MY HERO
.
.
YUNJAEYOOSUMIN
.
.
Sankyu buat dukungannya it mean a lot for me, kata yang dicetak miring menandakan self monolog atau biasa dikenal POV dan di FF ini hanya Jaejoong yang melakukan self monolog. Selamat membaca :D
.
.
*SEOUL HOSPITAL*
"Ngghhh…."
Aku melenguh dan menggerakan badanku pelan, seluruh tubuhku terasa kaku seperti sudah berabad lamanya tidak digerakan. Samar kudengar suara Umma yang memanggil namaku. Perlahan kucoba membuka mata meminimalisir cahaya yang masuk.
"Joongie? Joongie chagy kau sudah bangun sayang?"
"Joongie kau sudah sadar? Anak Appa sudah bangun?"
Omo, semuanya berkumpul disini? Umma, Appa, Jessie dan Minnie. Ah kepalaku pusing sekali, sebenarnya apa yang terjadi? Kejadian terakhir yang kuingat aku dengan berani oke ralat! Aku dengan bodohnya menerjang lelaki bermantel karena ia ingin menembak Presiden, lalu setelahnya? Aku lupa.
"Hei cantik bagaimana keadaanmu hm?"
"Jessie, apa yang terjadi denganku?" tanyaku lemah.
"Kau tertembak, lukanya mengenai lengan kananmu tapi kau baik-baik saja hanya diharuskan memakai gips untuk sementara"
"M-mwo? tertembak? tapi….ouch!"
"Yah! Jangan banyak bergerak dulu, bekas operasinya masih belum kering"
"Hyung, kau hebat sekali tertembak demi menyelamatkan Presiden kita, aku tidak menyangka hyung bisa melakukan sesuatu yang berguna"
Aku tidak mendengarkan ocehan Changmin, tangan kananku sakit sekali meski di gyps tapi nyerinya masih terasa.
"Suara apa itu diluar? ribut sekali" sayup-sayup aku menangkap suara yang entah darimana berteriak memanggil namaku.
"Kau benar-benar sudah menjadi pahlawan sekarang Joongie"
"Mwo? apa maksudmu Jess?"
"Kau sekarang sudah menjadi seorang bintang adiku sayang, mereka yang dibawah itu adalah penggemar-penggemarmu, kau dengar? Mereka memanggil manggil namamu sejak tadi"
"B-bintang? Jangan berbelit-belit Jessica"
"Im serious Jjong, you are famous now…kau sudah menyelamatkan seorang Presiden! Dan itu bukan penyelamatan yang biasa Kim"
Mwo? terkenal? Aku menjadi terkenal hanya karena menyelamatkan seorang Presiden? Hum ok baiklah, terdengar konyol.
CKLEK~
"Anyeonghaseo"
"A-anyeong Presiden Jung, si-silahkan duduk yah Minnie kau ambilkan kursi untuk Presiden"
"Aku tahu ini akan terjadi, Presiden Jung akan menjenguk Joongie…untung aku tidak salah kostum hari ini"
Kudengar Jessie mengoceh pelan. Aku sedikit terkejut dengan seseorang yang baru saja masuk ditemani beberapa pengawal pribadi, seorang wanita yang aku yakini adalah istrinya dan….si namja wajah kecil itu lagi?
"Silahkan duduk Jung sajangnim, apa ada yang anda perlukan lagi? apa anda mau secangkir kopi teh atau air putih?"
"Tidak usah repot-repot tuan Kim terima kasih, aku hanya ingin melihat keadaan pahlawanku…ah perkenalkan ini istriku Kim Tae Hee dan ini puteraku satu-satunya Jung Yunho"
Kulihat wanita cantik istri Presiden itu tersenyum ramah dan menjabat tangan Umma dengan sopan, dia benar-benar ibu Negara yang sempurna. Bagaimana tidak jika ia memiliki suami yang tampan, seorang Presiden yang dicintai rakyatnya dan anak yang tampan…wait? Aku bilang apa tadi? Oke anggaplah aku tidak mengatakan apapun di kalimat terakhir, ehem.
