Disclaimer : Masashi Kishimoto. Pairing : NaruSaku slight SasuSaku. Rated : T. Genre : Romance & Drama. Warning : OOC. Typos. Boring cause mainstream theme '-')
Story by Hikari Cherry Blossom24
Falling In Love
Chapter 3
Sakura berhenti, lalu duduk berjongkok di jalanan yang sepi. Ia masih terengah bekas lari-larian tadi. Belum lama berada di dalam kereta api, Naruto langsung membawanya melompat turun setelah memastikan mereka berhasil lolos dari Itachi. Saat itu Sakura hanya bisa merutuki kebodohan dirinya karena telah mengikuti langkah Naruto kemana pun mereka pergi. Bahkan sampai saat ini.
Naruto membungkukan badan, dan menatap Sakura dari atas. "Kau masih lelah?" Gadis itu tak menjawab, namun hanya meliriknya dengan kelopak sayu. Basah bekas keringat membuat surai merah muda itu berlengketan di wajah jelitanya. "Apa kau masih sanggup berjalan?" Sakura menggeleng pelan. Jujur lebih baik, bukan?
Naruto kembali berdiri, lalu menyisir rambut pirangnya menggunakan jemari tangan. Menyisirnya ke arah belakang. "Baiklah.." Kemudian ia berjongkok, namun di depan Sakura. "Naiklah ke punggungku!" Perintahnya terhadap gadis itu.
Sakura menggeleng keras. Menolak tawaran tersebut. "Tidak mau!"
Naruto berdecak. Ternyata repot juga menghadapi gadis tsundere. "Kubilang cepat naik, sebelum orang itu menemukan kita."
Sakura bersedekap. "Tidak mau!" Tolaknya lebih keras.
Naruto memutar kepala pirangnya ke arah Sakura. "Kalau kau tak mau naik aku akan meninggalkanmu sendirian di sini.." Mata bulat gadis itu melebar. Di sini gelap dan sepi, ada banyak pereman juga. Tadi ia melihatnya saat dijalan. Bersyukur ia bersama Naruto, karena itu tidak ada yang berani mengganggunya, mereka hanya menatapnya dengan tatapan lapar dari kejauhan. Sakura lebih baik ikut bersama Naruto dan di kurung dari pada memilih hidupnya dihancurkan oleh orang-orang serampangan itu. "Baiklah, aku per-"
Grephh!
Sakura langsung memeluk punggung lebar Naruto dari belakang. "B-baiklah, aku ikut bersamamu." Ucapnya dengan kalimat patah-patah. Bahkan saat ini pipinya tengah bersemu. Naruto tersenyum puas. Hanya sedetik, setelah itu ekspresinya kembali datar seperti biasa.
Setelah memastikan Sakura siap, Naruto segera bangkit— berdiri dari jongkoknya tadi. Kemudian ia melanjutkan langkah, namun kali ini dengan punggung dibebani. Sakura mengulum senyum, lalu menyandarkan kepala merah mudanya di punggung lebar Naruto. Hangat dan nyaman, ia suka rasa ini. Biar pun kejam, namun Sakura tak bisa menampik kenyataan bawha Naruto memiliki sisi baik. Terutama jiwa melindungi.
"Salahmu karena sudah membuatku capek.." Naruto memutar mata mendengarnya, sementara Sakura terkikik. "Malam-malam mengajakku main lari-lari di jalan, mana ramai orang lagi." Sakura melingkarkan tangannya dibagian leher Naruto. Berpegangan di sana agar tidak jatuh. "Ck, kenapa tadi aku ikut lari ya? Seharusnya aku lari saja ke tempat Itachi - Niisan, bukan malah ikut denganmu." Ia menggembungkan pipi. Merasa kesal pada diri sendiri. "Sakura baka."
"Dari tadi kau mengatakan itu terus. Sekali bodoh ya tetap bodoh, mana mungkin mendadak bisa pintar.." Sakura langsung menghadiahkan cubitan pada bahu Naruto yang hanya meringis pelan merasakannya. "Rasanya sakit, tapi tak berdarah." Ratapnya terhadap bekas cubitan Sakura. Memang sakit, tapi tak berdarah.
