.

.

.

Love Shake

Jeon Wonwoo l Kim Mingyu l Other Cast

Rated : T

Disclaimer : Cerita hasil imajinasi saya sedangkan castnya milik bersama

.

.

.

.

.

Jihoon dan Soonyoung berjalan beriringan di atas trotoar dengan tangan yang saling bertautan. Hari ini Soonyoung tak membawa mobil. Jihoon bilang ingin naik bus lalu berjalan kaki menuju tempatnya menuntut ilmu. Tentu saja Soonyoung dengan senang hati menurutinya. Itu artinya Jihoon ingin lebih lama berdua dengan Soonyoung. Seorang Kwon Soonyoung paham betul maksud dari setiap permintaan Jihoon.

Langkah Soonyoung dan Jihoon terhenti saat seorang pria paruh baya yang berpakaian serba hitam menghalangi jalan mereka. Dahi Soonyoung mengernyit kemudian menarik tangan Jihoon untuk bergeser ke kiri. Tak sesuai perkiraannya, pria itu ikut bergeser ke kiri. Gantian Jihoon yang menarik tangan Soonyoung kekanan dan pria itu juga ikut bergeser ke kanan. Soonyoung hampir saja melayangkan tinjunya jika saja Jihoon tak menahannya.

"Kita berpencar. Kau ke kanan dan aku ke kiri," bisik Jihoon yang dijawab dengan anggukan oleh Soonyoung.

Soonyoung melepaskan tautan tangan mereka perlahan. Ia menoleh ke arah Jihoon. Keduanya saling bertatapan kemudian mengangguk mantap.

"Sekarang!" seru Jihoon.

Soonyoung dan Jihoon berpencar. Pria itu pun kebingungan. Jihoon yang disebelah kiri memanfaat kesempatan itu untuk kabur lebih dulu. Soonyoung yang di sebelah kanan ikut kabur saat pria itu berniat menangkap Jihoon. Ia lalu menyusul Jihoon yang sudah berlari lumayan jauh.

"Jihoon! Kau berlari terlalu cepat," Soonyoung merangkul pundak Jihoon saat sudah berhasil menyamainya.

"Seharusnya kita naik mobilmu saja," sesal Jihoon.

"Kalau kita naik mobil, kita tak akan pernah merasakan bagaimana rasanya dikejar oleh orang asing, Jihoonie." Soonyoung mencubit hidung Jihoon.

Jihoon cemberut lalu membalasnya dengan memukul lengan Soonyoung. Soonyoung meringis kesakitan dan Jihoon puas sekali.

Suara dehemen seorang perempuan menginterupsi kegiatan mereka. Keduanya yang semula saling berhadapan kini menoleh kedepan. Ada Jeon Hyosung yang sedang berkacak pinggang dan menatap garang pada mereka berdua.

"Annyeonghaseo Hyosung Noona," sapa Jihoon seraya membungkukkan sedikit tubuhnya. Jihoon menarik leher Soonyoung agar ikut membungkuk.

"Tak usah basa-basi lagi. Katakan, kenapa kalian mengerjai Ahjussi tadi?" tanya Hyosung.

"Dia mencurigakan! Dia ingin menculik kami, Noona" jawab Soonyoung.

"Menculik apanya," Hyosung berjalan mendekat kemudian menjewer telinga kanan Soonyoung. "Dia orang suruhanku."

"Akhh Noona akhh maafkan aku," Soonyoung meringis kesakitan.

Hyosung melepaskan telinga Soonyoung. Sang korban mengusap-ngusap telinganya yang memerah.

"Kalian ini mau kuberi uang malah pergi," Hyosung kembali berkacak pinggang.

"Serius?! Kenapa tidak bilang dari tadi, Noona?!" Jihoon antusias sekali. Di zaman seperti ini, Siapa sih yang tidak tertarik dengan uang?

"Tapi kalian berdua harus membantu aku,"

"Apapun kami lakukan untukmu, Noona" Jihoon dan Soonyoung menjawab dengan kompak.

"Bawa Wonwoo kedalam mobil itu," Hyosung menunjuk sebuah mobil silver yang terparkir tak jauh dari gerbang kampus, "Jangan sampai Wonwoo curiga. Anggaplah kalian sedang mengajaknya pulang bersama. Saat Wonwoo sudah masuk, Ahjussi tadi akan masuk dan segera melajukan mobilnya. Mengerti?"

