Title: Round Round to You

Author: Arisa Arizawa

Main Cast: HunTao, KrisHo

Slight: LuMin, KaiSoo, ChanBaek, ChenLay, etc

Genre: Family, Romance, Hurt/Comfort

Rated: T-M

Warning!

Incest, BoysxBoys, Complicated, Typo(s), OOC, Crack Pair, Pedophile *smirk*

Don't Like? Read First:3

Flame for my story? Allowed. Flame for the cast? Please don't:)

oOo

Previously on Round Round to You

"Oh, kau seperti terpaksa menikah denganku."

"Memang aku terpaksa"

.

"Hiks, Mama! Sehun hyung menggigit pipi Tao!"

"Daddy!"

.

"Hey, bagaimana jika kalian bertiga pergi ke rumah Sehun sekarang?"

"Baiklah! Kajja."

"Aish, Kai, kau ingin sekali membuatku panas, eoh?"

.

"Semuanya berisi kaset klasik!"

"Kau suka hip hop, Baek? Aku membawanya satu jika kau ingin memasangnya."

.

"Ayolah, Mama!"

"Luhan, jangan cepat-cepat sayang!"

Brak

oOo

"Aish, mengapa macet? Tidak seperti biasanya," gerutu Kai sambil memencet klakson motor Baekhyun dengan kesal.

"Sabarlah, Kai. Mungkin lampu lalu lintas sedang rusak jadi macet seperti ini," kata Kyungsoo menyabarkan Kai.

"Huft... aku sudah sabar, hyung. Tapi sabar tidak membuat macet ini selesai," ujar Kai sambil memajukan bibirnya kesal. Kyungsoo tertawa lalu mencubit pipi Kai.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Berteleportasi?" tanya Kyungsoo dengan nada main-main. Kai tampak berpikir.

"Tidak, aku akan menyalip. Pegangan yang erat, hyung!" tawa Kyungsoo langsung lenyap ketika Kai tiba-tiba menggas motor itu. Perlu beberapa saat untuknya agar menyadari keadaan saat itu. Setelahnya, ia langsung memeluk pinggang Kai.

Kai menggas motor itu saat terlihat antrian kemacetan itu mulai bergerak. Dengan gesitnya ia menyalip kendaraan-kendaraan di depannya dengan memanfaatkan celah-celah antar kendaraan. Bahkan celah yang sangat pas-pasan untuk motor kesayangan Baekhyun itu pun ia lewati.

"Ka- Kai, pelan-pelan! Aku takut!" kata Kyungsoo dengan suara bergetar. Sementara Kai tidak mendengarkan perkataan Kyungsoo. Ia mengerem tiba-tiba saat matanya melihat sebuah mobil yang dikelilingi beberapa polisi.

"Hyung, bukankah itu mobil Chen?" tanya Kai sambil menepuk pelan tangan Kyungsoo yang memeluk erat pinggangnya itu. Namun tidak ada jawaban dari Kyungsoo. "Hyung!" panggil Kai sambil menggoyangkan lengan Kyungsoo.

"Aku takut Kai! Hentikan motornya baru aku mau mengangkat kepalaku!" kata Kyungsoo. Kai tertawa.

"Kita sudah berhenti dari tadi, hyung," Kyungsoo mengangkat kepalanya melihat ke kanan dan kirinya.

"Baguslah. Hey, bukankah itu mobil Chen?" tanya Kyungsoo pada Kai yang tertawa bertambah keras ketika mendengar pertanyaan itu.

"Aku sudah bertanya tadi. Bagaimana kalau kita melihatnya lebih dekat?" Kyungsoo mengangguk. Kai mulai menjalankan motornya kembali, kali ini lebih lambat dari sebelumnya.

oOo

"Hyung, turunkan Tao! Hiks... Sehun hyung, turunkan Tao! Umin ge, tolong Tao!" Sehun hampir saja membekap mulut Tao karena menjadikan telinganya sebagai korban kecemprengan suara calon adik tirinya itu.

"Aish, Tao, jangan berteriak!" bentak Sehun yang langsung menyesal karena Tao malah menangis lebih kencang.

