YOSH! Fic gaje update lagi! Gak nyangka udah chapter 3… Walaupun yang kasih review sedikit, tapi masih ada yang bisa buat Youichi semangat ngelanjutin nih fic. Ternyata ada juga yang bilang nih fic, bagus. Youichi hanya bisa bersyukur ke DJ, karena Dj lah Youichi dapat menyelesaikan fic ini dengan cepat dan baik.

Fic ini mengandung unsur berbahaya seperti, OOC, Gaje, Typo, Aneh, Nista, Plot yang terlalu maksa, serta keanehan lainnya yang bisa membuat anda tewas seketika.

Youichi kagak punya Naruto! Kalo manganya sih banyak.

Don't Like, Don't Read!

Youichi Hyourinmaru Presents

"Otou-san"

Enjoy Read

Chapter 3

Hari sudah larut. Tapi mobil itu masih melaju di jalanan yang sepi. Laki-laki berambut pirang yang mengemudikan mobil sesekali mengumpat tak jelas. Raut wajahnya memperlihatkan kecemasan tingkat tinggi. Laki-laki itu kini memandang sekilas telepon genggam yang kini terdiam di dalam saku kemejanya. Pikirannya seakan berebut memperdebatkan masalah telepon genggam itu. Dengan satu gerakan yang mantap, laki-laki itu menekan beberapa deretan angka yang sudah dihapalnya diluar kepala.

"Moshi-moshi…"

"Leader, orang tua itu menemukanku," kata laki-laki itu setelah mendengar suara dari ujung telepon.

"Apa? Lalu bagaimana keadaanmu? Dimana kau sekarang?" suara Leader setengah berteriak, sangat terlihat keterkejutan dan kepanikan dari nada suaranya.

"Perjalanan menuju Konohagakure," kata laki-laki itu pelan.

"Kau mau menemuinya?" tanya Leader. Kalau nada bicaranya seperti ini berarti ada sesuatu yang tak beres.

"Sebenarnya tidak. Tapi orang tua itu… menangkap anak-anak."

"Dia menangkap anak-anak?" suara Leader sekali lagi terdengar terkejut. Tapi tak ada balasan dari ujung telepon. Yang terdengar hanyalah helaan napas berat.

"Kau mau aku menyusulmu, Naruto?" tanya Leader setelah terdiam cukup lama.

"Tidak. Aku hanya ingin meminta tolong padamu. Aku belum tahu apa yang diinginkan orang tua itu. Tapi kurasa itu bukan hal yang baik. Jadi, tolong jaga anak-anak. Dan jangan beritahu apapun pada mereka tentang diriku. Mungkin aku tak bisa kembali lagi. Sampaikan juga permintaan maafku pada anak-anak. Arigatou Gozaimasu, Leader."

"Naruto! Apa mak-"

Telepon ditutup sebelum sang Leader sempat melontarkan pertanyaannya. Tidak sopan memang menutup telepon sebelum lawan bicara selesai mengutarakan isi hatinya. Tapi dia terlalu berat untuk mengatakan yang sesungguhnya pada sang Leader yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Naruto tersenyum sedih. Hanya sampai disini usahanya selama ini. Dia tak bisa membahagiakan anak-anaknya lagi.

Setelah lima jam perjalanan dengan kecepatan mobil setingkat mobil balap formula one, Naruto akhirnya sampai di Konohagakure. Tempat yang sudah sekian tahun dihindarinya. Dan kini dia berdiri memandang sebuah rumah besar bergaya Eropa yang sangat tidak ingin didatanginya. Ternyata setelah sekian lama, Naruto tak lupa letak rumah ini. Dengan langkah tergesa-gesa, Naruto yang telah memarkirkan mobilnya sembarang di depan pintu masuk utama, langsung memasuki rumah itu.

Naruto melangkah cepat menuju salah satu pintu dan membukanya dengan kasar hingga menimbulkan sebuah suara yang cukup nyaring. Di ujung ruangan tepat di depan perapian yangsedang menyala, Naruto dapat melihata sosok yang dicari-carinya. Dia berjalan mengahampiri sosok tersebut yang dengan santainya menyeruput secangkir teh. Sosok itu memandang Naruto sekilas lalu kembali menatap perapian di depannya.

"Silahkan duduk, Naruto," kata sosok itu ramah.

"Dimana mereka?" tanya Naruto datar.

