Yo...! minna-san maafkan akira yang terlalu ngaret..bukan maksud akira buat ngaret update. Tapi ini karena ada banyak ujuan dan tryout yang wajib akira ikuti.#alasan. Yah dari pada akira banyak bicara... silahkan di baca..
Disclaimer Masashi kisimoto
Genre : Romance
Rate : M (for Lime and language)
Warning : AU, OOC, Geje, Typo.
Pairing : SasuHina
Sligh : SasuSaku, GaaHina, yang lainnya menyusul.
Don't Like Don't Read
Please Review...
Cor Heres
"Oboeru"
"覚える"
Kenangan tidak pernah hilang, hanya sedang menunggu giliran tampil dalam fikiran
Angin berhembus pelan bagai langkah kaki kucing di keheningan malam, di taman yang temaram terlihat seorang wanita muda duduk diantara bebatuan taman yang sengaja di fungsikan sebagai tempat duduk. Pakaian yang dikenakan bertentangan dengan gelapnya malam ini. Sebuah meja kecil berada di sampingnya dengan teh herbal panas sedang mengepulkan asap panas, menanti sang gadis menyesapnya sedikit-demi sedikit.
Seorang pemuda berambut reven mendekatinya. Langkah kakinya sama saja seperti tapak angin (Author: Sasuke bakat maling kayaknya?). tanganya terulur menyentuh pundak gadis itu. Walau tanpa menoleh, sang gadis sudah tahu bahwa pemuda itu akan datang. Yah, karena mereka sudah berjanji untuk bertemu malam ini.
"katakan padaku." Ucapnya seraya duduk di samping gadis itu.
"Hm. Akan ku ceritakan dengan singkat."
Flasback
Dunia yang sangat gemerlap itulah dunia Sasuke. Dia adalah seorang pengusaha yang sukses, baik dalam usahanya ataupun dalam kehidupan pribadinya. Sasuke memiliki kekasih. Karin. Namun malam itu semua berubah.
Dalam malam yang redup itu, seolah merefleksikan cintanya pada Karin yang turut redup. Duduk seorang diri.
Seseorang datang dan menghampirinya.
"Kami telah melakukan penyelidikan seperti yang telah anda perintahkan." Ucap orang itu.
"Hn. Bagaimana?"
"Perempuan itu memiliki kekasih lain. Seorang pengusaha dan yang sedang meroket usahanya."
"Nama. Aku butuh nama."
"Kabuto. Pengusaha obat-obatan."
"Baiklah. Pergilah"
"Baik."
Orang itu pergi entah kemana. Namun ada seorang lagi yang datang menemui Sasuke. Bukanya bicara namun orang itu memukul Sasuke dan menusuk Sasuke dengan belati. Sasuke yang tidak sempat membalas hanya dapat mengerang dan memukul asal orang itu. Dengan darah yang mengucur deras, ia berjalan ke arah jalanan besar berharap ada seseorang yang menolongnya.
Ketika Sasuke sampai di jalanan, Hinata melihatnya dan menolongnya.
End of Flasback
"begitulah."
"Hn. Lantas bagaimana kau tahu aku seorang pengusaha dan memiliki kekasih?"
"Sasuke, tak tahukah kau bila kau meminum darah orang. Kau juga mengambil kehidupan dan memori orang itu." Jelas Hinata.
"Hn. Pantas saja." Gumam Sasuke.
"Apa?"
"Bukan apa-apa." Ucapnya sambil meminum teh herbal. Meski teh itu sedikit dingin.
"Teh ini enak. Sedikit aroma camomile. Aku suka." Puji Sasuke.
"Benarkah? Ini teh yang selalu di minum ibuku." Senyum miris tersungging dibibir Hinata.
'tenanglah Hinata. Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku tahu ingatan yang menyakitkanmu itu. Yang membuatmu sedih. Aku tahu.'Batin Sasuke.
"Fajar akan tiba."
Mereka meninggalkan taman gelap itu dan menuju ke castle. Tidak tahu bahwa sepasang mata pearl mengawasi mereka berdua dari cendela castle. Pandangan tidak suka itu diarahkan pada mereka.
"Cih. Dasar orang baru. Aku tidak akan mengampunimu karena memonopoli Hina-Hime." Gumam sang mata pearl.
Meski pagi telah bersinar dengan terang kamar itu tetaplah tertutup tirai tebal dan suram. Buang saja omong kosong vampire akan terpanggang terkena sinar matahari. Tidak memang bukan terpanggang, hanya memerah seperti kulit yang sensitif terhadap sinar matahari. Yang membuat vampire tidak keluar pada siang hari pun sebenarnya hanya rasa kantuk yang tak tertahankan. Yah maklumlah malam hari kan mereka bergadang. Ah dasar mahkluk malam. Seperti halnya sinar matahari, pasak kayu pun hanya seperti tusuk gigi bagi vampire. Yang dapat membunuh vampire sebagai makhluk abadi adalah perak tajam. Yah perak. Benar-benar ampuh.
