Satu minggu yang lalu...
Kyungsoo memasuki kelas. Ia menatap seluruh penjuru kelas. Matanya berbinar saat melihat sahabatnya duduk di kursinya setelah seminggu absen karena sakit. Kyungsoo mendekati namja mungil yang memandang kosong kearah meja, sedang melamun. Setelah meletakkan tasnya ke mejanya, ia mendekati sahabatnya itu dan menepuk pundaknya.
"AKKHHH!"
Kyungsoo kaget melihat Baekhyun yang berteriak dan setengah meringis sambil memegangi pundak kanannya. Semua teman di kelasnya menatap kearahnya dengan penasaran dan heran. Mata Baekhyun terlihat berair, seperti ingin menangis. Tingkah Baekhyun sekarang seolah-olah membuatnya menjadi orang yang paling jahat sedunia. Padahal ia hanya menyentuh pelan pundak Baekhyun.
"M-maaf." Kyungsoo bergerak kaku. "Aku tidak tahu bahumu sedang sakit."
Baekhyun meringis. "Tidak apa." Ia sedikit tersenyum untuk menenangkan Kyungsoo yang khawatir.
Kyungsoo menarik kursinya dan duduk didekat Baekhyun. "Ngomong-ngomong, kau sakit apa seminggu ini? Bahumu kenapa? Lalu, pipimu... itu bekas luka kan?"
Baekhyun tersenyum. "Hanya tersandung."
Oh ayolah, orang bodoh mana yang mempercayai perkataan Baekhyun sekarang?
Kyungsoo berpikir sesaat sebelum akhirnya terbesit suatu pemikiran. "Kau ikutan tawuran dengan Chanyeol ya?" Tubuh Baekhyun menegang, dan Kyungsoo mengerti. "Aku benar?"
"Tidak... aku... tidak mungkin." Baekhyun kembali memamerkan senyumannya. Kyungsoo menatap tak percaya. Baekhyun akhir-akhir ini sering menyembunyikan masalahnya. Sebenarnya Kyungsoo tidak ingin ikut campur dengan masalah Baekhyun, namun melihat kondisi Baekhyun terutama bahunya yang jika disentuh membuatnya menjerit itu membuatnya sangat khawatir.
"Kau ikut tawuran atau dijadikan sandera?" Kyungsoo berbisik, agar tidak ada yang mendengar. Baekhyun menghela nafas. Ia tidak bisa menyembunyikan masalahnya sekarang, karena mentalnya sedikit terguncang dan ia membutuhkan teman berbagi.
"Disini terlalu ramai, kajja." Baekhyun berdiri dari kursinya dan keluar dari kelas. Kyungsoo mengikutinya. Ketika Baekhyun keluar dari kelas, ia mematung. Tubuhnya membeku melihat pria bersurai merah yang berdiri ditengah-tengah koridor. Pandangan mereka bertemu, cukup lama hingga Baekhyun memalingkan wajahnya segera. Detak jantungnya mulai berdetak tak karuan. Sekelebat ingatan buruk pada malam itu kembali terkenang, terutama ekspresi kenikmatan pria itu saat menyiksa seseorang.
Baekhyun tak tahan lagi. Ia segera melangkah pergi, namun baru dua langkah, Chanyeol berhasil menggapainya. "Baekhyun!" Baekhyun terhenti tanpa mau menatap Chanyeol. "Gwencana?"
Baekhyun mengangguk. Ia melepaskan secara halus tangan Chanyeol di lengannya. "M-maaf ya, aku ada urusan dengan Kyungsoo sebentar. Kita... bicara lagi nanti." Baekhyun tersenyum pada Chanyeol dan menatap Kyungsoo yang memperhatikan mereka sedari tadi. "Kajja, Soo."
Chanyeol hanya diam. Ia menatap punggung mungil itu hingga menghilang diujung koridor. Ia menarik nafas, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
Chanyeol tahu.
Baekhyun sedang menghindarinya.
.
.
.
"Irene... yang melukaimu?"
