Tittle: The Pass chapter 2
Cast: Cho Kyuhyun, Lee Donghae as Cho Donghae, Park Jungsoo and other
Genre: brotheship, family, sad (maybe)
.
.
Warning: OOC, typos, author masih baru, cerita pasaran, alur membingungkan, membosankan dan kekurangan lainnya.
.
.
This story is mine
All cast milik tuhan dan diri mereka sendiri
.
.
Happy reading^_^
.
.
6 Juli 2004
"Um-ma,ap-pa?" Namja kecil berusia 6 tahun itu berkata lirih dibalik masker oksigen yang menutupi mulut serta hidungnya. Tubuh kurus namja kecil itu sedang terbaring lemah di sebuah ranjang rumah sakit yang sedang didorong dengan tergesa menuju ruang ICU.
"Kyuhyunie bertahan ne! Jangan menyerah ara?" Bisik tuan Cho yang sedang menggenggam tangan dingin milik namja kecil yang adalah Kyuhyun itu, membisikkan kata-kata penyemangat untuk putranya yang sedang bergelut dengan rasa sakitnya.
"Hiks... sak-it um-ma hiks.., sakit se-kali..." adu Kyuhyun kecil dengan polosnya saat ia merasa tak sanggup lagi menahan rasa sakit. Air mata membasahi wajah yang pucat pasi itu, ia benar-benar sudah pada ambang toleransi sakitnya.
Seluruh tubuhnya terasa nyeri seperti habis dipukuli, nafasnya terasa berat dan pendek, kepalanya tak henti berdenyut membuatnya pusing, juga perutnya terasa mual dan penuh membuatnya semakin tersiksa.
"Kyuhyunie..." nyonya Cho hanya bisa menggumamkan nama putranya. Ia tak tahu harus berkata apa, ia cemas luar biasa. Ia ikut menggenggam tangan Kyuhyun yang satunya, mencoba mengalirkan kekuatan melalui genggaman tangan itu.
"Ughh.. um-ma.. hikss" Kyuhyun memejamkan matanya erat, nafasnya terputus-putus. Ia meremas tangan ummanya dengan kuat saat rasa sakit itu semakin kuat bermunculan, keringat dingin yang membasahi tubuhnya membuat ia menggigil kedinginan karena hanya selimut tipis yang melindunginya dari udara dingin rumah sakit.
Nyonya Cho tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya membalas genggaman putranya dengan erat, ia terisak keras melihat putranya merintih kesakitan.
"Maaf tuan, nyonya. Anda harus menunggu diluar!" Salah seorang suster menahan tuan dan nyonya Cho yang hendak ikut masuk ke dalam ruang ICU.
"Tapi Kyunie..." tahan nyonya Cho.
"Nyonya, putra anda akan baik-baik saja. Jika anda seperti ini, kami akan terlambat menanganinya dan ini akan memperparah kondisinya" kali ini salah seorang dokter mencoba menjelaskan.
Nyonya Cho terhenyak. Benar apa yang dikatakan dokter itu. Mereka tidak boleh egois, hanya karena ingin selalu berada didekat putranya, mereka menghambat kinerja dokter menangani putranya. Kondisi Kyuhyunlah yang harus diutamakan.
Tuan dan nyonya Cho mengalihkan pandangnya pada Kyuhyun"Kyunie harus baik-baik saja ne" tuan Cho mencoba melepas tautan tangan mereka. Namun apa yang terjadi, Kyuhyun malah mengeratkan tautan tangan itu. Mata sayu Kyuhyun memandang memohon pada appa dan ummanya.
Kyuhyun menggeleng lemah "A-nihh...hhh.. ta..hiks...kuthh... um-mah..hah... ap-pahh..." dengan nafas tak beraturan Kyuhyun memaksakan diri untuk bicara. Ia tak mau berpisah dengan umma dan appanya. Ia takut berada di ruangan yang sebenarnya sudah sering ia sambangi, karena sebelumnya ada Changmin disana. Sedang sekarang?