"Huwe! Tao takut hiks... Umin ge!" Tao meronta di gendongan Sehun yang kewalahan menahan gerakan Tao.

Xiumin pun tertawa mendengar tangisan ketakutan Tao dari dalam kamarnya. Ia, yang sebelumnya langsung memasuki kamar setelah tak sengaja melihat daddy dan calon umma-nya melakukan sesuatu yang belum pantas ia lihat, berlari kecil keluar kamar. Tanpa sengaja, ia menyenggol piring beling yang bertuliskan namanya dan Luhan hingga jatuh dari tempat pajangannya di meja dekat pintu kamarnya hingga retak.

"Ah, untung hanya retak," kata Xiumin dengan perasaan lega. Namun perasaannya menjadi tidak enak ketika melihat nama Luhan lah yang retak dengan retakan yang melintang membuat nama Luhan seperti tercoret.

"Xiumin! Kau tidak apa, sayang?" tanya Suho yang masuk ke kamar Xiumin ketika mendengar suara benda jatuh.

"Ah, aku tidak apa, umma. Hanya tidak sengaja menyenggol piring ini," jawab Xiumin dengan sendu sembari menatuh kembali piring itu di tempat pajangannya. Tiba-tiba Tao datang dengan berlari menghampiri Suho.

"Mama!" teriak Tao sambil mengahampiri Suho dengan tangan terentang minta digendong. Suho langsung menggendong anak semata wayangnya itu begitu Tao tepat di depannya.

"Tao!" panggil Sehun yang menyusul Tao ke arah kamar Xiumin. Namun, sesampainya di depan kamar Xiumin, telepon genggamnya bergetar beberapa kali. Ia mengambilnya lalu memencet tombol hijau.

"Halo, Chanyeol, ada apa?" tanya Sehun pada si penelepon yang ternyata adalah Chanyeol.

"..."

"Apa? Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Xiumin menolehkan kepalanya kepada Sehun ketika mendengar rumah sakit. Begitu juga dengan Suho dan Kris yang tiba-tiba datang dari arah kamarnya.

"..."

"Astaga, siapa yang dia tabrak?! Ada-ada saja si troll itu!"

"..."

"Tunggu, apa?" Sehun menatap Xiumin dengan raut wajah khawatir.

"Hyung, siapa yang di rumah sakit?" tanya Xiumin. Perasaannya bertambah tidak enak.

"Baik, aku akan ke sana," kata Sehun sebelum mengakhiri percakapannya dengan Chanyeol.

"Hyung! Siapa yang di rumah sakit?! Siapa yang Chen hyung tabrak!" tanya Xiumin sambil menarik-narik baju Sehun.

"Apa? Chen?" tanya Suho ketika mendengar nama salah satu adiknya terlibat dalam sebuah kecelakaan. "Tunggu, Chen itu si troll?" tanya Suho.

"Mereka memanggil Chen sebagai troll, chagi," jawab Kris.

"Jelek sekali panggilannya," balas Suho yang membuat sweatdrop calon suaminya itu. Benar-benar perusak suasana.

"Daddy, umma, Chen menabrak anak kecil dan sekarang Chanyeol sedang berada di rumah sakit mengantarkan anak tersebut. Chen sendiri sedang berada di kantor polisi dan Baekhyun masih berada di TKP," jelas Sehun. Suho membulatkan matanya sementara Tao bergidik ngeri.

"Iih, rumah sakit! Rumah sakit jelek!" teriaknya yang membuat semua orang yang ada di situ melihat ke arahnya. Sementara yang dilihat hanya memajukan bibirnya tanpa mempedulikan sekitarnya. Ibu dan anak sama saja.

"Siapa yang ditabrak, hyung! Kau belum menjawab pertanyaanku!" kata Xiumin mengembalikan suasana tegang seperti sebelumnya.