Baekhyun mengangguk lemah. Kyungsoo menatap tak percaya. Ia mendengarkan semuanya. Irene adalah sahabat Baekhyun dan Kyungsoo. Sejak mereka memasuki SMA, mereka selalu bertiga kemanapun. Saling bercanda, saling membantu, menghabiskan waktu bersama, dan hal lainnya. Namun semenjak mereka berpisah kelas, Baekhyun dan Kyungsoo jarang menghabiskan waktu bersama Irene lagi, meskipun begitu mereka saling bertegur sapa dan sering bercanda gurau jika bertemu. Sejak saat dimana Chanyeol berpacaran dengan Baekhyun adalah awal dari kejanggalan Baekhyun terhadap Irene. Ia sering mendapat tatapan sinis dari teman-teman Irene, meski Irene selalu tersenyum padanya. Disaat itu juga, Irene kembali akrab dengannya dan sering bersamanya. Terlebih ketika ada Chanyeol, Irene akan terlihat lebih bersemangat dari biasanya.
Puncaknya adalah malam dimana Baekhyun diajak Irene untuk menemaninya bertemu dengan temannya. Itu hanyalah alasan untuk menjebak Baekhyun dan membiusnya. Dengan lelaki bayarannya, Irene melokasikan kegiatan menyiksa Baekhyun di bangunan tua yang Baekhyun sendiri tidak tahu lokasinya. Disitulah Baekhyun mengetahui kenyataan pahit bahwa sejak ia berpacaran dengan Chanyeol, semua sikap Irene kepadanya hanya sebuah sandiwara untuk merebut Chanyeol. Baekhyun merasa dikhianati. Ia sudah menganggap Irene sebagai salah satu keluarganya, tetapi hubungan persahabatan dan kekeluargaan yang dibangun selama ini bisa sirna hanya karena masalah cinta. Irene sudah muak saat melihat Chanyeol hanya tersenyum kepada Baekhyun, hanya menatap Baekhyun, hanya kepada Baekhyun sikapnya sangat berbeda. Sebagai pengagum rahasia, Irene merasa cemburu. Kecemburuannya semakin berkobar, tatkala menyaksikan kissing scene antara Baekhyun dan Chanyeol di Taman Kota Seoul.
Irene membencinya, menghinanya, mengutuknya, dan menyakitinya. Berbagai hal mengerikan ia lampiaskan rasa sakit hatinya pada Baekhyun, mulai dari menggores kulitnya dengan pisau, mengoyak pakaiannya, memukul tubuhnya dengan benda keras. Baekhyun tidak pernah menyangka gadis yang cantik dan polos serta ceria itu bisa menjadi sosok yang tidak berperikemanusiaan.
Rasa sakit dibahunya ia dapatkan ketika mencoba melawan dengan menghantamkan kepalanya ke dagu wanita itu dan melarikan diri. Tanpa berperasaan, wanita itu melemparkan kursi besi yang ia duduki tadi tepat ke pundaknya sehingga membuatnya jatuh pingsan. Setelah ia bangun, wanita itu ingin melemparinya dengan batu dan juga berhasil menggores kulit di tulang hulu kirinya dengan pen tato yang untungnya berhasil Baekhyun tendang cukup jauh dari mereka.
Keadaan yang kacau seperti itulah, Chanyeol muncul. Menatap Baekhyun yang sangat kacau, membuatnya murka. Disaat itulah Baekhyun mencari tempat bersandar dan memeluk lututnya, ketakutan dengan rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya. Chanyeol yang menjadi tak terkendali dan menikmati penyiksaan itu.
Baekhyun menatap langit. Mereka kini berada di atap sekolah. Kyungsoo masih terdiam, dan Baekhyun kembali mengenang masa paling mengerikan di hidupnya itu. Setelah ia menangis dipelukan Chanyeol, ia diantar pulang oleh Chanyeol. Baekhyun tinggal dengan Paman dan Bibinya yang saat itu sedang berada di luar kota karena bisnis keluarga Byun. Orangtua Baekhyun sudah meninggal, dan ia dititipkan ke Paman dan Bibinya. Baekhyun pun tidak sekolah selama seminggu untuk memulihkan kondisi fisik dan mentalnya. Bahkan mencari banyak alasan agar siapapun tidak menjenguknya, entah itu Kyungsoo, Sehun, maupun Chanyeol.
