Chapter 2

Pilih Siapa?

Author : Cho Minseo

Cast :

Huang Renjun

Mark Lee

Lee Jeno

Lee Haechan

Na Jaemin

Park Jisung

Zhong Chenle

Summary :

Renjun kira kehidupan di sekolah SOPA akan menyenangkan seperti yang dia pikirkan selama ini. Ternyata semua itu salah sejak keempat pangeran sekolah selalu mencari perhatian Renjun dengan tingkah konyol – menurut Renjun – mereka. Bagaimana kisah keseharian Renjun untuk menghindari mereka? Atau malah menerima mereka semua?

Genre :

Romance, Fluff, Humor, School life, OOC, dll..

Rate : T

Note :

Renjun, Jeno, Jisung sekelas, tingkat 2 (anggap aja Jisung ikut kelas akselerasi), Mark tingkat 3, Haechan Jaemin tinggat 2 beda kelas ma Renjun Jeno Jisung. Jisung sama Chenle seumuran. Chenle tingkat 1.

Warning :

BxB, Boys Love, cerita aneh palagi judulnya, alur cepat, sorry for typo..

Big thanks to :

Guest, Mastaxxx, realloveexo, Min Milly, nrlyukkeuri96, dream'snoonachan, pacarnyaHaechan, wafertango, adaml8770, JaeEun21, BlueBerry Jung, JaeminNanana, norenship23, KimYijoon, zahra9697, moomin, tryss, Jeon Wonnie, Rara, sama yang udah fav and fol.

.

.

Seperti biasa, bunyi alarm yang berasal dari ponselnya membangunkan Renjun dari buaian mimpi indahnya. Kemarin malam Renjun sengaja menyetel alarmnya lebih pagi dari biasanya. Katanya dia ingin berubah demi menyambut masa depannya yang cerah. Setelah mematikan alarm ponsel, Renjun bergegas menuju kamar mandi yang memang terdapat di kamarnya untuk memulai ritual mandi pagi harinya.

Selesai dengan semua persiapan sekolah Renjun keluar dari kamarnya di lantai dua menuju ruang makan di mana appa dan eommanya sudah menunggu dirinya turun untuk melaksanakan kegiatan sarapan mereka bersama-sama.

"Pagi eomma, appa," ucap Renjun sambil mengecup pipi kedua orang tuanya.

"Pagi juga, sayang. Tumben sudah turun?" Eomma Renjun heran.

"Renjun ingin sarapan bersama appa, kalau Renjun terlambat bangun lagi, appa keburu berangkat eomma," jelas Renjun. Eoh, ternyata bukan untuk berubah, Renjun masih tetap dengan dirinya yang manja.

"Eohh, anak manja appa rupanya sedang rindu dengan appanya, ya?" Appa Renjun menggoda anak semata wayangnya.

"Neee, appa. Sudah seminggu lebih kan appa di Jepang, baru kemarin sore pulangnya. Sudah jelas dong kalau Renjun rindu pada appa. Appa, nanti malam Renjun tidur dengan appa, boleh?"

"Aigoo, anak appa sudah besar masih ingin tidur bareng dengan appanya? Renjunnie tidak malu dengan Chenle, eoh? Dia lebih muda darimu, sudah terbiasa tidur sendiri lho..," goda appa Renjun.

"Ihh.. itu karena Renjunnie rindu dengan appa. Boleh yaa? Appa, boleh yaa? Yaa?" Renjun memasang agyeo andalannya.

"Okay, sayang. Nanti malam appa temani kamu tidur di kamarmu, senang?"

"Yeaayy..," girang Renjun.

"Sudah sayang, sekarang dimakan dulu sarapannya!" suruh eomma Renjun.

"Ne.. eomma." Renjun memakan sarapannya.

Ting.. Tong..

"Biar eomma lihat dulu, kalian lanjutkan saja sarapannya," ujar eomma Renjun yang ditanggapi dengan anggukkan oleh suami dan anaknya. Minseok, eomma Renjun berjalan menuju pintu depan rumah.

