Sudah cukup menikmati fanfic-nya? Mari kita lanjutkan lagi.
Bagi yang bertanya apakah Happy Nine ini benar-benar ada, ada alasan kenapa namanya FanFiction. Jenis narkoba itu tidak ada.
But okay. Kita akan lanjutkan lagi ceritanya!
.
.
.
SoniCanvas presents...
A "Dynasty Warriors" fan fiction...
Genre: Humor/Mystery
Rate: K+
Summary: Yue Jin mendapat kesempatan kedua ketika kedua jarum jam menunjuk angka dua belas. Dengan petunjuk yang ditinggalkan Li Dian, Yue Jin akan menghabiskan dua belas jam mencari petunjuk tambahan. Sementara Li Dian jatuh hati kepada satu saksi mata...
.
Cinderella Man
The Mysterious Dragon
Oh, tidak. Aku lupa kalau aku harus kuliah pagi. Tapi ini bukan mobilku.
UUUUUGHHHH! PERSETAN DENGAN MOBIL. AKU HARUS BERSIAP SEKARANG JUGA!
Aku belum belajar ataupun melihat petunjuk lainnya, tapi aku bisa terlambat. Kuambil kunci dari saku celana bajuku dengan susah payah karena basah kuyup dan harus menyingsingkan lengan baju yang panjang ini. Mobil itupun berhasil dimssuki dan terus kukendarai hingga ke asrama.
Dengan tergesa-gesa, aku mebgambil kunci kamarku dan segera mencari baju seragam di lemari. Tidak ada bajuku ataupun barang-barangku. Pak Zhang Liao atau Li Dian pasti sudah memindahkannya. Sial, tamatlah riwayatku.
Aku mengambil kemeja dan almamater Li Dian yang masih kering, kemudian mengenakannya dengan sedikit menggulung lengan bajunya. Sekarang, tinggal pakai celana.
Astaga, celananya selebar Changban dan sepanjang sungai Yangtze. Bagaimana aku akan memakainya?
Dengan terpaksa, aku mengambil ikat pinggang, kemudian menarik celananya hingga pas dengan ukuran pinggangku. Kemudian kugulung bagian bawah celananya agar pas dengan kakiku, namun tidak terlihat digulung dengan sengaja.
Aku melihat diriku di cermin. Tampak diriku terlihat sangat rapi. Aku hanya perlu mengatur rambutku. Aku akhirnya bisa bernapas lega.
"Haaaaaaah..."
SROOOT!
...hingga celanaku melorot.
UUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUGHHHHHHHHHHHHHHHH!
Sebuah perjuangan bagi seorang pria mungil sepertiku...
.
.
.
Satu jam kemudian...
"BERHASIL!"
Tok! Tok! Tok!
Sial, kenapa harus ada tamu...
Aku membuka pintu, dan menemukan sosok yang ambigu. Aku sempat mengira itu Zhao Yun, tapi dia pakai seragam asrama Wei.
"Selamat pagi, um..." Kataku gugup.
"Xun Yu." Kata pemuda itu. "Aku selalu dapat reaksi itu dari anak baru. Dimana Li Dian?"
Aku tertunduk. Aku tak tahu apakah dia juga mengira aku sudah mati atau tidak. Aku juga tidak tahu apakah aku harus menceritakan kejadian semalam.
Aku akhirnya tidak memberikan keduanya.
"Li Dian akan datang sore nanti. Mungkin dia sibuk di luar atau semacamnya. Ah, namaku Yue Jin, teman sekamar Li Dian."
"Oh, benar. Kita lupa berkenalan kemarin." Kami berdua berjabat tangan.
Ternyata dia juga tidak tahu kalau seminggu lalu aku seharusnya sudah mati.
"Mau ke kelas bersama?" Tanya Xun Yu.
"Entahlah, aku belum berkenalan dengan semuanya yang ada disini. Terutama, karena sebagian besar teman-temanku mungkin berukuran raksasa di mataku.." Aku menggaruk kepala dan tertawa canggung.
"Sudahlah. Soal itu, aku yang atur. Kau hanya perlu ikut masuk kuliah saja. Hanya dua jam setiap hari." Xun Yu menepuk bahu Yue Jin.
"B-baiklah." Aku dan Xun Yu akhirnya berjalan bersama-sama menuju kelas. "Jadi, kita akan masuk pelajaran apa?"
"Kau tidak lihat jadwal?" Kata Xun Yu heran. "Ini pelajaran Ilmu Sosial. Pelajarannya Pak Zhuge Liang. Kau tahu, yang pakai kipas bulu."
Kipas bulu? Itu terdengar seperti petunjuk yang baru kudapatkan. Tapi, aku masih belum yakin jika dia orangnya.
