Eclipse
.
.
a BTS Fanfiction
Kim Namjoon x Kim Seokjin (GS!)
Kim Taehyung x Kim Seokjin (GS!)
.
.
Warn!
Fantasy, AU, GS. NamJin with TaeJin
.
.
Read at your own risk
.
.
Part 2 : The Alpha
Ketika Seokjin turun untuk makan malam bersama, dia bisa melihat Namjoon sudah duduk di kursinya dan Hoseok juga ada di sana.
Kelihatannya Alpha dan Beta dalam pack selalu bersama, karena memang Seokjin selalu melihat Hoseok berkeliaran di sekitar rumah Namjoon.
Seokjin duduk di salah satu kursi dan Hoseok menyambutnya dengan senyuman lebar. Seokjin membalas senyum itu dan ketika dia melirik Namjoon, suaminya itu tetap diam dengan wajah dingin seperti biasanya.
Kepala Seokjin tertunduk, disaat Hoseok bahkan benar-benar memberikan sedikit perhatiannya dengan melirik Seokjin dan tersenyum, Namjoon sebagai suaminya justru hanya diam dan melanjutkan makannya.
Pandangan Seokjin tertuju pada menu makan malam mereka dan sebagian besar terisi dengan daging. Seokjin mengernyit, mungkin dia harus lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan karena kelihatannya werewolf hanya suka daging.
"Kau tidak suka menunya? Maaf, kami memang biasanya lebih banyak mengkonsumsi daging." Hoseok tersenyum pada Seokjin kemudian menggeser mangkuk salad ke dekat Seokjin. "Tambahkan ini agar kau tidak sakit perut."
Seokjin tersenyum pada Hoseok seraya menggumamkan terima kasih. Dia meraih mangkuk besar berisi salad dan mengisinya ke piringnya. Seokjin melirik Namjoon sekali lagi dan akhirnya dia mulai makan.
Namjoon benar-benar tidak bicara padanya selama makan malam.
Ketika akhirnya makan malam selesai, Seokjin segera kembali ke kamarnya dan bermaksud untuk mengganti pakaiannya dengan piyama.
Dia dan Namjoon adalah pasangan sekarang, jadi mungkin Seokjin harus bersiap-siap untuk suaminya di malam ini karena walaupun ini bukan lagi malam pertama mereka, tapi mereka masih pasangan baru.
Seokjin sedang sibuk menyisir rambutnya ketika Namjoon membuka pintu kamar mereka dan masuk. Namjoon menghampiri Seokjin yang duduk di meja rias dan mengusap bahu Seokjin.
"Aku mau mandi dulu." Namjoon berbisik, dia menyingkirkan rambut Seokjin dari lehernya kemudian menggigitnya di tanda klaim Namjoon berada.
Seokjin memejamkan matanya, dan dia kembali membukanya saat Namjoon sudah melepaskannya dan pergi ke kamar mandi. Seokjin memperhatikan bekas gigitan klaim Namjoon di lehernya, Namjoon selalu menggigitinya setiap beberapa kali seolah jika dia tidak melakukan itu, Seokjin akan pergi.
Seokjin tidak tahu bagaimana sistem klaim dari werewolf kepada manusia. Yang jelas, bagi manusia seperti Seokjin, efeknya sungguh luar biasa karena bisa dibilang Seokjin menjadi cenderung ketergantungan akan Namjoon.
Dia bisa merasakan kehadiran Namjoon, dan juga merasakan detak jantung Namjoon di dalam dirinya.
Itu terasa seperti Namjoon hidup dalam tubuhnya. Dan alasan itulah yang membuat Seokjin memutuskan untuk meminta Namjoon menikahinya agar Namjoon bisa membawanya ke rumahnya.
Tapi setelah tiba di rumah Namjoon, entah kenapa Seokjin merasakan sebuah keraguan. Seperti sebuah firasat buruk terkait hubungannya dan Namjoon.
Seokjin meletakkan sisirnya dan mengelus tanda klaim Namjoon, bagian kulit itu selalu terasa lebih panas dibandingkan bagian kulit Seokjin yang lainnya. Dan bagian itu juga terasa berdenyut seiring dengan detak jantung Seokjin.
Seokjin masih sibuk memperhatikan tanda klaim di lehernya ketika pintu kamar mandi terbuka dan Namjoon keluar dari sana.
