AUTUMN MAPLE

.

Desklaimer Tokoh: Masashi Kishimoto

Desklaimer cerita: Kinoshita no Shoujo

Pairing: Sasu_Saku dan Gaa_FEMNaru

Genre: Romance/Drama

Rating: T

A/N:

Aduh, bagaimana ini? Bentar lagi Kino mau ulangan mid semester.. *mondar-mandir*

Haih.. Susah, deh! Mau nglanjutin fict nggak, ya.. *mikir2* Ah, tapi 'kan Kino berusaha untuk memenuhi deadline dari readers sekalian. Bisa-bisa nanti Kino dibunuh gara-gara nggak update-update.. hehehe.. Okelah, Kino mau ucapin makasih buat readers yang udah mereview chap 1 yang lalu.. Sankyuu semuanya.. ^_^ *peluk-peluk readers*

Inilah mereka..

nacchi cullen

SimpleSaja

himawari usagi

Sasusaku_forever

''Black Rose'' Cyne_chan

Naru-mania

Kuroneko Hime-un

Uchiha Evans

Sora Chand

pick-a-doo

*nepuk jidat* Oh, iya! Disini ada lagunya Christian Bautista-Hands to heaven. Sediakan, yah.. ^_^

Kalian semualah yang membuat Kino semangat buat nulis.. (baca:ngetik)

Hokeh! Langsung aja!

Inilah multichap Kino yang kedua!

Keep reading, ya! ^_^

.


Mulai chapter ini, theme song Autumn Maple adalah : Perpisahan Termanis-Lovarian


Chappy 2

.

Semua berakhir tanpa dendam dalam hati

Maafkan semua salahku yang pernah menyakitimu..

Naruto membenahi ikat baju yang baru dipakainya. Setelah memastikan telah mengikatnya dengan kencang dan rapat, ia pun duduk di depan cermin. Naruto mengambil sisir orange kesayangannya dari rak kecil. Jepit rambut ia lucuti dari poninya yang layu. Gelungan rambut pirang yang ditahan oleh seutas pita hitam pun di lepaskan. Rambut ala iklan 'Dove' tergerai jatuh. Menyisiri setiap sela mahkota wanita itu butuh ketekunan. Apalagi rambut Naruto panjangnya sekitar satu meter. Sepunggung.

Naruto mengambil beberapa helai dari rambut sebelah kiri, kemudian di ikatnya dengan pita kecil. Arus kuncrit itu mengarah kebelakang. Begitu juga untuk rambut sebelah kanan, dilakukan tindakan yang sama. Sementara rambut bagian belakang yang lebih banyak hanya disisir lurus saja. Sehingga masih dalam keadaan tergerai. Jenis rambut Naruto bergelombang. Maka ia tak perlu repot-repot mengerolnya. Yang alami sudah bagus. Lebih dari cukup, dan baik.

"Naru..!" Gaara memanggil dari bawah jendela kamar Naruto. Namun suaranya kedengaran agak jauh. "Naru..!" teriakannya agak sedikit dipelankan karena takut Brigjen Minato, ayah Naruto mendengarnya. Nanti dikira tidak sopan pada atasan sendiri. Melebihi itu, jangan sampai ia dipecat gara-gara hal seperti ini.

Sayup-sayup Naruto mendengar suara orang yang memanggilnya. Ia pun menyelidiki asal suara. Ternyata bersumber dari luar jendela. "Siapa, sih yang panggil-panggil.." Naruto membuka lebar jendelanya. Ia menemukan sosok Gaara melambai-lambaikan tangan tinggi-tinggi ke arahnya dari seberang jalan. Berharap Naruto melihatnya. Naruto yang tahu bahwa itu Gaara, ia segera membalas lambaian tangan Gaara.

Naruto membuka mulutnya dan mengatakan 'Ada apa?' tanpa suara. Hanya bibirnya yang bergerak. Gaara menyahut, 'Aku ingin bicara..' juga tanpa suara. Naruto mengangguk. 'Aku segera kesana..' sambil menunjuk-nunjuk tempat Gaara berdiri. Gaara pun mengangguk dan mengacungkan jempol.

Naruto segera masuk ke dalam rumah. Dan bersikap menuruni tangga. Hidup di kamar lantai dua memang suatu keharusan bagi seorang putri seperti Naruto. Sedikit butuh perjuangan memang, karena Naruto dasarnya itu putri yang agak malas. Maka dari itu, gaun dengan kain yang 'jatuh' selalu dipakainya agar tidak mempersulitnya untuk tingkah polahnya yang ceria dan easy going. Selesai Naruto melewati tangga, ia berlanjut ada pintu kayu besar yang terletak di ruang tamu. Ia membuka pintu tersebut.

