuah meja berpayung besar di pinggir warung makan, ada empat kursi di sana, dan dua di antaranya telah terisi dua orang pria yang saling bertabrakan penampilannya. Telepon dimatikan, ia bawa earphone- nya pada kantung jeamper yang hangat, bersama dengan smartphone miliknya.

"Yo, kyuu!" Salah satu pria yang berkaus hitam menyapa. Senyum lebar terpasang di wajah manisnya meski tak sedikitpun di balas oleh kyuubi.

Mengambil duduk di salah satu bangku yang kosong, Kyuubi menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Tak berniat mengeluarkan tapak tangannya dari kantung jeamper. Ia amati Sky, berlanjut pada si bongsor Sean yang balik menatapnya tanpa ekspresi.

"Kau ingin membicarakan apa?" Sean membuka obrolan. Dan di tanggapi Sky dengan tatapan penasaran yang sama. Sebelum benar-benar pada pokok pembicaraan, kyuubi menghela nafas, dan menatap sekeliling untuk sejenak.

"Ini tempat umum, hentikan saja panggilan konyol itu."

"Ah, ya. Naruto~" kyuubi, atau Naruto tersenyum kecut begitu Sky memanggilnya dengan nada yang menyebalkan, tapi ia berusaha tidak peduli.

"Aku ingin kalian membantuku."

"Kami memang selalu membantumu kan?"

Pukulan pada ujung kepala, Sky rasakan. Ia mendelik kesal begitu Sean memelototkan mata padanya, "seriuslah sedikit. Pembicaraan ini tidak akan cepat selesai jika kau terus membual, Sasori!"

"Berengsek kau, Kisame! Tidak harus memukulku juga kan!"

"Hentikan! Kalian bisa menarik perhatian."

Dua lelaki di antara mereka langsung terdiam, membuang muka untuk sekali dan kembali menatap pada gadis satu satunya di sana. Bentakan yang gadis itu lakukan menyebabkan mereka sedikit di amati pengunjung lain. Tetapi segera beralih begitu ke tiganya tetap diam untuk 10 menit ke depan.

Sasori menarik mug- nya, dan meminum capucino yang ia pesan sebelum gadis itu datang. Sedangkan Kisame atau Sean, memilih merileks- kan punggungnya. Karena ia merasa jika pembicaraan yang akan gadis itu lakukan adalah pembicaraan yang berat. Tidak lama setelah itu, Naruto kembali angkat bicara.

"Begini, kalian ingat dengan anak kepala kepolisian, Uchiha Fugaku?" Tanyanya, matanya berkilat serius begitu mendapati reaksi jenaka dari Sasori.

"Pacarmu itu? Ya aku ingat!"

"Seriously, Sasori. Diamlah! Cepat lanjutkan, Naruto. Jangan hiraukan dia"

Mendengus kasar, Naruto tak menghiraukan keduanya yang hampir berkelahi. Dia menegakkan punggungnya, untuk bicara lebih dekat pada dua partnernya. Kedua tangannya ia satukan, membentuk kepalan besar dan menggunakannya sebagai penyangga di atas meja.

"Aku berencana membongkar semuanya bersama lelaki itu."

"What-/apa?!" Tanggap keduanya spontan, raut keterkejutan nampak jelas pada kedua wajah yang kontras itu.

"Tuan telah berubah, dia tidak lagi berbeda dengan para lintah darat pecinta harta dan jabatan. Aku mendengarnya sendiri, bahkan kita tak lebih berharga dari alat pencetak uang." Tanpa menghiraukan keduanya, Naruto tetap melanjutkan ucapannya. Percakapan yang ia dengar secara tak sengaja dari balik pintu ruangan tuannya waktu itu telah mempengaruhi kepercayaan yang ia miliki pada tuannya. Kemarahan, kekecewaan dan rasa kesal karena dimanfaatkan bahkan masih terasa begitu kuat di dalam hatinya. Pria tua itu telah banyak berubah dari pertama kali dia membawanya pada rencana besarnya. Atau mungkin memang itulah sikap aslinya. Naruto tidak tahu, yang ia tahu sekarang hanyalah kemarahan dan keinginannya untuk menghentikan apapun rencana buruk tuannya.

