Strawberries and Cigarettes

Oleh : JeKa-Kim

.

.

Seorang pemuda manis bergigi kelinci berjalan terseok-seok menuju halaman rumah dengan memegangi pinggangnya sendiri. Rasa sakit masih setia mengelayuti seluruh badannya. Tentu saja jika semalam ia habiskan dengan bercinta sampai menjelang pagi. Oh, bolehkah ia menyebut itu dengan bercinta sementara ia melakukannya bukan dengan seseorang yang ia sebut dengan kekasih.

Kalian benar jika menebak bahwa pemuda itu adalah Jeon Jungkook. Pemuda bermarga Jeon itu nyatanya benar-benar kabur dari apartemen Kim Taehyung setelah merelakan keperjakaannya direnggut oleh pria bermarga Kim tersebut.

"Sial! kenapa kau bodoh sekali, Jeon! kau dengan murahannya menyerahkan kesucianmu pada pria asing dan sekarang kau mulai menyesalinya! kau benar-benar jalang, Jeon Jungkook!" Jungkook merutuki dirinya sendiri atas kebodohan yang ia lakukan.

Memang benar pepatah yang mengatakan penyesalan selalu datang terlambat dan begitulah yang di alami Jungkook saat ini. Namun, bisa apa jika nasi sudah terlanjur menjadi bubur, mau marah dan menyesal pun sudah tak ada gunanya. Toh, dia sendiri yang memulai dan menawarkan diri untuk disetubuhi.

Dan kini ia menyesal? cih, lupakan saja rasa menyesalmu itu! harusnya penyesalan itu kau lakukan saat memasuki pintu apartemen Kim Taehyung, Jeon!

Menyesal apanya! munafik ia. Bukankah penis Taehyung masih terbayang bahkan masih terasa memenuhi lubangmu, Jeon? akui saja jika bersetubuh dengan seorang Kim Taehyung mampu menjadikanmu gelap mata. Dasar munafik! pura-pura sok menyesal. Heol! mati saja sana!

Jungkook masih setia mengumpati dirinya sendiri dengan wajah merah merona ketika kejadian semalam berseliweran diotaknya. Dia tampak seperti seorang perjaka yang baru diambil keperawanan lubangnya. Ups, bukankah itu memang kenyataanya.

Tangan dengan jemari lentik itu terulur untuk memasukkan kunci ke dalam lubang, bermaksud membuka pintu dari luar.

Cklek!

Pintu terbuka dan Jungkook kembali menutupnya dengan perlahan setelah berhasil memasuki rumah. Langkah kaki jenjangnya ia bawa untuk berjalan pelan seolah tak ingin menimbulkan suara.

"Darimana saja hingga baru pulang pagi hari seperti ini?"

Deg!

Sebuah suara berhasil membuat Jungkook terjengkat kaget. Mata hitamnya ia bawa untuk menatap pada sumber suara dan ia menemukan sang kakak yang tengah berdiri berkacak pinggang sembari menatap tajam kearahnya.

"H-hyung sudah bangun?" Jungkook tergagap, antara gugup dan takut.

Itu Jeon Seokjin. Pria berwajah cantik bak malaikat namun berkelakuan seperti iblis jika sedang marah. Dan sialnya! iblis berkedok malaikat itu adalah kakak kandung dari seorang Jeon Jungkook.

"Bangun kepalamu! aku bahkan tidak tidur karena menunggumu pulang! jadi berikan aku alasan yang masuk akal atas ketidakpulanganmu, Jeon Jungkook!" tatapan penuh intimidasi Seokjin layangan pada sang adik semata wayang.

Hidup jauh dari kedua orang tua yang tinggal di luar negeri membuat Seokjin harus ekstra ketat menjaga dan mengawasi Jungkook. Ia hanya tak ingin sang adik ikut terseret arus pergaulan bebas yang memang menjadi tren dikalangan para anak muda jaman sekarang. Jungkook itu tanggung jawabnya.

"A-aku menginap dirumah teman. Ya, dirumah teman." sial! jawaban macam apa itu, mana mungkin kakaknya percaya begitu saja.

"Teman mana yang kau maksud?!" Seokjin mengejar dan kini berganti memicing curiga pada sang adik.

"Irene, ya...aku menginap dirumah Irene." sekali lagi Jungkook mencoba mencari alasan dan berdoa dalam hati semoga kali ini kakaknya percaya.