"Oh, benar. Kau anak baru. Aku lupa." Xun Yu menepuk dahinya. "Sebenarnya di sekolah ini ada dua orang yang pakai kipas bulu: Pak Zhuge Liang dari Shu dan Pak Sima Yi. Tapi, Pak Sima Yi merasa tersaingi jadinya dia ganti atribut jadi semacam kemoceng yang dipakai untuk mengusir lalat di jajanan pasar."
Aku masih belum bisa mencerna perkataan Xun Yu. Seharusnya ini urusan Li Dian, tapi dia baru dapat giliran tengah hari nanti.
"Apa Pak Sima Yi juga dari Shu?" Tanyaku.
"Oh, Pak Sima Yi itu dari Wei. Sebenarnya dia mau buat asrama baru tapi muridnya baru sedikit."
Aku masih belum tahu seperti apa Pak Zhuge Liang yang akan kutemui. Jadi seperti apapun dirinya, aku harus bersiap. Aku mencoba menanyakan hal yang lain tentang kasus di sekolah ini.
"Kau pernah dengar tentang mahasiswa di Shu yang meninggal beberapa minggu lalu?"
"Oh, maksudmu Guan Suo? Ya. Aku pernah dengar." Xun Yu merapikan poninya. "Dia mahasiswa yang ikut kelas kesenian. Aku dengar Guan Suo itu nasibnya sial. Setiap datang ke kelas, dia sempat dikira perempuan karena bunga di atas kepalanya. Tapi hanya itu yang aku tahu. Kau harus tanya seorang mahasiswa yang sekelas dengannya agar mengetahui lebih lanjut."
Wow. Hanya karena bunga, dia dikira banci. Zhang He ternyata lebih beruntung dari mahasiswa itu. Setibanya di kelas, Xun Yu berbalik arah padaku.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bertanya sebanyak ini? Jangan-jangan, kau polisi yang menyamar." Xun Yu memicingkan matanya padaku. "Kau tampak terlalu tua untuk menjadi mahasiswa."
"Polisi? Ayolah. Tinggi badanku bahkan tak memenuhi syarat untuk menjadi polisi!" Ucapku berbohong, namun dengan penekanan pada "tinggi badan" agar lebih meyakinkan.
"Hm...kau ada benarnya. Ayo masuk."
Kami berdua akhirnya masuk ke dalam kelas. Tak lama kemudian, seorang pria dengan kips bulu berwarna kehijauan masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi, Anak-anak!" Sapa pria itu.
"Selamat pagi, Pak Zhuge Liang!" Seluruh murid balas menyapa dengan serentak. Aku masih berdiri dengan canggung.
"Sebelum kita memulai pelajaran, perlu diketahui bahwa seluruh pelajaran dimulai dengan pertanyaan. Kita mulai dengan murid baru di kelas ini." Pria yang sisebut Pak Zhuge Liang itu mengarahkan kipasnya padaku.
"Eh...aku?" Aku menunjuk diriku bingung.
"Ya, kau. Siapa namamu?"
"Um... Yue Jin..."
"Apa kau punya pertanyaan di kelas ini?"
"Tidak..."
"Kau takkan bisa belajar jika kau menahan diri pada pertanyaanmu. Tanyakan apa saja."
Astaga, kelas kuliah macam apa ini?
"...kenapa aku ikit kelas ini?"
"AKHIRNYA!" Pak Zhuge Liang bersorak gembira. "Itu pertanyaan yang selalu ingin kudengar! Ayo kita mulai pelajarannya!"
Aku hanya sweatdrop melihat Pak Zhuge Liang yang tampak membingungkan ini. Aku masih tidak paham tujuan Pak Zhang Liao memberiku jadwal kelas Ilmu Sosial.
Pelajaran pun dimulai, sementara aku sibuk mencatat petunjuk yang kudapat sebelum aku melupakannya lagi. Sesaat setelah pelajaran usai, aku menyimpan catatanku itu di dalam saku celana. Setelah itu, aku pergi menuju loker untuk bisa istirahat.
BIIP! BIIP! BIIP!
Jam tanganku berkedip, tanda pukul dua belas siang tinggal tiga puluh menit lagi.
KRUCUUUUUUUUK!
Perutku masih lapar, tapi aku tak punya waktu untuk makan. Aku berlari ke kantin untuk membeli sekerat roti untuk dimakan di perjalanan kembali ke asrama. Dengan memegang perut dan roti di mulut, aku berlari menaiki tangga untuk kembali ke dalam kamarku, namun aku tak melihat tanda "lantai basah" yang terpasang di depan kamarku.
SLUUUUUT!
BIIIPBIIIPBIIIPBIIPBIIIIIIIIIIIP!
DHUAK!
.
.
.
.
.
"Uuungg..."