"Pagi Minseok ahjumma! Renjun hyung sudah siap?" sapa Chenle setelah Minseok membuka pintu.

"Oh, Chenle-ya , pagi. Renjun sedang sarapan, ingin ikut sarapan bersama?" tawar Minseok.

"Ah, tidak ahjumma, saya sudah sarapan tadi di rumah. Terima kasih tawarannya." Sambil tersenyum sopan, Chenle menolak.

"Baiklah kalau seperti itu. Masuklah!"

"Tidak usah, ahjumma. Saya tunggu di sini saja sekalian menunggu Jisung datang, ahjumma."

"Ya sudah. Ahjumma masuk dulu, ahjumma beri tahu Renjun kalau kamu sudah datang."

"Ne ahjumma."

Tak berselang lama kemudian, Renjun sudah keluar dari rumahnya, berada di teras untuk menemui Chenle.

"Chenle-ya , kenapa tidak menunggu di rumahmu saja?" Renjun setelah duduk di kursi teras di samping Chenle.

"Ingin ke sini saja, hyung, lagian di rumah sedang sepi. Appa sudah berangkat kerja, sedangkan eomma pamit pergi belanja. Jadi, eomma menyuruh ku untuk menunggu Jisung di rumah hyung saja." Jelas Chenle panjang.

"Oh.. seperti itu… Ya sudah kita tunggu Jisung di sini!" saran Renjun.

Rumah Renjun dan Chenle memang bersebelahan sejak kepindahan keluarga Huang Luhan, appa Renjun ke Korea, Zhong Liying teman appa Renjun yang telah menikah dengan adik Minseok memintanya untuk membeli sebuah rumah disebelahnya yang kebetulan saat itu di jual sehingga rumah Renjun dan Chenle bersebelahan.

Luhan keluar rumah diikuti Minseok yang membawakan tas kerjanya, "Sayang, aku berangkat kerja sekarang," pamit Luhan pada Minseok. Minseok memberikan tas kerja pada Luhan yang dibalas sang suami kecupan di kening Minseok mesra.

"Hati-hati di jalan, sayang." Minseok pada suaminya, Luhan.

"Renjun, Chenle kalian belajar yang rajin di sekolah." Luhan menghampiri Renjun dan Chenle yang langsung mereka tanggapi dengan mencium tangan kanan Luhan.

"Renjun jangan manja dengan Chenle di sekolah. Ingat kamu sudah besar, Renjun. Belajarlah jangan manja." Luhan mengusak surai orange Renjun gemas.

"Ne appa. Tapi peluk dulu sebelum appa berangkat." Renjun menghambur kepelukkan Luhan.

"Memang susah yaa, anak appa satu-satunya ini untuk tak manja." Luhan memeluk erat Renjun sebentar, "Appa berangkat dulu," sambung Luhan berpamitan.

"Bye appa, selamat jalan." Renjun melambaikan tangannya.

"Bye sayang," ucap terakhir Luhan sebelum memasuki mobilnya dan mengendarinya keluar dari perkarangan rumah.

Tin.. Tin..

Sebuah mobil memasuki perkarangan luas rumah Renjun setelah mobil appanya keluar.

"Chenlie! Hyung! Ayo cepat masuk, sebelum kita terlambat!" teriak Jisung setelah menurunkan kaca mobil dan menyembulkan(?) kepalanya keluar.

"Nee.." balas Renjun juga berteriak, "Eomma, kami berangkat sekarang." Renjun mencium pipi kanan Minseok lalu berlari masuk pintu bagian belakang mobil Jisung. Chenle membungkukkan badannya sebentar lalu mengikuti Renjun memasuki mobil.

"Baiklah hati-hati di jalan. Jisungie hati-hati mengendarai mobilnya!" Teriak Minseok mengingatkan.

"Nee, Minseok ahjumma." Balas Jisung juga berteriak.

"Bye, eomma." Renjun menyembulkan kepalanya keluar. Minseok hanya melambaikan tangannya melihat tingkah anaknya.

.

.