"Irene? apa yang kau lakukan dengannya hingga membuatmu sampai tak pulang ke rumah?" Seokjin tak menyerah. Ia butuh alasan lebih, jikapun Jongkook menginap dirumah orang lain maka untuk apa hal tersebut adiknya itu lakukan. Apalagi Jungkook menginap dirumah seorang gadis. Jika terjadi apa-apa kan bisa repot.

"Be-belajar kelompok!" sahut Jungkook cepat meskipun dibarengi dengan kegagapan yang kental. Hanya itu yang ada dalam otaknya dan ia tak memiliki hal lain lagi untuk dijadikan alasan yang masuk akal.

Tak mau berhenti sampai disitu, Seokjin kembali mengintrogasi. "Kau yakin hanya belajar kelompok? kalian tak melakukan hal yang macam-macam, kan?"

Jungkook menggeleng dua kali mengerti akan maksud 'macam-macam' dari sang kakak. Sebenarnya dia memang telah berbuat 'macam-macam' tapi bukan dengan seorang yang bernama Irene dan tak perlu dijelaskan pun kalian pasti tahu siapa yang Jungkook maksud.

"Tidak hyung, aku bersumpah tidak melakukan yang aneh-aneh dengan Irene. Hyung kan tahu sendiri aku tidak menyukai gadis."

Tentu saja Seokjin tahu. Adiknya itu memang satu spesies dengannya, sama-sama menyukai pisang daripada melon. Mereka gay dan mereka bangga dengan hal itu. Love yourself, oke!

"Baiklah, kali ini hyung percaya. Tapi ingat! sekali lagi hyung mendapati kau tak pulang ke rumah, maka saat itu juga kau habis, Jeon Jungkook."

Sang adik mengangguk berkali-kali dan akhirnya ia bisa bernafas lega karena terhindar dari omelan iblis betina.

"Sana masuk kamar! mandi dan ganti bajumu. Hyung sudah menyiapkan sarapan di atas meja, makanlah selagi hangat." kata Seokjin dengan penuh perhatian lalu beranjak dari ruang tamu kediaman mereka.

"Hyung mau kemana?" Jungkook bertanya saat melihat kakaknya malah berbalik menjauh.

"Tidur tentu saja! aku benar-benar mengantuk karena semalam terjaga untuk menunggumu pulang." untung saja ini adalah hari minggu jadi Soekjin bisa menggunakan hari liburnya untuk tidur dan beristriahat.

Sebagai putra sulung keluarga Jeon, selain menjaga Jungkook, Seokjin juga mendapatkan tanggung jawab untuk mengurusi perusahan keluarga mereka yang ada di Korea. Bukan sesuatu yang mudah tentu saja. Jadi ketika ia mendapatkan kesempatan libur, maka ia akan memanfaatkan hari itu dengan sebaik-baiknya.

"Maaf." lirih yang lebih muda. Menyesal karena telah membuat hyung tercintanya begadang sementara dia sendiri sibuk bercinta dengan seorang pria asing.

Seokjin menghela nafas kasar. "Tak apa. Yang penting sekarang kau sudah pulang dengan selamat."

Mendengar kalimat pengertian dari sang kakak membuat Jungkook kembali tersenyum manis menampilkan gigi kelincinya yang tampak mengemaskan. "Selamat tidur, hyung."

"Hm, selamat pagi sayang~"

.

.

Hari berlalu dengan begitu cepat setelah insiden dimana Kim Taehyung bercinta dengan seorang Jeon Jungkook. Dan tak terasa sudah seminggu penuh kejadian itu berlangsung namun nyatanya sukses membuat Kim Taehyung dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Bagaimana bisa baik-baik saja jika otak dan tubuhnya masih mengingat jelas peristiwa tak terlupakan tersebut. Seluruh rasa dan aroma dari lelaki cantik nan manis yang masih saja belum ia tahu asal usulnya itu nyatanya berhasil membuat Kim Taehyung kecanduan.

Jungkook dan seluruh atensinya terus saja berputar di otak Taehyung seolah tak ingin membiarkan pemuda Kim itu hidup tenang. Dan benar saja, karena selama satu minggu ini Taehyung tak pernah bisa tidur nyenyak serta makan dengan enak. Yang ada dalam pikiran pemuda itu adalah bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan Jungkook lagi.

