Grimmjow Jaegerjaquez pernah berkata,
"Ulquiorra tidak pernah menampakkan emosi apa pun di wajahnya... Aku yakin tak seorang pun pernah tahu apa isi hatinya. Dan sekarang, dia tidak akan bisa mengungkapkannya pada siapa pun juga..."
.
.
.
.
.
.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Bleach (c) Tite Kubo
RECONQUISTA! (c) Roux Marlet
Sidestory of Past, Present, and Future
The author gained no material profit from this story.
.
.
.
.
.
.
Chapter 3: The Soul Within
Chapter Warning: implicit adult theme.
Buenos Aires, Argentina, Oktober 1977.
.
.
.
.
.
Sai Shimura menyelipkan kertas itu ke bawah pintu dengan napas tersengal-sengal. Beberapa menit sebelumnya ia berlari sepanjang jalan dari tempat truk barang menurunkan muatannya di blok sebelah sampai ke kamarnya di lantai empat apartemen bobrok itu.
"Kalau bisa, kembalilah sebelum jam lima pagi."
Perintah gila! Mungkin Yammy Largo sudah jadi sama gilanya dengan teman sekamarnya itu. Sai diminta begadang semalaman di sebuah bar di utara kota, menemui seseorang, dan harus kembali dengan sebuah catatan bersandi dari orang tersebut—sebelum jam lima pagi.
Sebenarnya saat itu sudah jam setengah enam, tapi kamar Yammy masih sunyi senyap. Mungkin temannya itu masih tidur pulas.
Sejak berkenalan dengan Yammy, Sai dapat gaji tetap. Meski, dilihat dari segi mana pun, harusnya dia memang berhak menuntut sesuatu dari Yammy karena keabsurdannya waktu itu. Yammy secara tidak langsung menyampaikan bahwa identitasnya dan teman sekamarnya itu tidak boleh diketahui orang lain—Sai bisa saja memeras mereka. Tapi itu tidak dilakukannya dan inilah hidupnya sekarang. Sementara lukisan-lukisannya teronggok tidak laku di kamar, dia sudah berkeliling ke beberapa daerah di Argentina sebagai informan Yammy selama sepuluh bulan. Di Buenos Aires sendiri terdapat banyak perkumpulan; banyak daerah kumuh atau villa miseria, dan di sanalah kejahatan merajalela. Mulai dari pencopetan kecil-kecilan sampai perdagangan obat ilegal, Sai tidak tahu apakah pemerintah sengaja menutup mata akan hal ini atau tidak. Dia sendiri baru melihat kenyataan menyedihkan itu sejak menjadi informan Yammy dan mau tidak mau membahayakan nyawanya sendiri demi bayaran yang memang tidak sedikit. Mungkin Sai bisa mulai menabung untuk kembali ke Jepang.
Sampai hari itu, belum pernah dilihatnya teman sekamar Yammy keluar dari kamar. Agaknya orang itu memang perlu perawatan khusus, dan semakin ke sini Sai makin menyadari bahaya dari pekerjaan yang digeluti Yammy—makanya dia tidak bisa berbuat lebih jauh dari perawatan seadanya yang bisa dilakukannya saat ini. Sai tidak bisa membayangkan seperti apa kegiatan Yammy di dalam kamar itu sehari-hari; mereka tidak menyewa perawat atau semacamnya, jadi pasti Yammy sendiri yang mengurusi aktivitas dasar teman sekamarnya itu. Makan-minum, mandi, buang air, berganti pakaian? Yammy tidak kelihatan seperti seseorang yang sanggup merawat orang, tapi Sai merasa dirinya sejak awal sudah cukup banyak berprasangka terhadap Yammy jadi dia memutuskan untuk tidak ambil pusing.
Surat bersandi itu rupanya mendatangkan seorang dokter ke apartemen keesokan harinya. Pria Asia bertubuh tinggi berambut cokelat dan berjas putih itu mengetuk pintu kamar Sai lalu masuk, seperti yang dikatakan Yammy terhadapnya. Sai kemudian mengetuk pintu kamar sebelah empat kali dan Yammy keluar, bicara sebentar dengan dokter itu di kamar Sai, lalu memintanya pergi ke kamar Yammy sendiri.
Selanjutnya ada kemajuan terhadap teman Yammy itu. Orang itu akhirnya keluar dari kamar dengan kursi roda—dokter bilang, dia perlu melihat matahari untuk kesehatannya. Sai bisa melihat bahwa orang itu pucat bagai mayat; seandainya orang itu tidak membuka matanya dan tidak bergerak, Sai bisa mengira dia betulan mayat.
