"Aku menunggunya... Aku selalu menunggunya kembali. Rasa rindu selalu ku tahan setiap kali bayanganmu hadir dalam benakku. Aku merindukanmu, sangat rindu."

"Lalu apa yang ingin kau ketahui sekarang?"

"Aku hanya ingin tahu... apakah dia juga merindukanku?"

"Jawabannya ada pada dirimu sendiri. Apa perasaanmu padanya masih sama seperti dulu ataukah sudah berubah?"

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

HEARTBEAT © Evellyn Ayuzawa

Title: Heartbeat [Chapter 3]

Author: Evellyn Ayuzawa (Elva Agustina ManDa)

Genre: Romance, Drama, School-life

Length: Chaptered

Rate: M (for Mature Content)

Cast:

Naruto U. x Sakura H.

Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.

Special Thanks to:

Nokia 7610, uzuuchi007, , itanatsu, , yassir2374, , , Achiles, Mina Jasmine, KV-7, NS, Kumada Chiyu, Ksatria Kegelapan, Kitsune Riku11, Gray Areader, Luca Marvell, Riela nacan, Nagasaki, Kimi-chan, Soputan, server 59, ZeeMe, MAGENZ, Cindy elhy, ino-chan, afifahfebri235, Guest. [Maaf jika ada yang gak ku cantumkan]

Happy Reading!

NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!

Hati-hati Typo bertebaran ^_^

Story Begin

-Normal Pov.-

.

.

.

.

.

Senin pagi adalah hari yang bisa dikategorikan sebagai hari yang paling Sakura benci. Ia memiliki pemikiran bahwa hari senin adalah hari yang memotong liburannya.

Sekolah yang tak ada liburnya dari senin sampai sabtu dan hanya diberi jeda istirahat selama satu hari yaitu hari minggu. Dan ia harus kembali pada kegiatan yang membosankan selama enam hari.

Masuk pukul tujuh pagi dan pulang pukul empat sore. Ditambah dengan bimbingan belajar yang diikutinya setiap sepulang sekolah. Sampai rumah, Sakura pulang hampir selalu tepat pukul delapan malam.

Hari-hari yang datar dan membosankan. Namun, hanya itulah yang bisa ia lakukan. Belajar dan terus belajar.

Demi meraih cita-cita yang ingin dicapainya. Apapun demi membahagiakan orang tuanya. Toh ia sudah cukup dewasa untuk berpikir jika hal tersebut bukan hanya untuk membahagiakan orang tuanya saja, ini juga untuk masa depannya.

Setiap hari pulang malam sudah menjadi kesehariannya. Namun, selalu terasa kosong dalam hatinya.

Tak ada yang menyambutnya pulang.

Hidup sendiri kadang bisa jadi menyenangkan bagi siapa saja. Ingin melakukan apa saja tak akan ada yang menegur atau memarahi. Namun, bukan berarti hal tersebut akan selalu menyenangkan.

Lama-lama, rasa kesepian dan kesendirian akan menjadi teman setiamu. Tak ada teman berbagi, tak ada teman bicara.

Dan Sakura cukup mengenal bagaimana rasa kesepian itu hadir sebagai teman kesehariannya.

Semenjak Naruto datang dan tinggal di rumahnya, awalnya ia merasa cukup tak nyaman. Karena ia sudah biasa tinggal sendiri, ia sedikit aneh karena harus tinggal dengan Naruto yang sangat tiba-tiba. Pasalnya orang tua Sakura tak memberitahu apapun tentang hal tersebut.

Walaupun Naruto bukan orang baginya, tapi tetap saja hal tersebut terasa janggal. Selama 18th hidupnya, ia belum pernah tinggal bersama dengan laki-laki selain Ayahnya –tentu saja.

Namun, mungkin dengan kedatangan Naruto di rumahnya akan membuat hatinya kembali hangat. Dan secara otomatis menggeser teman setianya. Rasa kesepian dan sendirian akan mulai lenyap.

.

.