"Sebaiknya kau diam saja, lidahmu terlalu tajam kalau bersilat.." Pelukan Sakura terhadap leher Naruto melingkar semakin erat, membuat empunya melotot karena sulit bernafas. Dia bahkan sampai terbatuk. Sambil mengerucutkan bibir Sakura mengendurkan lingkaran tangannya. Sedikit memberi pelarajan boleh, bukan?. "Rasakan itu!"
Naruto berhenti. "Bodoh! Mau aku turunkan?" Sakura menggeleng keras, lalu memeluk leher Naruto sambil menyandarkan sisi wajahnya di punggung lebar yang kini tengah menompang tubuhnya. Naruto mendecih, setelah itu kembali membuka langkah. "Badan saja yang berat, otak cuma sekecil otak uda-" Belum sempat tuntas, Sakura langsung membungkam mulut Naruto menggunakan sebelah tangan.
"Rasanya sakit, tapi tak berdarah.." Bekapannya terhadap mulut Naruto tak kunjung lepas. "Kata-katamu membuatku terluka, sakit tahu." Ia sok merintih. Jangankan mau prihatin, tersetuh pun tidak. Begitulah Naruto Namikaze orangnya. "Untuk saat ini jangan bicara padaku, tunggulah sampai lidahmu memakai sarung." Naruto cengo. Gadis ini yang gila atau kah dirinya yang mulai gila?
Sakura memejamkan mata, lalu menempelkan hidung mungilnya di kemeja Naruto. Nafasnya tertarik panjang ketika wangi maskulin menggoda indera penciumannya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. "Naruto.."
"Hm?"
Sakura tersenyum dengan pipi merona. "Aku suka wangi tubuhmu." Ujarnya yang lalu meninggalkan bahu Naruto, dan malah beralih ke bagian leher bekalangnya.
Naruto terkejut, tak lama kemudian ia tersenyum tipis. Namun begitu tipis. "Jangan sampai kau menggigit leherku."
Gadis itu mendengus sebal. "Aku manusia."
"Kupikir Vampire." Ia tertawa geli, dan kali ini dengusan Sakura terdengar lebih keras.
"Baka!"
.
.
.
"Di mana Naruto?" Kushina menuding Sai dengan pertanyaan serta tatapan tajam. Ia heran melihat Sai yang pulang, bukan si pemilik apartement ini. Sai memang orang terpercaya Naruto, tapi tak seharusnya dia menyerahkan kunci apartement kepada orang lain. Sedikit lebih berhati-hati akan jadi lebih baik, bukan?.
"Nyonya, untuk sementara ini Boss tidak akan pulang ke sini.."
"Kenapa begitu?" Sai menundukan kepala. Kushina memejamkan mata sambil membuang nafas. Seharusnya ia tak perlu bertanya lagi. "Baiklah, aku tahu. Berikan alamatnya padaku!" Ia menyorongkan tangan kepada Sai, meminta sesuatu darinya. "Cepat berikan!"
Sedikit ragu, namun akhirnya Sai patuh. "Akan saya catatkan di buku.." Kushina bergeser ke samping untuk memberi jalan kepada Sai. "Sebentar Nyonya." Kushina mengangguk, lalu ikut masuk setelah menutup pintu.
Sai mengambil buku yang terletak di atas meja tamu. Ia duduk disofa sambil mencatat sebuah alamat di sana. "Sudah berapa lama?" Sai menatap Kushina dengan pandanga tak mengerti. "Sudah berapa lama Sakura Haruno ada bersama kalian?"
Sai kembali memfokuskan tatapan pada buku kosong dihadapannya. "Lebih dari 2 minggu.." Kushina terkejut mendengarnya. Dua minggu bukan waktu yang lama, anehnya kenapa selama itu polisi tak meminta kesaksian darinya. Ia tahu, itu pasti karena Itachi. Pria tampan yang satu itu memang baik, terlebih dia adalah mantan calon tunangan putrinya yang telah lama pergi.
