PARIS : Rise Of The Demon

Chapter 3

Baekhyun De' Ambriosa

.

.

.

.

.

Enjoy

.

.

.

Chanyeol POV

Baekhyun adalah ambrosia? Baekhyun adalah ambrosia? Tapi ambrosia... bagaimana mungkin? Apa Baekhyun sendiri bukanlah manusia seutuhnya? Pertanyaan-pertanyaan ygsama seperti itu terus terulang dalam benakku. Seperti kaset rusak, kejadian sore tadi saat Baekhyun berada di hadapanku dengan aroma segar menguar dari tubuhnya juga terus berputar di kepalaku. Malam ini, untuk yg pertama kalinya dalam hidupku, aku seperti tidak membutuhkan sex.

Tubuhku meringkuk di atas ranjang yg terasa dingin ini, sendirian. Mataku tak berkedip hampir selama satu jam yg lalu, aku tidak berbohong. Hey apakah ini wajar? Apakah manusia pada umumnya akan jadi seperti ini bila merasakan suatu perasaan yg sangat ganjil dalam hatinya? Tapi manusia biasa kurasa tidak sampai lupa tujuan hidupnya bila merasakan perasaan yg sama sepertiku sekarang, penasaran. Penasaran setengah mati sampai rasanya aku ingin terbang ke rumah Baekhyun sekarang juga dan bertanya bagaimana tubuhnya bisa mengeluarkan aroma seperti ambrosia. Atau aku akan langsung menarik dan mengikatnya keranjangku. Minta ia memuaskanku sampai aku bisa menciumi seluruh kulit wanginya itu dan membuatnya mendesah.

Astaga demi dewi Nike, apa aku sudah gila? Baekhyun adalah seorang lelaki. Aku menarik rambutku kuat-kuat sampai segumpal benda berwarna hitam itu terlihat memenuhi ia tumbuh kembali seperti semula. Aku lakukan itu berulang kali sambil berteriak. Aku sudah kehilangan akal sehatku. Seseorang tolong aku. Aku menginginkannya. Aku ingin ambrosia itu. Aku ingin Baekhyun.

Belum pernah ku dengar ambrosia dalam wujud manusia. Lalu pria bernama Baekhyun itu apa? Mungkinkah dia bukan manusia? Apa dia dewa? Siapa dia sebenarnya? Kalau saja aku sedang berada di Budapest mungkin aku bisa bertanya pada iblis disana. Ah ya benar, kenapa aku tidak bertanya pada iblis kawan lamaku. Kenapa ada ambrosia dalam wujud manusia.

Tetapi sesuatu menghentikan langkahku, sebuah memori mungkin. Ingatan akan masa lalu. Ya benar, wajah Baekhyun tidak asing. Aku baru menyadari seperti pernah melihat dia sebelumnya. Tapi dimana? Kapan? Di mimpi atau kehidupanku yg mana? Kasus seperti ini mungkin pernah terjadi di kerajaan langit. Beribu tahun para tetua budapest juga hampir pernah memecahkan masalah ini namun entahlah, aku tidak begitu mengikuti perkembangannya. Aku harus menemui Maddox, mungkin dia tahu sesuatu.

Setelah kupikir lagi, aku mengurungkan niatku untuk bertanya pada iblis. Iblis selalunya ingkar dan berbohong. Memang kami adalah komplotan namun aku tidak bodoh dengan begitu dapat mempercayai makhluk itu. Ya aku memang sejenis iblis namun kami para penguasa lebih tinggi kedudukannya. Jadi iblislah yg harus tunduk pada kami. Benar begitu.

Dimana aku bisa menemui Maddox? Bentuknya seperti apa kini aku pun tidak tahu. Sama sepertiku dia adalah penguasa kegelapan yg suka hingar bingar. Bedanya ia setia pada satu istri sementara aku tidak punya istri. Jika memikirkannya lagi, aku akan sering bertanya padanya. Apa itu istri? Lalu dia akan menendang bokongku kuat-kuat. Bodoh pikirnya. Tapi itu sudah sangat lama. Maddox bisa saja sepertiku, menyamar dan hidup di antara manusia. Aku bisa mencarinya keseluruhpenjuru negri atau dunia sekalipun. Tapi itu butuh waktu, sementara aku menginginkan namja ambrosia itu sesegera mungkin.

Dan Maddox pernah mengatakan padaku sekali waktu dulu. Jangan percaya begitu saja pada kenikmatan yg belum nyata. Para dewa tentunya lebih pintar dari pada kami. Baekhyun bisa saja adalah sebuah taktik yg mereka siapkan untuk menangkap kami para penguasa kegelapan. Jadi aku semestinya menyelidiki dulu dan tidak bertindak gegabah.