"Ayolah, Naruto. Aku ingin berbincang-bincang denganmu setelah sekian lama tak bertemu," kata sosok itu mencoba membuat naruto bersantai terlebih dahulu.

"Aku tak punya banyak waktu," kata Naruto. Dia tampak mulai tak sabar.

"Duduk. Aku sudah menyediakan secangkir teh hangat untukmu," sosok itu mencoba ramah kembali.

"Sudah kubilang aku tak punya banyak waktu! Dimana mereka?" kesabaran Naruto sudah sampai batasnya. Dia tak dapat menahan kemarahannya pada sosok di hadapannya ini.

Suasana menjadi hening setelah teriakan frustasi Naruto. Naruto sudah melupakan semua sopan santun yang telah melekat bersamanya sejak kecil. Sosok itu tersenyum sepintas dan meletakkan cangkir teh di atas meja kayu di depannya. Sosok itu tak terlihat marah akan sikap Naruto.

"Kita bicarakan baik-baik," ujar sosok itu mencoba menenangkan hati Naruto.

"Kau menculik mereka! Apa itu termasuk perbuatan yang baik?" Naruto mulai membentak sosok itu. Sosok di depannya terlalu banyak berbasa-basi.

"Ini semua demi kebaikanmu, Naruto."

"Bukan! Ini semua demi kebaikanmu! Bukan aku!" Naruto membalasnya ketus.

"Aku melakukan semua ini untukmu."

"Kau melakukan semua ini untuk kebaikanmu! Sekarang kau mendadak bersikap manis di hadapanku dan mengatakan tentang kebaikanku? Omong kosong!" kata-kata Naruto kini sudah mulai melenceng dari bahasa yang biasa digunakannya.

"Aku tak suka kau berbicara seperti ini," ujar sosok itu yang mulai tak suka dengan kata-kata Naruto.

"Aku juga tak suka berbicara seperti ini! Wajah dan tingkahmu yang membuatku berbicara seperti ini!" kata-kata Naruto mungkin bisa dikatakan sudah kelewatan saat ini.

"Berhenti bicara seperti itu," kata sosok itu mencoba memperingati Naruto

"Dan kau berhenti mempermainkanku! Aku kemari hanya ingin menjemput anak-anak yang kau culik!" tuduh Naruto sambil menunjuk tak sopan sosok di depannya.

"Aku tak menculiknya," elak sosok itu. Dia mencoba menghindar dari tuduhan Naruto.

"Lalu apa yang kau sebut dengan semua ini? Mengajak mereka minum teh? Menangkap mereka saat aku tak ada dan membawa mereka ke istanamu ini dan menyuguhkan mereka secangkir teh hangat?" tanya Naruto sinis.

"Terserah apa katamu."

"Aku tahu kau yang melakukannya. Aku sudah bosan berdebat denganmu. Jadi aku hanya ingin membawa mereka pulang," nada bicara Naruto terlihat kembali normal.

Adu mulut itu pun terhenti. Naruto yang tadi membentak sosok di depannya kini tampak lebih tenang dari sebelumnya. Mata birunya menatap sosok yang tengah terdiam tak bersuara.

"Tidak bisa."

"Lalu apa maumu?" tuntut Naruto.

"Aku ingin meminta pertolonganmu."

"Apa?"

"Aku ingin kau tinggal disini dan-"

"Kau menyuruhku tinggal di istanamu ini? Tunggu dulu, jangan katakan kau juga menyuruhku untuk memimpin perusahaan bodohmu itu!" Naruto memotong kalimat sosok di depannya kasar.

"Jaga bicaramu, Naruto!" bentak sosok itu. Kesabarannya tengah diuji sekarang. Namun semuanya sudah tak dapat ditahannya lagi.

"Kau berani membentakku sekarang? Seperti itukah cara seseorang meminta pertolongan pada orang lain?" tanya Naruto sinis.

"Aku juga memiliki batas, Naruto!"

"Dan aku tidak mau memenuhi keinginanmu!"

"Kau boleh tak memenuhi keinginanku. Tapi semua itu akan terbalaskan pada anak-anak itu," uajr sosok itu dengan nada mengancam.

"Kau… Jangan sakiti mereka!" Naruto takut. Takut akan orang-orang yang disayanginya akan disakiti oleh orang tua didepannya.

"Sebegitu sayangnya kau pada mereka? Melebihi harga dirimu yang tinggi itu?" kata sosok itu mencoba memojokkan Naruto.

