A Blessing in Disguise
Cast : Kim Namjoon; Kim Seokjin; Kim Hayoung, and any others
Length : Parts
Rate : T
Genre : Romance, FamilyLife.
A Blessing in Diguise
Hoseok menjelaskan pada Seokjin, bahwa yang akan datang ke acara ulang tahun Kim Namjoon pastilah orang-orang penting. Hoseok tak tahu apakah ada penjagaan khusus dan pengecekan daftar undangan, namun Ia diberi tanda pengenal oleh sekretaris Namjoon sesaat setelah Ia berjanjian dengannya.
Dan karena alasan tamu undangan yang merupakan orang penting dan berkelas, jadilah Hoseok menggeret Seokjin kemari; tempat penyewaan jas.
"Kau bisa memilih jas yang sesuai ukuran tubuhmu, juga sesuai seleramu. Kita berdua tahu, untuk membeli jas mahal, kita perlu kerja keras selama setahun penuh."
Ya, Seokjin setuju. Namun Ia tak memiliki dasar yang baik untuk memilih jas yang sesuai dan pantas. Akhirnya Ia memilih setelan jas superkasual berwarna hitam. Ia hanya perlu mengatur rambutnya dengan gel rambut, dan itu sudah cukup.
Ia akan datang karena diundang, tak perlu menunjukkan batang hidungnya.
BLAH!
Seokjin tak memegang janjinya. Pukul 6 Ia mematut diri di cermin, memegang sisir dan gel rambut. "Bagaimana aku harus mengatur rambutku ini?"
Ia menggumam hal yang sama sekitar sepuluh menit, lalu melompat ke kasurnya dan bergulingan. Lalu membuka mesin pencarian untuk melihat gaya rambut sekaligus cara menata rambut. Ia sungguh tak punya ide untuk menata rambut!
Dan sungguh sumpah mati Seokjin tak pernah berpikir harus datang ke acara demikian.
Jika di ringkas, kegiatan Seokjin dari jam 6 hingga 8 adalah; mematut diri di cermin, bergumam memikirkan bagaimana rambutnya harus ditata, memainkan rambutnya dengan tangan seolah menatanya, bergulingan di kasur, berganti baju setelan yang Ia sewa, memikirkan lagi gaya apa yang bagus untuk rambutnya, lalu mematut diri di depan cermin. Hingga Hoseok memanjangkan leher masuk ke kamarnya.
"Kau sudah si–woooooooww! Kim Seokjin, kau sangat tampan!"
Seokjin ingin tersipu, pujian Hoseok adalah pujian pertama yang atas karya yang bahkan tak Ia yakini keberhasilannya. Namun rasa gugupnya terlalu dominan menguasai, perutnya mual.
.
.
.
Mereka sampai naik bis, tetap hemat dan merendah.
"Wajah tampan, pakaian sewaan mahal, tak membuatmu harus naik taksi." Itu seruan Hoseok lalu naik ke bisnya saat mereka di halte tadi.
Dan di sinilah mereka, berada di aula yang luar biasa luas dan fancy, dengan lampu kristal menggantung dengan sombong, dan dekorasi yang amat teramat bagus. Seokjin tak yakin, namun Namjoon sepertinya bukan tipikal orang yang akan memilih bunga segar dan cantik untuk pestanya.
Mereka berdiri di pinggir ruangan, berdiri kikuk memegang minuman. "Seokjin, kau tahu semahal apa minuman ini?"
Seokjin menggeleng. "Mau main tebak-tebakan?"
Hoseok mengangguk menerima tantangan. "Seribu dolar sebotol?"
Seokjin memiringkan kepala sambil mengangkat bahu, "kurasa dua ribu."
"Gila, jika benar, bisakah aku menyimpannya dan menggunakan isi gelas ini untuk membiayai kehidupan kita?"
Seokjin terkekeh mendengar racauan Hoseok. Dia mungkin mabuk; mabuk kemewahan sekalipun Ia tak minum sama sekali.
"Seonsaengnim!"
Seokjin otomatis berbalik ke arah suara, mendapati gadis mungil dengan gaun pesta satin berwarna abu-abu dan pita besar di belakangnya. Seokjin tanpa sadar tersenyum, berjongkok menerima pelukan–tubrukan–Hayoung dengan ringan.
"Kalian datang?" Namjoon menyusul di belakangnya, berdiri dengan sungguh tampan dengan setelan jas berwarna abu-abu dengan aksen garis sulur merah ditepinya. "Kucari kalian di seluruh ruangan, ternyata di sini."