Mungkin Taehyung menyukainya atau mungkin Taehyung telah jatuh cinta padanya. Taehyung bahkan melupakan fakta bahwa seminggu lalu dia baru saja dicampakan oleh sang kekasih. Benar-benar hebat pengaruh seorang Jeon Jungkook bagi Kim Taehyung.

Drett Drett Drett

Bunyi getaran ponsel menyadarkan Taehyung dari acara melamunkan Jungkook. Tak ingin si penelepon menunggu terlalu lama, maka Taehyung memilih untuk mengangkat telpon dengan nomor yang tidak dikenal tersebut.

"Halo, dengan siapa saya bicara?" Taehyung menyapa sopan karena ia merasa bahwa itu adalah telepon penting.

"Kami dari pihak universitas Bangtan, apa benar ini dengan mahasiswa atas nama Kim Taehyung?" seseorang disana memberi sahutan.

"Ah, ya benar. Saya Kim Taehyung, maaf tapi ada keperluan apa anda menelfon saya?"

"Jadi begini saudara Kim, kami hanya ingin memberitahukan bahwa anda diterima untuk menjadi guru magang di SMA Bangtan yang masih satu yayasan dengan kampus kita. Karena besok adalah hari senin, mereka menginginkan anda mulai mengajar hari itu juga. Apa anda bersedia?" Suara di seberang sana memberitahu.

"Tentu saja saya bersedia." Taehyung menyahut cepat.

"Kalau begitu besok anda tidak perlu datang ke kampus. Anda bisa langsung mendatangi SMA tersebut karena kepala sekolah mereka menginginkan anda untuk langsung datang menemui beliau. Anda sudah tahu tempatnya, kan?"

"Baiklah, saya mengerti dan terima kasih untuk informasinya."

"Sama-sama saudara Kim. Semoga masa magang anda berjalan dengan lancar. Selamat siang."

"Ya, Terima kasih dan selamat siang."

Tut tut tut

Panggilan terputus.

Taehyung hanya tak menyadari jika benang merah tak kasat mata dijari kelingkingnya telah semakin kuat mengikat. Dan darisanalah kisah cinta yang sesungguhnya akan dimulai.

.

.

Jungkook menuruni anak tangga dengan begitu tergesa untuk menghampiri sang kakak yang sudah duduk manis di ruang makan.

Hari ini dia bangun kesiangan lagi untuk yang kesekian kalinya. Sebenarnya itu sudah menjadi agenda rutin setiap hari karena memang Jungkook tak mengenal yang namanya bangun pagi.

"Pagi, hyung." Sapa Jungkook pada sang kakak yang sedang mengoleskan roti panggang dengan selai coklat.

"Pagi juga, sayang." Jawab Soekjin dan kemudian meletakkan seporsi roti panggang yang telah ia olesi selai coklat tadi di depan Jungkook.

Jungkook segera menyambarnya tanpa permisi. Mengunyah terburu-buru hingga tak sadar sang kakak tengah menatapnya dengan menggelengkan kepala. Terlalu kebal dengan tingkah kekanak-kanakkan Jungkook.

"Makanlah perlahan, kau bisa tersedak nanti." nasihat Seokjin.

"Uhukkk-uhhukkk." belum ada satu detik Seokjin memperingati, nyatanya Jungkook benar-benar tersedak roti yang ia kunyah tadi.

"Dasar kelinci nakal. Lain kali cobalah untuk bangun lebih awal, Kook. Jadi kau tak akan takut datang terlambat seperti yang kau lakukan setiap hari." Meski mengomel, Seokjin dengan telaten menyodorkan segelas susu untuk sang adik dan menepuk pelan punggung Jungkook.

Jungkook meminum susunya dengan rakus berharap potongan roti yang membuatnya tersedak tadi bisa segera tertelan. Tak lucu saja jika dia dinyatakan tewas tersedak seperti kasus-kasus yang pernah ia tonton di siaran berita TV.

"Aku bukannya tak mencoba hyung, hanya saja mataku tak bisa diajak kompromi untuk bangun pagi." Jungkook berujar setelah sempat mengatur nafas pasca tersedak tadi.

"Tentu saja matamu tak bisa diajak kompromi jika yang kau lakukan adalah bermain game di ponsel hingga larut malam." Seokjin itu tahu jika Jungkook hanya mencari alasan saja.