"Luhan."

oOo

"Hiks, aku bersumpah, kami bertiga tidak mabuk! Kau sudah memeriksanya, bukan?!" teriak Baekhyun kesal. Ia masih berada di TKP untuk menceritakan kronologis kecelakaan tersebut. Ia benar-benar ingin mencakar polisi yang berada di depannya karena sudah berkali-kali menanyakan pertanyaan yang sama.

"Tolong saudari tenang- akh! " ucapan si polisi pun terpotong karena Baekhyun menginjak kakinya.

"Aku ini NAMJA! Berani-beraninya kau memanggilku saudari?! Kurang ajar!" teriak Baekhyun hingga beberapa orang yang menonton mereka berdua cukup kaget mendengar teriakannya.

"Maafkan saya. Saya benar-benar kelepasan," kata polisi tersebut sambil membungkukkan badannya pada Baekhyun. Tiba-tiba ada seorang polisi lagi datang ke arah mereka berdua.

"Aigo, Jonghyun hyung, kau melakukannya lagi? Kau benar-benar sakit jiwa!" polisi yang mengintrogasi Baekhyun, Jonghyun, hanya terkikik.

"Ayolah, Minho, itu menyenangkan! Sudah, urus dia, aku ingin kembali ke kantor," kata Jonghyun sembari menepuk pundak Minho dan berlalu pergi.

Minho menghela nafas dan menyuruh Baekhyun untuk duduk di kursi halte bus tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Anda pasti lelah berdiri terlalu lama," kata Minho sambil menyodorkan kopi kemasan kepada Baekhyun.

"Sebenarnya tidak terlalu. Hanya aku kesal pada polisi tadi," jawab Baekhyun sambil mengerucutkan bibirnya. Minho tertawa mendengarnya.

"Saya meminta maaf atas nama kepolisian atas ketidaknyamanan anda," kata Minho. " Dia memang seperti itu. Jika ada saksi seorang namja manis, dia akan mendekatinya dengan alasan interogasi," jelas Minho.

Wajah Baekhyun memerah mendengar penjelasan Minho.

'Maksudnya, aku manis?' tanya Baekhyun dalam hati.

"Sekali lagi, saya meminta maaf, Do BaekHyun-ssi ,"

"Tidak apa, Minho-ssi. Aku sudah terbiasa digoda seperti tadi. Haha," Minho tersenyum melihat Baekhyun tertawa.

"Baiklah, kalau begitu, bagaimana jika saya memulai interogasi yang sebenarnya?" tanya Minho yang diangguki oleh Baekhyun.

oOo

"Lay hyung, sudahlah, jangan menangis. Lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Luhan," kata Chanyeol sambil menenangkan namja yang berada di depannya.

"Hiks, bagaimana aku bisa berhenti menangis, Chanyeol! Yang di dalam ruangan itu anakku satu-satunya!" teriak Lay. Chanyeol memeluk Lay, yang merupakan teman dari satu-satunya manusia pedo yang ia kenal- Kris. Ia mencoba menenangkannya.

Tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. Suara yang pernah ia dengar.

"Chanyeol hyung~"

"Hai Tao!" sapa Chanyeol ketika ia melihat Tao berlari ke arahnya. Ia melihat ke arah belakang Tao dimana ada Sehun yang berusaha menangkap Tao dan Xiumin yang langsung menghampiri Lay. Ia melepas pelukannya dengan Lay.

"Hyung sedang apa di rumah sakit?" tanya Tao sambil berusaha naik ke pangkuan Chanyeol. "Hyung! Bantu Tao!" perintah Tao sambil memajukan bibirnya. Chanyeol menggendong Tao lalu mendudukannya dipangkuannya. Sementara Sehun yang lelah dengan sikap hiperaktif Tao pun langsung duduk di sebelah Chanyeol dengan nafas tersengal-sengal.

"Mama! Bagaimana keadaan Luhan?" tanya Xiumin dengan wajah panik pada Lay yang masih menangis. Tao yang mendengar pertanyaan Xiumin pun menoleh ke arah Lay.

"Jumma siapa?" tanya Tao pada Lay. Lay pun menoleh ke arah Tao dan ia tersentak kaget melihatnya.