"Anyeong Jaejoong~ah, namaku Kim Tae Hee terima kasih sudah menyelamatkan nyawa suamiku, kau benar-benar seseorang yang sangat berani"
"A-anyeong Nyonya Jung"
Isteri cantik Presiden itu hanya tersenyum kepadaku, kulirik anaknya yang berdiri tepat dibelakang sang Umma malah terkikik, Ish pabo.
"Bagaimana keadaanmu? Kudengar operasinya berjalan lancar dan pelurunya sudah dikeluarkan, kau baik-baik saja?"
Aku mendudukan diriku di tempat tidur, tidak sopan jika aku berbaring di depan Presiden meski yeah tanganku masih terasa sangat sakit. Presiden Jung membantuku duduk dengan menopang tanganku yang satu lagi.
"Joongie kami sudah dioperasi dan pelurunya sudah diambil sajangnim, untung saja hanya mengenai tangannya, kami benar-benar khawatir saat pihak Rumah Sakit menelpon dan mengatakan bahwa Joongie tertembak" jawab Umma.
"Ne, aku juga sedikit terkejut saat salah satu pengawalku mengatakan ada warga sipil yang tertembak, saat itu aku tidak bisa langsung ke Rumah Sakit karena menurut staff keamanan Presiden ditakukan akan ada pemberontakan lain, maaf aku sedikit terlambat menjenguk Jaejoong"
"Tidak apa-apa Jung sajangnim justru kami yang tidak enak karena anda memiliki waktu untuk menjenguk Joongie kami"
"Dia adalah pahlwanku bagaimana mungkin aku tidak datang untuk melihat keadaannya"
"P-pahlawan?" tanyaku pelan
"Kau menyelamatkan nyawaku tentu saja kau penolongku Jaejoong~ah" ucap Presiden Jung ramah.
"Keunde aku tidak sehebat itu sajangnim, itu hanya kebetulan saja"
"Suatu kebetulan yang menyebabkan kau menjadi seorang pahlawan kalau begitu"
Oke cukup, sepertinya aku tidak bisa membantah lagi, aku seorang siswa kelas 2 SMA harus berdebat dengan seorang Presiden Korea, bodoh kalau aku melanjutkannya.
"Presiden Jung, memangnya siapa lelaki itu? kenapa dia berniat menembak anda? Lalu apa dia sudah ditangkap?" tanya Changmin menggebu.
"Lelaki itu adalah pemberontak sayap kiri, aku juga belum mendapatkan informasinya secara pasti karena dia masih belum mau membuka mulut saat diinterogasi, tapi menurut pihak keamanan lelaki itu berasal dari Korea Utara yang berniat melakukan pemberontakan disini, entah apa motifnya"
"Jeongmal? Benar-benar mengerikan, tapi syukurlah dia sudah tertangkap kalau tidak aku khawatir dengan nasib Joongie kami, aku takut ada yang membalas dendam"
"Hm, dia memang sudah tertangkap tapi kami yakin dia tidak bekerja sendiri, meski begitu kalian tenang saja, karena aku sudah menyuruh beberapa petugas untuk melakukan penjagaan di lingkungan rumah, sekolah dan Rumah Sakit, Jaejoong bisa dibilang adalah saksi kunci, karena itu penjagaan terhadap saksi akan diprioritaskan"
"Ne, kami sedikit khawatir bagaimana nasib Joongie nantinya, tapi jika sajangnim sudah mengatakan akan melindungi Joongie, aku lega mendengarnya" ucap Umma sambil mengusap kepalaku pelan.
"YAH! Lepaskan aku! Aku ini temannya Joongie aku ingin menjenguknya, YAH! AKU BUKAN TERORIS aish!"
"Su?"
