"If you don't receive love from the ones who are meant to love you, you will never stop looking for it."
Robert Goolrick - The End of the World as We Know It: Scenes from a Life
.
.
.
Chapter 3
Leisurely and Carefree Ignorance
.
Sudah beberapa hari sejak hari dimana Jimin berbicara dengan Yoongi. Jimin tiba-tiba sadar menguntit seseorang bukan hal yang baik untuk dilakukan dan memutuskan untuk benar-benar berhenti mengikuti Yoongi.
Sekarang hari ketiga. Dia tampak tak bernyawa dan putus asa. Semua yang dia lakukan hanyalah belajar tetang ekonomi yang dia tidak akan pernah mengerti dan itu tidak membantu sama sekali.
Jimin merindukan Yoongi. Dia rindu mengambil gambar Yoongi dan melihat Yoongi melakukan aktifitasnya. Tapi, Yoongi melarangnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa kalau Yoongi melarangnya.
Jimin menatap langit-langit kamarnya dengan berbagai macam pikiran. Tiba-tiba hidupnya terasa kosong. Tiba-tiba hari-harinya terasa berlangsung lebih lama. Biasanya waktu akan terasa begitu cepat saat dia mengikuti Yoongi.
"Jiminie?" Jimin mendengar bibinya memanggilnya. Bibinya sedang berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah khawatir.
"Ya, bibi." Jimin menjawab dengan manis.
"Apakah kau baik-baik saja? Kau terlihat begitu pucat dan-dan sedih." Bibinya menatap Jimin khawatir.
Jimin merasa benar-benar buruk sekarang. Dia seharusnya tidak membuatnya bibinya sedih.
"Tidak apa-apa, bibi. Aku benar-benar baik-baik saja." Dia mencoba untuk memberikan sebuah senyuman yang lebih tulus.
"Apakah kau yakin, Jimin?" Bibinya bertanya sekali lagi.
"Ya. Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja." Jimin tersenyum lagi.
"Kalau begitu, selamat malam." Kata bibinya sambil menutup pintu kamarnya.
"Selamat malam." Jimin menutup matanya.
Dia bertanya-tanya apakah Yoongi merasa senang setelah dia berhenti mengikutinya. Apa sekarang hidupnya jadi lebih tenang?
Jimin masih terus mengecek akun SNS Yoongi, tapi dia tidak pernah melakukan apa-apa. Dia bahkan tidak menekan tombol 'suka' atau lainnya. Jimin hanya, tiba-tiba, menghilang. Jimin pernah berpikir satu ide gila tetang Yoongi yang akan merindukannya. Tapi, itu mustahil, kan?
Pikirannya kacau. Dia harus berhenti memikirkan Yoongi. Selalu seperti ini. Dia tidak bisa tidur di malam hari karena memikirkan Yoongi. Dia harus berhenti.
Dia mencoba menutup matanya lagi. Dia memeluk boneka beruangnya erat.
Sugabear, bantu noona tidur ya. Jimin tersenyum pada boneka beruangnya.
Iya. Jimin punya sebuah boneka yang dia beri nama, namanya Sugabear. Memang kekanak-kanakan. Tapi, Jimin tidak bisa tidur tanpa memeluk sesuatu. Dia dulu memeluk ibunya selama waktu dia masih di Busan dan sekarang dia memeluk Sugabear.
"Sssstt." Jimin mendengar sesuatu. Dia menoleh ke arah jendela kamarnya dan mengernyit bingung.
"Ssstttt! Yah Park Jimin!" Dia kaget. Itu jelas suara Jungkook. Jimin mengintip untuk melihat Jungkook, dia berdandan rapi.
"Apa yang kau lakukan di saat seperti ini di luar?" Jimin membuka jendela kamarnya agar Jungkook bisa masuk ke dalam.
"Eonnie, aku merindukanmu." Jungkook masuk ke dalam dan memeluknya.
"Jangan terlalu dramatis. Kita bertetangga." Jimin berkata tapi tetap memeluk punggung Jungkook.
"Kenapa kau memakai lipstik merah?" Jimin mencium sesuatu yang mencurigakan. Jungkook tidak memakai lipstik merah untuk hal-hal biasa.
"Karena, kita akan pergi untuk menonton Bangtan malam ini. Yoongi sudah jadi tamu tetap. Ingat?" Jungkook menyeringai polos.
Jimin mendesah. "Aku sangat tersentuh tapi aku tidak akan ikut."
"Tapi, aku dengar mereka akan membawakan lagu baru malam ini!" Jungkook mencoba untuk memprovokasi Jimin.
"Tapi, dia membenciku Jungkook. Dia tidak ingin aku ada di sana." Jimin protes.
"Kau tahu, aku... yah, seorang gadis dari sekolahku yang bernama Hyejin, menyatakan cinta ke Yoongi pagi ini." Kata Jungkook hati-hati.
"Dia apa?" Jimin melebarkan matanya. Oh tidak.
"Dia gadis cengeng dengan bulu mata palsu yang lebat dan kepribadian palsu." Jungkook memberikan sebuah senyum mengejek.
"Apakah Yoongi..." Jimin bertanya dengan takut. Dia terlalu takut untuk bertanya tapi dia perlu tahu.
"Tidak. Tentu saja dia tidak, tapi dia tidak mengatakan apa-apa dan... Dia menerima dia cokelat buatan Hyejin. Aku tidak tahu banyak. Tapi orang-orang bilang dia mengundang Hyejin untuk datang ke pertunjukan malam ini." Tambah Jungkook.
"Aku... aku..." Jimin mendesah panjang. Jungkook menatpnya dengan harapan tinggi.
Satu menit…
Dua menit…
Tig-
"Aku akan ganti baju dulu!" Jimin kata dengan semangat. Dia bergegas untuk mengganti pakaiannya.
"Aku bawa kemeja merah yang bagus untuk dipadukan dengan rok kulitmu." Jungkook tersenyum.
Mereka berdua tersenyum gembira.
Park Jimin tidak akan bilang tidak untuk Min Yoongi.
.