"Aku sudah tenang hidup dengan mereka! Lalu kau meyuruhku tinggal disini dan menjadi bonekamu? Kau berani membayarku berapa, Tuan Namikaze?"

"Jaga bicaramu! Ingat Naruto, kau juga seorang Namikaze!"

"Namikaze? Aku sudah membuang nama itu lama! Aku sekarang hidup sebagai Naruto yang baru! Jangan harap aku bangga menyandang nama keluargamu itu, Tuan Namikaze!"

"Kau hanya perlu menerima tawaranku! Tinggalkan anak-anak itu dan tinggal disini!"

"Aku tak bisa meninggalkan anak-anakku!"

"Anak-anakmu? Sudah berapa perempuan yang kau tiduri hingga memiliki enam anak sekaligus, Naruto? Aku tak menyangka kau berubah drastis seperti ini!" sosok itu kini membalas kata-kata Naruto yang semula memojokkannya.

"Tutup mulutmu!"

"Terima tawaranku atau nyawa mereka melayang!" ancam sosok itu lagi.

"Aku tak bisa! Untuk apa kau menyuruhku jika ada orang lain yang bersedia menjadi bonekamu?" tolak Naruto.

"Aku seorang Namikaze! Perusahaan ini milik keluarga Namikaze! Dan kau adalah satu-satunya keturunan Namikaze yang kumiliki!"

"Kalau begitu cari orang lain! Ubah namanya, dan katakan kalau dia putra tunggalmu! Maka kau akan mendapat boneka sempurna yang hanya akan menuruti kata-katamu!"

"Kau anakku, Naruto! Dan disinilah seharusnya kau berada!"

"Aku tak sudi menjadi bonekamu lagi, Namikaze Minato!"

"Kau bukan boneka, Namikaze Naruto!"

"Jangan panggil aku dengan nama bodoh itu!"

"Apa yang akan dikatakan ibumu jika melihatmu seperti ini sekarang, Naruto?"

"Okaa-san sudah mati! Jangan kau gunakan namanya untuk merayuku untuk memenuhi segala keinginanmu!"

"Sudah kukatakan, Naruto… Semua ini demi kebaikanmu!"

"Semua ini hanya demi dirimu dan nama keluarga bodohmu itu! Kau selalu menyangkut pautkan semua hal dengan kebaikan nama keluarga!"

"Tapi itu memang benar!"

"Tapi aku tak menganggap kau benar!"

Naruto lalu berjalan menuju pintu keluar. Dia tak yakin, orang tua ini akan mengembalikan anak-anaknya. Bisa dikatakan itu mustahil. Naruto sudah hapal di luar kepala tentang sifat pak tua ini. Dia berpikir akan mencari mereka sendiri. Anak-anak pasti disembunyikan di salah satu ruangan yang ada di dalam rumah ini.

"Tingkahmu konyol sekali, Naruto!" bentak sosok laki-laki berambut pirang itu. Langkah Naruto terhenti setelah mendengar bentakan itu. Dia berbalik dan memandang orang tua itu.

"Shut up your fucking mouth, kuso jiji…"

(#(#)#)

Naruto kini membuka satu persatu pintu yang dijumapinya. Sesekali dia berteriak memanggil nama anak-anaknya.

"Gaara! Neji! Shikamaru! Dimana kalian?" teriak Naruto.

"Sial! Dimana pak tua itu menyembunyikan mereka?"

"Shino! Kiba! Sasuke!" teriak Naruto lagi.

Tapi tak ada yang menjawab. Semua ini aneh. Terlalu aneh untuk rumah besar seperti ini. Tak mungkin ada rumah besar yang sepi seperti ini. Dimana pelayan dan penjaga? Dan yang lebih terpenting, dimana Kakashi? Naruto sudah mengenal Kakashi sejak kecil. Kakashi sudah seperti pamannya sendiri. Dia tak pernah jauh dari sisi pak tua Namikaze itu. Kakashi sudah menjadi orang kepercayaan sekaligus pengawal pribadi pak tua Namikaze. Naruto tersentak. Langkahnya terhenti.

"Shit! Mengapa aku bisa lupa hal penting seperti ini?" Naruto berlari. Berlari ke arah ruangan tempatnya beradu mulut dengan pak tua Namikaze.

Hal penting seperti ini kulupakan! Sial! Gara-gara pak tua itu! Kalau dia tak menculik anak-anak, konsentrasiku tak akan teralih seperti ini! Dasar pak tua bodoh! Tidak berguna!

