Moshi-moshi……ketemu lagi di chapter 3.. buat yang udah review....makasih banget ya....atas saran dari para senpai,membuatku jadi semangat buat fic. (padahal yang review cuma 2) Karena aku lagi seneng-senengnya buat fic, heheheehe......

Padahal bentar lagi mau UN...(ditabok mama gara-gara bikin fic mulu)

Langsung aja deh masuk ke chap 3... (author udah cape cuap-cuap).

Summary :

Disclaimer : (lagi) masih punya Masashi Kishimoto ko....yang super kreatif bikin cerita Naruto, sedangkan The Shinobi Gank yang gaje ini punya dhitta....

The Shinobi Gank

Chapter 3 Perasaan Mereka

Kring...Kring

" Baiklah pelajaran hari ini cukup sekian...terima kasih" seorang wanita paruh baya baru saja keluar dari sebuah ruangan kelas. Setelah wanita itu keluar nampak para mahasiswa yang ada diruangan itu langsung menghambur keluar ruangan itu. Hampir seluruh mahasiswi, ralat bahkan semua mahasiswi bergumam dalam hati ' betapa beruntungnya hari ini' karena bisa melihat pemandangan indah. Sosok seorang pria dua puluh tahunan, memakai kemeja berwarna putih, jas berwarna hitam yang senada dengan celananya. Dua kancing kemejanya sengaja dibiarkan terbuka, sehingga memperlihatkan bagian dadanya yang mulus dan bidang itu. Membuat semua perempuan yang melihatnya berkhayal bisa bersandar didadanya itu (termasuk author). Rambut pirangnya dibiarkan berantakan, penampilannya benar-benar urakan, tetapi tetap mempertahankan imagenya yang keren. Dialah Uzumaki Naruto. Wajah tampannya menunjukkan ekspresi datar saat dirinya menjadi topik pembicaraan orang lain, terutama para mahasiswi. Bahkan ketika ada yang menyapanya pun ia hanya melempar senyum yang dipaksakan.

Ada seseorang yang Naruto tunggu saat itu. Hinata. Ya, Hyuuga Hinata. Kekasihnya , seorang gadis cantik dari keluarga terpandang yang hari ini menurut Naruto berpenampilan manis dengan celana panjang yang menutupi kaki jenjangnya dan sebuah kemeja abu-abu bermotif bunga . Rambut indigonya yang panjang dibiarkan terurai. Mata lavender Hinata yang semula menunjukkan ketenangan berubah ketika melihat Naruto yang bersandar ditembok luar kelas. Hinata terkejut, matanya terbelalak. Tanpa pikir panjang Hinata langsung berbalik untuk menghindari Naruto. Tetapi usahanya sia-sia ketika tangan kekar dan hangat Naruto mememegang tangannya, mencegah Hinata untuk menghindar darinya.

Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Banyak mahasiswa yang memutuskan untuk pulang kerumahnya masing-masing. Tetapi tidak bagi Sasuke. Ia terlalu sibuk mengumpati mobil sport hitamnya yang mogok. Mobil sport itu mogok? Benar-benar tidak habis fikir. Alasannya bukan karena mesin mobil ini rusak, tapi alasannya adalah karena si bungsu Uchiha ini lupa mengisi bensin mobilnya. ' dasar bodoh!!' setidaknya itulah isi dari inner Sasuke.

" bagaimana bisa aku lupa mengisi bensin ?? dasar Uchiha bodoh!" umpatnya lagi. Mahasiswi-mahasiswi yang kebetulan melewati atau sengaja melewati mobil Sasuke langsung ber'kyaaa' atau senyum-senyum ga jelas sama seperti ketika mereka melihat Naruto. Reaksi Sasuke? Sepertinya Sasuke tidak sedikit pun berminat untuk menggubris mereka.