Meski tak tahu bahwa sinar matahari tidak akan melukai vampire. Sasuke tetap saja tidak menarik tirai tebal yang menghalangi masuknya sinar matahari. Ia melamun mengingat tindakannya kemarin. Mencium Hinata dengan hasrat yang menggebu. Menyentuhnya seperti kekasih. Apa yang dilakukankanya.
'kau brengsek Sasuke. Kau tak tahu terima kasih. Ia yang menyelamatkanmu. Ia yang memberimu darah yang sangat nikmat. Sebenarnya kau dapat minum darah botolan itu kan. Kau hanya mencari alasan agar lebih dekat lagi dengan Hinata. Kau picik Sasuke. Licik. Bahkan menuntun Hinata agar mau bertanggung jawab atas dirimu. Kau tidak seperti dulu. Kau menjebaknya. Kau memerangkap Hinata. Agar dia tidak lepas, agar kau dapat merengkuhnya...'
'diam. Kau tahu aku sangat menginginkannya. Kau juga sama. Jangan munafik. Sejak kapan kau munafik. Kau malah membayangkan tubuh telanjang Hinata di bawah tubuh telanjangmu. Membayangkan Hinata meneriakkan namamu saat ia mencapai puncak kenikmatan. Kau membayangkan Hinata menggelung di sisimu dan kau menyelimutinya dengan tubuhmu. Oh shut up! Fuck, Kau munafik...'
Sasuke hanyut dalam pikirannya antara logika dan hasrat. Ah tahulah bahwa antara logika Vs hasrat selalu hasrat yang menang. Begitu juga Sasuke. Mulai sekarang ia akan berjalan di jalan yang ditetapkan hasrat. Jalan yang penuh dengan kenikmatan dan dikenikmatan itu adalah Hinata. Hinata seorang.
Ketika terik matahari semakin meniggi dan menandakan telah dipuncak hari. Sasuke membaringkan tubuhnya di ranjang. Menarik selimut tebal dan nyaman itu ketubuh telanjangnya. Menutup mata perlahan.
Tubuh telanjang Sasuke terasa hangat, ketika sentuhan hangat dan selembut satin itu menyentuh dada bidang telanjangnya. Membelai nikmat setiap inchi tulang selangkanya. Berlanjut ke lehernya yang jenjang. Sasuke merasakan sentuhan lain di lehernya. Seperti isapan lembut dan gigitan kecil yang akan meninggalkan kiss mark di sana. Bibir mungil itu menciuminya terus menerus dengan kelembutan dan penyiksaan sampai di bibirnya.
Mata onix itu terbuka. Melihat Hinata tersenyum manis dengan mata lavendernya sayu penuh dengan hasrat pada Sasuke. Bibir mungilnya mencium pelan kelopak mata Sasuke. Begitu khidmat. Suci namun penuh dosa.
Sasuke membalikkan badan, membuat Hinata berada di bawahnya. Seutas kain menutupi mata Hinata. Entah sejak kapan kain itu diikatkan Sasuke. Tangan Hinata di satukan dan diikatkan dengan sabuk pada tiang ranjang.
"Biarkan aku memuaskanmu. Hingga kau berteriak mengucapkan namaku dalam kepuasanmu." Ucap Sasuke parau di telinga hinata.
"Sasuke...bangunlah."
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Sasuke." Hinata menggoyang-goyangkan Sasuke. Berharap si empunya tidur ini lekas kembali ke alam nyata. Ketika mata onyx itu memperlihatkan sisi tajamnya, Hinata tahu bahwa Sasuke akan marah.
"Hinata? Sedang apa kau?"
'Shit! Itu hanya mimpi. Damn aku sudah terangsang.'
"Aku tahu kau dapat meminum darah yang lain. Dan aku mau pergi. Jadi kau akan berada di sini bersama Neji-nii dan Minato-san."
"Hn. Kemana?"
"Tempat tetua."
"Kapan pulang?"
"Entahlah, ku pikir tidak jangka waktu dekat."
Sasuke hanya termenung. Mungkin ini akan membutuhkan beberapa tahun atau bulan. Sasuke tahu beberapa tahun atau bulan itu hanya sebentar bagi para makhluk abadi. Tapi ini tidak akan sama lagi seperti sekarang. Apa yang akan terjadi masih misteri.
"Sasuke? Apa yang kau inginkan? Aku akan kabulkan asal kau mengabulkan satu permintaanku, sebelum aku pergi."
"Apa?"
"Aku ingin kau peluk untuk malam ini. Hanya malam ini."
"Hn. Kemarilah."
Sasuke menjulurkan tangannya, menyentuh blus putih tipis Hinata. Kancing demi kancing dibukanya. Tangan kanannya terulur mencapai pengait bra dan membukanya. Terlihat dada Hinata yang besar, putih, bulat sempurna dan terasa lembut sekali.