Kushina menganggap kecelakaan itu bukan ulah dari siapa pun. Kejadian waktu itu hanyalah kecelakaan yang tak disengaja, namun Naruto tak mau menerimanya seperti sang Ibu, dan menganggap lain kecelakaan tersebut. Para Uchiha itu bersalah di matanya, terutama Fugaku Uchiha yang selama ini tak merestui hubungan Itachi dan Naruko. Naruto sangat marah setelah mengetahui hal tersebut, dan dia langsung memutuskan hubungan mereka secara paksa. Walau sudah diputuskan mereka tetap menjalani hubungan secara diam-diam. Naruko hanya tidak mau Naruto kecewa padanya, jadi ia rela menyembunyikan hubungannya dan Itachi dibelakang sang adik.
Begitu usai, Sai menyerahkan sobekan kertas yang berisikan alamat apartement Naruto kepada Kushina. "Nyonya, saya rasa saat ini Boss sedang tidak ada di apartement. Sebelum saya kesini, tadi Boss keluar membawa Nona Sakura."
"Apa anak itu mau pindah lagi?"
Sai berfikir sejenak. "Saya rasa juga seperti itu, masalahnya apartement itu tak cukup aman untuk persembunyian." Mendadak Kushina merasa kepalanya berputar. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menyelesaikan masalah ini, dan lagi Naruto anak yang sangat keras kepala. "Kali ini Boss yang akan turun tangan untuk mendapatkan tempat tinggal baru. Kami tidak bisa ikut campur, Boss bilang dia akan menyelesaikan masalah ini sendirian. Kami tidak di izinkan ikut campur oleh Boss."
Kushina memijit pelipis. "Kami - Sama, tolong lindungi putraku."
.
.
.
Nyaris menyentuh pipi mulus Sakura, seketika niat Naruto dihentikan oleh suara ketukan pintu. Ia mengenggam tangan, dan sempat menatap Sakura yang tengah terlelap sebelum kemudian ia beranjak untuk membukakan pintu. Setelah kepergian Naruto, mata sebelah kanan Sakura terbuka. Lelah juga berpura-pura tidur. Ia tersenyum, lalu bangun dan duduk di tengah ranjang. Sedikit terkejut ketika ingat kali ini Naruto tak memborgol tangannya. Ternyata dia baik juga.
"Naruto.." Ia terkikik geli, kemudian turun meninggalkan ranjang.
Naruto fikir Sai yang datang, namun ternyata dugaannya salah besar. Kehadiran Kushina benar-benar membuatnya terpaku, terlebih cara wanita itu menatapnya. Tampak begitu marah.
"Ibu!?" Kushina melangkah masuk mendekati Naruto.
Plakkk!
Sakura yang baru saja melongokan kepala merah mudanya keluar pintu langsung dikejutkan dengan sajian di depan matanya. Ia membekap mulut guna menahan jerit agar tak lolos dari bibirnya. Niatnya yang hendak keluar urung begitu saja.
Naruto tercenung. Ia menggigit bibir, lalu mengembalikan pandangannya ke arah Kushina. "Ibu, apa salahku?"
"Kenapa kau lakukan itu pada mereka!?" Kedua mata Naruto melebar. "Kau pikir Ibu tidak akan tahu, hah!?" Pria itu menelan ludah dengan berat. Pada akhirnya sang Ibu tahu juga, walau ia belum tahu siapa yang telah memberitahu Kushina mengenai masalah ini. Yang jelas orang itu bukan berasal dari orang-orangnya.
"Ibu, apa maks—"
"Tutup mulutmu!" Telunjuk kurus milik Kushina menuding wajah Naruto. "Di mana dia!" Saat hendak masuk, Naruto langsung menghalanginya. "Minggir, aku harus membebaskan gadis itu sekarang." Naruto mencekal tangannya, seketika membuat langkahnya tertahan. Kushina menolehkan kepala pada Naruto, dan memberi pria itu tatapan tajam. Dia terlalu gigih untuk diluluhkan.
