Dandelion Girl

Chapter 3 : Friend in Cyberspace

Ohohoho~ Miyucchi here~ Huee, jemputan ane kagak dateng, mana hari ini mau ke rumah temen pulak :'( Daripada bosen planga-plongo dirumah, mending lanjutin penpik. Dan, tada~ Here we go, readers!

Xinon : Terima kasih~ Ini dia chapter tiganya, jangan bosan untuk mereview cerita ini, sebab saia masih beginner dan sering membuat typo, mohon bantuannya~ :)

Random-san(?) : Ayay, captain! …Serius itu nama OC anda? ….Wew. Sepertinya saia perlu manjat atap sekolah sambil bawa-bawa poster Ryoma dan teriak 'HUWAU' deh. Tee-hee~ Eh? Kependekan? Mungkin karena spasiinya mungkin, kalau dilihat baik-baik chapter 2 lebih panjang wordsnya ^^;

Saia bawakan chapter ini lebih panjang dari biasanya, selamat menikmati :)

Disclaimer : Pernah gak, Ryo-Ryo bilang kalau dia itu bukan manusia? Kalo gak pernah, berarti PoT bukan punya saia. Saia hanya mempunyai OC dan penpik ini :)

Warning : abal, gaje, aneh, OOC, OOT, Typo, plot acakadut dari author yang sarap, DLL. Hungry? Grab a snickers! #AuthorSedangLapar


Author POV

Trio ichinen memandang Ryoma dan anak baru itu dengan ekspresi berbeda-beda. Horio menatap mereka sambil terus-terusan mengumpat a.k.a. iri. Sedangkan Kachiro dan Katsuo terus-terusan berharap semoga Tomoko dan Sakuno tidak melihat pemandangan ini.

Sayangnya, dewi fortuna lagi korek kuping, makanya nggak denger permohonannya. Kasian tuh, congenya udah numpuk 5 cm.

"Ryoma-sama! Bagaimana dengan keada-" Perkataan Tomoko terhenti melihat Ryoma tersenyum kepada Himawari. Sakuno yang (seperti biasa) mengekor sahabatnya ikut melihat ke TKP.

'Ryo-ryoma-kun…' Pikirnya sambil membulatkan matanya.

Mata Tomoko mulai terbakar amarahnya. "Anak baru ituuu! Beraninya dia mendekati Ryoma-sama tanpa seijinku! Ayo Sakuno, kita beri dia pelajaran!" Serunya dengan semangat 100 derajat celsius(?) yang berarti sudah mendidih(?). (A/N : karena semangat 45 membara sudah terlalu mainstreammm~)

Kachiro dan Katsuo langsung panik mendengarnya. "Jangan! Dia masih baru disini, dan lagipula perlakuanmu akan membuat Echizen-kun marah," Kata mereka sambil menahan tubuh Tomoko. Tomoko mendengus sebal.

"Aaargh… Kenapa Ryoma-sama harus dekat dengan cewek itu sih!? Nee, Sakuno, kau juga setuju kan!?" Tomoko menoleh ke sahabatnya. Sakuno menggangguk pelan.

"Iya…" Perhatian Sakuno menuju ke aktivitas dua orang didepannya itu, yaitu Himawari yang lagi-lagi keplak-keplakin kepala Ryoma pake selop kuning yang membuatnya meringis minta ampun. Melihat itu membuat hatinya sakit.


"Nee, Echizen-kun,"

"Hng?"

"Itu teman-temanmu ya? Daritadi mereka melihat ke kita terus," Ryoma melirik ke tempat yang ditunjuk Himawari.

"Aah… Mungkin," Jawab Ryoma tidak memuaskan kekepoan Himawari.

"Mou… Echizen-kun, jawab yang benar!"

Ryoma langsung membenamkan kepalanya, tidak peduli dengan pertanyaan orang di sebelahnya. Yak, dia lupa suatu hal. Readers sudah tau kan gimana kelakuan Himawari kalau dikacangin?

