"Dia ke sini," kata Yoon. "Akan kuperkenalkan kau padanya."
Taeyong tidak bisa bernapas. Ia mencengkeram lengan kursinya erat-erat.
Ya Tuhan…
"Spring in London"
Jaehyun x Taeyong
Spring in London © Ilana Tan
NCT U & SM Rookies © SM Entertainment
WARN! GS, typo(s), OOC
.
.
.
Jung Jaehyun melangkah keluar dari flatnya dan menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan iPod dan memasang earphone ke telinga, lalu berjalan ke stasiun kereta bawah tanah.
Suasana hatinya saat itu sangat bertolak belakang dengan langit yang cerah. Wajar saja. Ia baru saja berbicara dengan ayahnya di telepon. Setiap kali ia selesai berbicara dengan ayahnya, dadanya selalu terasa berat.
Tadi ia menelepon orangtuanya hanya untuk mengabarkan bahwa ia sudah tiba di London dengan selamat. Orangtuanya selalu mencemaskannya, selalu khawatir apabila pekerjaannya menuntut Jaehyun pergi ke luar negeri. Sering kali Jaehyun merasa tertekan dengan kekhawatiran berlebihan terhadap dirinya itu. Karena itulah ia juga harus terus-menerus mengingatkan diri sendiri untuk memaklumi perasaan orang tuanya.
"Kau tahu benar kenapa mereka mengkhawatirkanmu, Jaehyun," kata Jaehwan dulu ketika Jaehyun pertama kali mengungkapkan perasaan tertekannya kepada kakak perempuannya.
"Aku tahu, Nuna," gerutu Jaehyun, lalu mendesah. "Aku tahu."
Jaehyun tahu benar bahwa semua kekhawatiran itu bermula dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan kakak laki-laki mereka, putra sulung keluarga Jung, ketika sedang berada di luar negeri.
"Ayah dan Ibu sudah tua," kata Jaehwan sambil menatap Jaehyun yang saat itu memandang kosong ke luar jendela. Ia mengerti apa yang dirasakan Jaehyun dan ia juga bisa merasakan perasaan tertekan adiknya itu, tetapi bagaimana pun juga Jaehyun sendiri harus mengerti perasaan orang tua mereka. "Karena Oppa sudah tidak ada, yang tersisa hanya kau. Hanya kau anak laki-laki yang bisa mereka andalkan untuk menjaga keluarga."
Saat itu Jaehyun hanya diam, tidak tahu harus berkata apa, dan kembali memandang ke luar jendela.
Kereta berhenti di stasiun Hyde Park Corner, menyentakkan Jaehyun kembali ke alam sadar. Ia menarik napas panjang. Waktunya meninggalkan masalah pribadi dan mulai bersikap profesional.
Ketika Jaehyun tiba di lokasi syuting, ia melihat para staf produksi sibuk bersiap-siap memulai proses syuting. Ia menyapa beberapa staf yang dikenalnya dan pergi mencari Kim Jongin.
"Hyung," panggilnya ketika ia melihat si sutradara sedang mengobrol dengan salah seorang kemerawan.
Kim Jongin yang baru berusia dua puluh delapan tahun terlihat seperti penampilan sutradara pada umumnya. Ia bertubuh tidak terlalu kurus, agak bungkuk karena terbiasa duduk membungkuk menatap monitor, berkacamata, bertopi, dan tidak ada ciri khusus di wajahnya yang ramah. Mendengar panggilan Jaehyun, ia menoleh dan tersenyum lebar. "Jae-ah, senang bertemu denganmu lagi," sahutnya ramah dan mengulurkan tangan. "Kau baru tiba kemarin, bukan? Kuharap kau tidak jet-lag. Kita hanya punya waktu tiga hari untuk syuting. Seharusnya itu bukan masalah besar, tapi jadwal kita akan sangat padat."
Jaehyun menjabat tangan Jongin yang terulur. "Aku baik-baik saja," kata Jaehyun. "Hyung tidak perlu khawatir."
"Bagus." Jongin mengangguk-angguk. "Ngomong-ngomong, lawan mainmu sudah datang. Kurasa dia sedang dirias. Kau bisa memperkenalkan diri nanti. Dia orang Amerika, tapi dia bisa berbahas Korea dengan lancar," katanya. "Ah, kupikir dia juga lebih tua darimu, Jae."
Jaehyun mengangguk paham. "Sebaiknya kau juga bersiap-siap. Kita akan mulai setengah jam lagi."
Jaehyun pergi menyapa beberapa staf produksi yang sudah dikenalnya. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berseru memanggilnya. Ia menoleh ke arah salah satu tenda dan melihat Yoon, penata rias selebriti yang sudah dikenalnya, bersama seorang gadis berambut hitam panjang yang belum pernah dilihatnya. Nah, gadis itu pasti lawan mainnya.