"Joongie~ah, orang berjidat lebar ini melarangku masuk dia bilang aku teroris! Bagaimana mungkin aku teroris sedangkan aku sudah menjadi sahabatmu sejak kecil! Menyebalkan"
"A-ahjussi dia sahabatku namanya Kim Junsu dia bukan teroris, sungguh"
"Tapi prosedur penjagaan terhadap saksi harus tetap dijalankan Jaejoong~shi"
"Yuchun~ah, biarkan dia masuk"
"Eh? N-nde sajangnim"
"Wueeeeeee sudah kubilang padamu kan ahjussi jidat lebar aku ini temannya Joongie bukan teroris! Bagaimana mungkin aku bisa menjadi teroris dengan wajah imut seperti ini, ish pabo"
"K-kau"
"Wae?"
"Su sudah, kajja kemarilah"
"Joongie~ah bagaimana keadaanmu huh? Apa kau baik-baik saja? Bagian mana yang tertembak? Sakitkah?"
"Hum yeah beginilah"
"Syukurlah kau baik-baik saja Joongie, aku mencemaskanmu"
Aku tersenyum mendengar penuturan tulus Junsu, ia memang sahabat terbaik yang aku punya, tapi dibalik ketulusan hatinya sepertinya ia lupa menyapa seseorang yang ada di hadapannya, seseorang yang membuatnya menjadi fotografer dadakan karena kedatangannya di sekolah kami.
"Junsu~ah perkenalkan ini…"
"OMO! J-Jung sajangnim? Presiden Korea Selatan paling tampan sedunia? Omo…omo…."
Kulihat Presiden Jung tertawa kecil melihat tingkah terkejut Junsu, sedang si bebek tidak bisa berkata apapun selain mengeluarkan ponselnya dan memfoto Presiden tampan bersama dirinya -_-
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu maaf tidak bisa menemani terlalu lama karena ada beberapa hal yang harus saya kerjakan"
"Ah gwaenchana Presiden Jung, terima kasih sudah menjenguk Joongie"
Presiden itu mendekatkan tangan kanannya padaku dan mengacak rambutku pelan, geezzz dia memperlakukan aku seperti anak kecil.
"Cepat sembuh ne Joongie"
"Ne Jung sajangnim gomapda"
Keluarga Presiden Jung berpamitan dengan Umma, Appa Jessie Minnie dan Junsu, Umma Appa ikut mengantarkan keluarga Presiden keluar dari kamar rawatku, but wait kenapa anak Presiden ini masih ada didalam kamar?
"Oi, bagaimana keadaanmu? Tanganmu terluka kau pasti akan absen dari kelas melukis lagi hum?"
"Kau menyindirku?"
"Menyindir? Aku tidak menyindirmu, tanganmu terluka sudah pasti kau tidak akan masuk kelas melukis…lagi kan?" dia tertawa kecil, membuatku ingin menjambak rambut brunetnya.
"Joongie baby, aku harus pergi aku ada jadwal latihan cheer nanti malam setelah latihan aku akan menjengukmu bersama Siwon, aku sudah memberitahunya dan dia mengatakan maaf tidak bisa menjengukmu sekarang karena sedang latihan basket"
"Kau mau pergi Jess? sekarang? tidak bisakah kau ijin sehari? Adikmu ini sedang sakit"
"Mian honey lusa sudah pertandingan jadi hari ini adalah latihan terakhir…lagipula kau sudah ada pangeran tampan yang akan menemanimu disini jadi kau tidak perlu khawatir" dari lirikan matanya aku tahu si blondie ini sedang menggodaku.
"Jessie~"
See? dia malah menanggapinya dengan tertawa, tanpa menghiraukan tatapan mautku dia berpamitan kepada anak Presiden Jung yang aku lupa siapa namanya? Yunhi? Yunhu? Yuhu? Yahoo?
"Jessie noona tunggu aku ikut, hyung aku juga ijin ne aku harus kerumah Kyunie ada tugas kelompok dengannya, bye hyung, Yunho hyung aku permisi dulu ne"
Ah ne Yunho, itu namanya. Dan setelah semuanya pergi, hanya tinggal aku Yunho dan Junsu meski Junsu kini lebih sibuk menonton tivi karena ada pertandingan bola.