Pestanya sangat menakjubkan. Bangtan benar-benar menyanyikan lagu baru. Lagunya adalah rap lembut dengan gitar listrik dan beat halus. Jimin sangat menyukainya. Yoongi terlihat begitu tampan seperti biasanya. Kali ini dia mengenakan sweater merah muda pucat dengan jeans hitam. Dia juga mengenakan Converse putihnya. Dia terlihat sangat manis. Dia tampak seperti anak laki-laki berumur 15 tahun. Kecuali, tidak ada anak laki-laki berusia 15 tahun yang akan memiliki suara seksi dan serak seperti Yoongi dan menyumpah seperti Yoongi.
Jimin mencoba yang terbaik untuk tidak terlihat oleh Yoongi, atau teman-temannya. Dia juga sangat fokus pada memerhatikan Hyejin, gadis yang Jungkook dibicarakan. Gadis itu tinggi dan cantik. Dia tampak begitu berkelas dengan tas LV hitamnya. Rambutnya dicat pink dan oranye dengan warna pirang kusam sebagai warna dasarnya. Dia mengenakan sebuah gaun hitam mahal yang terlihat seperti gaun koktail. Busana street style Jimin tidak ada apa-apanya disbanding dengan penampilan Hyejin.
Dia juga memiliki tubuh yang benar-benar bagus dengan payudara besar dan tubuh langsing. Dia mungkin mengoperasi wajahnya. Ah tidak, dia pasti pernah menjalani operasi kelopak mata. Terlihat jelas.
Jimin mencibir Hyejin dari kejauhan. Anak manja itu pasti memakai semua produk makeup mahal yang dia punya karena makeup-nya tetap sempurna bahkan setelah tersiram air dari botol minuman Yoongi.
Jimin memeriksa ponselnya untuk melihat waktu. Sudah hampir pukul satu pagi. Anak dibawah umur seperti Hyejin harusnya sudah tidur. Tch, what brat. Tapi, kemudian dia menyadari Jungkook juga masih ada di sana. Gadis yang sama kecilnya dan begitu menikmati waktunya di sini. Jimin sempat marah tadi. Jungkook sangat ketakutan ketika mereka pertama kali datang ke sini. Lihat dia sekarang. Dia begitu gembira.
Kembali Hyejin, dia mengibaskan rambutnya seperti dia memiliki seluruh tempat ini. Tch! Kami tidak suka kau tahu!
Jimin ingin mengutuk Hyejin lebih lagu tapi Jungkook memegang tangannya dan menariknya keluar kerumunan.
"Yah! Aku sedang melihat Yoongi!" Jimin protes.
"Yoongi bisa menunggu beberapa saat. Aku punya kejutan." Jungkook tersenyum. Jungkook membawa mereka ke sebuah meja. Ada seorang pria duduk di sana dan menunggu mereka. Jimin menyipitkan matanya. Dia merasa seperti dia kenal orang itu.
"Eonnie, ini Taehyung. Kalian berdua seumuran." Jungkook berkata segera setelah mereka mencapai meja itu. Jungkook duduk di sebelah pria itu dan semua Jimin hanya bisa menatap mereka bingung.
"Aku Taehyung." Orang itu menjabat tangan Jimin kemudian tersenyum.
"Aku Park Jimin." Orang itu kembali tersenyum dan Jimin sangat menyukainya. Taehyung benar-benar tampan.
"Wow, Jungkook. Aku benci kau." Kata Jimin dan Taehyung hanya tertawa. Kemudian, Jimin mengulurkan tangannya pada Jungkook dan menarik Jungkook mendekat. "Aku lebih membencimu sekarang. Dia sangat seksi." Bisik Jimin.
"Aku sudah bilang bahwa aku punya, eh, semacam kencan dengan seorang pria, kan? Dia orangnya." Kata Jungkook.
"Bagaimana kau menemukannya?" Tanya Jimin ingin tahu.
"Dia adalah senior di universitas yang aku incar. Kami bertemu ketika aku sedang mencari beberapa informasi." Jungkook tersenyum sambil menjelaskan.
"Sesederhana itu?" Jimin mencibir.
"Ya, sesederhana itu." Jungkook hanya tersenyum.
"Ah. Aku sangat berharap bahwa aku bisa punya kisah cinta yang sederhana dan lucu sepertimu." Jimin mendesah dan Jungkook tertawa pelan.
"Kami belum berkencan..." Bisik Jungkook.
"Ah... maaf." Jimin buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kalian mengabaikanku..." Si seksi Taehyung mengganggu pembicaraan mereka. Kemudian mereka berdua hanya tersenyum penuh arti.
.
Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk berbicara dengan Taehyung, Jimin pikir Taehyung benar-benar menarik. Dia bisa menjadi oppa yang manis dan dalam waktu satu menit dia bisa menjadi oppa yang panas dengan tatapan seksi.
Taehyung dan Jungkook tampak begitu dekat. Mereka serasi. Jimin hampir merasa seperti dia mengganggu mereka tetapi mereka melakukan yang terbaik untuk tidak membuat Jimin merasa diabaikan. Jimin sangat berterimakasih akan itu.
Yoongi tidak ada di atas panggung. Yang ada hanya anggota lain dari Bangtan, namanya J-Hope. Tapi Jimin tahu nama aslinya karena Yoongi. Dia Hoseok. Jimin tidak tahu nama depannya tapi dia Hoseok. Jimin menyukainya. Dia selalu terlihat seperti dia sedang terbakar. Dia tampak begitu ramah dan lucu tapi dia bisa menjadi rapper yang benar-benar badass setelah dia naik ke panggung.
Namun, Jimin hanya ingin Yoongi. Dia begitu bosan sekarang. Dia memutuskan bahwa minum sedikit tidak akan menyakitinya. Jadi, dia pergi ke bar untuk memesan minuman dengan kadar alkohol terendah di dalamnya. Jimin memutuskan untuk membiarkan Jungkook dan pria panas itu waktu pribadi mereka. Dia duduk di dekat bar sendirian.
Dia meneguk minuman mahalnya kemudian menatap panggung lagi. Jimin menatap Hoseok intens sampai dia sadar bahwa Hoseok juga menatapnya. Pada awalnya Jimin berpikir bahwa dia sedang berhalusinasi tapi itu nyata. Hoseok bahkan mengedipkan matanya.
