Heart Conqueror © Kuro Tenma
Aldnoah Zero © A-1 pictures - Troyca
Warning : Inaho x fem!Slaine, OOC, terdapat OC untuk mendukung cerita ini
Rate : T
Perhatian! Dilarang melakukan praktek plagiarisme terhadap cerita ini. Hargai ide dan jerih payah penulis. Cerita ini tidak meraup keuntungan dalam bentuk apa pun.
Don't like? Don't read!
Chapter 3
"Pesawat asing itu sudah bergerak dengan kecepatan tinggi ke arah Tanegashima. Sudah lima jam berlalu semenjak kita kehilangan kontak dengan pasukan militer yang diturunkan ke Shingawara, kemungkinan pesawat itu sudah mendarat di Tanegashima empat jam yang lalu," ucap Darzana Magbaredge.
"Tanegashima lagi…" gumam Koichiro Marito sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Bagaimana dengan kondisi puluhan tentara yang diturunkan ke Shingawara?" Kaizuka Yuki menunjuk ke arah salah satu laporan beberapa jam lalu saat operasi militer baru saja dimulai.
"Sayang sekali, seluruh dari mereka ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa." Magbaredge mengerutkan alisnya dan mengucapkan kalimatnya dengan nada prihatin.
Inaho maju selangkah. "Bagaimana kalau kubilang tidak semuanya?"
Semua orang yang berada di ruangan menoleh serentak ke arah Inaho. "Apa maksudmu, Nao-kun?" tanya Yuki.
"Aku memasang alat pelacak di dalam tubuh salah satu tahanan rahasia yang ditugaskan dalam misi militer beberapa jam lalu. Sampai detik ini alat pemancar tersebut masih berkedip yang merupakan tanda bahwa jantungnya masih berdetak. Dan… lokasinya tepat di Tanegashima." Inaho menjelaskan panjang lebar sambil menunjukkan sebuah alat pelacak dan terdapat titik merah pada layarnya yang berkedip secara teratur.
"Apa yang kau maksud adalah Slaine Saazbaum Troyard?" tanya Magbaredge memastikan.
Inaho menganggukkan kepalanya. "Karena dia masih hidup, bukankah itu berarti kita harus menyelamatkannya, kapten?" tanya pemuda berambut coklat itu.
"Sesuai perjanjian, dia hidup dan sekarang statusnya bukanlah tahanan lagi. Melainkan warga sipil yang harus diselamatkan." Magbaredge sedikit menarik napas. "Baiklah, siapkan strategi penyelamatan ke Tanegashima!"
Terang.
Itulah yang tertangkap pertama kali oleh pengelihatan Slaine dari mata hijau toskanya. Ia mencoba melihat ke samping. Di sana ada sebuah meja berwarna putih dengan peralatan medis lengkap di atasnya. Ketika melihat ke arah lainnya, ia tidak menemukan seorang pun. Ketika ia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, ia harus pasrah karena tenaga tubuhnya seakan terkuras habis seperti terkena obat bius.
Sesaat kemudian, Slaine melihat sosok misterius yang dilihatnya beberapa jam lalu muncul dari balik pintu ruangan tersebut. "…si-apa… k-au?" gumamnya susah payah.
Sosok tersebut masih mengenakan helm berwana hitam dan wajahnya benar-benar tidak terlihat. Ia sedikit memiringkan kepalanya ketika mendengar ucapan Slaine. Namun, tidak mengatakan apapun, tiba-tiba sosok itu mengambil sebuah tabung kecil berisi cairan berwarna ungu yang di bagian ujungnya terdapat jarum sebesar satu mili. Tanpa aba-aba, sosok itu menancapkan jarum tersebut ke lengan kanan Slaine. Dan cairan di dalamnya otomatis terinjeksi masuk ke dalam tubuh pemuda berambut pirang itu.
Tidak sempat merasakan sakit apapun, Slaine kini kembali masuk ke alam bawah sadarnya.
Entah sudah berapa jam Slaine tertidur. Namun, rasa panas luar biasa di sekujur tubuhnya membuatnya kembali tersadar. "A-kh! A-apa.. ugh!" Slaine menggeliat dan merintih kesakitan. Pandangannya bergetar dan mulai kabur.
Cairan apa yang dimasukkan ke dalam tubuhnya tadi?
Slaine mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tubuhnya serasa terbakar dan jantungnya berpacu dengan cepat. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Rasanya ia akan meledak.
Apakah aku akan mati?
Slaine mencoba berteriak, namun suaranya seakan-akan tercekik di tenggorokan dan tidak bisa keluar. Hal terakhir yang dilihatnya sebelum kehilangan kesadaran adalah dua sosok awak pesawat asing yang masuk ke Bumi itu sedang mengamatinya dari sudut ruangan.