"Ck. Mereka sudah datang rupanya…"

Naruto memandang pintu ruangan yang sudah rusak terlepas dari engselnya. Lalu pandangannya tetuju pada sekelompok orang aneh yang sama dengan orang aneh yang juga menyerangnya saat di Otogakure dulu. Jumlahnya sekitar lima belas orang. Di tengah mereka terlihat seorang laki-laki berambut perak dan memakai masker yang menutupi sebagaian wajahnya, sedang memasang kuda-kuda siap melawan. Naruto sangat kenal orang itu. Kakashi. Sedangkan yang lima orang lagi mengepung pak tua Namikaze.

"Pak tua!" suara Naruto yang cukup nyaring itu membuat semua pandangan beralih kepadanya.

"Aku tahu kau akan datang, Naruto," kata pak tua Namikaze dengan nada senang.

"Jangan senang dulu, pak tua."

Pertarungan yang sempat terhenti sesaat tadi, terlanjut. Naruto berlari ke arah pak tua Namikaze dan membantunya. Serangan semakin gencar dilakukan oleh orang-orang aneh itu.

"Gerakanmu lambat, pak tua," sindir Naruto sambil menangkis tendangan yang mengarah ke perutnya.

"Aku sudah tua, Naruto. Itulah sebabnya aku meyuruhmu tinggal disini," kata laki-laki itu sembari menendang kaki orang aneh yang hampir memukul kepalanya.

"Jangan harap aku menolongmu karena menerima tawaranmu, pak tua," kata Naruto sambil menendang keras dua orang aneh yang hampir memukul wajahnya.

"Aku kira seperti itu," kata Namikaze senior .

"Aku hanya tak ingin kau mati sia-sia disini sebelum mengatakan dimana kau sembunyikan anak-anakku," kata Naruto sinis sambil memukul dada salah seorang yang menyerang Namikaze Minato dari belakang.

"Setidaknya kau masih mempedulikanku, bukan?" kata pemimpin keluarga Namikaze itu dengan nada becanda.

"Kau terlalu banyak berharap, pak tua."

"Kakashi!" Teriak Minato lantang. Kakashi yang mendengarnya segera berlari ke arah ayah-anak Namikaze itu.

"Lama tak berjumpa, Namikaze junior," sapa Kakashi pada Naruto.

"Jangan memanggilku dengan sebutan konyol itu, Kakashi-sensei!" bentak Naruto.

"Baiklah, Naruto."

Mereka bertiga melawan lima belas orang aneh yang sejak tadi tak pantang menyerah walaupun sudah tersungkur beberapa kali. Setelah lima belas menit pertarungan yang masih saja dihiasi perdebatan dan adu mulut antar Namikaze itu, akhirnya kelima belas orang aneh berhasil dikalahkan. Pak tua Namikaze terlihat lelah dan terduduk dengan napas tersengal-sengal. Kakashi berlutut disamping tuannya. Sedangkan Naruto masih berdiri tegak memperhatikan tubuh orang aneh yang terkapar tak sadarkan diri.

"Pak tua…,"

"Berhenti memanggilku begitu. Aku ini ayahmu, Naruto," ralat Minato dengan suara pelan. Dia terlalu lelah. Pertarungan ini sudah tak pantas untuk laki-laki yang hampir menginjak usia setengah abad ini.

"Sesuatu yang buruk akan terjadi," kata Naruto setengah berbisik.

"A-"

BUGH!

Terlambat. Naruto sudah terlempar ke arah dinding putih yang berjarak lima meter dari tempatnya berdiri sebelumnya. Minato memandang putranya yang kini tengah mengelap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Naruto berjalan ke arah sang penyerang yang kini memasang seringai sombong di wajahnya. Naruto berjalan tenang. Seakan tak terlihat bahwa laki-laki itu baru saja terlempar karena sebuah pukulan keras yang mendarat telak di wajahnya.

"Ada apa denganmu, Agen Kitsune? Sudah lelah?" tanya sosok penyerang itu dengan nada menyindir.

Naruto kini berdiri berhadapan dengan sosok laki-laki penyerangnya. Wajah Naruto datar tak menunjukkan ekspresi apapun. Beginilah dia. Jika dalam pertarungan, semua sifatnya ditanggalkan menampilkan sosok Naruto yang lain dari biasanya. Sosok yang menyiratkan tatapan tegas dan pemberani dari sorot mata birunya. Naruto terlihat sangat serius. Membiarkan laki-laki di hadapannya memasang senyum merendahkan.