Jimin buru-buru mengubah posisi duduknya. Dia mencoba untuk melihat ke arah lain. Dia melihat pasangan yang sedang berbincang dan menghela napas.
Jimin punya satu masalah dengan Taehyung, pria itu tampak baik-baik saja membawa Jungkook yang masih di bawah umur, ke klub seperti ini. Jimin adalah orang yang sering khawatir. Jungkook sedang begitu jatuh cinta. Jimin tidak ingin melihat sahabatnya patah hati, ini adalah cinta pertamanya. Taahyung atau siapa saja harus membahagiakannya.
.
Akhirnya, mereka berdua meninggalkan acara lebih awal dari apa yang sudah mereka rencanakan karena Jimin melihat Yoongi berjalan keluar klub dengan Hyejin.
Jimin sudah meminta Jungkook untuk tinggal bersama Taehyung, tapi Jungkook menolak. Jimin hanya tidak bisa melihat 'pertunjukannya' lagi. Mereka melihat Yoongi dan gadis itu pergi ke mobil Yoongi. Mobil yang sama persis yang Jimin naiki beberapa hari yang lalu. Gadis itu tersenyum lebar dan bercanda sambil memukul bahu kiri Yoongi. Jimin dan Jungkook mendesis. Mereka tersentak ketika Yoongi meletakkan tangannya di atas bahu gadis itu.
Jimin kecewa, Yoongi tersenyum. Itu bukan sebuah senyuman manis atau tulus tapi dia tersenyum pada gadis itu. Jimin hanya sangat kaget dan tidak terima. Dia cemburu. Dia menatap Jungkook dengan mata berkaca-kaca.
"Jungkook ..." Jimin berkata pelan.
"Tidak. Eonnie, kau tidak bisa menangis di sini. Kita harus pulang dulu." Jungkook berkata sambil menarik tangan Jimin untuk menyeret Jimin keluar dari area parkir.
"Tapi... dia tersenyum…" kata Jimin sambil terisak.
"Astaga. Eonnie, aku akan mengirim pesan pada Teahyung oppa untuk menjemput kita. No problem. Kita akan membicarakannya besok. Oke?" Jungkook mengirim sms pada Taehyung.
Jimin melihat pemandangan mengerikan di seberangnya sekali lagi dan menangis keras.
"Tunggu sebentar. Aku akan meneleponnya." Jungkook berubah panik.
.
Dua hari setelah kejadian itu, Jimin dan Jungkook lebih sering berpergian dengan Taehyung. Jimin pikir itu cara yang baik untuk mengalihkan pikirannya dari Yoongi. Dia benar-benar perlu berhenti memikirkan Yoongi. Dia telah menyia-nyiakan begitu banyak waktu untuk Yoongi.
Jimin, Jungkook dan Taehyung sekarang berada di sebuah taman hiburan di suatu tempat yang Jimin tidak tahu. Ini pasti bagian lain dari Seoul. Pemandangannya tampak begitu hijau dan indah. Jimin tersenyum senang. Terasa sangat romantis.
Dia melihat Jungkook dan Taehyung berjalan bergandengan tangan. Jimin tidak tahu mengapa dia setuju untuk ikut. Dia sudah jelas akan menjadi pengganggu di sini. Jungkook tadi mengajaknya keluar untuk bermain dan seharusnya dia ada di sini untuk bermain dengan mereka! Tapi tidak apa-apa. Pasangan ini adalah orang yang memintanya untuk datang. Jadi, ya, Jimin akan mencoba sebisa mungkin untuk tidak mengganggu.
Jimin begitu sibuk dengan pikirannya. Sampai dia tidak menyadari Taehyung dan Jungkook memanggilnya untuk bergegas lari. Hujan tiba-tiba turun sangat deras. Jimin mengikuti mereka dan berlari ke tempat terdekat untuk berteduh.
Jimin baru saja akan mengeluh sebelum dia mendengar Jungkook tertawa begitu bahagia dan dia juga bisa melihat mata Taehyung berkilauan penuh banyak cinta, mereka terlalu romantis untuk menjadi teman.
"Ugh, hilang sudah kesempatan terakhirku untuk bersenang-senang." Jimin tersenyum kecut.
"Haha, tidak apa-apa Jiminie. Kita bisa pergi ke suatu tempat yang berada di dalam ruangan." Taehyung merekomendasikan sementara dia memperbaiki rambut Jungkook dengan jari-jarinya.
"Kita semua basah kuyup, Oppa-ya." Kata Jungkook malu-malu.
"Hemm. Apartemenku tidak begitu jauh dari sini. Haruskah kita ke sana?" Taehyung menawarkan sambil mengangkat alisnya.
.
Sekarang, Jimin menyesal ikut. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan ke apartemen Taehyung, yang sebenarnya adalah sebuah apartemen yang benar-benar mewah. Jimin tidak akan berani menyebutnya apartemen, tempat ini lebih mirip sebuah kondominium tapi Taehyung tidak menyebutkan fakta itu, sehingga Jimin memutuskan untuk ikut dengan mereka tadi. Jimin benar-benar sangat terkejut tentang betapa kayanya Taehyung. Mereka pergi ke taman hiburan dengan sopir pribadi dan sekarang Jimin tahu bahwa dia tinggal sendirian di sebuah kondominium yang besar. Menakjubkan.
Jimin perlahan mengikuti mereka dari belakang. Taheyung berhenti di depan sebuah pintu. Dia perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Jungkook untuk memasukkan password dan membuka pintu.
"Kau benar-benar iblis yang diberkati!" Jimin berbisik pada Jungkook saat mereka masuk ke dalam dan Jungkook hanya menyeringai senang.
Kondominium Taehyung adalah sebuah rumah modern dengan banyak furnitur mahal seperti yang Jimin bayangkan. Terlihat sangat mewah dan bersih.
Kemudian Taehyung meminta kedua gadis itu untuk duduk di sebuah sofa besar di ruang tengah untuk beberapa saat. Dia kembali dengan handuk dan pakaian kering.