"..." Sean, atau Kisame terdiam mendengar penjelasan Naruto, begitupun sasori. Apapun yang mereka pikirkan tidaklah mudah dibaca, tapi Naruto yakin mereka berdua tidak akan mengkhianatinya. Mereka teman, mereka bukan hanya sekedar sahabat, ada ikatan spesial dalam hubungan mereka meski tak tampak pada pandangan. Ia percaya, hanya itu yang menjadi dasar keberanian mengungkapkan rencananya.

"Untuk itu, bantu aku menuntaskan masalah ini. Aku ingin tuan berhenti dari tindakan kriminalnya, dan aku ingin kita juga berhenti menjadi alatnya."

"Naruto.. aku tidak yakin. Boss punya banyak mata- mata. Aku terkejut kau mengungkapkan rencana besarmu di tempat terbuka seperti ini. Jika boss tahu, maka..." Ucapan Kisame tak berlanjut, tetapi Naruto dengan cepat membalasnya, "Boss tidak akan tahu jika kalian tidak mengatakannya. Dan aku percaya, kalian takkan seceroboh itu untuk memutus persahabatan kita."

"Aku tidak setuju!" Seruan penuh ketegasan mengalihkan perhatian keduanya, sasori mengeraskan wajahnya. dia tidak suka rencana Naruto. "Aku sama sekali tak setuju dengan rencanamu, Naruto. Apa dengan membongkar semuanya pada pria itu kita juga akan selamat dari hukumannya! Kau telah menyudutkan kita, Naruto! Secara tak langsung, kita pun akan terseret dalam hukum! Jangan mengambil tindakan yang gegabah seperti itu! Tuan pasti tidak akan memaafkan kita bila rencanamu gagal, dan kita semua akan terbunuh karena rencana tololmu itu!"

"Sasori, tenanglah."

"Diam kau, Kisame! Kalau bukan karena janjiku pada Kiba, aku pasti sudah mengadukan sikap pembangkangnya itu pada tuan agar gadis tengik di depan kita ini mati di tempat." Jari telunjuk terangkat, mengarah pada wajah Naruto. Gadis itu hanya terpaku pada tempatnya, tidak tahu harus berbuat apa ketika rencananya ditolak mentah-mentah oleh rekan terdekatnya.

Dia bahkan tidak mengatakan apapun saat sasori dengan kemarahannya meninggalkan percakapan mereka. Ada perasaan takut dalam hatinya, bagaimana jika sasori mengadukan rencananya pada tuan, bukan hanya ia yang akan mati, tapi juga keluarganya di rumah.

Tepukan lembut pada bahu kanannya, membuat Naruto kembali fokus pada Kisame. Ia melihat pria bertato itu menampilkan seraut wajah prihatin. "Sungguh Naruto, aku ingin membantumu. Tapi yang dikatakan Sasori benar, kita. Kau, aku dan sasori pasti akan terbunuh, kita tidak mengalami keuntungan meski rencanamu juga berhasil. Keluarga kita pasti pun akan menerima dampaknya juga."

"Kisame..."

"Tenang saja, Sasori tidak akan mengadukanmu pada Boss. Dia terlalu sayang pada adik sahabatnya yang lain. Sampai jumpa, Naruto."

Sore itu, Naruto menyesal telah memberitahukan semuanya pada mereka. Tapi, ia tetap teguh dalam pemikiran. Dia adalah gadis keras kepala, dan ia bukan orang yang dengan mudah menghancurkan keteguhannya.

.-.

B broke

.-.

"menunggu lama?" Kepala pirang menoleh, mata birunya sempat bersirobak pada manik sewarna batu pualam, kemudian mengalihkannya cepat begitu perasaan senang merasuki hatinya.

Ini pertemuan kesekian kalinya ia dengan pria beristri itu, selama itu pula Naruto selalu berusaha mengalihkan perasaan paling mengesalkan dan mendebarkan dalam hatinya ketika berinteraksi dengan pria dua puluh lima tahun yang saat ini mengambil langkah mendekati bangku kosong yang tersedia. Berusaha tak terlihat peduli, Naruto membalas cuek, "Yap, ini sudah dua jam dari waktu yang disepakati."

Tangan tannya yang sempat terhenti, kembali menyuapkan sesumpit mie ramen pada mulutnya. Suara gesekan kaki kursi dengan lantai terdengar, Naruto tahu pria itu menempatkan diri pada bangku di hadapannya. Dan terkekeh pelan menanggapi bagaimana ia bersikap.

