Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NarutoSasuke

Warning: FEM!SASUKE, OOC, Typo, mungkin ide pasaran, dan kekurangan lainnya.

.

.

Don't Like, Don't Read!

.

Kelas musik adalah kelas kesukaan Naruto setelah Penjas. Karena di kedua mata pelajaran ini Naruto bisa mendapat nilai A dengan hanya duduk tanpa berpikir terlalu keras. Bukannya Naruto bodoh atau apa karena dia tidak begitu menyukai pelajaran yang menggunakan otak melulu. Dia lumayan pintar, walau tidak sepintar keempat gadis idola, si Naara, Sabaku, ataupun pewaris Hyuuga.

Selain itu, di kelas musik ini dia bisa lebih santai. Bisa duduk di bangku paling belakang, mengamati keadaan sekitar, memandang langit, menikmati angin, malah terkadang dia bisa sampai tertidur.

Tapi, semua itu tidak bisa dia lakukan sekarang. Bukan karena hari ini langit sedang mendung atau dia tidak duduk di bangku belakang.

Tapi karena-

"Namikaze-kun," itu suara Mey Terumi, guru musik yang membimbing kelasnya. Sedikit mengejutkan Naruto dengan suaranya yang melengking, mungkin karena tadi Naruto tidak begitu mendengarkan. "….bisa kamu iringi lagu Uchiha-chan dengan piano? Kamu pasti bisa, silahkan Namikaze-kun," nadanya mendesak, tidak bisa dibantah.

Naruto meringis melihat guru seksi itu menatapnya tajam, mungkin karena dia tidak mendengarkan saat guru itu memanggil namanya beberapa kali.

Tapi, kenapa harus dia yang menjadi partner bermusik gadis Uchiha itu –biasanya hal ini tidak pernah terjadi. Apa ini hukumannya karena lama menyahut saat guru itu memanggilnya? Atau karena dia kedapatan beberapa kali pernah tidak memperhatikan penjelasan Mey-sensei? Tidak mungkin.

Ah, tidak masalah. Lagipula dia lumayan jago memainkan alat musik, terutama gitar dan piano.

Cih, Naruto bisa mendengar bisikan-bisikan dari teman-temannya saat dia berjalan ke depan kelas –tentang betapa beruntungnya dia bisa mengiringi Sasuke bernyanyi, bisa berdekatan dengan Sasuke dan hal lainnya. Dan juga, dia bisa mendengar si gadis Yamanaka terkikik dan mengerlingkan sebelah mata saat Naruto berjalan melewatinya. Apa tadi gadis itu benar-benar mengerling?

Naruto menggeleng.

Naruto menarik bangku persegi itu dan mendudukinya, meletakan jemarinya pada tuts piano. Bertanya pada Sasuke lagu apa yang akan dinyanyikannya.

Sasuke menunduk, berbisik. Naruto bisa merasakan napas hangat gadis itu menggelitik telinganya. Apa gadis itu mengendusnya sebelum dia menarik diri? Naruto mengusap wajahnya cepat, mungkin itu hanya khayalannya saja.

Lagu apa tadi dia bilang? Naruto mengulangi pertanyaannya. Dia merasa malu dan bodoh saat teman-teman menertawakannya.

Amier – Roku Tousei no Yoru

Sebelah alis Naruto terangkat. Heee, dia tidak menyangka gadis seperti Sasuke menyukai jenis musik melow seperti ini. Dia pikir Sasuke hanya menyukai jenis musik menghentak yang dapat membuatnya bergoyang –dalam arti sebenarnya. Ini mudah, Naruto pernah beberapa kali mendengar musik ini diputar di beberapa toko.

Naruto mulai menekan tuts piano setelah melihat tanda dari Sasuke, musik mengalun lembut, memantul pada dinding, hingga sampai pada pendengarnya.

