Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Family, Hurt/comfort, Slice of Life, Romance, Drama

Pairing : Naruto & Hinata

Warning : Typo(s), Banyak kesalahan, Penuh kekurangan, Kamu bisa memilih untuk 'kembali' dari pada harus terjerumus pada lubang bernama kisah ini.

Liekichi-Chan

Proudly Presents

つないだ手

"Kak,tolong jangan banyak berfikir dulu. Tekanan darahmu sangat rendah. Lihat saja wajah kakak sampai kelihatan seperti mayat hidup begitu." Tangan Hanabi bergetar saat memeriksa keadaan kakaknya.

"Aku sedang tidak banyak berfikir, Hanabi-chan. Hanya saja beberapa hari terakhir aku sering merasa sangat pusing."

"Bohong! Sudah kubilang untuk tidak berfikir yang macam-macam dulu kan. Nanti setelah kondisi kakak pulih sepenuhnya, baru kita akan menyelesaikan masalah ini bersama."

Abu-abu rembulannya menatap langit-langit rumah sakit. Pandangannya terlihat sangat jauh.

"Aku ingin Bolt dan Himawari tetap disini." Senyumnannya melemah, lalu air mata mengalir melalui celah matanya. Bahkan ia harus meneguk ludahnya sendiri untuk membasahi kerongkongannya – dan itupun, terasa sangat sulit untuk dilakukan.

Hinata, wanita itu masih terbaring sempurna. Dia masih sangat lemah.

Hanabi hanya bisa memperhatikan kondisi sang kakak dalam diam.

"Kakak tahu sendiri kan, Bolt dan Himawari harus bersekolah. Mereka harus bersama dengan Ayahnya agar ada seseorang yang bisa membantu mempersiapkan keperluan mereka. Mereka harus di pantau dengan baik."

"Maksudmu kakak tidak bisa memantau mereka?"

Nafasnya terdengar berat. Jas putih yang ia kenakan tampak bergoyang asal ketika sang pemilik membuat gerakan yang membingungkan mengikuti irama tubuhnya.

"Bukan seperti itu kak. Kakak kan masih-"

"Aku tidak yakin Naruto-kun bisa becus menjaga anak-anakku." Ucapannya terdengar dingin dan menusuk. Seperti bukan dirinya.

"Kak, berhenti berfikir buruk terus tentangnya! "

"Memang begitu keadaannya."

"KAK!" Hanabi menaikkan nada bicaranya. Biar bagaimanapun kakaknya sudah keterlaluan.

Matanya menatap tajam kearah Hinata yang justru tak menunjukkan ekspresi apapun. Wanita itu masih menerawang sangat jauh.

"Aku ingin mereka berdua. Aku ingin anak-anakku. Aku masih mampu membesarkan mereka dengan tanganku sendiri."

"Kak!"

"Aku mampu, Hanabi!" Ada genangan yang kembali memperkilat pandangan abu abu rembulan yang ia miliki. Kalau kekuatannya bisa pulih sedikit lebih banyak lagi, dia pasti akan menarik paksa Bolt dan Himawari saat akan beranjak meninggalkannya tadi.

Melihat punggung mereka yang berbalik lalu pergi meninggalkannya sendiri lagi diruangan tersebut, rasanya sangat menyakitkan.

"Sebenarnya apa yang sedang kakak bicarakan, hah? Kenapa semakin rumit begini? Tidak perlu memperkeruh suasana, kak! Cukup tunggu sebentar lagi. Auranya sudah mulai tenang, tapi kenapa lagi-lagi kakak berulah?"

"Bukan aku yang berulah, tapi dia yang memulai."

"KAK!" Kembali, hanya kata itu yang bisa Hanabi ucapkan.

Tangannya mengepal sempurna dan gigi-giginya yang saling beradu tidak bisa ia sembunyikan sama sekali. Hinata masih berbicara dengan sangat dingin.

"Jika aku tidak bisa memiliki keduanya, maka salah satu akan ikut bersamaku."

"Apa maksud kakak?"

"Suruh dia memutuskan. Bolt atau Himawari?"

"Hah? Memilih salah satu? Apa-apaan yang kakak bicarakan itu. Bolt dan Himawari akan tetap bersama dengan kedua orangtuanya!"

"Ini terlalu tidak adil. Dia bersama dengan anak-anakku sepanjang waktu – sesuatu yang jarang sekali dia lakukan selama ini. Sementara aku? Aku terbaring disini sendirian. Tolong bawa Bolt dan Himawari padaku." Hinata kembali mengerang dengan sangat keras kepala. Tubuh wanita itu sampai bergetar hebat demi melawan guncangan yang berasal dari tubuhnya. Rasa sakitnya masih belum bisa ia lupakan.