Hoseok menjabat tangan Namjoon, merasa kikuk dengan cara Namjoon menjabat tangan yang sangat gagah dan maskulin–sekalipun ini bukan pertama kalinya mereka berjabat tangan. "Kalian? Anda tahu kami akan datang bersama?"
Namjoon mengangguk, melirik Hayoung yang masih bergurau bersama Seokjin tentang pita di belakang gaunnya. "Aku melakukan riset," Seokjin menoleh.
"Aku tahu kalian sejurusan, tapi tak kusangka kalian sedekat ini dan datang bersamaan."
"Kami tinggal di apartemen yang sama."
Namjoon mengangkat sebelah alisnya, menatap Hoseok tanpa ekspresi atas ucapannya. "Bagus kalau begitu." Ia beralih menatap Hayoung, membelai rambutnya dengan kasih sayang, lalu menatap Seokjin, "bisa kau temani Hayoung, acaraku akan dimulai."
Seokjin mengangguk, mendengar titah–permintaan–Namjoon yang dikatakannya dengan sedikit berbisik padanya. Mungkin agar Hayoung tidak mendengarnya sehingga gadis manis itu tak sakit hati atas ucapan Papanya.
Lalu yang Namjoon lakukan adalah berpamitan pada Hayoung dan berpesan, "main sama Seokjin-saem dulu, ya. Papa akan kembali tak lama."
Hayoung mengangguk, lalu menarik tangan Seokjin dan berceloteh tentang air mancur coklat dengan stroberi dan kue yang bisa ditusuk untuk dicelupkan ke air mancur coklat.
.
.
.
Pesta ini sungguh megah, berkelas, dan sangat indah. Tak perlu bertanya tentang hidangan yang mewah dan mahal, atau tangan Seokjin yang sedikit cemas saat menggenggam gelas-gelas kristal yang diedarkan pelayan–takut jika gelas itu terpeleset dari tangannya dan jatuh lalu Seokjin harus membayar ganti ruginya.
Di luar semua itu, sosok Namjoon yang menjadi pusat perhatian memang pantas menjadi pusat perhatian. Ia seolah diciptakan tuhan untuk menjadi pusat perhatian, agar semua melihatnya dan tunduk atas pesonanya. Ia berbicara dengan santai dan tenang, namun tetap berwibawa dan berkarisma. Ia bisa menjawab guyonan para pria yang cukup tua, namun tetap santai saat diajak bicara yang muda. Sungguh, Tuhan pasti berada pada mood yang baik saat menciptakannya.
Dan Seokjin menikmati pesta ini, sekalipun Ia kadang gugup atas satu dua hal yang baru pertama kali dilakukannya, namun Ia berhasil melewatinya. Hayoung mengajak Seokjin bertemu kakek neneknya, orang tua Namjoon, dan kebetulan ada Namjoon di sana sehingga lelaki itu mengenalkan Seokjin pada mereka. Seokjin sedikit banyak tahu tentang Hayoung dan Namjoon kala itu.
Saat pemotongan kue, itu adalah saat di mana Seokjin benar-benar terkejut.
Hoseok belum memberi tahunya, bahwa lelaki itu berumur 36 tahun.
"Wow, umurnya hampir dua kali umurku,"
Hoseok mengangguk, ikut bertepuk tangan saat Namjoon selesai memotong kue. "Bukankah itu keren? Berada di jajaran ekslusif Korea Selatan saat umurnya belum genap empat puluh."
"Bukankah itu terlalu tua? Ia terlihat seperti di akhir dua puluh."
Hoseok terkekeh, "kenapa memangnya?"
Si pria berjas hitam akhirnya menoleh ke sampingnya, menatap Hoseok setelah sejak tadi termangu menatap si-pria-di-bawah-sorotan. Ia sadar, sejak hari bertemunya dirinya dengan Namjoon, sejak Hoseok bercerita menggebu tentang kerennya lelaki itu, sejak Ia bertemu kembali di sore hari di hari Kamis dengannya yang terlihat manusiawi, Namjoon telah menyita terlalu banyak fokus Seokjin.
Fokus Seokjin tersita, begitu pula memorinya yang berputar di antara gambarnya. Konsentrasinya semudah itu untuk pecah jika berhadapan dengan lelaki itu, lelaki dengan tubuh mirip dewa dan wajah yang dipahat sempurna.
.
.
.