Plak! Plak! Plak!

"Jawab pertanyaanku Echizen Ryoma!" Seru Himawari sambil keplak-keplakin selop kesayangannya ke kepala Ryoma. Ryoma berusaha kabur, sayangnya secara diam-diam Himawari mengikat kaki kanannya dengan meja. Mau gak mau dia harus menerima cipokan penuh semangat dari selop kuning jahanam itu.

Benar-benar tidak belajar dari pengalaman.

"Itta! Itta! Ampun! Ittaa! Itte! Udah! Udah! Aw! Stop! Baik! Aku nyerah! Aw!" (A/N : AW AW AW AW~ belilah spesialis kita, Rootbeeer! *ditijek bang AW*)

Himawari menghentikan gerakannya. "Janji dulu bakal ceritain, Ecchizen Ryoma. Atau kau masih ingin merasakan cipokan manis(?) dari selopku ini?," Ancamnya sambil ngeplesetin kata 'chi'. Ryoma sedikit merinding mendengar kata 'Ecchi', yang mengingatkannya kepada si pervert oyajinya itu.

"Ha'i, ha'i… Tapi lepaskan ikatan ini dulu dan jangan plesetin margaku. Aku tidak sama dengan si baka oyaji itu," Pinta Ryoma sambil menunjuk kaki kanannya. Himawari menggangguk lalu mengeluarkan pisau daging(!?) dari belakang lalu memotong tali tersebut. Ryoma menatap pisau itu dengan horor.

'Darimana pisau itu!? Jangan bilang dia…' Pikirannya langsung mengarah ke gore 18+. Demi kemurnian pikirannya Ryoma langsung menerbangkan(?) jauh-jauh pikiran liarnya itu.

"Sudah selesai~!" Ucap Himawari seraya menyimpan pisau itu. Kemudian dia menepuk pundak Ryoma.

"Nah, seperti janjimu, ayo ceritakan,"

'Lebih tepatnya mengancam,' Ryoma menghela napas. "Yang sedikit gundul dan berambut ngebob (A/N : Ha! Rambut ngebob~) itu masih bisa kusebut teman. Aku yakin kau akan nyaman berteman dengan mereka berdua," Kata Ryoma sambil melirik Kachiro dan Katsuo.

"Untuk yang berambut coklat muda… Kau harus tahan dengan kalimat '2 tahun bermain tennis' kebanggaannya. Kurasa dia berbohong, habisnya dia hanya besar dimulut, tapi saat bermain… yah… begitulah," tatapannya berganti kearah Horio.

"Aku harap kau berhati-hati dengan cewek dikuncir dua itu. Aku kurang suka dengannya. Dia pasti akan membully seseorang yang dekat denganku tapi tidak masuk kedalam klubnya," Himawari memiringkan kepalanya bingung saat Ryoma menceritakan Tomoka.

"Klub?" Tanyanya setengah berbisik, tapi bisa didengar Ryoma.

"Klub fans Ryoma-sama-atau-apalah-itu. Asal kau tahu, aku tidak ingin kau masuk kesitu. Hanya orang bodoh yang mau masuk ke klub itu," Balasnya ikutan berbisik. Entah kenapa, Ryoma tidak rela Himawari masuk kedalam klub itu.

"Hee…" Himawari mengangguk-angguk mengerti. "Lalu, perempuan yang dikepang dua itu?"

"Ah, itu cucunya Ryuzaki-sensei. Namanya Ryuzaki Sakuno. Kau ingat nenek-nenek yang menjadi pelatih di klub tennis kan? Itu Ryuzaki-sensei. Kebanyakan orang bilangnya dia baik, imut, jago masak, dan bla-bla-bla. Dan satu lagi, dia itu pemalu,"

Himawari ber'ooh'ria. Saat sebuah pertanyaan terlintas di benaknya, dia tersenyum jahil.