Sebetulnya Yammy juga tak bisa disalahkan dengan mengurung temannya itu selama ini di tempat teraman yang dia tahu dan dia bisa usahakan.
Sudah mendekati musim panas lagi di Buenos Aires dan Sai mengamati kedua tetangga sebelahnya yang baru saja meninggalkan apartemen itu dari jendela kamar sambil mengibas-ngibaskan buku sketsa karena kepanasan.
Apakah aman sebetulnya, mereka keluar begitu saja tanpa penyamaran...? Mestinya sang induk semang sudah tahu yang sebenarnya—Yammy kelihatannya punya banyak uang untuk sekadar biaya tutup mulut—tapi di luar sana, bagaimana? Sejurus kemudian Sai merasa dirinya tak perlu khawatir. Yammy pasti lebih tahu bahaya yang mengincarnya, dan mendadak sosok sang assassin yang mendorong kursi roda di bawah sana jadi tampak familier di mata Sai. Seperti seseorang—
—Shin Shimura. Kakak laki-laki Sai yang ditinggalkannya di tanah air. Apa kabar Shin sekarang, ya? Bisakah Sai menabung untuk pulang...?
Sai mengarahkan pandangan matanya ke jendela di sisi lain. Tampak di sebelah apartemen itu sebuah selokan besar yang cokelat airnya, mengalir meski lambat. Sai merasa dirinya seperti selokan itu. Dibandingkan pemandangan jalan dan pepohonan di jendela yang satu, selokan itu tampak begitu kumuh dan menyedihkan. Air di dalamnya berusaha bergerak, menghantam tumpukan sampah di tepi-tepinya, dan siapa yang tahu ke mana ia akan bermuara?
Sai meraih pensilnya.
.
.
.
.
.
"Cuacanya cerah," Yammy berkata dengan canggung. Apa yang harus dikatakan di saat seperti ini? Ulquiorra terlalu diam—maksudnya, tubuhnya tidak bergerak sama sekali, dan kepalanya menghadap ke depan terus. Apa yang sedang dipikirkannya kira-kira?
Yammy mengatakan yang sebenarnya soal cuaca. Dia memilih negara ini lantaran udaranya bersahabat dan jarang terjadi perubahan ekstrem pada iklimnya meski puncak musim panasnya jatuh di bulan Januari—begitu menurut pendapat kenalan Yammy yang sekarang menjadi dealer insulinnya yang baru. Yammy berharap hal itu baik untuk kesehatan Ulquiorra dan baru sekarang datang kesempatan untuk membawa orang itu keluar menghirup hawa segar.
"Rasanya lucu," imbuh Yammy dalam monolog itu, "beberapa tahun yang lalu kita masih balapan motor gila-gilaan dan kau selalu menang. Kalau kutantang kau sekarang, apa yang bakal terjadi?" Dia tertawa kecil, mendapati Ulquiorra seolah tidak mendengarkannya. "Dunia ini terlalu kejam, eh? Kau dan aku terpaksa hidup dalam pengasingan." Yammy menghela napas. "Andai saja kita bisa menemukan Aizen dan menuntut penjelasan..."
Dilihatnya kepala Ulquiorra terangkat sedikit. Mungkin mendengar nama Aizen meningkatkan perhatiannya.
"Bukannya aku tidak berusaha," ujar Yammy, "tapi karena aku tidak bisa terlalu lama berkeliaran, jadi aku belum berhasil menemukannya. Seandainya aku bisa membawamu pergi..." dia berhenti mendadak. "Hei, Ulquiorra..."
Yammy berjongkok di depan orang bisu itu dan meraih tangannya, mengucapkan dengan bahasa isyarat, "Maukah-kau-dan-aku-pergi?"
Ulquiorra tidak menanggapi dan Yammy mendengus, merasa geli terhadap dirinya sendiri.
"Cepat atau lambat, kita harus keluar dari gedung itu," gerutu Yammy sambil meneruskan perjalanan. "Tempat ini terlalu jauh dari para klienku, kita bisa kehabisan uang kalau terus tinggal di sini..."
Ulquiorra menundukkan kepala saat mereka berbelok di bagian gang yang tersorot sinar matahari langsung. Hati Yammy mencelos. Dokter Oyashiro bilang, diabetes sudah membuat kondisi mata Ulquiorra memburuk. Pasti dahulu ada masa ketika Ulquiorra tidak memakai insulin atau makan sembarangan selama beberapa waktu. Mengingat jam terbangnya yang tinggi di Espada, hal itu mungkin memang sering terjadi.