Kizutsuita toki wa

Sotto tsutsumikonde kuretara ureshii

Koronde tatenai toki wa

Sukoshi no yuuki o kudasai

Ternyata suaranya tidak begitu buruk, malah lumayan enak didengar.

Tidak salah dia dijuluki primadona sekolah. Julukan itu diberikan teman-teman bukan hanya sekedar parasnya yang cantik atau juga karena dia berasal dari keluarga kaya. Melainkan karena dia gadis terpintar di angkatannya, dia juga lumayan ramah, beberapa kali menjadi wakil untuk mengikuti olimpiade sains, dia juga kerap kali menjuarai lomba melukis.

Selain hal itu, Naruto tidak tahu kelebihan apa lagi yang dimiliki gadis Uchiha itu. Oh, dan Naruto tidak benar-benar ingin tahu.

Suara tepuk tangan menggema saat Sasuke menyelesaikan bait terakhir.

Dia menikmati permainan piano Naruto. Dia tidak tahu lelaki itu ternyata cukup pandai memainkan alat musik ini. Bahkan Sasuke tidak bisa menguasainya hingga sekarang. Malah Sasuke tidak bisa memainkan satupun alat musik, kecuali biola –itupun hanya sekedarnya saja.

Mey-sensei membuka suara begitu kedua siswanya kembali ke bangku masing-masing. "Terimakasih Namikaze-kun, Uchiha-chan. Tadi itu benar-benar menghibur."

Setelah bel pertanda istirahat berbunyi, beberapa kesimpulan dan wejangan yang diberikan Mey Terumi. Akhirnya guru cantik itu membubarkan kelas yang disambut dengan bahagia oleh seluruh penghuni kelas.

"Ino-princ, mari kita makan siang bersama."

"Denganku saja."

" –hei aku yang lebih dulu mengajaknya!"

"Sasu-chan, mau makan siang bersamaku?"

" –bagaimana kalau denganku saja cantik."

Itu adalah sebagian kecil kalimat-kalimat ajakan dari para siswa yang hampir setiap hari didengarkannya. Entah itu untuk makan siang, mengantarkan pulang, atau hanya mengajaknya berkencan –yang tentu saja ditolak dengan halus oleh Sasuke maupun Ino.

Sasuke dan Ino menghela napas lega setelah tidak ada lagi yang mengganggu mereka.

Pasti kedua sahabatnya juga mengalami hal yang sama.

Terutama Ino, dialah yang paling banyak penggemarnya. Tidak heran, karena Ino memang gadis tercantik di angkatannya, gadis Yamanaka itu seperti barbie hidup. Ino jugalah gadis yang paling pandai bersosialisasi di antara mereka berempat, Ino juga seorang model, tetapi Ino masih memfokuskan dari pada sekolahnya sehingga gadis itu tidak banyak menerima tawaran.

"Sasu-chan! Ajak Naruto-kun makan bersama!" Sasuke membekap mulut Ino karena suaranya yang kelewat nyaring. Sasuke tersenyum canggung saat siswa lain melihat ke arah mereka. Dia melirik ke belakang, beruntung Naruto tidak mendengarkan, karena lelaki itu masih nyaman di bangkunya dan sedang berbicara dengan Gaara.

Dengan Gaara? Apa mereka teman akrab?

"Kau berisik Ino. Lihat, yang lain memperhatikan kita," Sasuke berbisik, masih tidak melepaskan tangannya yang membekap bibir Ino.

Ino menarik paksa lengan Sasuke, melepas bekapannya."Aku tidak bisa bernapas bodoh!" serunya pada Sasuke. Lalu gadis cantik itu menarik napas dalam. "Naruto-kun! Sasu-chan ingin bicara denganmu!"

Oh, bodoh! Seharusnya tadi Sasuke tidak membiarkan Ino melepas bekapannya. Sekarang lihat! Siswa lain yang tersisa di dalam kelas benar-benar melihat ke arah mereka, bahkan ada beberapa gadis yang berbisik.