"Jangan-jangan… Kau menyukainya ya?"

Tiba-tiba Ryoma terkekeh kecil membuat Himawari bingung. "Kau orang kesekian kalinya yang bertanya hal itu. Dari seluruh regular hingga para senpai yang tidak kukenal selalu bertanya itu kepadaku. Memang, dia jago dalam berbagai bidang, dan dia juga bermain tenis. Tapi, bukan berarti dia pasti bakal menjadi pacarku 'kan?"

"…" Himawari tidak bisa membalas kalimat Ryoma. Diam-diam dia menyutujui perkataannya.

Ryoma mengganti posisi duduknya menjadi menyender ke kursi. "Walaupun aku sangat menyukai tenis, bukan berarti yang bakal menjadi pacarku –atau setidaknya yang mau menjadi temanku harus juga bermain tenis. Entah mengapa orang-orang selalu berpikir kalau aku ini hanya mau dekat dengan seseorang yang bisa bermain tenis," Terang Ryoma. Apabila kau sedikit lebih konsentrasi mendengarkannya, tersirat nada sendu di kalimatnya.

Untungnya, Himawari adalah tipe orang yang sangat pengertian dengan temannya. Dia memandang Ryoma dengan prihatin sekaligus kasihan. Mendengar cerita Ryoma membuatnya teringat akan masa lalunya.

'Kalau dipikir-pikir, ceritanya mirip dengan masa laluku…' Pikirnya sedih. Diambilnya tangan Ryoma kemudian digenggam erat oleh Himawari.

"Eh?"

"Echizen-kun… Maaf, aku bertanya hal seperti itu…" Balas Himawari sendu. Ryoma sedikit panik melihat air muka orang didepannya itu. Biasanya kalo cewek udah pasang wajah kayak gitu ujung-ujungnya bakal nangis.

"A-aa. Tidak apa-apa kok, Ichinos-"

"Ichi. Panggil aku Ichi, Echizen-kun,"

"…Ichi…san…"

"Mou, kau tidak bisa tidak memakai kata 'san' ya? Tapi nggak apa-apa juga sih…"

Ryoma terdiam, tidak tahu harus jawab apa. Tangan kirinya yang tadi digenggam Himawari sudah dilepasnya. Dalam beberapa saat, mereka terdiam dalam kecanggungan.

"…Nee, Echizen-kun,"

"Ya, Ichi-san?"

"Aku akan menjadi teman pertama Echizen-kun yang tidak bisa bermain tenis!"

Ryoma cengo mendengar pernyataan gadis satu ini. Tak lama kemudian dia tertawa pelan.

"Mada mada… dane,"

'Dia memang selalu berhasil membuatku terkejut,' Pikir Ryoma senang.


Ryoma POV

Sekarang aku sedang latihan tennis. Kalau kalian mengira Ichi akan berdiri di luar lapangan lalu teriak-teriak pake toa, kalian salah besar. Sekarang dia sedang berada di perpustakaan.

Kenapa? Aku hanya tidak ingin dia harus berurusan dengan Osakada. Jadi kuminta saja dia menunggu di perpustakaan, walau itu membuatku harus menerima 'Cipokan Selop Kuning' ala Ichi.

Di luar lapangan, terdengar teriakan-teriakan fansgirl yang dipimpin sebuah suara nyaring. Siapa lagi kalau bukan Osakada dan para cecunguk-cecunguknya?

"KYAAAAA! RYOMA-SAMA KAKKOI!"

"KYAAAAA! DIA BEGITU BERKILAUAN!"

"KYAAAAA! AKU PENGEN MATI!" (A/N : Mati aja lo, tramp! #JahatLoMi)

"KYAAAAA! NIKAHI AKU RYOMA-SAMAAA!"

"KYAAAAA! AKU GOYANG SESAR!"

"KYAAAAA! AKU GOYANG OPLOSAN!"

"KYAAAAA! SENAM 'YANG IYA IYALAH' LUCU BANGEEET!"