"Kau membolos eoh?"
Aku tidak menjawab, aku hanya melirik kearahnya sedetik kemudian ia tersenyum dan menarik kursi agar lebih dekat dengan ranjang kamar rawatku.
"Kejadian penembakan sekitar pukul 14:30 dan kau masih berada disana, itu artinya kau membolos, benarkan?"
"Itu bukan urusanmu"
"Ahahaha kau ini lucu sekali Joongie, irit sekali bicara, jarang tersenyum dan mudah sekali marah, benar-benar unik"
"Wae? Kau ingin bilang kalau wajahku seperti kartun lagi?"
"Tidak perlu kubilang kau memang seperti kartun"
Aku memberikan si anak presiden itu deathglare terbaiku, tapi dia tetap tertawa, ish menyebalkan!
"Ah ne aku lupa! Joongie~ah ini aku bawakan boneka gajahmu yang tertinggal dirumahku waktu kau menginap"
"Omo, Bunja! Hueeeeeee bunjakuuu aku kira kau hilang kemana, ternyata dirumah Suie eoh? dasar gajah nakal"
"Kau suka boneka?"
"Aku hanya suka gajah tidak suka boneka! heumm aniya aku juga suka hello kitty"
"See? Apa kubilang, kau benar-benar langka Jaejoong~ah"
"Yah! kau pikir aku ini panda yang harus dilindungi karena sudah langka?" sinisku
"Yep seperti itulah, kau benar-benar harus dilindungi karena kau sesuatu yang berharga dan langka"
Aku? Panda? Hewan bertubuh besar dengan lingkaran hitam disekitar matanya?! What the…? Hewan itu jauh lebih mirip Seungri daripada aku! Dan apa itu? dilindungi? Kenapa aku harus dilindungi? Oh Tuhaaannn kenapa aku harus bertemu orang ini!
"Joongie, aku lapar kau punya roti?"
"Coba kau lihat dilemari sebelah sana"
"Opsoyo, aku mau beli saja kau mau?"
"Ani"
"Hum baiklah, ah tuan tampan kau mau roti?"
"Tidak terima kasih" ucapnya masih dengan senyum ramahnya.
"Arraso, aku beli dulu ne Joongie"
Dan sekarang aku sukses berdua saja dengan anak presiden itu, kemana Umma dan Appa? Kenapa lama sekali, aish aku sungguh tidak nyaman dengan keadaan ini.
"Kau sudah makan? Apa kau butuh sesuatu?"
"Tidak ada"
"Atau kau mau minum? Susu jus air putih?"
"Aku tidak ingin minum Yunho~shi"
"Baiklah, kalau begitu apa yang kau mau? Katakan padaku"
"Aku mau kau diam, kau ini cerewet sekali"
"Aku punya mulut untuk bicara jadi untuk apa aku diam jika aku memiliki mulut"
Habis sudah kata-kataku untuk melawan si wajah alien satu ini, Ayah dan anak sama saja tidak pernah bisa dibantah.
"Ngomong-ngomong, kau berani sekali Joongie melawan penjahat itu, kau tidak takut?"
"Aku namja, apa yang kutakutkan?"
"Omo, benarkah kau namja? Aigooo kukira kau seorang yeoja Joongie~ah"
Sepertinya orang ini sangat suka aku mendeathglare-nya.
"Kau benar-benar menyebalkan!"
"Ahahahaha jinjja? Kau tahu baru kali ini ada orang yang mengatakan bahwa aku menyebalkan, karena biasanya mereka mengatakan aku orang yang ramah dan menyenangkan"
"Itu karena kau anak seorang Presiden jadi mereka memujimu"
"Hum, mungkin juga begitu, lalu kenapa kau tidak memujiku?"
"Apa yang harus kupuji darimu?"
"Apapun, hmmm misalnya aku tampan, baik hati, menawan"
"M-mwo? percaya diri sekali kau, aku tidak akan memujimu hanya karena kau anak Presiden negara ini"
"Benarkah? jadi kau akan memujiku kalau aku bukan anak Presiden?"