Jihoon dan Soonyoung mengerutkan dahi kemudian mengangguk. Sejujurnya mereka bingung dengan apa yang di rencanakan Hyosung. Ini semacam penculikan. Karena Hyosung yang menyuruh, mereka tak perlu khawatir. Hyosung tak mungkin mencelakai adiknya sendiri.

"Mobil itu harus mengantarkanku pulang dulu. Aku akan menelpon Soonyoung—"

"—Telpon aku saja, Noona. Ponsel Soonyoung tertinggal," potong Jihoon.

"Cemburu, huh?" Hyosung mencolek dagu Jihoon. Yang dicolek menatap garang Hyosung, "Baiklah aku akan menelponmu saja saat mobilnya sudah kembali kesini. Kirimkan nomor rekening kalian setelahnya."

Jihoon dan Soonyoung kembali mengangguk. Keduanya lalu dipisahkan oleh Hyosung yang menyempil ditengah. Hyosung mengaitkan kedua lengannya pada Soonyoung dan Jihoon.

"Aku merasa sepuluh tahun lebih muda jika berada diantara kalian."

Kemudian mereka bertiga berjalan menuju mobil berwarna silver yang akan mengantarkan Hyosung pulang dan menculik Jeon Wonwoo. Adik Hyosung sendiri.

.

.

.

.

.

Wonwoo kembali melirik jam tangannya. Kurang lima menit lagi sebelum genap menjadi setengah jam Wonwoo menunggu Hyosung. Bukan hanya Wonwoo sebenarnya. Ada Himchan dan juga Mingyu. Coret untuk Mingyu karena ia pasti tak peduli dengan Hyosung. Mingyu asyik sendiri dengan buku pelajarannya.

Wonwoo melirik Himchan yang terpejam sambil bersandar pada kursi meja makan. Pandangannya lalu beralih pada lauk pauk dan dua mangkuk sup yang tersaji diatas meja makan. Pasti sudah mulai mendingin. Atau mungkin memang sudah dingin.

Wonwoo meraih ponselnya yang ia letakkan disamping piringnya yang masih telungkup. Ia kembali mengetikkan pesan untuk Hyosung. Entah sudah yang keberapa. Tapi isinya tak jauh berbeda.

To : Hyosung Noona

Cepatlah! Kami semua menunggumu!

Wonwoo kembali menaruh ponselnya. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja makan. Matanya fokus pada layar ponselnya yang masih menghitam dan tak bergetar ataupun berbunyi sedikitpun.

Irama random yang Wonwoo buat ternyata terdengar sangat jelas. Memecah keheningan yang terjadi di meja makan. Mingyu yang duduk disebelah kanan Wonwoo mulai merasa terganggu. Terlihat jelas dari lirikan sinis yang Mingyu lakukan beberapa detik yang lalu.

"Kau tak tahu aku sedang belajar?" Mingyu menutup bukunya kemudian menatap tajam kearah Wonwoo.

"Aku tahu. Lalu, apa masalahmu?"

"Berhenti membuat keributan."

"Keributan apanya," Wonwoo memutar bola matanya. "Aku hanya mengetuk-ngetukkan jariku saja di meja."

Wonwoo kembali mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja. Kali ini lebih kencang. Ia lalu balik menatap tajam Mingyu, "Ini baru namanya keributan."

"Kubilang berhenti! Aku harus belajar!"

Wonwoo ciut seketika. Mingyu baru saja membentaknya. Himchan sampai terbangun dari tidur singkatnya. Tapi, Himchan memilih menutup mulutnya. Tidak mau ikut campur urusan anak muda.

"Belajar? Kau hanya tinggal menunggu kelulusan, bodoh."

"Untuk masuk ke perguruan tinggi kau perlu belajar! Jangan-jangan kau masuk karena belas kasihan?"

"Belas kasihan apanya?! Aku ini pintar dan tak layak untuk dikasihani. Awas saja kalau kau masuk ke universitas yang sama denganku."

"Tidak akan. Aku muak kalau harus bertemu denganmu setiap hari di kampus."

"Seperti aku mau saja selalu bertemu denganmu."

"Aku jauh lebih tak sudi bertemu denganmu."

"Kalau begitu pergilah."

"Ini rumahku. Kau yang pergi"

"Apa hakmu mengusirku, hah?"

