The Story Of My Life
~Part 3~
"Ah, sebenarnya Kado itu.."
Karui menggantung kata-katanya kemungkinan besar ia lupa dimana letak kado yang dicari-cari oleh Sarada. Namanya juga ibu-ibu, sudah mulai lupa dan hanya diingatnya hanya gosip-gosip. :D *ditimpuksendalibu-ibu. Sarada hanya memutar bola matanya karena sudah sangat kesal tak menemukan kado itu. Ditambah lagi keluarga Akimichi seperti memperlambatnya untuk mendapat kado dari kekasihnya itu.
"Huft.. Ayolah, Karui Obaa-chan. Kau tau atau tidak?"
.
.
.
"Ah, sepertinya aku tak ingat dimana kado itu sekarang"
.
.
.
'Jeh, kenapa semua orang ini seperti menyulitkanku saja' pikirnya sambil pergi berbalik menuju rumah klan Uchiha.
"Hey! Sarada! Disini kau rupanya, ini barangmu ketinggalan. Kucari dirumahmu, kau malah tidak ada" seru Inojin dari belakang dengan tangan menyodorkan sebuah bingkisan kepada Sarada.
"Ah! Ini dia yang kucari-cari. Arigato, ne" sahut Sarada dengan girang, lalu buru-buru dibukanya bingkisan itu.
Jika dilihat sekilas, mirip seperti buku. Di halaman depannya Bolt sengaja menulis sebuah judul untuk buku itu dengan judul 'Kenangan dengan gadis Uchiha berkacamata'. Kedengarannya seperti menyindir gadis Uchiha yang Bolt maksud, tapi setidaknya Sarada tau bahwa gadis yang Bolt maksud adalah dia. Bukan gadis-gadis dari desa lain yang sangat tergila-gila dengan kekasihnya itu. Dan keluarga Akimichi sepertinya sangat penasaran dengan isi dari bingkisan yang diberikan oleh Inojin kepada Sarada, sehingga mereka mulai mendekati Sarada yang telah membuka bingkisan tersebut.
"Hey, kenapa judulnya seperti merendahkanmu, Uchiha!"
'Hey! Gendut! Kata-katamu itu yang merendahkanku, dasar Akimichi!' sahut Sarada dalam hatinya.
"Coba lihat apa isi buku itu, Sarada-chan" anjur Chouji sambil menggasak isi bungkusan snack ditangannya.
"Sepertinya itu bukan buku, melainkan album foto deh, ayah" gerutu Chouchou.
"Iya, sayang. Putrimu benar, itu album foto" tambah Karui makin mendesak Sarada dari segala penjuru.
'Kenapa mereka yang sibuk sih? Ah! Yang benar saja' kata Sarada dengan raut wajah kesal.
.
.
.
Tapi tampaknya Sarada tak begitu memperdulikan kata-kata mereka. Ia langsung membuka halaman pertama album foto itu, dan… tampaklah foto Sarada, Bolt, Mitsuki dan Konohamaru sebagai sensei mereka saat pertama kali mendapatkan latihan pertama mereka. Tak ada hal yang istimewa memang, jadi Sarada membalikkan halaman pertama ke halaman ke dua. Disinilah yang membuat Sarada tercengang dan tak menyangka semua halaman album foto ini penuh dengan segala eksperinya yang tak pernah terpintas difikirannya bahwa Bolt memotret dirinya. Saat Sarada marah, tertawa, tersenyum, sedih, jengkel, kesal, menangis bahkan saat ia sedang terlelap dengan pulasnya.
"Wah, menyeramkan sekali kau jika sedang marah, Sarada!" seru Karui sambil menunjukan salah satu potret Sarada yang sedang marah dan membuyarkan khayalan Sarada mengingat masa-masa yang lalu.
"Iya benar! Menyeramkan seperti Sakura" tambah Chouji.
"Berisik!"
Mengganggu suasana saja sih, keluarga Akimichi ini. Kita lanjutin lagi ceritanya. Sarada pun membuka halaman-halaman berikut yang penuh dengan foto Sarada dan Bolt saat mereka sedang kencan pertama kali, di Festival Budaya Konohagakure, di Ulangtahun Bolt dan Sarada tahun lalu dan semua kenangan yang pernah mereka lalui bersama. Padahal saat Sarada meminta foto-foto itu pada Bolt, kekasihnya malah mengatakan bahwa semua foto kenangan itu sudah hilang dan terhapus. Ternyata semua foto itu sengaja ia persiapkan untuk ulangtahun Sarada ke 17.