"Kau sangat kacau, kak. Aku fikir mempertemukanmu dengan Bolt dan Himawari bisa membuatmu sedikit membaik. Tapi kau justru semakin egois dengan perasaanmu sendiri."

"KAU TIDAK AKAN PERNAH MENGERTI DENGAN RASA SAKITNYA, HANABI! KAU TIDAK AKAN PERNAH TAU!" Emosi Hinata membuncah saat itu juga. Wanita itu menjadi hilang kendali. Semakin sulit.

Hinata menangis sejadi-jadinya. Jika ada obat penawar rasa sakit didadanya, mungkin ia sudah meneguknya sampai habis. Tapi ini, dia masih belum tahu apa obat yang bisa menyembuhkan luka menganga dihatinya. Untuk mengendalikan tubuhnya sendiri saja dia merasa tak mampu, bagaimana lagi jika ia harus kendalikan perasaannya juga.

Setiap dirinya berusaha untuk melupakan, yang ada hanyalah ingatan menyakitkan yang terlintas dikepalanya.

Semuanya masih terekam dengan sangat nyata.

"Bolt atau Himawari?" Hinata masih terus bergumam.

"Ya, memang harus membuat keputusan."

"Kak..."

Kepala Hinata mengangguk-angguk dengan sendirinya. Bola matanya bergerak dengan sangat lincah. Genangan air mata membasahi seluruh pipi wanita itu. Kacau.

"Yah~ Bolt akan ikut denganku sementara waktu. Himawari aku biarkan ikut dengan Naruto-kun."

"Kak, tolong jangan lakukan hal begini! Kau tidak adil dengan perasaanmu sendiri. Sama dengan membunuh mereka secara tidak langsung kalau kakak ingin memisahkan Bolt dan Himawari. Mereka akan semakin bingung dengan semuanya. Jadi kumohon, jangan lakukan."

"Justru kalau aku tidak adil, aku akan mengambil keduanya dari Naruto-kun."

"Tolong fikirkan sekali lagi. Himawari itu tidak bisa jauh dari Bolt. Dia sangat membutuhkan Bolt kapanpun dan dimanapun. Kau akan menjadi Ibu yang sangat kejam kalau sampai harus memisahkan mereka."

*つないだ手*

"Ayah~"

"Ya?"

Hari ini masih sama seperti tiga malam yang lalu. Hujan turun dengan sangat deras. Naruto mengerti, kalau sudah seperti ini pasti penyakit manja anak-anaknya akan kambuh lagi. Tapi walau demikian dia sangat senang.

Lengan kekarnya menjadi bantalan hangat untuk putra dan putrinya. Padahal sudah pukul setengah dua belas malam tapi kakak beradik itu masih enggan untuk tidur. Memikirkan tentang Ibu adalah hal yang paling mengasyikkan bagi mereka saat ini.

"Tidak apa kan kalau Hima dan kakak tidur dengan Ayah malam ini?" Bibir mungil putrinya bergerak lucu mempertanyakan pertanyaan polos yang berhasil membuatnya tersenyum. Salah satu lengan besar khas seorang Ayah itu lantas mengusap penuh sayang surai kelam sang gadis kecil.

"Tentu saja tidak apa-apa, Hima-chan."

Keadaan seperti ini benar-benar terasa sangat hangat.

"Iya yah. Soalnya Aku juga sangat senang sekali bisa tidur dengan Ayah seperti ini. Ayah kan kemarin-kemarin sangat sibuk sampai-sampai kita jarang bertemu. Untung saja ada Ibu yang selalu sabar dengan kami, jadi kami tidak terlalu merasa kesepian."

Naruto terenyuh.

Kalimat panjang yang terucap dari bibir putra sulungnya benar-benar memukul telak ulu hati miliknya.

Sedikit tersenyum, usapan sayang kembali ia layangkan. Kali ini tepat diatas surai blonde yang sama seperti miliknya.

Apa yang diucapkan oleh Bolt adalah benar. Dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Dia berubah. Dia sempat mengabaikan keluarga yang selalu ada untuknya.

"Ayah minta maaf ya." Kalau boleh jujur, terasa sangat sakit mengucapkan kalimat tersebut.

"Maaf karena ayah selalu saja sibuk dengan pekerjaan ayah sendiri."

Himawari merentangkan tangan kecilnya lalu memeluk perut lebar sang ayah. Rasanya benar-benar sangat hangat bisa tidur begini dengan ayah. Sifat manjanya memang sangat menggemaskan.