Himchan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Wonwoo dan Mingyu sama-sama tak mau mengalah. Masalah kecil saja bisa menjadi besar dan menjalar kemana-mana.

Ditengah acara adu mulut antara Wonwoo dan Mingyu, ponsel Himchan berbunyi. Himchan langsung meraih ponselnya dan mengeceknya. Ada telepon masuk dari Hyosung. Himchan berjalan menjauh dari meja makan lalu mengangkat telepon dari Hyosung.

"Yeoboseo."

"Himchan-ah Maafkan aku."

"Aku tau kau sibuk, Nona Jeon. Kapan kau akan kemari?"

"Yang pasti tidak bisa sekarang. Mungkin larut malam."

"Padahal aku sudah memasak banyak sekali."

"Maafkan aku. Aku tak tahu akan seperti ini. Aku titip Wonwoo. Jangan biarkan dia pergi sampai aku menjemputnya. Sisakan makan malamnya untukku."

"Tenang saja. Wonwoo aman bersamaku. Kau tahu Wonwoo dan Mingyu semakin dekat."

Himchan terkekeh. Ia menoleh kearah meja makan. Wonwoo dan Mingyu masih saja ribut. Tapi, Himchan menganggap itu semua sebagai masa pendekatan. Masa pendekatan yang kelewat unik.

"Baguslah. Aku tak perlu khawatir nanti jika kita sudah menjadi satu keluarga."

"Cepat pulang, Hyosung-ah. Tak baik lembur terus menerus."

"Aku akan menyelesaikannya dengan cepat dan segera ke rumahmu."

"Kutunggu."

Hyosung memutuskan sambungannya secara sepihak. Himchan memandangi layar ponselnya dengan dahi yang berkerut. Kemudian, Ia mengedikkan bahunya dan kembali ke meja makan.

Suasana meja makan kembali tenang seperti semula. Wonwoo sibuk dengan ponselnya dan Mingyu fokus pada buku pelajarannya. Mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa campur tangan orang dewasa. Toh, itu hanya masalah kecil yang dibesar-besarkan oleh keduanya.

Himchan kembali menempati tempat duduknya. Ia menaruh ponselnya di sebelah garpu dan sendok. Setelah itu, ia melipat kedua tangannya diatas meja kemudian menatap Wonwoo dan Mingyu yang duduk di hadapannya secara bergantian

"Karena Hyosung masih sibuk dengan dokumen-dokumennya, Kita akan makan malam tanpa Hyosung," ucap Himchan.

"Apa Hyosung Noona menelponmu?" tanya Wonwoo.

"Iya. Baru saja. Hyosung bilang kau tak boleh pergi sebelum Hyosung menjemputmu."

Wonwoo menghela nafasnya. Noonanya niat sekali memenjarakannya di rumah keluarga Kim. Tak masalah jika hanya Kim Himchan. Dari awal yang bermasalah dengannya hanyalah Kim Mingyu.

Pada dasarnya Wonwoo itu tipe anak yang pendiam. Apalagi jika dihadapkan dengan orang asing. Ia hanya akan membuka mulutnya saat ditanya saja. Jawaban yang diberikannya juga singkat sekali.

Itu yang Wonwoo lakukan sejak ia menginjakkan kakinya dirumah keluarga Kim. Wonwoo hanya akan bersuara saat ditanya oleh Himchan. Sudah puluhan pertanyaan di jawab oleh Wonwoo. Himchan niat sekali mengkorek-korek kehidupan Wonwoo.

Baru tadi saja Wonwoo berbicara banyak sekali dan mengomel. Semua karena Kim Mingyu.

"Apa perlu ku panaskan terlebih dahulu?" tanya Himchan.

"Tidak perlu. Sepertinya belum terlalu dingin," tolak Wonwoo.

Makan malam berlangsung dengan sangat tenang. Tak ada satupun yang bersuara. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring saja yang terdengar. Tapi, ditengah-tengah acara, Mingyu dan Wonwoo saling memperebutkan lauk dan berakhir dengan adu mulut kembali. Ketenangan makan malam pun sirna.

.

.

.

.

.

Setelah makan malam selesai, Wonwoo mengajukan diri menjadi tukang cuci piring. Ia hanya tak ingin di cap tak tahu diri. Terutama oleh Mingyu. Ia sudah makan enak tanpa berusaha membuatnya. Sekarang biarkan ia mencuci piring-piring kotornya.