.

.

.

Jam pelajaran telah usai. Istirahat pertama telah dimulai. Waktu lima belas menit untuk istirahat tak disia-siakan oleh para siswa untuk segera menyantap bekal yang dibawanya dari rumah.

Sakura, Ten ten, Ino dan Hinata menggabungkan meja masing-masing menjadi satu. Mereka duduk berhadap-hadapan dengan bekal masing-masing yang bertengger di meja.

"Selamat makan!" ucap ke empat gadis tersebut. Mereka mulai menyantap bekal masing-masing.

Memang sudah sifat dasarnya yang tak bisa tenang –mungkin, Ino membuka percakapan di antara mereka.

"Sakura," panggil Ino.

Sakura hanya bergumam menjawabnya.

"Aku masih tidak percaya kalau kau tinggal dengan seorang pria di rumahmu. Kau hebat!" Ino menyeringai lebar.

Ten ten tak terkejut dengan ucapan Ino. Ia sudah mengetahuinya dari mulut Ino sendiri yang menceritakan peristiwa mengejutkan di rumah Sakura.

"Aku juga tidak percaya," jawab Sakura malas, ia mempercepat tempo makannya. Dalam hitungan menit, ia telah menandaskan isi kotak bekalnya.

"Terimakasih makanannya." Sakura memberesi bekalnya dan meminum air yang dibawanya.

"Ino-chan, sebaiknya kita juga segera menghabiskan bekal kita. Tiga menit lagi bel." Hinata memperingati. Ia mempercepat tempo makannya. Ten ten dan Ino juga melakukan hal yang sama.

Dan tepat tiga menit bel berbunyi. Mereka mengembalikan posisi meja masing-masing seperti semula. Pelajaran dimulai kembali.

Sakura mengembangkan senyuman di bibirnya. Pasalnya Ino tidak jadi melanjutkan obrolan mereka. Ia sangat bersyukur saat Ino ingin melanjutkannya, guru mereka telah hadir. Akhrinya Ino terpaksa mengurungkan niatnya.

.

.

.

.

.

Sakura memasuki rumahnya yang sepi seperti biasa sepulang les. Ia tak perlu repot-repot mengucapkan salam saat pulang. Karena tak akan ada yang menjawabnya.

Namun, kali ini beda.

"Selamat datang!" sambut Naruto dengan suara yang keras dari dapur.

Ada yang menyambutnya di rumah.

Sakura mengurungkan niatnya untuk segera menuju kamarnya. Ia berjalan ke arah dapur. Di sana dapat ia lihat di meja makan telah tersedia beberapa macam makanan yang telah matang. Aroma lezat memenuhi indra penciumannya.

"Aku pulang," ucap Sakura yang kini mengalihkan pandangannya pada Naruto yang memberikan senyum merekah untuknya.

"Mandilah dulu, setelah itu kita makan malam." Sakura mengangguk dan lekas menuju kamarnya kembali.

Tak berapa lama, Sakura kembali ke dapur dan langsung duduk di salah satu kursi pada meja makan. Naruto sudah menduduki kursi seberangnya.

Dengan cekatan, Sakura menyiapkan nasi untuk mereka pada mangkuk. Naruto memperhatikan Sakura. Tatapannya melembut, ia tersenyum tipis.

"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Sakura kala Naruto menatapnya lama.

Naruto hanya tersenyum.

Mereka menyantap makan malam dengan tenang. Rasa canggung sangat terasa kala itu. Keduanya tak bersuara sampai selesai makan.

Setelah makan malam, Sakura segera memberesi meja makan dan juga mencuci semua peralatan makan yang mereka gunakan tadi. Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.

Sakura memutuskan untuk memeriksa tugas-tugas yang sekiranya belum beres menurutnya. Namun, suara ketukan pintu yang berbunyi beberapa kali menginterupsinya untuk berhenti.

"Sakura-chan, boleh aku masuk?" tanya Naruto dari luar dengan suara lembut.