Namjoon tidak memakai pakaian atas, dia hanya memakai sebuah celana katun polos dan dia melangkah mendekati Seokjin kemudian memeluknya dari belakang.
Seokjin tersenyum, berada di dekat Namjoon selalu membuatnya melupakan apapun dan hanya fokus pada Namjoon.
Namjoon dan segala yang melekat dalam diri pria itu.
.
.
.
Ketika Seokjin membuka matanya keesokkan harinya, Namjoon tidak ada di sebelahnya.
Seokjin mencoba tidak peduli, mungkin saja Namjoon memiliki urusan lain seperti memeriksa kondisi wilayahnya atau sejenisnya.
Dan Seokjin bukanlah werewolf, dia jelas tidak akan bisa melakukan hal-hal yang bisa Namjoon lakukan.
Seokjin menggigit bibirnya dan memutuskan untuk bergegas turun untuk sarapan. Ketika dia tiba di bawah, dia melihat meja makan yang kosong dengan seorang pelayan yang entah werewolf atau bukan, sedang menuangkan sesuatu yang terlihat seperti jus jeruk ke sebuah gelas tinggi.
"Selamat pagi," Seokjin menyapa dengan suara pelan dan sang pelayan membungkuk sopan.
"Dimana Namjoon? Dan Hoseok?" Seokjin bertanya seraya meneguk sedikit jus jeruk dalam gelasnya.
"Sang Alpha sedang pergi memeriksa Omeganya, dan Tuan Hoseok berada di rumahnya." Sang pelayan menjawab dengan suara lirih namun Seokjin bisa menangkap ucapannya dengan baik.
Dahi Seokjin berkerut, "Omeganya? Namjoon punya Omega?"
Pelayan itu tersentak, tubuhnya kaku dengan wajah menatap Seokjin yang masih diam menunggu jawaban. Dia membuka bibirnya kemudian mengatupkannya lagi dengan gugup.
"Jawab aku, Namjoon punya Omega? Apa maksudnya itu?" Seokjin bertanya lagi dan sang pelayan mulai gemetar ketakutan.
Seokjin hendak mengajukan pertanyaan lainnya namun suara pintu yang dibuka dan langkah yang menghentak masuk ke dalam membuat Seokjin memalingkan pandangannya, dan dia melihat Namjoon, suaminya, sedang berjalan masuk bersama Hoseok.
Seokjin memperhatikan Namjoon yang berjalan dengan wajah datar seperti biasanya. Seokjin mengusap bibirnya kemudian meletakkan serbetnya ke atas meja. Dia berdiri kemudian berbalik untuk menatap Namjoon.
"Dia bilang kau punya Omega, apa maksudnya?" Seokjin bertanya dengan wajah datar, sebisa mungkin menjaga intonasi suaranya tetap stabil dan tidak meledak marah.
Hoseok terlihat meringis sementara Namjoon hanya diam.
"Ya, aku punya Omega." Namjoon menjawab dengan tenang. "Setiap Alpha akan berpasangan dengan Omega."
Seokjin mengangkat sebelah alisnya, "Berpasangan? Bukankah aku adalah pasanganmu?"
"Kau adalah Luna, kau berbeda dengan mereka. Kau akan melahirkan Alpha baru nantinya, dan Omegaku akan melahirkan werewolf biasa." Namjoon menjelaskan dengan perlahan.
"Melahirkan? Maksudmu kau akan memiliki anak dengannya?" Seokjin nyaris berteriak sekarang.
"Dia sudah memiliki anak dariku, aku mengunjunginya pagi ini."
Seokjin terperangah, dia menatap Namjoon dengan tidak percaya. "Lantas kenapa aku ada di sini?"
"Karena kau pasangan jiwaku."
Seokjin memutar bola matanya, "Oh, persetan dengan itu. Jika kau bisa memiliki anak darinya, kenapa aku harus berada di sini? Aku bahkan bukan werewolf, apa aku bisa mengandung anakmu?"
Namjoon mengangguk tegas, "Ya, kau bisa, setelah satu dekade, kau akan kuat mengandung bayiku."
Seokjin mendengus, "Sepuluh tahun lagi aku sudah memasuki usia tiga puluh tahun, apa yang membuatmu berpikir aku kuat?"