Sasuke jadi ingin pindah planet!

Sasuke mendelikan mata ke arah Ino yang hanya menyengir dengan tangan terangkat dan dua jari yang membentuk huruf 'V', dia bisa melihat bibir gadis itu bergerak mengucapkan maaf sebelum meninggalkannya.

Ino meninggalkannya! Dasar jalang!

Sasuke tidak akan meminta maaf karena telah menyumpahi sahabatnya.

"Jadi, apa yang ingin Kau bicarakan?" Sasuke sedikit tersentak mendengar suara yang berasal dari sampingnya. Sasuke tidak melihat Naruto berjalan ke arahnya, mungkin karena dia terlalu fokus melihat pintu dan menyumpahi Ino.

Sasuke berdehem, tidak sengaja menatap mata Naruto.

Oh, Sasuke baru tahu kalau ada orang yang memiliki iris sebiru itu. Birunya berbeda dengan milik Ino yang agak pucat, tidak juga seperti langit cerah di siang hari. Iris Naruto lebih ke birunya samudra. Samudra terdalam, begitu jernih dan juga …hangat?

Sasuke menggelengkan kepalanya kuat.

"Jadi?" Naruto bertanya, merasa bingung dengan sikap gadis Uchiha di hadapannya.

Sekali lagi Sasuke berdehem. "Aku…aku mau mengajakmu makan siang bersama."

Apa si Uchiha ini gugup? Dia menunduk sambil memilin ujung seragamnya.

Naruto mengerlingkan kelerengnya melihat keadaan di sekitar. Naruto dapat melihat beberapa siswa yang terang-terangan melihat ke arah mereka –sangat jelas mereka ingin tahu, dan ada juga siswa yang mencoba mencuri dengar.

"Ayo," katanya pelan. "Bukannya Kau mau makan siang?" lanjutnya, ketika Sasuke hanya diam di tempat.

Mereka lalu berjalan berdampingan. Sebenarnya Sasuke merasa risih karena beberapa siswa masih memperhatikan mereka. Bahkan saat telah keluar dari kelas mereka masih saja diperhatikan.

"Kamu dekat dengan Gaara?" Sasuke bertanya setelah beberapa lama berjalan karena merasa tidak nyaman dengan keheningan di antara mereka.

Naruto hanya bergumam. Pertama Kiba, sekarang Sasuke yang bertanya mengenai dirinya dan Gaara. Apa salah jika berbicara dengan salah satu siswa populer di sekolahnya?

"Beberapa kali aku melihat kalian berbicara. Tapi, aku tidak pernah melihat kamu benar-benar bersama Gaara. Maksudku, bersama Gaara dan juga teman-temannya."

Apa semua gadis populer sangat suka untuk mengetahui urusan orang lain! Naruto tidak akan mengatakan itu.

"Kami bertetangga saat di Landen."

Dia bisa mendengar Sasuke memekik. "Sudah aku duga! Kamu bukan orang Jepang," Sasuke mendongak menatap lelaki di sampingnya. "Jadi, kamu pernah berteman dengan Gaara?"

"Ibuku Jepang dan aku tetap berteman dengan Gaara," Naruto menghentikan langkahnya. Sebelum gadis itu bersuara, Naruto menyela. "Tujuan awalku perpustakaan. Aku tidak berniat untuk makan siang," lanjutnya, menunjuk ruang perpustakaan di belakangnya.

Sasuke ber'eh', bukannya saat di kelas tadi Naruto menyetujui ajakan Sasuke.

"Kalau begitu aku masuk," katanya, tersenyum sebelum menghilang di balik pintu.

Sasuke terdiam, membuka dan menutup mulut –seperti ingin mengatakan sesuatu, setelah beberapa saat dan tidak ada kata yang keluar, Sasuke berbalik, berjalan menuju kafetaria. Ketiga sahabatnya pasti sudah menunggu di sana.