Pada dasarnya Jungkook itu pemalas. Melakukan sesuatu sesuka hatinya sendiri tanpa peduli resiko yang menanti. Termasuk menghabiskan waktu untuk bermain game hingga melupakan segalanya. Bahkan terkadang Seokjin harus menegurnya untuk sekedar mandi atau makan. Maklum saja, anak bontot yang terlalu dimanja memang selalu seenak jidatnya sendiri.

"Hehe...aku berangkat hyung. Takut terlambat." pamit Jungkook dan bangkit dari duduknya, mengecup sekilas pipi sang kakak setelahnya berjalan menuju pintu utama.

"Tsk. Kau jelas sudah terlambat dan masih bisa bilang takut terlambat." Seokjin menyindir.

"Setidaknya aku berusaha untuk pura-pura datang tidak terlambat, hyung. Aku pergi dulu, sampai jumpa nanti." Jungkook melambaikan tangan pada sang kakak dengan riang.

"Hati-hati dijalan." Teriak Seokjin karena adiknya sudah menghilang dari balik pintu.

.

.

Sesuai rencana, senin yang telah di janjikan akhirnya tiba juga. Kim Taehyung, si mahasiswa magang telah duduk dengan nyaman di kantor milik kepala sekolah SMA Bangtan.

"Jadi anda yang namanya Kim Taehyung, mahasiswa yang ditugaskan magang di sekolah ini?" Jung Hoseok, selaku kepala sekolah bertanya pada seorang pemuda tampan yang tengah duduk berhadapan dengannya.

"Ya saem, saya Kim Taehyung dan untuk enam bulan ini akan sangat merepotkan anda. Jadi mohon bantuannya, Jung saem." Taehyung berdiri dan membungkukkan badan sejenak dan di ikuti oleh yang lebih tua. Kedua tangan itu berjabat dan saat itu pula di mulailah masa magang seorang Kim Taehyung.

"Selamat datang di sekolah kami, Taehyung-ssi dan semoga anda betah menjalani masa magang di sekolah ini. Mohon bimbingannya juga untuk murid-murid kami." Hoseok beramah-tamah dengan sang guru magang dengan menyunggingkan senyuman hangat.

"Terima kasih, Jung saem. Saya akan mengusahakan yang terbaik." Taehyung ikut tersenyum ramah dengan Jung Hoseok yang menepuk bahunya dua kali memberi semangat.

"Ya. Titip anak-anak Taehyung-ssi." pesan Hoseok dan diangguki oleh Taehyung.

Setelah selesai dengan urusan kepala sekolah dan pamit undur diri. Seperti yang telah di jadwalkan, hari ini Taehyung mendapatkan tugas untuk mengajar jam pertama di kelas 3-2.

Maka disinilah Taehyung sekarang, berdiri di depan pintu kelas dengan tangan yang terulur untuk memutar knop pintu di handapannya. Menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan guna mengurangi rasa gugup yang melanda. Dalam hati ia berdoa semoga hari pertamanya magang bisa berjalan dengan baik dan sesuai rencana.

Cklek!

Pintu kelas yang tiba-tiba terbuka membuat para siswa yang ada di dalam kelas 3-2 diam seketika dan duduk tenang di kursi masing-masing. Hal yang biasa di lakukan karena para siswa hafal di luar kepala jika jam pelajaran sudah akan segera di mulai bersamaan dengan guru yang masuk.

Namun itu hanya berlangsung sementara karena percaya atau tidak, para siswa dan siswi itu mulai kembali membuat keributan dengan berbisik satu sama lain. Terang saja jika yang mereka lihat adalah seorang pria tampan dengan tinggi badan di atas rata-rata tengah berdiri didepan kelas dan memandang pada seluruh penghuni kelas.

"Woah, apa dia model? kenapa bisa tampan sekali?" seorang sisiwi berkomentar.

"Daebak! dia benar manusia? bagaimana manusia bisa memiliki wajah dan tubuh yang begitu sempurna?" siswi lain menyahut.

"Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam?"

"Bagaimana bisa pria seindah itu ada di sini? apa dia adalah malaikat yang turun dari surga?"

"Sudahkah dia memiliki kekasih? aku akan menjadi yang pertama mendaftar jika belum."

Lain halnya dengan para siswi yang sibuk memuji, lain pula para siswa yang menyindir karena merasa tersaingi.

"Tampan apanya. Aku bahkan seribu kali lebih tampan, paling dia melakukan operasi plastik agar terlihat mirip dengan salah satu anggota BTS."