"Ck, kau bukan temanku jadi buat apa aku memujimu!"
"Kalau begitu kau mau menjadi temanku?"
Aku kembali meliriknya, si Jung berwajah kecil itu hanya tersenyum kearahku dan entah kenapa membuatku gugup hanya dengan senyumnya yang mengembang seperti itu. Sejenak ruangan kamarku terasa sunyi karena namja dia seperti sedang membalas pesan di Iphone-nya.
CKLEK~
Pintu kamar rawatku terbuka, nampaklah seorang perawat membawa nampan yang tertutupi kain putih, perawat itu sekilas tersenyum padaku. Saat penutup kain itu dibuka aku bisa melihat sebuah suntikan disana, hmmm sepertinya aku akan diberi obat lagi.
"Apa ini obat suster?"
"Ne Jaejoong~shi, ini sudah waktunya menyuntikan obat pereda nyeri untuk tanganmu"
"Hum baiklah, kebetulan sejak tadi lenganku berdenyut sakit sekali"
"Itu karena efek obat biusnya sudah hampir habis, karena itu harus disuntikan pereda nyeri ini"
Tepat saat suntikan itu akan mengenai selang infusku, Yunho menahan lengan suster perawat itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Suntikan apa ini?"
"I-ini suntikan pereda nyeri tuan, agar pasien tidak merasakan sakit di lengan yang baru saja di operasi"
"Kenapa bukan dokter Hankyung yang memberinya obat? Appaku hanya memberikan wewenang kepada dokter Hankyung"
"D-dokter Hankyung s-sedang mengoperasi seseorang j-jadi aku yang menggantikannya sementara"
"Kalau dokter Hankyung tidak ada maka dimana dokter Zhoumi?"
"I-itu"
"Yunho~shi, kau ini kenapa? suster ini ingin memberiku obat kenapa kau melarangnya?"
"Tidak, kau tidak boleh disuntik Jaejoong~ah yang berhak memberimu obat hanyalah dokter Hankyung dan dokter Zhoumi, kedua dokter itu adalah dokter pribadi Appaku" ucap Yunho tegas tanpa melihat kearahku sedikitpun, tatapan tajamnya hanya ia tujukan pada perawat yang wajahnya terlihat pucat itu.
"Suntikan itu pada tubuhmu"
"Eh?"
Aku dan perawat wanita itu sama terkejutnya, apa yang Yunho katakan barusan? Menyuruh perawat itu menyuntikan obatku ditubuhnya? Kau gila Jung!
"T-tapi…"
"Yunho! Kau ini kenapa? obat itu ditujukan untuk tubuhku bukan tubuhnya, kalau ada apa-apa bagaimana?"
"Analgesika tidaklah berbahaya jika digunakan dalam dosis yang benar, jadi….aku pikir perawat ini akan baik-baik saja Joongie"
"Yunho keunde…."
"Aku harus tahu apa yang ia bawa itu benar-benar obat atau…."
"Yunho kau berlebihan"
"Sudah kubilang kau harus dilindungi Jaejoong!"
Tatapan matanya sangat dingin saat memandangku, jujur membuatku sedikit takut.
"Sekarang suntikan obat itu ditubuhmu"
Suster perawat itu tidak menjawab, bisa kulihat ia dilanda kepanikan dan ketakutan yang luar biasa, si Jung satu ini sungguh keterlaluan! Bagaimana mungkin ia mengira bahwa perawat ini akan membunuhku?
"Ppaliwa!"
Kulihat perawat itu menggerakan tangannya, sepertinya ia akan menyuntikan jarum itu ke lengannya sendiri.
"Lakukan"
Perlahan, jarum itu benar-benar sudah akan menempel di kulitnya namun tepat pada saat itu.
BUAGH~!
Kejadiannya begitu cepat, entah kenapa perawat itu justru menyerang Yunho, dan dengan sigap Yunho menepis serangan perawat wanita yang oh gosh dia sangat pintar bela diri, wait ada apa ini sebenarnya?