"MOOUUUUUUU! RYO-RYO SEHARUSNYA PAKE BAJU MAID YANG FLUFFY-FLUFFY!"

Ngek. Secepat kilat, aku ngeglare ke sumber teriakan terakhir. Siapa lagi yang bakal teriak kayak gitu kalo bukan si BakAuthor yang super sarap, gila, dan pemalas tingkat dewa a.k.a. Miyucchi?

"Author, diam atau kamikorosu,"

"HIEEEE! GOMENNASAI!"

…Kenapa scene ini terlihat familiar ya?


Di sebuah fandom antah berantah(?)…

"Huatchi!"

"Jyuudaime! Daijoubu!?"

"Ah, ha'i. Boku wa daijoubu desu,"

-x-.-.-.-.-x-

"…!"

"Kaichou, daijoubu?"

"Aa…"

"Sepertinya ada herbivore yang membicarakanku…."


"Hhh…" Benar-benar melelahkan. Ingin rasanya cepat-cepat pulang kerumah lalu ber-email dengan dia. Dia dan Himawari sudah janjian untuk pulang bareng diam-diam. You know why, dear readers.

"Ochibi!" Glomp.

Lagi-lagi, dan kesekian kalinya, Kikumaru-senpai memelukku hingga kehabisan napas. Aku merasa nyawaku mulai melayang berkat kecekek. Ok world, goodbye. Don't miss me, 'kay?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Canda deng. Tapi gak sepenuhnya bercanda sih. Aku mungkin beneran isdet kalau Oishi-senpai berhasil menolongku. (A/N : NYAAAAAAHHHH! Kenapa lo gak jadi mati!? Padahal gue udah menghias kamar gue buat ngerayain kematian lo! *dicipok(?) sama babon peliharaan para FC Ryoma*)

"Hh…" Aku memegang leherku yang barusan kecekek. Kikumaru-senpai berkali-kali meminta maaf kepadaku.

"Gomennasai, Ochibi!"

"Aa…"

Saat aku menoleh ke luar lapangan, terlihat Osakada dan para pengikutnya masih berfangirling ria. Kasihan juga sih Ryuzaki, harus sabar menghadapi kegilaan sahabatnya.

Kalau diperhatikan baik-baik, sedari tadi Osakada memastikan kalau tidak ada orang lain selain klubnya dan dirinya yang sedang mendukung. Aku tersenyum lega. Untung saja Himawari sudah kusuruh diam di perpustakaan, kalau masih disini sudah jadi mangsanya nih.

"Minna, latihannya sampai sini dulu! Besok, yang terlambat harus berlari keliling lapangan 50 putaran, ingat itu!"

"Ha'i!"

Seluruh murid kucluk-kucluk(?) pergi ke ruang ganti, termasuk aku. Tak seberapa lama para regular sudah mau pulang. Baru saja ingin melangkah ke perpus, Momo-senpai langsung menghentikanku.

"Nee, Echizen. Mau makan burger? Kikumaru-senpai yang traktir,"

"Mou! Momo, kau seenaknya saja!"

Aku menggelengkan kepala. "Nggak ikut. Aku sudah ada janji," Jawabku seraya berjalan ke perpustakaan.


Author POV

Momoshiro dan Eiji cengo mendengar jawaban kouhainya. Padahal biasanya Ryoma langsung menerima tawaran tersebut.

"Heh? Tumben-tumbennya Echizen menolak, tumben sekali," Kata Momoshiro sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, sudahlah. Berarti jatah Echizen untukku~,"

"Sudah kubilang aku tidak mau menraktirmu!"

"Traktir tetap traktir~"

Selagi Momoshiro dan Eiji beradu mulut, mari kita lihat si pendek yang bakal tenggelem duluan sebelum nyadar banjir. (A/N : Ryoma : HEI! Apa maksudmu tenggelem duluan!?)

