Yay! bisa update juga. *tiup terompet*

oh ya, kazu mau bilang met hari raya Idul Fitri bwat yg merayakan ya.

trus makasih juga bwat semua yang uda baca n review crita kazu yang *lagi2* tidak original -dkasih death glare am Asuma Risai sensei- =,=)

thanx bwat semuanya yg uda review :

Chi, Yuusaki Kuchiki, moeyuki flint, Felix Hyuuga, Dark Dobe, YuYa AkaTsuki eL-Gaara (makasiihh.. uda diupdatee nii :D)

Micon (yehh, kazu bhasil mengaduk-aduk prasaan mic-san -ditabok- chap kali ini Neji keknya lebih kejam de, hehe. slamat mnikmati d -dikaiten Neji-)

Warning : ada sedikit kata-kata kasar di akhir cerita. maaf! haruskah ini dijadikan M? *mnrut kazu si ga, kalo yg lain? kl ad yg mrasa ini trlalu kasar untuk rating T, bilang yaa*

Disclaimer :

naruto punya Masashi Kishimoto

Manga Royal Fiance punya Asuma Risai

tulisan mix ini punya kazu :D

enjooyy~


Chapter 2.2

.

Gaara's POV

"Disini kamarmu. Mulai sekarang kau akan tinggal disini sampai hari keberangkatan kita ke Konoha" Sekarang aku berada di sebuah kamar yang sangat besar dan tampak mewah, berdua bersama Neji. Semua terjadi begitu cepat dan sekarang aku harus tinggal disini untuk seterusnya. Apakah itu berarti aku tidak boleh keluar dari rumah ini? Walau hanya untuk sekedar mengunjungi pamanku?

"A-apakah sebelum ke Konoha aku boleh mengunjungi keluargaku lagi? Kumohon, paling tidak aku ingin mengucapkan perpisahan pada mereka. Aku tidak ingin mereka khawatir"

"Keluargamu? Apakah kau tidak sadar? Kau sekarang milik keluarga kerajaan. Kerabatmu di luar rumah ini sudah tidak ada lagi." Neji menjawab dengan dingin tanpa sedikit memandangku. Sebegitu hinanyakah aku baginya?

"Ta-tapi…"

"Sudah cukup! Kau yang telah menjual dirimu kan! Tidak usah berlagak baik hati mengucapkan perpisahan segala pada keluargamu! Kurasa mereka pun tidak sudi punya anggota keluarga sepertimu yang rela melakukan semua hal hanya demi uang." Kali ini Neji mendorongku keras hingga punggungku membentur tembok.

"Uh.. sakit." Kini aku terjebak antara Neji dan tembok dibelakangku. Tatapannya sangat tajam, seolah ingin membunuhkku saat itu juga. Entah kenapa bukan hanya punggungku yang sakit, dadaku terasa sesak sekali, tanpa terasa air mataku mengalir.

"Hentikan itu! Aku tidak butuh airmata buayamu! Ingat baik-baik. Kau menjadi tunanganku hanya atas perintah kakekku. Jangan bertingkah seolah kau korbannya. Kau yang menginginkan semua ini kan? Kau mendapat uang, sementara aku mendapat tunangan. Kita impas! Jadi jalanilah tugasmu sebagai tunanganku yang baik dan jangan melawan!" Neji lalu mendorongku keras hingga aku jatuh terduduk, sementara ia langsung keluar tanpa sedikitpun menoleh padaku.

Tatapan matanya tadi benar-benar seperti ingin menghancurkanku, sangat berbeda ketika kami bertemu di atap. Mata violet yang indah dan menenangkan itu sekarang berubah jadi sangat dingin. Apakah benar dia Neji yang sama dengan waktu itu? Kenapa dia bisa berubah sedrastis itu? Apakah karena aku? Karena membenciku?

"Hiks.. hiks.. apa yang harus kulakukan sekarang?" aku hanya bisa terduduk, memeluk kedua lututku dan menangis.

.