"Apa kabar, Nuna?" sapa Jaehyun menghampiri Yoon. Ia berhenti di depan Yoon dan menatap wanita bertubuh agak gempal itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, lalu menyipitkan mata. "Ada sesuatu yang berubah di sini. Hmm… Nuna lebih kurus ya?"
Yoon meringis, lalu tertawa. "Omong kosong. Aku tahu berat badanku tidak turun-turun walau pun aku sudah mencoba segala macam diet."
"Tapi Nuna tetap cantik," kata Jaehyun menyunggingkan senyumnya yang terkenal mampu membuat para penggemarnya luluh lantah. Kemudian ia mengalihkan perhatian kepada gadis yang satu lagi, yang duduk diam sambil menggenggam cangkir kertas dengan kedua tangan. Jaehyun megulurkan tangan dan berkata, "Dan kau pasti gadis yang membuatku jatuh cinta."
Gadis itu tersentak. Mendongak dan menatap langsung ke arah Jaehyun. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran Jaehyun ketika ia melihat wajah gadis itu dengan jelas adalah bahwa gadis itu mirip boneka meski tak sepenuhnya. Bukankah Kim Jongin berkata gadis ini orang Amerika? Tetapi gadis ini tidak benar-benar mirip orang Amerika. Ada sedikit darah Korea yang tercampur di sana. Mungkin matanya tidak terlalu besar seperti orang Los Angeles kebanyakan.
Dan mata itu menatap Jaehyun dengan kaget dan gugup. Dan… takut?
Taeyong mendongak dan menatap laki-laki berambut hitam dan bertubuh jangkung yang berdiri di dekatnya itu tanpa berkedip. Jung Jaehyun memang tepat seperti yang digambarkan Yoon tadi. Dan Taeyong memang merasa hampir pingsan, walau pun alasannya jauh berbeda dengan perkiraan Yoon.
Sebelum Taeyong sempat membuka mulut, Jaehyun cepat-cepat berkata. "Dalam video musik ini maksudku. Kau akan berperan menjadi gadis yang membuatku jatuh cinta dalam video musik ini." Ia berhenti sejenak, lalu bertanya ragu, "Kau yang akan menjadi lawan mainku, bukan?"
Taeyong mengerjap satu kali, seolah-olah baru tersadar dari lamunan. Perlahan-lahan ia menghembuskan napas yang ternyata ditahannya sejak tadi dan bergumam. "Ya."
Jaehyun tersenyum. "Namaku Jaehyun. Jung Jaehyun," katanya sambil menggerakkan tangannya yang masih terulur, mengundang agar Taeyong menjabatnya.
Taeyong menunduk menatap tangan Jaehyun, kemudian ia meletakkan cangkir kertasnya di atas meja dan berdiri dari kursi. Ia membungkuk sedikit sebelum menjabat tangan Jaehyun dan bergumam, "Lee Taeyong."
"Taeyong," kata Jaehyun, senyumnya melebar, "Senang berkenalan denganmu."
Tepat pada saat itu terdengar seseorang berseru memanggil Jaehyun dan mengatakan sesuatu. Jaehyun menoleh ke belakang dan balas menyerukan sesuatu yang tidak bisa ditangkap Taeyong dengan jelas karena Taeyong mendadak pikirannya kosong. Kemudian ia kembali menatap Taeyong. Matanya bersinar geli. "Itu penata riasku," jelasnya. "Dia menyuruhku segera bersiap-siap karena kita akan segera mulai syuting. Aku tidak mengerti kenapa aku harus dirias kalau wajahku tidak akan disorot sepanjang video musik ini." Ia mengangkat bahu. "Tapi sebaiknya aku menurutinya. Percayalah padaku, kau tidak mau melihat penata riasku mengamuk. Aku pernah melihatnya dan itu bukan pemandangan yang bagus."
Taeyong hanya diam membuat Jaehyun merasa agak kikuk. "Kudengar dari Jongin Hyung, kau lebih tua dariku, benarkah?"
Taeyong mengerjapkan matanya mengundang senyuman tercetak pada wajah Jaehyun. "Usiaku dua puluh empat tahun," jelasnya. Taeyong mengangguk dan memberanikan diri menatap Jaehyun.
"Ya." Senyuman Jaehyun kembali melebar. "Baiklah, aku akan memanggilmu Nuna juga. Ah ya, aku harus segera pergi. Sampai jumpa, Nuna."
Setelah melambai singkat kepada Taeyong, Jaehyun membalikkan tubuh dan bergegas menghampiri penata rias yang sudah menunggunya.
"Dia baik sekali, bukan?" kata Yoon ketika Taeyong kembali duduk dan menatap cermin.
Taeyong menarik napas dalam-dalam dan memaksa dirinya tersenyum kepada bayangan Yoon di cermin. "Ya," gumamnya, menunduk menatap jari-jarinya yang saling bertautan.