"Aku tak menyangka kau ada disini. Apa keluarga Namikaze menyewa agen Akatsuki untuk melindungi pemimpin perusahaan? Sungguh ironis. Jika kau tak ada, aku sudah menyerang mereka berdua sejak pertama tadi," tunjuk sosok itu ke arah Minato dan Kakashi.

"Tapi kau menghancurkan segala sesuatu yang sudah kususun dengan sangat terperinci. Agen dari Akatsuki memang merepotkan," kata sosok itu.

"Setelah kalian membunuh pengusaha dari Amerika itu, kini kalian mengincar pak tua ini? Kalian memang organisasi yang beranggotakan makhluk-makhluk keji!" kata Naruto kasar.

"Kau memang pandai bermain kata, Agen Kitsune. Aku beruntung sekali bisa bertemu denganmu lagi. Balas dendamku akan terasa lebih menyakitkan dari apa yang kau lakukan sebelumnya padaku,"

"Apa yang bisa kau lakukan? Menghilang selama dua tahun karena takut menemuiku, dan sekarang kau ingin membalaskan dendam padaku? Lelucon yang sangat buruk, Kabuto!"

"Aku memang tak bisa menandingi kata-katamu. Tapi jangan kira aku menghilang karena takut menemuimu, Kitsune! Aku berlatih agar bisa membunuhmu!"

"Dalam mimpimu!"

Sosok penyerang yang dipanggil Kabuto, menarik katana yang terselip di pinggangnya. Naruto tak tampak panik sedikitpun, walaupun kini dia bertarung dengan tangan kosong. Kabuto langsung mengincar dada kiri Naruto, jantung. Tapi Naruto dengan gesit menghindar dengan menjatuhkan diri ke samping kanan. belum sempat Naruto bangkit, serangan Kabuto berlanjut kembali. Lengan kiri naruto tergores cukup dalam akibat kelambatan gerak refleksnya.

"Bagaimana, Kitsune?"

"Tidak buruk. Tapi jangan harap kau dapat membunuhku dengan mudah!"

Minato dan Kakashi hanya bisa menyaksikan salah satu pertarungan seru abad ini dengan wajah cemas. Bagaimana tidak? Satu-satunya keturunan Namikaze yang ada bertarung melawan penjahat berkatana sedangkan sang Namikaze tak memegang apa-apa. Hanya berbekal bakat dan semangat. Pak tua Namikaze dan Kakashi semakin cemas saat melihat kemeja biru Naruto mulai ternodai oleh pekatnya darah yang mengalir dari perutnya. Pertarungan ini, tak seimbang.

Mata sang pak tua Namikaze, beralih pada pajangan yang menempel di dinding. Namikaze senior lalu berlari ke arah dinding di atas perapian dan mengambil sebilah wakizashi yang saling bersilang itu.

"Naruto!" Minato berteriak dan langsung melempar wakizashi ke arah Naruto. Dengan sigap dan tanpa menoleh, Naruto menangkap wakizashi tersebut. Digenggamnya erat wakizashi itu.

"Wakizashi? Kau tak akan bisa menyerangku dengan wakizashi itu, Kitsune!"

Kabuto langsung menyerang leher Naruto dengan katananya. Tapi, tangan Naruto bergerak cepat, mengarahkan wakizashinya untuk menghalau katana Kabuto hingga katana itu tak berhasil memutuskan lehernya. Kabuto terus bergerak menyerang Naruto dengan kecepatan yang intens. Namun Naruto selalu berhasil menangkis serangan itu dengan kecepatan yang luar biasa. Katana milik Kanuto seakan berlutut saat berhadapan dengan wakizashi Naruto.

"Sudah cukup main-mainnya," kata Naruto.

"Tidak, sebelum aku bisa membunuhmu, Kitsune," kata Kabuto.

Naruto langsung menerjang Kabuto dan menggoreskan wakizashinya ke kaki Kabuto. Kabuto juga tak menyerah. Beberapa kali dia menyerang Naruto dengan katananya dan diselingi tendangan dan pukulan keras. Salah satu pukulan itu mendarat sempurna di perut tepat di luka bekas katana Kabuto. Pukulan itu membuat Naruto jatuh berlutut memegangi perutnya yang semakin deras mengalirkan cairan pekat. Naruto meringis kecil.