"Kenapa Ayah harus minta maaf? Ayah juga bekerja keras untuk kami. Kalau kata Ibu kami tidak boleh banyak mengeluh. Lagipula kan sekarang Ayah sudah punya lebih banyak waktu untuk aku dan Himawari."

Kalau saja lampu kamar sudah ia matikan, mungkin dia bisa menangis tanpa ketahuan. Sayangnya ruangan besar itu masih terisi penuh dengan cahaya lampu yang mau tidak mau akan menjadi pengeksekusi bukti airmatanya jika dirinya sampai menangis.

Naruto masih harus menahan gejolak didadanya.

"Hima akan jadi anak yang baik untuk Ayah dan Ibu." Putri kecilnya sudah berbicara dengan mata yang hampir terpejam. Kelihatannya Hima sudah mulai ngantuk.

Bolt memperhatikan dalam wajah cantik adik kesayangannya. Kalau sudah begini Himawari memang sangat lucu. Tapi kalau sisi cerewet dan cengengnya kambuh, Bolt pasti sangat kesusahan.

"Yah, biasanya sebelum tidur Ibu akan membuatkan kami susu terlebih dahulu."

"Ah, oh iya. Ayah lupa, akan ayah buatkan ya?" Naruto tersentak dan ingin bergegas. Tapi pelukan lengan kecil Himawari menahannya. Gadis kecil itu menolak kalau ayahnya harus pergi.

"Hahah mungkin lain kali saja yah. Lagi pula Himawari kelihatannya sudah sangat nyaman dengan posisinya sekarang ini." Bolt tersenyum sangat lembut. Adik kecilnya masih bersikeras ingin terjaga lebih lama.

"Iya Bolt. Kau benar."

Kecupan hangat mendarat diatas kepala Himawari. Bolt hanya memperhatikannya dalam diam.

"Kalau sudah hampir tidur begitu, biasanya Ibu akan menggosok punggung Hima sampai dia tertidur pulas yah."

Biru langitnya menatap langit-langit kamar. Bolt masih sangat ingat dengan semua perlakuan Ibu padanya dan juga pada Himawari. Kalau ada perbedaan cara antara Ayah dan Ibu, dia mengerti dengan hal itu. Yang perlu dirinya lakukan adalah memberitahukan Ayah tentang kebiasaan mereka.

Mungkin karena waktu ayah yang tidak terlalu banyak untuk mereka, jadilah hanya sedikit hal yang ayah tahu. Namun demikian Bolt sangat menyayangi sang Ayah.

Bolt mengangkat kepalanya yang sempat tidur diatas lengan ayahnya, lalu mulai membiarkan lengan tersebut bergerak bebas untuk selanjutnya menggosok pelan punggung Himawari.

Naruto sampai terkejut ketika putra sulungnya memberi isyarat untuk melakukan hal yang seperti selama ini istrinya lakukan.

Apakah Bolt tumbuh dewasa sebelum waktunya?

Naruto terseyum hangat pada putra sulungnya dan lantas memeluk Hima untuk menggosok punggungnya.

Sebagai seorang kakak dia harus lebih banyak mengalah dan juga melindungi. Setidaknya itu adalah hal yang selalu Ibu ajarkan.

Tidak boleh cengeng, tidak boleh terlalu manja, dan harus tetap kuat.

Permata biru lautnya berkedip perlahan. Rasa kantuk mulai datang tapi sangat susah untuk bisa tertidur.

"Dan biasanya, Ibu akan mengelus dahiku kalau aku sedang susah tidur begini."

*つないだ手*

Naruto sengaja pulang kerja lebih awal agar bisa membawa kedua anaknya untuk jalan-jalan. Ada sebuah kedai eskrim dan donat yang baru buka di pinggir kota. Entah kenapa setiap kali mengingat es krim ia akan teringat pada wajah Himawari. Putri kecilnya itu adalah seorang maniac eskrim.

"Ayah, Hima mau semuanya." Manik rembulan Himawari bersinar terang. Berbagai jenis gambar eskrim yang tertera pada menu membuatnya sangat bersemangat. Jari kecilnya bergerak lincah membuka lembar demi lembar kertas penuh gambar dan warna dihadapannya.

"Hahah Hima boleh pesan apapun yang Hima suka. Tapi janji harus dihabiskan."

Ternyata melihat anak-anak tersenyum begini bisa membuat rasa lelah selama bekerja menghilang.

"Strawberry, coklat, redbean, mint, vanilla~ Ahh, Hima mau rasa yang itu."