Sejak saat itu, Baekhyun memiliki trauma. Ia sedikit takut jika tubuhnya dekat dengan benda tajam, mengingatkannya pada insiden dirinya disiksa dan hal-hal yang berbau kekerasan fisik. Baekhyun juga merasakan gejala yang sama saat ia melihat Chanyeol. Meski rasa cintanya kian tumbuh, namun rasa takutnya lebih besar. Baekhyun tak sanggup.
"Maafkan aku Baekhyun, aku mungkin tidak punya hak untuk mengatakan ini, tetapi sepertinya kau harus menjauhi Chanyeol." Kyungsoo menatapnya cemas. "Dia itu berandalan kuat, jago berkelahi, tentu saja memiliki musuh. Jika kau semakin dekat dengannya, kau juga akan dalam keadaan berbahaya. Salah satu contohnya adalah yang kau alami baru-baru ini. Aku—"
Kyungsoo terdiam saat Baekhyun memeluknya. Tubuhnya bergetar. Kyungsoo paham. Yang memiliki rasa takut terbesar diantara mereka adalah Baekhyun. Kyungsoo sendiri mungkin tidak akan sekuat itu menghadapi hal yang Baekhyun alami. Yang dilakukan Irene keterlaluan. Itu sudah merupakan perilaku tak manusiawi lagi. Kyungsoo ingin menangis juga rasanya membayangkan beban yang ditanggung oleh sahabatnya ini.
"...Soo, rahasiakan ini dari Sehun, ne?"
Kyungsoo menghela nafas. "Baiklah." Tangan Kyungsoo terulur mengelus punggung sahabatnya. "Kau sangat berharga bagiku dan Sehun, Baekhyun. Aku berpendapat lebih baik menjauhkan dirimu dari sumber bahaya, tentu saja jika Sehun ikut berpendapat, ia akan setuju padaku. Tetapi keputusan tetap kau yang memilih." Kyungsoo menatap langit biru diatasnya. "Pilihlah pilihan yang membahagiakanmu, Baek."
Baekhyun mengangguk kecil.
.
.
.
Lima hari yang lalu...
Baekhyun mendongak, menatap buku-buku di rak itu. Baekhyun sedang berada di perpustakaan. Ia disuruh Kim seongsanim untuk mencari buku penelitian untuk tugasnya yang tertinggal selama beberapa hari ini di perpustakaan.
"Oh!" Baekhyun menemukannya. Ia hendak mengambil buku tersebut, dengan mengangkat tangannya. Namun nyeri pada bahu kanannya membuatnya tak bisa beraktivitas bebas. Baekhyun pun menggunakan tangan kiri untuk mengambil buku yang berada satu jengkal dari tinggi tubuhnya, namun tangan lain mengambil buku tersebut dan menyerahkan buku itu padanya. Baekhyun mengerjap.
"Taehyung?"
"Tidak biasanya aku melihatmu di tempat busuk seperti ini." Senyuman yang khas dan manis terpampang di wajahnya. "Apa kepalamu terbentur sesuatu?"
Baekhyun mengambil buku itu. "Kau sendiri sedang apa di tempat busuk ini? Apa rasa bencimu pada buku benar-benar menghancurkan pikiranmu?"
"Maksudmu?"
"Tempat busuk ini adalah gudang ilmu. Sumber dari kenapa kau bisa bicara dengan lancar sekarang. Jadi berhentilah mengatai perpustakaan sebagai tempat busuk."
Baekhyun berjalan menuju penjaga perpustakaan untuk mencatat buku yang ia pinjam. Taehyung mengekorinya. "Terserah saja." Taehyun ikut berhenti saat Baekhyun berhenti untuk mencatat bukunya. Setelah selesai, ia melanjutkan perbincangan. Mereka berjalan berdua di koridor, menuju kelas. "Kudengar kau sakit selama seminggu ya?"
"Tahu darimana?"
"Dari Junni, teman sekelasmu."
Baekhyun mengangguk. Gadis itu adalah salah satu komplotan gadis-gadis penggosip, jadi ia maklum saja.
"Oh ya, Baekhyun. Kau tampan hari ini."
Baekhyun berhenti dan menghela nafas. Ia menatap Taehyung yang menatapnya dengan tatapan tak berdosa. "Apa maumu?"
Taehyung menyengir ria. "Inilah kenapa aku menyukaimu, Baekhyun. Kau bisa mengerti diriku, hahahha!"