Seokjin mungkin salah, ada sesuatu yang tak benar pada dirinya. Bukan masalah orientasi seksualnya, Ia sudah paham tentang hal itu–sejak Hoseok mengajaknya berpacaran tahun pertama kuliahnya. Ada yang lebih salah dalam diri Seokjin, bagaimana jantungnya berdebar setiap berurusan dengan Papa Hayoung itu, bagaimana malfungsi otaknya di beberapa detik awal Ia dan Namjoon bertemu atau setiap Seokjin sekedar memikirkannya.
Ya Tuhan! Apa Seokjin menyebutkan jika Ia memikirkannya?
Seokjin menggeram dengan frustasi di kamarnya, membanting kepalanya beberapa kali di bantal. Bagaimana bisa Seokjin memikirkan laki-laki itu?
Yang jelas umurnya hampir dua kali lipat dari umurnya!
Terdengar suara kaki serampangan, lalu pintu kamar Seokjin terbuka dan munculah kepala Hoseok di ambang pintu. "Kau kenapa?"
Seokjin menoleh dan memasang wajah cemberut, "Tidak, aku baik."
Alis Hoseok terangkat satu ketika Ia memandang Seokjin dengan menelisik. Mulutnya terbuka untuk menutup lagi, Ia diam beberapa saat lalu memasang wajah yang membuat Seokjin sempat gila di tahun pertama kuliahnya. "Aku ada di kamarku jika kau butuh bercerita."
Dan terimakasih kepada Jung Hoseok yang sangat memahami privasi.
Pintu kamar Seokjin tertutup seiring ingatan bagaimana mereka berdua pernah bertindak gila–berpacaran untuk satu minggu!
Ya, itu cerita lama, cukup lama untuk diungkit kembali. Saat itu mereka sudah tinggal di apartemen yang sama, ketika Hoseok bertanya kenapa Seokjin selalu menolak ajakan gadis untuk kencan. Dan ketika Hoseok menebak dengan benar orientasi seksual Seokjin, lelaki itu dengan begitu santainya mencium Seokjin dan mengajak Seokjin pacaran.
Sesimpel itu, sebodoh itu pula.
Bodoh karena Seokjin juga menerima ajakan Hoseok yang gila.
Karena di hari kelima mereka menjadi pasangan kekasih, kecanggungan diantara mereka sangat terasa dan keduanya tak tahan. Di hari ketujuh mereka memutuskan untuk berteman baik saja, melupakan tujuh hari gila itu dan menyimpannya dengan baik.
Dan itu hanya satu-satunya pengalaman Seokjin berkencan, tak pernah sebelumnya Ia berkencan. Ya, bagaimana caranya Ia berkencan jika setiap hari selama delapanbelas tahun hidupnya dihabiskan di panti, digunakan untuk sekolah, membantu urusan panti, lalu belajar dengan giat agar mendapat beasiswa yang cukup. Lalu dua tahun berikutnya digunakan Seokjin untuk bekerja kesana kemari agar cukup untuk makan, lalu belajar dengan gila agar tetap mendapat beasiswa di semester selanjutnya.
Hidupnya sudah cukup sibuk untuk sekedar memikirkan hubungan. Orang seperti Seokjin, yang terlahir sendirian, harus puas menghabiskan waktunya untuk bekerja keras demi bertahan. Itu yang Seokjin ketahui dan Seokjin pahami.
Dan begitu pula ketika tiba-tiba Tuan Kim Namjoon bertanya padanya.
Ya, hari itu Jumat malam, di mana Namjoon tiba-tiba menelpon Seokjin. Bukan main terkejutnya Seokjin hingga tanpa sadar Ia yang sedang menyibukkan diri di perpustakaan duduk tegap lalu merapikan bajunya.
"Ya, Tuan Kim?"
Suara Seokjin cukup keras dan terdengar terkejut membuat Namjoon tertawa kecil. "Kau di mana?"
Si mahasiswa langsung menoleh kebingungan, menggumam beberapa detik hingga akhirnya menjawab. "Aku sedang di perpustakaan universitas, ada apa menelponku tiba-tiba? Apa ada sesuatu tentang Hayoung?"
"Ya, kami sedang berada di sekitar universitasmu. Dia ingin makan cheesecake, kau mau ikut?"
"Apa?"
"Sepuluh menit lagi aku sampai di sana, sampai jumpa." Ucap Namjoon mengakhiri, lalu terdengar suara yang mirip Hayoung berteriak cempreng, "sampai jumpa, seonaengniiiiimm."