"Hima, jangan terlalu banyak. Nanti kalau tidak habis bagaimana?" Bolt merebut menu yang ada pada tangan Himawari. Kan, jahilnya datang lagi.

"Pasti habis kok. Hima kan putri eskrim." Lidahnya menjulur panjang

"Awas saja kalau tidak habis ya."

Pria itu tersenyum senang. Percakapan kedua anaknya membuat rongga dada miliknya menghangat. Bolt dan Himawari. Mereka adalah penyemangat dalam hidupnya.

"Nah, pesan apapun yang kalian suka. Hari ini kita akan makan sepuasnya sampai kalian tidak sanggup makan lagi."

"Hahaha Asiiik~"

"Yosha~ baiklah yah!"

*つないだ手*

Naruto akan mencatat hari ini sebagai salah satu hari yang paling menyenangkan yang pernah ia habiskan bersama dengan Bolt dan Himawari. Mereka mengelilingi kota, tertawa bersama, lomba makan eskrim dan donat, membeli makanan pinggir jalan yang orang-orang bilang tidak sehat, bermain ditaman, bernyanyi bersama, sampai mengerjai anak kecil seumuran Himawari saat sedang bermain petak umpet.

Suara nyaring dan teriakan mereka seperti sulur api yang tak pernah padam ditelinganya.

Naruto masih belum bisa melupakan ekspresi Bolt ketika tidak sanggup menghabiskan tumpukan eskrim dan donat saat dikedai tadi. Dia yang menantang Himawari, tapi justru dirinya yang kalah. Himawari itu kecil-kecil cabai rawit. Jadi, jangan pernah untuk menyepelekan si kecil itu.

Lalu, ketika Himawari minta tambah porsi eskrim padahal kakaknya sudah mengeluarkan bendera putih minta ampun.

Keseruan lain adalah ketika mereka bermain ditaman. Orang-orang sampai memberi tatapan tajam karena mereka berteriak sangat keras ketika adu kekuatan antara Ayah dan anak. Best moment saat sang Ayah berpura-pura kalah saat bertarung dengan Bolt lah yang membuat Himawari harus berteriak-teriak antara marah karena sang Ayah berpura-pura kalah dan senang karena kakaknya menang.

Sampai kapanpun pengalaman seperti ini belum tentu bisa dirasakannya lagi.

Tawa mereka terlalu berharga untuk dilewatkan.

"Nah, lain kali siapa lagi yang ingin jalan-jalan seperti tadi?" Naruto berbicara dengan ekspresi lepas sambil tersenyum kearah Bolt dan Himawari. Disatu sisi dia masih harus berkonsentrasi untuk menyetir.

"KAMIII~"

"Siapa yang ingin lomba makan lagi?"

"KAMIII~"

Keduanya menjawab serentak sambil mengangkat tangan dengan antusias. Lagi-lagi ekspresi mereka lah yang berhasil membuat pria itu tertawa lepas.

"Baiklah, kalau begitu persiapkan diri kalian untuk petualangan berikutnya. Apa kalian setuju?"

"IYA, SERSAN~"

"Ahahaha~"

"Lain kali aku ingin lomba makan mochi, yah. Himawari pasti kalah." Bolt tersenyum penuh kemenangan berharap Himawari menciut. Namun sebaliknya, gadis kecil itu justru terlihat sangat bersemangat.

"Mochiii~ pasti kakak yang akan kalah lagi. Hahaha~ kakak kalah... kakak kalah... kakak kalah..." Si surai kelam menjulurkan lidahnya sebagai salah satu cara untuk membuat kakaknya semakin kesal pasca kekalahan lomba makan eskrim tadi.

"Ah dasar!"

"Hima kan suka makan mochi juga kak."

"Kalau begitu yang selanjutnya lomba makan telur gulung yang dicampur dengan daun seledri!"

"Yuucks, Kakak curang! Hima tidak mau."

"Hahaha makanya, jangan menantang kakak." Bolt tersenyum penuh kemenangan. Himawari memang sangat anti dengan daun seledri. Menantang adiknya makan telur gulung penuh dengan daun seledri sama dengan mempersembahkan kemenangan secara langsung untuk dirinya. Kekeke~

"Selanjutnya, Ayah yang akan jadi penentu menunya. Hahah kita tunggu saja, Oke?"

"OKE, SERSAN~"

Nah, lagi-lagi mereka memanggil Ayahnya dengan sebutan sersan.

Naruto menyetir dengan tenang. Biar sudah malam begini, tapi kota tempat tinggalnya masih saja ramai.

Satu tikungan dirinya lewati. Tinggal mengikuti jalan lurus sebelum sampai kerumah besar tempat tinggal mereka.