"Hyung, aku perhatikan hampir seminggu ini hyung tidak dikejar-kejar F4 gadungan itu." Chenle membuka pembicaraan setelah mereka bertiga berkumpul di kantin untuk mengisi perut mereka yang terkuras habis setelah mengikuti tiga mata pelajaran sebelum istirahat.

"Iya, juga. Biasanya kalau jam-jam istirahat begini, mereka langsung menyerbu hyung untuk mengajak hyung makan bersama mereka dan berakhir dengan hyung berlari kabur menghindari mereka." Jisung membenarkan pernyataan kekasihnya.

"Bukan kah itu bagus. Jadi aku bisa bebas sekarang. Kalian juga tidak perlu lagi mengikutiku ke mana pun aku ingin pergi. Bukan kah ini kabar menggembirakan?"

"Eoh, benar juga. Waktuku dengan Jisungie tidak akan terganggu lagi. Uhh, aku rindu berduaan denganmu Jisungie." Chenle menoleh ke samping di mana Jisung mendudukkan diri dengan pandangan memelas –yang menurut Jisung terlihat imut.

"Aku juga rindu berduaan denganmu Chenlie sayang." Jisung mencubit kedua pipi Chenle gemas. Chenle yang malu diperlakukan Jisung seperti itu menyembunyikan wajahnya di lengan Jisung dan menutupinya dengan kedua telapak tangan.

"Yakk, dasar," ucap Renjun kesal menghabiskan makanan yang dipesannya dengan tergesa-gesa. "Aku ingin pergi ke perpustakaan dulu," ujar Renjun kemudian.

"Yakk, hyung. Habiskan makananmu dulu!" Chenle yang mendengar kata Renjun langsung melepaskan kedua telapak tangan yang menutup wajahnya, menoleh ke arah Renjun dengan kepala tetap menumpu di lengan Jisung.

"Sudah habis, Chenle-ya. Kamu saja yang sibuk dengan acara pacaranmu sama Jisung hingga tak menyadari kalau aku sudah selesai makannya," ucap Renjun datar, "Sudah aku mau ke perpustakaan sekarang. Kalian nikmati saja kebersamaan kalian."

"Kenapa hyung ke perpustakaan?" Jisung sambil memakan pesanannya.

"Bentar lagi ujian sejarah, aku mau mencari referensi. Bye, Chenle-ya … Jisungie…." Renjun berdiri dan meninggalkan mereka berdua.

"Jisungie suapin!" Suara manja Chenle terdengar lirih di telinga Renjun karena memang jarak mereka sekarang yang lumayan jauh.

Renjun menoleh ke belakang sebentar, "Dasar Chenle manja," ujarnya setelah melihat Jisung yang menyuapi Chenle. "Dia bahkan juga manja, bisa-bisanya appa melarangku untuk bermanja dengannya, padahal dia sendiri juga manja. Eh, tapi appa jarang bersama Chenle makanya appa tidak tahu kalau Chenle juga manja. Ah sudahlah, sebaiknya aku bergegas ke perpustakaan." Renjun berjalan ke arah keluar area kantin dengan bergumam lirih. Sibuk dengan dunianya sendiri membuat Renjun bertabrakkan dengan seseorang.

Bukk

"Auww." Renjun mengusap dahinya pelan karena dahinya tadi sempat terbentur dada seseorang. Seorang pemuda pastinya.

"Renjun, kamu tidak apa-apa?" Pemuda itu memastikan.

Renjun mendongak melihat siapa yang dia tabrak, "Eoh, M..Mark sunbae!" ucap Renjun tergagap. "Ehmm, ne sunbae. Aku baik-baik saja," sambung Renjun cepat.

"Syukurlah kalau begitu, lain kali perhatikan jalanmu." Singkat Mark lalu meninggalkan Renjun.

"Ehh.. Cuma begitu saja?" Heran Renjun. "Ah, molla," menggidikkan bahu cuek, Renjun melanjutkan langkah kakinya ke perpustakaan.