Astaga, kepalaku sakit sekali. Jam berapa ini? Kenapa rasanya ada benjol di kepalaku?
Masih banyak pertanyaan terlintas di pikiranku. Setidaknya, aku masih di kamar asrama.
KRUCUUUUUK!
Perutku kenapa tiba-tiba lapar? Kenapa bajuku lengannya digulung? Aku sama sekali tak ingat apa yang terjadi setelah—HNNNNNNNG!
Astaga, ini pukul dua belas siang. Pantas saja aku lapar. Mimpi apa aku semalam hingga seperti ini? Kurapikan lagi seragsmku, lalu aku periksa saku celanaku. Siapa tahu aku masih menyimpan uang untuk makan.
Kurogoh saku celanaku, aku menemukan seusatu dan mengambilnya. Namun itu bukan uang, tapi kertas. Isinya sebuah catatan bertuliskan "Pak Zhuge Liang dan Sima Yi punya kipas bulu. Mahasiswa yang meninggal pernah ikut kelas kesenian.".
"Ini petunjuk?" Gumamku. "Semabuk apa aku tadi malam hingga menulis petunjuk seperti ini?"
Aku tak paham maksud petunjuk ini dan siapa nama-nama yang disebutkan dalam catatan itu. Tapi tidak ada salahnya aku mencari tahu. Aku punya firasat Yue Jin masih hidup, tapi aku tak tahu dia ada dimana sekarang.
"Yue Jin? Kau masih hidup?" Aku bertanya di dalam kekosongan kamarku. "Aku tahu kau masih hidup dan membantuku dalam investigasi ini. Dimana kau?"
Rasanya aneh. Aku merasa Yue Jin masih hidup, tapi di kamar ini aku hanya sendiri. Bahkan para anggota Binteliwei bilang kalau Yue Jin tidak selamat. Apa karena kaki dan pantat Yue Jin yang dipasang di tubuhku?
Semua firasat ini menggangguku. Yue Jin sudah jelas tidak selamat dari ledakan dan sebagian tubuhnya ada padaku. Tapi kenapa aku masih merasa jiwanya belum benar-benar pergi?
Kurasa, itu jawaban untuk nanti. Sekarang, aku harus mengisi perut sebelum menuju kelas kesenian.
Aku berjaan ke kantin dan mengecek isi dompetku dan membeli makanan. Dengan nampan berisi kari di kedua tanganku, aku mencari tempat duduk, hingga seseorang tak memperhatikan langkahnya dan menabrakku.
BRUAAAAAAK!
PRAAAAAAAAANG!
Makananku jatuh dan pecah. Kuah karinya tumpah di seragamku.
Itu pembelian dari gaji pertamaku bulan ini di Binteliwei...
"Oh, astaga! Maafkan aku!" Seorang wanita berambut coklat yang tampak sangat khawatir menghampiriku dan membantu membersihkan seragamku. "Aku sedang menghapallkan irama untuk acara malam ini hingga tidak memperhatikan. Aku sangat minta maaf!"
"Tidak apa-apa, Nona. Aku bisa mencuci seragam ini dan beli makanan baru. Ini salahku." Aku merendah pada wanita itu.
"Tidak, tidak. Ini salahku. Biar aku membayar kesalahanku." Jawabnya. "Ah, aku sudah tidak sopan. Namaku Cai Yan, tapi teman-temanku biasa memanggilku Cai Wenji."
Gadis ini sangat berani dan tampak menawan. Sorotan matanya tampak sangat menenangkan. Aku tak tega melihatnya membayar atas makananku sebagai seorang pria yang sudah bekerja.
"Ah—oh, aku Li Dian. Murid baru." Aku balas memperkenalkan diri pada Wenji. "Jadi...tadi kau bilang kau sedang melakukan sesuatu untuk acara malam ini. Memangnya ada acara apa ya?"
"Ah, kau murid baru di kelas kesenian ya?" Kata Cai Wenji.
"Belum resmi, sebenarnya. Aku baru saja akan masuk pertemuan pertamaku. " Aku menggaruk kepala. "Um, Cai Wenji...acaranya..."
"Oh, benar." Cai Wenji memberiku selebaran pamflet yang berisi acara open mic yang akan dilaksanakan malam ini. "Kelas kesenian membuka open mic untuk umum setiap malam Sabtu. Guru kami bilang, itu sarana untuk melihat perkembangan kami dan perkenalan murid baru. Kau sebaiknya ikut juga."
Astaga, perutku keroncongan lagi. Ada firasat buruk menghantuiku.
"Tapi, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan..."
"Apa saja. Kau bisa menyanyi, menari, membuat puisi, melukis cepat, atau bahkan stand-up comedy."
...apa itu "stand up comedy"?