"Chanyeol," panggil Lay. Chanyeol menoleh ke arah Lay. "Kenapa ada siluman panda di pangkuanmu?" tanya Lay dengan nada polos yang membuat Xiumin dan Chanyeol sweatdrop. Sedangkan Tao hanya memanyunkan bibirnya.

"Tao bukan panda, jumma!" teriak Tao yang membuat Lay tertawa. Lay pun membawa Tao ke pangkuannya.

"Kau sangat mirip dengan anakku," bisik Lay. Xiumin yang mendengarnya pun bingung.

"Tao mirip dengan Luhan? Sepertinya tidak, Ma," kata Xiumin. Lay menatap Xiumin lalu menggeleng.

"Bukan Luhan. Dulu aku mempunyai anak panda yang dipelihara di kebun binatang. Haha," lagi-lagi Xiumin sweatdrop mendengar jawaban Lay yang polos.

"Kris! Cepatlah! Tao menghilang!" tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah lorong yang sayup-sayup bertambah jelas.

"Mama! Tao di sini!" teriak Tao saat mendengar suara teriakan Suho. Ia melihat sang mama muncul dari arah persimpangan lorong di sebelah kirinya.

"Tao! Astaga, mama pikir kau hilang, sayang," kata Suho sambil mendatangi Tao yang masih berada di pangkuan Lay. Sementara itu, Lay terlohat kaget ketika melihat Suho, begitupun sebaliknya.

"Astaga, Suho hyung! Lama tidak bertemu," kata Lay sambil menggendong Tao dan menghampiri Suho sambil melonjak gembira.

"Ah, Yixing! Benar, sudah semenjak kita menikah kita tidak pernah bertemu," kata Suho tak kalah gembiranya. Sementara itu, Tao berusaha meraih tengkuk Suho namun tidak bisa karena Suho dan Lay sendiri masih berlonjak-lonjak ria.

Sedangkan 3 anak manusia lainnya, Xiumin, Sehun dan Chanyeol, hanya melongok melihat betapa kekanakannya 2 orang yang sudah memiliki seorang anak itu.

"Apa benar umur mereka sudah berkepala 3?" tanya Chanyeol pada Sehun. Sedangkan Sehun hanya menggeleng.

"Aku tidak yakin. Tapi sepertinya mereka sedang kerasukan arwah anak kecil," jawab Sehun. Lalu mereka berdua bergidik mengingat mereka memang berada di tempat yang pantas menjadi scene uji nyali.

Suho dan Lay berhenti melonjak-lonjak gembira ketika mereka mendengar dehaman yang dipaksakan untuk manly.

"Yo, Kris hyung! What's up?" tanya Lay yang tiba-tiba berubah seperti anak muda. Kris pun sweatdrop mendengarnya. Sedangkan Chanyeol menyikut Sehun.

"Aku tidak tahu Lay hyung mempunyai selera hip hop juga," kata Chanyeol. Sehun pun hanya memutar bola matanya.

"Mama, sekarang bukan saatnya untuk bergembira! Luhan masih kritis!" pekik Xiumin dengan air mata yang jatuh dari matanya. Ia berpikir tidak ada satupun yang memperdulikan Luhan.

"Aigo! Benar juga! Anakku masih kritis, hiks," kata Lay sambil menangis kembali. Xiumin yang sedang menangis pun rasanya ingin memakan kursi tunggu rumah sakit ketika ia tahu kepribadian Lay berubah-ubah di saat yang tidak tepat.

"Jadi yang Chen tabrak itu anakmu, Yixing?" tanya Suho sambil mengambil Tao, yang sedari tadi memanggilnya, dari gendongan Lay.

"Hiks, kau kenal dengan yang menabrak Luhan?" tanya Lay

"Dia adikku, Lay," jawab Suho dengan suara pelan. Lay membesarkan matanya. Xiumin pun menarik Lay untuk duduk di kursi tunggu yang tadinya ia rencanakan untuk menjadi menu makan siangnya.