Seokjin menghela nafas tanpa sadar, melemaskan tubuhnya di kursi. Apa-apaan ini? Kenapa di saat kondisi tubuhnya kurang baik setiap bertemu Tuan Kim, tiba-tiba jadi seperti ini?
Ia merapikan buku di mejanya, menatanya lalu berjalan keluar. Mencoba mensugesti dirinya sendiri jika ini bukan apa-apa, hanya Hayoung yang meminta makan cheesecake pada Papanya dan Seokjin yang akrab dengan Hayoung sehingga Tuan Kim menelponnya. Sudah, seperti itu saja.
"Lagipula mana mungkin Ia seperti yang kupikirkan? Sudah gila apa, banyak gadis cantik yang mengatre padanya. Atau jika melihat wajah cantik Hayoung, pasti Mamanya juga secantik itu. Sudahlah, Seokjin, jangan bermimpi, sadarlah, dan lakukan dengan baik!"
.
.
.
Ada mobil mewah yang berhenti di depan perpustakaan delapan menit kemudian. Seokjin tak yakin jika itu mobil Tuan Kim hingga kaca jendelanya terbuka dan Hayoung berteriak keras memanggilnya.
"Seonsaengniiiim."
Melihat senyuman lebar Hayoung, Seokjin tak sadar ikut tersenyum. Ia memberanikan diri berjalan lalu membungkuk menyapa Tuan Kim, dan masuk ke kursi belakang.
Wow!
Seokjin memang tak terlalu paham tentang urusan mobil, namun Ia cukup tau jika ini mobil impor. Dan, wow, mobil impor memang berbeda. Kursinya sangat nyaman diduduki dan bagaimana interior mobil ini membuat pengendaranya terlihat maskulin.
Ya tuhan Seokjin meracau lagi!
"Seonsaengnim?"
"Oh, ya, Hayoung-ah?"
Gadis itu terkikik sambil menghadap Seokjin dari kursi depan. "Seonsaengnim sedang apa malam-malam membawa buku banyak?"
Seokjin tersenyum. "Seonsaengnim harus belajar dengan giat, Hayoung-ah. Jika sudah besar, apakah Hayoung mau belajar dengan giat juga?"
Bukan jawaban langsung yang Hayoung ucapkan. Gadis itu berfikir dengan melirik ke atas, menempelkan telunjuknya di pelipis, sambil mendengung. "Apa Papa juga belajar dengan giat?"
Seokjin melebarkan matanya. Hayoung si gadis cantik ini, tak hanya cantik namun benar-benar pandai. Papanya tertawa, mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap kepala Hayoung.
"Jelas saja, Papa sangat pintar dulu. Mau main tebak-tebakan?"
Lalu Seokjin menyaksikan bagaimana kedua bapak-anak itu main tebak-tebakan dalam bahasa inggris. Sungguh, Seokjin mendedikasikan hidupnya untuk pemandangan sejenis ini. Bagaimana Kim Namjoon yang memiliki latar belakang sempurna tentang hidup dan pekerjaannya ini terlihat menjiwai perannya sebagai Papa dari anak gadisnya, dan bagaimana Kim Hayoung gadis kecil yang pintar ini terlihat tertawa puas saat digodai Papanya.
Seokjin sedikit kesal ketika mobil Namjoon berhenti di cafe yang tak jauh dari universitasnya–hanya berjarak sepuluh menit–yang artinya pemandangan interaksi Namjoon dan anaknya harus berhenti.
Namjoon turun terlebih dahulu, membukakan pintu Hayoung lalu menggandeng tangan anak gadisnya, Seokjin mengekor di belakang. Dan dengan santainya, Hayoung yang berjalan di depan Seokjin menahan langkahnya untuk menarik tangan Seokjin, menggandengnya.
Jadi. Namjoon. Dan. Seokjin. Berjalan. Bersisihan. Dipisahkan. Oleh. Hayoung.
Oke. Seokjin dan pikiran gay-nya sudah terlalu berlebihan.
Mereka memesan dua potong kue, kopi untuk Namjoon dan dua jus buah. Ya, Seokjin minum juas buah. Siapa yang memaksa? Si Tuan Kim.
Dengan nada halus karena ada Hayoung diantara mereka, namun ketegasan yang bisa Seokjin tangkap, lelaki pemilik bisnis melimpah itu memaksa. "Kau sebagai mahasiswa terlalu banyak minum kopi, Seokjin-ah, itu sangat tidak baik. Iya, 'kan, Hayoung?"
