[REMAKE] Guardian Cheonsa by Karina Citra Ayu

Guardian Angel

Cast : Park Chanyeol | Byun Baekhyun| Kris Wu a.k.a Wu Yifan as Byun Yifan

Length : Chaptered

Genre: Shounen-ai! AU! Romance! Little bit angst!

Rated : T

Disclaimer : Cerita Punya Karina Citra Ayu, aku Cuma nge remake doang. Cast milik tuhan, orang tua dan agensi masing-masing.

Summary :

Memilih salah satu dari dua pria yang paling penting dalam hidupnya merupakan hal yang mustahil bagi Byun Baekhyun. Byun Yifan bagaikan malaikat pelindungnya dan Park Chanyeol adalah cinta pertama nya. Namun, ketika tak bisa memilih, atau lebih tepatnya tidak ingin memilih, ia harus kehilangan mereka sekaligus memori nya. Sebuah misteri pun terus membayangi kehidupan Baekhyun hingga berbagai kejadian aneh perlahan mengingatkan dia akan lelaki yang sesungguhnya memiliki cinta sejati ….

Warning! Typo(s) DLDR! Read and Review please! | ChanBaek Fanfic

Chapter III

.

Bagian dua : Past Guardians

Part : satu, dua, tiga.

"My heart, for the first time, draws a rainbow.

Yes, because of you"

Byun Baekhyun―

.

Hari Senin di sisa penghujung musim dingin ini masih sangat pagi. Baekhyun mengerjapkan kedua kelopak mata nya perlahan hingga tersadar penuh.

Dunia di balik jendela masih sangat gelap. Aku yakin matahari masih malas bersinar sepertiku…

Baekhyun menggerutu dalam hati nya sambil mennyingkap selimut sedari malam menyalurkan kehangatan ke tubuh nya. Secepat nya, ia bergegas mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Setelah kurang lebih sepuluh menit membersih kan diri, Baekhyun lalu mengganti piyama dengan seragam sekolah nya. Bulan Maret adalah tahun ajaran baru di Korea Selatan. Tahun ketiga Baekhyun berada di sekolah menengah.

Masih pukul enam pagi…

Jarum pendek jam yang menempel di dinding kamar ber-wallpaper warna biru maybeline itu di angka enam. Baekhyun lalu menepuk-nepuk pipi nya, member sentuhan rona merah alami di wajah nya. Ia lalu menyisir dan mengikat rambut brunette nya yang cukup panjang, memperlihat kan leher nya yang jenjang. Setelah memakai kaus kaki yang lebih tinggi sedikit di atas mata kaki nya, Baekhyun mengetuk kamar yang ada di sebelah nya sambil menggendong sebuah ransel kecil.

" Hei, Yifan Ahjussi, Ireona! Sekarang sudah jam enam dan sekolah dimulai pukul Sembilan, bukan? Anak-anak calon tim basket nasional Korea Selatan itu semua sedang menunggu mu! " teriak Baekhyun, nyaring, sambil menggedor-gedor sadis pintu kamar Yifan. Karena tak ada jawaban sama sekali, Baekhyun lalu menyuarakan ancaman nya.

" Ahjussi, kalau kau mau, aku bisa berangkat ke sekolah sendiri! "

Gubrak!

Terdengar suara benda keras berdebam jatuh, di susul suara langkah-langkah berat yang cepat. Baekhyun tersenyum, menaikkan alis nya. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi kemudian. Sambil memasang headset yang memainkan lagu 'Mirotic' dari TVXQ di telinga nya, ia mulai menghitung dalam hati. Satu, dua, ti….

Pintu langsung terbuka kasar. Masih sedikit terhuyung, Yifan terlihat memaksakan diri membuka mata nya.

" Tak bisa, tak bisa! Aku harus mengantar mu sampai ke sekolah! Jjangkaman, ne? "

Pagi selalu berulang seperti ini. Baekhyun sudah hafal betul sejak sepuluh tahun lalu. Dari mulai ia masuk sekolah dasar, Yifan-lah yang mengantarkan nya ke sekolah. Hingga sekarang, saat ia SMA.