Ryoma memasuki perpustakaan lalu mencari batang leher(?) Himawari. Discanning satu persatu bagian di ruangan tersebut, bahkan debu dan bakteri tak kasat mata juga terkena scanning. Untung saja dia kagak punya kebiasaan kayak manusia pendek ketuaan dari pendom dibawah kaki(?).

"Ah, itu dia," bisik Ryoma pelan. Dia berjalan menghampiri Himawari yang sedang… membaca buku tentang bunga matahari?

"Kau suka bunga matahari ?" Himawari langsung merinding kedinginan(?).

"Mou, Echizen-kun! Kau mengagetkanku saja,"

"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku,"

Himawari tersenyum sebelum menaruh buku itu di rak lalu mengambil tasnya.

"Iya, karena bunga matahari mengingatkanku kepada ibuku. Lagipula, namanya juga sama dengan namaku kan? Sama-sama Himawari," Sahutnya sambil tersenyum senang. Tapi entah kenapa, Ryoma merasa ada sesuatu yang ditutupinya.

Takut mencampuri urusan pribadinya, Ryoma hanya mengangguk lalu berjalan keluar bersama Himawari. Setelah memastikan tidak ada yang lain, barulah mereka pulang.

Di perjalanan, mereka tidak berani mengambil sepatah katapun. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Nee, Ichi-san,"

"Ha'i?"

"Rumahmu dimana?"

Yak, to the point sekali saudara-saudara!

Himawari sedikit terkejut mendengarnya. "A… Um… aku tinggal sendiri di apartemen sana," Dia menunjuk apartemen yang tidak jauh dari mereka.

Ryoma menautkan ailisnya. "Kau tinggal sendiri? Tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir.

Yang ditanya menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, lagipula aku sudah biasa tinggal sendiri sejak SD. Kebetulan saja aku tinggal di apartemen, habisnya di Seigaku nggak punya asrama sih…"

Ryoma masih bingung. "Lalu kenapa nggak milih sekolah lain yang punya asrama?"

"Um… Iya juga ya? Aku masuk disini karena feelingku mengatakan lebih baik sekolah disini, dan…" Himawari menoleh ke Ryoma lalu tersenyum lembut. "…aku tidak menyesal sudah memilih Seigaku,"

Perkataan Himawari sukses membuat pipi Ryoma memanas. 'Uh… kenapa pipiku panas begini? Mungkin efek latihan barusan…' pikirnya sambil memegang pipinya yang panas. Bahkan dia tidak jujur kepada dirinya sendiri, yare yare…

Tidak terasa mereka sudah sampai di depan apartemen Himawari. "Terima kasih sudah mengantarku pulang, Echizen-kun. Jaa nee~!" Serunya sambil melambaikan tangan sebelum masuk ke lobby. Ryoma juga melambaikan tangan lalu pulang ke rumah.

Bluk! Semerta-merta Ryoma langsung tiduran di kasurnya. Tentu saja setelah mengganti baju. Diraihnya laptop yang sudah berdiri(?) manis di mejanya lalu dinyakannya.

Dilihatnya siapa yang on di list chattingnya. 'Ah! Ketemu!' Ryoma langsung mengeklik tab baru dan memulai chatnya dengan seseorang.

GreenNeko151 : Sup.

Iya. Itu surnamenya di dunia maya. Unik, bukan? Oh, itu masih mending daripada Authornya lagi mabok lalu ngebikin jadi 'NeK0S4MuR41P4L1N6KeTjEhSeDuN14h'. No. Nonono. BIG NO. Yang ngebikin aja sampe mikir jumpalitan kemudian teriak-teriak 'HUAW' di atep rumah demi nemuin tulisan yang cocok.

Baiklah, back to the story.

Tidak beberapa lama kemudian, orang itu menjawab.

Brown_Shiropico : Hei, Nekocchi~ Wazzap? ^^

GreenNeko151 : Baik, arigatou ^-^ Guess what? Di kelasku ada anak baru!

