.
.
.
###
THE CURSED ONE
Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun
Support Casts : Kris Wu
Genre : Supernatural, Tragedy
Rate : T
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
###
.
.
.
Telah bergeming tatapan tajam dua pria tinggi yang berdiri saling berhadapan dalam ruang tamu di vila tua itu. Saling menusuk, sama-sama mencerminkan kekeraskepalaan yang sudah mendarah daging. Pun tak ada perkataan, hanya deru napas yang tak begitu teratur karena jantung yang berdegup terlalu cepat. Hawa dingin nan mencekam yang dihasilkan guntur dan bulir langit di luar sana hanya memperburuk atmosfer dalam ruangan itu, membuat yang paling pendek—yang di berdiri di belakang pria tinggi bersurai ebony— menggigit bibir bawahnya.
"Aku tak'kan mengulangi ucapanku lagi. Cepat minggir." Kris—si jangkung bersurai blonde—memecahkan heningan itu dengan kalimat sirat akan ancaman. Namun yang diancam—Chanyeol—urung menurut. Alih-alih, ia justru mengeratkan genggaman tangannya pada pria mungil yang berlindung di balik punggungnya. Dan itu semakin membuat Kris dongkol.
"Sampai kapan kau akan melindunginya, hah?" Kris mendesis. Tanpa sadar, rahangnya mengeras tatkala amarahnya terpacu. Genggamannya pada pistol Glock 19 yang sedari tadi dibawanya, pun mengerat. "Perlukah kuingatkan bahwa pria itulah yang telah membuat Ayah kita meninggal?!"
"Baekhyun tak ada sangkut pautnya dengan kematian Ayah kita, Hyung."
"BERHENTI MEMBUATKU KESAL, PARK CHANYEOL!" Emosi Kris meledak. "SUDAH KUBILANG BERAPA KALI PADAMU, PRIA BYUN INI HANYALAH PEMBAWA SIAL KELUARGA KITA! DIA YANG MEMBUAT AYAH KITA MENINGGAL! DIA ADALAH YANG TERKUTUK, KAU TAHU ITU?!"
Kemudian hening.
Di saat Kris berusaha menstabilkan kembali emosinya, nyatanya Chanyeol masih pada posisinya. Ia tahu benar bahwa Hyung kandungnya itu merasa kesal karena ia sama sekali tak mengindahkan peringatannya sebulan yang lalu, tepatnya saat keluarga Park mengangkat Baekhyun sebagai pembantu di mansion Park. Entah bagaimana, banyak kejadian aneh terjadi pasca kehadiran Baekhyun disana. Dimulai dari ladang gandum mereka yang gagal panen, batalnya perjanjian bisnis Park Corp. dengan beberapa klien penting, sampai keadaan dimana Tuan Park yang meninggal karena sakit keras.
Itu semua mengantarkan Kris pada sebuah asumsi yang mengatakan bahwa Baekhyun adalah yang terkutuk. Buku sejarah keluarga Park yang Kris temukan di perpustakaan mansion Park, yang menjadi dasar atas asumsi tersebut. Tertulis disana bahwa keluarga Park pernah menghukum mati seorang wanita yang diduga sebagai penyihir. Namun sebelum dibakar hidup-hidup, wanita itu sempat mengatakan bahwa akan datang yang terkutuk saat keturunan terakhir keluarga Park menginjak umur tujuh belas tahun. Saat itu tiba, kesohoran akan menghilang, dan keluarga Park akan mencapai kesengsaraannya.
Entah candaan atau takdir, itu semua justru sesuai dengan kenyataan yang ada saat ini. Kekayaan keluarga Park terkuras perlahan-lahan, tepat saat Baekhyun muncul di hari ulang tahun Chanyeol yang ketujuh belas. Namun berbeda dengan orang-orang yang percaya pada asumsi Kris, Chanyeol justru bersikeras menentang Hyung kandungnya itu. Ia pikir Baekhyun tak ada sangkut pautnya dengan semua hal buruk yang menimpa keluarganya, termasuk kematian Ayah-nya. Ini semua hanyalah kesalahpahaman. Itu sebabnya pria tinggi bersurai ebony itu membawa kabur Baekhyun ke vila tua keluarga Park di desa.
Namun ia tak menyangka Kris akan menemukan mereka seminggu kemudian.
"Baekhyun tidak bersalah, Hyung." ucap Chanyeol lugas. "Dia bukan yang terkutuk. Aku yakin itu."