Secuplik tangan menyembul dari atas pagar. Naruto tahu itu tangan Gaara. Gaara melambai dari seberang jalan. Naruto segera membuka pagar besi hijau itu. Begitu pagar terbuka, Naruto tersenyum melihat tunangannya yang gagah itu berada di depannya. Gaara pun ikut senang, entah kenapa. Mungkin hanya karena senyum Naruto yang terlalu mempesona di wajahnya.

(Hands to Heaven_Christian Bautista).

Naru telah berdiri di depan Gaara. Gaara menyambut kedua tangan Naruto yang lembut.

"Naru.." Gaara menimang tangan kekasihnya itu. Kerisauan terlukis jelas di raut muka emo tersebut. Kebimbangan nampaknya memenuhi selubung hatinya yang pilu.

"Iya, ada apa Gaara?" wajah Naruto berubah cemas karena raut Gaara yang kurang menyenangkan.

As I watched you move, Across the moonlit room...

There's so much tenderness in your loving...

"Ehm.. Sebenernya, aku ditugaskan ayahmu ke Suna.."

Mimik Naruto segera berubah, kecewa. "'Tugas', ya.." Kepalanya menunduk. Tak mau melihat muka Gaara.

Tomorrow I must leave, The dawn knows no reprieve..

God give me strength when I am leaving..

"Hn, jangan cemas, ya Yang," Gaara mengusap helai pirang Naruto. "Nggak akan lama, kok.." Gaara mencoba tersenyum melihat perubahan reaksi yang dialami oleh Naruto. Tidak enak rasanya meninggalkan Naruto dengan kebimbangannya sendiri. Seharusnya ia tahu jika ia berwajah muram, Naruto pun akan terbawa suasananya, mengingat Naruto adalah gadis yang perasa. Gaara pun menyesali akan apa yang telah diperbuatnya.

So raise you hands to heaven and pray...

Thet we'll be back together someday...

Gaara menarik dagu Naruto ke atas. Naruto pun melemas dan mengangkat mukanya. Gaara mengamati wajah itu lekat-lekat. Ia melihat ada sesuatu yang menggenang di pelupuk mata Naruto.

To night I need your sweet caress, hold me in the darkness..

To night you calm my restlessness, you relieve my sadness..

"Hei, jangan nangis, Yang.." Gaara mengusap ujung mata Naruto dengan lembut. Perih sekali rasanya jika ia harus melihat Naruto bersedih.

"Iya.." Naruto menggenggam tangan Gaara yang bertengger di pipinya. Gaara ngilu di dada. Di hati.

Naruto mengeluskan tangan kasar Gaara ke pipinya yang jauh lebih lembut.

Angin berhembus. Bau Naruto khas jeruk tercium di hidung Gaara. Menyeruap memenuhi sel otaknya yang merasa sulit mengontrol kerja syaraf.

Sedetik, Naruto telah ada dalam dekapnya. Berpelukan.

As we move to embrance, tears run down your face

I whisper words of love so softly...

"Ga.. Gaara.." Naruto bingung. Sementara air matanya kian luber tak terkontrol.

Gaara ikut bingung. 'Aduh, aduh, kenapa aku memeluknya? Dasar bodoh! Gaara bodoh! Bodoh!'. Ia merutuki dirinya sendiri.

I can't believe this pain, it's drivin' me insane..

without your touch life will be lonely..

Sama-sama bingung. Jantung tak mau dikontrol. Degupnya makin jelas terasa di dada masing masing. Aliran darah makin mendesir cepat. Bulu roma pun ikut berdiri. Tak tahan layu begitu saja mendapati dirinya tengah dilakukan iritabilitas. Wajar,saja.. Baru kali ini mereka berpelukan..

So raise you hands to heaven and pray...

Thet we'll be back together someday...

Naruto memejamkan mata dan membenamkan wajahnya ke tengkuk Gaara. Ia pun mengeratkan lingkar tangannya ke badan Gaara. Sungguh, dari seluruh kesadaran yang ada pada Naruto, ia sendiri tak menyadari hal ini sama sekali. Gerakannya mengalir begitu saja, entah refleks tubuh atau apa. Namun, serasa hangat sekali.. dan ia merasa nyaman dengan itu.

To night I need your sweet caress, hold me in the darkness..