"Bukan mengerti, tetapi aku hafal dengan sikapmu yang jika memujiku pasti menginginkan sesuatu."
"Baiklah, aku tak akan beralasan lagi." Taehyung menangkup kedua tangannya didepan dada. "Tolong, bantu aku mengerjakan tugas Kim seongsanim. Kau tahu kan, aku paling benci dengan buku, aku ingin kau menjadi tutorku sementara, karena memahami perkataanmu lebih mudah dibanding Kim seongsanim." Taehyun menatap memohon. "Aku akan melakukan apapun yang kau minta setelah itu, seperti yang kita lakukan saat kita sekelas waktu kelas XI-1. Yaaaa?"
Baekhyun mendengus. "Terserah." Ia memilih menyerah, karena ia tahu Taehyun tetap akan membujuknya meski ia menolak. Jika ditolak, Taehyung akan berusaha untuk membujuknya lagi dan lagi dan hal itu mengganggunya.
Taehyun tersenyum ceria. Lalu mengejar Baekhyun yang pergi mendahuluinya.
Mereka tak menyadari sepasang mata tajam yang menatap mereka sedari tadi dengan pandangan misterius. Ia mendrible bola, lalu melemparkannya sembarangan dengan kuat. Alhasil mengenai Sehun yang kebetulan lewat dengan membawa tumpukan buku milik teman-temannya sehingga terdorong kaget membuatnya melepaskan seluruh buku di tangannya. Sehun menggeram kesal karena ia harus membereskan buku-buku ini tanpa tahu siapa pelaku yang melemparkan bola itu.
Terkutuk si pelempar bola!
.
.
.
Buk!
Baekhyun meringis saat punggungnya menghantam dinding. Ia menatap pria bersurai merah didepannya yang menatapnya sangat intens, mengurung tubuh mungilnya diantara lengan kokohnya. Mereka kini sedang berada di ujung koridor yang jauh dari kelas. Baekhyun awalnya berniat menuju toilet, dan secara tak sengaja berpapasan dengan Chanyeol. Ia pun diseret kesini, tempat yang cukup sepi dan tak terlihat. Baekhyun sedikit takut. Ia memejamkan matanya ketika sepintas kenangan berputar dipikirannya. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir rasa takut itu. Ia kembali menatap Chanyeol yang sama sekali tidak mengubah pandangannya.
"Ada apa denganmu, Chanyeol?" Baekhyun mengepalkan tangannya. "Biarkan aku pergi."
"Kenapa kau menghindariku?"
Baekhyun membisu. Tatapan Chanyeol benar-benar membuatnya terintimidasi, dan perkataannya benar-benar membuatnya tersentak. Selama ini dia selalu menghindar untuk berinteraksi dengan Chanyeol, dan selama itu pula Chanyeol membiarkannya. Namun sepertinya kali ini Chanyeol tidak bisa menahan kesabarannya.
"Aku tidak—"
"Aku benci kebohongan, kau tahu kan?"
Baekhyun menggigit bibirnya. "...ya."
Chanyeol tetap menatapnya, menusuk matanya dengan tatapan tajamnya. Baekhyun memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan Chanyeol. "Apa karena aku terlalu jahat? Kau takut padaku?"
Baekhyun semakin menggigit bibirnya. Ia memilih diam. Chanyeol semakin mendekatkan wajahnya. Sangat dekat hingga Baekhyun bisa mendengar nafas halus Chanyeol. "Kau... tidak berniat meninggalkanku kan?"
Seolah sebuah pukulan mengenai ulu hatinya. Baekhyun menegang. Chanyeol menyadarinya. "A-ah... kau benar-benar ingin mengakhirinya."
"TIDAK!" Baekhyun menatap penuh emosional terhadap Chanyeol. "Aku tidak ingin mengakhirinya, aku mencintaimu Chanyeol." Baekhyun meremas bagian seragam Chanyeol dan menyandarkan keningnya ke dada bidang pria itu. Ia menahan perasaannya yang mulai tak karuan. Baekhyun selalu menahannya selama ini, dan ia sudah lelah.