"Alat pelacaknya berhenti di bangunan tidak terpakai di atas bukit itu," Inaho menunjuk ke arah bukit yang berjarak sepuluh kilo dari tempatnya berdiri.
"Ngomong-ngomong, Nao-kun," ucap Yuki.
"Ada apa, kak Yuki?"
"Bagaimana kamu bisa berpikir untuk menanamkan alat pelacak itu?" Yuki sedikit tersenyum saat menanyakannya.
Inaho tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan di dagu dan matanya melirik ke atas, tanda sedang berpikir. "…intuisi?" jawab Inaho sedikit ragu.
"Kapan tepatnya intuisimu itu muncul?"
"…satu bulan lalu. Saat itu, aku menyogok salah satu penjaga untuk menyuntikkannya ke tangan Slaine. Dan aku melihat ada bekas merah seperti habis digigit serangga di lengan bawah kanannya. Dia sih tidak tahu, karena injeksi alat pelacak dilakukan ketika dia tertidur."
Inaho tersenyum kecil ketika mengingat Slaine menunggu gilirannya menggerakkan bidak catur sambil sesekali memandangi kulitnya yang agak kemerahan di bawah lengan kanannya. Sesekali Inaho juga mendapati Slaine sedikit mengusap luka kemerahan yang sebenarnya bukan berasal dari serangga—seperti yang dipikirkan pemuda pirang itu.
"Menyogok—" Yuki menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada rasa bangga karena adiknya itu mau sampai seperti itu memikirkan sahabatnya. Namun, di sisi lain ia cukup khawatir dengan sikap Inaho yang terkadang terbilang cukup…agresif? "Sudahlah. Anggap aku tidak mendengar apapun. Jalankan Sleipnirmu dan kita ke bukit itu, sekarang!" perintah Yuki dari dalam Areion.
"Roger," Inaho menuruti perkataan kakaknya dan bergegas ke arah bangunan tua tersebut.
Perkiraan semula, pesawat asing itu akan berada di Tanegashima ternyata salah. Ketika area tersebut diperiksa, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan pesawat ruang angkasa yang sedang mereka cari itu.
Tak menunggu terlalu lama, Inaho segera turun dari Kataphrakt miliknya lalu masuk ke dalam sebuah gedung tua diikuti Yuki di belakangnya. Gedung itu sepertinya dulunya adalah laboratorium. Dilihat dari dindingnya yang berwarna putih walaupun warna putih itu kini telah berubah sedikit hitam dengan banyak lumut di beberapa bagiannya.
Di ruangan paling ujung terdapat pintu. Menurut pelacak lokasi, di situlah Slaine berada saat ini. Tanpa menunggu instruksi Yuki, Inaho langsung mendobrak pintu tersebut. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja panjang dan terlihat seseorang sedang terbaring di atasnya.
"Slaine!" Inaho mendekati tubuh itu. Ia berharap panggilannya membuat tubuh tersebut bergerak. Namun, rupanya tidak. Selembar kain putih menutupi seluruh tubuh yang sedang terbaring di atas meja tersebut. Mulai dari ujung kepala hingga kaki. Di lihat dari pergerakannya yang naik turun, dapat dipastikan sosok tersebut masih bernapas. Hal itu membuat pemuda berambut coklat itu sedikit lega.
Inaho mengulurkan tangannya lalu mengangkat kain putih itu. Dan wajahnya langsung terpaku. "Kak Yuki…" ucap Inaho sesaat kemudian.
"Apa benar itu Slaine?" Seperti Inaho, Yuki pun terkejut melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini.
"Cepat kita bawa dia ke Deucalion untuk diperiksa dokter Yagarai!" Inaho membungkus tubuh di hadapannya dengan kain putih itu hingga melekat pas di badan. Dan ketika mengangkat tubuh tersebut, rambut pirang keemasan panjang terjuntai ke samping memperlihatkan wajah mungil yang sedang tertidur pulas dengan ekspresi damai.
Soma Yagarai menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Kedua alisnya bertaut bingung melihat layar monitor di depan wajahnya.
"Bisa tolong jelaskan apa yang sedang terjadi, dokter?" tanya Inaho.
Saat ini Yuki sedang tidak berada di dalam ruangan bersama Inaho karena sedang melaporkan kejadian selama operasi beberapa saat lalu di Tanegashima pada kapten Magbaredge. Kini di dalam ruangan tersebut hanya ada tiga orang, yaitu Inaho, dokter Yagarai, dan… sosok yang diyakini bernama Slaine Saazbaum Troyard.