Sesuatu menarik perhatiannya dan kemudian membuat ia berdetak kencang. Pikirannya mulai bercabang diikuti dengan asumsi-asumsi yang ia bangun sendiri. Ada rasa takut mencuat pada permukaan hatinya.

Naruto memperhatikan pagar rumahnya yang terbuka lebar. Sebuah mobil lain terparkir didepan taman miliknya. Mobil yang ia yakini adalah milik Hyuuga Hanabi.

*つないだ手*

Naruto menghentikan mobilnya dan lantas mengisyaratkan Bolt dan Himawari untuk segera turun. Mereka juga terus bertanya tentang mobil tersebut dan justru membuat Naruto semakin bertambah cemas.

Tangan kokohnya menggenggam tangan Bolt dan Himawari kemudian membawa keduanya untuk segera masuk kedalam. Entah kenapa ketenangannya berubah drastis menjadi debaran kekhawatiran.

Pria itu membuka pintu yang sudah tak terkunci lagi.

Tatapannya membelalak sempurna. Dadanya berdebar semakin kencang. Dia yakini bahwa genggamannya pada kedua anaknya terasa bergetar sekarang.

.

.

.

"Hi..Hinata." Wanita yang ia panggil namanya berbalik menatap sosok yang kini masih berdiri didepan pintu rumah mereka.

"Hinata." Kembali, Naruto menyebut nama Hinata.

Wanita itu tidak memberi sedikitpun senyuman. Hanya saja bibirnya tampak pucat. Dia masih belum sembuh benar.

Pria itu tersentak kaget.

Rasa nyeri menyerang telak ulu hatinya ketika genggaman kecil yang sempat mengisi penuh tangannya perlahan terlepas. Kedua sosok kecil yang sempat berada disampingnya, berlari cepat kearah wanita yang tengah ia tatapi dalam dalam. Naruto membatu, menikmati sisa sisa kehangatan lembut yang sempat menjalari jemari kokoh yang ia memiliki.

Rasanya sesakit ini ketika Bolt dan Himawari pergi dari sampingnya.

Pria itu mengepalkan tangan. Menunduk lalu sesekali melirik kedua anaknya yang tanpa henti tertawa dan minta digendong oleh ibunya.

Mereka langsung berlari meninggalkannya ketika melihat sosok tersebut. Mereka pergi dari sisinya tanpa mengucapkan apapun. Mereka melepaskan genggaman tangannya. Mereka pergi. Ya, pergi.

Pun dia juga tidak mengerti kenapa waktu berjalan begitu lambat sekarang. Bukannya dia tak mau, hanya saja rasa sakitnya semakin bertambah jelas dan parah.

Sepasang manik abu abu rembulan yang lain hanya bisa menatapi sosoknya dengan sedih. Dia belum sempat menjelaskan keinginan lain kakaknya, tapi sang kakak sudah lebih dulu bersikeras ingin datang kerumah yang pernah menjadi saksi tawa dan kebahagian keluarga tersebut.

Dia tak berhak ikut campur.

Pria itu masih berdiri mematung. Nyawanya seperti terbang entah kemana. Harusnya kalau memang seperti itu yang terjadi dia takkan mampu merasakan apapun lagi. Tapi sebaliknya, denyut itu seperti tengah memborbardir habis rongga dada miliknya.

"Ibuuu~ Hahaha akhirnya Ibu pulang." Si kecil Hima masih belum mengerti dengan keadaannya. Yang gadis kecil itu tahu dia sangat bahagia sekarang. Kebahagiannya berlipat ganda untuk hari ini.

"Bu, malam ini kami ingin tidur bersama Ibu dan Ayah. Kemarin saat Ibu berada dirumah sakit, kami tidur dengan Ayah saja." Dia Hyperactive. Bolt - senyumannya mengembang. Walau terkadang keras kepala, dia menyayangi keluarganya lebih dari siapapun.

Harusnya suasana yang tercipta adalah kehangatan. Tapi ini sebaliknya.

"Kami baru saja pulang berpetualang dengan ayah. Sangat seru bu. Masih ada petualangan selanjutnya. Kapan-kapan kita pergi bersama ya?"

Masih tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Hinata masih setia dalam diamnya. Namun sentuhannya bergerak pelan mengusap surai buah cintanya.

"Tadi kak Bolt kalah dari Hima saat lomba makan eskrim bu. Hahaha kakak tidak bisa menang dari Hima."

Dia masih tetap diam.

Hinata juga tidak seperti biasanya. Dia tidak memberi senyuman lembut. Tatapannya kosong menatapi kedua anaknya yang selalu ceria.