"Ibu, kumohon jangan lakukan itu." Naruto berkata— memperingati sambil menundukan kepala. "Jangan ikut campur! Ini masalahku sendiri, kalian jangan ikut campur." Mendengar kalimat tersebut membuat mata Kushina melebar karenanya. Orang ini bukan Naruto, dia hanyalah jelmaan dari putranya. Ini bukan Narutonya, dia palsu.
Kushina kembali menghadap ke arah Naruto sepenuhnya. "Ibu tahu ini bukanlah dirimu." Pria itu sempat terkejut, namun hanya sesaat, sebelum ia kembali pada sikap angkuhnya.
"Ibu, aku tidak akan berhenti sebelum mereka juga merasakan apa yang aku rasakan.." Naruto jatuh tersujud di kaki Kushina. Kepala pirangnya menunduk. Ia bahkan sampai menangis. "Mereka telah mengambil Nee-chan dariku. Satu-satunya suadara yang aku miliki." Kushina membekap mulut, menahan raungan tangisnya. Ia akan menjadi sangat terluka bila mengingat masa lalu. "Maafkan aku, Ibu.."
Pintu kamar yang terletak di pojok ruangan tertutup secara perlahan. Sakura merosot, lalu terduduk dibelakang pintu. Ia menangis sembari menyembunyikan wajah diantara kedua lutut. "A-apa itu benar?" Ia bertanya pada diri sendiri. Sekarang Sakura baru tahu apa alasan Naruto menculiknya dan menahannya, terlebih kata-kata Naruto beberapa hari lalu masih terngiang dalam benaknya. "M-mereka telah melenyapkan seseorang." Ia meremas rambut frustasi. Keadaan yang seakan memaksanya untuk bertingkah seperti orang gila.
"Aku hanya melakukan apa yang pernah dilakukan oleh para Uchiha itu padaku."
Sakura makin terisak. Baru sekarang ia tahu makna dari kata-kata Naruto beberapa minggu lalu, padahal sudah lama mereka bersama. Naruto sosok yang amat pendiam, dan enggan mengatakan apapun yang tengah dia rasakan. Harusnya ia menyadari niat Naruto sedari awal. Sekarang sudah terlambat, tidak bisa lagi di undur dan memutarnya pada awal kejadian perkara ini.
Kushina menyeka air mata dari pipinya secara kasar. "Baiklah.." Ia menahan nafas ketika Naruto menatapnya dengan mata kosong dari bawah sana. Liquid memaksa turun, namun Kushina mampu menahannya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan Naruto, terutama dalam menetapkan pilihan. "Kau bukan putraku lagi." Naruto tercekat mendengarnya. Kalimat itu bagaikan pedang yang menyahat hatinya. "Sebelum kau membebaskan gadis itu jangan panggil aku Ibu, karena kau bukan lagi putraku. Kau sudah menjadi orang lain bagiku. Bahkan Ayahmu sekali pun."
Setelah menetapkan pilihan wanita setengah baya itu berlalu melewati Naruto yang tengah terdiam membatu. Ia pergi meninggalkan apartement tersebut— beserta putra yang telah membuatnya kecewa. Setitik air mata membasahi sudut mata Naruto. Ia menyembunyikan wajah dibalik telapak tangan, dan terisak pelan di sana. Kushina terlihat sedang menangis, namun dalam diam.
.
.
.
"Naruto.." Pria itu duduk di tepi ranjang tempatnya berbaring. Dia tersenyum simpul padanya. Sakura bangun, lalu duduk dihadapan Naruto. "Kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku?" Naruto tak kunjung menjawab, malah menatapnya dengan tatapan kosong. Hati Sakura terasa nyeri melihat pria itu tampak tak baik. Dia pasti sangat terpukul, di tambah lagi dengan konfliknya bersama Nyonya besar Namikaze. "Na—"
"Aku datang ke sini hanya untuk mengingatkanmu.." Naruto menyela kalimat Sakura. "Besok pagi-pagi sekali aku akan membawamu pergi lagi. Kita tidak akan di sini." Gadis itu hanya diam sambil mendengarkan. Naruto berdiri, lalu membelakangi Sakura. "Lanjutkan tidurmu." Ujarnya sesudah menyampaikan pesan singkat.