"Jadi, ini alamatku. Kau hanya perlu jemput aku, dan aku tunjukkan dimana panggungnya." Cai Wenji menuliskan alamat rumahnya di belakang selebaran yang aku pegang tadi. "Aku tunggu jam 7 malam. Jangan sampai terlambat!"
Cai Wenji melambaikan tangannya selagi berjalan meninggalkanku dengan senyuman riang. Wajahku mati rasa. Tubuhku seakan terpaku. Saku celanaku bergetar. Inikah yang namanya...cinta?
Oh, bukan. Itu ponselku.
"Halo?"
"Li Dian, kau sudah dapat petunjuk?" Kata sebuah suara di telepon."
"P-Pak Zhang Liao. Saya sudah dapat petunjuk, tapi saya baru bisa beritahu besok. Saya masih ada di kampus."
"Kenapa tidak malam ini?"
"Saya sudah dapat saksi mata, Pak."
"Sebaiknya kau segera melapor. Aku akan menunggu laporanmu besok."
Persetan dengan Pak Zhang Liao. Yang penting ketemu cewe cantik dan dapet petunjuk investigasi. SAMBIL MENYELAM MINUM AIR!
.
.
.
.
Malam harinya, aku sudah bersiap dengan mengenakan kemeja biru dan jaket putih. Tak lupa membawa tas kecil berisi berkas investigasi dan kacamata di atas kepalaku. Sekali lagi, sambil menyelam minum air. Aku tidak hanya tampak keren, aku juga bisa membaca berkas dan siapkan laporan di tengah malam setelah jalan-jalan bersama Cai Wenji. AHAY, SAUDARA-SAUDARA!
Aku merogoh sakuku untuk mencari kunci mobil. Tapi tidak ada kunci mobil. Sebentar, tadi ada dimana?
Aku mencari ke segala tempat, namun tak menemukan kunci mobilku. Hingga tiba-tiba ada panggilan alam. Aku membuka pintu WC, kemudian melihat secercah cahaya harapan.
Kunci mobilku terjatuh di dalam lubang WC.
...apes dah.
.
.
.
.
.
Setelah satu momen menjijikkan, aku akhirnya berhasil mendapatkan kunci mobil dan berkendara menuju alamat rumah Cai Wenji. Sambil jalan, aku menyemprotkan tiga botol parfum Cap Kapak.
Aku pun sampai di sebuah bangunan yang tampak besar, dengan nuansa ungu dan biru yang bagiku tampak tidak asing. Seakan aku pernah datang ke tempat ini. Aku hanya tidak ingat kapan. Firasat buruk kembali menghantui pikiranku. Jangan-jangan, ini rumah atasanku atau semacamnya.
Tidak, Li Dian. Ingatlah Yue Jin. Firasat burukmu mencelakakan Yue Jin. Berpikir positif!
Aku menarik napas panjang. Dengan keberanian dan semangat '45, aku mengetuk pintu yang lebar itu.
TOK! TOK! TOK!
Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu. Tampak seorang pria bercambang bebek manatapku nanar.
Firasatku benar. Ini rumahnya Pak Cao Cao...
"Kamu mau apa ke rumah saya?" Kata Pak Cao Cao dengan nada menggelegar.
"Er..." Tubuhku terpaku. Aku tak tahu harus bilang apa.
"Papa, jangan marahin Li Dian!" Cai Wenji dengan gaun biru yang lembut menghampiri Pak Cao Cao di ambang pintu.
Sebentar... Dia bilang... "Papa"? Cai Wenji itu anaknya Pak Cao Cao?!
"Cai Yan, Papa sudah pernah bilang soal membawa laki-laki lain selain adikmu. Kamu memang anak angkat, tapi kamu tetap perempuan kesayangan Papa." Pak Cao Cao merangkul bahu Cai Wenji.
"Aku sudah besar, Pa. Setidaknya aku keuar bersama temanku, bukan pergi sendiri. Lagipula, Cao Pi itu suka cerewet di jalan."
"Ya sudah. Kamu hati-hati ya." Pak Cao Cao mengusap kepala Cai Wenji lembut, lalu berjalan masuk ke rumah.
Tiba-tiba, terdengar suara bising gergaji mesin yang membelah es batu raksasa sambil uring-uringan. Sayup-sayup terdengar Pak Cao Cao mengucapkan sumpah serapah yang ditujukan untukku—disensor demi kepentingan pembaca anak-anak.
"Ayahku suka begitu akhir-akhir ini. Terakhir kali dia begitu saat aku masuk kuliah jurusan kesenian. Sekarang dia kesal karena bertemu denganmu. Kita pelan-pelan mundur dari sini." Cai Wenji memberi isyarat untuk melangkah perlahan masuk mobil dan segera keluar dari rumah itu menuju panggung kesenian.
~To be Continued...