To night you calm my restlessness, you relieve my sadness..

Sementara Gaara.. Entah sematang apa mukanya sekarang. Dada Naruto yang cukup 'ngeh' makin membuatnya tak nyaman dengan pelukan yang semula dinikmatinya dengan ceweknya ini. 'Bagaimana caranya lepas dari situasi ini? Bagaimana? Bagaimana?' pikirnya memeras otak.

To night I need your sweet caress, hold me in the darkness..

To night you calm my restlessness, you relieve my sadness..

"Na-Naru.." Gaara memegang kedua pundak Naru. Bersiap melepas pelukannya.

"Hmm?" Naru masih terlena dengan perasaannya sendiri.

"A.. Aku.. Sesak.." hanya alasan ini yang terfikirkan oleh sel otak Gaara.

Naru membuka matanya. Ia melepaskan perlahan pelukan itu dan membuat jarak antara tubuhnya dengan tubuh Gaara dengan lengan tangan yang memegang dada bidang Gaara.

"Maaf.." kata Naruto sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan.

To night I need your sweet caress, hold me in the darkness..

To night you calm my restlessness, you relieve my sadness..

Gaara tersenyum simpir. "Maafkan aku juga.. Aku khilaf.. tiba-tiba saja memelukmu.."

Naruto melihat dada Gaara yang disentuhnya dan sedikit mengelusnya. "Nggak kok.. Aku senang. Rasanya lega sekali.."

Gaara mengambil kedua tangan Naruto dan mengecupnya. Ia menatap kedua mata biru langit Naruto lekat-lekat. Menikmati indah dan polosnya mata sang kekasih. Naruto ikut melihat mata hijau alami yang terpancar menyejukkan dari Gaara. Gaara menimang tangan dan mengusap rambut Naruto.

To night I need your sweet caress, hold me in the darkness..

To night you calm my restlessness, you relieve my sadness...

"Aku pergi.." katanya singkat sembari memejamkan mata.

Gaara melepas genggamannya dan langsung saja berbalik pergi menjauh dari Naruto. Tangan Naruto yang hangat oleh genggaman Gaara tiba-tiba saja berubah dingin karena suasana hatinya sendiri. Gaara melangkah jauh. Hanya tampak punggung tegap yang tersisa di pandangannya.

Morning has come another day I must pack my bags and say goodbye... Goodbye...

Hati Naruto tertusuk panah rindu. Ia tak rela melepas Gaara untuk pergi perang di negeri Suna yang jauh. Air matanya menetes jatuh, meluncur begitu saja. Mengalir jatuh ke tanah

Hanya inikah kata perpisahan yang terucap? Sedangkan kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti.. Bagaimana jika Gaara tak kembali lagi? Bagaimana jika Gaara gugur?

Naruto menepuk jidatnya. "Naru bodoh! Apa yang kau pikirkan?" Matanya kemudian memandang lurus ke arah Gaara yang kian mengecil dari penglihatan. Gaara memutar tubuhnya spontan dan tatapannya bertemu dengan Naruto. Gaara tersenyum. Naruto tertegun. Ia kemudian tersenyum dan melambaikan tangan tanda perpisahan. Gaara pun melambaikan tangan.

.

Sampai jumpa kasih.. Semoga kelak kita bertemu lagi..

Sraakk.. Daun Gingko bertebaran di antara mereka.

.


======================o0o======================

KINOSHITA NO SHOUJO.

======================o0o=====================


.

Ting-tong! Ting-tong!

Bel rumah itu berbunyi kesekian kalinya.

Tap! Tap! Tap!

Sasuke mengetukkan kakinya ke lantai dipan kayu. Tanda ia menunggu seseorang membukakan selapis pintu yang berada di hadapannya kini. Pakaian seragam perwira khas Showa di tampilkan kontras dengan warna rambutnya yang hitam. Jabrik ke belakang dan penampilan yang sempurna selalu menghiasi tubuh cowok cool ini. Tiada perwira lain yang dapat menyamai. Benar-benar tiada duanya. Eits, kecuali satu. Ialah Gaara. Seorang perwira yang tak lain adalah merupakan teman baik Sasuke. Kedua cowok ini sejak masa pendidikan dasar keperwiraan, sudah merupakan idola dari regenerasi cewek-cewek cantik. Tidak hanya pada perkara tampang, namun juga berprestasi dalam akademik dan perilaku. Maka dari itulah mereka dijodohkan dengan anak gadis dari jendral-jendral terdepan. Yakni Minato dan Haruno.