"Sorry, sakura sedang tidak enak badan, dia terlalu sering ke kamar kecil untuk memuntahkan isi perutnya. Jadi aku berinisiatif membelikannya obat ke apotek sebentar sebelum datang kemari." Ujarnya. Tangannya terangkat untuk memanggil pelayan, dan memesan secangkir kopi begitu pelayan menghampirinya. Mata biru mengerling, melihat bagaimana pria itu bercakap dengan si pelayan untuk beberapa detik dan kembali memandangnya setelah pelayan itu pergi.

"Well, betapa pengertiannya diri Anda, tuan. Jika aku jadi tuan, tentunya aku lebih memilih membawanya ke rumah sakit. selain jelas apa yang dia derita, dia juga akan mendapat perawatan yang tepat." Naruto mendengus, mengomentari betapa buruknya Sasuke dalam memberi perhatian pada istri cantiknya itu.

"Yahh, kau memang suami idaman ya, Naruto." Balas Sasuke ringan. Tak lama, pelayan kembali mendatangi meja mereka, mengantarkan secangkir kopi hitam berikut tatakannya. Tersenyum kecil, Sasuke mengucap terimakasih dan pelayan itupun pergi bersamaan dengan tegukan pertama yang pria itu lakukan.

Ada jeda dalam pembicaraan, Sasuke sendiri cukup terhibur melihat reaksi merajuk dari gadis di depannya. Tidak terlihat secara fisik, tapi dari ucapannya yang terdengar sedikit ketus membuatnya paham gadis itu tengah kesal. Senyum kecil terkembang, jika di perhatikan, meski nampak cool dan stylish untuk ukuran seorang gadis, Naruto tetap punya sisi yang membuatnya gemas setengah mati. Oh, sesekali dia ingin menarik pipi bergaris itu kuat-kuat atau sekedar menarik hidung kecil itu sampai merah delima sebagai pelampiasan rasa gemasnya.

Suapan mie ramen terakhir menciptakan setetes noda pada sudut bibirnya, gadis itu tak terlalu peduli, atau dia memang tidak mengetahuinya. Gelas tinggi berisi jus jeruk diraih, mengaduknya sebentar dan bibirnya nyaris menempel pada permukaan kaca gelas. Jika bukan karena gerakan spontan Sasuke yang mengusap nodanya dengan ibu jari, tentulah ia telah menikmati beberapa teguk jusnya dari pada terbatuk dengan wajah yang memerah panas. Dipelototinya lelaki yang tersenyum inosen padanya, ini bukan pertama kalinya, karena Sasuke itu tipe pria berengsek yang hobi sekali mengerjai jantungnya sampai bertalu talu, entah karena ucapannya ataupun karena tindakannya yang diluar batas kewajaran antara dia yang bukan siapa-siapa dan dirinya yang gadis tanpa status.

"Kubilang jangan sembarangan menyentuhku kan!?" Murkanya sambil mengelap bagian yang disentuh Sasuke dengan tisu kertas.

Lelaki itu tertawa, tawa menyebalkan yang sanggup menarik perhatian para pelanggan kedai ramen. "Maaf, aku terlalu senang karena wajahmu selalu memerah saat kusentuh."

"Berengsek. Kalau sudah minum kopi cepat keluarkan berkasnya, aku ada kencan dengan Kurama!"

"Gadis gila." Dengus Sasuke spontan. "Apa suatu saat kau juga akan menikahi motor besarmu itu, tidur dengannya, dan punya anak dengannya pula?"

"Uchiha, jangan main-main!"

"Okey~ okey~"

Mencapai pada batasnya, Sasuke melepas tas hitam dari punggung lebar miliknya, meletakkan tas gendongnya di meja dan membiarkan Naruto membereskan mangkuk bekas dan gelas jusnya yang masih berisi ke sisi meja sebelum memberinya setumpuk berkas dengan ketebalan buku tulis yang tipis.

"Aku belum menemukan petunjuk apapun tentang sosok persis dirimu itu. Tidak ada seorangpun di Konoha yang serupa denganmu, bahkan warga asing yang sekedar kemari untuk berlibur atau menetappun tak ada yang seperti dirimu." Suara kertas dibuka menyertai penjelasan Sasuke, atau pada kasus ini, curhatan lelaki itu.