Letak perpustakaan memang tidak terlalu jauh dari kantin. Renjun hanya perlu melewati koridor kantin lalu belok kiri melewati beberapa kelas belok kanan di depan ada ruangan bertuliskan 'Perpustakaan', di situ lah tempatnya.

Ketika Renjun melewati koridor yang di sebelahnya lapangan basket, tiba-tiba, "RENJUUUNN AWAAS!" Teriak seseorang lagi.

DUKK

Bruukk

"Auww…," Renjun terjatuh dengan pantat mendarat terlebih dahulu.

Kronologi singkatnya, ketika seseorang tadi berteriak, Renjun terkejut disaat yang bersamaan sebuah bola basket melintas di hadapannya yang membuat Renjun menghindar dan terjatuh lalu bola itu membentur tembok koridor sebelahnya dan menggelinding ke arah sebaliknya kemudian berhenti di dekat pot bunga.

Seseorang berlari ke arahnya, "Kamu tidak apa-apa, Renjun?" Seseorang itu sambil membantu atau lebih tepatnya mengangkat lengan Renjun agar berdiri. (Kalian pahamkan maksudku?)

Renjun meringis menahan sakit di pantatnya sambil mengelusnya perlahan, "Maafkan aku, Renjun. Kamu tidak terluka kan?" Seseorang tadi lagi-lagi bertanya.

Tidak terluka apanya? Pantatku sakit tahu. Renjun mendengus pelan, "Tidak apa-apa. Terima kasih sudah memperihatkan tadi-," Renjun menoleh dan terkejut mengetahui siapa yang berada di sampingnya sekarang ini. "Hae..haechan-ssi!" mata Renjun membulat lucu.

"Ne, Renjun. Maafkan aku yang kurang hati-hati ketika bermain basket tadi." Haechan menyesal.

"Hmm, aku maafkan. Untung saja tadi bolanya tidak mengenaiku, Haechan-ssi." Renjun tersenyum manis. Sabar Haechan, sabar. Sebentar lagi akan berakhir, jadi bersabarlah sedikit lagi. Batin Haechan mengelus dada.

"Kalau begitu aku kembali ke lapangan lagi." Haechan mengambil bola basket yang hampir mengenai Renjun. Haechan berlalu begitu saja kembali ke lapangan tanpa menoleh ke Renjun melanjutkan permainan basket yang tertunda bersama teman-temannya.

Lagi-lagi Renjun heran, setelah Mark sekarang Haechan, "Kenapa sikap mereka seolah menjauhiku, yaa?" Renjun bergumam pelan. "Baguslah kalau itu benar-benar terjadi." Renjun melanjutkan jalannya.

"Akhirnya sampai juga," ucap Renjun di depan pintu perpustakaan.

Memasuki perpustakaan, Renjun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sambil mengingat-ingat rak khusus bagian sejarah, "Ah, sebelah kanan belakang rak sains," ingat Renjun dan langsung menuju rak sejarah.

Sesampainya di rak khusus untuk buku-buku sejarah, mata Renjun dengan teliti melihat satu per satu buku sejarah. Memilah-milah buku dari judul, kelas, dan bab yang Renjun butuhkan, "Bukan ini. Ini juga bukan. Bukan. Bukan," gumam Renjun pelan, mengambil, membuka dan mengembalikan buku kembali ke rak.

"Ohh… Itu dia. Kamu susah banget sih dicarinya," ujar Renjun mengambil buku sejarah yang dirasa materinya pas dengan bab 2 yang akan menjadi materi ujiannya beberapa hari lagi.

"Uhh.. uhh…. Aish, jjinjaa. Kenapa kamu tinggi sekali sih?" Renjun berusaha mengambil buku itu dengan menjinjitkan(?) kakinya, tapi sayang tangannya hanya sampai di bawah buku itu.

"Ayo.. ayo.. ayo sampai, uhh…." Renjun menjinjitkan(?) kakinya lagi. Ketika fokus Renjun hanya berpusat pada buku itu, sebuah(?) tangan dengan kurang ajarnya menyentuh tangan Renjun sebentar lalu meraih buku yang ingin Renjun ambil.

"Ini." Seseorang yang di belakang Renjun menyerahkan buku itu padanya.