Wanita itu melirik Naruto sesaat. Bahu tegap yang biasanya terlihat percaya diri itu seperti tak berkutik kali ini. Dia lemah.

"Ibu, kenapa diam saja?" Himawari hanya heran karena Ibu tidak pernah seperti ini kalau mereka sedang berbicara. Ibu pasti akan selalu menanggapi ucapan mereka walau ucapan tak penting sekalipun.

Hinata mensejajarkan tubuhnya dengan Bolt dan Himawari. Tidak ada yang berani buka suara. Benar benar sangat hening. Ia menatapi keduanya secara bergantian. Kalau boleh jujur hatinya sudah berteriak sadis.

Jemari lentiknya bergerak lemah untuk menyentuh pipi lembut putrinya. Tubuh Himawari terasa dingin. Jelas saja, putri kecilnya itu sudah berada diluar selama berjam-jam.

Himawari menatapi Ibunya dengan penuh tanda tanya. Sang Ibu masih sibuk meneliti wajah mungil tersebut. Menggosok lembut kulit tangan miliknya pada pipi lembut untuk mengingat setiap inchi pahatan indah didepan matanya.

Bibir mungil yang selalu berbicara dengan sangat menggemaskan. Mata yang sering kali berkaca-kaca untuk hal sepele sekalipun. Himawari yang sensitif dan Himawari yang cantik.

Tatapan polos yang tengah meminta jawaban dari Ibunya.

"Himawari, kau adalah putri kesayangan Ibu." Pelan namun menusuk. Pernyataan yang penuh dengan tanda tanya sebenarnya.

"Dan Bolt, sifat keras kepalamu itu kadang membuat Ibu kewalahan. Tapi itu justru menjadi bukti kalau Ibu tidak bisa jauh dari kalian." Tatapannya terlihat sangat dalam.

"Maksud Ibu apa bu?"

"Ibu kenapa?"

"Apa kalian sangat senang hari ini?"

"T-Tentu saja."

Baik Bolt dan Himawari, keduanya belum mengerti arah perbincangan ini.

"Nah, kalau begitu Ibu tidak bisa memilih salah satu dari kalian. Tapi Ibu harus melakukannya."

"Memilih salah satu? Siapa yang akan dipilih? Maksudnya apa bu? Memangnya Ibu akan kemana? Kita akan bersama disini." Hinata menatap lebih dalam wajah cantik putrinya. Kali ini pertahanannya runtuh tanpa sisa.

Sebuah pelukan possesive dirinya layangkan untuk Himawari. Putri kecilnya sangat membutuhkan dirinya. Dia sadar benar dengan kenyataan tersebut.

"Tapi akan lebih aman jika Hima tetap bersama dengan Ayah." Hinata menyesap aroma putri kecilnya. Mencium bahu kecil Himawari dengan tubuh yang juga sudah bergetar. Putri kecilnya yang sangat ia cintai, Himawari.

Belum mengerti dengan ucapan sebelumnya, Hinata kembali meracau dengan kalimat lanjutan yang membuat Himawari semakin kewalahan.

"Lalu kak Bolt, dia akan bersama Ibu untuk menjadi pelindung Ibu."

"Hima akan ikut bersama Ibu juga." Dia masih terlalu suci untuk masalah seperti ini.

"Himawari akan ikut Ayah sementara Ibu akan pergi dengan kak Bolt. Tinggallah dengan ayah ya, sayang."

Mencoba mencerna, Himawari masih belum mengerti sepenuhnya dengan ucapan Ibunya. Tapi ada perasaan yang memaksanya untuk menangis saat itu juga. Gadis kecil itu berlinang airmata mendengar pernyataan sang Ibu barusan. Dia ketakutan dan sangat sedih.

"Hima tidak boleh ikut dengan Ibu juga? Apa Hima nakal? Ibu kan juga akan disini." Wajah kecilnya merah padam. Perasaan takut yang muncul karena Ibu dan Kak Bolt akan pergi meninggalkannya.

Naruto tidak habis pikir dengan apa yang tengah Hinata bicarakan. Memilih salah satu? Himawari tetap tinggal dengannya sementara Bolt akan ia bawa? Apa apaan semua ini?

"Ibu akan kemana? Hima juga ingin ikut dengan Ibu. Kenapa Hima tidak boleh ikut?"

"Hima akan tetap bersama Ayah sementara kak Bolt akan bersama Ibu. Mengerti? Jangan jadi anak yang nakal ya. Hima akan lebih aman kalau tinggal dengan Ayah." Hinata mengecup dahi, kelopak mata, pipi, hidung dan seluruh wajah kecil Hinawari tanpa jeda. Putri kecilnya sudah sangat histeris karena takut ditinggal olehnya.