Namanya retinopati, salah satu komplikasi diabetes. Untuk penderita diabetes tipe 1 seperti Ulquiorra, yang sama sekali tidak bisa memproduksi insulin di tubuhnya dan sering terlewat menyuntikkan insulin, gejala retinopati berlangsung perlahan tapi pasti dan bisa membuatnya mengalami kebutaan permanen suatu saat nanti.
Yammy bekerja keras untuk mencegah komplikasi yang lain lagi. Setiap hari didapatinya warna kehijauan pada larutan Benedict yang ditetesi sampel urin Ulquiorra lalu dipanaskan, di mana seharusnya campuran itu tetap berwarna biru. Ulquiorra harus makan dengan benar dan beraktivitas, karena dosis insulinnya saat ini sudah cukup tinggi dan dokter tidak menyarankan untuk menaikkannya dalam waktu dekat; gula darah yang naik-turun dengan ekstrem sama tidak baiknya untuk tubuh. Tapi kondisinya tidak memungkinkan; orang itu bahkan tidak tampak peduli pada dirinya sendiri.
Dengan keterbatasan peralatan yang ada, hanya retinopati itu yang mulai kelihatan. Yammy hanya berharap ginjal dan saraf Ulquiorra baik-baik saja.
.
.
.
.
.
Sai menikmati pekerjaan barunya sambil sesekali masih mencoba melukis hal yang baru. Kadang dia diminta mengambil obat-obatan di pasar gelap atau menghubungi dokter lewat perantara ilegal seperti sebelumnya; lain waktu dia memata-matai orang di bar—Sai tidak suka mabuk-mabukan meskipun usianya sudah dua puluh satu (batas usia minimal untuk minum alkohol di Argentina yaitu delapan belas)—dan itu adalah poin plus paling utama di mata Yammy.
Suatu hari di akhir bulan itu, Sai menyampaikan kabar bahwa seseorang bernama Tsunade, perempuan Jepang yang tinggal di desa tepi pantai di ujung utara Argentina, bilang bahwa dia tahu sesuatu tentang orang yang dicari Yammy.
Desa itu jauh sekali dari Buenos Aires dan Yammy mencoba tawar-menawar untuk bertemu dengan perempuan itu di tengah-tengah, jadi keduanya sama-sama menempuh perjalanan. Tapi Tsunade tidak mau; dia punya ladang mutiara yang tidak bisa ditinggal.
Sepertinya Yammy tahu apa yang dimaksud—dia tahu bahwa daerah itu termasuk salah satu red light district yang terkenal di seluruh Argentina—jadi dia memutuskan dirinyalah yang akan pergi ke sana. Namun, daerah tempat Tsunade tinggal belum memiliki bandara sehingga Yammy harus menempuh jalan darat. Saat itulah dia bimbang; apakah akan ditinggalkannya Ulquiorra selama—paling tidak—dua minggu? Mungkin Sai bisa merawatnya? Oh, tidak... Yammy takut membayangkan apa yang bisa diperbuat Ulquiorra terhadap orang asing yang coba mendekatinya.
Saat coba diutarakannya, Sai malah berkata, "Kalau begitu, bawa saja temanmu itu ikut serta."
"Kau bercanda? Tempat yang akan kutuju adalah rumah prostitusi!"
"Lalu kenapa? Apa dia akan bertingkah macam-macam? Mungkin saja dia bahkan tidak tahu dirinya ada di mana. Begitu yang kubaca di buku-buku tentang orang yang mengalami sakit jiwa."
"Bagaimana pun dia laki-laki, dan di sana akan ada banyak perempuan menjual diri."
"Lebih baik kau membawanya daripada kau cemas sepanjang jalan."
Yammy mengertakkan gigi atas alasan logis itu. Anak muda ini sepertinya lebih memahami dirinya daripada yang diduganya!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ulquiorra Chifer memandangi jalanan tanpa minat sementara Yammy Largo sibuk bicara pada ponselnya. Mantan Cero Espada itu harus mengatur ulang jadwal dan lokasi pengiriman stok insulin selama dua minggu ke depan di mana lima hari dikali dua dihabiskan dalam perjalanan.
Sepanjang perjalanan hanya terdapat warna hijau vegetasi yang menunjukkan perubahan lanskap dari area kumuh dan miskin sekitar ibukota. Udara agak lebih panas dan lembab, mungkin karena sebentar lagi musim panas tiba. Argentina memang negara empat musim, namun musim-musimnya terbalik dengan di Spanyol—Januari nanti adalah puncak musim panas. Yammy membawa pakaian-pakaian berbahan tipis agar tidak kepanasan di jalan. Ulquiorra sendiri tidak terlihat terganggu dengan hawa menyebalkan itu.