"Kau benar, aku menghindarimu, aku takut padamu. Kejadian itu meninggalkan bekas yang menyakitkan untukku. Aku... aku benar-benar takut." Semakin lama suara Baekhyun semakin lirih. "Aku juga tidak suka kalau kau menyakiti temanku, Chanyeol." Baekhyun terkenang dengan Irene. "Itu kejam."
Pelukan hangat menyelimuti tubuh Baekhyun, Chanyeol beralih memeluknya. Baekhyun tidak menolak. Ia memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh Chanyeol yang seolah membuatnya candu.
"Kau tahu, Baekhyun? Ada satu hal yang paling kutakuti, kubenci, dan kucintai di dunia ini." Suara berat Chanyeol berbisik tepat di telinganya. "Yang paling kutakuti adalah kau yang meninggalkanku, yang paling kubenci adalah saat kau menjauh dariku dan ada orang yang menyentuhmu. Aku bisa sangat kecewa dan marah jika hal itu terjadi." Chanyeol semakin mempererat pelukannya. "Dan yang paling kucintai adalah kau. Tidak ada yang lebih penting selain kau, Baekhyun."
"Kau berlebihan, Chanyeol." Baekhyun tersenyum kecil. Meski ia terkesan menolak semua gombalan Chanyeol, tak dapat dipungkiri bahwa ia sangat senang mendengarnya. Ia ikut mempererat pelukannya.
"Aku serius." Chanyeol memejamkan matanya, menikmati kerinduan mereka setelah beberapa hari berada dalam kondisi konyol dengan 'menghindar-dan-membiarkan' satu sama lain. "Jika aku sangat kecewa dan marah, kau akan melihat sisiku yang paling buruk. Jadi kumohon satu hal padamu, jangan membuatku kecewa."
Didalam hatinya, Baekhyun benar-benar tidak ingin mengecewakan Chanyeol, bahkan membuatnya bersedih sekalipun, meski mustahil rasanya jika Baekhyun bisa melihat Chanyeol bersedih. Bagaimanapun, Baekhyun yakin, kebahagiaannya adalah jika bersama Chanyeol.
"Aku tak ingin membuatmu kecewa. Tetapi berjanjilah untuk tidak menyakiti siapapun lagi."
"Apapun untukmu." Chanyeol melepaskan pelukannya. Ia tersenyum dan mengacak rambut Baekhyun. Baekhyun pun ikut tersenyum manis.
"Aku sangat mencintaimu, Baekhyun."
.
.
.
Kemarin...
"Baekhyun! Hari ini kau berjanji akan menjadi tutorku kan?"
Baekhyun meneruskan perjalanannya menuju pintu gerbang sekolah. Ia kali ini mencuekkan Taehyung, karena ia sedang malas bicara sekarang. Hari ini ia tidak menemukan sang pujaan hati, alias Chanyeol. Pria itu sibuk mengikuti seleksi untuk pertandingan basket antar sekolah. Baekhyun jadi merindukannya.
Jika dipikir-pikir, Chanyeol itu unik juga. Menyeramkan, menakutkan, namun tetap menyalurkan bakatnya selain tonjok-tonjokan, dan tentu saja mampu membuatnya jatuh cinta.
"Taehyung!" Yeonji berteriak dikejauhan. Taehyung menoleh. "Jadi tidak pergi bersamaku?"
"Lain kali saja ya! Daaa! Kajja, Baekhyun!" Taehyung langsung menarik Baekhyun. Baekhyun langsung kaget, dan segera menyamakan langkahnya.
Yeonji menggelengkan kepalanya. "Bocah itu menyebalkan." Ia melirik Anna. "Ya sudah, kita saja yuk." Kedua gadis itu beranjak meninggalkan sekolah. Beberapa detik setelahnya, pria bersurai merah muncul dengan memegang kaos basket dan menyampirkan sebelah tali tas ranselnya dibahu kanannya. Ia melihat Baekhyun tadi dari kejauhan. Pria manis itu pasti merajuk karena Chanyeol tidak bisa bertemu dengannya sejak pagi tadi. Oh, bagaimana mungkin seorang Park Chanyeol lebih takluk pada basket dibanding Baekhyun? Hobi memang mengalahkan segalanya.
"Aku harus mengejarnya."
.
.
.
"Berhenti, Taehyung!"