Sakura berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu lalu membukanya. Naruto tersenyum dan Sakura memberi jalan untuknya masuk.

"Permisi," ucap Naruto saat ia memasuki kamar Sakura.

Sakura menutup kembali pintu kamarnya. Ia melihat Naruto masih berdiri melihat-lihat isi kamarnya.

Di dalam kamar Sakura yang terbilang luas itu terdapat dua lemari, rak buku yang lebarnya satu bagian sekat dinding sekitar 1,5 meter untuk koleksi semua buku Sakura –kamarnya sudah seperti perpustakaan menurut Naruto, ranjang berukuran sedang namun cukup jika dipakai untuk dua sampai tiga orang –jika tubuhnya kecil mungkin muat, lalu ada meja belajar dengan lampu meja, kemudian di tengah ruangan terdapat meja rendah yang berada di atas karpet bulu. Nuansanya sangat girly. Sebagian besar didominasi dengan warna merah dan merah muda juga hijau. Sangat Sakura –pikir Naruto.

Sakura memperhatikan Naruto yang masih asyik melihat-lihat kamarnya. Ia tersenyum kecil.

"Belum pernah masuk kamar seorang gadis ya?" tanya Sakura.

Naruto berbalik dan memandang Sakura, ia melebarkan senyumnya. "Kau tidak akan percaya kalau ku bilang aku sudah beberapa kali masuk ke kamar wanita. Dan pastinya mereka yang mengundangku masuk ke kamar mereka," jawab Naruto panjang.

Sakura berdecih lalu berkata, "Oh... Hebat."

"Eeeh... Jangan bilang kau cemburu, Sakura-chan?" tanya Naruto mengejek. Kemudian ia duduk di atas karpet bulu dan menyanggakan wajahnya dengan tangan kanan di atas meja rendah tersebut.

Sakura mengikuti duduk di seberang Naruto, ia membuka beberapa bungkus makanan ringan. Tanpa disuruh, Naruto langsung mengambil beberapa dan memasukkan ke dalam mulutnya.

"Jadi, ada apa?" tanya Sakura singkat.

Naruto tersenyum lebar. "Aku hanya ingin melihatmu saja," jawabnya.

Rona merah dengan cepat menjalar pada pipi Sakura. Ia memalingkan wajahnya dari Naruto. Kedua tangannya yang berada di atas pahanya saling meremas. Ia gugup bukan main.

"Kau masih mencintaiku 'kan, Saku?" tanya Naruto bersungguh-sungguh.

Sakura tak menjawab, ia masih menundukkan wajahnya guna menghindar dari tatapan Naruto.

Tanpa ia sadari, tiba-tiba sepasang tangan kekar telah melingkari pinggangnya dari belakang dan memeluknya erat. Naruto ternyata telah berpindah di belakangnya.

Naruto memeluk Sakura erat. Seakan jika ia melonggarkan tangannya nanti gadis bersurai merah muda sepinggang itu akan lepas dan hilang.

Ia menundukkan wajahnya pada pundak Sakura. Memiringkan kepalanya lalu menyesap wangi yang menguar dari tubuh gadis itu.

Wangi bunga saat pertama kali mekar. Khas sekali dengan Sakura.

"Sakura-chan, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku ya?" Sakura menggeleng, matanya berkaca-kaca.

"Kenapa meminta maaf, Naruto-kun?" tanya Sakura disertai dengan air mata yang mulai mengalir dari kedua mata hijau indahnya.

"Hhhh..." Naruto menghela napas.

"Maaf karena aku pergi terlalu lama."

"Tidak apa-apa. Aku mengerti, Naruto-kun." Sakura menjawab dengan lirih. Suaranya pelan sekali.

"Terimakasih, Sakura-chan," ucap Naruto lembut. Kemudian ia membalikkan tubuh Sakura agar mengahadapnya.

"Sudah... jangan menangis! Kau kelihatan semakin jelak kalau menangis!" Naruto mengusap pelan air mata Sakura lalu mencium keningnya lama.