Agar tidak sepi, Yammy memasang radio di dalam mobil sewaan itu. Sepanjang hari dia diam kalau tidak bersenandung kecil, dan kalau malam hari tiba dia mengunci pintu mobil dengan jendela sedikit terbuka—mereka bermalam di padang terbuka, cukup aman. Banyak keluarga bertamasya dengan cara ini.
Kecuali—hei, Yammy dan Ulquiorra tidak sedang tamasya keluarga.
Desa yang dituju rupanya desa kecil; namanya La Pichancha di Distrik Santa Fe dan Yammy sudah salah kira. Seluruh desa tepi pantai itu terdiri dari rumah-rumah prostitusi dan Tsunade adalah muncikari yang paling tua serta paling disegani—imigran dari Asia punya potensi pasar yang lebih besar, itulah yang dimanfaatkan Tsunade.
Urusan ini seharusnya cepat, batin Yammy. Dia memang sudah lama tidak bersenang-senang dengan wanita tuna susila, tapi dengan adanya Ulquiorra bersamanya dia tidak mau mengambil risiko. Jadi Yammy hanya akan bicara dengan Tsunade, mungkin tawar-menawar sedikit untuk informasi dan bayarannya, lalu langsung pulang.
Perempuan Jepang berambut pirang itu masih tampak awet muda di usianya yang kepala lima; dia langsung mengundang Yammy dan Ulquiorra untuk makan malam begitu mereka datang dan perjamuan itu dilakukannya di atas pondok kayu mewah yang menjorok ke lautan.
"Pendiam sekali temanmu," komentar Tsunade sambil minum cocktail beralkohol setelah makan, mengamati Ulquiorra yang tampak sangat normal dalam kemeja rapi dan sedang berdiri menghadap ke luar jendela besar.
"Dia memang tidak bisa bicara," Yammy berkata sambil berusaha kedengaran santai, jarinya meraba syringe berisi obat penenang di dalam saku jasnya untuk digunakan pada keadaan darurat. Tangan satunya menarik keluar segepok uang kertas dan menyodorkannya di atas meja.
"Jadi informasi apa yang kau punya?"
Tsunade meraih uang itu dan menghitung. Wajahnya tampak puas. "Ada orang lain yang pernah datang kepadaku dan bertanya tentang Sousuke Aizen."
"Siapa?"
"Oh, aku tidak bisa menyebut nama klienku di depan klien lain—"
Yammy menambah uang di atas meja.
"Cirucci Thunderwitch." Tsunade menyeringai, meraup uang itu dengan kedua tangan. "Seorang wanita Spanyol."
"Dia separuh Jepang," Yammy mengoreksi dengan perasaan seperti tertohok dan mendapati Tsunade tidak terkejut atas fakta bahwa Yammy mengenal Cirucci, "apa yang kau sampaikan padanya?"
"Aku pernah memberi tempat berlindung bagi Aizen," jawab Tsunade. "Itu Januari 1976."
"Apa Aizen bersama orang lain?"
Tsunade diam sebentar, senyum penuh maknanya tetap terpasang di wajahnya yang muda dan cantik, dan Yammy nyaris membanting lembaran kertas peso lainnya ke meja sambil mengumpat dalam pikirannya.
"Dia datang ke sini bersama seorang laki-laki yang dipanggilnya 'Gin'."
Yammy menunggu, sepertinya kalau dia yang bertanya terus bakalan tidak dijawab kecuali bayarannya ditambah.
"Mereka hanya numpang tinggal, sama sekali tidak menggunakan jasaku. Dan mereka tinggal di sini hanya sampai akhir bulan. Setelahnya aku tidak tahu."
Mantan Cero Espada itu mendecak dan mengeluarkan lembaran lagi. Tsunade meneruskan,
"Tiap hari mereka berdiskusi. Menghitung, mengukur jarak pada peta, tapi semua itu tidak ditulis. Tidak ada catatan apa pun, aku bersumpah. Semua itu membuatku gelisah, tapi aku mengenal Aizen saat masih muda dahulu dan aku yakin dia tidak sedang merencanakan sesuatu yang akan merugikanku."
Yammy memikirkan semuanya sambil mengerling ke arah Ulquiorra. Seingatnya, tanggal 31 Desember 1975 Kaname Tousen ditemukan tewas di London, Inggris. Apakah saat itu Aizen dan Ichimaru juga berada di Inggris? Untuk apa? Dan ke mana mereka pergi setelah meninggalkan rumah prostitusi Tsunade?