"Hiks, adikmu jahat, hyung," kata Lay sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis lebih keras dari yang sebelumnya. Tao yang melihatnya pun penasaran. Ia berusaha untuk turun dari gendongan mamanya. Setelah ia turun, ia menghampiri Lay.

"Jumma kenapa menangis? Ini Tao punya permen buat jumma tapi jangan nangis lagi," kata Tao sambil menyodorkan permen yang baru saja ia temukan terselip di kantung celananya. Lay membuka kedua tangannya lalu mengelus kepala Tao.

"Tao, kenapa kau memanggil Lay ahjussi dengan jumma, sayang? Dia laki-laki," jelas Suho. Tao menggeleng.

"Jumma manis kayak mama. Jadi Tao panggil jumma,"

"Haha, tidak apa kau memanggilku jumma. Aku suka mendengarnya," kata Lay. Lalu ia mendudukkan Tao di pangkuannya. Suho tersenyum melihat Lay dan Tao akrab.

'Mereka terlihat seperti ibu dan anak,' kata Suho dalam hati. Tiba-tiba ia menangis. Kris menepuk pundak calon istrinya itu saat ia melihatnya begetar.

"Kau kenapa?" tanya Kris. Suho hanya menggeleng pelan dan mengelap air matanya.

"Aku tidak apa. Hehe," jawab Suho dengan tawa yang dipaksakan. Kris tahu, walau dirinya tidak bisa tidak berlaku kekanakan di depan Suho, si calon istrinya itu tidak ingin menceritakan penyebab ia menangis. Dan ia tak akan memaksanya untuk bercerita.

"Baiklah jika kau tidak mau bercerita," kata Kris sambil memeluk Suho. Diam-diam ada yang memperhatikan mereka berdua hingga mengacuhkan malaikat kecil penghancur suasana di pangkuannya.

"Maaf, aku belum bisa bercerita padamu."

"Tidak apa. Aku mengerti, itu privacy-mu," Kris memeluk Suho semakin erat mengabaikan tatapan sedih seseorang di dekatnya.

oOo

"Saudara Jongdae, tolong ceritakan kejadian yang sebenarnya dan saya mohon jangan panik. Kami tidak akan menuntut Anda kecuali keluarga korban yang melakukannya," kata seorang polisi yang duduk di depan komputer. Sedangkan Jongdae, Chen, duduk dengan gelisah di hadapanny.

"Sa- saya tidak tahu. Tiba-tiba saja anak itu su- sudah tergeletak di depan mobilku," jawab Chen dengan suara bergetar. Polisi yang berada di depannya pun menghela nafasnya.

"Taemin-ah. Bisakah kau ambilkan kopi?" tanyanya pada seorang remaja yang sedang tiduran santai di kursi panjang di ruangan tersebut sembari membaca majalah.

"Oh, ayolah, Hae-hyung. Aku baru saja mendapatkan posisi yang nyaman," kata Taemin sambil memutarkan bola matanya.

"Taeminnie, ayolah, bantu hyungmu ini sekali-kali," kata Hae, Donghae, dengan nada memohon yang dibuat-buat pada Taemin.

Taemin menghela nafas. "Baiklah! Tapi setelah ini, biarkan aku bersantai."

"Tentu, nae dongsaeng."

Sepeninggalan Taemin, Donghae dan Chen pun saling bertatapan. Donghae berdeham pelan.

"Baiklah, mungkin sekaleng kopi bisa membuatmu tenang," kata Donghae mencairkan suasana.

"Mungkin. Tapi terkadang kopi dapat membuatku semakin gugup. Pastikan jika kopi itu memakai cukup creamer."

Usai Chen mengatakan hal itu, Taemin kembali dengan 3 kaleng kopi di tangannya.

"Ini, hyung. Yang tersisa di lemari es hanya kopi hitam dan cappucino. Dan aku mengambil cappucino jadi hanya tinggal ini yang tersisa," kata Taemin sambil menyerahkan kedua kaleng kopi hitam kepada hyungnya.

Donghae menepuk keningnya mengingat kopi hitam sama sekali tidak memakai creamer.