"Here, baby. Ganti pakaianmu." Kata Taehyung sambil menyerahkan sebuah kaus merah cerah ke Jungkook. Jimin mencoba untuk mengabaikan itu semua. Fakta bahwa Taehyung baru saja memanggil Jungkook baby di depannya, fakta bahwa Taehyung tahu Jungkook menyukai warna merah cerah dan mata lembutnya setiap kali dia berbicara dengan Jungkook. Jimin mencoba mengabaikan semua itu. Mereka berdua sedang jatuh cinta. Sangat jatuh cinta.
Jimin hanya tersenyum dan ijin ke kamar mandi. Dia hampir menangis. Dia ingin merasa cemburu tapi karena, itu Jungkook, dia hanya bisa merasa senang untuk mereka.
Saat Jimin di dalam kamar mandi, dia melihat bayangannya sendiri di cermin. Bahkan Jungkook yang masih di bawah umur mendapatkan seorang kekasih. Get it together, Park Jimin.
Dia mengganti blusnya dengan kaus yang Taehyung berikan. Jimin bisa mencium wangi Taehyung dari kaus itu. Wanginya maskulin dan harum.
Kemuadin dia mencari dimana pasangan itu berada dan menemukan mereka duduk dengan jarak yang terlalu dekat. Jungkook merebahkan kepalanya di dada Taehyung sambil tertidur dan Taehyung membelai rambutnya dengan hati-hati sambil tersenyum. Baik. Tidak mungkin Jimin akan merusak momen indah itu. Jimin memutuskan untuk mengambil beberapa gambar sebagai senjata menggoda setan kecilnya nanti dan menjauh.
Dia pergi ke balkon dan melihat hujan sedang turun deras. Jimin suka hujan. Ini adalah malam yang menenangkan. Jimin menatap langit yang menghitam saat dia bertanya-tanya apa yang sedang Yoongi lakukan sekarang. Orang itu pasti sekarang sedang bersama Hyejin, si gadis yang memiliki dada yang lebih besar daripadanya.
Huh.
Kemudian, Jimin juga sangat terkejut berapa banyak waktu luang yang dia punya saat dia tidak mengikuti Yoongi. Dia bisa menghabiskan lebih banyak waktunya untuk memperbaiki nilainya. Ya, dia bisa melakukan itu.
Jimin duduk di kursi yang kayu sangat lembut yang ada di dekat balkon dan perlahan tertidur.
.
Jimin bangun dan menyadari Taehyung dan Jungkook tidak bisa ditemukan dimana pun di kondominium itu. Jadi, dia hanya berbaring di sofa dan menunggu mereka pulang. Jimin pikir mereka mungkin berada di suatu tempat di kondominium Taehyung, yang Jimin tidak tahu, melakukan sesuatu Jimin tidak ingin tahu.
Oh gawat. Jungkook masih di bawah umur.
Jimin hanya bisa mendesah. Jimin tidak tahu apa yang harus dilakukan sehingga dia hanya terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil ponselnya. Jimin memeriksa akun SNS Yoongi. Sudah seminggu, sejak terakhir kali Yoongi menuliskan sesuatu di akun twitter-nya.
Setelah waktu bergulir selama 5 menit, Jimin memutuskan untuk mencari air minum. Segelas air akan membuatnya lebih tenang. Dia tidak mabuk atau apa tapi bubble tea yang mereka beli dari karnaval pagi ini. Jadi dia pergi ke dapur dan minum beberapa gelas air.
Jimin tidak kembali ke ruang tamu. Dia melihat jam klasik Taehyung yang terlihat sangat mahal di dekat dapur. Sudah pukul sembilan malam. Dia punya kelas pagi Senin ini. Dia harus menemukan mereka. Dia harus pulang.
Jimin mencoba untuk membuka beberapa pintu yang dia temukan tapi mereka semua terkunci sehingga dia mencari pintu lain. Dia mencoba untuk membuka sebuah pintu di samping balkon. Terlihat seperti sebuah master bedroom sehingga Jimin pikir Taehyung pasti di dalamnya. Jimin membuka pintunya. Tidak dikunci. Tapi, di dalamnya sangat gelap.
Jimin menyusuri ruangan untuk mencoba untuk mencari soket listrik.
Jimin terus berjalan, dia tidak tahu bahwa dia sedang diperhatikan oleh sepasang mata yang tajam.
Jimin benar-benar tidak mengerti, ruangan ini tampaknya tidak memiliki soket listrik. Dia telah mengusap jari-jarinya di semua sudut dinding. Oh mungkin ada sebuah remote control, jadi dia berjalan ke sisi tempat tidur untuk menemukan remote control atau sesuatu yang serupa. Dia bahkan tidak tahu mengapa dia bersikeras untuk tetap berkeliaran di ruangan ini tapi dia tetap melakukannya. Jimin mendengar seseorang bernapas dan dia tiba-tiba merasa begitu gugup.
"Taehyung? Apakah Kitu kau?" Jimin melihat siluet dari seorang pria. Pasti Taehyung, kan?
Dia mendengar suara tawa yang menakutkan dan dia tahu orang itu bukan Taehyung, dia ingin lari keluar ruangan tapi sepasang tangan yang kuat menangkapnya dan dalam satu detik dia jatuh ke tempat tidur, tepat di atas pria misterius itu. Jimin tersentak. Dia berusaha melarikan diri. Tapi, pria itu menempatkan tangannya dengan tegas di sisi tubuhnya. Jimin mencium alkohol yang kuat dari orang itu. Jimin merasa sangat takut. Dia menutup matanya rapat-rapat. Dia tidak berani melihat setan menakutkan yang sedang mendekapnya. Dia bisa merasakan tangan pria itu memeluk pinggangnya. Jimin mencoba untuk menyingkirkannya tapi dia akhirnya tertangkap lagi.
Jimin terdiam kaku, dia ingin memukul pria itu tapi dia tampaknya tidak memiliki energi yang tersisa untuk melawan. Jimin mendesis ketika dia merasa pria itu bernapas di lehernya dan mencium lehernya.
Situasinya berubah menjadi lebih buruk ketika pria itu membelai punggungnya dan membawa tangannya ke kepala Jimin. Pria itu membelai bagian belakang leher Jimin dan kemudian menahan kepala Jimin untuk membawanya lebih dekat ke padanya.