Clek..

Mata Sakura membulat. Ia tertegun dengan penampilan Sasuke yang lebih rapi dari biasanya. Sasuke juga memakai jubah seragam warna merah yang merupakan jubah perang.

.

'Ya Tuhan.. Jangan bilang yang ini seperti yang aku bayangkan..' pikir Sakura.

.

Sasuke sumringah melihat ceweknya itu. "Pagi, Sayang.." Sasuke tersenyum melihat tunangannya ini yang pagi-pagi sudah berdandan secantik bidadari.

CUPP..

Sasuke mencium pipi Sakura yang agak chubby. Pipi Sakura memerah seketika. Namun Sakura masih berdiam. Matanya tambah bulat. Pupil beriris hijau pun menyala secara spontan. Ia tak percaya Sasuke begitu 'bernafsu' padanya.

"Kau ini.." Sakura kesal-kesal-merona kepada Sasuke. Tangannya mengepal erat. Sebel dan ingin merontokkan gigi Sasuke yang nampak rapih itu. Namun ia hanya menjotos pelan dada Sasuke yang kuat.

"Hn," Senyum Sasuke tanpa dosa. Sasuke mencubit kedua pipi Sakura yang empuk. "Nih, biar tambah melar.. Hehee.." senyumnya nista. Sakura hanya bisa mengaduh kesakitan saja ketika tangan Sasuke dengan kuat mencubit dan menarik pipinya.

"aa.. a.." rintih Sakura kesakitan. Tangannya memegang dan meremas tangan Sasuke yang menarik pipinya. Sasuke pun melepaskan cubitannya terhadap Sakura karena kesakitan akan genggaman Sakura yang kuat atas tangannya.

Sakura mengelus-elus pipinya yang lebam, eh—merah. Sasuke meringis karena tangannya yang sakit sehabis dicubit Sakura. Namun sedetik kemudian moodnya yang jahil kembali lagi.

"ehehe.. Aku suka banget sama pipimu yang chubby, Sakura.." Sasuke berkacak pinggang dan tertawa geli melihat sang kekasih kesakitan di pipinya. Dasar Sasuke. Seperti tak punya dosa saja. Ckckck..

Sett! Sakura meliriknya tajam dengan ujung mata. Sasuke langsung menegapkan badan dan bersikap cuek seperti biasa.

"ekhm, ekhm.." Sasuke pura-pura batuk untuk menambah wibawa dan ngeles dari tatapan pembunuh Sakura. Pura-pura tidak memperhatikan.

.

Sakura geregetan, "Ihhh..."

Sakura yang tak tahan akan perilaku cowoknya yang keren ini, langsung saja tersenyum geli dan memeluk Sasuke tanpa permisi.

Grepp!!

Mata Sasuke membelak. Lama nian Sakura dan Sasuke tak berpelukan. Sasuke yang kaget akan tubuh Sakura, sedikit bingung. Namun, beberapa saat kemudian ia mampu menerima keadaan saat itu. Di elusnya rambut Sakura dengan rasa sayang. Beberapa kali ia mengulang menyisir rambut Sakura dengan jemari tangannya yang besar.

"Aku suka kamu, Sasuke.." kata Sakura penuh penghayatan. Ia merasa nyaman di dekapan Sasuke. Rasanya ingin tidur dan tak ingin melepaskan pelukan itu.

Sasuke tersenyum. "Aku juga, Sakura.." Sasuke mengeratkan pelukan. Sakura makin merasa hangat. Musim gugur yang tiba lebih cepat tahun ini memang makin dingin dirasakan oleh sel syaraf kulit. Akan tetapi sungguh tak mampu melepas kebahagiaan dan kehangatan yang muncul dalam diri seorang insan yang tengan dilanda asmara. Jatuh cinta adalah rasa surga yang masih terbersit dalam dunia yang maya ini dalam perasaan manusia.

Brigjen Haruno melewati pagar rumah dan bersiap menutupnya kembali. Setelah tertutup, ia berbalik untuk masuk ke dalam rumah.

Jrettt!!

Matanya menangkap pemandangan yang membuat pipinya sedikit merona. Dengan perasaan sedikit malu dengan apa yang masuk ke dalam retina matanya, ia mendekati objek yang sedang ia fokus sekarang. "Ekhm,, Ekhm,," Brigjen Haruno batuk-batuk. Ralat, pura-pura batuk.