Cukup sudah!—batin Kris. Ia muak melawan kekeraskepalaan adiknya sendiri.
"Persetan dengan keyakinanmu."
Kris mengarahkan pistolnya ke arah Baekhyun, lalu menembaknya tanpa ragu. Beruntung tembakan itu tak mengenai si mungil karena Chanyeol bergerak sedetik lebih cepat. Dalam beberapa kesempatan, pria bersurai ebony itu menarik tangan yang bersurai nut-brown untuk berlari agar terhindar dari tembakan yang bersurai blonde. Tak satupun dari mereka mengindahkan pecahnya beberapa barang antik berharga jutaan won dalam vila itu. Kris berfokus untuk menembak Baekhyun, sementara Chanyeol berfokus untuk melindungi Baekhyun.
BLAM!
"KELUAR DARI SANA, BRENGSEK!" Kris berteriak marah saat Chanyeol dan Baekhyun berhasil masuk ke dalam sebuah ruangan di lantai dua, lalu menguncinya dari dalam. Pria bersurai blonde itu berusaha mendobrak pintu tersebut dengan membenturkan tubuhnya. Sementara di dalam ruangan itu, Chanyeol tengah memutar otaknya dengan cepat.
"Kau harus pergi dari sini." ucap Chanyeol pada Baekhyun. Ia sudah menemukan ide untuk melindungi Baekhyun. Itu tertuju pada jendela dalam ruangan.
"Bagaimana denganmu?" tanya Baekhyun, antara bingung dan cemas.
"Aku akan baik-baik saja. Pergilah."
Mendengar perintah itu, Baekhyun justru kesal dibuatnya. "Kau menyuruhku kabur sendirian? Aku tidak mau!"
"Tidak ada waktu, Baek." Chanyeol sesekali melirik pintu ruangan dengan raut cemas. "Kau harus segera pergi sebelum Kris berhasil mendobrak pintu itu."
"Aku tidak akan meninggalkanmu disini, Chanyeol!" Baekhyun bersikukuh. "Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu? Kris memegang sebuah pistol, kau ingat?"
"Aku akan baik-baik saja, Baekhyun." Chanyeol berusaha meyakinkan Baekhyun dengan senyuman tipis di bibir tebalnya. Dielusnya pipi si mungil teramat lembut. "Aku selalu baik-baik saja. Kau tahu itu, bukan?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya ragu. Well, ia tahu pasti Chanyeol akan baik-baik saja, tapi..ia tetap takut terjadi sesuatu pada pria tinggi itu. Walaubagaimanapun, Kris sedang dikuasai emosi. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi, bukan? Ia hanya tak mau hal buruk terjadi pada pria yang dicintainya.
"Jangan khawatir." Chanyeol mendaratkan sebuah ciuman ringan di bibir tipis itu saat menyadari ketakutan dalam paras manis Baekhyun. Ciuman yang lembut dan singkat, yang mampu menghasilkan ketenangan tertentu dalam relung hati keduanya. "Aku akan menyusulmu, Baek. Aku janji.."
Lima detik Baekhyun habiskan dengan berpikir. Ia mengangguk pelan tak lama kemudian, meski masih ada keraguan dalam air mukanya. "Aku pegang janjimu, Yeol.."
BRAK!
Pintu ruangan itu berhasil didobrak. Muncul-lah Kris di ambang pintu, dengan netra tertutup kabut amarah, dan posisi pistol Glock 19 tertuju ke kepala Baekhyun.
"Aku tak'kan membiarkanmu kabur, Byun Baekhyun."
"Hyung, jangan!"
Mata Baekhyun membeliak utuh tatkala Chanyeol menghalau tembakan Kris dengan memeluk tubuhnya. Alhasil, peluru itu berhasil mengenai punggung si jangkung. Namun seakan tak memedulikan hal itu, Kris justru bersiap untuk meluncurkan tembakan lainnya. Maka, dengan sigap, Baekhyun putar tubuhnya untuk melindungi Chanyeol sehingga peluru-peluru itu secara beruntun mengenai tubuhnya. Darah segarpun mengalir dari area yang tertembak, mengotori baju Baekhyun juga lantai kayu, dan—tentunya—mengejutkan Chanyeol dalam satu nanodetik.
"B–Baekhyun?" Chanyeol refleks memeluk tubuh Baekhyun saat sudah sedikit ini untuk ambruk. Wajahnya menjadi pucat pasi mendapati pria yang dicintainya tak lagi membuka matanya. "B–Baek, bukalah matamu.."