"..." Alis pirang Naruto terangkat keduanya, begitu ia kembali membuka halaman yang lain. Menampilkan beberapa data identitas pria- pria berambut pirang dan bermata biru. Berikut lampiran tentang pekerjaan dan kesibukan mereka.

Naruto mendengus, dan membuka buka semua isi berkasnya sampai selesai, ada screenshoot dari berbagai video cctv yang dianggap mencurigakan dan dapat dijadikan bukti, penjelasan tentang kecurigaan dan hipotesa. Ini gila, Naruto tidak tahu jika si Uchiha menyebalkan ini sangat terobsesi menangkap si tangan bayangan. Dia jadi tidak yakin, apakah ini dapat selesai kalau hanya mencari di satu titik.

"Melihat sekilas saja, kau sepertinya tergila-gila pada si tangan bayangan ya. Fokusmu hanya pada sosok itu tanpa melihat yang lain." Komentarnya begitu selesai memindai semua isi berkas, dan meletakkannya pada meja.

Tangan kurusnya Meraih jus jeruk, gadis itu menyeruput perlahan sari jeruk yang segar dalam gelasnya dengan perlahan, menikmatinya dengan sangat ketika rasa asam dan manis yang bercampur menyentuh lidahnya dan turun menuju kerongkongan.

"Apa maksudmu? Jika aku dapat menangkapnya, semua informasi pasti akan bermunculan."

"Pemikiran yang bodoh." Sasuke melotot, tangannya mati matian bertahan untuk tidak menyentil dahi berkulit karamel di hadapannya sampai gosong. "Kalau begitu jelaskan, kenapa kau menyebut pemikiranku terlalu bodoh untuk bocah lulusan SMA dan pekerja SPBU sepertimu?!" Serunya kesal.

Naruto menyeringai meremehkan, dia sedikit menjauhkan gelasnya dan mulai menegakkan punggungnya hanya untuk memasang pose paling menyebalkan untuk Sasuke. Bersidekap dada dengan dagu terangkat. Sasuke mendecih dibuatnya.

"Heh! Seorang calon sarjana hukum sepertimu ternyata tidak secerdas yang kupikirkan ya, menyedihkan sekali."

"Dasar pendendam.." cibir Sasuke pelan, mata hitamnya menyorot muak pada tingkah congkak gadis itu. Meski kesal tapi ia sendiri merasa senang karena itu artinya ia punya rekan cerdas yang mungkin dapat membantunya menyelesaikan kasus ini. "Si bodoh itu pasti ingin membalas perbuatanku!" Lanjutnya dalam hati.

"Aku memang menyedihkan, jadi cepatlah. Jangan bertele-tele!"

Naruto terkekeh kecil, mendapati Sasuke tengah marah atas candaannya sedikit membuat rasa jengkelnya menguap. Gadis dua puluhan tahun itupun lantas menyamankan kembali punggungnya pada sandaran kursi. Dan menatap lurus pada rambut lebat lelaki itu, tak berani memandang sepasang pualam yang menghanyutkan dan membuatnya nyaris lupa diri.

"Pikirkan ini, tuan. Sekelompok pencuri pro tidak akan melakukan kejahatannya secara rapi tanpa seorang pemimpin yang profesional jugakan? Bagaimana menurut anda, tuan, jika di antara mereka ada seorang boss besar yang mendanai kelancaran penjarahan?"

Sasuke menautkan alisnya, ucapan Naruto memang masuk akal. Tapi rasanya ia mendengar nada penuh keyakinan pada ucapan gadis itu, seakan yang dikatakannya itulah yang tepat.

"Alright, itu masuk akal. Hanya saja aku belum menemukan yang kau harapkan." Akunya, ada dua pilihan yang Sasuke tebak dari ucapan Naruto. Gadis itu ingin memberitahu kebenarannya, atau gadis itu memang hanya ingin sekedar mengemukakan pendapatnya.