Neji's POV

Sial! Sial sial! Tidak kusangka pemuda rambut merah itulah yang akan menjadi tunanganku. Kenapa? Kenapa harus dia?

Dia mengatakan bahwa pasangan untukku pasti orang yang baik. Apakah ketika mengatakan itu dia sudah tahu bahwa dirinyalah yang akan menjadi tunanganku? Apa dia bermaksud memuji dirinya sendiri?

Tapi kenapa dia bersikap seolah-olah dia tidak tahu apa-apa? Bukankah dia yang mau dibayar untuk menjadi tunanganku? Bukankah dia adalah tipe orang yang sama seperti wanita itu? Orang yang rela melakukan apapun demi uang? Yang bahkan rela menjual dirinya sendiri?

Tapi, tapi kenapa aku merasa bersalah telah bersikap kasar padanya? Bukankah dia pantas menerima semua itu? Ya, dia pantas menerimanya. Sikap lugunya ketika di atap itu, pasti hanya sandiwaranya saja. Haha… bodoh sekali kau Neji, bisa-bisanya kau ditipu oleh orang seperti itu. Yah, aku memang bodoh. Bisa-bisanya aku jatuh hati pada seorang penipu sepertinya. Bodoh sekali!

"Permisi Yang Mulia Neji. Anda memanggil saya?" Iruka, akhirnya dia datang juga. Kurasa aku harus minta maaf atas sikapku di meja makan tadi. Aku memang sudah keterlaluan padanya dan Kakashi. Ini semua karena si rambut merah itu.

"Iruka, maaf atas kata-kataku tadi, aku sudah keterlaluan padamu dan Kakashi."

"Jangan begitu Yang Mulia. Saya tidak pantas menerima permintaan maaf anda. Lagipula hubungan kami memang tidak seharusnya terjadi." Malang sekali nasib kami. Terpenjara di tempat ini. Aku, kakashi, dan Iruka. Sampai kapan kami harus menahan perasaan kami dan menuruti semua perintah orang-orang itu?

"Sudahlah Iruka, memang aku yang salah. Jangan dibahas lagi. Ini semua karena si rambut merah itu. Aku benar-benar tidak sudi harus bertunangan dengan orang matrealistis sepertinya."

"Yang Mulia, aku memang tidak pantas mengucapkan hal ini. Tapi kurasa Tuan Gaara bukan seperti yang anda pikirkan. Sejak pertama bertemu dengannya kurasa dia sendiri juga tidak tahu-menahu mengenai pertunangan ini. Kurasa akan lebih baik jika anda memastikannya dahulu sebelum mulai bersikap kasar padanya."

Apa? Jadi sekarang Iruka juga tertipu oleh sikapnya? Hebat sekali kau Gaara, keluguanmu sepertinya berhasil menipu banyak orang.

"Kurasa kau juga sudah tertipu Iruka. Sudahlah, pergilah, ada hal yang ingin kupastikan." Jika memang benar seperti yang Iruka katakan, kurasa tidak ada salahnya aku mendengarkan penjelasan Gaara.

.

Gaara's POV

"Tok tok tok…"

"Gaara? Kau didalam? Boleh aku masuk?"

Kakashi-san? Ah, gawat. Aku tidak boleh terlihat menangis seperti ini di depannya. Dia begitu baik padaku, aku tidak boleh membuatnya khawatir. Aku lalu mengusap airmataku, memastikan bahwa aku terlihat baik-baik saja.

"Um.. i-iya, silahkan masuk Kakashi-san" dari pintu yang terbuka masuklah Kakashi-san. Ia membawa dua gelas minuman.

"Gaara? Aku bawakan susu hangat untukmu. Minumlah. Kudengar di Suna orang sering minum susu hangat sebelum tidur."

"Te-terima kasih Kakashi-san." Aku meraih gelas yang dia berikan padaku dan menyeruput susu itu. Hangat sekali, persis seperti susu buatan paman Yashamaru.

"Gaara? Kau menangis?" Kakashi-san maju, tangannya mengusap bagian bawah mataku yang sembab. Ah, gawat! Aku ketahuan menangis.