"Tidak! Lapaskan aku!" Jimin memejamkan matanya karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Orang itu tertawa sinis. Dia kemudian dengan santai menghapus jarak di antara mereka. Jimin menjerit ketika dia merasa bibir pria itu menyentuh bibirnya. Orang tak dikenal ini baru saja menciumnya. Dengan adrenalin yang kuat dan Jimin menyingkirkan tangan pria itu dan menampar pria itu dengan keras di wajah.
"Berani-beraninya kau!" Jimin berkata setelah membebaskan dirinya dari pria itu. Tapi, pria itu membawanya lebih dekat lagi dengan meraih tangan Jimin. Dia tertawa keras. Jimin terjatuh lagi di atas tubuh pria itu.
"Aku harus mengakuinya, kau menakjubkan." Dengan itu Jimin membuka matanya lebar-lebar. Suara itu milik Yoongi.
"Yoon-Yoongi oppa?" Kata Jimin kaget.
Yoongi bergerak untuk mengambil sebuah remote control di dekat meja nakas dan menekan sebuah tombol untuk menyalakan lampu. Sekarang Jimin benar-benar bisa melihat Yoongi. Wajahnya terlihat letih dan kelelahan.
"Bagaimana kau bisa ada di sini? Kondominium Taehyung memiliki sistem keamanan terbaik." Kata Yoongi penasaran. Tapi, Jimin terlalu terkejut untuk mengatakan apa-apa.
Apa yang Yoongi lakukan di sini?!
"Ah tidak, tidak. Bagaimana kau bahkan bisa tahu Taehyung? Bahkan beberapa temanku di kampus tidak tahu bahwa kami bersaudara." Kata Yoongi dengan wajah datar seperti biasa.
"Aku... aku benar-benar tidak tahu kalau kalian bersaudara. Aku bersumpah. Aku... aku minta maaf. Aku akan pergi sekarang." Jimin berkata sambil mencoba untuk pergi.
Yoongi melontarkan senyum menakutkan dan dengan cepat dia mengubah posisi mereka. Jimin berteriak keras. Yoongi menatapnya tajam dengan matanya yang gelap.
Apa-apaan! Yoongi tampak begitu seksi.
"Ssst, Jiminie. Tenanglah dan berhenti bergerak." Yoongi membelai pipi Jimin dengan tangan kanannya dan tangan lainnya bertumpu pada sisi kiri Jimin untuk mencegah tubuh mereka menekan terhadap satu sama lain.
"Yoongi oppa, aku benar-benar tidak tahu bahwa kalian adalah saudara. Tolong biarkan aku pergi." Jimin memohon saat dia mencoba untuk mendorong dada Yoongi.
"Hemm, lupakan itu. Aku tidak perlu tahu mengapa kau kenal Taehyung sekarang." Yoongi berkata dengan suara seraknya. Jimin pikir itu sangat seksi tapi tentu saja itu bukan waktu yang tepat untuk berpikir tentang Yoongi yang seksi. Dia menatap Yoongi kagum. Oh, dia sekarang begitu dekat dengan Yoongi.
"Pasangan itu sedang pergi keluar untuk membeli beberapa es krim. Kita punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan di sini." Yoongi mencium leher Jimin lembut dan Jimin hanya bias menutup matanya erat-erat.
"Aku benar-benar menyukai kenyataan bahwa kau bahkan tidak mencoba melarikan diri ketika kau tahu itu aku." Yoongi mengejek.
"Apa? Tidak. Biarkan aku pergi, please." Jimin berteriak. Eh, ya, ini salah. Dia harus pergi.
"Jujur, aku mengalami hari Minggu yang membosankan di sini. Aku agak senang kau datang. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku aku merasa senang melihatmu, Jiminie. Banggalah." Yoongi menyeringai lagi.
"Tapi... kau dengan Hyejin tadi malam..." Jimin protes. Jimin tidak akan bias lupa kejaian tadi malam.
"Hah? Wow. Tentu saja Jiminie pasti tahu semua tentang Yoongi oppa. Aku hanya berbicara dengannya dua kali." Yoongi sedikit terkejut.
"Dua kali? Tapi kau tersenyum..." Kata Jimin dengan mata berkaca-kaca. Yoongi pasti benar-benar menyukai Hyejin. Ini adalah akhir dari semuanya. Yoongi menyukai seseorang. Mereka pasti akan pacaran sebentar lagi.
"Aku melakukan itu?" Yoongi mengernyit sebelum Jimin mulai menangis dan Yoongi membiarkan Jimin pergi.
Jimin berbaring di sisi Yoongi dan terisak.
"Kau tahu, aku benci membuat seorang gadis menangis untukku. Tapi aku tidak pernah meminta itu dan tiba-tiba mereka menangis." Yoongi mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia tidak akan pernah mengerti wanita.
"Jangan menangis. Aku tidak suka gadis itu." Yoongi mencoba menenangkan Jimin sedikit.
"Tidak apa-apa, Yoongi oppa. Aku tidak pantas mendapatkan sebuah penjelasan." Jimin menggeleng.
Yoongi duduk di tempat tidur dan Jimin mengikutinya. Dia menatap Jimin kemudian menepuk bahunya. Jimin menatapnya kembali dengan mata sedih dan bergegas memeluknya. Jimin tidak peduli. Ini mungkin satu-satunya kesempatan baginya untuk memeluk Yoongi. Dia benar-benar tidak peduli.
Yoongi memang jahat dan tidak berperasaan tapi suara Jimin terdengar begitu memilukan sehingga dia tanpa sadar memeluk punggung Jimin.
"Aku penasaran. Apakah kau biasanya merasa senyaman ini saat memeluk seorang pria yang kau tidak pernah tahu di kondominium orang lain?" Yoongi bertanya-tanya.
"Aku tidak pernah memeluk seorang pria mana pun selain anggota keluargaku dan Taehyung." Kata Jimin menggelengkan kepalanya cepat.
"Dan kau pikir aku akan percaya itu ?" Yoongi tertawa.