Sebenarnya Wonwoo sempat membantu memasak. Sampai akhirnya ia melukai jarinya sendiri dengan pisau saat sedang memotong bawang bombay. Posisi Wonwoo pun digantikan dengan Mingyu. Ia hanya duduk di meja makan sambil menyahuti pertanyaan- pertanyaan Himchan.

Wonwoo menaruh empat piring yang ditumpuk jadi satu di tempat cuci piring. Ia menghela nafasnya saat menatapi cucian piringnya yang begitu banyak.

"Ya tuhan, aku belum pernah mencuci piring sebanyak ini," keluh Wonwoo.

Wonwoo memakai sarung tangan berwarna pink tua yang tersedia disana. Ia lalu mencuci satu persatu piring kemudian sendok lalu ke gelas dan yang terakhir adalah penggorengan dan kawan-kawannya. Berkali-kali Wonwoo menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Cucian piringnya terlalu banyak dan terlalu menguras tenaga.

Saat ia masuk ke tahap pembilasan, ponsel Wonwoo yang diletakkan di kantung celananya bergetar. Wonwoo melepas sarung tangan yang ia kenakan kemudian merogoh kantung celananya. Ia mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan yang masuk. Getar itu tandanya ada pesan masuk

From : Junhui

Aku di depan apartemenmu. Kau dimana? Aku mau mengembalikan flashdiskmu

Wonwoo berfikir sejenak. Apa ia harus memberitahu Jun kalau ia sedang berada di rumah Calon kakak iparnya? Nanti pasti Jun langsung menelponnya lalu bertanya yang aneh-aneh. Tidak. Bilang saja sedang pergi dengan Hyosung Noona.

"Cuci dulu piringnya baru bermain ponsel," Mingyu muncul tiba-tiba dan menepuk pundak Wonwoo beberapa kali.

Tukk

Wonwoo terkejut. Ponselnya terlepas dari genggamannya dan jatuh ke dalam tempat cuci piring bersama piring-piring yang belum dibilas. Keran air masih menyala dan Airnya jatuh tepat mengenai ponsel Wonwoo. Ia buru-buru mengambil ponselnya, mengelapnya, kemudian mencoba menyalakannya. Sayang sekali layarnya tetap berwarna hitam.

"Appa aku pergi dulu. Kerja kelompok dirumah teman"

Wonwoo membalikkan tubuhnya bersamaan dengan Mingyu yang pamit ingin pergi kerja kelompok. Wonwoo harus menyimpan omelannya untuk Mingyu sampai anak itu pulang.

"Kupastikan kau membelikanku ponsel baru, Kim."

.

.

.

.

.

Acara Cuci piringnya telah selesai. Wonwoo berjalan menghampiri Himchan yang sedang duduk bersantai seraya menonton televisi. Ia Berniat meminjam ponsel Himchan untuk menghubungi Hyosung lalu menyuruh Jun menitipkan Flashdisknya pada Seokmin melalui Hyosung.

Himchan menepuk-nepuk sofa di sebelah kanannya saat melihat Wonwoo berjalan mendekat. Wonwoo mengangguk seraya tersenyum lalu duduk tepat disebelah kanan Himchan.

"Kau suka menonton drama?" Himchan membuka obrolan.

Wonwoo menggeleng, "Tidak terlalu."

"Kau sama seperti Mingyu. Biasanya, Mingyu akan menemaniku menonton. Walaupun Mingyu akan fokus pada bukunya. Apa kau juga seperti itu?"

"Tapi aku fokus pada laptop dan tugas-tugasku."

Himchan terkekeh kemudian menepuk-nepuk kepala Wonwoo. Setelah itu, Himchan kembali fokus menonton drama. Wonwoo ikut menonton juga. Ia sedikit tahu tentang drama yang Himchan tonton. Hyosung selalu menontonnya setiap malam.

"Himchan Hyung?" panggil Wonwoo.

"Hmm."

"Boleh aku pinjam ponselmu? Ponselku mati. Aku ingin menelpon Hyosung Noona."

Himchan tak menjawab. Wonwoo menunggu dengan perasaan takut. Takut tak dibolehkan oleh Himchan. Keduanya tak begitu dekat bahkan baru bertemu kemarin. Apalagi Himchan sedang berada di puncak kejayaannya. Pasti banyak sesuatu yang disembunyikan di dalam ponselnya.