"Taemin-ah, bisakah kau memberikan cappucinomu padanya? Ia tidak bisa meminum kopi tanpa creamer," kata Donghae. Taemin memajukan bibirnya.

"Lalu kau membiarkan aku meminum kopi hitam, begitu? Kejam sekali."

"Tapi- "

"Sudah, tidak apa, Donghae-ssi . Aku meminum ini saja," kata Chen menengahi pertengkaran kakak dan adik itu.

"Dengar? Bahkan ia mengerti aku!" kata Taemin sambil menghentakkan kakinya. Donghae menghela nafas.

"Baiklah. Sudah sana, kembali ke acara bersantaimu," kata Donghae sambil mengibaskan tangannya ke arah Taemin yang dibalas dengan tarikan dan gigitan di jari telunjuknya oleh sang adik.

Setelah puas dengan teriakkan kakaknya, Taemin kembali menuju kursi panjang. Ia membaringkan tubuhnya dengan perlahan.

Sementara itu, Chen hanya tertawa melihat kedua kakak beradik itu.

"Adikmu lucu," kata Chen sambil menahan tawanya. Donghae tersenyum.

"Yah, dia memang lucu. Tapi, jangan pernah berfikir untuk memilikinya atau seekor kodok besar akan menghajarmu," kata Donghae dengan nada tidak serius. Chen hanya tersenyum.

"Tentu saja tidak. Aku sudah memiliki seseorang di hatiku," balas Chen dengan mantap. Donghae terdiam.

"Baiklah, bagaimana jika kita lanjutkan? Kita mulai dari awal lagi. Oke?"

oOo

"Aku tidak sadar kalau mobil Chen sudah melaju secepat itu. Aku baru sadar ketika Chanyeol berteriak," jelas Baekhyun sembari melihat Minho yang sedang mencatat penjelasannya. "Apa kau bisa membaca tulisanmu itu?" tanya Baekhyun.

"Tentu saja bisa. Apakah tulisanku sejelek itu?" tanya Minho dengan nada datar. Baekhyun terkikik geli.

"Tidak, tapi aku tidak dapat membacanya," jawab Baekhyun.

"BAEKHYUN HYUNG!" Baekhyun menengok ke arah datangnya suara yang memanggil namanya. Ia melihat Kyungsoo sedang berlari ke arahnya dengan Kai menyusul di belakangnya.

"Kyungsoo!" balas Baekhyun sambil berjalan mendekati adiknya tersebut. Kyungsoo langsung memeluk kakaknya yang berusia satu tahun di atasnya.

"Kau kenapa, hyung? Kenapa mobil Chen diberi gari polisi? Apa Chen tertangkap membawa narkoba?" tanya Kyungsoo dengan polos namun panik. Baekhyun tertawa.

"Tidak. Chen anak baik. Tidak mungkin ia membawa narkoba," balas Baekhyun.

"Aku melihat sedikit percikan darah di mobil Chen. Apa dia menabrak seseorang?" tanya Kai. Baekhyun mengangguk.

"Iya, dia menabrak seorang anak kecil dan sekarang ia berada di kantor polisi, sedangkan Chanyeol membawa anak tersebut ke rumah sakit."

"Siapa yang dia tabrak, hyung?" tanya Kyungsoo.

"Aku tidak tahu. Tapi tadi Chanyeol memanggil seorang namja, sepertinya saudara anak tersebut, dengan panggilan Lay hyung," jelas Baekhyun.

"Tunggu! Lay hyung? Bukankah itu nama panggilan Yixing ge?" gumam Kai. Kyungsoo menatapnya.

"Yixing ge? Dia siapa?" tanyanya pada Kai.

"Kalau tidak salah, ia ibunya Luhan. Seingatku seperti itu," jawab Kai.

"Jangan-jangan, yang ditabrak Chen itu Luhan!" teriak Kyungsoo dengan panik.

"Mungkin saja. Bagaimana jika kita ke kantor polisi untuk menjenguk Chen? Minho hyung bilang kemungkinan Chen akan ditahan malam ini," kata Baekhyun. Tiba-tiba, Minho menghampiri mereka.