Selagi Sasuke murka dengan mobilnya itu. Seseorang mahasiswi dengan sepeda pinknya menuju ke arah mobilnya. Sasuke langsung menghela napas lega karena bantuan akan segera datang. Tanpa berteriak ' kyaaaa...Sasuke ' atau pun senyum-senyum seperti mahasiswi lain, ia dengan santai melewati mobil Sasuke. Bahkan melihat kearah Sasuke saja tidak. Hal ini membuat Sasuke mendengus " Dasar pinkers!!!"

Ia pun mengejar sepeda itu cepat dan sepertinya Sasuke berhasil mengejar sosok bersepeda pink itu.

" Haruno-san...! "

" Lepaskan aku? Apa maumu sebenarnya?" tanya Hinata ketus dan memberontak. Tetapi sekuat apapun Hinata, tangannya tetap tidak lepas dari genggaman Naruto. Naruto pun tetap tak berekspresi, pandangannya tak tertuju pada Hinata. Semakin Hinata memberontak, Naruto malah terus mempererat genggamannya. Erat, erat sekali. Sampai-sampai pergelangan Hinata yang semula putih berubah warna jadi merah. Orang-orang di sekeliling mereka tak henti-hentinya bertanya apa yang terjadi bahkan ada beberapa orang yang mencoba membantu Hinata untuk lepas dari Naruto. Tapi mereka mengurungkan niatnya ketika melihat tatapan horor dari Naruto yang seolah berkata ' tinggalkan kami, atau kalian akan mati!'. Jadi tinggalah mereka berdua sendirian di depan kelas itu. Orang-orang yang semula ada disekitar mereka semua menjauh mencari jarak aman, karena mereka pernah melihat bagaimana kalau Naruto marah.

Cairan bening keluar dari kedua mata lavender milik Hinata. Tapi tetap tak membuat Naruto bergeming.

" Ke...Kenapa kau jadi begini? Kenapa kau menyakitiku begitu dalam?" tanya Hinata dengan nada bergetar, ia menggigit bawah bibirnya, menahan rasa sakit dihatinya. " Kau lemah" itulah kata yang keluar dari mulut Naruto. Dua kata itu dengan sukses mengenai hati Hinata. Hinata langsung lemas. Seolah-olah kakinya sudah tidak dapat menopang tubuh mungilnya lagi, pergelangan tangan yang digenggam erat Naruto juga terasa sakit ditambah dengan kata-kata Naruto yang semakin menambah rasa sakit dihatinya. Ketika Hinata sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit itu, Naruto justru malah memeluknya. Mata Hinata terbelalak melihat reaksi Naruto. Matanya terus megeluarkan air mata. Tanpa diperintah Hinata langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang Naruto. Menangis..itulah yang dilakukan Hinata sekarang.

Naruto mengelus kepala Hinata lembut, mencoba menenangkan kekasihnya yang menangis. Melihat adegan romantis ini para fansgirl Naruto yang memperhatikan mereka berdua langsung pingsan berjamaah(?).

" Uchiha...?" Sakura menaikan sebelah alisnya ketika melihat Sasuke menghentikan sepedanya. " Suatu kehormatan bagiku, karena kau bisa mengenaliku, Haruno-san." Sasuke langsung mengeluarkan senyuman mautnya. Bukannya pingsan ketika melihat senyum yang sangat langka dari Sasuke, Sakura malah eneg melihat senyuman itu.

" Katakan saja apa maumu?" Sakura langsung to the point.

" Mobilku mogok." Sasuke juga langsung to the point sambil menunjuk mobil sport hitamnya. Sakura menaikan sebelah alisnya lagi ketika melihat mobil itu. " Lalu apa peduliku?" Ia kembali mengayuh sepedanya. " Tunggu..!" Sasuke mencegahnya(lagi).

" aku butuh bantuanmu. Tolong ya?" pinta Sasuke memohon. " Huh...kau pikir aku akan bersedia repot-repot untuk membantu mendorong mobil mewahmu itu. Tidak akan pernah!" Ucap Sakura ketus. Tapi sepertinya tak akan membuat Sasuke menyerah. " Aku bukan mau menyuruhmu mendorong mobilku. Mobilku mogok karena aku lupa mengisi bensin jadi aku mau ke toko rotiku yang ada dijalan besar untuk minta bantuan." Sasuke menjelaskan. Mendengar penjelasan Sasuke sebenarnya Sakura sudah tahu maksud tujuan Sasuke.