Entah berapa lama lagi Taeyong duduk di sana dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia baru tersadar dari lamunannya ketika seseorang berseru menyuruh para model berkumpul karena syuting akan segera dimulai. Taeyong mendongak dan menarik napas.
Saatnya meninggalkan masalah pribadi dan mulai bersikap profesional, pikir Taeyong dalam hati. Ini adalah pekerjaannya dan ia tahu ia bisa melakukannya. Lakukan dan selesaikan. Hanya tiga hari. Ia hanya perlu bertahan selama tiga hari. Lalu semua ini akan segera berakhir.
Hari pertama syuting sangat melelahkan karena seharian itu Jongin memutuskan untuk mengambil adegan di luar ruangan. Lokasi syuting hari itu berkisar di Hyde Park dan West End, terutama di Piccadilly Circus. Tentu saja syuting di tempat umum bukan hal yang gampang karena sisa-sisa musim dingin masih terasa dan banyak orang berlalu-lalang. Namun Kim Jongin adalah sutradara yang perfeksionis. Ia sangat memperhatikan gerak-gerik Taeyong di depan kamera, dari ekspresi wajah, posisi tubuh, langkah kaki, gerakan tangan, bahkan sampai tatapan mata.
"Cut!" Seru Jongin untuk yang kesekian kalinya.
Taeyong menegakkan tubuh dan menoleh ke arah si sutradara.
Langit sudah berubah gelap sejak berjam-jam yang lalu. Mereka pun sudah mengulangi adegan di depan toko barang antik bercat merah cerah ini sedikitnya enam kali dan tidak ada satu adegan pun yang memuaskan bagi Jongin.
"Kali ini coba kau menyeberang jalan dari sana ke sini," kata Jongin ketika ia sudah berada di samping Taeyong, "Lalu berhenti sebentar di depan toko ini, melongok ke dalam, seolah-olah kau ragu, lalu masuk. Oke? Kita coba yang ini."
Taeyong tersenyum dan mengangguk walau pun rasa lelah mulai menjalari tulangnya dan tubuhnya menggigil. Ditambah lagi kakinya terasa sakit dalam sepatu bot yang kekecilan. Tentu saja ini bukan pertama kalinya ia merasakan semua itu. Sebagai model pekerjaannya sangat menuntut waktu dan tenaganya. Ia pernah pulang ke rumah pada pukul dua pagi setelah tampil di Tokyo Fashion Week sepanjang hari dan harus keluar lagi dari rumah pada pukul empat pagi untuk acara pemotretan di Cornwall. Jadi rasa lelah sama sekali tak asing baginya, malah kadang-kadang ia merasa ia membutuhkan perasaan lelah itu.
Jongin mengangguk. "Kita akan mulai lima menit lagi," katanya, lalu bejalan ke salah seorang kamerawan di sana.
Yoon bergegas membawakan jaket untuk Taeyong. "Terima kasih," gumam Taeyong sambil mengenakan jaketnya dan menjejalkan tangannya masuk ke dalam saku.
"Duduk di sini," kata Yoon sambil mendorong Taeyong ke salah satu bangku di dekat cahaya lampu dan mulai memperbaiki riasannya.
Ketika Yoon pergi mengambil peralatannya yang lain, Taeyong memejamkan mata sejenak. Waktu istirahat yang didapatkannya hanyalah sedikit waktu di sela-sela pekerjaan seperti ini. Taeyong tidak tahu apakah ada orang yang pernah menghargai lima menit waktu luang seperti dirinya. Tiba-tiba ia mencium aroma yang enak. Matanya terbuka dan langsung dihadapkan pada secangkir teh yang mengepul.
"Capek?"
Mendengar suara rendah dan asing itu, Taeyong mengangkat wajah dan langsung bertatapan dengan mata gelap Jaehyun yang ramah. Sejak pertemuan pertama mereka pagi tadi, sepanjang hari itu mereka sama sekali belum sempat saling bicara. Mereka sama sekali belum melakukan adegan bersama dan adegan mereka masing-masing diambil secara terpisah. Dan setiap kali tidak berada di depan kamera, Jaehyun langsung kembali pada perannya sebagai asisten Kim Jongin, sibuk di belakang kamera. Taeyong tahu dari Yoon bahwa tujuan utama Jaehyun datang ke London sebenarnya memang untuk bekerja dengan Jongin dan laki-laki itu hanya setuju menjadi model di video musik ini tanpa dibayar adalah karena si penyanyi adalah teman baiknya.