Nol reaksi yang ditunjukkan Baekhyun membuat Chanyeol ketakutan. Ia panik, dan jari-jarinya yang gemetaran benar-benar tak membantu.
"Baekhyun, kumohon.." Airmata Chanyeol jatuh satu persatu. "Jangan tinggalkan aku.."
Namun Baekhyun tak bisa mendengar ucapan Chanyeol.
Ia sudah tiada.
"Akhirnya mati juga." ucap Kris dengan intonasi dinginnya, tak tampak secuil penyesalan disana. Pria tinggi itu kemudian berjalan mendekati Chanyeol yang masih mendekap Baekhyun. "Ayo pulang, Chanyeol. Itu perintah."
Chanyeol masih bergeming disana. Lamat-lamat, ucapan pria bersurai blonde itu memancing amarah yang bersurai ebony. Terbukti dari rahangnya yang mengeras, juga kedua tangannya yang mengepal begitu kuat. Di saat bersamaan, gemuruh langit di luar sana terdengar semakin keras, hujanpun turun semakin lebat. Sekonyong-konyong, sesuatu dalam tubuh Chanyeol bergejolak, membuat adrenalinnya berpacu abnormal. Tidak, itu bukan sekedar amarah.
Itu sesuatu yang sudah ada dalam tubuhnya.
Jauh sebelum ia lahir.
"Apa yang telah kau lakukan padanya?" desis Chanyeol, posisinya masih membelakangi Kris.
"Kau bilang apa?"
"Kau.." Chanyeol bangkit dari posisinya. Perlahan, ia memutar tubuhnya menghadap Kris. "..telah membunuhnya."
Alis Kris bertautan sempurna. Bukan karena ucapan adiknya yang nyaris seperti bisikan, melainkan karena keadaan Chanyeol yang terbilang aneh. Bola matanya memerah. Airmatanya bahkan mengeluarkan darah.
"Kau kena–"
"KAU MEMBUNUH BAEKHYUN!"
Seolah ada angin kencang berhembus, tubuh Kris beserta barang-barang di sekitarnya terhempas ke belakang dan menabrak dinding dengan keras. Namun tidak dengan Chanyeol. Pria bersurai ebony itu masih berpijak pada tempatnya, dengan bola mata merah, dan darah yang mengalir bak airmata. Sorot matanya penuh akan dendam.
"Arghh.." Kris mengerang di antara rasa sakit di sekujur tubuhnya. Pandangannya yang agak kabur, lambat laun menangkap sosok Chanyeol berjalan ke arahnya, dengan sepasang bola mata semerah darah menatapnya begitu tajam. Kata-kata Kris sudah berada di ujung lidah, namun sekali lagi, sesuatu menghentikannya. Itu Chanyeol, mencekik lehernya sampai kedua kakinya terangkat ke udara. Yang membuat Kris terkejut setengah mati adalah Chanyeol melakukannya tanpa menyentuhnya sama sekali. Seolah ia memiliki kekuatan telekinesis.
"C–Chan..yeol..ukh.." Ucapan Kris tersendat seiring mengencangnya cekikan itu. Ia tak mengerti—sungguh. Apa yang sebenarnya terjadi pada Chanyeol? Kenapa adiknya itu seperti berusaha membunuhnya di saat ia telah menyelamatkannya dari yang terkutuk? Apa mungkin–
Bola mata Kris membeliak sempurna saat ia menyadari sebuah kejanggalan.
"K–kau.." Wajah Kris memucat. "Yang terkutuk?"
Seringaian Chanyeol muncul di sudut bibirnya.
.
.
.
Chanyeol pernah bermimpi aneh sehari sebelum hari ulang tahunnya yang ketujuh belas. Ia berada di suatu tempat yang tak ia ketahui, dengan latar langit gelap, dan orang-orang yang sibuk berlarian ke suatu tempat sambil memegangi obor. Chanyeol tak tahu apa yang terjadi, karena ketika ia hendak bertanya pada salah satu dari mereka, tak satupun menyadari kehadirannya. Seakan-akan tubuhnya tak terlihat. Meskipun begitu, sejumput rasa penasaran terlanjur bersarang dalam benak Chanyeol. Jadi, iapun memutuskan untuk mengikuti kemana arah orang-orang itu pergi.