Dan orang ini, Cirucci Thunderwitch, dia adalah anak kandung Aizen dan sudah menuntut harta yang menjadi haknya menurut informan-informan Yammy lainnya. Jadi Cirucci juga mencari Aizen lewat jalur ilegal—tapi belum menemukannya juga, sepertinya?
"Kapan Cirucci bertanya padamu?"
"Bulan lalu," Tsunade tersenyum miring. Sepertinya dia suka melihat Yammy merasa kalah.
"Dan dia tidak mendapatkan informasi yang aktual di sini."
"Jaringanku di sini aktual dan faktual," bantah wanita itu tak setuju. "Pria-pria seluruh penjuru dunia mencari pelarian di sini. Omongan mereka di bawah rayuan maut hampir seratus persen benar. Bukan salahku kalau informasi terbaru tentang Aizen adalah setahun yang lalu. Belum ada sumber lagi yang datang. Orang itu pandai sekali menyembunyikan dirinya."
"Bagaimana dengan relasimu di luar negeri—"
Saat itu terdengar bunyi ceburan keras di luar, dan Yammy menoleh dengan kaget. Ulquiorra sudah raib dari ruangan itu—jendela besar itu terbuka.
.
.
.
.
.
Lima menit sebelumnya, Ulquiorra Chifer menggigil sendirian sambil memandangi laut. Dia merasa kedinginan karena angin bertiup kencang lewat jendela-jendela kecil dan kain kemeja lengan pendeknya agak tipis. Rasanya tadi dia hanya makan sedikit; entahlah, Yammy yang mengambilkan porsinya, dan Ulquiorra makan sendiri tanpa berpikir. Sekarang dia bahkan tidak ingat makanan apa yang masuk ke mulutnya tadi. Ulquiorra tidak mau berpikir dan mengingat karena memikirkan hal-hal yang telah lalu membuat hatinya sakit sekali.
Lidahnya senantiasa kelu dan matanya bertambah rabun di tempat berpencahayaan minim begini. Telinganya kadang bermasalah; di satu waktu dia sama sekali tidak bisa mendengar apa pun, di lain waktu suara Yammy yang memanggilnya begitu mudah masuk ke gendang pendengaran. Sepanjang hari itu dunianya berasa seperti setengah alam mimpi lantaran perjalanan panjang penuh warna hijau dan dia tidak tahu tempat apa ini, tetapi bersama Yammy yang bertubuh besar dia merasa aman. Sesekali dia menoleh ke meja itu. Dia tidak mau ditinggal sendirian oleh Yammy. Tidak lagi, dia tidak mau ditinggal...
Ah, Ulquiorra bisa mendengar debur ombak barusan. Monoton namun kedengaran merdu dan selama beberapa menit dia hanya memandangi laut yang gelap. Langit malam di luar menampakkan bulan sabit dan saat itu juga dia mengingat sesuatu tanpa bisa dicegah. Bayangan seorang perempuan yang terjun ke laut dan terbawa arus ke tengah samudera...
Entah atas dorongan apa, Ulquiorra membuka jendela dan melangkah ke luar. Pikirannya selalu tertutup kabut sejak hari yang traumatis itu dan dia hanya menuruti instingnya saja. Mendengar suara ombak, perlahan-lahan Ulquiorra merasa bahwa kabut dalam benaknya itu sebenarnya rintik hujan yang tidak pernah berhenti. Kenapa hujan bisa turun di pikirannya? Apakah itu masuk akal? Entahlah. Dia sudah membuang logikanya bersama harga diri dan masa lalunya.
Hatinya sungguh sakit kala memikirkan masa lalu.
Hati, ya...
"...di sanalah hati itu muncul..."
Terngiang tiba-tiba dalam kepalanya, kata-kata itu menghunjam dadanya dengan puluhan pisau tak kasat mata dan Ulquiorra tiba-tiba merasa pusing. Yammy lupa memberinya permen malam ini, tapi Ulquiorra tidak tahu itu. Dia sudah tidak ingat lagi dirinya pengidap diabetes sejak remaja, apalagi sadar akan gejala hipoglikemia yang sering dialaminya sebagai efek samping insulin. Ditariknya napas cepat-cepat dan pandangannya jadi berkunang-kunang—apalagi itu malam hari, rabunnya bertambah parah. Ulquiorra berusaha berpegangan pada kursi teras, tubuhnya sudah dekat sekali ke pinggir teras tanpa pagar itu...
...dan dia terjatuh ke laut.
.
.
.
.
.
Air menekannya dari segala arah.