Baekhyun merapikan rambut paman nya yang tak tentu arah. Memang terlihat berantakan. Ia lalu menepuk bahu Yifan sekali, sebelum akhir nya turun ke lantai bawah.

" Aku selalu menunggu mu, Yifan Ahjussi. " [ _ ]

.

.

.

.

Nyata nya, Baekhyun tak selalu menunggu Yifan.

Baekhyun melirik arloji di tangan nya. Sudah pukul 08.30 sekarang. Mobil yang di kendarai Yifan Ahjussi-nya tadi mogok. Ia masih mengingat betapa mati-matian usaha nya tadi meyakin kan paman nya itu bahwa ia bisa melanjutkan setengah perjalanan nya menuju sekolah seorang diri. Ya. Sebenar nya, ia tadi meninggalkan paman nya yang tak yakin sama sekali karena ia langsung masuk ke dalam bus menuju sekolah nya.

Tinggal seperempat perjalanan lagi. Baekhyun menyusuri sisa nya dengan berjalan kaki, menghirup lekat-lekat aroma pagi dalam kedamaian. Jajaran dedaunan pohon pinus yang turut meneduh kan langkah nya terasa makin menyempurnakan hari pertama nya kembali ke sekolah.

Namun tak lama, dari arah belakang Baekhyun, datang sebuah motor sport dengan bunyi knalpot yang cukup memekak kan telinga. Baekhyun lalu menyingkir agak ke tepi jalan, menyumpah-serapahi lelaki pengendara sepeda motor yang sudah melintas cepat, mendahului nya.

" Hei! Mungkin kau tuli,tapi orang di sekitar mu tidak! "

Mungkin karena teriakan Baekhyun lebih keras dari suara bising knalpot motor itu, lelaki itu menoleh ke belakang sambil tetap mengendarai kendaraan nya.

" BAHAYA! " pekik Baekhyun.

" Di depan mu! Belok… "

Brak!

Terlambat. Lelaki itu sudah menabrak tembok pembatas yang ada di tikungan depan dan jatuh dengan posisi kaki berada di atas. Motor nya terlempar tak jauh di sebelah kanan nya. Terlihat sangat kacau. Baekhyun lalu berlari dan langsung mendekati lelaki itu.

" kau baik-baik saja? " Tanya Baekhyun khawatir sambil membantu lelaki itu duduk.

" Hati-hati…, pelan-pelan saja... "

" Gara-gara kau aku….! "

" Hah? Apa salah ku padamu? "

Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali, melihat namja itu tiba-tiba tercenung setelah menggantung kan kata-kata bernada tinggi nya tadi.

" Ah,lupakan saja " jawab namja itu sambil berdiri menepuk-nepuk baju nya yang sedikit kotor, mungkin terkena partikel-partikel debu yang berterbangan. Namja itu jauh lebih tinggi dari Baekhyun yang bertubuh mungil—minimalis.

" Benar kau tak apa-apa? Ayo, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang….. "

" Lupakan saja "

" Tapi ada darah di leher mu "

Baekhyun bergidik ngeri melihat nya.

" Setidak nya, buka helm full face mu dulu. Biar ku cek luka mu. Sebentar "

Baekhyun merogoh saku seragam nya dan menyerahkan sebuah plester untuk namja itu.

" Pakailah ini "

" Tak usah "

Baekhyun menyodorkan plester tersebut ke arah namja itu, namun namja itu langsung menepis tangan Baekhyun dan mengusap darah yang ada di leher nya dengan tangan kiri nya. Ia lalu menegak kan motor nya, menyalakan motor sport putih itu, dan langsung melesat meninggalkan Baekhyun

' Dasar tak tahu berterima kasih! 'Baekhyun membatin kesal.

Sebuah benda ke perak-an yang ada di tanah terlihat berkilau tertimpa sinar matahari, ikut memantul kan cahaya silau ke mata Baekhyun. Dengan mata nya yang menyipit, Baekhyun segera mengambil benda yang ternyata sebuah name tag dari pelat besi.