Brown_Shiropico : Heck yeah! Aku juga baru pindah lho ;)

GreenNeko151 : Seriously? Bagaimana dengan sekolah barumu? Seronok kah?

Brown_Shiropico : Hahaha, lolz. Kurasa disitu lebih seru dari yang kubayangkan. Dan… ada seseorang yang begitu menyebalkan.

GreenNeko151 : Wah, padahal baru masuk tapi udah nyari musuh nih ceritanya?

Brown_Shiropico : Maybe. Tee-hee~ Tapi dia emang menyebalkan sih. Tipe anak fansgirl akut, you know… nggak habis pikir, kok banyak yang mau jadi pengikutnya sih?

GreenNeko151 : I hate that girl :( it's really annoying for me D:

Brown_Shiropico : Ditto, dear ;D

GreenNeko151 : Ah, baka oyajiku memanggil. See ya!

Brown_Shiropico : See you~


"Oi, seishounen! Mau tanding tenis denganku?" Nanjirou, ayahnya Ryoma, langsung bablas main masuk ke kamarnya Ryoma. Masih mending sih jika dibandingkan sebelumnya. Kalau dulu, dia main masuk nggak bilang-bilang + main nendang tu pintu. Entah emang kayunya sudah tua atau nendang pintunya terlalu kencang, pintunya langsung roboh secara bijaksana(?). Waktu itu Ryoma bersyukur dia sudah selesai mengganti baju.

"Yadda."

Nanjirou mengerutkan keningnya. Tumben sekali Ryoma menolak tanding tenis dengannya. Tiba-tiba terlintas pertanyaan di otaknya. Dia tersenyum mesum.

"Heeh… Ada apa dengan Ryoma-sama? Sedang jatuh cinta? Huh? Huh?" Goda ayahnya dengan suara ala fansgirl. Tanpa cap-cip-cup-belalang-kuncup(?), Ryoma melempar bantalnya ke muka Nanjirou.

"Ba-ka. Aku hanya sedang tidak mood saja. Shoo, shoo. Keluar dari kamarku dan jangan hancurkan pintunya," Usir Ryoma.

Nanjirou keluar sambil tertawa. Memang, menggoda Ryoma sudah merupakan aktivitas sehari-harinya. Tidak ada hari tanpa menggoda Ryoma, entah itu dalam hal cewek maupun tennis.

Setelah ayahnya keluar, Ryoma menghela napas lalu mengambil gantugan kunci kesayangannya itu. Dipandangnya terus benda itu yang terus berputar secara sendiri karena gravitasi bumi.

"…Kenapa setiap melihat Ichi-san aku langsung teringat gadis ini ya?" tanyanya kepada diri sendiri. Tentu saja tidak ada jawaban, wong dirinya sendirinya aja kagak tau, kok malah ke diri sendiri? Ryo-Ryo baka~ (A/N : *dijadiin perkedel*)

Lagi-lagi Ryoma menghela napas. "Hh… mungkin hanya pikiranku saja."

"Tapi…"


Yey! Chapter 3!

Ada yang bisa tebak siapa Brown_Shiropico? :333

Saking bingungnya nyari namanya, Shiropico ane ambil dari pacar ane yang kedua, yaitu Shiro AxiCo a.k.a. Netbook merek Axioo Pico, netbook jadul TwT dah 5 tahun sih, lungsuran dari kakak ane… *pundung*

Huaaaa, dimana-mana banjir, mana got dirumah ane seperempat lagi mau penuh pulak, berarti jalan diluar udah banjir… Tahun lalu tanggal 16 januari 2013 (kalo gak salah, ane ngambil tanggalnya dari status fb temen ane :p) kan banjir dimana-mana tuh, bahkan SD ane banjir sepaha, tapi kerennya rumah ane kagak banjir, cuman got doank yang penuh~ :D

Akhir kata…

REVIEW, ONEGAI?