Kenapa dirinya ada di bawah air, ngomong-ngomong? Dia tidak bisa bernapas di bawah sini. Rasanya lemas dan pandangannya semakin menggelap...
...kemudian, rasanya seperti ada seseorang meraihnya lalu menariknya keluar dari bawah air. Melegakan sekaligus menyakitkan. Ingatan akan sesuatu yang lain seperti menghantam kepalanya. Kilas balik dari peti memorinya yang berdebu datang bertubi-tubi, menyerangnya dengan rasa sakit di dada yang luar biasa, membuatnya merasa perlu bernapas sedalam-dalamnya agar tidak mati tercekik. Udara mengisi rongga paru-parunya dan ia terbatuk.
"Apakah kau pernah memikirkan—bagaimana rasanya mati?"
"-orra. Ulquiorra!"
Sepasang mata turquoise itu membuka lalu mengerjap beberapa kali. Ulquiorra terbatuk lagi sambil gemetaran, napasnya berantakan. Dadanya terasa sangat nyeri. Dia duduk dan menoleh, mendapati seorang perempuan muda dalam pakaian renang basah di sisi Yammy. Mereka berada di tepi pantai.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya sang hawa, parasnya cemas mengamati Ulquiorra.
"Dia bisu. Biarkan aku menanganinya," ujar Yammy pada si pelacur yang kebetulan sedang berenang tadi. "Jangan kau sentuh dia," tambahnya sedikit mengancam.
Ulquiorra masih gemetaran dan Yammy maju untuk meraihnya. Dipeluknya Ulquiorra dan ditepuk-tepuknya punggung ringkih itu.
"Tenang, tenanglah... Kau baik-baik saja, Chifer."
"Nghh..." Ulquiorra mencoba bersuara. "Huuunnnng..."
Yammy amat kaget ketika Ulquiorra mendorongnya mundur.
Ada sesuatu yang lain di mata hijau itu...
Yammy dibuat terkejut sekali lagi karena Ulquiorra menerjang perempuan yang menolongnya tadi lalu mengacak-acak pakaian renangnya.
"Tuan, tidak di sini!" Perempuan berambut hitam itu berusaha menahan Ulquiorra meski tidak kelihatan terlalu keberatan.
"Bawa dia ke kamar, Basterbine," perintah Tsunade sambil tersenyum bahagia.
"Mari, Tuan." Perempuan bernama Basterbine itu bangkit, cukup kuat untuk sekalian mengangkat Ulquiorra berdiri juga. Pemuda itu sendiri hanya menunduk, kepalanya bertumpu di leher si perempuan.
Selagi keduanya bergerak lambat menuju salah satu kamar—yang dimaksud adalah pondok kecil yang terdiri atas kamar tidur dan kamar mandi yang tersebar di area itu—Tsunade bicara pada Yammy yang masih syok dan diabaikan,
"Lihat temanmu ini. Cara yang ekstrem sekali untuk mencari mangsa! Bincang-bincang kita sudah selesai. Jadi mengapa tidak kau ambil salah satu merakku yang cantik dan ajaklah ke kamar?"
Kepala Yammy berdenyut-denyut; ia sudah cukup lelah karena menyetir berhari-hari, harus ditambah lelah dengan tingkah Ulquiorra saat ini. Apa yang terjadi sesungguhnya?
Sorot mata yang tadi itu... itu mirip sorot mata Ulquiorra yang lama, sebelum kegilaan itu merusak otaknya: kosong-hampa dan mengandung logika. Benarkah yang dilihatnya tadi? Ulquiorra telah mendapatkan kembali akal sehatnya? Namun ekspresinya... ekspresi itu tidak pernah ada di wajah Ulquiorra yang senantiasa bagaikan topeng. Apakah karena nyaris mati tenggelam tadi pikirannya jadi terbuka? Tapi apa pula maksudnya...?
Yammy hanya bisa bertanya-tanya sampai besok pagi. Sementara itu, mungkin bisa dicobanya saran Tsunade...? Dengan pikiran yang masih kalut akhirnya ia masuk ke pondok di sebelah Ulquiorra membawa satu perempuan.
Dari pondok itu, Yammy bisa mendengar keseruan aksi pasangan di pondok sebelahnya, yang buta oleh hawa nafsu yang akan padam dalam semalam. Berulang kali terdengar pekikan si perempuan diiringi desahan Ulquiorra samar-samar, dan Yammy menghela napas miris dengan si pelacur berdada besar dalam pelukannya.
Bagaimana pun ia meyakini bahwa dalam beberapa hal Ulquiorra bahkan jauh lebih kolot daripada Aizen, termasuk hal ini. Apakah Ulquiorra menikmati semua itu? Apa yang dia pikirkan? Benarkah kewarasannya sudah kembali?