Taehyung berhenti, dan Baekhyun langsung mengontrol nafasnya. Pria ini benar-benar menyebalkan. Seenaknya saja menariknya dan mengajaknya berlari. Baekhyun mendengus. "Kau ini apa-apaan sih?"
"Kau kan sudah berjanji, hari ini kau akan menjadi tutorku." Taehyung mengerucutkan bibirnya, kesal. "Jadi tepati janjimu dan ajari aku."
Baekhyun berdecak sebal. "Iya iya aku tahu! Malam ini kau ke rumahku dan aku akan mengajarimu. Puas?"
"Ne!" Taehyung tersenyum. Tiba-tiba ia merasa ponselnya bergetar, ada yang menelpon. Ia segera mengangkatnya. "Eomma?—Oh ne!—Siap! Aku segera kesana." Taehyung mengakhiri panggilan dan menatap Baekhyun. "Aku harus pergi."
"Ya sudah, pergi sana."
Taehyung mengangguk. "Ah, sebelum itu,"
Gerakan yang begitu cepat. Taehyung mengecup keningnya, membuat Baekhyun melongo. Pria itu menyengir ria. "Salam perpisahan~ Sampai ketemu, Baek~" ia lalu berlari meninggalkan Baekhyun.
"Aish, sialan anak itu." Baekhyun mendengus dan mengusap keningnya, menghapus kecupan menjijikan itu. Taehyung memang suka bercanda dengan cara tak senonoh. Hal yang menjengkelkan baginya dari seorang Kim Taehyung.
Baekhyun meninggalkan tempat itu, tak menyadari sosok lain yang memandang kearah Taehyung pergi dengan tatapan berkilat marah.
.
.
.
Jalan rumahmu yang mana ya? Aku di depan toko butik CX. :D
Baekhyun mendengus. "Pasti dia lupa jalan rumah ini." Pria manis itu mengambil jaketnya dan segera menyusul menuju lokasi yang ia ketahui. Baekhyun berlari kecil menuju gerbang gang rumahnya, berbelok ke kanan melewati tiga gang kompleks lain, lalu menyebrang melalui zebra cross dan berbelok ke kiri. Ia berhenti tepat didepan toko butik CX, namun ia tak menemukan Taehyung disana.
"Kemana dia?" Baekhyun kebingungan. "Kenapa bocah itu tidak menunggu saja di depan butik CX sih? Sudah tahu dirinya tidak tahu jalan rumahku."
Bzztt...
Baekhyun berhenti dan melihat pesan baru di ponselnya.
q sdg brsm preman. gg sempit dkt butikCX. Jgn ksni, brbhya. Tlg telp polisi or q mti. Serius.
Apa lagi ini? Baekhyun menjerit dalam hati. Tulisan alay dan banyak singkat. Baekhyun pusing. Baekhyun membaca lagi dengan cermat, dan akhirnya ia mengerti. Taehyung dalam bahaya. Ini mengkhawatirkan. Untuk jaga-jaga, Baekhyun segera mencari nomor kontak polisi di kota yang pernah ia simpan dan segera menelponnya.
"Yoboseyo?"
.
.
.
Jalan rumahmu yang mana ya? Aku di depan toko butik CX. :D
Taehyung menghela nafas. Betapa bodohnya ia melupakan alamat rumah Baekhyun. Ingatannya sungguh payah. Mungkin itu sebabnya teman-teman sering mengatainya bodoh.
Tap.
Taehyung menatap pria didepannya, berdiri dengan tatapan tajam, melirik kearahnya. Ia mengenal orang ini. Surai merah itu... Park Chanyeol.
"Chanyeol-sshi?" Taehyung menahan rasa takutnya. Siapapun di sekolah sangat mengenal Park Chanyeol. Tentunya tidak ada yang berani coba-coba untuk adu kekuatan dengannya. Namun, melihat Chanyeol yang tiba-tiba muncul dihadapannya, perasaannya mulai tidak enak.
"Ikut aku."
"Ya?" Taehyung bingung. "Kemana?"
"Ikut saja dan jangan mencoba kabur." Chanyeol menyahut dingin dan berjalan mendahuluinya.
"Ah," Taehyung menggaruk kepalanya. "Baiklah, tetapi aku ada janji dengan seseorang, jadi kita harus cepat ya, Chanyeol-sshi."