"Adik, lepaskan tangan appa dan ummamu ne, ahjusi harus segera mengobatimu..." salah satu dokter mencoba membujuk Kyuhyun.
Namun Kyuhyun menggeleng, tetap pada pendiriannya "Um-ma... ani...nghh...hah...ta...kut..." ucap Kyuhyun semakin melemah. Ia merasa jantungnya mulai berdenyut lemah, tenaganya hilang entah kemana. Genggaman pada tangan appa dan ummanya merenggang. Ia merasa tak ada oksigen lagi untuk dihirupnya, bahkan masker oksigen yang sedari tadi membantu pernafasannya terasa sama sekali tak membantu. Tubuhnya mengejang sedemikian rupa membuat siapa saja yang ada disana panik.
"KYUHYUNIE...!" Masih dapat ia dengar suara ummanya menjeritkan namanya keras, sarat akan kekhawatiran. Pandangannya mulai mengabur dan kini hanya ada gelap dalam pandangnya.
.
.
.
Suasana bahagia menyelimuti sebuah sekolah dasar di Korea itu. Bagaimana tidak, semua siswa kelas 6 dinyatakan lulus tahun ini.
Dan saat ini mereka tengah mengadakan pesta perpisahan. Hal ini sudah menjadi semacam tradisi dimana para orang tua hadir dan memberikan semacam penghargaan atas kelulusan putra-putrinya.
Terlihat disana-sini anak-anak kelas 6 yang sedang tertawa bahagia bersama orang tuanya masing-masing. Dihibur dengan penampilan apik dari adik kelas mereka.
"Umma dan appa kemana..." suara pelan berbalut nada sedih terucap dari salah satu anak disana. Kepalanya tertunduk, ia termenung disudut ruangan. Oh, nampaknya tidak kesemuanya yang merasakan suasana bahagia itu.
"Ini hari pentingku. Kenapa kalian tidak datang..." ucapnya lagi. Wajah anak itu muram. Padahal orang tuanya sudah berjanji akan datang ke acara pesta perpisahan ini. Tapi apa, bahkan hingga acara hampir berakhir orang tuanya belum datang juga.
"HAE!" Panggil seseorang keras, membuat anak itu, Donghae mengangkat kepalanya yang sedari tadi terus menunduk, menatap orang yang baru saja memanggilnya. Berharap itu adalah appanya yang datang untuk meminta maaf karena keterlambatanya.
"Hyuk..." ah, ternyata Eunhyuk yang memanggilnya.
"Kau kenapa murung? Dimana Cho ahjusi dan Cho ahjuma?" Pertanyaan Eunhyuk nampaknya semakin mempersuram wajah Donghae.
"Mereka tidak datang..."
"Ah, mereka pasti akan datang. Tunggulah sebentar lagi" Eunhyuk mencoba menghibur.
"Tapi ini sudah hampir akhir acara Hyuk..."
"Ah, begitu. Eum, Hae... Ada sesuatu yang harus aku katakan..."
'Greb'
"Hy-hyuk..." Donghae tersentak saat tiba-tiba Eunhyuk memeluknya.
"Hae, apapun yang terjadi, jangan pernah lupakan aku"
"A-apa maksudmu Hyuk?"
"Aku...aku harus pindah ke Jepang. Appa ada pekerjaan yang mengharuskannya menetap di Jepang. Hiks...Hae... Hari ini kami akan berangkat hiks..." Eunhyuk yang memang cengeng tak bisa lagi menahan tangisnya dan langsung menerjang memeluk sahabatnya. Mengingat sebentar lagi ia akan berpisah dalam waktu yang lama dengan sahabat baiknya ini.
"Hyuk kenapa mendadak sekali...kenapa..." ujar Donghae tak percaya. Ia fikir ia dan Eunhyuk akan tetap bersama-sama, melanjutkan sekolah ditempat yang sama.