Bahkan Yammy Largo, yang dahulu menyukai malam-malam bersama pelacur sebagai pelepas kepenatan, kali itu malah merasa begitu penat sampai-sampai wanita bertubuh montok itu diusirnya dengan bayaran dua kali lipat setelah lima menit ditidurinya.
.
.
.
.
.
Suara-suara di pondok sebelah baru berhenti setelah menjelang subuh—anak itu memang gila, batin Yammy yang tidak bisa tidur nyenyak bahkan setelah mandi dan berpakaian lengkap. Nanti dia pasti tidak bisa bangun, apalagi kemungkinan besar ini adalah 'malam pertama' baginya—tapi mereka toh tidak terburu-buru. Tsunade tidak punya informasi lain.
Pikiran bahwa semua uang ada di kantong Yammy sekarang membuatnya tertawa sendiri. Ulquiorra tidak punya apa-apa untuk membayar jasa si pelacur, jadi Yammy merasa dia perlu pergi ke pondok sebelah kalau hari sudah pagi—tapi rupanya perempuan itu mengetuk pintunya sebelum matahari terbit.
"Dia tidak menyimpan uang sama sekali," ujar perempuan berambut hitam itu, penampilannya berantakan yang dengan tergesa dipaksakan rapi. "Dan aku sudah ada janji lainnya—sekarang cepat bayari temanmu itu."
"Bagaimana dia?" tanya Yammy sambil mengeluarkan dompet, mengabaikan fakta bahwa perempuan itu menggeledah bawaan kliennya— seingatnya Ulquiorra memang tidak dibiarkannya membawa barang apa pun bahkan di saku.
"Seperti masih pemula," jawab yang ditanya setengah mencibir. "Apa dia memang...?"
Pertanyaan retoris yang tak selesai itu dijawab Yammy dengan tatapan membunuh. Si pelacur cepat-cepat melanjutkan, "Tapi staminanya tidak ada habisnya, gila benar! Padahal aku masih harus bertahan sampai pagi."
"Semoga berhasil," dengus Yammy tanpa simpati sambil menyerahkan sejumlah uang.
Perempuan itu berlalu setelah melemparkan kunci pondok sebelah padanya.
Yammy masih duduk sambil berpikir. Masih pemula, ya? Mungkin saja memang benar.
Sejurus kemudian Yammy baru ingat kembali bahwa semalam Ulquiorra baru saja tercebur ke laut—dan semua pakaiannya, yang kering dan bersih mau pun bekas pakai, ada di tas Yammy. Meski mestinya Ulquiorra tidur tanpa busana setelah beraksi semalam, Yammy tidak bisa menunggu sampai matahari terbit kalau begini caranya. Kalau pikiran Ulquiorra belum beres, apa yang bisa diperbuatnya jika dia terbangun dengan telanjang dan tidak sadar apa yang semalam dilakukannya...? Yammy keluar bersama tasnya dan mengetuk pintu pondok sebelah. Ulquiorra melenguh sebagai jawaban setelah ketukan ketiga, sepertinya baru bangun. Setelah merasakan keadaan di dalam cukup 'aman'—Yammy tidak mau diserang tiba-tiba—barulah dia memasukkan kunci, membuka pintu, lalu masuk.
Kamar itu berantakan seperti kapal pecah dan Ulquiorra, rambut hitamnya kusut dan mencuat ke mana-mana, melesat ke kamar mandi dengan seprai menutupi bagian bawah tubuhnya lalu membanting pintu menutup.
"Aku membawakan pakaianmu," ujar Yammy, meletakkan tumpukan kain di rak handuk dekat kamar mandi yang tertutup.
Ulquiorra tidak tampak gila—hanya seperti anak muda yang baru saja ketahuan melakukan hal terlarang—dan Yammy seolah dilanda badai euforia, tapi dia menahan diri. Dia duduk di kursi, menunggu dan bertanya dalam hati apakah urat malu Ulquiorra datang kembali bersama kewarasannya. Apa dia tidak sadar bahwa setiap hari Yammy-lah yang memandikannya, membersihkan tubuhnya setelah buang air, dan mengganti pakaiannya?
Selesai membasuh diri, Ulquiorra meraih pakaiannya dari rak handuk. Dia keluar dari kamar mandi, sudah mengenakan celana panjang, dan sedang akan mengancingkan kemejanya ketika disadarinya Yammy mengamatinya dari tadi. Ulquiorra menunjuk dada kirinya, tempat segurat tinta tertanam di bawah kulit.