"Gigitan klaim dariku membuatmu hidup abadi. Hanya saja butuh waktu 1-2 tahun agar klaim itu terbentuk seutuhnya, dan setelahnya butuh satu dekade bagimu untuk menguatkan tubuhmu agar kuat mengandung Alpha baru. Nanti ketika aku menyerahkan jabatan Alphaku pada Alpha baru, kita akan hidup selamanya. Bersama." Namjoon melangkah mendekati Seokjin, "Saat ini kau sudah hidup abadi, hanya saja, aroma manusiamu masih tercium dengan kuat."
Seokjin tertegun, jika melihat dari penjelasan Namjoon, bukankah itu artinya dia belum terikat seutuhnya dengan Namjoon? Namjoon bahkan memiliki Omega dan Omega itu sudah memberikan bayi untuknya!
Lantas untuk apa ikatan diantara Seokjin dan Namjoon terjalin? Untuk apa Seokjin jatuh cinta pada Namjoon? Persetan dengan bagian dia hidup abadi dan statusnya yang berbeda yaitu menjadi 'Luna' atau apalah itu. Seokjin tidak peduli.
Dia tidak peduli lagi karena pada kenyataannya Seokjin harus membagi Namjoon untuk orang lain.
Dan di sini Namjoon adalah pihak yang mengikatnya lebih dulu. Jadi untuk apa? Untuk apa ikatan ini terjalin? Apa Namjoon merasa tidak cukup hanya dengan memiliki Omega?
Namjoon bergerak mendekati Seokjin lagi dan mengusap pipinya, "Sayang, kau baik-baik saja?"
Seokjin menepis tangan Namjoon dari tubuhnya, "Jangan menyentuhku." Seokjin menatap Namjoon dengan tajam, "Bagus sekali kau baru memberitahuku bahwa kau memiliki pasangan setelah membawaku kemari."
"Dia Omegaku, Seokjin. Setiap werewolf akan memiliki Omega, dan aku Alpha mereka, aku harus memberikan penerus pada pack ini."
Seokjin menggigit bibirnya, "Tolong katakan padaku kau hanya memiliki satu Omega."
"Ya, aku hanya memiliki satu Omega."
"Dan berapa bayi yang sudah kau miliki bersamanya?"
"Dua."
Seokjin merasa hatinya remuk mendengar itu. "Berapa lama kalian bersama?"
"Kurang lebih lima puluh tahun."
Seokjin memejamkan matanya, Seokjin bahkan belum berada di dunia ini lima puluh tahun lalu. Dan Namjoon bahkan sudah memiliki Omeganya saat itu. Omega Namjoon jelas lebih dekat dan terikat dengan Namjoon dalam segi apapun.
"Aku perlu waktu sebentar," Seokjin mendorong tubuh Namjoon dengan lemah agar menyingkir dari hadapannya.
"Itu tradisi, Seokjin. Kau tidak perlu memikirkannya."
Seokjin mendongak dengan pandangan berkilat marsh, "Oh ya?! Jadi menurutmu aku harus baik-baik saja mengetahui orang yang terikat denganku memiliki pasangan lain dan sudah memiliki anak dengannya? Menurutmu aku akan baik-baik saja dengan itu? Aku bahkan belum pernah bersama dengan orang lain selain dirimu seumur hidupku!"
"Itu wajar, manusia akan menganggapmu tidak menarik karena sejak awal jiwamu terikat denganku."
Seokjin tertegun, "Maksudmu alasan kenapa aku selalu sendiri selama dua puluh tahun lebih hidupku adalah karena aku terikat denganmu? Aku hanya bisa bersamamu?"
"Ya,"
"Dan kau bisa bersama dengan orang lain?"
"Ya,"
Seokjin mendesis, dia menatap Namjoon dengan marah. "Kalau begitu lebih baik aku sendiri seumur hidupku." Seokjin mendorong Namjoon dengan kuat kemudian berlari menuju kamarnya.
Hoseok mendesah saat melihat Seokjin berlari pergi. "Sudah kuduga ini akan sulit."
Namjoon melirik Hoseok, "Dia akan terus bersamaku, dia dan aku terikat. Aku bisa merasakan detak jantungnya dan dia juga merasakan hal yang sama."
"Ya, tapi Seokjin sangat.. tradisional. Kurasa dia tidak akan memaafkanmu dalam waktu yang lama."