Bolt masih diam. Tapi dia mulai mengerti ada sesuatu yang terjadi antara Ayah dan Ibu. Seketika ingatannya kembali pada keadaan beberapa hari yang lalu. Jadi itu alasan kenapa Ayah tidak masuk kedalam ruangan Ibu saat mereka menjenguk Ibunya di rumah sakit. Ada masalah antara Ayah dan Ibunya.

Dirinya mulai mengerti sekarang. Apapun itu namanya, dia tidak ingin seperti ini.

"Tinggal dengan Ayah ya, Hima?"

"Tidak mau! Ibu juga harus disini." Gadis kecil itu bersikeras.

"Ibu akan pergi dengan kak Bolt." Nada suaranya masih rendah, tapi airmatanya sudah berjatuhan sejak tadi.

"Pokoknya Hima tidak mau!" Himawari menggerakkan tubuhnya dengan kesal saat Hinata kembali ingin memberikan sebuah pelukan.

"KENAPA HARUS MEMILIH UNTUK TINGGAL DENGAN SALAH SATU KALAU BISA TINGGAL DENGAN KEDUANYA? AKU JUGA TIDAK MAU!" Bolt berteriak keras sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Tubuhnya bergetar hebat dan tangisannya juga telah tumpah. Dia benci dengan situasi yang terjadi.

Padahal beberapa menit yang lalu mereka baru saja bersenang-senang dan menghabiskan waktu bersama. Kenapa sekarang harus dipisahkan?

"AKU INGIN TINGGAL DENGAN IBU. TAPI AKU JUGA INGIN BERSAMA DENGAN AYAH." Bolt masih bersuara lantang. Hinata sampai terkejut dibuatnya.

"Jangan memisahkan aku dan Himawari, bu." Putra sulungnya sampai mengemis pada Ibunya berharap ada perubahan pikiran yang akan terjadi.

Dia menatap Hinata dengan airmata yang terus meluncur berharap sang Ibu mengerti dengan perasaannya. Dia sedih kalau keluarganya harus terpecah.

Cukup sudah!

Naruto tidak bisa diam saja. Cukup sudah ucapan Hinata yang membuat kedua anaknya menangis hebat seperti ini.

Masalah yang terjadi harusnya mereka yang menyelesaikannya secara bersama. Tidak dengan melibatkan anak-anak untuk hal semacam ini.

"HINATA, HENTIKAN SEMUANYA! CUKUP!" Naruto berbicara dengan sangat keras. Teriakan yang semakin membuat Bolt dan Himawari menangis bertambah parah. Ini kali pertama mereka mendengar Ayah berbicara dengan volume suara sekeras itu kepada Ibu. Mereka takut.

Sosok itu berjalan cepat mendekati ketiganya.

"Jangan libatkan anak-anak dengan masalah ini. Mereka tidak mengerti apapun." Biru lautnya membesar sempurna. Dadanya terlihat naik turun.

Hinata berdiri perlahan. Airmatanya juga menetes perlahan.

Himawari mencari perlindungan dengan bersembunyi dibalik punggung kakaknya. Keduanya masih terisak.

Bolt sebenarnya tidak ingin menangis, hanya saja airmatanya mengalir tanpa bisa dihentikan. Dia adalah si sulung dan sedikit banyaknya dia lebih mengerti kondisi yang terjadi ketimbang Himawari.

Lelaki kecil itu menggenggam tangan sang adik yang ketakutan. Lengan yang lain dirinya gunakan untuk menghapus airmatanya dengan kasar.

Tidak bisa! Airmatanya tidak mau berhenti!

"Berhenti berpura-pura di depan mereka. Pekerjaan Naruto-kun jauh lebih penting dari pada mereka. Kehidupan pribadi Naruto-kun lebih berharga dari pada kami." Airmatanya berjatuhan. Bahkan untuk mengambil nafaspun terasa sangat berat. Tapi Hinata masih belum menyelesaikan kalimatnya. Suaranya serasa hilang, kerongkongannya seperti tengah dicekik oleh tali transparan tipis yang bisa membunuhnya kapan saja.

"Jangan hanya mengikuti keegoisanmu saja, Hinata." Pelan, namun menusuk. Ucapan Naruto kembali menyakiti hatinya.

"Masih lebih baik karena aku memberikan Naruto-kun kesempatan untuk memiliki salah satu diantara keduanya. Kalau aku mau aku bisa mengambil keduanya! Lalu siapa yang kau sebut egois, hah?"