"Jika kalian ingin ke kantor polisi, kalian bisa naik mobil bersamaku, bagaimana?" tawar Minho.

"Tidak terima kasih, kami membawa kendaraan sendiri. Namun, sepertinya Baekhyun hyung membutuhkan tumpangan," kata Kai. Minho mengangguk.

"Baiklah. Bagaimana, Baekhyun-ssi ? Kau membutuhkan tumpangan?"

"Tentu saja! Mana mau aku jalan kaki," jawab Baekhyun sambil terkikik. Minho tersenyum lalu berjalan menuju mobil dinasnya diikuti oleh Baekhyun.

"Kajja, hyung, kita ke kantor polisi," kata Kai sambil menarik tangan Kyungsoo namun dihempaskan begitu saja oleh Kyungsoo.

"Kita mau apa ke kantor polisi?! Kau kena tilang?! Atau kau ingin menyerahkan diri karena membawa narkoba?!" Kai hanya bisa ber-sweatdrop mendengar teriakan histeris Kyungsoo.

"Huft, kau berisik, hyung," kata Kai. Lalu ia kembali menarik Kyungsoo yang tentu saja dilawan oleh yang punya tangan. Jadilah adegan tarik-menarik tangan itu menjadi tontonan orang-orang sekitar.

oOo

"Permisi, siapakah yang di sini keluarga Xi LuHan?" tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.

"Saya ibunya, Dok. Bagaimana keadaan Luhan?" jawab Lay sambil menggendong Tao.

"Luhan baik-baik saja. Namun, ada yang ingin saya katakan pada Anda. Bisa ke ruangan saya sekarang?" tanya si dokter yang namanya tertera di nametag jas miliknya. Choi SooYoung.

"Ya, tentu saja, Dok," jawab Lay. Lalu ia mengikuti Dokter Choi ke ruangannya setelah sebelumnya menyerahkan Tao pada Suho.

"Mama! Aku mau ikut," kata Xiumin sambil menarik lengan Lay. Dokter Choi hanya tersenyum.

"Sebaiknya jangan ikut. Kau masih terlalu kecil. Aku takut kau kaget mendengar berita itu," jelas Dokter Choi sembari mensejajarkan diri dengan Xiumin.

"Memangnya kenapa? Apa Luhan tidak akan selamat?" tanya Xiumin dengan air mata menggenang di sudut matanya.

"Luhan akan sadar nanti. Tenang saja. Namun, masalahnya, sekarang dokter dan umma Luhan ingin membicarakan sesuatu yang belum boleh kau dengar."

"Apa Dokter dan Mama akan membicarakan sesuatu yang berbau mesum?" tanya Xiumin dengan polos yang membuat semua orang yang mendengarnya mendadak sweatdrop. Perusak suasana nomor 3.

"Tentu saja tidak, sayang. Dokter hanya ingin menanyakan kesehatan Luhan sebelumya," bohong Suho dengan tawa terpaksa.

"Ooh begitu? Baiklah. Tapi, Dokter, bolehkah aku masuk ke ruangan Luhan?" tanya Xiumin. Dokter Choi mengangguk.

"Tentu saja. Silahkan saja masuk. Tapi ingat, jangan berisik atau kondisi Luhan menjadi parah."

"Baiklah, Dok!" balas Xiumin sambil tersenyum.

Setelah Dokter Choi membalas senyuman Xiumin, ia kembali berjalan ke arah ruangannya dengan diikuti oleh Lay.

Sesampainya mereka, Dokter Choi mempersilahkan Lay untuk duduk.

"Sebenarnya, ada apa dengan Luhan? Ia baik-baik saja bukan?" tanya Lay.

"Secara keseluruhan, ia baik-baik saja. Namun, ada satu bagian tubuhnya yang saya takutkan tidak dapat berfungsi dengan normal kembali," Lay menutup mulutnya menahan isakkan ketika mendengar perkataan Dokter Choi.

"Bagian tubuh mana yang Dokter maksudkan?" tanya Lay sambil menghapus air matanya. Dokter Choi mengeluarkan sebuah map yang berisi hasil rontgen Luhan.