"Eh? Ti-tidak! Ha-hanya mengantuk saja." Aku pun mundur dan berusaha menjauhi pandangan mata Kakashi-san

"Hmm… sudahlah Gaara, tidak perlu kau sembunyikan dariku. Karena Neji ya? Pasti berat harus bertunangan dengan orang sepertinya. Apakah dia kasar padamu?" Kakashi-san lalu meletakan gelasnya di meja dan duduk di sofa, tepat di depanku.

"Bu-bukan karena itu kok. aku benar-benar tidak apa-apa kok Kakashi-san"

"Tidak apa-apa Gaara. Kau bisa menceritakan semuanya padaku. Kemari, duduklah." Kakashi-san tersenyum dan menyuruhku duduk. Entah kenapa aku merasa Kakashi-san mirip paman Yashamaru. Aku merasa bisa menceritakan semua masalahku padanya.

"Terima kasih Kakashi-san"

"Jadi? Ada apa sebenarnya Gaara? Jujur saja sejak awal aku merasa bingung dengan sikapmu. Kau seolah-olah sama sekali tidak tahu menahu soal perihal dirimu menjadi tunangan Neji, dan kau tidak nampak seperti orang yang mau melakukan apa saja demi uang. Ceritakanlah padaku Gaara, apa alasan dan tujuanmu?"

"Sebenarnya aku memang tidak tahu mengenai hal pertunangan itu Kakashi-san. Jujur saja aku juga terkejut. Ketika bertemu Kakek itu, ah.. maksudku Yang Mulia Sarutobi, aku memang sedang butuh uang untuk biaya pengobatan pamanku. Yang Mulia lalu menawarkan pekerjaan menjadi pembantu sekaligus penjaga rumahnya. Karena gaji yang ditawarkan besar aku lalu menerimanya. Aku sama sekali tidak tahu akan berakhir seperti ini. Se-sekarang Neji pun membenciku karena hal ini. Padahal aku sama sekali tidak ingin dia membenciku. A-aku.. " tanpa sadar aku menangis lagi. Betapa lemahnya aku, sekarang aku pasti membuat Kakashi-san lebih khawatir lagi.

"Shh.. sudahlah Gaara. Jangan menangis lagi." Dia lalu memeluku dan mengusap kepalaku. Nyaman sekali.

"Tidak apa-apa Gaara. Kau tidak perlu khawatir. Aku rasa suatu saat nanti Neji pasti akan sadar bahwa sikapnya padamu itu salah. Aku percaya kau orang yang hebat, Ayah sudah memilihmu, pasti dia tidak akan pernah salah."

"Ta-tapi… bagaimana jika Neji malah lebih membenciku? Baginya aku hanyalah manusia rendahan yang rela melakukan semuanya demi uang. Ba-bagaimana jika- "

"Hei, hei.. tenanglah Gaara. Neji bukan orang seperti itu. Meskipun dia terlihat dingin, dalam hatinya dia pasti menyesal telah menyakitimu. Dia pasti masih bingung karena tiba-tiba harus menikah dengan orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Dengar, dia bersikap seperti itu juga karena masa lalunya."

"Masa lalunya?" Masa lalu Neji? Apa yang terjadi padanya dulu? Kakashi-san lalu melepaskan pelukannya dariku dan kembali duduk seperti semula. Matanya menerawang dan dia pun mulai bercerita.

"Dulu ibu Neji pun berasal dari rakyat biasa. Ibunya juga sama sepertimu, dibayar untuk menjadi tunangan Kak Hizashi. Tapi dia berbeda. Jika kau melakukan semuanya tanpa tahu apa-apa dan tujuanmu adalah untuk menolong pamanmu, wanita itu berbeda. Dia mau menjadi tunangan Kak Hizashi murni karena uang. Dia adalah tipe wanita yang melakukan semuanya demi uang. Yang dilakukannya setiap hari hanyalah berfoya-foya dan berselingkuh dengan pria lain. Ketika Kak Hizashi meninggal, dia lalu kabur membawa banyak sekali harta kerajaan dan menghilang bersama pacarnya yang lebih muda, meninggalkan Neji yang saat itu masih kecil sendirian."