Menyadari Naruto hendak pergi, Sakura bergegas melompat turun dari ranjang kemudian langsung memeluk tubuh Naruto dari arah belakang. "Jangan pergi." Kedua mata Naruto terpejam begitu mendengar permintaan tersebut. "Temani aku di sini." Pelukan Sakura terhadap pinggang Naruto semakin bertambah erat. Entahlah, Sakura sendiri juga tidak tahu apa yang membuatnya bersikap lain kepada Naruto. Ia hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh hatinya.
Sikap Sakura berhasil membuat Naruto luluh, walau secara perlahan..
.
.
.
"Pak, ada seseorang yang mencari Anda.."
Itachi melepaskan kacamata, lalu mengucak kedua mata matanya. "Siapa?" Ia beranjak dari kursi putarnya. Berjalan menghampiri meja, kemudian menuang air ke dalam gelas.
"Nyonya Kushina."
"Uhukk!" Mendengar nama tersebut membuat Itachi terbatuk disela meneguk air mineral. Segera ia letakan gelas air di tangannya, lalu mengelap permukaan bibirnya yang basah menggunakan punggung tangan. "Nyonya Kushina?" Kisame mengangguk. Itachi bergegas bangkit kemudian pergi menemui mantan calon mertuanya itu.
"Bibi!?" Kushina berdiri, sementara Itachi menghampirinya. "Ada apa? Kenapa datang malam-malam begini?"
Kushina menunjukan senyum, namun terlalu simpul. "Itachi.." Lelaki itu hanya diam sambil menanti kalimat selanjutnya. "Aku datang untuk menyerahkan putraku kepadamu." Itachi terkejut, terlebih ketika Kushina menyerahkan selembar kertas padanya. "Aku serahkan Naruto padamu. Tolong beri Sakura Haruno keadilan atas tindakan putraku. Gadis itu tidak bersalah, dia hanya korban atas perbuatan Naruto."
Itachi menerima sodoran dari kushina dengan lambat. "Bibi, kau bersungguh-sungguh?" Wanita itu mengangguk tanpa senyum. "Lakukan apa yang sudah menjadi tugasmu.." Balas tegas, namun dengan hati terluka. Ia tak punya pilihan lain, bila tertangkap sekarang maka hukuman Naruto dapat berkurang. Itulah niatnya.
.
.
.
Ketika mendengar suara sirine mobil polisi, Sai langsung berlari ke lantai atas untuk melihat Naruto. Kala tiba di atas, ia mendapati Naruto tengah membuka pintu kolong atap. Pria itu meliriknya dari bawah, sementara Sakura tampak setia menunggu ditepi ranjang. Kali ini gadis itu tampak tenang, bahkan juga dengan Naruto. Keduanya membuat Sai terheran.
"Boss.."
"Sai, kau bantu aku.." Pria berkulit putih pucat itu mengangguk, kemudian segera membantu Naruto. "Yamato, alihkan perhatian mereka." Mendapat perintah dari sang atasan, Yamato bergegas melaksanakan. "Sakura, kemarilah!" Gadis itu meninggalkan ranjang, lalu berdiri di dekat Naruto menginjak bangku. Ia tertegun ketika melihat Naruto menarik tangga lipat dari loteng. Tempat persembunyian yang apik.
"Nona, mari saya bantu." Sai memegangkan tangga, kemudian Sakura menaikinya sambil berpegang di bahu kokoh Naruto.
"Sial! Kita terlambat, mereka lebih dulu sampai.."
Saat berhasil tiba di loteng, Sakura melongokan kepalanya ke bawah. "Naruto, aku takut."
Pria itu tersenyum tipis. "Jangan takut, Sai di sini akan menemanimu.."
"Kau akan pergi?" Nada Sakura terdengar cemas.
"Tidak, aku juga akan mengawasimu dari sini."
