.

Tiga puluh menit berlalu, Yunho merasa gelisah menunggu Dokter pribadinya yang belum kunjung datang.

Yunho sedikit menyesal melakukan ini semua, bagaimana jika terjadi sesuatu yang berbahaya pada Jaejoong?

Ia tidak bisa membayangkan kemarahan orangtuanya.

Sama saja ia mencari penyakit.

'Kriet!

Pintu kamarnya terbuka, memperlihatkan sosok wanita paruh baya yang Yunho kenal sejak kecil.

"Dokter Shin."

Dokter itu langsung terkejut melihat keadaan kamar Yunho yang sangat berantakan, apalagi melihat keadaan Jaejoong yang terbaring tidak sadarkan diri dengan banyak luka ditubuhnya.

"Yunho! Apa yang terjadi? Kenapa istrimu bisa seperti ini?" Dokter Shin langsung membuka tasnya dan segera memeriksa namja malang itu.

"A-aku... apa dia tidak apa-apa? Apa bisa diselamatkan? Dan bagaimana dengan kandungannya." Yunho tidak bisa menjelaskan dan langsung menanyakan serentetan pertanyaan pentingnya.

Mendengar itu, Dokter Shin langsung meraba perut Jaejoong, raut wajahnya terlihat bingung.

"Aku akan membersihkan lukanya dan mengobatinya. Kau keluar dulu, setelah selesai aku akan memberitahumu."

Yunho mengangguk dan keluar dari kamarnya meskipun dia masih khawatir terjadi sesuatu pada Jaejoong.

.

Ini sudah pukul 10 pagi, Jaejoong baru saja membuka matanya, namja cantik itu langsung meringis sakit, merasakan semua rasa sakit akibat perlakuan Yunho semalam.

Dia mengigit bibirnya kuat, menahan agar air matanya tidak turun, ia memang tidak pernah menangis lagi setelah menikah dengan Yunho, dia berjanji pada dirinya sendiri akan bahagia setelah mendapatkan Yunho.

Rupanya Yunho salah mengertikan maksud keinginannya, bukan ini yang dia inginkan.

Perlahan Jaejoong bangun, dia baru menyadari jika dia sudah memakai baju yang berbeda dan tidak ada bajunya yang berserakan, apa ini semua Yunho yang bereskan?

Jaejoong rupanya belum sepenuhnya mengerti suaminya.

Ponsel Jaejoong tiba-tiba berbunyi, ia sedikit kesakitan karena rasa sakit di bagian bawahnya, setelah sedikit bejuang, akhirnya dia bisa mengambilnya serta mengangkatnya.

"Yeoboseo noona..." sapa Jaejoong dengan suaranya yang serak nyaris tak terdengar.

"Uh Ekhem! Aku tidak sakit, aku baru bangun noona... Mirotic café? Mi-mian noona, aku tidak bisa datang, kapan-kapan kita bertemu ne... Annio ada ujian siang ini... baiklah, akan aku sampaikan."

Jaejoong menutup percakapan singkat dengan noonanya, noonanya mengajak ingin bertemu, namun rasanya tidak mungkin jika dia menyetujuinya.

Walau bagaimanapun semua luka ini tidak bisa di hilangkan dengan cepat, jika memaksa pergi dia juga tidak mungkin melapor pada noonanya jika lukanya karena ia diperkosa suaminya.

Tsk! mana ada suami memperkosa istrinya.

Noonanya juga pasti akan melaporkannya pada Ayahnya, jika Ayahnya melihat ini, Yunho bisa mati.

Setelah itu, Jaejoong akhirnya berjalan dan menyeret-nyeret badannya menuju meja rias. Lalu duduk dengan hati-hati.

Dia bisa melihat wajahnya dipantulan kaca, wajahnya yang babak belur. Namun namja cantik itu hanya menyeringai.

"Aku tau, kau hanya menakut-nakutiku saja kan Yunnie? Sekalipun kau menyiksaku sampai sekarat, aku berjanji akan terus disampingmu. Kau jodohku." ucapnya seakan berbicara langsung dengan Yunho.

.

Bau masakan tercium dari dapur Jaejoong, namja cantik itu memang tidak merasakan jera semalam. Terbukti, saat ini ia tengah memasak makanan buat suami tercintanya.

Dengan sedikit bersenandung kecil, ia mencoba mencicipi masakan itu.