Dan si anak menurut. Mengangguk tanpa perlu berpikir sambil menyendoki cream di cheesecake-nya.
"Ya, akan kukurangi, Tuan Kim."
"Kau bisa memanggilku Namjoon saja."
Seokjin mengangkat alis dan matanya melebar, refleks. Bukankah itu sedikit... kurang sopan?
"Atau hyung, tak perlu terlalu sopan, aku tak suka."
Ia mengangguk ragu, memperhatikan Hayoung dan Tuan Kim–maksudnya Namjoon–bergiliran. Ia tertawa kecil tanpa sadar. "Terasa aneh karena kau Papa Hayoung, yang merupakan anak muridku."
Namjoon mengelus kepala Hayoung, terlihat benar-benar menjiwai perannya. "Hayoung -ie, makan yang banyak biar pintar seperti Seokjin oppa, ya?"
Hayoung mengangguk sekali lagi, tersenyum ke arah Seokjin dengan krim di atas mulutnya. Tangan Seokjin mengulur, membersihkan krim itu dari atas bibir Hayoung, lalu mengelap tangannya dengan tisu.
"Hayoung kalau makan pelan-pelan, krimnya ada di atas bibir Hayoung tadi."
"Oh, benarkah?" Hayoung membulatkan matanya, menatap Seokjin yang tersenyum manis. "Apakah ada krim lagi di wajahku, seonsaengnim?"
Seokjin menggeleng, masih tersenyum manis lalu mencubit pipi tembam gadis itu.
Sisa waktu mereka dihabiskan berbincang. Rata-rata menjadikan Hayoung topik inti pembicaraan, yang disauti oleh dua lelaki dewasa di sampingnya. Namjoon sesekali bertanya kuliah Seokjin dan bagaimana Bibi Lee membanggakan Seokjin yang mandiri, termasuk latar belakang kehidupan Seokjin.
Baiklah, pria di depannya sudah tau tentang latar belakang Seokjin yang berasal dari panti asuhan.
"Hoseok juga memujimu saat kami bertemu, bagaimana kau bekerja dengan keras dan mandiri."
"Hoseok mengatakannya?"
Namjoon mengangguk, menyesap kopinya. "Dia tak sengaja bercerita tentang hubungan-satu-minggu kalian."
"Ya tuhan!" Seokjin memekik lirih, melebarkan matanya tak menyangka. Hoseok sialan.
Namjoon terkekeh melihat ekspresi Seokjin, "memangnya kenapa? Hoseok menceritakannya dengan santai,"
Ia menggeleng cepat, berusaha menetralkan wajahnya. "Itu gil–" Seokjin dan Namjoon melotot mengetahui ucapan yang hampir keluar dari bibir Seokjin di depan anak umur sepuluh. "Maksudku kami saat itu masih muda, itu seperti permainan."
Namjoon mengerutkan alisnya samar. "Permainan? Anak muda memainkan permainan seperti itu?"
Seokjin menggeleng sekali lagi, kali ini tangannya ikut mengibas di depan memberi tanda tidak benar. "Bukan, bukan permainan seperti itu. Maksudku, kami sangat muda saat itu, dan kami belum menyadari seutuhnya arti menjadi kekasih. Kami setuju untuk menjadi kekasih namun sama-sama tak tahannya karena canggung luar biasa."
Namjoon mengangguk, lalu tersenyum kecil.
"Lagipula saat itu tak ada bedanya antara berteman dan berhubungan kekasih dengan Hoseok, kami sama-sama belum memahami arti yang sebenarnya." Seokjin menggumam mengangkat jusnya.
"Kalau sekarang?"
Seokjin mengangkat matanya menatap Namjoon, terkejut dengan suara berat dan ucapan yang cepat laki-laki itu. Ia gugup, diperhatikan dengan intens oleh lelaki bermata tajam ini. Hasilnya, dengan suara terputus dan lirih Seokjin menjawab, "aku belum pernah pacaran setelahnya, jadi aku tak tahu betul."
.
.
.
Hayoung tertidur di pangkuan Seokjin. Mahasiswa tahun ketiga itu mengajukan diri untuk memangku Hayoung karena tak tega Hayoung tertidur di kursi penumpang. Tubuhnya masih terlalu kecil sekalipun Ia sudah cukup dewasa, sepuluh tahun duh.
"Kau tinggal berdua dengan Hoseok?"
"Ya, sejak tahun pertama."