Renjun menerimanya dan membalikkan badan menghadap seseorang pemuda yang telah menolong mengambil buku yang sekarang berada di dekapannya. Mengetahui jarak mereka yang terlalu dekat membuat Renjun menunduk malu dan semakin mendekap buku itu erat-erat, "Terima kasih, eum…," perlahan Renjun mendongak menatap pemuda yang telah menolongnya.

Lagi-lagi mata Renjun membulat lucu, "Jae..Jaemin-ssi!" Renjun yang terkejut hanya mengedip-kedipkan matanya.

"Sama-sama, Renjun." Jaemin tersenyum lebar.

Melihat senyum itu dari jarak dekat seperti ini membuat kedua pipi Renjun merona. Bayangkan saja jika kalian berdiri berhadapan dengan cogan sejenis Jaemin yang hanya terpisah jarak pandang 10 cm yang sedang tersenyum tampan di hadapan kalian, bukankah kalian akan merasa gugup dengan pipi merona? Atau mungkin pingsan? Itulah yang sekarang Renjun alami kecuali untuk yang pingsan.

Mengusap surai Renjun sebentar, Jaemin langsung pergi dari hadapan Renjun, meninggalkan Renjun dengan keheranannya. Tadi Mark, Haechan. Sekarang Jaemin? Mereka kenapa sih?

"Sebaiknya aku harus kembali ke kelas sekarang." Renjun mengabaikan rasa penasarannya.

Menuju ke tempat di mana sang penjaga perpustakaan berada untuk mencatat buku yang ingin dia pinjam lalu bergegas keluar, kembali menuju kelasnya.

"Renjun!" Panggil Lee seonsaengnim yang kebetulan sekali bertemu Renjun.

"Ne, saem?" Renjun sopan.

"Bisa ikut bapak ke ruang guru sebentar."

"Baiklah, saem."

Renjun mengikuti Lee seonsaengnim ke ruang guru. Sesampainya mereka di meja kerja Lee seonsaengnim, Renjun di suruh membawa buku-buku tugas yang Renjun dan teman-teman sekelasnya kumpulkan.

"Kamu bawa ini ke kelas, setelah itu kamu bagikan ke teman-temanmu!" Suruh Lee seonsaengnim.

"Ne, seonsaengnim." Renjun mengangkat buku-buku itu kesulitan. Jumlah buku yang banyak tambah buku sejarah tebal yang tadi dia pinjam membuat buku-buku itu menutupi pandangan Renjun.

"Terima kasih, Renjun." Ucapan Lee seonsaengnim yang hanya diangguki Renjun.

Renjun keluar dari ruang guru dengan langkah hati-hati. Sedikit susah atau memang susah membawa buku-buku sebanyak ini. Renjun perlu ekstra hati-hati agar tidak menabrak sesuatu atau seseorang, kan merepotkan apabila itu terjadi. Meskipun telah berhati-hati Renjun tetap menabrak punggung seseorang yang kurang kerjaan karena berhenti di tengah-tengah koridor.

Brukk

Buku-buku yang dibawa Renjun menyebar berserakan di lantai beserta ponsel seseorang yang Renjun tabrak. Oh, dia berhenti karena main handphone atau mungkin membalas pesan seseorang. Batin Renjun melihat sebuah ponsel yang juga terjatuh di lantai.

"Maafkan aku, karena tidak memperhatikan jalan." Renjun meminta maaf sambil berjongkok memunguti semua buku-buku itu.

Pemuda itu juga ikut memunguti semua buku yang berserakan setelah mengambil ponsel dan mengantonginya di saku jas kuning khas almater sekolah mereka.

"Lain kali kalau tidak kuat membawa beban sebanyak ini sendirian, sebaiknya kamu minta bantuan seseorang, Renjun." Merasa familiar dengan suara pemuda di hadapannya, Renjun mengalihkan pandangannya ke arah pemuda tersebut.

"Ne, Je..jeno-ssi." Entah sudah berapa kali Renjun menyebutkan nama seseorang dengan tergagap karena keterkejutannya.