Perkiraan Wonwoo salah. Himchan memberikan ponselnya. Walaupun Himchan memberikannya tanpa menoleh padanya sedikit pun. Wonwoo memakluminya. Hyosung juga suka begitu saat sedang menonton drama.

Wonwoo berjalan menjauh dari Himchan. Foto Mingyu dan Himchan langsung terpampang saat Wonwoo baru saja menyalakan ponselnya. Ponsel Himchan tak terkunci sama sekali. Di kontaknya pun hanya ada beberapa nomor saja. Mungkin ini ponsel pribadi Himchan.

Wonwoo langsung menelpon Hyosung saat ia berhasil menemukan kontak Hyosung. Ia menunggu dengan sabar sampai Hyosung diseberang sana bersuara.

"Yeoboseo."

"Noona, Ini aku Wonwoo."

"Kenapa pakai ponsel Himchan? Dimana ponselmu?"

"Ponselku mati. Tolong beritahu Junhui untuk menitipkan flashdiskku pada Seokmin."

"Baru saja dia menelponku tapi tak kuangkat"

"Telpon dia sekarang, Noona. Dia menunggu didepan apartemen kita"

"Baiklah. Ada lagi?"

"Cepat kemari! Aku muak berada disini."

Wonwoo langsung memutuskan sambungannya. Ia kembali duduk disebelah Himchan kemudian mengembalikan ponselnya pada sang empu.

"Kau istirahat saja di kamar Mingyu. Kau bilang tak terlalu suka drama," ucap Himchan.

"Apa tidak apa-apa? Bagaimana dengan Mingyu?"

Wonwoo bukannya mengkhawatirkan Mingyu. Tapi, Ia tak mau sekamar dengan anak itu. Tolong pahami dengan benar maksud ucapan Wonwoo diatas.

"Tidak masalah. Nanti biar Mingyu dikamarku saja."

Wonwoo mengangguk. Ia bangun kemudian pamit pada Himchan. Ia berjalan menuju tangga lalu menaiki satu persatu anak tangga. di anak tangga kelima, Ia berhenti lalu menoleh ke belakang.

"Hyung, Kamar Mingyu disebelah mana?"

"Tepat didepan tangga."

.

.

.

.

.

Mingyu melepaskan kaca matanya kemudian mengacak-ngacak rambutnya. Ia memasukkan kacamatanya kedalam tas lalu masuk ke dalam rumah.

"Aku pulang," ucap Mingyu setengah berteriak.

Mingyu berjalan melewati Himchan yang sedang menonton Televisi. Pasti menonton Drama. Sebagai anaknya, Mingyu hapal diluar kepala kebiasaan Appanya tiap malam saat sedang senggang.

Mingyu berjalan menuju tangga. Ia menaiki satu persatu anak tangga. Baru saja dua anak tangga terlewati, Mingyu berhenti dan menoleh kebelakang. Appanya memanggilnya dan Ia mau tak mau harus menoleh.

"Kau tidur bersamaku malam ini," ucap Himchan.

"Memang kamarku kenapa?"

"Ada Wonwoo dikamarmu."

"Kenapa dia tidak di kamar tamu saja?"

"Kamar tamunya belum dibersihkan, sayang."

"Dia bisa tidur di sofa."

"Kau juga bisa tidur di sofa."

"Appa..."

"Tidak ada penolakan."

"Appa pasti akan memelukku sampai pagi kalau aku tidur dengan Appa."

"Apa salahnya aku memeluk anakku sendiri?"

"Kalau begitu Wonwoo saja yang tidur dengan Appa."

"Wonwoo sudah tidur sejak tadi. Kau tinggal pilih saja. Mau tidur dengan Appa atau dengan Wonwoo."

Pilihan yang sulit. Mingyu tak mungkin tidur dengan Appanya lalu sesak nafas karena Appanya terus saja memeluknya. Tidur dengan Musuh juga tak mungkin. Entah sejak kapan Mingyu menganggap Wonwoo sebagai musuhnya.

"Appa..."

"Denganku atau Wonwoo?"

"Aku tidur di kamarku."

Setelahnya Mingyu langsung masuk kedalam kamar. Ia membuka tasnya lalu menaruhnya diatas meja belajar. Ia melirik sinis gundukan yang dibalut selimut diatas tempat tidurnya. Wonwoo memakan banyak tempat saat tidur. Padahal tubuhnya tak sebesar Mingyu.