"Kau tidak harus percaya itu." Bisik Jimin.
"Maksudku, kau adalah gadis yang merasa bicara dengan seorang pria yang baru saja menciummu paksa itu biasa saja." Yoongi benci fakta bahwa dia terdengar sedikit cemburu.
Hell, Yoongi tidak cemburu. Dia tidak peduli.
"Ini berbeda!" Jimin protes.
"Karena itu aku?" Yoongi mengangkat alisnya.
Jimin mengangguk.
Oh. Wow.
"Kau belum mengatakan padaku mengapa kau ada di sini." Yoongi mengganti topiknya.
"Aku... ah itu tidak penting. Aku akan pergi sekarang. Aku berjanji tidak akan pernah kembali ke sini." Jimin menyeka air matanya. Jimin melepaskan pelukannya. Yoongi ingin membalas Jimin tapi tiba-tiba sebuah suara yang kekanak-kanakan menghentikannya.
"Eonnie! Kenapa kau di sini? Di dalam ruangan Yoongi dan..." Jungkook tertegun.
"Hahaha, kita tidak perlu tahu, baby." Taehyung hanya tertawa. Jimin segera bangkit lalu berjalan keluar pintu.
"Aku... tidak apa-apa. Hehehe." Kata Jimin.
"Eonnie... kau menangis? Apa yang terjadi?" Jungkook mengikutinya.
"Ugh, tidak ada apa-apa, kau iblis jahat yang meninggalkan aku sendiri sampai jadi begini. Tidak." Jimin menangis lagi. Jimin berjalan keluar ruangan dan duduk di depan kamar itu. Dia memeluk kakinya sendiri dan membenamkan wajahnya di sana.
"Oppa! Katakan padaku apa yang terjadi?" Jungkook bertanya dengan wajah yang kesal Yoongi.
Jimin mengangkat kepalanya. "Jungkook? Oppa? Kau kenal Yoongi oppa?"
"Apa? Oh eonnie, aku bisa menjelaskan semuanya. Taehyung mengundang Yoongi untuk datang ke sini untuk menemui kami." Jungkook hampir menangis juga.
"Taehyung hanya ingin memperkenalkan seseorang yang spesial kepadaku, Aku sepupunya." Yoongi juga pergi keluar kamar.
"Kalau begitu, semuanya adalah kesalahanku... Ini semua kesalahanku. Aku minta maaf karena sudah merusak semuanya. Jungkook, aku minta maaf..." Jimin berkakata dengan rasa bersalah dan Jungkook membenci nada suara Jimin.
"Aku pikir aku akan pulang sekarang." Jimin mendesah dan Jungkook memeluknya.
"Tidak, eonnie. Semuanya baik-baik saja. Tidak apa-apa... apa yang terjadi? Aku tahu sesuatu terjadi." Jungkook membelai pelipis Jimin.
"Aku akan memberitahumu nanti... Aku hanya..." Jimin menatap Yoongi ketakutan.
Taehyung tertangkap mata ketakutan Jimin. "Hyung, apa yang kau lakukan sekarang?"
"Kami berciuman." Yoongi mengatakanya dengan malas seolah-olah itu tidak penting sama sekali. Itu mungkin bukan apa-apa baginya jadi, yah...
Jungkook dan Taehyung tersentak dengan hati senang. Jimin menutupi wajahnya dengan tangannya karena malu.
Kemudian, Jungkook berlutut di depan Jimin dan berkata, "Kau baru saja memenangkan jackpot! Min Yoongi menciumu! Kau harus bahagia. Aku tidak mengerti... Apakah ini air mata bahagia? "Jungkook berkata sambil meremas wajah Jimin dengan kedua tangannya.
Taehyung diam-diam tertawa. Jungkook, gadis itu sangat centil. Gadis centilnya.
"Aku ingin ciuman pertamaku romantis dan dengan seseorang yang aku cintai..." Kata Jimin lirih.
"Tapi, kau mencintainya..." Jungkook tersenyum tulus. Jimin berpaling ke Yoongi, pria itu terlihat muak.
Yoongi duduk di meja makan dan mengawasi mereka dengan ekspresi kosong.
"Park Jimin. Silahkan duduk. Kita akan bicara." Yoongi mengisyaratkan Jimin untuk duduk di sampingnya. Semuanya terdiam karena nada serius Yoongi. Jimin menatap Yoongi dengan mata yang tak berdosa dia kemudian berjalan untuk duduk di samping Yoongi.
"Dengar, Jimin. Aku hanya akan berbicara tentang tiga hal dan aku ingin kau menjawab tiga hal ini dengan baik." Kata Yoongi dan Jimin hanya mengangguk.
"Baik. Pertama, aku ingin tahu apa yang membawamu kemari." Tambah Yoongi. Jimin terkikik. Yoongi bertanya-tanya apa yang begitu lucu tentang pertanyaan itu.
"Yoongi oppa... aku pikir itu jelas sudah aku di sini karena aku teman dari Jungkook dan dia adalah pacar Taehyung..." Jimin berhenti berbicara saat melihat Yoongi menepuk keningnya.
"Tidak, Jimin. Bukan itu yang aku maksud." Kata Yoongi, wajahnya mengerut kesal.
"Maksudku, apa yang membawamu ke situasi ini?" Tanya Yoongi lagi. Yoongi mengharapkan sebuah penjelasan yang sangat panjang tapi Jimin hanya menatapnya.
"Jimin? Apakah kau mendengarku?" Kata Yoongi tidak senang.
"Aku... aku di sini karena-" Jimin sekali lagi terdiam setelah Yoongi berdecih.
"Tidak, Jimin. Maksudku bagaimana kau sampai ke titik ini." Tanya Yoongi. Jimin mengerjap beberapa kali dan memiringkan kepalanya.
"Apakah kau memahami apa yang kita bicarakan?" Yoongi mendesah lelah. Semuanya membuat dia frustrasi.
"Hehehe," Jimin tertawa datar sambil menggelengkan kepalanya imut yang membuat poninya berantakan.