Namjoon menunduk, menatap cincin pernikahannya dan Seokjin yang terlihat mengkilat di jarinya.
"Biarkan saja, dia hanya butuh waktu." Namjoon mengusap cincinnya, "Dia pasti akan kembali padaku. Aku yakin itu."
Hoseok menghela napas pelan, "Mari berdoa agar hal itu benar-benar terjadi."
.
.
.
Seokjin duduk bersila di atas tempat tidurnya. Dia memikirkan semuanya dan entah kenapa sekarang akhirnya dia bisa paham apa yang terjadi pada kehidupannya.
Seokjin lahir di malam full moon, ibunya selalu menceritakan bagaimana bulan terlihat begitu terang dan indah di hari ketika Seokjin lahir. Seokjin rasa itu adalah pertanda dari alam bahwa dia adalah pasangan dari sang Alpha.
Dan selanjutnya, selama masa hidup Seokjin, Seokjin tidak pernah berkencan. Dia pernah menyukai beberapa orang, tapi entah kenapa semua pria melihatnya seolah Seokjin tidak terjangkau, dan mereka akan berada di sisi Seokjin hanya sebagai teman, bukan kekasih.
Dan sekarang, Seokjin mengerti alasannya. Dia terikat dengan Namjoon sejak awal dan itu membuatnya tidak bisa menjalin hubungan dengan manusia lain.
Tapi kenapa Namjoon bisa mengikat dirinya dengan orang lain sebelum Seokjin? Itu sungguh tidak adil.
Seokjin menghabiskan hidupnya dalam kesendirian karena dia tidak bisa bersama dengan orang lain. Lantas bagaimana jika Namjoon tidak menemukannya? Bukankah itu berarti Seokjin hanya akan hidup sendirian seumur hidupnya? Seokjin akan menderita jika dia tidak bertemu Namjoon, tapi Namjoon akan baik-baik saja tanpa Seokjin.
Ini benar-benar tidak adil.
Seokjin meninju bantal yang berada di pangkuannya dengan marah.
Jadi itu alasannya Namjoon terlihat tidak terlalu gembira menyambut pernikahannya dan Seokjin. Itu pasti karena dia sudah terikat dengan orang lain.
Seokjin mendengus, seharusnya Namjoon menyebutkan statusnya yang sudah tidak lajang di kencan pertama mereka. Bukankah itu aturan dasar dalam berkencan? Seokjin meninju bantalnya lagi dengan marah kemudian meremasnya kuat-kuat.
Seokjin marah. Sangat.
Sementara itu, Namjoon duduk diam di ruang bawah seraya memejamkan matanya. Namjoon tersenyum tipis saat mendengar suara dari atas.
"Dia melompat dari atas tempat tidur." Namjoon berbisik pelan dan Hoseok menoleh ke arahnya.
"Semoga dia tidak mengamuk dan menghancurkan barang-barangmu di atas sana." Hoseok bergumam rendah.
"Tidak, dia hanya berjalan mondar-mandir dengan langkah menghentak." Namjoon tersenyum geli, "Dia lapar."
Dahi Hoseok berkerut, "Bukankah baru ada enam bulan setelah kau menggigitnya? Tapi efek ikatan kalian sudah sekuat itu?"
Namjoon membuka matanya dan menatap Hoseok. "Ya, aku tahu. Aku juga berpikir proses ini agak terlalu cepat, tapi aku suka merasakannya di dalam diriku."
Hoseok tersenyum, "Aku senang melihatmu terlihat lebih 'hidup' karena ikatanmu dengannya."
Namjoon mengangguk, "Aku juga menyukainya."
.
.
.
Seokjin berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan kesal. Dia baru menyadari bahwa dia belum sarapan dan sekarang perutnya berbunyi dengan begitu menyedihkan.
Dia ingin keluar, dia ingin makan. Tapi ego Seokjin menahannya. Seokjin tidak mungkin turun begitu saja kemudian melahap sarapannya setelah bertengkar dengan Namjoon secara terbuka.
Seokjin membuka jendela dan mengintip ke bawah, kamar mereka terletak di lantai dua, jika Seokjin ingin keluar, dia harus melewati tangga di dalam rumah. Dia manusia, dan dia tidak cukup gila untuk melompat dari lantai dua kecuali jika dia ingin mematahkan satu atau dua buah tulang dalam tubuhnya.