"Tapi Naru..." Sakura menggenggam telapak lebar Naruto dengan erat. Ia harus pasrah pada keputusan ini. "Jaga dirimu baik-baik, jangan melakukan tindakan yang bisa membahayakan dirimu sendiri."
Naruto mengangguk pelan. "Masuklah, akan kututup pintunya." Sakura masuk dengan cepat, kemudian Naruto menutup pintu kolong atap tersebut setelah melipat tangga. Tempat yang aman untuk Sakura bersembunyi, terlebih melihat desainnya yang benar-benar dapat mengecoh mereka. "Sai, kau bantu Yamato mengalihkan mereka, sementara aku akan menjaga Sakura di sini."
"Baiklah." Kemudian Sai meletakan kembali bangku tersebut di depan meja rias.
.
.
.
Sasuke berjalan mengedap dibalik dinding tembok, di ikuti oleh Itachi dan beberapa polisi lainnya dibelakang. Sasuke menodongkan pistol dengan cepat kala melihat seseorang berlari keluar dari apartement nomor 276. Tidak salah lagi, dia salah satu dari anggota Naruto.
Dorr dorr!
"Shit! Meleset." Sasuke mengumpat kala tembakannya tak mengenai sasaran. Ia menoleh ke belakang, menatap Itachi. "Sepertinya mereka sudah pergi lebih dulu sebelum kita."
"Kita harus menyelidiki tempat itu.." Sasuke mengangguk— mengiyakan. Itachi memutar ke belakang, lalu mengangkat tangan— memberi isyarat kepada pasukannya. "Geledah habis tempat ini, sementara aku akan mengejar mereka."
"Baik pak!"
BRAKKK!
Pintu bercat coklat polos tersebut di dobrak secara kasar. Sasuke menodongkan pistol pada ruangan kosong tersebut. Kala tak mendapati apapun, ia melanjutkan lagi penyelidikan di ruang kosong lainnya. Sebuah kamar menarik atensi Sasuke.
"Suigetsu, ikuti aku!"
Sasuke mendobrak pintu kamar, kemudian masuk sambil di ikuti oleh Suigetsu. Keduanya menodongkan pistol untuk berjaga-jaga. "Di isini juga kosong.." Sasuke menggeram pelan mendengar ucapan Suigetsu setelah memeriksa tiolet yang katanya juga kosong. "Pak, sebaiknya kita kembali." Tak menjawab, Sasuke malah melewati Suigetsu dengan raut kesal. Lelaki bergigi runcing itu sempat terheran, namun ia memaklumi sikap Sasuke.
Adik dari komandannya itu terlihat urak-urakan setelah menghilangnya Sakura di malam pernikahan mereka. Dia sangat putus asa atas kejadian ini.
Mata Naruto menyipit mengintip gerombolan polisi tersebut dari balik pintu dibelakang lemari. Bersyukur apartement ini memiliki gudang di dalam kamar, cukup aman untuk tempat ia bersembunyi. Hanya menggunakan badan lemari baju sudah cukup membantu. Sementara itu dilain tempat Sakura dapat mendengar dengan jelas suara-suara para polisi itu dari atas. Bersyukur telinga Sakura masih bisa berfungsi dengan baik di tempat gelap dan menyeramkan ini.
Menyadari mereka benar-benar telah pergi, Naruto lekas keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berlari menuju jendela, bahkan sambil memegang pistol di tangannya. Para polisi itu terlihat sedang mengelilingi kompleks di bawah sana. "Harusnya tadi aku sedikit lebih cepat.." Gumamnya pada diri sendiri. Naruto mengakui bahwa kali ini ia lalai.
Benar-benar tidak ada. Sasuke tak tahu lagi harus melakukan apa lagi untuk kasus ini. Lebih dari satu jam mereka menyelidiki tempat ini, namun tak satu pun mereka mendapatkan petunjuk mengenai kasus ini. "Tak satu pun ada petunjuk."