"Hiks...aku juga baru tahu. Appa dan umma sama sekali tidak memberitahuku..."
"Hyukie, tidak apa-apa, bukankah kita masih bisa saling berkomunikasi. Kau ini cengeng sekali" Donghae tersenyum, ia tak merasakan air mata mengalir dari matanya. Tentu saja, siapa yang tidak akan sedih jika akan berpisah dengan sahabat baiknya.
"Heh...kau juga sama cengengnya tahu. Kau saja yang tidak sadar sudah menangis, dasar..." ejek Eunhyuk balik.
Donghae meraba pipinya. Benar, basah. "Ah, aku tidak sadar kalau aku juga menangis haha. Hyukie kau tenang saja, apapun yang terjadi, kau akan tetap menjadi sahabatku yang terbaik. Ok?"
"Promise?" Eunhyuk menyodorkan jari kelingkingnya.
Donghae tersenyum. Ia kemudian mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Eunhyuk "Promise"
.
.
.
"Astaga yeobbo! Bagaimana dengan Donghae?" Pekik nyonya Cho tertahan saat mengingat janji untuk menghadiri pesta perpisahan sekolah Donghae. Keadaan Kyuhyun tadi benar-benar membuat mereka kalut hingga melupakan apapun selain Kyuhyun.
"Astaga! Akupun lupa!" Tuan Cho melihat jam tangan yang dikenakannya. Pukul 11.55. Sedang acara itu selesai pukul 12.00. Astaga, ini sudah benar-benar terlambat.
"Yeobbo, kau jemputlah Donghae. Aku akan menemani Kyunie disini" meski Kyuhyun belum diperbolehkan keluar dari ruang ICU, namun keadaannya jauh lebih baik dari pada tadi, ia sudah melewati masa kritisnya. Ia juga sudah sadar dan bisa berinteraksi meskipun hanya sekedar gerakan ringan.
"Baiklah, kau disini baik-baik ne!" Tuan Cho bergegas menuju parkiran mobil.
.
.
.
"Hae-ya!" Tuan Cho memanggil putranya yang sedang bersandar pada gerbang sekolahnya.
"Hae..." panggil tuan Cho lagi. Namun sayang, putranya itu sama sekali tak menjawab, bahkan pandangnya sama sekali tak teralihkan dari tanah yang dipijaknya. Menghindari kontak mata dengan sang appa.
"Hae..." tuan Cho mengelus pipi Donghae yang terasa agak basah "Kau marah pada appa eum?"
Donghae masih menunduk, enggan menjawab. Jujur saja ia kecewa.
"Hae-ya, maafkan appa dan umma ne?" Tuan Cho mencoba memeluk tubuh Donghae namun Donghae memundurkan langkahnya.
Melihat penolakan dari Donghae tuan Cho kembali berujar "Sungguh Hae-ya, appa dan umma benar-benar minta maaf padamu... Maafkan appa dan umma ne, jebal..."
"Kalian tidak datang..." akhirnya Donghae bersuara dengan nada kecewa. Kepalanya senantiasa menunduk.
"Maaf, maafkan appa. Dongsaengmu masuk rumah sakit lagi Hae-ya, appa dan umma sungguh tidak bisa meninggalkannya, tadi bahkan ia sempat kritis"
Donghae mendongakkan kepalanya mendengar pernyataan appanya, matanya membelalak "Mwo? Kyuhyunie kritis appa? Kyuhyunie..." Ujarnya dengan nada panik.
"Hiks...Kyuhyunie..." Donghae mulai menitikkan air mata. Ia merasa bersalah pada dongsaengnya. Saat Kyuhyun sangat membutuhkan orang tuanya, ia malah kecewa karena orang tuanya tak hadir. Harusnya ia tahu, orang tuanya tak hadir pasti karena alasan tertentu. Kyuhyunie...maafkan hyung.