Tarikan nafas terdengar berat, dan Sasuke kembali memusatkan pandangannya pada gadis itu, "Begini, apa anda pernah bertanya-tanya, kemanakah uang hasil yang mereka dapatkan berakhir? Jika dilihat dari segi para korban. Mayoritas yang diserang adalah pejabat atau bangsawan yang memiliki riwayat penggelapan uang rakyat. Di situ kita dapat hipotesis tentang alasan yang mendasari pencurian. Tapi hanya ada dua pilihan, pertama karena uang para rakyat memang harus dikembalikan kepada yang seharusnya atau yang kedua..." Jeda yang Naruto ambil, menyadarkan Sasuke bahwa ia telah menahan nafas. Ucapan Naruto terdengar begitu rasional baginya dan terlihat lebih diperhitungkan, jadi dia menikmati setiap kata yang gadis itu keluarkan.

"... Karena kebencian sang pemimpin kepada para koruptor." Potong Sasuke lambat- lambat. Seolah fikiran mereka sejalan, lelaki itu mengungkapkan apa yang ingin Naruto sampaikan.

Tawa pelan mengalun, si pirang memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jeamper sebagai tanda bahwa ia juga sama menikmati percakapan yang mereka lakukan. Kemudian disusul meluruskan kedua kakinya agar lebih santai.

"Bravo. Kau pembaca pikiran yang hebat, tuan." Tanggap gadis itu setengah memuji dengan bangga.

Tak peduli dengan pujian main main Naruto. Sasuke menarik berkasnya, merogoh pulpen dalam kantung celananya dan menulis kesimpulan sementaranya di sana dengan tulisan ayamnya.

"Jadi, kau ingin aku mencari pemimpinnya lebih dulu. Atau dengan kata lain, penadah mereka. Tapi aku bahkan tidak punya gambaran apapun untuk menemukannya, sedang orang cerdas ada di manapun. Salah salah, aku malah akan menudingmu juga."

"Jangan buru-buru, mari kita lihat siapa saja di antara orang kaya yang belum dijamah. Tentunya yang bukan bagian dari rencana penggelapan uang rakyat, karena akan bodoh bila koruptor lain menjarah milik temannya sendiri, bisa bisa dia akan dimusuhi dan diseret ke penjara lebih dulu."

"Hanya ada beberapa keluarga dari golongan menengah yang bersih dari kasus korupsi. Dan aku yakin mereka bukan orang tercemar."

"Kau melupakan satu keluarga."

"Siapa? Ah! Kau menuduh keluargaku!?"

"Well, aku tidak menuduh keluargamu atau ayahmu. Sekarang kembali pada hipotesis yang telah kau tulis, apa keluargamu ada yang peduli rakyat sampai rela berkorban dengan membentuk bayangan rubah sebagai jalan bagi mereka membagikan uang jarahan? Sepertinya tak ada seorang pun dari tuna wisma yang mengaku pernah diberi, bahkan secara cuma2"

"Chk! Jangan menyinggungku. Tapi memang tidak ada sih yang peduli. Kecuali aku, tentu saja."

"Nah, opsi kedua.. kau bisa melanjutkannya sendiri."

"Kebencian terhadap para koruptor? Ah! Aku pernah dengar jika pamanku pernah terlibat dengan pra pejabat dan bangsawan yang korup tapi langsung dilengserkan dari jabatannya, apa itu maksudnya, pamankulah pemimpinnya?"

"Entahlah, kenapa tidak kau mata matai saja dia. Mengecek administrasi keuangannya mungkin. Dari situ kau bisa melihat uangnya masuk dari mana saja."

"Bodoh, itu tugas yang rumit. Kenapa tak langsung kutanyakan saja. Dia pemilik bayangan rubah berarti itu adalah hal yang hebat. Dia pasti punya rencana sendiri untuk mensejahterakan masyarakat tunawisma." Percakapan yang mengalir, berhenti ketika Sasuke terlihat antusias dengan kebaikan pamannya. Rahang Naruto mengeras, banyak orang yang tertipu dengan kedok malaikat tuan besar Obito, salah satunya adalah Sasuke. Dan entah bagaimana, perasaan kesal yang luar biasa bercokol dalam hati gadis itu.

Biru safir berpendar tajam, dan kedua tangan itu mengepal dalam balutan kantong jeamper. Sasuke dibuat bingung karena perubahan ekspresi yang diperlihatkan Naruto.