Chanyeol tak menyahut. Taehyung masih memegang ponsel, dan belum keluar dari kolom chat dengan Baekhyun. Dengan gesit dan tanpa menimbulkan curiga, ia menggerakkan jempolnya. Ia menarik nafas dan mengikuti Chanyeol. Disini sangat ramai, dan untuk berbicara dengan seorang Park Chanyeol, pastinya memerlukan tempat terdekat yang sepi.
Sekarang, ia hanya bergantung pada keberuntungan, apakah polisi lebih dulu menemukan mereka atau ia akan merengang nyawa dihadapan Chanyeol. Karena sedikit banyak, ia tahu apa yang membuat Chanyeol terlihat menahan amarahnya sekarang. Dan ia juga tahu seperti apa karakter Park Chanyeol. Taehyung sangat yakin bahwa Chanyeol tak akan melepaskannya jika ia kabur.
Taehyung serasa ingin menangis, ia takut sekarang, tetapi ia adalah seorang namja. Chanyeol tidak pantas untuk ditakuti. Taehyung sedikit menyesali kenekatannya tadi sore. Ia pikir Chanyeol tidak akan mengikuti Baekhyun pulang karena sibuk dengan basketnya.
Sialan.
.
.
..
Monster
[unixiunix]
..
.
.
Sekarang...
"Baek—"
"GYAAAAAAAAA!"
Kyungsoo melotot padanya. "K-Kau hobi sekali berteriak sih?"
Baekhyun menenangkan deru nafasnya. Ia memukul Kyungsoo. "Ck, kupikir siapa!" Baekhyun menatapnya heran. "Bukannya... kau menjenguk Taehyung?"
"Nanti saja, aku juga sedang tidak enak badan." Kyungsoo tersenyum kecil, dan Baekhyun tahu itu hanya sebuah alasan. "Oh ya, aku ada kabar buruk untukmu, dan untungnya aku masih bisa mengejarmu."
Baekhyun menahan nafas. "Apa itu?"
"Ini mengenai Chanyeol." Baekhyun menegang untuk kesekian kalinya jika nama tersebut disebut. "Aku tadi melihat beberapa polisi datang ke sekolah dan secara tak sengaja mendengar bahwa Chanyeol ditahan di penjara karena terlibat kasus penyiksaan. Yang secara otomatis—"
"—dia dikeluarkan dari sekolah." Baekhyun menyambung ucapan Kyungsoo dan Kyungsoo mengangguk. Baekhyun terdiam lalu menghela nafas. "Aku pulang dulu."
"Kau... tidak mau mengunjunginya?"
Baekhyun memejamkan matanya. Ia merasa lelah seharian ini. "Aku akan memikirkannya nanti."
Sejujurnya, ia takut dan tidak siap untuk bertemu Chanyeol dan melihat wajahnya. Karena secara tidak langsung, insiden kemarin membuat mereka mengingkari janji masing-masing. Dimana Baekhyun yang tak ingin membuat Chanyeol kecewa, dan Chanyeol yang tidak boleh menyakiti teman Baekhyun. Mereka saling berkhianat dan ini hal yang tak bagus. Ditambah Chanyeol yang kembali mengulang kesalahan yang sama, memicu rasa trauma Baekhyun kembali hadir terhadap sosok Chanyeol.
Baekhyun menggigit bibirnya. Ia lelah, lelah dengan semua perasaannya, dengan sikap Chanyeol yang kejam, dengan dirinya yang kebingungan untuk memilih. Baekhyun mengedipkan matanya beberapa kali saat pandangannya mulai mengabur. Terlintas wajah terakhir Chanyeol yang untuk pertama kalinya menatapnya dingin dan penuh kekecewaan. Chanyeol membencinya. Baekhyun lebih baik menjauh saja agar dirinya tenang dan agar Chanyeol tidak menyakiti orang lain lagi.
Baekhyun rasa, hubungan mereka berakhir sampai disini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua tahun kemudian...
Suara alarm terdengar nyaring, mewarnai kesunyian malam di kota Seoul, terutama di kamp penjara di pinggir kota Seoul. Para penjaga berkeliaran, saling memanggil rekannya, dan beberapa membawa anjing pelacak untuk mencari penghuni kamp penjara Seoul yang melarikan diri.