Secara mendadak Sasuke menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang. Apa Naruto menyetujui ajakannya karena ingin menyelamatkannya dari bisik-bisik di kelas tadi? Apapun itu, Sasuke bersyukur kalau hal itu memang benar.

Sasuke melanjutkan tujuannya ke kafetaria dengan langkah ringan. Mungkin mentraktir ketiga sahabatnya perlu dia lakukan.

.

.

Suara bel pulang sekolah yang terdengar, bertepatan dengan hujan deras yang mengguyur Konoha.

Dari sekian banyak orang yang mendengarkan ramalan cuaca pagi tadi dan tidak menyediakan payung sebelum hujan, salah satu orangnya adalah Naruto. Dia merasa bodoh karena mengabaikan ramalan cuaca Jepang yang terbukti selalu benar.

Karena pagi tadi cuaca cerah dan udara terasa panas, Naruto jadi beranggapan hujan tidak akan benar-benar turun. Sekarang memang memasuki awal Agustus –di mana hujan akan turun dengan semaunya dan tidak dapat diprediksi.

Tapi, ramalan cuaca pagi tadi?

Naruto menghela napas, sepertinya ia harus menunggu hujan mereda terlebih dahulu, yang artinya dia akan lebih lama di sekolah. Naruto melihat sekeliling, sepertinya bukan hanya dia manusia bebal yang tidak mempercayai ramalan cuaca.

"Naruto-kun belum pulang?"

Naruto terlonjak, dia terkejut karena suara yang tiba-tiba tertangkap indra pendengarnya. Dia menoleh ke asal suara. "Haruno?"

"Sakura saja," gadis pink itu tersenyum manis. "Kamu tidak bawa payung?"

Naruto mengangguk. "Ya, aku tidak bawa payung," dia melirik payung hitam di genggaman Sakura.

Sakura ikut melihat arah pandang pemuda pirang di hadapannya, dia mengangkat payung hitamnya. "Mau bareng?" Sakura terkekeh. " Kebetulan aku lewat halte. Kamu juga akan ke halte kan?"

Naruto mengangguk. Dari mana dia tahu Naruto akan ke halte bus.

"Kalau begitu ayo!" ajaknya menarik lengan Naruto sebelum lelaki itu protes.

.

"Kita sampai," gumam Sakura saat mereka telah sampai di halte yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Ada banyak orang yang menunggu bus, mungkin sebagian dari mereka hanya berteduh. "Kalau begitu aku pergi."

"Eh? Kau tidak menunggu bus?" tanya Naruto, heran.

Sakura menggeleng. "Aku berkendara, mobilku mogok pagi tadi. Aku akan mengambilnya sekarang."

"Terimakasih," ucap Naruto, dia tidak tahu harus mengobrol apa dengan gadis ini.

"Jangan terlalu kaku," Sakura terkekeh, menepuk bahu Naruto, meminta lelaki ini untuk lebih santai. "…sampai bertemu besok."

Naruto hanya mengangguk saat Sakura meninggalkannya, bergabung bersama kerumunan orang di trotoar.

Naruto merasa hari ini benar-benar aneh. Karena tidak biasanya gadis-gadis itu mau berbicara dengannya. Pertama Sasuke, lalu Sakura. Biasanya mereka hanya bergaul dalam lingkup sosial yang tidak jauh berbeda dengan kondisi mereka.

Mereka memang ramah, beberapa kali Naruto pernah melihat mereka berbicara dengan siswa yang tidak masuk ke dalam lingkaran pergaulan mereka, tetapi tetap saja ini terasa aneh bagi Naruto.

Naruto mengela napas. Sudahlah, Naruto tidak ingin memikirkannya. Mungkin ini hanya kebetulan saja.

Lebih baik dia segera pulang dan mengistirahatkan diri di kamar apartemennya.

.

.

.

.