Sasuke dan Sakura yang mengenali nada suara bass itu, langsung pucat pasi. Mereka gelagapan, cepat-cepat memisahkan diri. Akhirnya mereka kini berdiri dengan tubuh masing-masing sambil merona merah. Pura-pura tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi.

Ayah Sakura atau lebih tepatnya kita panggil Pak Haruno, berjalan dengan tegap menghampiri mereka. Dengan kumisnya yang lebat dan beringas, ia menatap Sasuke tajam. Sasuke bergidik.

"Kau apakan putriku barusan?" katanya sambil melotot ke Sasuke.

Sasuke merasa deg-degan dan sedikit takut. "A.. Anu.. Ti.. Tidak, Pak!" Jawabnya dengan melirik sana-sini seperti mencari jawaban yang hilang.

"Hmm.." Ayah Sakura kemudian melangkah, berlalu tanpa melepaskan pandangannya terhadap Sasuke sampai ia sendiri menghilang di sudut pandang dalam rumah.

.

Setelah Pak Haruno tak kelihatan lagi, Sakura menghembuskan nafas lega dan mengusap dadanya tanda ia lega ayahnya telah berlalu pergi. Ia melihat wajah Sasuke. Sakura tertegun. Wajah Sasuke pucat pasi. Keringat dingin meluncur dari pelipis hingga dagunya yang satis itu.

Sakura mengibaskan telapak tangannya ke muka Sasuke untuk menyadarkan cowok jabrik itu. Namun pandangan Sasuke tetap tertuju pada arah matanya yang lurus ke depan tanpa tahu ia sedang menatap apa. Arwahnya seperti sedang pergi.

Sakura menggoncangkan tubuh Sasuke. Namun ia tetap tak bergerak. Tanpa pikir panjang Sakura menariknya dan mengajaknya duduk di balkon halaman rumahnya di bawah pohon gingko seperti rumah Naruko. Ya, rumah jendral semuanya berdesain sama seperti itu.

Sakura meletakkan dan mendudukan Sasuke di tempat peristirahatan minum teh keluarganya yang berada di bawah pohon gingko. "Sasuke, tunggu disini, ya.." Pesan Sakura sebelum ia meninggalkan Sasuke sendirian dan pergi ke dapur.

Tak berapa lama, Sakura membawa cangkir teh dan segera diminumkannya pada Sasuke. Waktu berjalan. Akhirnya perlahan Sasuke kembali pada kesadarannya yang tadi sempat menghilang.

"Sa.. Sakura.." katanya begitu melihat Sakura duduk di sebelahnya.

Sakura melihat Sasuke dengan tatapan cemas. "Kamu nggak papa Sasuke..? Kamu tadi kikuk, ya di depan papah.." katanya sambil mengusap keringat Sasuke di dahi dengan sapu tangan warna pink. Sasuke hanya berdiam dan mengamati wajah Sakura yang sekarang nampak jelas di depan mukanya. Hanya berjarak sekitar sepuluh sampai lima belas senti saja.

.

Sakura, kau cantik..

.

Sakura terus mengusap keringat Sasuke yang deras menutupi seluruh permukaan kulitnya karena gugup tadi telah memeluk Sakura di depan ayah Sakura sekaligus atasannya sendiri yang paling Sasuke hormati. Fiuh.. tak bisa dibayangkan seberapa gugupnya Sasuke. Tapi semua kegugupan itu sirna seketika saat Sasuke melihat wajah Sakura dari dekat.

Ya.. Saat ini..

Wangi aroma bunga sakura selalu jadi pilihan pengharum untuk cewek yang juga bernama Sakura ini tercium lembut di indra pembau Sasuke yang mancung.

Mata Sasuke terus menerus memandang wajah Sakura tanpa berkedip. Mengitar setiap gerakan Sakura. Sakura yang semula terfokus pada keringat di muka Sasuke, mulai tersadar bahwa dirinya tengah diamati oleh cowok emo itu. Sakura lumayan risih juga. Tapi jauh di dalam hatinya, ia senang sekali. Senaaang sekali..

"Sas, jangan melihatku seperti itu.." katanya lembut tanpa menghentikan aktifitasnya mengelap keringat Sasuke.

Sasuke tersenyum dan tak melepas pandangannya dari wajah Sakura nan ayu itu.

.

"Kau memang anugrah terindah bagiku, Sakura.."

.

Sakura menghentikan aktifitasnya. "A.. Apa katamu..?"

CUPPMMHHH....

.

(Apa yang terjadi..?)

.

To Be Continued..


.

.

Mind to review?