Jeno menumpuk semua buku, bahkan di genggaman tangan Renjun juga Jeno ambil lalu ditumpuknya menjadi satu, "Mau dibawa ke mana semua buku ini?" Jeno membuyarkan lamunan Renjun.

"Eh, ke kelas kita, Jeno-ssi." Ucap Renjun.

"Biar aku saja yang membawanya." Jeno mengangkat semua buku dan meninggalkan Renjun yang kembali melamun.

Kenapa hari ini aku sial sekali. Euhh, menyebalkan. Renjun terlalu sibuk dengan semua kekesalannya hingga suara bel masuk berbunyi yang menyadarkan Renjun dari posisi berjongkok tidak elitnya. Astaga sudah masuk. Aku harus cepat-cepat.

"Lho, semua bukunya pergi ke mana?"

"Jeno-ssi?" Renjun mengedarkan pandangannya, Jeno sudah tidak ada, buku-bukunya juga. Kesimpulannya aku di tinggal di sini sendirian seperti orang bodoh, arghh.. menyebalkan.

Renjun berjalan cepat menuju kelasnya dengan wajah kusutnya.

Flashback

Setelah Jisung, Renjun, dan Chenle menghilang dari pandangan mereka. Mark terpikirkan sebuah rencana.

"Kita sebaiknya membicarakan ini di markas." Mark menyuruh mereka ke markas rahasia mereka berempat yang hanya mereka lah yang mengetahui keberadaannya dan kepala sekolah mereka juga orang tua mereka. Karena orang tua mereka merupakan penyumbang dana terbesar di sekolah ini sehingga memudahkan mereka membuat sebuah markas rahasia.

Sesampainya mereka di markas, mereka langsung mendudukkan pantat mereka di sofa mahal berwana biru tua.

"Sebaiknya mulai sekarang kita bersaing dengan jantan." Ucap Mark mengeluarkan pendapatnya.

"Maksud hyung? Bukankah kita memang jantan, jangan-jangan selama ini hyung adalah betina?" Haechan ngawur.

Plakk

"Bukan itu bodoh." Jaemin memukul kepala belakang Haechan.

"Sakit bodoh." Haechan mengelus-elus kepalanya pelan, "Lalu apa dong?" sambung Haechan kesal.

"Kita dekati Renjun dengan cara kita masing-masing. Tidak usah keroyokan, begitu maksudku Haechan, sudah paham?" Mark menjelaskan.

"Oh, begitu tho. Ngomong dong dari tadi." Sahut Haechan.

"Kamu saja yang bodoh memahami maksud dari Mark hyung." Jeno menghina Haechan.

"Terserah kalian saja." Haechan menggidikkan bahunya cuek.

"Tapi, usahakan seminggu ini kalian menjauh dari Renjun." Mark.

"Wae?" Jaemin penasaran.

"Kita lihat reaksi Renjun dulu, setelah kita tidak mengganggunya selama seminggu ini. Baru setelah itu kita dekati Renjun perlahan, jangan terlalu berlebihan. Kita buat nyaman Renjun ketika berada di dekat kita, jangan memaksakan seperti yang pernah kita lakukan ke Renjun. Intinya, setelah seminggu, kita baru mulai mendekati Renjun dengan cara kita masing-masing." Mark menjelaskan detail rencananya.

"Rencana yang bagus, hyung." Jeno sangat menyetujui rencana Mark.

"Yakk, kalau begitu keenakkan Jeno dong, hyung. Jeno kan sekelas dengan Renjun." Haechan tak terima.

"Ehh, benar juga." Jaemin sependapat dengan Haechan.

"Kalian pikirkan saja sendiri bagaimana menjauhkan Renjun dari Jeno. Aku kasihan juga sama Renjun kalau kita bersaingnya saling keroyokan. Bukan tambah cinta, malah membuat Renjun takut dengan kita." Ujar Mark.

"Ehh, benar juga. Baiklah aku setuju." Haechan.

"Aku juga," ucap Jeno dan Jaemin bersamaan.