"Hae-ya..." melihat putranya menangis tersedu-sedu segera saja tuan Cho membawa Donghae ke dalam pelukannya, dan kali ini Donghae tak menolak. "Uljima... Kyunie sudah baik-baik saja..." tuan Cho mengelus punggung Donghae yang bergetar "Kajja kita temui dongsaengmu. Dia pasti sudah mencari-cari hyungnya yang tampan ini"
Donghae menganggukan kepalanya, ia menghapus sisa air mata dipipinya kemudian menatap sang appa "Aku tak marah appa, aku hanya sedikit kecewa. Tapi kalau itu alasannya, sungguh aku tak apa" Donghae menyungging senyum tipis.
Tuan Cho membalas dengan senyuman penuh haru. Sungguh ia tahu benar bagaimana sayangnya seorang Donghae kepada Kyuhyun.
.
.
.
Donghae menasuki ruang ICU khusus anak itu. Tuan Cho sendiri sepertinya sedang menerima telfon penting di luar, ruang ICU memang harus steril dari benda-benda elektronik karena pancaran entah itu gelombang maupun sinyal akan mengganggu kinerja peralatan medis. Ruangan luas itu tak hanya dihuni oleh satu dua anak melainkan hampir belasan anak dengan kondisi yang rata-rata sudah tak sadarkan diri menunggu sang pencipta menjemput ajal.
Donghae menatap kasihan anak-anak seusia dongsaengnya yang terbaring tak berdaya di ranjang sempit yang berjajar rapi dengan segala peralatan medis yang menopang kehidupan mereka.
Dan sampailah ia diranjang yang ditempati dongsaengnya. Eommanya juga berada disana sedang mengajak Kyuhyun bicara meski hanya ditanggapi oleh anggukan dan gelengan.
Rasa senang memercik dihati Donghae saat melihat Kyuhyun telah membuka matanya, setidaknya dongsaengnya tidak dalam keadaan tidak sadarkan diri. Meski begitu tak pelak rasa sedih mengalahkan rasa itu sendiri. Tuhan, kenapa lagi-lagi Kyuhyun. Ia tak tega, benar-benar tak tega.
Melihat dongsaengnya bernafas harus dibantu oleh selang oksigen, itupun sepertinya sama sekali tak membantu karena Donghae melihat dongsaengnya itu bernafas dengan susah payah. Memang, selain menderita penyakit mematikan itu, sejak lahir Kyuhyun juga menderita gangguan pernafasan, membuat nafasnya sering sesak jika lelah sedikit saja. Lebih lagi jika ia dalam keadaan sakit. Selang infus yang tak hanya satu menusuk tangan kecil Kyuhyun. Alat pacu detak jantung tertempel sempurna didada dongsaengnya menandakan ritme detak jantung yang tak beraturan sehingga harus dibantu alat itu agar berdetak teratur.
"Hae..." nyonya Cho yang melihat Donghae langsung bangkit dan segera memeluk Donghae "Hae...maaf, maafkan umma... Maafkan umma dan appa karena tidak bisa hadir, kau pasti sangat kecewa ne?"
Donghae menggeleng melepas pelukan ummanya "Ani, tidak apa"
Nyonya Cho menatap Donghae menyelidik "Sungguh umma, gwenchana, aku mengerti..."
"Yeobbo, Hae, ayo keluar sebentar!" Tuan Cho yang baru masuk menginterupsi percakapan ibu dan anak ini.
Donghae dan nyonya Cho saling berpandangan bingung "Ada apa yeobbo?"
"Ada hal yang harus aku bicarakan. Kajja!" Tuan Cho menarik istri dan putranya keluar ruangan. Meninggalkan Kyuhyun yang sebenarnya ingin menahan mereka namun ia terlalu lemas untuk bersuara.
"Yeobbo kau harus ikut aku ke Taiwan hari ini juga!" Ujar tuan Cho saat mereka bertiga sudah berada di luar ruangan.
"Mwo? Untuk apa, biasanya kau pergi sendiri?" Heran nyonya Cho.
"Ada hal penting yang harus diselesaikan, dan kau harus ikut!"