"Angka empat..." gumam Yammy, tanpa sadar menyentuh tato serupa di tangan kirinya. "Kau Cuatro Espada."
Ulquiorra mengangguk dan mulai memasang kancing bajunya.
"Espada sudah bubar. Kita berada di Argentina dalam pelarian. Kau mengerti yang kuucapkan ini?"
Ulquiorra mengangguk lagi, kepalanya masih tertunduk.
"Kau... "
Meski kehilangan kata-kata, seringai psikopat Yammy kembali ke wajahnya setelah bertahun-tahun.
"Selamat datang kembali, Chifer. Bagaimana malam pertamamu?"
Ulquiorra mengangkat kepalanya dan Yammy menyesali gurauannya barusan.
Di balik sepasang netra hijau itu terdapat jiwa seseorang yang membara dalam amarah. Ekspresi asing di wajah yang sedemikian lama selalu datar itu membuat bulu kuduk Yammy meremang. Apa ejekannya kelewatan? Atau itukah alasan sesungguhnya pikiran Ulquiorra jadi terbuka?
Yammy akhirnya hanya berujar singkat,
"Ayo kita pulang."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Angka empat..."
Tangan putih si perempuan mendarat perlahan di atas dada bidang lawan bicaranya. Dua tubuh di atas ranjang saling bersentuhan, membuat rangkaian kayu-kayu itu berderit.
"Tato itu ada di sini," ujar perempuan itu lagi, menunjuk si laki-laki tepat di jantung.
"Kau yakin?" suara berat dari laki-laki itu membalasnya.
Sebuah anggukan. "Si anak angkat Aizen." Seulas senyum melengkung di bibir sang hawa berambut hitam yang sampai sejam sebelumnya masih melayani Ulquiorra Chifer di atas ranjang. "Deskripsinya sesuai. Kau bisa mencocokkan DNA-nya dengan barang bukti yang ada. Dan juga... dia tidak tampak gila bagiku."
"Kau memang favoritku, Bambietta Basterbine," bisik si laki-laki di telinganya sambil menindih tubuh perempuan itu, yang dibalas dengan dorongan penuh penolakan.
"Tidak hari ini, Lille Barro. Aku lelah, lelah sekali."
.
.
.
.
.
bersambung.
.
.
.
.
.
.
Author's Note
.
Larutan Benedict digunakan untuk mendeteksi glukosa, salah satu gula yang bisa mereduksi senyawa dalam larutan Benedict. Di zaman sebelum adanya strip cek glukosa darah (sebelum 1980-an), orang menggunakan Larutan Benedict yang ditetesi sampel urin lalu dipanaskan untuk memantau penyakit diabetes. Pada kondisi sehat, glukosa seharusnya tidak muncul di urin. Kadar gula darah di atas 160-180 mg/dL baru mulai menunjukkan perubahan warna pada urin yang diuji dengan Benedict. Larutan ini aslinya berwarna biru, dan selama pemanasan jika terdapat glukosa maka akan berubah menjadi hijau lalu kuning lalu oranye dan terakhir merah bata, seiring semakin tingginya kadar glukosa di urin.
Secara singkat tentang komplikasi diabetes, kadar glukosa darah yang terlalu tinggi bisa merusak saraf anggota gerak maupun mata, juga memperberat kerja ginjal. Cara mencegah komplikasinya dengan menjaga kadar glukosa darah tetap di range normal; dengan minum obat/suntik insulin, mengatur pola makan, dan berolahraga. Beban pikiran dan stress bisa juga terlibat. Bisa dibayangkan betapa pusingnya Yammy mengusahakan hal-hal ini untuk Ulquiorra yang penderita DM tipe 1. Pendek kata, meski cerita ini fiktif, penyakitnya nggak fiktif, dan terutama sebenarnya manageable. Roux hanya mencoba berbagi ilmu lewat fanfiksi, bagi yang pengen tahu lebih banyak bisa memperdalam sendiri atau tanya-tanya lewat PM (Roux juga masih belajar XD). Roux terbuka untuk kritik dan saran, termasuk untuk hal-hal di luar bidang kesehatan.
Terakhir, masih dalam suasana Idul Fitri, Roux mohon maaf lahir dan batin, terutama atas kemoloran (?) waktu update dari yang diumumkan. Di bab berikutnya akan berlangsung sidang atas tuntutan Cirucci di Chicago dan perkembangan Itachi serta relasinya dengan Senju. Penjelasan tentang Ulquiorra baru akan ada di bab 5 dan seterusnya.
Terima kasih sudah membaca!
[16 Juni 2018]