"Hei, tunggu sebentar! Di halaman belakang ada tulisan!" seru Inojin sambil menahan halaman terakhir yang ingin ditutup oleh halaman belakang album yang ingin ditutup oleh Sarada.
.
.
.
Mendengar perkataan Inojin, Sarada pun mengurungkan niatnya untuk menutup album kenangannya tersebut. Dan mulai memperhatikan tulisan yang dimaksud oleh sahabatnya tersebut.
'Hei, Uchiha! Hahaha, apa kau tersinggung? Aku minta maaf. Dan maaf itu juga berlaku untuk aku yang sengaja berbohong padamu tentang foto-foto yang ada dialbum ini. Saat kau minta, aku malah menjawab "Ah, foto-foto itu sudah hilang dan terhapus". Sebenarnya aku masih menyimpannya baik-baik dan ingin memberikannya sebagai persiapan untuk album pernikahan kita besok.
Haha, aku mulai ngawur ya? Padahal kita masih berumur 17 tahun malah memikirkan pernikahan. Yang benar saja?! Tapi, aku bersungguh-sungguh tentang hal itu. Aku benar-benar mencintaimu, dan setiap kali kau menangis didepan mataku. Ingin sekali aku memelukmu dan tak akan melepaskanmu lagi. Tak ingin lepas darimu, meskipun aku selalu mendapat misi yang selalu membuatmu cemburu.
Meskipun jika kau cemburu itu kadang merepotkan. Tapi, Hey! Aku suka melihatmu sedang memarahiku karena dekat dengan gadis selain dirimu. Apalagi saat kau sedang tersipu, wajahmu yang merona itu membuatku ingin sekali memakanmu saat itu juga.'
Setelah membaca tulisan Bolt yang begitu sangat jelek itu, gadis beriris hitam menutup album kenangan tersebut. Masalah tulisan kekasih yang cukup jelek itu, Sarada cukup tau. Karena kekasihnya itu sangat malas sekali jika disuruh mencatat, jadi ia jarang sekali melatih tangannya untuk menulis tulisan yang bagus.
"Hey, aku belum selesai membaca!" ucap kedua sahabatnya dengan serempak.
"Berisik!"
Sarada pun pergi meninggalkan keluarga Akimichi dan Inojin yang masih terperanga melihat Sarada tiba-tiba pergi begitu saja. Yaa, itu karena sangat kesal dengan mereka, dan akan bertambah kesal lagi jika mereka membaca habis tulisan yang ada dalam album foto itu.
'Ck!' gumam gadis berkacamata itu berdecak. 'Sial! Kenapa hal-hal seperti ini mereka yang harus membacanya! Ah, kau bodoh sekali, Sarada!'
Sarada menghentikan langkahnya didepan pintu gerbang Konoha yang disana Konohamaru berada dan sedang bertugas menjaga gerbang pada malam ini. Dengan tangannya memegang erat hadiah ulangtahunnya, Sarada berjalan menghampiri orang yang pernah menjadi guru pembimbingnya saat sekolah dulu.
"Hoy! Sarada, Konbanwa! Ada apa?" sapa gurunya tersebut.
"Konbanwa, sensei. Aku hanya ingin menunggu seseorang disini" sahut Sarada.
"Hm, baiklah. Aku tinggal sebentar, mau patroli sekalian membeli makan malam! Ehehe" kata Konohamaru sambil meninggalkan Sarada di depan gerbang besar Konoha.
Akhirnya Sarada memutuskan untuk menunggu kekasihnya yang hilang saat misi itu didepan gerbang besar Konohagakure. Hari semakin gelap, udara semakin dingin, suasana kota sudah semakin sepi, warga Konoha sudah banyak terlelap dalam tidurnya. Namun, tak sedikitpun sosok orang yang dicintainya tampak dimata gadis yang mulai terlihat pucat dan kedinginan serta tetap setia memeluk album foto pemberian kekasihnya tersebut.