"Appa, lalu siapa yang menjaga Kyunie, aku tidak bisa sendiri!" Donghae sadar bagaimanapun ia masih anak berusia 11 tahun yang akan kebingungan jika terjadi sesuatu dengan dongsaengnya.
"Donghae benar yeobbo! Bagaimanapun Donghae belum bisa menjaga Kyunie sendirian"
"Kalian tenang saja. Hae-ya, appa sudah mengutus sekertaris appa untuk menemanimu menjaga Kyuhyunie, sebentar lagi ia pasti datang. Appa dan umma tidak akan lama berada disana, jaga Kyuhyunie arra?"
"Kau serius dengan ini yeobbo?"
"Aku serius, kajja kita pergi!"
"Donghae-ya, kau jaga diri baik-baik ne! Jaga dongsaengmu juga" pesan nyonya Cho. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti apa kata suaminya.
Tuan Cho bersama istrinya pun beranjak pergi.
Donghae termenung, perasaan lain menelusup dihatinya, perasaan enggan membiarkaan orang tuanya pergi. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
"UMMA! APPA!" Dengan langkah kaki yang cepat Donghae mengejar appa dan ummanya yang sudah jauh didepan menuju parkiran mobil. Mengabaikan tatapan tajam dari semua orang. Maklum saja, ini rumah sakit, bersuara keras saja tidak boleh apalagi berteriak.
Ia mengejar hingga keparkiran namun sayang...
"UMMA! APPA!" Mobil yang ditumpangi appa dan ummanya sudah pergi.
Ia berjalan gontai kembali menuju ruangan tempat Kyuhyun berada. Sebisa mungkin ia mengabaikan perasaan tidak tenang dalam benaknya. Semoga ini bukan pertanda apapun.
.
.
.
"Kyuhyunie!" saat memasuki ruangan, Donghae melihat beberapa dokter sedang mengelilingi ranjang dongsaengnya. Dengan cepat ia mendekat ke arah ranjang itu, menerobos beberapa dokter untuk menggapai Kyuhyun.
"Hyuhh...ngiehhh..." panggil Kyuhyun pelan, sangat pelan hingga tak ada satupun yang mendengar.
"Dokter, ada apa dengan Kyuhyun? Ada apa dengan dongsaengku?" Tanya Donghae kepada salah satu dokter disana.
"Tenanglah nak, kami sedang berusaha menangani dongsaengmu" dokter itu mengganti selang oksigen dengan masker setelah melihat Kyuhyun kembali pada sesaknya.
Tangan lemah Kyuhyun, perlahan terulur, hendak menggapai tangan hyungnya. Donghae yang melihat itu segera menggapai tangan itu kemudian menggenggamnya.
"Apa yang kau rasakan Kyunie.." Donghae melihat air mata mulai mengalir dari mata sayu Kyuhyun. Tuhan...dongsaengnya kali ini pasti sungguh sangat kesakitan.
"Sa-kit...se-sak...ughh.. Peluk...hiks...hhh...hyung.. pe-luk.." Kyuhyun berkata pelan, namun kali ini orang lain dapat mendengarnya.
"Dokter..." Donghae meminta pendapat dokter atas permintaan Kyuhyun.
"Tidak bisa, akan sangat riskan jika kau memeluknya" tolak dokter itu mentah-mentah.
Dokter lain disana mengeluarkan sebuah suntikan, mengisinya dengan cairan neumorphan, sejenis obat penahan sakit dosis tinggi.
Kyuhyun menggeleng pelan, bibirnya tetap bergumam 'peluk'. Kyuhyun begitu kesakitan, ia ingin hyungnya memeluknya, hanya itu, ia tidak ingin yang lain. "Baiklah, setelah aku memberinya obat ini" melihat reaksi keras dari Kyuhyun, dokter disana membiarkan Donghae untuk memeluk Kyuhyun.