".. kalau ada niat lain, bagaimana menurutmu?menguasai negara mungkin?" Dingin, dan terkesan lebih menekan. Pertanyaan itu terdengar bagai pernyataan di telinga Sasuke. Lelaki itu dengan reflek, mengayunkan tapak tangannya, mempertegas bahwa pamannya bukanlah orang seperti itu. Tetapi Naruto seakan lebih tahu, gadis itu menyahuti ucapannya dengan nada tegas yang meyakinkan. Membuatnya hanya bisa terpaku dan memikirkan banyak hal.

"Dia punya ambisi, itu yang kulihat dari mata kelamnya. Percaya atau tidak, pertemuan kita hari ini telah berakhir. Sampai jumpa Sasuke, selamat malam. Hari ini aku yang traktir."

.-.

B

bro

ke

.-.

Balai kota ramai dengan pengunjung, di sebabkan adanya acara resmi milik Uchiha Obito. Lelaki penyandang jabatan CEO utama Perusahaan tambang emas dan batu bara itu saat ini tengah berdiri di atas podium, memberikan sedikit sambutan sebagai pembuka acara Bakhti Amal yang ia adakan. Di mana dana yang terkumpul akan di donasikan pada pembangunan rumah susun bagi warga tunawisma.

Semua orang menyambut baik, bahkan para pejabat dan orang-orang kaya berlomba-lomba menyumbangkan sedikit harta mereka. Tentulah tujuan mereka hanya pandangan publik. Menonjolkan kekayaan mereka dan membanggakan kebaikan mereka yang hanya seujung jari.

Sasuke menatap jauh pada pamannya itu, mengingat lagi percakapannya dengan Naruto yang seolah tak ingin ia percayai. Tetapi, meski seperti itu ia harus tetap menjalankan misinya mencari bukti. Setelah beberapa jam, acara diakhiri dengan keluarnya hidangan penutup, dan ucapan terimakasih dari CEO Uchiha.

Berjalan santai menuju balik podium, Sasuke menemukan Kabuto berdiri menunggu tuannya, pria berbalut jas formal berwarna putih gading itu yang Sasuke tahu adalah sekertaris pribadi pamannya. Tak banyak bicara dan begitu dipercayai adik lelaki ayahnya. Dia punya karakteristik yang kuat, tidak mudah dibaca dan selalu konsisten dengan pekerjaannya.

Ketukan sepatu pantofel berhenti di hadapan si pria berambut silver, dan dua pasang mata dingin saling bertemu, layaknya sebuah kelereng yang beku tak mampu tersentuh. Sasuke bahkan tidak melihat satupun emosi dalam pandangan Kabuto, jadi Uchiha muda itu tidak dapat sedikitpun menebak apapun yang dipikirkannya.

"Kabuto, benar?" Sapanya berusaha ramah. Seperti biasa, kelerengnya berpendar penuh selidik, mencoba mencari tahu setitik kelengahan sampai ia mendapat bukti yang dibutuhkan.

Pria di depannya diam, tetapi sempat memberinya penghormatan dengan menundukkan sejenak kepalanya dan terus menatapnya.

"Aku Sasuke, Uchiha Sasuke. Keponakan Paman Obito." Jabat tangan mereka lakukan, Yakushi Kabuto menyeringai, dan sama sekali tak berminat melepaskan jabatannya. "Ya, saya sudah dengar. Anda seorang calon polisi yang baik, alih-alih seorang calon jaksa."

"Well, saya ingin jadi pengarang novel kalau anda ingin tahu."

"Ah, begitu."

Tangan porselain ditarik, Sasuke lantas menyimpannya di sisi tubuh. Ia kemudian beralih fokus pada lelaki semi tua dengan jas formal berwarna kelabu yang mendekat ke arah mereka. Langkahnya yang anggun nan tegas menjadi ciri khasnya sebagai pimpinan tertinggi di perusahaan.

"Halo, Paman!" Seolah akrab, Sasuke mengangkat sebelah tangannya. Melambai antusias layaknya bocah kecil bertemu kerabat orang tuanya.

"Wah, Sasuke! Kau datang, nak?"

"Tentu."

Bahu lebar direngkuh hangat, Sasuke dapat merasakan kedua pipinya yang ditempel pada permukaan tirus bergantian. Obito amat sangat ramah, senyum kebapakannya begitu cemerlang sampai membuat Sasuke merasa rindu dengan senyuman ayahnya yang nyaris tak pernah nampak sejak beberapa tahun silam.