"Tingginya bahkan hampir mencapai dua meter, apa dulu saat mengandung ibunya ngidam tiang listrik?"

"Malaikat pantatku. Terkadang wajah bisa menipu, lihat saja dia pasti adalah jelmaan iblis."

"Aku yakin 69 persen dia adalah seorang pemain wanita."

"Kenapa harus 69. Bukankah lebih lebih meyakinkan dengan 100 persen?"

"Suka-sukaku! jika aku menyukai posisi 69, mau apa kau?!"

Merasa suasana kelas mulai memanas, si pria tampan berdehem keras mencoba menenangkan keributan yang terjadi.

"EKHEM !"

Tak sia-sia karena detik kemudian para siswa-siswi mulai mengalihkan perhatiannya ke depan kelas. "Selamat pagi, anak-anak!" pria itu mulai menyapa.

"Selamat pagiii juga, tampan~!" itu para siswi yang menyahut karena para siswa hanya mampu memandang malas pada pria tampan di depan sana yang resmi mereka anggap sebagai saingan.

Tak peduli dengan jawaban nyleneh dan tatapan memuja dari semua siswi, maka si pria tampan kembali membuka mulutnya. "Kalian pasti bingung kenapa saya ada disini, benar?"

"NEEEE...!" sekali lagi hanya para siswi yang menjawab antusias.

"Sebelumnya perkenalkan, nama saya adalah Kim Taehyung dan selama enam bulan ke depan saya bertugas sebagai guru magang di kelas kalian. Jadi saya harap kalian bisa membatu dan mengikuti pelajaran saya dengan baik." Taehyung memperkenalkan diri panjang lebar.

"Kenapa enam bulan, saem?"

Pertanyaan dari seorang siswi yang mengangkat tangan membuat Taehyung mengernyitkan alis bingung. "Apa maksudnya?"

"Maksud saya kenapa hanya magang enam bulan, saem. Selamanya juga kami tidak masalah." dan penjelasan itu sukses membuat para siswi mengangguk setuju dengan tersenyum manis ke arah Taehyung.

Sementara itu Taehyung hanya mampu tersenyum kaku. 'Astaga! apa seperti ini kelakuan remaja zaman sekarang? benar-benar pandai mengombal.'

"Itu karena memang masa magang hanya di tetapkan selama enam bulan. Jadi apa masih ada yang ingin di tanyakan?"

Seorang siswi berambut panjang mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Apa saem sudah memiliki kekasih?"

Brak!

Taehyung sudah akan membuka mulut untuk menjawab jika saja pintu masuk kelas tidak di banting dengan keras hingga membuat semua penghuninya terjengkat kaget.

Sama halnya dengan Taehyung, tapi pria itu tak hanya kaget namun juga hampir mengeluarkan jantungnya kala melihat penampakan seorang pemuda berambut coklat terang tengah berdiri diambang pintu kelas.

Syok dan hampir lupa caranya bernafas. Karena demi Tuhan, sosok di ambang pintu itu adalah sosok yang ia cari dan nanti selama satu minggu terakhir ini.

Dia Jeon Jungkook.

Taehyung yakin seribu persen bahwa matanya masih sehat dan dia tak mungkin salah mengenali orang karena seluruh yang ada pada pemuda cantik bermarga Jeon itu sudah ia hafal di luar kepala. Gila memang, tapi begitulah kenyataan yang ada.

Tapi kenapa Jungkook ada disini?

Kenapa penampilannya berbeda 180 derajat dengan satu minggu lalu? berantakan dan terlihat seperti brandalan. Jangan lupakan juga setangkai permen lolipop yang bersarang nyaman di dalam mulutnya serta beberapa tindik yang terpasang pada dua daun telinga Jungkook. Kemana perginya Jungkook yang ia lihat satu minggu yang lalu?

Dan lagi, apa-apaan dengan seragam SMA yang pemuda kelinci itu kenakan?

Taehyung menatap lekat-tekat pada si Jeon yang juga sedang menatapnya melotot tak kalah terkejut. Iris mereka bertemu, detik kemudian saling menunjuk satu sama lain dan bersiap membuka mulut hingga akhirnya mereka...

"KAUU! / KAUU!"

...berteriak kompak.

.

.

.

.

Bersambung

Ohoo...akhirnya mereka bertemu lagi…

Jangan lupa foll, fav dan reviewnya ya...thk's