Dokter itu menyuntikkan cairan tadi ke lengan Kyuhyun. Para dokter itu meningalkan ruangan setelah melihat kondisi Kyuhyun mulai tenang.
Dengan perlahan Donghae mendudukkan tubuh Kyuhyun, kemudian ia mendudukan diri dibelakang Kyuhyun yang sedang dalam posisi setengah duduk. Ia sangat berhati-hati agar selang-selang yang membantu kinerja tubuh dongsaengnya sama sekali tak bergeser ataupun tertarik.
Setelah ia berhasil duduk dengan nyaman, segera saja disandarkannya tubuh dongsaengnya ke pelukannya. Tangannya perlahan memeluk dada Kyuhyun, dapat ia rasakan langsung tangannya bersentuhan dengan kabel-kabel disana menghantarkan getaran listrik dalam frekuensi rendah. Baju pasien bagian depan Kyuhyun memang tidak dikancingkan, hal ini untuk memudahkan pemasangan kabel-kabel tadi.
Kyuhyun yang bersandar penuh pada Donghae pelukan hyungnya terasa lebih nyaman dibandingkan kasur rumah sakit yang keras hingga ia tak dapat tidur "A...kuhh.. hah...i...ngin... hah...hhh...ti..dur... hh...hyu-ngiehh..." dengan nyaman Kyuhyun memejamkan matanya, mencoba tertidur. Ia lelah, sangat lelah. Seluruh tubuhnya terasa sakit karena kabel juga selang-selang yang menghiasi tubuhnya, bergerak sedikit saja rasanya sakit bukan main. Ia mencoba tertidur meski nafasnya masih terasa sesak.
"Tidurlah Kyunie...hyung tahu kau sangat lelah..." Donghae mengecupi puncak kepala dongsaengnya, dari jarak sedekat ini dapat ia dengar deru nafas dongsaengnya yang berat dalam tidurnya. Dengan pelan ia mengusap-ngusap dada Kyuhyun, berharap sedikit dapat membantu memperlancar jalan nafas dongsaengnya.
"Eoh, ahjusi siapa?" Tanya Donghae heran saat melihat namja seusia appanya berdiri disamping ranjang dongsaengnya.
"Anyeong. Saya sekertaris tuan Cho, tuan. Panggil saja pak Jang" jawab namja itu dengan tenang.
"Ah, ne ahjusi. Ada apa?"
"Saya kemari hanya untuk memberitahu nomor ponsel saya tuan. Jika sewaktu-waktu anda membutuhkan saya, anda bisa menghubungi saya. Anda punya ponsel bukan? Saya masih ada pekerjaan" pak Jang menyerahkan sebuah note bertuliskan nomor ponselnya.
"Terimakasih ahjusi"
"Baik, kalau begitu saya pergi dulu" namja itu membungkukkan badan kemudian keluar ruangan.
.
.
.
Menit-menit yang membosankan. Saat ini hanya dia yang masih terjaga, Kyuhyun sudah benar-benar jatuh kedalam tidur lelapnya. Ruangan yang begitu senyap membuat Donghae sedikit merinding. Dialihkan pandangnya mencoba mencari sesuatu yang bisa mengusir kebosanannya, televisi mungkin. Tidak ada, tentu saja, mana ada televisi diruang ICU. "Aishh... bosan sekali" rutuknya pelan.
Matanya tak sengaja menangkap bayangan pasien lain tepat disamping ranjang dongaaengnya. "Ishh..." Donghae bergidik ngeri melihat kondisi namja kecil itu lebih parah dari Kyuhyun. Alat medis yang menempel ditubuhnya hampir saja menutupi seluruh tubuhnya saking banyaknya. Namja kecil itu bahkan terlihat hampir tak bernafas dalam ketidaksadarannya. Donghae benar-benar berharap Kyuhyun tak akan pernah mengalami kondisi yang sama dengan pasien itu.
.
.
.