Alangkah terkejutnya Chanyeol saat melihat apa yang ada di hadapannya. Itu adalah proses eksekusi mati. Dimana terdapat tiang besar, dengan seorang wanita paruh baya yang diikat disana, dan kayu bakar yang mengelilinginya. Tubuhnya mengenakan gaun panjang berwarna hitam, sementara kakinya tak memakai alas kaki apapun. Posisi kepalanya yang menunduk, membuat rambutnya yang panjang berwarna putih itu menutupi hampir seluruh wajahnya. Hanya mata kanan dan bibirnya yang masih bisa Chanyeol lihat.
Wanita itu tampak pasrah, seolah beberapa luka fisik di sekujur tubuhnya bukanlah hal yang besar. Entah kenapa, Chanyeol merasa iba padanya. Pikirnya, apa yang membuat orang-orang ini mengeksekusi mati wanita itu? Apa ia telah melakukan sebuah kesalahan yang besar? Terlelap dalam pikirannya, Chanyeol baru sadar bahwa keadaan mendadak hening. Aneh—batinnya. Padahal orang-orang itu masih ada disana, tapi kenapa ia tak bisa mendengar suara apapun?
Belum cukup dengan keanehan itu, Chanyeol dikejutkan dengan hal yang lebih aneh lagi. Itu adalah wanita paruh baya yang akan dieksekusi. Ia menatap Chanyeol, tepat ke maniknya. Awalnya Chanyeol pikir itu hanya perasaannya, mengingat orang-orang disana tak bisa melihat dirinya. Namun ketika Chanyeol menengok ke belakang dan menyadari tak ada orang lain selain dirinya, barulah ia yakin bahwa yang wanita itu tatap adalah dirinya. Seketika bulu kuduk Chanyeol meremang, terutama ketika wanita itu tersenyum ke arahnya.
"Halo, yang terkutuk." Suara lirih wanita itu menggema di gendang telinga Chanyeol. "Persiapkanlah dirimu."
Dahi Chanyeol mengernyit. Apa maksud wanita itu? Siapa yang terkutuk itu?—ia bertanya-tanya dalam hati.
"Itu kau."
"Eh?" Chanyeol berkedip bingung.
Bersamaan dengan api yang menyulut kayu bakar di bawah kakinya, senyuman wanita itu kian melebar. "Kau-lahyang terkutuk itu, Park Chanyeol."
.
.
.
Chanyeol membopong tubuh tak bernyawa Baekhyun menuju lantai satu. Ia tinggalkan rasa kepeduliannya di belakang sana bersama tubuh Kris yang sama tak bernyawanya dengan Baekhyun. Sepertinya status keluarga yang Kris sandang sudah tak lagi memiliki arti penting di mata Chanyeol. Satu-satunya sosok yang memenuhi pusat sarafnya hanyalah Byun Baekhyun. Pria mungil yang menerimanya apa adanya, mencintainya, bahkan setelah mengetahui kenyataan pahit dalam hidupnya.
Bahwa ia-lah yang terkutuk itu.
"Aku akan tetap memegang janjiku." bisik Chanyeol, begitu langkahnya berhenti di lantai satu. Dikecupnya dahi pria mungil itu teramat lembut. Senyuman tulusnya mengiringi airmata darah yang terkesan pilu. "Aku mencintaimu, Baekhyun.."
Detik berikutnya, yang terjadi adalah runtuhnya vila milik keluarga Park. Dimulai dari atap, retaknya dinding juga lantai, berakhir dengan jatuhnya seluruh benda di lantai dua dan menimpa semua yang ada di lantai satu. Termasuk Chanyeol dan Baekhyun.
"Aku akan selalu mencintaimu.."
Chanyeol menyusul Baekhyun.
THE END
Well, ini hanya republish, bukan kambek, hahaha! Saya masih belum tahu kapan pastinya akan kambek ke FFn, tapi INSYA ALLAH bulan November nanti (kemungkinan sama author Sayaka Dini). Jadi, untuk sekarang cuap-cuapnya gak akan panjang.
Oke, balik lagi ke FF Game. Sebagian besar readers menebak dengan benar bahwa FF ini adalah FF saya. Anyhey, selamat buat yang menang! Jangan kapok buat ikutan FF Game, lumayan lho hadiahnya. Cek terus akun CIC setiap bulan tanggal 30.
PS. Jangan lupa cek FF author SilvieVienoy96, Byun MinHwa, Mykareien, Park Ayoung, Aeri Channie, Baekhyeol. Kami apdet jamaah soaleee~
SO, REVIEW?