"Tahanan 61-39098893 melarikan diri, over."
Derap langkah kaki menemani suasana kamp pada tengah malam ini. Kim Seun kebingungan. Ia adalah pegawai baru, dan ia tidak tahu siapa saja penghuni disini. Kim Seun segera mencari buku penghuni kamp. Kamp penjara ini adalah suatu tempat di pinggir kota Seoul yang dijadikan tempat khusus untuk menahan warga masyarakat kota Seoul yang dianggap membahayakan keamanan kota Seoul. Tempatnya cukup terpencil dan keamanannya sangat ketat. Namun sepertinya kali ini salah satu tahanan disana mendapat reward karena menjadi penghuni pertama yang mampu melarikan diri dari penjara itu.
"Tahanan 61-39098893... 61-39098893... 61-39098893... oh!"
Kim Seun membaca dokumen tersebut.
61-39098893
Nama
Park Chanyeol
Umur
20 tahun
Riwayat kasus yang dimiliki
Pada umur 18 tahun, melakukan kekerasan fisik terhadap teman sekolahnya (direhabilitasi).
Pada umur 19 tahun, terlibat dalam perampokan bersama genk XXTRID pada sebuah bank (tidak tertangkap).
Kasus terakhir, (enam bulan yang lalu), sebelum ia diasingkan ke Kamp Seoul, yaitu melakukan pembunuhan dua anggota gengster yang akan melakukan pengeboman di wilayah Seoul. (Hukuman mati untuk kasus pembunuhan, pengecualian untuknya karena menyelamatkan warga Seoul, diringankan dengan dipenjara seumur hidup selama tidak melakukan tindakan kriminal atau kasus baru).
Seorang pria menggunakan tudung dan jubah hitam terengah-engah dan bersembunyi di semak-semak. Ia menekan tombol di telinganya, dan berbisik. "Sekarang apa?"
Bzzt... "Pergilah 200 kilometer dari gerbang Kamp Seoul, lalu menuju kearah Utara. Kau akan menemukan jalan raya." Bzzt... "Pergi ke arah kiri sekitar 20 kilometer, didepan Halte, aku menunggu disitu. Dan..." Bzztt... "Good luck, Park Chanyeol.." Bzzt..
Pria itu berdiri setelah memastikan keadaan aman. Posisinya sudah cukup jauh dari wilayah kamp. Ia juga sudah menyamarkan aromanya dengan tanah, sehingga meminimalisir terciumnya aroma tubuhnya. Ia juga tak membawa apapun dari wilayah kamp, termasuk baju seragam di sana. Dan jubah ini adalah jubah yang telah direncanakan dan diletakkan di luar pintu rahasia yang hanya ia yang tau dan 'teman'nya yang membantunya melarikan diri untuk kedua kalinya.
Suasana malam dan sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan gesekan dedaunan di hutan lebat dipinggir kota Seoul ini. Sebelum dibawa kemari, semua penghuni ditutup matanya sehingga tak bisa mengetahui jalan tempat pengasingan ini. Setelah enam bulan lamanya mendekam disana, matanya mulai memandang beberapa hal biasa yang terkesan baru. Angin tiba-tiba bertiup kencang, membuat tudung yang melindungi kepala pria itu terdorong ke belakang dan menampilkan sosoknya.
Mata lebar yang sangat tajam, hidung mancung, rahang yang kokoh, dan bibir kissable. Kulit kuning langsat yang begitu kotor karena tanah lengket yang menutupi kulit bersihnya, walaupun begitu ia tetap terlihat tampan. Surai putih tersebut bersibak mengikuti arah angin. Pria itu menarik tudung jubahnya lagi, melindungi kepalanya. Lalu ia berlari cepat memasuki hutan tersebut.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
MAAFFFF karna slow update :') Saya nggak bisa akses FFn, jadi beberapa bulan nggak bisa update FFn, tapi untungnya bisa sekarang :')))
Dan chapter 1 dan 2 itu banyak flashback masa lalu mereka, kejadian waktunya memang tak berurutan, tetapi saling berkaitan. Disini juga warna rambut Chanyeol berubah, dengan alasan tertentu.
Sekian.
Thanks and see you!
Review?