"Shh... appoo..." Jaejoong reflek memegang bibirnya, rupanya masakan yang dicicipinya mengenai luka di bibirnya.

Namun raut kesakitannya berubah kembali menjadi ceria, "Mashita ne, Yunnie pasti makan dengan lahap."

Jaejoong memindahkan makanannya di mangkuk, lalu berjalan tertatih menuju meja makan. Menaruh makanan yang terlihat lezat itu dengan rapi.

Namja cantik itu melihat jam, pukul 8 malam. Semoga saja Yunho pulang.

Sebaiknya dia merapikan dapurnya sebelum Yunho datang, namun pandangannya tiba-tiba menjadi kabur dan ada rasa sakit seperti menghantam kepalanya.

Ia dengan reflek memegang kepalanya dan tangan satunya memegang kursi meja makan erat seakan dia akan terjatuh dengan bebas, "Aku kenapa?"

Matanya mulai mengerjap-erjap.

Apa yang salah?

"Aku pulang."

Dalam kesakitan, Jaejoong menoleh pada sumber suara.

Meskipun sedikit samar, Jaejoong bisa langsung menebak jika itu adalah suaminya.

Jaejoong menurunkan tangannya dikepala dan berbalik, "Yun-yunnie sudah pulang?"

Jaejoong berusaha terlihat baik-baik saja sambil tersenyum, selain itu dia juga sudah siap, jika tiba-tiba saja Yunho akan memukulnya atau memperkosanya seperti semalam.

-GREEP!

Namja cantik itu membelalak kaget tatkala tubuhnya dipeluk oleh sang suami, yang semula dia mengira akan dapat pukulan.

Apakah Yunho mulai berubah atau merasa bersalah karena telah memperkosa dirinya, Jaejoong tidak bisa mengira-ngira yang lain.

"Kau masak Jae? Kau kan masih sakit."

Mendengar itu Jaejoong hanya menatap Yunho, mencari ketulusan disana. Apakah benar Yunhonya yang dulu kembali secepat ini?

"Jae..."

"Jae? Ada yang sakit? Aegya kita membuat eommanya sakit? Mian tadi pagi aku langsung pergi."

Jaejoong menggeleng cepat, lalu membalas memeluk erat.

"Yunnie... Yunnieku kembali. Tuhan jangan bangunkan aku. Jangan."

"Hei hei, ini bukan mimpi sayang."

Jaejoong mendongak dan ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

"Katakan... katakan padaku, apakah Yunnieku yang dulu kembali?"

Yunho mengangguk, "Maafkan aku, aku melukaimu dan sempat tidak percaya padamu."

Jaejoong menggeleng, "Kau tidak salah, Yunnie. Aku yang tidak sabar."

"Gomawo ne, ayo kita makan ini untukku semua kan?" tanya Yunho yang diangguki sang istri dengan raut wajah malu-malunya.

"Kalau begitu ayo kita makan."

.

Kamar itu terasa begitu panas dan romantis akibat perbuatan dua sejoli yang saling menyatukan tubuhnya dengan bergerak sangat lembut.

Bibir mereka saling berpangutan, saling menghisap dan mengecap. Saling menikmati rasa yang sebelumnya terasa menyakitkan dan penuh nafsu, menjadi rasa nikmat dan penuh gairah cinta.

Sang suami terus menekan dalam dan merasa akan sampai pada puncaknya.

"Uhhh..." sang istri melepas pangutan bibirnya dan melenguh sambil menatap suaminya dengan sayu.

Ia menyusul suaminya yang sudah terlebih dahulu.

"Yunniehhh! Aku capek ahhh!"

Yunho memeluk Istrinya, mengusap peluh yang membasahi wajah cantiknya.

"Gomawo Yunnie sudah mencintai Jae lagi, Saranghae."

Yunho hanya tersenyum sambil mengusap lembut rambut Jaejoong.

.

Esoknya Jaejoong terlihat lebih segar dan bersemangat, pagi-pagi sekali dia sudah bangun untuk menyiapkan sarapan dan baju yang akan suaminya pakai nanti ke kampus.

"Ini akan cocok dipakai Yunnie," ucap Jaejoong pada dirinya sendiri setelah menaruh baju Yunho di atas tempat tidur, sementara Yunho sedang di kamar mandi.

Fokusnya teralihkan saat ponsel Yunho berbunyi, ia hendak mengambil ponsel suaminya namun gerakannya kalah cepat dengan Yunho yang tiba-tiba saja datang dan mengambil ponselnya.