Flashback End

Dan itulah penyebabkan kenapa keempat pangeran Renjun menjauhinya hampir seminggu ini. Renjun bersiaplah, siapkan dirimu menghadapi rayuan maut mereka berempat setelah ini…

.

.

TBC

Akhirnya chap 2 up juga…

Gimana pendapat kalian untuk chap ini? Memuaskan gg?

Sebenarnya aku merasa penjabaran kata-kataku di chap ini agak berbelit-belit. Entahlah itu menurutku sihh.. apalagi kalau menjabarkan F4 gadungan lagi kumpul, udah tuhh pasti hancur.. aku bingung soalnya. Moga aja gg mengecewakan..

Obrolan Tak Penting:

Okay di OTP minggu ini (mungkin minggu yg akan datang juga) aku akan bahas tuhh review2 kalian minggu kemaren.

Guest: Chenle muncul kok di chap 1 dan 2, yang 2minggu kemarin masih prolog bukan chap 1. Aku lupa gg kasih tulisan 'Prolog' hehehe

Mastaxxx: kenapa ganti penname lagi? Aku juga bingung, masa hanya gara ganti model rambut bisa mempengaruhi gentle dan imutnya Jisung… Renjun emang ku buat OOC, biar pas sama genrenya humor meski menurutku kurang banget feel humornya. Ini udah aku lanjut, krysseu…

realloveexo: emang fitnah, mana mungkin anak-anak ku anak ayam, anak marmut, anak lumba-lumba. Ya aku gg maulah… Renjun gak nangis karena dia sebelumnya Cuma acting nangis nat /slap/(bilang aja gg kepikiran buat renjun nangis lagi) untuk ff baru yaa, ada sihh. Kamu tunggu aja yaa nat… salam chu juga…

Min Milly: Chenle gg jealous kokk, kamu anggep aja Jisung bapak Renjun, Chenle Emaknya.

nrlyukkeuri96: lele emang kejam kak kalo udah marah, palagi suara lekingannya udah keluar, siap2 aja tuli.. apa kak yukkei? Lapmu?

dream'snoonachan: scene olahraga ya? Okay, aku buatin. Jadi ditunggu yaa…

pacarnyaHaechan: aduhh aku terharu tata, kamu nungguin ff gaje ku ini.. huhuhu… semangat UN nya tata-ya… ku selalu mendoakan mu kok..

wafertango: emang aku sengaja mbuat Jisung gentle di sini.. hihihi..

adaml8770: Jaeren/Minren dan Noren banyakin, mungkin nanti setiap chap ku buat sehari Noren, sehari Chanren, sehari Markren, sehari Jaeren(?) kayak jaehyun renjun yaakk?

JaeEun21: sudah bermimpi jadi Renjun? Iya ini masih awalkan, emang sengaja aku buat renjun dikroyok.. hehehe.. tp mulai chap ini mereka gg kroyokan lagi kokk..

BlueBerry Jung: nihh dah ku buatin tuh Minren di perpus meski Cuma sebentar sih.. hehehe…

JaeminNanana: untuk scene Jaemin ngajak Renjun jalan bentarnya aku pending dulu, biarkan mereka dekat dulu baru dehh Jaemin ngajak Renjun jalan hehehe… Ohh kasep itu tampan.. emang Jaemin tampan…

norenship23: hai hai anakku kamu kok jarang muncul sih di gc. Mamih kangen tahu, adikmu juga jarang muncul.. nih udah mamih update…

KimYijoon: Makasih nih dah mampir di ff gaje ku..

zahra9697: ini dah aku lanjut…

moomin: tapi cocok kan pantes kan kalo enjun polos…

tryss: makasih dah suka sama ma ff gaje ini.. ini dah aku lanjut..

Jeon Wonnie: kebanyakan suka noren yaa… haejun, itu diatas ada momen mereka.. moga aja memuaskan meski kurang panjang sih.. hehehe

Rara: tunggu aja yaa kelanjutannya…

OTP END

Reviewww juseeeyooooo... (Kedip-kedip)

Sign

Minnie