"Bagaimana, Kitsune? Aku semakin hebat, bukan?" tanya Kabuto sambil menempelkan sisi tajam katana ke leher Naruto. Kilatan katana yang terkena sinar lampu, membuat mata Kabuto yang saat itu memandang katana itu, silau. Kabuto lengah. Dan Naruto menyadari itu.

Dengan satu sentakan keras, Naruto menggenggam katana tersebut, menghiraukan telapak tangannya yang mengucurkan darah segar, lalu menariknya kuat hingga terlepas dari genggaman Kabuto. Setelah itu, sebuah tendangan mendarat di kaki Kabuto hingga membuat Kabuto kehilangan keseimbangan dan sukses terjatuh ke lantai. Kesempatan baik ini tak disia-siakan Naruto. Kini dia bangkit dan memukuli wajah serta kepala Kabuto hingga pingsan.

(#(#)#)

"Aku mendengar suara yang aneh dari arah sini."

"Apa kau yakin?"

"Ya. Aku juga mendengarnya."

"Jangan kesana! Lebih baik kita cari jalan keluar lalu pulang ke rumah! Otou-san pasti cemas mencari kita."

"Untung saja kita berhasil melepas ikatan itu."

"Benar. Tapi rumah ini terlihat aneh. Terlalu… sepi."

"Dan sepi ini sangat menguntungkan. Kita bisa keluar dari rumah ini tanpa diketahui."

Sudah dapat diketahui. Enam anak itu berhasil meloloskan diri dari ruangan tempat mereka dikurung. Dan kini mereka mencari jalan agar bisa keluar dari rumah besar ini. Anak-anak ini memang cerdas. Dan penculiknya terlalu bodoh. Sangat beresiko membiarkan anak-anak seperti mereka terikat di sebuah ruangan besar tanpa penjagaan dan pengawasan. Dengan semua itu, anak-anak ini berhasil dengan mudah melepas ikatan dan mendobrak pintu ruangan tempat mereka dikurung.

Pemimpin rombongan anak-anak itu, Gaara, tiba-tiba terhenti saat melihat salah satu pintu yang terlepas dari engselnya. Entah mengapa timbul rasa penasaran di benaknya dan anak-anak lain yang kebetulan melihatnya juga. Saat melihat ke dalam ruangan, mereka terpaku. Ruangan itu hancur lebur dengan beberapa perabotan yang rusak dan patah. Tubuh-tubuh yang tak diketahui masih bernapas atau tidak bergelimpangan dimana-mana.

Dan yang lebih membuat mereka terkejut adalah sosok Otou-san mereka yang terkapar di tengah ruangan dengan darah yang masih menggenang di bawah tubuhnya. Anak-anak kontan langsung berlari ke dalam ruangan menghampiri sosok Otou-san mereka.

"Otou-san!"

"Otou-san! Bangunlah!"

"Otou-san! Buka matamu!"

"Otou-san! Otou-san!"

"Otou-san! Jangan tinggalkan kami!"

"Otou-san…! Otou-san…!"

To Be Continued

Chapter 3 finish

Sebelumnya Youichi mau ngasih tahu apa itu wakizashi. Wakizashi itu bentuknya sama kaya' katana, tapi lebih pendek. Seorang samurai biasanya bawa wakizashi juga. Wakizashi itu lebih bagus buat bertahan *kalau gak salah* Karena ukurannya, jadi si pemakai bisa mengayunkannya lebih cepat dari katana biasa.

Youichi udah update sekilat-kilatnya! Buatnya nadak. Gak ada persiapan. Idenya ngalor ngidul. Gomen ne, kalau di chapter ini gak terlalu seru. Kebanyakan adu mulut Naruto ama pak tua Namikaze. Tapi buat senpai ama readers yang baca fic aneh ini, jangan ditiru kata-katanya Naruto, itu kagak baik. Nanti bisa dikutuk jadi ramen! Kalo menurut Youichi, scene adu mulutnya tuh seru. Coba aja bayangin, kalo kita yang bicara kaya' gitu.

Sekarang tentang chapter 4. Youichi gak tahu kapan bisa updatenya. Tapi Youichi akan berusaha gak terlalu lama. Idenya masih nimbang-nimbang mau pake yang mana. Buat MY LITTLE HIME-CHAN yang nuntut karena namanya gak Youichi sebutin, sekarang ada! noh lihat! Jadi jangan marahi sememu ini ya? Arigatou untuk senpai dan readers yang sudah mau membaca dan review fic aneh ini. Youichi sangat berterima kasih karena fic ini bisa diterima. Arigatou Gozaimasu.

REVIEW!