Mingyu berganti baju dan celananya menjadi yang lebih santai di kamar mandi. Setelahnya, Ia berjalan ke tempat tidurnya. Ia mendorong tubuh Wonwoo ke sebelah kiri, merebut selimutnya kemudian menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut.

Niat Mingyu untuk memejamkan matanya gagal saat tangan Wonwoo meraba-raba tubuhnya. Sedetik kemudian, Wonwoo menarik selimut yang Mingyu gunakan lalu membungkus tubuhnya dengan selimut.

Mingyu menggeram kesal. Ia mendorong tubuh Wonwoo dengan kakinya. Wonwoo sampai terjatuh ke bawah karena dorongan Mingyu terlalu kencang. Mingyu was was. Ia merangkak kesebelah kiri ranjang lalu melihat ke bawah.

"Eughh.. Noona.."

Mingyu bernafas lega saat Wonwoo bergumam tak jelas dalam tidurnya. Ia pikir Wonwoo pingsan karena kepalanya membentur lantai. Ia lupa kalau tubuh Wonwoo dibungkus dengan selimut tebalnya dari kepala sampai ujung kaki. Wonwoo tak akan terlalu merasa sakit saat Mingyu mendorongnya tadi.

Mingyu berguling ke kanan dan mulai memejamkan matanya. Biarkanlah Ia tidur tanpa selimut malam ini. Wonwoo jauh lebih membutuhkan dibawah sana.

.

.

.

.

.

Mingyu menyisir rambutnya di depan cermin besar yang menyatu dengan lemari pakaiannya. Ia mengancingkan satu persatu kancing seragamnya kemudian merapikan rambutnya kembali. Untuk apa ia menata rambutnya sekeren mungkin kalau pada akhirnya ia akan merubahnya menjadi klimis saat disekolah nanti.

Tok Tok Tok

"Mingyu-ah," panggil Himchan setelah mengetuk pintu kamar Mingyu terlebih dahulu.

Mingyu langsung panik. Ia berlari ke sebelah kiri tempat tidurnya. Appanya tak boleh tahu kalau semalam Wonwoo tidur dibawah. Bisa habis Ia nanti di hajar Appanya.

"Yak Jeon Wonwoo bangunlah," Mingyu mengguncang-guncangkan tubuh Wonwoo.

"Lima menit lagi," ucap Wonwoo dengan suara khas orang bangun tidur.

Tok Tok Tok

"Mingyu-ah," panggil Himchan lagi.

"Sebentar, Appa" sahut Mingyu mencoba setenang mungkin.

Mingyu menyingkirkan selimut yang dipakai Wonwoo kemudian menarik tangan kanan Wonwoo. Posisi Wonwoo berubah menjadi duduk. Perlahan, Wonwoo membuka matanya, menguap kemudian mengucek-ngucek kedua matanya.

"Cepat pindah keatas," Mingyu kembali menarik tangan Wonwoo. Kali ini tak sesusah sebelumnya. Wonwoo bahkan naik sendiri ke tempat tidur tanpa perlu Mingyu tarik-tarik.

Mingyu mengambil selimut yang tergeletak di lantai lalu menyelimuti tubuh Wonwoo. setelahnya, Ia berjalan menuju pintu lalu membuka pintunya.

"Maaf Appa. Aku baru selesai mandi." Ucap Mingyu.

"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Aku harus berangkat sekarang."

"Hati-hati dijalan, Appa"

"Sisakan untuk Wonwoo."

"Iya kalau aku ingat"

Mingyu kembali masuk kedalam kamarnya setelah Appanya keluar rumah. Ia terkejut saat mendapati Wonwoo yang duduk diatas tempat tidurnya.

"Sekarang jam berapa?" tanya Wonwoo yang kemudian menguap.

Mingyu melirik jam tangannya, "Jam tujuh."

"Jam tujuh? APA?! Ya tuhan, Aku ada kelas pagi," Wonwoo langsung heboh sendiri.

Wonwoo loncat dari tempat tidur kemudian berlari keluar kamar Mingyu. Sang pemilik kamar tercengang melihat kelakuannya. Mingyu mengambil tasnya lalu menyusul Wonwoo keluar.

"Cepatlah, Kim. Aku tak mau terlambat hanya karena kau." Wonwoo mengomel. Ia sudah mengenakan tas dan sepatu. Tinggal menunggu Mingyu yang lemot saja.