Karena Taeyong tetap bergeming, Jaehyun meraih tangan Taeyong, ingin membuatnya menerima cangkir kertas yang disodorkan. Tetapi Taeyong langsung tersentak dan secepat kilat menarik kembali tangannya. Jaehyun mengerjap dan menatap Taeyong dengan alis terangkat heran. Walau pun udara terasa dingin, Taeyong merasa pipinya memanas. Selama beberapa detik tidak ada yang bergerak. Lalu Jaehyun menghela napas dan menempelkan cangkir kertas yang hangat itu ke tangan Taeyong. "Ini. Minumlah. Kau akan merasa lebih baik, Nuna," katanya ringan.
Taeyong menggenggam cangkir kertas yang disodorkan itu dengan kedua tangan. Ia mendesah pelan ketika merasakan kehangatan menjalari ujung jari dan tangannya. Sedikit ketengangan pun menguap dari pundaknya.
"Jongin Hyung memang agak keras, tapi dia selalu berhasil mendapat gambar yang bagus," kata Jaehyun sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Kau akan lihat nanti."
Taeyong menatapnya sejenak, lalu mengangguk singkat.
Tepat pada saat itu terdengar suara Jongin yang menyatakan syuting akan dimulai lagi.
Jaehyun menoleh ke arah si sutradara, lalu kembali menatap Taeyong. "Bertahanlah sebentar lagi, Nuna," katanya sambil mengulas senyum sebelum berbalik dan meninggalkan Taeyong.
Taeyong menatap punggung Jaehyun yang menjauh sejenak, lalu menunduk menatap cangkir teh yang masih penuh dan bergetar dalam genggamannya. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya, dan meletakkan cangkir itu ke tanah.
To Be Continued...
Note (1) : Huwaaaa mamah Kalian tau gak video hot baru-baru ini QaQ
Itu, si Taeyong yang megang anunya Jaehyun QaQ
Tau gak tau gak? Aza mimisan /gak/
Tapi itu megangnya gak sengaja sih /mungkin/ soalnya itu si Taeyong kan entah kenapa tiba-tiba ngejahilin Jaehyun dan menjegal/? Jaehyun dan Boom terjadilah adegan itu /gak/
Udah, lupain itu lupain itu lupain /hapus memori/
Note (2) : Huwaaaa Maafkan aku karena telap update QaQ Tau gak kenapa? Laptop dibawa kesana kemari sama kakak dan aku gak dikasi kesempatan megangnya huweee /nangis bombay/
Tapi pada akhirnya aku pegang lagi dan update lagi :3
Note (3) : Time to balas review /lah/
Sekar310 : Haloo, salam kenal juga^^ Mari, kapal Jaeyong terbuka lebar buat yang mau masuk kekeke~
Ya sebenernya aku udah sering banget liat Taeyong dalam mode cewek, apalagi foto-foto dari mbak-mbak fansite, dia emang tampa canik^^ Kalau kamu susah kamu bacanya Taeyong versi cowok aja /plak/ Makasih udah review^^
Shim Yeonhae : Begitulah suamiku yang satu ini, maklumi aja yah /ditabok/ Makasih juga udah review^^
Eraaa : Kyaaaa~ Makasih banget kamu udah teliti bacanya, maaf juga kalau kamu bingun waktu baca /nyengir/
Awalnya sih, aku mau bikin cast di FF ini itu dengan pair Cheolsoo dari Seventeen, but pas aku baca lagi ternyata si Jaeyong lebih cocok hehe :D Makasih udah review~
Jaeeyong : Aduh, sorry ya gak bisa fast update seperti yang kamu minta QaQ Aku juga dalam mode UKK yang sempet frustasi gara-gara berlembar-lembar soal fisikaa /lah/ Thanks udah review^^
Winwey : Haloo juga^^ Mari lestarikan anak cucu Jaeyong yang masih jarang adanya disini^^ Makasih ya udah nyempetin buat review^^
Hanazona : Bergabunglah wahai anak ke-…0 Jaeyong XD Iya, itu sama aja kaya aku yang ngegapai seseorang tapi gak di notice-cotice /lah/ XD Siap, makasih udah review^^
Saaa : Makasih udah review^^
EunhyukJinyoung02 : Taeyong benci sama Jae soalnya Jae udah bikin aku berpaling ari Taeyong /gak/ xD Oke, makasih udah review^^
Ayahana73 : Jalan cerita tetep sama? Aduh, aku usahain sih ya, aku coba dulu tapi kalau gak bisa aku minta maaf QaQ Tapi kalau misalkan aku update yang versi Summer itu pasti bakal beda banget /evillaugh/ Makasih udah review^^
Note (4) : Terimakasih kalian yang udah review /ketjup
Yang udah favorit, follow juga makasih ya /ketjup lagi
Eh, btw aku akhir-akhir ini galau, soalnya review di ffn gak bisa dibuka dan cuma bisa dibaca lewat email :"
Okey sekian dari Aza dan sampai jumpa di chapter depan~
Review? /ppyeong~