Sikap ramah yang pria itu tunjukkan membuat perasaannya menjadi ragu. Benarkah pamannya yang mencintai kesetaraan dan penuh kasih ini adalah seperti yang Naruto katakan. Ia tidak yakin, atau mungkin perasaannya sendirilah yang mengingkari.

Tentunya yang dapat membuktikan semua itu hanyalah apa yang akan anak buahnya temukan di perusahaan megah pamannya nanti. Apapun itu, walau ia berdoa agar semua tuduhan gadis kecil itu salah, tetap saja pemikirannya telah menuju jalan buntu. Ia lelah, dan ingin segera mengakhirinya. Jika memang pamannya adalah sosok busuk yang merencanakan pemberontakan dan berniat melengserkan sang raja maka memang pantas bila hukuman jatuh padanya. Saat semua telah pada hal yang terang, ia berharap kekecewaannya tidak akan menjatuhkan mentalnya. Bagaimanapun juga, Obito adalah Paman yang telah ia kagumi sejak kecil.

"Ayo, duduklah, Sasuke. Kita berbincang sejenak."

.-.

B

Broke

.-.

Malam kian larut, Naruto kembali ke rumah tepat saat jarum panjang menyentuh angka sepuluh. Ketika itu keadaan rumah telah gelap, hanya lampu tidur yang menerangi setiap sudutnya. Gadis itu bahkan tak menemukan Kakashi duduk di sofa menunggu kedatangannya seperti biasa, jadi bisa ia simpulkan bahwa pria itu mungkin saja tengah mengurus 'bisnis'nya menyangkut game online dengan perusahaan yang merilis beberapa video game baru.

Tak terasa, kedua kaki jenjang itu telah sampai pada tujuannya. Gadis dengan rambut pirang panjang sepinggang yang dikuncir tinggi itupun segera melepas pakaian. Melucutinya satu persatu dan menampilkan beberapa bekas luka yang pernah ditorehkan mentornya sebelum menjadi bayangan rubah. Hukuman yang sering ia terima saat mengalami kegagalan adalah cambuk, tapi tidak menutupi bahwa ia juga pernah merasakan bagaimana timah panas bersarang pada betisnya, atau dinginnya belati yang mengoyak paha juga bahunya.

Itu adalah kisah lama, perjuangan paling keras bagi bocah usia 10 tahun untuk bertahan hidup. Tak dipungkiri, bahwa memang dulu ia begitu antusias dalam pelatihannya, dan sama sekali tidak ingin berputus asa meski tubuh sering didera rasa sakit yang sangat. Mungkin, jiwa heroiknya begitu besar sehingga ingin sekali dapat membalaskan dendam para tunawisma yang menderita di bawah kaki para bangsawan dan pejabat.

Tapi kini, semua perasaan itu telah musnah, bertepatan dengan ucapan paling menyakitkan yang tuannya katakan beberapa hari yang lalu. Ia hanya alat, dan itu sangat melukai hatinya. Ditambah lagi, melengserkan Raja? Itu pemberontakan, raja sama sekali tak bersalah. Pria berkedudukan tertinggi itu adalah orang yang berusaha keras mencari solusi tentang pemerataan harta, tetapi selalu dihalangi oleh para begundal busuk bertopeng tikus. Ia tau seluk beluk politik, menjadi anak buah tuannya membuatnya paham bagaimana politik selalu berjalan di balik punggung rajanya, atau dengan kata lain, tanpa sepengetahuan sang raja.

Gemericik air terdengar dan hilang begitu tubuh kurus itu telah bersih. Menarik selembar handuk pada tempat menjemur, Naruto mengusapkannya ke seluruh tubuh. Beberapa menit kemudian, ia telah siap dengan kaos dan celana panjangnya.

Direbahkannya tubuh lelah itu di atas permukaan kasur single miliknya. Terpejam dengan lengan kanan menutup kelopaknya dengan nyaman.

Tak lama, pintu kayu terbuka. Menampilkan sosok seorang pria muda yang berdiri kaku di depan pintu. Langkah kakinya pelan, berdesir seperti angin yang tak terdengar. Mencoba lebih ringan agar tak membangunkan.

Lelaki itu lantas mendudukkan diri di samping Naruto, memunggunginya dengan kepala tertunduk, jemari jemari kekarnya saling bertaut penuh tekad, dan dengan sekali tarikan nafas, Kiba membuka suaranya.