Mingyu tak menanggapinya. Ia berjalan melewati Wonwoo menuju meja makan. Wonwoo menyusulnya dan berniat menarik tangannya namun tak jadi saat melihat dua gelas susu dan dua porsi roti terhidang di meja makan. Wonwoo bahkan sampai mendahului Mingyu.

Wonwoo meminum susunya sampai habis lalu menggigit rotinya kemudian bangun dan menarik tangan Mingyu. "Ayo cepat!"

Mingyu pasrah saja ditarik oleh Wonwoo. keduanya berjalan keluar rumah dan langsung masuk ke mobil yang terparkir di depan rumah. Di dalamnya sudah ada seorang Ahjussi yang duduk di kursi kemudi.

"Ahjussi, Kenapa tidak mengantar Appa?" tanya Mingyu.

"Tuan meminta saya mengantar Tuan Jeon kalau Tuan Jeon mau pulang. Noona Tuan Jeon tak tega membangunkan Tuan Jeon kemarin malam jadi Noona tuan Jeon pulang sendiri dan diantar oleh saya."

Wonwoo menghela nafasnya. Sejak kapan Hyosung memiliki rasa tak tega pada adik sendiri. Itu hanya alibinya saja,

"Kalau begitu cepat jalan, Ahjussi. Aku ada kelas pagi"

Mobil pun melaju. Wonwoo memakan roti yangs sedari tadi hanya digigitnya. Ia mengeluarkan ponselnya dari kantung celananya. Ia panik saat ponselnya tak mau menyala. Ia baru ingat kalau ponselnya mati karena terkena air saat cuci piring kemarin.

"Ganti rugi ponselku, Kim. Kau membuatnya jatuh ke tempat cuci piring saat mengagetkanku kemarin." Wonwoo menggoyang-goyangkan ponselnya yang mati di depan Mingyu.

"Itu bukan kesalahanku. Ponselmu saja yang jadul dan tak anti air"

"Pokoknya kau harus menggantinya."

"Tidak mau."

Wonwoo tak menyahutinya lagi. Ia fokus menatap ke jendela. Matanya membulat saat Ia mengenal daerah yang sedang dilewatinya. Komplek Apartemen yang berjarak tak begitu jauh dari kampusnya.

"Ahjussi Stop!"

Mobil berhenti mendadak. Mingyu mengomel tapi Wonwoo tak menyahutinya. Ia segera turun dari mobil lalu berlari menuju salah satu gedung apartemen. dua teman Hyosung tinggal disini. Ada Song Jieun dan Han Sunhwa. mereka berdua tinggal di gedung apartemen yang berbeda namun letaknya bersebelahan.

Tujuan pertama Wonwoo adalah apartemen Sunhwa. Ia sudah berdiri di depan gedung apartemen Sunhwa. Saat kakinya ingin melangkah masuk, Tangannya ditahan oleh seseorang. Ia langsung menoleh.

"Sunhwa baru saja pergi." ucap Orang itu.

"Bagaimana kau tau kalau aku mencari Sunhwa Noona?" tanya Wonwoo. matanya memandangi dari ujung kepala sampai ujung kaki orang di depannya.

"Temui saja Jieun. Aku lihat dia baru saja pulang"

Setelah mengucapkan itu, Orang asing tadi berjalan masuk kedalam gedung apartemen Sunhwa. Wonwoo menatapi punggung orang itu sejenak kemudian mengedikkan bahunya. Mungkin tetangga baru Sunhwa yang sering melihat Wonwoo main ke apartemen Sunhwa dan kenal dengan Jieun juga.

Wonwoo berlari ke gedung apartemen sebelah. Wonwoo melihat Jieun baru saja berniat masuk ke dalam apartemennya. Ia langsung menghampirinya dan menahan pintu apartemen Jieun yang hampir tertutup.

"Noona, Aku ingin menumpang mandi dirumahmu."

.

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

.

.

Terimakasih banyak untuk yang sudah mereview, Follow dan Fav ~

Maaf kalau Chapter ini kepanjangan u.u

Maaf kalau Chapter ini aneh.

Jatuh bangun nulisnya. Ada aja halangannya

Tapi akhirnya selesai juga huftt

Kali ini aku nulisnya sambil dengerin lagunya k. Will yang You don't know love

Lagunya enak. Chanyeol nya juga enak dipandang /?

Terakhir, Review Juseyo ^^