Namjoon mengangguk. Pria itu tadi memaksa mengantar Seokjin, namun Seokjin jelas tidak membiarkan Hayoung tertidur di kursi penumpang. Maka dengan santainya Namjoon memutuskan untuk mengantar Hayoung dan menidurkannya di rumah, lalu mengantar Seokjin. Jelas saja Seokjin menolak, itu berlebihan. Namun alasan Namjoon lebih kuat, karena Ia yang mengajak Seokjin dan Ia akan bertanggung jawab mengantarnya.
"Dengan kesibukan anda, bagaimana jika ada pertemuan wali murid di sekolah Hayoung?"
"Itu yang cukup merepotkan. Selama ini aku merasa bersalah pada anak gadisku karena kurang aktif datang di pertemuan wali murid atau melihat pertunjukan di sekolahnya."
"Hayoung ikut pertunjukan seni?" Seokjin tanpa sadar menaikkan suaranya. Ia tak menyangka gadis pintar itu juga memiliki bakat seni.
Namjoon mengangguk semangat. "Ya, Hayoung pintar balet dan bisa menyanyi. Beberapa kali Ia tampil di acara sekolahnya, namun aku tak datang."
Seokjin tak sadar menghela nafas sedih sambil bergumam, 'ah."
"Jika aku sempat aku akan datang melihat pertunjukan Hayoung."
"Benarkah? Hayoung memiliki pertunjukan minggu depan, Ia bilang akan menampilkan drum band bersama anggota kelasnya."
Seokjin tersenyum lebar. "Baiklah, akan kuusahakan datang. Kuharap tak ada pekerjaan saat itu."
Namjoon mengangguk, "terimakasih banyak, Hayoung pasti akan sangat senang."
Seokjin mengangguk senang, Ia suka datang ke pertunjukan. Namun satu sisi Ia ingat, yang diinginkan anak gadis umur sepuluh tetaplah kehadiran orang tuanya. Ia berujar lirih, berusaha mendapatkan perhatian Namjoon. "Tapi tuan Kim–maksudku hyung, kurasa yang Hayoung inginkan tetaplah orang tuanya."
Ucapan lirih Seokjin berhasil menarik atensi Namjoon, pria itu menoleh saat di lampu merah.
"Hayoung memang ceria dan pintar, namun aku tahu yang diinginkannya tetaplah kehadiran Papanya."
Lidah Namjoon tiba-tiba kelu, Ia bingung menjawab apa. Benar ucapan mahasiswa ini, pasti Hayoung menginginkan kedatangannya lebih dari apapun. Sekalipun Neneknya datang menggantikan Namjoon, Namjoon tahu Hayoung menginginkan kehadirannya. Gadis itu selalu protes secara tak langsung padanya, dan Namjoon tahu itu.
"Kau benar."
Seokjin tersenyum, berusaha mencairkan suasana lagi. "Bagaimanapun kau harus bersyukur memiliki anak gadis secantik dan sepintar Hayoung."
Namjoon mengangguk pelan, sangat tenang. "Ya, Ia memiliki kepandaian dan kecantikan Ibunya."
"Ibu–nya?" suara Seokjin tercekat, terdengar jelas.
"Ya, namun Ia sudah meninggal sejak Hayoung umur tiga. Aku mengurusnya sendiri setelah itu."
Baik. Lidah Seokjin kelu bukan main. Terasa ada yang menghimpitnya, atau palu godam yang menghantam dadanya hingga sesakit ini.
Sungguh bodoh dan naif, Seokjin sempat berharap jika orientasi seksual Namjoon sama sepertinya. Tentu saja tidak! Laki-laki ini sempurna. Sudah sewajarnya Ia memiliki istri–perempuan–sehingga lahirlah Hayoung yang cantik demikian.
Bodoh memang Seokjin jika berharap demikian.
Sungguh bodoh.
-TBC-
Ayo coba tebak, gimana akhir cerita ini? Sudah mulai banyak clue di sini, tapi coba kalian pikir gimana akhir ceritanya. Seokjin yang mahasiswa 21 tahun dan Namjoon bapak satu anak umur 36 tahun. Seokjin (maaf) gay dan Namjoon punya Hayoung dari seorang Ibu.
ehehehehe
BTW beruntunglah kalian yang nungguin updatean FF ini karena aku tipikal susah nunda progress, jadi sebenarnya ff ini udah siap di update sampai beberapa bab ke depan tapi aku tunda dulu, tungguin aja gak lama kok hehe
RnR sayangku?
ILY!