"Ah"
Kudengar perawat wanita itu meringis saat Yunho memegang tangannya, namun ia tidak menyerah, kakinya ia gunakan untuk menendang Yunho keduanya bergulat diatas lantai sekarang dengan tubuh perawat itu yang mengunci pergerakan Yunho, eottoke? Apa yang harus kulakukan?
"Yun…Yunho ah"
Aku mencoba membantu Yunho namun aku tidak bisa menjaga keseimbanganku sehingga membuatku jatuh dengan tangan yang tertindih tubuhku, sakit sekali.
"Jaejoong~ah!"
Dengan cepat, Yunho membalikan keadaan, perawat itu kini sudah dalam posisi 'dikunci' oleh Yunho dan tepat pada saat itu.
"Yunho~shi?"
"Joongie!"
Junsu dan pengawal itu masuk kedalam kamar rawatku bersamaan, pengawal berwajah tampan itu membantu Yunho dan segera memborgol perawat palsu yang diyakini sebagai komplotan orang yang menyerang Presiden, dan Junsu membantuku berdiri.
"Jae, kau tidak apa-apa? Lenganmu bagaimana?"
Tanya Yunho khawatir saat aku sudah kembali berbaring di tempat tidur
"Yunho~shi maafkan aku, aku tadi sedang di ruang control untuk memeriksa kamera keamanan di rumah sakit ini"
"Tidak apa-apa Yuchun~ah, aku bisa mengatasi perawat gadungan ini sendiri, Kka kau bawalah dia"
"Ne Yunho~shi"
Kulihat namja pengawal itu menyeret sang perawat palsu keluar dari kamar rawatku, perawat itu seperti tidak menyesal sama sekali dia malah menatapku dan menyeringai kearahku, sedikit menakutkan.
"Joongie, kau tidak apa-apa? Lenganmu bagaimana? Akan kupanggilkan dokter"
Junsu dengan sigap berlari keluar untuk memanggil dokter, bisa kulihat kecemasan mewarnai kedua matanya.
"Benar kau tidak apa-apa?"
"Uhm! Gwaenchanayo, Yunho~ah siapa orang tadi? kenapa dia menyerangmu?"
"Sepertinya dia salah satu komplotan orang yang menyerang Appaku, aku sudah curiga padanya sejak ia datang, karena Appa menyuruh kedua dokter pribadinya-lah yang akan menanganimu secara total bukan perawat"
"A-apa dia datang untuk...membunuhku?" oke aku mulai merasa sangat takut sekarang
"Sepertinya begitu, tapi kau tenanglah kejadian ini tidak akan terulang lagi aku akan melakukan penjagaan ketat terhadapmu dan keluargamu"
"T-tapi kenapa mereka menyerangku? kenapa mereka mau membunuhku?"
"Karena kau adalah saksi kunci dari peristiwa penembakan itu Joongie, karena itu mereka ingin menghilangkanmu"
"M-menghilangkanku?" aku bergidik ngeri saat mengucapkannya.
"Ne, tapi tenanglah sekarang kau baik-baik saja"
Meski Yunho bilang aku akan baik-baik saja, tapi tetap dadaku berdegup kencang karena takut, aku merasa hidupku sedikit tidak aman sekarang.
"Ah"
Aku menatap Yunho, aku baru sadar bahwa wajahnya berkeringat seperti sedang menahan sakit dan itu, ada apa di pipi kanannya? apa itu...darah?
"Y-Yun pipimu berdarah"
"Hum? Benarkah? Kau tenang saja ini hanya luka kecil"
"Yunho tapi…aish dimana Junsu? memanggil dokter lama sekali"
Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, Yunho nampak meringis kesakitan dia mencengkram baju yang terletak disebelah kiri, itu berarti tepat di jantungnya dia merasa nyeri, tunggu dulu…apa yang terjadi padanya?
"Yunho…Yunho~ah!"
TBC