"Biar aku saja."

"N-ne Yunnie, sambil menelpon aku keringkan rambutmu ne."

"Tidak perlu." jawab Yunho dan langsung berjalan menuju balkon untuk mengangkat telponnya.

Jaejoong tidak beranjak dari tempatnya, apa dia salah lagi? kenapa hanya mengangkat telpon saja Yunho mencari tempat yang jauh?

Tapi dia langsung menggelengkan kepalanya, mungkin Yunho butuh privasi untuk bicara dengan lawan bicaranya di telpon.

Tanpa menaruh curiga apapun lagi, Jaejoong akhirnya menuju kamar mandi.

Satu jam berlalu, keduanya sudah berpakaian rapi dan sekarang mereka tengah menikmati sarapannya.

"Kenapa berpakaian rapi sayang, bukannya masih sakit? Istirahatlah dulu." ucap Yunho sambil menikmati makanannya.

Jaejoong menatap suaminya dan tersenyum, "Aku sudah sembuh Yunnie."

"Sungguh?" Jaejoong mengangguk mantap setelah itu menatap Yunho dan tampak mengigit bibirnya, "Ada apa sayang?"

"Apakah kita akan berangkat bersama?"

Yunho mendadak terkejut namun dengan cepat namja tampan itu tersenyum, "Tentu saja, tapi aku tidak langsung masuk."

"Wae?"

"Tadi ada telpon dari temanku yang baru saja datang dari Kanada dan kita akan bertemu sebentar lagi."

Jaejoong tampak bingung, sejak kapan Yunho memiliki teman dari Kanada?

"Ah sebaiknya kita habiskan sarapannya dan aku akan mengantarmu ke kampus."

"Ne Yunnie."

.

.

.

"Aku tidak bisa membohongi perasaanku, aku merindukanmu Yun."

"Rindu? Jadi kau menelpon dan memintaku kesini hanya untuk mengatakan ini padaku."

Yunho saat ini sudah menemui teman 'Kanadanya di sebuah Café setelah mengantarkan Jaejoong ke kampus.

"Kau tau? Aku sengaja pulang untuk menemuimu, tapi ternyata dihari aku kembali, kau sedang melangsungkan pernikahan hehe."

Yunho tampak tersenyum mengejek, "Semua ini salah siapa hm?"

Wanita itu langsung mengigit bibirnya, semua ini salah dia.

"Siapa yang dulu dengan mudahnya memutuskan hubungan kita? Siapa yang dulu bilang lupakan hubungan kita? Jawab Soojin!"

Soojin langsung berdiri dari duduknya dan memeluk Yunho dari belakang, "Maafkan aku, aku bersalah. Aku mencintaimu Yun, aku masih sangat mencintaimu, hiks..."

Yunho berusaha melepaskan pelukan Soojin, namun wanita itu memeluk Yunho erat.

"Aku-aku tau kau masih mencintaiku, aku tau."

Tatapan Yunho terlihat dingin, "Tidak, aku sudah menikah."

"Aku tidak percaya kau tidak mencintaiku lagi, kau memang sudah menikah tapi aku tidak mau kau berlama-lama dengan orang yang tidak kau cintai."

Yunho terdiam dan membiarkan Soojin terus berbicara dan memeluknya.

.

Jaejoong terlihat gelisah sambil mengganti chanel tv yang sama sekali tidak ia tonton dengan benar, bukan hanya itu, bungkus makanan terlihat berserakan di meja dan kursi.

Rencananya setelah kelas selesai, ia mau berduaan dengan Yunho, sambil nonton dan makan-makan, saling menyuapi dan menghabisi waktu berdua saja.

Namun rencana hanya tinggal rencana saja, Yunho memang berubah baik, tapi kebiasaan pulang malam masih tetap saja. Buktinya sekarang sudah jam 7 namun namja yang sangat disayanginya itu tidak kunjung pulang.

Dengan kesal, Jaejoong melempar remote control yang tidak bersalah itu ke lantai.

Lebih baik dia tidur saja dan jangan menunggu Yunho, namun saat hendak berdiri kepalanya terasa sangat sakit.

Tubuhnya mulai limbung dan seketika ia terjatuh dan kepalanya membentur meja sampai akhirnya terjatuh ke lantai sambil meringis menjambak rambutnya. Sementara darah meleleh dari keningnya.

"Akhhh Sa-sakit... Yunnieh..."

.

Tbc

.