Sasuke melempar tasnya sembarangan. Dia membanting diri ke atas ranjangnya yang berbalut seprei ungu lembut. Saat ini dia benar-benar kesal.

Sasuke mengecek kembali ponsel hitamnya.

[From: Sakura Haruno

Sasu-chan, batas waktunya sampai hari jadi sekolah. Kalau tidak ada batas waktu, tidak akan seru! Kalau Kau menyerah atau tidak bisa mendapatkan Naruto, akulah pemenangnya. Jangan jadi pecundang ya nona Uchiha ;) berjuanglah sampai 15 September nanti. Semangaaaat!]

Sasuke mengeratkan rahangnya, dia melempar ponselnya sembarangan. Haruno itu benar-benar menyebalkan.

Sasuke tidak marah ataupun takut dengan Sakura yang memberinya batas waktu, karena Sasuke sangat yakin dia bisa membuat Naruto jatuh cinta dengan cepat.

Sasuke hanya sedikit kesal. 'jangan jadi pecundang' katanya. Yang benar saja, bahkan Sasuke baru tahu jika ada kosa kata seperti itu di dunia ini.

Tapi ini sudah empat hari sejak Sakura memberikannya tantangan, dimulai sejak tanggal 8 Agustus, berarti 34 hari lagi sampai 15 September dan Sasuke belum juga punya kesempatan untuk berbicara banyak dengan Naruto.

Sasuke memang sudah berbicara dengan pemuda itu siang tadi di sekolah, tetapi hanya beberapa menit dan sepertinya Naruto tidak berkeinginan untuk berlama-lama berdekatan dengan dirinya.

Apa pemuda itu tidak tertarik dengannya?

Tidak! Itu tidak mungkin!

Sasuke ingat saat pertama kali dia berbicara dengan Naruto di kafetaria, pemuda itu memperhatikannya. Sasuke sangat yakin. Mungkin siang tadi Naruto hanya gugup sehingga tidak ingin terlalu lama berada di dekatnya.

Tapi…tidak! Sasuke harus optimis jika Naruto memang tertarik dengan dirinya, sama seperti kebanyakan pria lainnya.

Sasuke hanya perlu mencari cara agar bisa lebih dekat dengan Naruto, mengingat sistem belajar di sekolahnya yang terbilang unik dan merepotkan. Sial! Sasuke sedikit menyesali bagaimana sistem belajar di sekolah swasta itu yang tidak menetap di satu kelas.

Mungkin mencari tahu jadwal belajar Naruto di sekolah, bisa menjadi langkah awal Sasuke untuk mendekati pemuda pirang itu.

Tbc.


AN:

Apa London dibaca Landen? Maklum Author gk bisa bahasa Inggris XD *pundung

Ini sudah dilanjut dan chapter ini sudah lebih panjang –semoga menurut reader ini juga panjang dan semoga tidak membosankan.

Di sini sifat Naruto berisik dalam skala normal, tapi dia bisa sangat berisik kalau sudah bareng temennya –Kiba, atau bareng orang yang bisa buat dia nyaman.

Naruto udah suka Sasuke dari sononya –lebih tepatnya Cuma sekedar tertarik kok, sama seperti kebanyakan cowok –apalagi cowok normal –kalau liat cewek cantik dan penampilan Oke, pasti bakal langsung tertarik juga.

Naruto Gaara Cuma temenan *nangis, ini fic straight. Mungkin –kapan-kapan –buat NaruGaa kayaknya boleh ya XD Ngahaha

.

Terimakasih untuk:

Saikari Nafiel, The KidSNo OppAi, lutfisyahrizal, vali vanishing dragon lucifer, Calpa-chan, RedBlack Devil, Yoona Ramdanii, 21, rikarika, Guest, Master, Bidadari, Kitsune, Oranyellow-chan, Guest, Guest

.

Terimakasi bagi yang sudah membaca.

Saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan.

Ninndya