"Indah, kau bersalah menyembunyikan dada secantik ini dari ku."
Sasuke mulai meremas dada Hinata. Mulutnya menghisap payudara kiri, tapi yang kanan pun tak tertinggal aksi. Sasuke memijat, meremas dan memainkan payudara kanan Hinata.
"Egh..." erangan tertahan Hinata membuat Sasuke semakin menjadi, kini tangannya mulai mengeksplorasi tubuh bagian bawah. Merayap penuh hasrat menuju kenikmatan terbesar. Ketika mencapai daerah antara paha Hinata, Sasuke beralih dari Payudara menuju leher jenjang Hinata. Semakin lama semakin cepat gerakan tangan Sasuke keluar masuk liang Hinata.
"Egh...Sasu-ke...cepat...tak...ta-han..egh.." pinta Hinata di telinga Sasuke, bagai sebuah perintah yang pasti akan Sasuke laksanakan dengan senang hati.
Dibaringkanya tubuh mungil hinata, Sasuke melepas sisa celana yang belum terlepas. Ketika keduanya telanjang bulat. Hinata hanya dapat tersenyum, malu dan terangsang jadi satu, matanya sangat sayu sarat akan hasrat.
Sasuke tahu itu apa artinya dan ia merasa bahagia karena Hinata menginginkannya. Tak membuang waktu lagi. Sasuke segera memasuki liang sempit Hinata. Meski kepunyaan Sasuke besar dan panjang namun itu bukan halangan untuk sebuah penyatuan ini. Tubuh Hinata bergetar dibawah tubuh kokoh Sasuke. Sasuke terus menghujam liang Hinata, berusaha agar miliknya dapat masuk sempurna kedalam liang. Sampai sebuah dinding itu terasa, dinding yang dapat menghentikan aktivitas Sasuke.
"Hinata, ka-kau masih.."
"Ststtsts" bungkam Hinata dengan mulutnya. Ia hanya mengangguk.
Karena telah mendapat persetujuan dari Hinata, Sasuke pun terus menghujam liang sempit itu. Dindingnya pecah. Hinata menjerit. Namun dengan sigap Sasuke membungkam mulut Hinata dengan mulutnya. Dengan lidahnya. Dengan semua saliva yang menyatu, semua jeritan Hinata berubah menjadi erangan yang membuat Sasuke semakin bernafsu. Dengan sekali sentak, milik Sasuke masuk ke liang Hinata dan memenuhi ruang yang ada di sana. Sempit dengan pijatan yang nikmat. Ah, surga. Dinding rahim Hinata memijat milik Sasuke dengan begitu antusias dan kuat.
"Egrrr...eghmmm..Hinata..."
"Sa-suke...eghm..ehgh..."
Sebuah ketegangan yang kian memuncak seiring dengan kecepatan hujaman keluar masuk Sasuke. Akhirnya Sasuke dan Hinata mencapai klimaks bersama. Sasuke roboh dengan kepuasan menindih sebagian tubuh Hinata, memeluknya, erat karena Hinata kini miliknya.
Hinata tahu bahwa ini akan membuat Sasuke marah. Dan membuat hatinya terluka. Tapi ini adalah sebuah keputusan sulit. Keputusan untuk masa depan klan mereka.
Hinata terbangun dan segera menggeser tubuh Sasuke. Melihat wajah damai Sasuke. Hinata tersenyum dan mengecup bibir Sasuke ringan. Sebuah tanda perpisahan yang akan memulai semua masalah.
"selamat tinggal Sasuke"
Avoir une suite
Terimakasih sebelumnya buat yang mau review 'Cor Heres'...saatnya balas riview
Anime Lover Ya-ha : buat neji nya, kayaknya masih tetep sepupu, tapi overprotectif sama Hinata. Terus kalau Minato...uhm...apa yah, yah sebenernya orang lain, tapi sudah dianggap keluarga sama Hinata, kayak kakak gitu...uh,, buat ketelatan updatenya gomennasai...hounto ni gomenasai...#sujud-sujud..
N : hahahaha bukan jadi pelayan kok...sebenarnya aku pengen buat sasu-kun jadi pelayan...Cuma aku takut, habis ini sasu-kunnya udah ngeluarin chidori...#hiiiiserem...
Sasuhina-caem : hai...hai selamat datang juga...aku jarang mampir di fandom bleach..wah-wah kamu seperti aku dech, Reader BMB hahahaha...#meronamalu
Mizuni Kana : hahahaha...maaf ya, ini bener-bener ngaret updatenya...banyak kegiatan yang ngilangin ide, padahal darfnya udah jadi...^^
Yah sekian dulu buat bales reviewnya...terimakaasih buat yang mau rivew...
Minna-san jangan lupa review lagi yah...akira tunggu,...^^
R
E
V
I
E
W