Jadi begitu. Aku mengerti sekarang mengapa ia sangat benci padaku.

"Jadi begitulah Gaara. Kuharap kau tidak membencinya karena perlakuannya padamu. Aku harap kehadiranmu disini bisa mencairkan kembali hatinya yang dingin itu."

"I-iya Kakashi-san. Aku juga, walaupun aku tahu dia bersikap kasar padaku, entah kenapa aku tidak bisa membencinya. Haha… aku memang aneh ya?"

Aku hanya bisa tersenyum kecut. Tapi itu semua memang benar. Setelah semua perlakuan dan kata-kata kasarnya padaku, aku tetap tidak bisa membencinya. Sejak pertemuan kamu di atap tadi, aku merasakan perasaan aneh di dadaku. Melihat Neji, aku merasa sangat tenang, tapi ketika dia bersikap dingin padaku, dadaku terasa sangat sakit, seperti ditusuk ribuan jarum. Perasaan apa ini?

"Tidak Gaara. Kau tidak aneh. Itu menandakan kau menyanyanginya. Katakan Gaara, apakah kau mencintai Neji? Apakah kau tertarik padanya?"

Eh? Ucapakan Kakashi-san mengagetkanku. Aku? Pada Neji? Cinta? Apa benar? Aku memang tertarik padanya sejak pertama kali aku melihatnya di sekolah. Tapi apa benar ini perasaan cinta?

"A-aku tidak tahu Kakashi-san. Aku memang tertarik padanya. Aku bahagia bila melihatnya tersenyum. Aku ingin selalu membuatnya senang, dan ketika dia kasar padaku, hatiku terasa sakit, tapi aku tetap tidak bisa membencinya. Apakah ini cinta Kakashi-san? Apa benar?"

"Gaara… Aku rasa kau memang menyayangi Neji, tapi aku tidak bisa memutuskan perasaanmu yang sebenarnya pada Neji. Kaulah yang harus memastikannya sendiri." Kakashi-san tersenyum dan mengusap kepalaku. Dia baik sekali. Persis sekali dengan paman Yashamaru.

"Um, maaf Kakashi-san. Boleh aku bertanya?" dia hanya mengangguk

"Apakah Kakashi-san punya orang yang dicintai?" Kakashi-san hanya terdiam, sekilas wajahnya terlihat sedih. Dia lalu tersenyum kearahku.

"Kau tahu Iruka kan? Kami adalah sepasang kekasih."

"U-umino-san? Kakashi-san dan Umino-san?" Tidak kusangka, jadi ini alasan kejadian di meja makan tadi. Tapi kenapa? Apa hubungan mereka tidak diseutujui?

"Yah. Tapi kau tahu sendiri bagaimana keluarga kerajaan. Mereka tidak pernah setuju mengenai hubungan kami." Kakashi-san nampak menunduk sedih

"Kakashi-san." aku mengusap tangannya. Ingin sekali aku menghibur Kakashi-san, tapi bagaimana caranya? Dia lalu menoleh kearahku dan tersenyum.

"Terima kasih Gaara. Maaf sudah menggganggumu dengan ceritaku."

"Ah? Tidak sama sekali kok! Justru aku yang harus berterima kasih. Kakashi-san sudah menghiburku. Disini, hanya Kakashi-san dan Umino-sanlah yang bersikap baik padaku. Kalian sudah seperti keluargaku sendiri. Jika ada yang bisa kubantu, aku pasti akan membantu kok."

"Haha.. kau anak yang baik Gaara. Kau bersedia mendengar ceritaku saja aku sudah sangat senang. Yah sudahlah, sudah malam. Kau tidurlah, besok kau harus banyak belajar mengenai kerajaan. Istirahatlah sekarang. Selamat malam"

"Selamat malam Kakashi-san, dan terima kasih" Aku memeluk Kakashi-san dan mengucapkan terima kasih padanya, Ia hanya tersenyum dan membalas pelukanku. Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka dan munculah Neji. Ekspresi wajahnya nampak terkejut dan tidak senang.