"Hiks... aku sangat merindukanmu, Naruto-kun!" Kali ini Sakura-lah yang memeluk Naruto sangat erat. Naruto pun membalasnya.

Sakura menangis sampai puas dalam pelukan Naruto. Ia sangat lega karena ternyata Naruto juga merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan.

Setelah Sakura sudah tenang dan tak menangis lagi, Naruto sedikit menciptakan jarak di antara mereka. Ia menyentuh dagu Sakura dengan tangan kanannya lalu menuntun Sakura agar ia mendongak.

Wajah Sakura yang memerah merona dan kedua bola mata bening yang indah yang sayu. Juga bibirnya yang memerah dan basah yang sedikit terbuka. Sungguh sajian yang sangat indah.

"Cantik." Hanya satu kata yang Naruto mampu ucapkan saat melihat Sakura di depannya.

Pelan-pelan Naruto menurunkan wajahnya menuju Sakura. Tak berapa lama, bibir keduanya telah menyatu. Saling bertautan dan saling merasa.

Rasanya masih sama seperti terakhir Naruto mencium Sakura. Saat sebelum mereka berpisah. Rasa manis yang sangat mendominasi dari bibir Sakura yang paling ia sukai.

Ciuman yang lembut. Mereka saling melumat saling menghisap dan saling mengecap.

Kedua tangan Sakura telah melingkar di pinggang Naruto. Naruto menaikkan tangan kirinya dan menaruhnya di belakang kepala Sakura. Tangan kanannya ia taruh di pipi Sakura.

Naruto memperdalam ciuman mereka. Lidah keduanya mulai bertautan. Karena ini bukan ciuman pertama mereka, tak susah bagi Sakura untuk mengimbangi Naruto. Karena kebutuhan akan pasokan udara, Naruto dengan tak rela melepas tautan mereka.

Sakura menghirup udara dengan rakus. Ia meraup dengan tergesa-gesa udara yang ada, guna mengisi paru-parunya yang terasa mengecil. Wajahnya memerah, tubuhnya memanas hanya karena ciuman tadi.

"Belum," Naruto kembali menautkan bibir keduanya.

"Nghh..." erangan kecil keluar dari Sakura.

Sentuhan-sentuhan bibir mereka terasa mengalir dengan alami. Kedua tangan Sakura naik pada pundak Naruto, melingkar pada lehernya. Mereka semakin memperdalam ciuman itu. Berusaha merasakan dan mengecap apa saja yang ada di kedua goa lembab milik masing-masing.

Mengajak bermain lidah milik Sakura. Saling bertukar saliva, saling menggigit, saling melumat. Tampaknya Naruto yang lebih mendominasi. Namun, Sakura mencoba untuk dapat mengimbangi permainan pasangannya. Ia tidak ingin hanya dia saja yang puas, Naruto pun juga harus puas.

Tangan Naruto mulai bergerak. Sebelah kanan tetap memegangi pinggang Sakura. Tangan kiri Naruto mulai menyibak kaos yang dikenakan Sakura dari belakang. Mengelus punggung Sakura.

Bagaikan tersengat ratusan ribu volt berkekuatan tinggi. Tubuh Sakura mulai menegang merasakan pergerakan tangan Naruto di punggungnya. Panas di tubuhnya semakin terasa membakar.

Mungkin malam ini akan terasa sangat panjang bagi mereka berdua. Saling melepas rindu dan rasa yang ditahan sekian lama.

"Aku mencintaimu, Sakura."

"Aku mencintaimu, Naruto."

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

A/N: Assalamu'alaikum! Halo semua... maaf ya, aku updatenya lama. Karena berbagai hal yang tidak memungkinkanku untuk update jadi terpaksa ku undur terus. Hehee... maaf ya kalo pendek, takutnya kalo panjang nanti banyak reader yang bosen terus males baca.

Sekian dariku, semoga karyaku menginspirasi dan bermanfaat. Wassalamu'alaikum!