"Hei, idiot. Jangan bangun sebelum aku menyelesaikan ini." Bisiknya dengan pandangan mengarah pada wajah damai adiknya.

"..." Dada Naruto kembang kempis sesuai irama. Membuat Kiba merasa yakin bahwa Naruto telah jatuh dalam mimpinya. Sepasang matanya yang jernih, menatap bocah pirang itu penuh kecewa. Hatinya selalu bergemuruh seakan ingin meledak ketika mengingat akar permasalahan adik bodohnya ini, yang bahkan tak mampu ia raih tangannya agar tertolong.

"Aku membencimu." Ungkap Kiba, wajahnya mengeras dengan tatapannya yang seiring menjadi begitu tajam. "Dari kecil, aku selalu membencimu. Kau datang tiba-tiba di kehidupan bahagiaku, dengan penampilan paling buruk yang mengesalkan. Karena kau, ayah hanya mau memperhatikanmu. Lebih dari itu, kau tumbuh jadi gadis yang cerdas, kau buat ayah bangga padamu hingga sekarang. Bahkan, ia tetap merasa bangga meski pekerjaan yang kau emban adalah dosa besar dan perbuatan busuk.

Kau idiot, kau bodoh dan seorang bajingan gila yang suka membohongi semua orang! Aku membencimu, sangat benci!"

"Tapi.. asal kau tahu, Naruto. Meski kita bukan saudara kandung, aku telah mengenalmu lebih dari Kakashi mengenalmu. Kau tidak pernah tahu bukan, bahwa aku selalu memperhatikanmu. Setiap saat." Senyum getir terbentuk. Kiba menarik pandangannya, terpejam erat menetralkan kekesalan yang tiba-tiba merasukinya

"Pertama kali aku melihatmu, kau nampak seperti gadis dekil yang lemah, suka merajuk ataupun cengeng. Tapi, itu hanya pemikiranku di awal. Nyatanya kau adalah gadis kecil paling keras kepala yang membuatku selalu khawatir. Aku tahu, sedari dulu kau tak pernah punya teman, dan selalu di bully. Tapi kau mampu mengatasinya dengan baik, meski berakhir membuat Kakashi frustasi akibat luka-luka dan pakaianmu yang kotor." Kekehan ringan mengalun, terdengar lembut dan penuh kerinduan. Lelaki dengan rambut bercat coklat itu kembali memusatkan perhatiannya pada adik angkatnya. Dari pancaran matanya, kelembutan itu terasa menyentuh hati.

"Idiot, rasanya malu sekali mengakuinya. Tapi aku benar-benar menyayangimu, Naruto. Jadi kumohon, jangan buat Kakashi frustasi, jangan buat kami khawatir. Aku yakin kau tahu yang terbaik, dan aku percaya padamu."

Jarum jam berdetak konstan, untuk beberapa menit ke depan, Kiba menghabiskan waktunya memandangi Naruto. Mengusap poni pirang adiknya itu sebelum beranjak berdiri.

"Tidurlah yang nyenyak, adikku sayang." Bisiknya dan benar-benar melangkahkan kaki keluar kamar.

Kelopak tan membuka perlahan begitu suara pintu yang tertutup mengakhiri semuanya. Tatapan nanar ia arahkan pada ternit kamar, membiarkan tetesan tetesan air keluar dan menuruni masing-masing pelipis menuju telinga, berbisik pelan dengan malam sebagai saksinya,

"Aku juga menyayangimu, Kiba-nii.."

..

.-.

to be continue

author note;

chap tiga nih, cuma dikit yak!

thanks buat semua review-nya manteman.. jgn lupa kasih review lagi ya hahahaha!

chap depan kalau nggak salah, mulai masuk konflik.. ditunggu ya! ini tetep slow update soalnya ..

buat ; black Champaign, Riez Qee, Jasmine DaisynoYuki, Lukazluke, pha Chan, itakun, Deasy674, LuLu-Oni, Choikim1310, Ponyokeum, D, Azyx Bee, Puchizu, alMahiya09 (makasih buat sarannya, ini dah saya coba!), Vryheid, yoonseeno, and Lima5.. makasih dan maaf nggak bisa balas satu2. smg ceritanya makin nggak membingungkan..

itu aja, see you!

B Broke