"Ini foto rontgen tengkorak Luhan. Bisa dilihat, bagian tengkorak sebelah kiri Luhan retak terutama di bagian telinga karena benturan yang cukup keras dengan aspal jalanan," jelas Dokter Choi. Lay mulai mengerti apa yang dikatakan Dokter Choi.

"Dengan kata lain, kemungkinan besar, Luhan akan kehilangan pendengarannya di telinga sebelah kiri."

oOo

Reply for Review "Round Round to You [Chap 1]"

kikiikyujunmyun : makasih review nya~ wkwk, salah kris juga gak ngunci pintunya weh wkwk... nggak janji kalo gak ada Kray mmt nya:D

jimae407203 : makasih review nya~ yah itu salah kris kenapa gak dikunci coba wks. Iyaiyaa, ntar ditambahin lagi wkwk

feyy : makasih review nya~ yah, namanya juga anak jaman sekarang(?) ChanBaek kok tenang aja wkwk... ikutin aja ceritanya, ntar juga ngerti(?)

sayakanoicinoe : makasih review nya~ sudah dilanjut^^

Kirei Thelittlethieves : makasih review nya~ memang mereka berdua pedo ckck.. eh enak aja, Tao udah jadi hak milik Risa wek:p

saya orchestra : makasih review nya~ aduh gimana ya kalo cuma lecet-lecet gak asik wkwk

DragonAqua : makasih review nya~ iya nih, kasian baby panda(?) wkwk berarti Anda labil jika tertawa setelah itu menangis(?) wkwk

hyona21 : makasih review nya~ yaayyy wkwk

esthiSipil : makasih review nya~ Krisho gak ya? happy end gak ya? wkwk... selamat mencoba mengerti jalan pikiran manusia AB yaT^T semangat(?)

Furuga : makasih review nya~ sebenernya Risa juga bingung sama karakternya. Ngalir aja gitu=_=" well, sebenernya nambah lagi nih karakternyaxD

AulChan12 : makasih review nya~ iya nih kasian baby panda huhu T^T wkwk semangatin sehun biar gak nge-rape baby pnda wkwk

squalay : makasih review nya~ jahat banget wakakak

Mr Jongin albino : makasih review nya~ wkwk, yah like father like son aja simplenya wkwk

Ko Chen Teung : makasih review nya~ welcome to my ffn then wkwk.. aduh, Risa belom sanggup bikin NC-_- megap-megap duluan buatnya wkwk. Aduh, mereka pisah gak ya? wkwk

Park HanSeok : makasih review nya~ bukan sakit itu, berdarah-darah(?)

Tehehe : makasih review nya~ astaga, Risa ngakak baca reviewnya wkwk.. ntar di pintunya ada tulisan "AWAS NAGA GANAS" xD

CBS : makasih review nya~ aduh, tapi Risa gak mau mereka pacaran, Chanyeol punya Risa soalnya *plak* wkwk lihat saja nanti~

Guest : makasih review nya~ emang Tao imut:3 aku juga sukaaa x3

Risa's Cuap-Cuap

Annyeong chingudeul, Risa balik lagi dengan Round Round to You Chap 2! Astaga Risa, ini udah berapa tahun kagak dilanjutiinn! Aduh, malu banget deh gak bisa menuhin target sendiri:(

Maaf banget, Risa mohon maaf atas keterlambatan ini:( Risa juga gak pengen ngaret kok. Tapi ya gimana, sekolah Risa sadis ngasih tugas-tugasnya:(

Dan maaf juga dengan typo yang bertebaran di sini. Soalnya Risa gak bisa baca ulang apa yang udah Risa buat. Pas udah di publish baru deh ketauan typo nya-,-

Risa juga mau bilang makasih yang udah mau bela-belain baca ff abal ini, baik yang ngereview ataupun cuma jadi silent reader. Risa gak nuntut readerdeul untuk review kok, cukup ngebaca aja juga udah berarti banget buat Risa:')

Last, review and flame are needed. Thank you^^