Itachi yang mendengar keluhan tersebut memutuskan untuk menyelesaikan penyelidikan. Toh, percuma memaska jika mereka terlambat datang. Para gengater itu terlalui lihai, mendapatkan mereka tak semudah membalik telapak tangan. "Cukup, kita kembali sekarang.." Ia mendekati Sasuke, lalu menepuk bahunya begitu tiba. "Kita akan mendapatkan Sakura, kau harus bersabar." Sang adik hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
"Pak!"
Itachi menoleh, lalu terkejut saat melihat Obito membawa salah satu anak buah Naruto dengan seret paksa. "Ini akan membantu kita." Ia pergi menghampiri mobil. "Bawa dia, kita akan langsung melakukan introgasi malam ini juga."
"Baik."
Lelaki berambut hitam itu hanya menyeringai, tak sedikit pun merasa takut. Tak ada yang perlu ditakutkan selama Naruto Namikaze yang menjadi Boss nya. Toh, ia tertangkap juga bukan karena lalai, namun karena sengaja untuk mengalihkan perhatian mereka. Sai dan Yamato yang merencanakan ini semua.
"Bagus sekali.." Naruto yang melihatnya dari atas tengah menyeringai. Sakura ikut melihat, namun hanya sesaat sebelum kemudian menatap Naruto dengan kepala menengadah. Ia heran, bagaimana bisa sekarang ia jadi berpihak kepada lelaki pirang yang saat ini sedang memegang pinggangnya menggunakan tangan kanan. Padahal ini kesempatan berharga, terlebih Sasuke sempat memasuki kamar ini. Hanya tinggal berteriak memanggil nama Sasuke, maka bebaslah ia malam ini juga. Salahkan saja hatinya yang telah melakukan ini.
Sakura terpaku melihat wajah tampan Naruto. Ia mengamatinya dengan seksama, mulai dari mata, hidung dan bibir. Terakhir kali tatapannya terhenti di bibir tipis Naruto. Daging merah itu terlihat lembut, hingga tanpa sadar Sakura menyentuhnya dengan jari jempol. Ia menggigit bibir ketika merasakan betapa lembutnya daging itu saat disentuh. Bibir yang begitu menggoda.
Seringai Naruto lenyap, kemudian kepala pirangnya berputar ke arah Sakura. Yang ia dapati ketika menoleh ialah wajah cantik gadis merah muda itu tengah bersemu. Dia menatapnya dengan mata sendu dan bibir basah, lalu merapatkan tubuh padanya.
Sakura hanyut dalam tatapan setajam predator itu, tanpa sadar membuatnya menjinjitkan kaki sambil berpegang di dada bidang Naruto. Sesaat pria itu hanya menatapnya, namun lambat laun dia akhirnya merundukan kepala dan mendekati wajahnya yang tengah menyosor. Kedua mata Sakura terkatup di tengah menanti bibir Naruto. Tubuhnya disentak, ditarik semakin dekat dengan tubuh hangat Naruto. Pinggang kecilnya dipeluk semakin erat.
Untuk yang kedua kalinya mereka berciuman, namun kali ini berbeda dari sebelumnya. Sakura menyerahkan diri pada Naruto tanpa ada keterpaksaan, malah dari keamuannya sendiri.
Beberapa menit mereka saling melumat satu— sama lain, dan akhirnya Naruto melepaskan tautan bibir mereka dengan lembut. Matanya terbuka secara perlahan, kemudian mendapati gadis itu tengah menjilat bibir tanpa membuka mata. Ia menyatukan kening mereka, sementara Sakura meremas kemejanya sambil kembali menggigit bibir. Paras cantik itu terangkat, serta kelopak lentiknya terbuka dan memperlihatkan sepasang emerlad indah miliknya.
"Naru.." Panggil gadis itu. Naruto menyentuh dagunya, lalu kembali menautkan bibir mereka. Pegangan Sakura beralih. Dari bertahan di dada berpindah ke bagian leher. Ia tak lagi berjinjit ketika Naruto merunduk sepenuhnya, memberinya keleluasaan untuk memagut bibir lembut tersebut. Rasanya benar-benar nikmat dari yang pernah Sakura rasakan sebelumnya.
To Be Continued...