"Maksudku apa yang membuatmu menyukai aku? Mengapa kau menguntitku?" Yoongi mencoba menjelaskan. Wajah Jimin berubah cerah. Dia tampak seperti anak pra-sekolah lucu yang mengajukan pertanyaan kepada gurunya tentang bagaimana burung bisa terbang dan merasa senang setelah akhirnya mengerti.
"Oh! Hahaha, sekarang aku mengerti!" Jimin tersenyum cerah, pipinya terangkat sampai matanya sipitnya menghilang. Yoongi hanya menatapnya tegas.
"Aku... aku suka senyummu." Kata-kata itu membuat Yoongi terkejut. Dia tidak pernah tersenyum. Yoongi ingin bertanya lebih tapi sepertinya Jimin memiliki lebih banyak hal untuk dibicarakan.
"Kau sekarang mungkin berpikir bahwa aku gila karena kau jarang tersenyum. Tapi- " Jimin berhenti untuk melihat Yoongi, dia meminta sebuah ijin untuk berbicara lebih banyak.
"Yoongi oppa, kau mungkin sudah lupa ini. Tapi, ada satu hari ketika aku pertama kali datang ke Seoul, aku sedang mengalami hari yang benar-benar buruk. Aku bahkan tidak bisa tersenyum ketika aku makan es krim. Aku tidak tahu apa-apa tentang Seoul." Jimin berhenti dan berbalik untuk melihat Jungkook atau Taehyung tetapi mereka tidak ada lagi di sana.
"Mereka sudah pergi. Tidak apa-apa." Yoongi tahu bahwa Jimin tidak ingin orang lain tahu.
"Apakah kau yakin kau ingin mendengarkannya, oppa? Ini tidak penting. Selain itu, ini akan menjadi sangat panjang dan menyedihkan" Kata Jimin hati-hati.
"Tidak masalah. Aku memiliki banyak waktu luang hari ini. Aku sedang mengalami hari Minggu yang membosankan, ingat? Sekarang aku akhirnya memiliki sesuatu yang menarik untuk dilakukan." Kata Yoongi mencoba untuk membuat situasinya menjadi sedikit tidak menakutkan.
"Pada waktu itu... aku berpikir bahwa itu akan mudah untuk menemukan rumah bibiku karena dia bilang dia tinggal di dekat halte bus di mana aku seharusnya turun. Tapi, aku lupa nama halte bus itu. Aku turun di perhentian terakhir dan ternyata Seoul adalah kota yang rumit, sibuk dan egois." Jimin hampir menangis tapi dia menahannya air matanya. Dia sudah cukup banyak menangis hari ini.
"Lanjutkan," kata Yoongi mendorong Jimin untuk melanjutkannya. Jimin tersenyum padanya.
"Dan waktu itu sedang turun hujan. Aku tidak punya payung atau uang. Jadi aku hanya menunggu di halte bus dan berbicara pada semua orang yang lewat untuk menanyakan apakah mereka tahu alamat yang aku bawa atau tidak." Jimin memberanikan diri untuk menatap mata Yoongi, mencari sesuatu di matanya. Sebuah emosi atau apa pun.
"Lalu aku melihat seorang pria lewat, dia mengenakan pakaian hitam dari kepala sampai kaki. Itu benar-benar aneh untukku." Jimin tertawa.
"Lalu, kenapa?" Yoongi bertanya.
"Karena dulu waktu di Busan, kami hanya memakai semua pakaian hitam ketika seseorang meninggal untuk menunjukkan belasungkawa kami. Aku hampir berpikir bahwa pasti kerabatnya meninggal hari itu karena dia tampak begitu sedih." Jimin tertawa sedikit. Yoongi hanya terdiam, menunggu.
"Jadi?" Kata Yoongi meminta Jimin untuk melanjutkan. Dia, jujur, menikmati ini.
"Orang itu berhenti dan duduk di sampingku. Dia mengutuk tentang bagaimana buruknya hari itu dan cuacanya. Aku agak takut. Tapi, dia begitu lucu sehingga aku terus menatapnya. Tatapan kami bertemu dan dia berbicara kepadaku." Jimin menarik napas panjang.
"Dia bertanya tentang apa yang membuat aku duduk di halte bus di tengah malam di hujan yang lebat. Aku menceritakan semuanya dan dia memberiku payungnya, aku tidak mau menerimanya karena aku tidak ingin dia berjalan tanpa payung di hujan yang lebat. Namun dia bilang bahwa sopirnya akan datang untuk menjemputnya. Lalu, aku mengucapkan terima kasih dan dia tersenyum. Senyumnya lucu dan itu adalah senyum terhangat yang pernah aku lihat di seluruh hidupku. Senyum yang meringankan semua kekhawatiran dan kecemasanku. Dia juga bilang kepadaku untuk tidak khawatir dan aku akan menemukan bibiku. Waktu itu aku jatuh cinta padanya dia dan aku masih mencintainya sampai sekarang. Aku benar-benar menyukainya. Dia adalah alasan yang membuat aku percaya aku bisa bertahan hidup di Seoul. Pokoknya, aku mengambil payungnya dan berjalan ke toko terdekat untuk menelepon bibiku dengan telepon umum. Tapi, teleponnya hanya bisa digunakan dengan kartu. Aku begitu panik tapi pemilik toko meminjamkan miliknya. Aku memang sangat beruntung pada saat itu." Jimin tersenyum.
"Bibiku bilang dia akan datang untuk menjemputku. Aku ragu-ragu pada awalnya, tapi dia bilang bahwa dia akan datang bersama suaminya jadi aku kembali ke halte bus itu dan aku melihat pria itu lagi. Apakah kau tahu apa yang aku lihat? Aku melihat orang itu berjalan meskipun hujan untuk naik ke bus. Itu semua membekas di hatiku. Tidak ada yang pernah menempatkan diri mereka dalam situasi yang buruk untukku. Ini sangat berarti bagiku sampai sekarang." Jimin akhirnya menangis.
"Setiap hari, aku tinggal di Seoul untuk menemukan orang itu. Setiap kali aku memiliki hari yang buruk, aku memikirkan tentang dia membuat aku senang dan-" Jimin terisak.
"Yah aku mengerti sekarang. Itu orang-orang tampak seperti aku, kau salah orang." Yoongi mengangguk.