Hinata tampak mengatur nafas.

"Mereka milikku! Kalau aku mau aku bisa mengambil mereka kapanpun. Karena aku adalah Ibunya. Aku yang melahirkan mereka."

Naruto masih menahan dirinya.

"Kalau ingin marah, marah padaku saja. Kalau ingin menghukumku, hukum aku. Anak-anak tidak seharusnya menyaksikan ini, Hinata."

"Biar saja, biar mereka tahu! Apa aku pernah mengeluh? Apa aku pernah memaksa ini dan itu padamu? Apa aku pernah tidak mengindahkan ucapanmu? TIDAK PERNAHKAN?"

Hanya diam. Pria itu bungkam.

"Aku sangat mencintaimu, Naruto-kun. Begitu juga dengan anak-anak. Aku memperjuangkan seluruh hidupku untuk mereka."

Lagi, tidak menjawab apapun. Dia lebih memilih diam. Naruto membisu.

Bertindak keras lagi pun percuma. Hanya akan semakin memperkeruh suasana. Biar bagaimanapun Hinata masih belum sehat sepenuhnya. Dia masih perlu istirahat dan menenangkan dirinya.

Naruto hanya ingin menyelesaikan masalah ini secara bersama. Tapi keputusan Hinata sangat tiba-tiba bahkan sebelum mereka sempat berbicara berdua.

"Kita selesaikan ini bersama. Tolong jangan libatkan anak-anak. Mereka tidak mengerti apapun." Naruto memohon dengan sangat. Suaranya melemah begitu juga dengan tatapannya. Dia putus asa.

"Aku sedang tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun. Aku sudah menahannya selama beberapa bulan terakhir tapi Naruto-kun tetap juga tidak mengerti. Rasanya benar-benar sangat sakit." Wanita itu menatap suaminya dengan airmata yang masih menetes.

Tangisan Bolt dan Himawari sudah pecah sejak tadi. Mereka tidak pernah menyangka bahwa orang tuanya akan menjadi seperti sekarang.

"Ini keputusan tengah yang aku ambil. Selagi aku menenangkan diri, aku ingin ada anak-anak disampingku. Aku pikir dengan membagi mereka dimasing-masing pihak akan menjadi sangat adil." Jemari lentiknya mencoba menghapus jejak airmata yang masih tersisa. Suaranya terdengar sengau.

"Kita harus menyelesaikan ini. Segera! Tidak perlu melibatkan anak-anak, Hinata. Sudah berapa kali aku katakan ini padamu. Aku akan jelaskan semuanya. Jadi berikan aku kesempatan untuk berbicara. Dan kumohon, jangan pisahkan mereka."

"Simpan saja dulu semua penjelasan Naruto-kun. Aku masih belum bisa menerima penjelasan apapun."

Keduanya berbicara dengan penuh penekanan disana sini.

"Sudah, tidak usah dilanjutkan lagi." Wanita itu menyudahi kalimatnya dan lantas menatap Bolt dan Himawari.

"Bolt, ikut Ibu!" Hinata melepaskan pelukan Himawari pada lengan sang kakak. Gadis kecil itu menangis semakin hebat. Dia sampai berteriak histeris. Tangisannya pecah tanpa bisa dikendalikan. Himawari jelas sangat terluka.

Naruto masih mencoba untuk menghentikan istrinya, tapi Hinata benar-benar sangat terluka karenanya. Dia seperti tuli akan perintah Naruto.

"HINATA, HENTIKAN!"

"IBUUU~ JANGAN PERGI~"

"IBUUU~"

"BOLT, JANGAN MEMBANTAH IBU!"

"KAKAK~"

.

.

.

.

TBC

Minna saaaan~ gomen updatenya lama :"") hiiikksss

Saya bener-bener lagi sibuk :"( Jadwal padat terus seriusan.

Ini juga curi curi ngetiknya :"(

Gomen kalau jelek, ngasal typos, dll kekurangannya. Saya ngebut soalnya. Kalau gak diupdate bulan ini, kemungkinan bakal digantung lagi sampai 2 bulan kedepan :")

Terimakasih banyak buat yang sudah baca, review, fav, follow, dan sebagainya terimakasih banyak :"3 dan juga buat yang udah repot-repot Nge PM saya buat ngelanjutin ini fic, makasih banyak. Aku sayang kaliaaaan :"D

Dan maaf lagi karena gak bisa bales review satu-satu :"( special thanks nya juga buat semuanya yang udah nyempatin buat singgah difiksi ini, makasih banyak yaaa *haguuu

Terimakasih Banyak~

11.52

09062015