Sudah cukup sering, Konohamaru menyuruhnya kembali ke rumah. Tapi, Sarada menghiraukan ucapan lelaki itu. Ia tetap saja menatapi ujung jalan yang jauh disana, berharap Bolt datang dan menghampirinyas serta mengantarnya ke rumah.
"Bolt, Bolt, Bolt, cepatlah pulang! Aku benar-benar sangat merindukanmu" gumam Sarada dan tanpa sadar mulai menetaskan air matanya.
Mendengar gumaman anak didiknya tersebut, Konohamaru mulai merasa iba dan tak tega melihat keadaan Sarada yang mulai tampak memucat serta menggigil kedinginan.
"Pakailah ini, agar kau tak kedinginan lagi" ucap Konohamaru sambil mengambil sebuah selimut miliknya yang terletak di pos jaganya dan membalutkan tubuh mungil Sarada dengan selimut bermotif lambang Konohagakure itu.
"Hn. Arigato-ne, Konohamaru-sensei" sahut Sarada dengan senyum tak berarti.
"Sama-sama" kata Konohamaru berjalan kembali ke pos jaganya.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam demi jam Sarada menunggu kedatangan orang yang ia cintai. Namun, tak kunjung tiba. Sering sekali Sarada tertidur, lalu terbangun kembali saat beberapa ninja lain kembali dari misi mereka masing-masing. Sarada mengira mereka adalah Bolt, namun sekali lagi Sarada harus menelan kekecewanya mengetahui bahwa itu bukanlah lelaki berambut pirang miliknya.
Dan berkali-kali pula Konohamaru memperhatikan raut wajah gadis Uchiha itu menelan kekecewaannya sendiri di depan gerbang Negara api itu. Ingin rasanya Konohamaru menghiburnya, namun sekali mencoba tak mempan sedikitpun.
Konohamaru mengerti dan tau, apa yang ditunggu dan yang terjadi pada gadis yang ia pandangi setiap kali menatap keluar pos jaganya. Memang sejak dibawah bimbingannya, Bolt dan Sarada sudah memperlihatkan tanda-tanda hubungan mereka. Namun baru 2 tahun mereka menjalani hubungan itu, yang tak habis fikir oleh Konohamaru adalah cukup tragis jika Bolt tak jua di temukan.
"Ah, disini kau rupanya"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat ke pipi gadis yang berselimut didalam selimut milik gurunya dulu. Sarada dan Konohamaru terkejut saat melihat Sakura menampar Sarada dengan tiba-tiba.
"Itai…!" rintih Sarada sambil memegangi pipinya sebelah kiri tepat dimana Sakura menamparnya.
Dengan air mata yang berlinang disertai wajah yang cukup mengkhawatirkan putrinya tersebut. Sakura berusaha menundukkan badannya sehingga ia cukup jelas melihat raut wajah gadis kecilnya itu. Dan wanita paruh baya dengan rambut merah mudanya itu menghela nafasnya lalu memeluk Sarada.
"Hmm, maafkan ibu. Tapi ibu sangat mengkhawatirkanmu, sudah berkeliling ibu mencarimu. Namun ibu tak dapat menemui, ibu takut kau kenapa-kenapa, sayang" ucap lembut Sakura menghapus bekas air mata Sarada yang masih tampak dipipinya. "Ayo, pulang bersama ibu. Istirahatkan tubuhmu, besok kau boleh menunggunya disini lagi"
Sarada hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki ibunya yang berjalan tepat didepannya. Sarada merasa bersalah, ia bahkan tak mengingat bagaimana ibunya akan mengkhawatirkannya selama ia menunggu kekasihnya yang kini tak ada satupun yang tau keberadaannya.
Sret!
'Suara apa itu?' gumam Sarada menoleh kebelakang. 'Tak ada apa-apa' gumamnya lagi dan melanjutkan perjalanannya menuju kediaman klan Uchiha.
Tada.. Jreng! Jreng! Jreeng~
Ini The Story of My Life Part 3 sedikit lagi mendekat Ending..
Aduh, gregetan kalau sudah bicara ending..
Mohon reviewnya yaa, pengen cepat-cepat selesaikan sih..
Selagi liburan bulan Ramadhan nih XD Habis suntuk dirumah kalau gak ada kerjaan
Sampai jumpa di part 4 yaa ;)