Seokjin mengerang kesal dan setelahnya dia meraih mantelnya kemudian dia melesat keluar dari kamarnya. Seokjin berlari kecil menuruni tangga dan mengabaikan Namjoon serta Hoseok yang berada di ruang depan.
"Sayang, kau mau kemana?" Namjoon berseru saat Seokjin terlihat tergesa-gesa menuju pintu.
"Jangan ikuti aku!" sentak Seokjin seraya membuka pintunya kemudian berlari keluar.
Seokjin juga tidak tahu dia mau pergi kemana, tapi dia membawa dompetnya dan dia berharap dia akan menemukan restoran atau sejenisnya di sekitar tempat tinggalnya.
Kaki Seokjin berjalan menyusuri jalan yang entah menuju kemana. Seokjin mendesah pelan, dia semakin lapar tapi kelihatannya jalan yang harus dia lewati masih sangat panjang.
Seokjin menoleh ke kanan dan kiri, dia tidak melihat mobil dimanapun dan seingatnya, kota terdekat berjarak sekitar empat puluh lima menit dengan mobil.
Seokjin bisa mati sebelum dia mencapai kota.
Dia mendesah lelah, kemudian Seokjin melihat hutan di sisinya dan mendadak terlintas pikiran untuk mencari buah-buahan di hutan.
Seokjin tersenyum gembira dan bergegas masuk ke dalam hutan. Dia pernah beberapa kali pergi kemping bersama ayahnya dan Seokjin rasa dia bisa mengenali tanaman yang bisa dimakan dan yang tidak.
Ketika Seokjin masuk semakin dalam ke hutan, dedaunan semakin lebat hingga rasanya bagian dalam hutan terlihat gelap. Seokjin mendongak, langit tidak lagi terlihat di tempat Seokjin berada sekarang.
Sekelilingnya terlihat begitu gelap dan Seokjin mendesah pelan. Dia merasakan firasat buruk. Seokjin melanjutkan langkahnya dengan perlahan karena hutan yang remang-remang tentunya menambah tingkat bahaya.
Seokjin baru saja melewati sebuah akar pohon yang menonjol ketika tiba-tiba saja sekawanan burung terbang secara bersamaan dan membuatnya menjerit karena kaget.
Seokjin berusaha berlari namun sialnya dia justru terpeleset dedaunan basah yang tersebar di tanah dan membuatnya terperosok ke sebuah jurang pendek.
Jeritan Seokjin terdengar mengisi seluruh hutan, dia meluncur dengan begitu cepat dan akhirnya berhenti saat tubuhnya membentur sebuah batu besar.
Seokjin mengerang sakit, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, sekujur tubuhnya terasa nyeri dan dia merasakan aliran darah serta bau anyir yang pekat dari seluruh tubuhnya.
Seokjin tahu bahwa dia akan mati jika tidak ada satu orangpun yang menolongnya. Tapi Seokjin bahkan tidak bisa menjerit untuk meminta tolong.
Airmata mulai menggenangi mata Seokjin karena rasa sakit di sekujur tubuhnya. Seokjin terisak pelan, "N-Namjoon.."
Seokjin meringis sakit, dia berusaha untuk tetap sadar dan mengumpulkan tenaganya untuk berteriak meminta tolong pada siapapun di sana.
Seokjin menarik napas, matanya terpejam untuk mengumpulkan kekuatan sekaligus menenangkan diri namun suara derak dari dahan pohon di sekitarnya membuat Seokjin membuka matanya dengan lebar.
Dan di sanalah Seokjin melihatnya, seseorang yang sedang berdiri di atas dahan pohon yang tak jauh dari tempatnya berbaring dengan menyedihkan.
Seokjin mengucap syukur dalam hati karena dia mengira sosok itu adalah Namjoon, Seokjin membuka mulutnya untuk memanggil Namjoon namun suara yang berasal dari sosok misterius itu membuat Seokjin menelan kembali kata-katanya.
"Hmm, I smell blood.."
Itu bukan suara Namjoon.
To Be Continued
.
.
.
Okeh, part duanya muncul gaes. Heheheu
Namjoonnya agak ngeselin ya? Emang /eh
Dan siapakah sosok yang nyamperin Seokjin kita?
Ditunggu tanggapannya~