' Apa ini milik lelaki itu ya? Seragam sekolah dan tipe name tag nya sama dengan ku. Apa aku harus mencari dia di sekolah ya? '

Baekhyun menaruh name tag itu di saku blazer sekolah nya yang berwarna kuning. Ia lalu melanjutkan langkah nya lagi menuju School of Performing Art, sekolah menengah khusus seni paling terkenal di Korea Selatan. [ _ ]

.

.

.

.

.

" Jadi tadi kalian terlambat dan di hukum mengangkat tangan di tengah lapangan ya? "

" Semua nya gara-gara Minseok! Dia tak mau bangun. Akhir nya aku menyulut petasan sisa pesta tahun baru dan ku masuk kan lewat celah ventilasi yang ada di atas pintu kamar nya. Hahaha….! "

Minseok yang sedang di-bully oleh Baekhyun dan Luhan hanya mampu mengerucut kan bibir nya. Minseok dan Luhan adalah sahabat dan teman sebaya Baekhyun, meski mereka tidak berada di dalam satu kelas yang sama. Minseok dan Luhan tinggal di apartemen yang sama.

Ketiga nya kini sedang beristirahat dan menuju kafetaria. Kafetaria itu cukup luas dan di dominasi warna krem sehingga menimbulkan kesan hangat. Setelah selesai memesan di konter makanan, ketiga nya memilih meja yang masih kosong. Manic mata mereka bertiga mengedar ke segala arah, memperhatikan dengan bingung kenapa murid-murid yang berlalu lalang dalam kafetaria ini melihat ke arah kami semua.

" Hei! Kenapa kalian duduk di kursi kami, hah?! "

Tiba-tiba, seorang namja tinggi dan tampan berseru dan menggebrak meja mereka. Di belakang nya lagi, ada seorang namja yang lebih pendek namun juga tak kalah tampan nya.

" Kalian tak tahu kursi ini milik siapa?! " hardik namja yang lebih tinggi itu lagi.

" Sudah lah, Sehun. Biarkan saja mereka. Bolehkah kami bergabung, uke-uke manis? Lagi pula, mereka bertiga sangat cantik, Sehun. Terutama yang ini… " goda namja satu nya lagi yang lebih pendek sambil mencolek dagu Minseok.

Minseok langsung mengusap-usap dagu nya, seolah-olah di dagu nya tertempel berbagai kuman penyakit akibat colekan namja tersebut.

" Tak bisa begitu, Jongdae-ya! Jangan menggoda mereka di saat seperti ini! "

" Hei! Memang nya ini kursi nenek buyut mu?! Lagi pula, tak ada stempel nama mu di sini! "

Baekhyun tiba-tiba berdiri dan berteriak tak kalah keras nya dari Sehun.

" Ada ukiran nama kami di kolong meja. Lihat saja sendiri. "

Sebuah seringai licik muncul di sudut bibir tipis Sehun.

" Shireo! Lebih baik kita pergi dari sini! " geram Minseok yang terus di kedipi oleh Jongdae sedari tadi. Ia lalu menarik tangan Luhan yang duduk di samping nya.

Namun, Luhan segera menepis nya.

" Hajima. Kalian duduk di sini saja, Sehun-ssi, Jongdae-ssi…. "

" Ah, baiklah. Aku saja yang pergi! Terserah kalian mau apa! "

Baekhyun pergi meninggalkan kedua sahabat nya dan kedua namja itu setelah berteriak gaduh. Baekhyun memilih menyendiri. [ _ ]

.

.

.

.

TerimaBaekhyunCabe

.

.

.

.

A/N :

hola :3 maaf kan dakuh, karena ga nepatin janji :3 janji nya mau update is it real love, eh malah update ini duluan. Cheonsa mau publish cerita lagi + mau nge remake lagi*kayak nya sih dan kalo ada waktu dan kesempatan*ada yang minat nge baca nya? Last! Yo review yo! Cheonsa butuh review beb.