7 Juli 2004
Air mata Donghae mengalir dengan deras, jadi perasaan buruk yang berseliweran di kepalanya kemarin, ini adalah puncaknya. Setelah kemarin Kyuhyun dengan sakitnya yang kambuh dan sekarang, pagi ini, pak Jang, sekertaris appanya mengatakan bahwa appa dan ummanya meninggal karena kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi saat hendak kembali ke Korea tadi malam. Pesawat KU airlines itu mengalami kerusakan mesin sehingga terbakar diudara, mengakibatkan seluruh body pesawat juga seluruh penumpang hangus terbakar didalamnya kemudian jatuh diperairan laut Cina selatan. Pemerintah dengan tanggap langsung menurunkan tim pencarian.
"Umma...appa..." ratapnya sedih. Saat ini ia sedang berjongkok di salah satu koridor rumah sakit, tepat dimana sekertaris appanya itu memberitahukannya berita mengejutkan ini.
Donghae menangis dan terus menangis. Tak dihiraukannya tatapan kasihan dari orang-orang yang berlalu lalang, mengira ia baru saja kehilangan salah satu anggota keluarganya dirumah sakit ini. Meski benar kenyataanya ia baru saja kehilangan orang-orang yang amat disayanginya. Pak Jang masih setia berada disampingnya, mengelus-ngelus punggungnya, mencoba menenangkan putra dari atasannya ini.
Hanya ada satu hal yang ada dibenak Donghae, bagaimana cara memberitahu Kyuhyun tentang ini.
.
.
.
"Kau pergi dengan cepat Hanna-ya. Jika kau dan suamimu pergi, siapa? Siapa yang akan menjaga putra kita?" Seorang namja berumur sekitar 30-an menatap televisi yang sedang marak memberitakan pasal jatuhnya pesawat KU airlines yang salah satu penumpangnya adalah pasangan Cho. Cho Younghwan memang cukup dikenal dikalangan masyarakat Korea sebagai orang yang berjasa dalam pengembangan pendidikan baik di Korea maupun di luar negeri. Karena itu kematiannya bersama sang istri dalam kecelakaan pesawat itu menjadi berita dimana-mana.
.
.
.
12 Januari 2015
Seorang namja berpakaian putih ala dokter menepuk namja lain yang berpakaian sama sepertinya. Namja lain yang fokusnya masih tak beranjak dari sesosok namja yang terbaring lemah di ruang ICU melalui sebuah kaca.
Namja itu tersentak kaget "Kau ini...membuatku kaget saja!"
"Benarkah, aku tidak akan minta maaf, aku tidak sengaja melakukannya. Dan jangan protes!"
"Kau ini Heechul-ah, sifatmu benar-benar menyebalkan!" Namja itu hanya bisa bersabar menghadapi sifat unik sahabatnya, Heechul.
"Kau masih ada pasien?" Tanya Heechul pada sahabatnya.
"Ani"
"Kalau begitu istirahatlah! Kau tahu, kau akan dianggap tidak waras karena berdiri berjam-jam disini" meski terkesan galak, Heechul sebenarnya adalah orang yang perhatian.
"Aku hanya ingin memandangi dongsaengku..."
"Kau lupa kalau dongsaengmu tak hanya dia, perhatikanlah dia juga, dia juga sakit Jungsoo..."
Namja itu, Jungsoo menggeleng "Sudahlah, aku tak mau membahasnya, ayo pergi, aku lapar sekali"
"Ck...Kau selalu mengelak ya!"
"Terserah kau saja, aku sudah benar-benar lapar!"
'Aku bukan menghindar Heechul-ah, aku hanya belum bisa menerima kenyataan'
.
.
.
TBC
Note: Terima kasih buat semuanya yang bersedia memberikan review. Hayo siapa yang jawab itu Jungsoo di chap kemarin. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin ne! Chap depan mungkin akan sedikit lama, saudara saya banyak chingu jadi silaturahminya lama hehehe(alasan).
Review dari chingu semua saya tunggu, karena tanpa review ff ini gak akan jalan chingu. Ok, see you bye bye!