Uh oh, gawat. Tentu saja dia tidak senang, dia melihatku berpelukan dengan pamannya. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin kesalahpahaman kami semakin berlarut-larut.

"Apa yang kau lakukan malam-malam begini di kamar tunanganku paman?" Nada suaranya terdengar begitu dingin dan mengancam. Kakashi-san lalu melepaskan pelukannya dariku.

"Oh Neji, aku hanya mengantarkan susu untuk Gaara, yah sekaligus menghiburnya. Kudengar tunangannya bersikap tidak semestinya. Benar begitu Neji?"

"Bukan urusanmu. Paman semestinya tahu kan kalau ini paman tidak seharusnya berada disini."

"Baiklah-baiklah. Aku pergi, tapi ingatlah Neji, jika kau melukai Gaara lebih dari ini kau pasti akan menyesal." Dengan itu Kakashi-san pergi dan meninggalkan aku seorang diri dengan Neji.

.

Suasananya benar-benar canggung. Kami sama-sama terdiam. Neji masih tidak memandangku. Ia lalu menutup pintu dan berjalan kearahku.

"Setelah berhasil mendapat uang dariku, sekarang kau ingin merayu pamanku juga? Kau benar-benar membuatku muak." Ia lalu mendorongku keras hingga aku terjatuh ke tempat tidur. Tatapan matanya sangat menyeramkan, bagaikan hewan buas yang hendak menerkam mangsanya. Aku benar-benar takut. Sekujur tubuhku gemetar, tapi aku harus bisa melawan, aku tidak ingin kesalahpahaman ini terus berlanjut. Aku berusaha bangkit.

"A-apa? Ini tidak seperti yang kau pikir—" belum selesai aku berbicara dia tiba-tiba mendorongku kembali ke tempat tidur. Tangan kanannya mencengkram kedua pergelangan tanganku dan memposisikannya di atas kepalaku, sementara tubuhnya menindih dan menahan tubuhku. Aku tidak bisa bergerak. Cengkramannya sangat kuat. Aku benar-benar terjepit dan tak bisa melawan, dia terlalu kuat. Apa yang harus kulakukan?

"Tutup mulutmu! Tidak kusangka kau licik seperti ini. Apa kau senang? Apa kau senang kau berhasil membohongiku hah? Apa kau puas sekarang?"

"A-apa maksudmu?"

"Apa maksudku? Tidak perlu berpura-pura. Tadi siang, ketika kau bertemu denganku di atap. Kau sengaja kan? Kau sengaja berpura-pura tidak tahu bahwa kau adalah tunanganku. Berpura-pura bersimpati kepadaku, hingga aku menunjukan kelemahanku padamu. Sekarang apa kau puas? Puas berhasil membohongiku?"

"A-apa maksudmu! Dengarkan dulu penjelasanku sebelum kau memutuskan seenaknya. A-aku, aku sama sekali tidak membohongimu. A-aku sama.. sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai perjodohan ini. A-aku.. hiks.. hiks.." sial sial… aku menangis lagi. Kuatlah Gaara! Kau pasti bisa menahannya, tunjukan pada pangeran sombong ini bahwa semua kata-katanya salah!

"Hentikan! Jangan pikir kau bisa membohongiku dengan air matamu. Haha.. bodoh sekali aku mempercayai kata-katamu tadi siang. Bodoh sekali aku, masih berharap bahwa kau benar-benar tidak tahu menahu mengenai perjodohan ini. Dan betapa bodohnya aku, sempat berpikir kau mau menjadi tunanganku karena benar-benar mencintaiku." Kali ini Neji melepaskanku. Dia duduk di tepi tempat tidur sambil menutup wajahnya dengan tangannya. Dia benar-benar kelihatan terluka. Benar-benar nampak seperti anak kecil yang butuh perlindungan. Ingin sekali aku memeluknya dan menjaganya. Mengucapkan kata-kata yang bisa menenangkannya. Tapi bagaimana bisa? Dia sudah terlanjur membenciku.