"Ini benar-benar membingungkan. Setelah pemeriksaan DNA, jelas-jelas dia adalah Slaine Saazbaum Troyard, tapi… untuk alasan yang tidak kuketahui dan tidak masuk akal..." Yagarai memberi jeda sebelum berdeham pelan menjernihkan tenggorokannya. "Menurut catatan dokter sebelumnya, jenis kelaminnya laki-laki… dan sekarang…" dokter Yagarai berkata dengan nada tidak percaya. Ia bahkan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya hingga selesai saking terkejutnya melihat data di komputer dan kenyataan yang ada.
"…dan sekarang dia berubah jadi seorang perempuan." Inaho melanjutkan kalimat terputus dokter Yagarai dengan ekspresi datar seperti biasa.
Yagarai mengangguk pelan sambil memejamkan matanya. Ia mengusap wajahnya dengan tangan kanan, kelihatan lelah. "Tapi, kondisinya stabil dan tidak ditemukan keanehan ataupun luka sama sekali. Kemungkinan tak lama lagi dia akan segera siuman."
Pemuda berambut hitam itu menganggukkan kepalanya. Mata merahnya kembali menatap ke tubuh yang sedang berbaring di ranjang ruang perawatan tersebut. Sebuah senyum tipis terlukis di bibir Inaho. Sebuah senyum lega.
"Aku akan keluar untuk membeli kopi. Sepertinya hal ini cukup membuatku merasa lelah," ucap Yagarai sambil berjalan keluar dari ruang perawatan. Meninggalkan Inaho berdua bersama Slaine.
Inaho masih memerhatikan wajah di hadapannya dengan saksama. Tangan kanannya terulur ke depan mengambil helaian rambut berwarna pirang keemasan yang entah kapan tumbuh dengan panjang. Kira-kira sepanjang punggung pemuda—eer, gadis itu. Kini gadis itu telah mengenakan setelan baju pasien berwarna hijau muda. Yuki yang memakaikan pakaian itu tadi sebelum pergi melapor.
"Kau sudah kembali, Slaine…" gumam Inaho. Pemuda itu mendekatkan wajahnya lalu mengecup dahi Slaine sekilas.
Tepat ketika Inaho mengangkat kepalanya, pintu ruangan terbuka kembali. "Inaho, aku tahu kau mengkhawatirkannya. Tapi, kurasa kau harus melihat ini." Yuki memberi isyarat supaya Inaho mengikutinya.
.
.
.
"Sudah lama tidak bertemu denganmu, Inaho-san," ucap seorang gadis berambut pirang sambil menjabat tangan Inaho.
"Ratu Asseylum—"
"Oh, ayolah, panggil aku Asseylum saja seperti sebelumnya," ucap Asseylum Vers Allusia sedikit cemberut.
"Senang bertemu lagi denganmu, Inaho-san," Count Klancain atau yang sekarang dipanggil Yang Mulia Raja Klancain—mengulurkan tangannya dan Inaho menerima jabatan tangannya.
"Begitu juga denganku," kata Inaho tersenyum singkat.
"Baiklah, kita akan memulai pembicaraan pentingnya sekarang, disambungkan langsung dengan petinggi Bumi." Magbaredge memberi isyarat supaya layar utama di ruang kendali ditampilkan.
"Mohon maaf sebelumnya, tetapi baru saja masuk sebuah panggilan asing tak dikenal yang berusaha menghubungi Deucalion!" Nina Klein segera menekan tombol penerima sambungan begitu mendapat persetujuan dari Magbaredge.
Di layar kedua saat ini terpampang seorang gadis berambut ungu sebahu dan mata berwarna silver miliknya terlihat penuh dengan kepercayaan diri.
"Sebutkan identitas dan tujuanmu menghubungi kapal ini," ucap Magbaredge.
"Syukurlah aku sempat mempelajari bahasa Bumi sebelum sampai kemari… Halo, perkenalkan, aku Unn, penduduk planet Xion…" ucap gadis berambut ungu tersebut. "…dan aku adalah awak dari pesawat hitam yang mendarat itu."
To Be Continued
Haloo, akhirnya update lagi. Fem!Slaine sudah keluar #ahay xD
Nah, sekarang si OC sudah mulai memperkenalkan dirinya! Kira-kira maksud tujuannya apa ya menghubungi Deucalion? Bisa disaksikan readers di chapter depan. #dilempar 8D
Buat reviewers chapter sebelumnya aku ucapin makasih banyak! Buat yang lain, kotak reviewnya terbuka kok buat menuliskan komentar kalian. 8D
Ttd, Kuro Tenma