" Lalu, kau mau menyuruhku mengantarmu kesana? Itukan maksudmu? Maaf ya kenapa kau tidak jalan kaki saja? Jarak kampus dengan jalan besar kan tidak terlalu jauh. Atau kalau kau tidak bisa berjalan, kau suruh saja pengawalmu itu untuk menjemputmu disini!" Sakura berbicara terus seakan tak memberi Sasuke kesempatan untuk menjawab pertanyaannya.

" Hp ku mati karena lowbath. Jadi aku tidak bisa menghubungi pengawalku. Lagi pula flat tempat kau tinggal kan ada di jalan besar. Tidak sisa-sia kan kalau aku menumpang sepedamu? Biar mobilku ditinggalkan disini, nanti pengawalku akan mengambilnya." Mudah bagi Sasuke untuk beralasan, tapi tidak mudah juga untuk Sakura menyetujui permintaannya itu. Dan baru kali ini ia setuju dengan Shikamaru tentang pembicaraan mereka kemarin. Sakura memang tidak seperti perempuan lainnya, yang pasti dengan senang hati mengantarnya. Jangankan ke jalan besar, ke ujung dunia pun pasti diantarkan (lebay).

" Tapi maaf ya Uchiha, aku tidak mau mendengar kalau nanti kau mengeluh sakit pinggang, hanya karena naik sepedaku!" Ucap Sakura dan lagi-lagi nadanya ketus. Sasuke sedikit mencerna kata-kata Sakura tadi. Benar juga kata Sakura, sadel{1} belakang sepedanya tidak di lapisi busa seperti sepeda perempuan pada umumnya. Hanya besinya saja. Bokong Sasuke yang biasa duduk di jok empuk mobil sportnya bisa langsung sakit .

" Hey kau pikir aku ini pria lemah, aku tidak akan langsung sakit begitu naik sepeda. Jadi kau mau mengantarku kan? " Dengan penuh percaya diri Sasuke berkata seperti, padahal pada awalnya dia sedikit ragu.

"......."

" Ayolah, Aku kan Uchiha Sasuke bukan Uzumaki Naruto." Lagi-lagi Sasuke mengeluarkan senyuman mautnya.

Sakura's POV

Benar juga ya, kenapa aku jadi kesal padanya, padahal dia kan tidak salah padaku, apa aku antar saja dia ya?

Tapi kalau aku antar, nanti dia berpikir yang macam-macam lagi.

Aduh...bagaimana ya aku bingung, padahal baru kemarin aku marah-marah pada Naruto, kalau aku antar si rambut ayam ini....

End Sakura's POV

" Ayo....jalan!" Tiba-tiba saja suara Sasuke membuyarkan lamunan Sakura. " Gyaaaaa....Kenapa kau tiba-tiba naik "

End Chapter 3

{1} Sadel itu seperti jok yang ada disepeda. Jadi kalau sadel belakang berarti tempat duduk buat boncengan gitu.

Sekali lagi maap....kalau dari chapter ke chapter fic ku ini makin ngaco aja...maap.

Oia...tokoh utama dalam fic ini sebenernya Sakura (author ngaku)

Tapi untuk pairing kayaknya lebih ke SasuSaku sama NaruHina (yaiyalah)

Di fic ini juga, maap sekali untuk fans ShikaTema , hubungan mereka ga kuceritakan secara detail. Kiba juga..kayaknya cerita cintanya ga terlalu kuceritain .

Bocoran chap 4 : Kisah pulang bareng Sasuke Sakura. Sama kisah fansgirl nya Naruto yang pingsan gara-gara ngeliat drama cintanya Naruto Hinata.

Semua ada di chap 4!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Sudikah para readers untuk review.....?