"Apa kau tahu, ketika aku sadar bahwa kau adalah tunanganku, aku sangat senang. Kurasa aku bisa mempercayaimu, bisa akrab denganmu... bisa mencintaimu... tapi apa? Kau mengecewakanku, kau melakukan semuanya hanya demi uang. Bukankah kau yang mengatakan bahwa mereka akan memilihkan orang yang tepat untukku, tapi kenapa? kenapa harus kau? dan kenapa aku harus jatuh cinta padamu?"

Dia mencintaiku? Neji mencintaiku? benarkah? secercah harapan muncul di hatiku. Kurasa kami bisa meluruskan semua hal. Aku harus menjelaskan semua hal yang telah terjadi padanya.

"Ne-neji, a-aku… Dengarkan dulu penjelasanku."

"Cukup. Sudah cukup! Aku tidak ingin mendengarkan apa-apa lagi darimu. Aku berharap bisa mempercayaimu. Aku senang mendengar kata-katamu tadi siang ketika di atap. Aku bahkan merasa bahwa aku mencintaimu! Aku juga menyesal telah memperlakukanmu dengan buruk, karena itu aku kemari, aku kemari untuk meluruskan semua hal. Tapi melihat kejadian barusan, kurasa tidak ada yang perlu dijelaskan, aku sudah mengerti semuanya. Bisa-bisanya kau merayu pamanku. Berapa banyak uang yang kau dapat darinya hah? Dasar pe**cur!"

"Plak!" tanpa sadar tanganku bergerak. Aku menamparnya. Air mataku mengalir deras. Tidak kusangka dia berpikir tentangku seperti itu? Seorang pe**cur katanya? Jadi baginya aku hanya seperti itu? Dia bilang dia mencintaiku dan sekarang dia menyebutku seperti itu? Benar-benar keterlaluan kau Neji.

"Jadi begitu? Begitu yang kau pikirkan tentangku? Sekarang aku benar-benar bingung kenapa Aku bisa mencintai orang sepertimu, kurasa aku memang terlalu bodoh..." Aku hanya bisa menunduk dan menangis. Aku sudah tidak perduli lagi. Aku tidak peduli apa yang akan dilakukannya padaku. Aku memang mencintainya, tapi sudah terlalu banyak hal yang terjadi, aku sudah tidak peduli lagi sekarang. Aku lelah.

"Ga-gaara, a-aku" suaranya terdengar menyesal, ini pertama kalinya dia memanggil namaku. Kurasa tamparanku barusan menyadarkannya betapa dia sudah keterlaluan.

"Sudah cukup Neji. Jika memang bagimu aku hanyalah seperti itu, biarlah demikian. Sekarang kumohon, tinggalkan aku sendiri. Kumohon…"

Neji lalu berjalan pergi meninggalkanku. Sayup-sayup kudengar dia berkata

"Maaf Gaara. Maafkan sikapku padamu."

Tidak mungkin dia berkata seperti itu. Yah itu pasti hanya khayalanku saja. Lagi-lagi aku sendirian. Aku hanya bisa menangis, menangis hingga akhirnya aku terlelap.

.

TBC a.k.a. bersambung...


Aaaa... selese jugaaa

aduhhh... kazu bingung. kazu emang sedikit ngubah jalan ceritanya si, biar beda dari komiknya. maaf kalo ga memuaskan yahh

trus adegan terakhirnya itu tuu... kazu merasa agak kurang berkesan y, Neji kurang kejam? ato Gaara kurang teraniaya? -disabaku soso- haha.. g taw de.

trus setelah kazu baca-baca lagi, kazu smpt mkir mo ngubah genre? abisnya smakin lama knpa smakin bkesan angsty2 gtu ya? hmm.. apa ganti hurt/comfort aj ya? *ada ide?*

untuk update slanjutnya hari sabtu aja yaa.. kazu ud mulai masuk kuliah lagi,jd sbuukk -taboked-

ya sudah, R&R ya.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya buat baca fic ini :D