"Hah? Tidak, oppa. Orang itu adalah kau .. Hahaha. Aku selalu ingin tahu apakah kau masih ingat hari itu. Aku akhirnya tahu, kau tidak ingat." Jimin tertawa dalam tangisnya.
Seperti yang dia kira.
Tiba-tiba itu semua sedikit membuat Yoongi sakit hati.
"Tidak. Jimin. Maksudku, aku bahkan tidak pernah punya payung. Yoongi menatap Jimin sarkastik.
"Aku belum melihatmu di mana pun sampai di hari kau berbicara denganku dan-" Yoongi berhenti saat Jimin tiba-tiba berteriak senang.
"Ah, pasti itu ketika aku memanggilmu dengan bahagia di bioskop, kan?" Jimin ingat hari itu juga.
"Aku juga sempat berpikir itu bukan kau karena kau bahkan tidak bereaksi ketika aku menunjukkanmu payung itu." Kata Jimin.
"Tapi, aku bertemu dengan seorang gadis yang marah dan bertanya di mana aku menemukan paying itu. Aku bingung jadi aku mengatakan padanya tentangmu dan dia menangis. Itu adalah pemberiannya untukmu. Dia sangat sedih, dia bilang bahwa dia akan melupakanmu dan aku bisa memiliki payungnya." Jimin terus bicara sambil menyandarkan kepalanya di atas meja.
"Aku tahu bahwa kau sangat populer sehingga aku sudah sampai pada satu kesimpulan bahwa orang itu benar-benar kau." Jimin tersenyum lebar. Yoongi mendesah. Itu yang cerita panjang. Dia bukan bukan orang yang menceritakannya tapi dia merasa lelah setelah mendengarkannya.
"Aku memiliki satu hal untuk membuktikannya tapi... itu adalah senyummu dan kau jarang tersenyum seperti waktu itu..." Jimin tidak berani melihat Yoongi.
"Hal kedua yang aku ingin tanyakan adalah mengapa kau begitu terobsesi denganku tapi, nevermind. Kau sudah menjawabnya." Yoongi baru saja akan bangun dan pergi saat Jimin berbicara lagi.
"Yoongi oppa... hal yang ketiga?" Tanya Jimin.
"Ah, benar juga." Yoongi berpaling padanya dan mendekat.
"Jimin, dengarkan aku. Aku benar-benar menghargai cintamu untukku. Aku bahkan tidak pernah berpikir bahwa seseorang akan suka padaku. Tapi kau tahu... orang memiliki batas mereka sendiri akan cinta. Apa pun yang dilakukan berlebihan akan buruk, bahkan bekerja terlalu keras akan buruk dan cintamu juga begitu." Yoongi membungkuk, mendekat. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Jimin.
"Aku mengatakan ini dengan lembut karena kau adalah penggemar khusus sekarang setelah aku mendengar ceritamu." Lanjut Yoongi.
Jimin terkejut.
"Spe-special fan?" Kata Jimin. Jantungnya berdebar begitu cepat sekarang, dia bahkan bisa mendengar suaranya.
"Hahaha, ya." Yoongi menyeringai malas. Jimin menutup wajahnya dengan tangannya lagi.
"Sshh... Jangan menangis." Yoongi membelai pelipis Jimin dengan tangan kanannya. Jimin bisa merasakan Yoongi menyelipkan tangannya yang lain di bawah rambutnya untuk menahan lehernya.
Jimin tiba-tiba merasa takut. "Hahaha, aku tidak menangis! Sekarang aku harus benar-benar pergi. Sudah hampir tengah malam." Jimin tertawa datar.
"Sshhh... Kau merusak suasananya. Aku sedang mencoba menjadi romantis." Kata Yoongi matanya menggelap dan Jimin menahan napasnya, wajah Yoongi terlalu dekat.
"Mengapa kau harus menjadi romantis..?" Tanya Jimin.
"Oh lihat! Lipstikmu berantakan." Kata Yoongi lagi tanpa menjawab pertanyaan Jimin.
Jimin hendak protes tentang hal itu. Bagaimana bisa lipstiknya berantakan? Dia menggunakan lipstik cair yang benar-benar mahal dari merek high-end yang menjanjikannya; tidak akan luntur. Tapi, dia tidak bisa karena Yoongi membawa bibirnya ke bibir Jimin sekali lagi tapi kali ini dengan lembut. Jimin meratap ketika Yoongi menatapnya sekilas untuk menggerakkan bibirnya. Mereka berciuman selama satu menit. Yoongi mengulum bibir Jimin lembut sampai Jimin mengerang.
Jimin membuka matanya dan melihat Yoongi tertawa bahagia, kali ini tidak sarkastis sama sekali. Kali ini dia benar-benar tertawa.
"Nah, itu dia ciuman pertama romantismu. Hanya ingat yang satu ini dan lupakan yang lain." Lalu Yoongi pergi.
.
Setelah beberapa menit terdiam karena terlalu kaget, Jimin berlari ke ruang tamu untuk memeluk Jungkook.
"Kau tidak akan pernah percaya apa yang baru saja terjadi padaku!" Kata Jimin sangat antusias. Jungkook hanya terdiam dengan sebuah senyuman bahagia. Seharusnya dari dulu dia bawa Jimin ke sini.
"Park Jimin." Tiba-tiba Yoongi memanggilnya. Jimin menoleh dan melihat Yoongi memegang ponselnya. Jimin cepat berlari untuk mendapatkannya kembali.
"Bagaimana-"
"Aku menemukannya di tempat tidurku." Kata Yoongi.
"Ah terima kasih." Jimin tertawa.
"Berhenti menjatuhkan milikmu." Yoongi menyerahkan ponselnya.
Jimin berlari untuk memeluk Jungkook lagi dan Taehyung mengedipkan matanya pada Yoongi.
Yoongi kembali ke kamarnya, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, bertanya-tanya mengapa dia selalu bertemu Jimin.
.
a/n:
Hello. Tiba-tiba aku mutusin buat update ini. Yuhuuuu.
Makasih buat semua yang udah review. Seperti biasa, aku bales di pm ya.
Sorry for typo. Muach~