Author POV

Pagi ini seperti biasa Baekhyun akan menunggu di halte bis untuk pergi ke kantornya. Hujan kemarin malam masih menyisahkan beberapa butiran air di kursi halte ini juga serpihan kenangan. Sehun orang yg baik dan lucu. Andai mereka tidak bertemu di ruang tunggu rumah sakit milik Sehun dan berteman baik setelahnya, Baekhyun tidak tahu apa yg terjadi padanya saatini.

Katakanlah Baekhyun gila karna memiliki sebuah perasaan pada seorang pria, sama seperti dirinya. Namun Baekhyun memang sudah gila saat ia sadar kalau dia adalah penyuka sesama jenis. Faktanya Sehun telah membuat akal sehatnya perlahan pulih kembali, membuatnya mengingat pijakan kakinya dan tidak berakhir di jalanan karna stress menghadapi dunia yg keras. Perhatian yg Sehunberikan Baekhyun anggap sebagai suatu getaran cinta yg mengisi bentang luas relung hatinya. Hatinya yg telah berontak pada kepura-puraan pabila ia masih ingin dianggap normal. Iasudah tidak berada dalam garis itu lagi sekarang. Mulai sekarang ia sudah putuskan. Ia gay, mengerti?

Namun ia tetap menutup celah kecil itu untuk siapapun. Sehun adalah yg utama. Jika Sehun tahu Baekhyun menyukainya, maka tamatlah sudah. Sehun masih normal rasanya, ia menganggap Baekhyun sebagai kakak laki-laki karna Sehun adalah pria yg kesepian tanpa saudara dan orang tua. Beruntungnya dia kaya jadi hidupnya tak serumit Baekhyun. Kalau Sehun tahu perasaan Baekhyun padanya maka Baekhyun tidak akan bisa melihat senyuman tulus lelaki itu lagi. Jadi biarlah begini untuk waktu yg entah sampai kapan. Dengan begini Baekhyun bisa selalu dekat dengan namja itu walau ia tahu pasti suatu hari Sehun tetap akan menikah dengan seorang wanita. Karna Sehun adalah pria normal

Lamunan Baekhyun terhenti saat sebuah mobil berhenti tepat di depannya. 'Siapa?' pikirnya. Apa Sehun? Tapi mobil itu berbeda dengan mobil milik Sehun. Perlahan kaca mobil terbuka dan menampilkan sosok angkuh yg menatap lurus kejalanan di depannya.

"Oh astaga."

"Masuk."

Baekhyun mematung, apa dia yang di ajak bicara barusan? Lama tak memberi respon sang empunya mobil juga ikut bungkam. Sehingga Baekhyun tidak merasa terpanggil untuk melaksanakan perintah itu.

"Kubilang masuk kedalam mobilku, Baekhyun-ssi. Kau tidak dengar aku?" pria itu menoleh.

Wajahnya terkena bias cahaya mentari pagi, oh satu kata. Tampan. Kaca mata hitam yg besar menutupi mata kuatnya, apa Baekhyun tengah terpana? Ya, dan wajahnya jadi sangat jelek.

Pria itu keluar dari mobilnya dan menarik Baekhyun secara paksa. Membukakan pintu mobil lalu menyuruh Baekhyun untuk masuk. Kasar sekali. Ia kembali ke kursi kemudi sambli membanting pintu dengan keras. Baekhyun hanya mampu menatap atasannya itu yg bertindak sembrono namun aneh. Apa ini suatu bentuk kemurahan hati seorang Park Chanyeol? Woaa ternyata dia bisa bermurah hati.

"Kenapa sulit sekali menyuruhmu masuk kedalam mobil? Kau tuli?" suara bariton itu memecah keheningan. Baekhyun terhenyak, lamunannya akan jalanan di depan kembali buyar.

"Maafkan aku, sajangnim."

Chanyeol mendecih, ia sempat kesal namun emosinya dapat di redam. Perlahan ia dapat kembali mencium aroma itu. Aaaah... mengambil nafas sedalam-dalamnya, menikmati ambrosia paginya yg dapat membuatnya makin teler. Seperti biasa, ambrosia selalu membuat libidonya naik. Baekhyun sedari tadi tidak menyadari, bahwa apa yg ada dibalik celana Chanyeol telah menegang sepenuhnya. Chanyeol meremas kemudi, ia sudah tidak tahan. Matanya mencuri pandang ke arah Baekhyun tidak nyaman.

Sekali lagi, dan seterusnya begitu pria itu kembali meraup udara sebanyak-banyaknya. Udara yang segar dan wangi berkat kehadiran Baekhyun di dalam mobilnya. Tiba-tiba Baekhyun terkejut bukan main saat Chanyeol menaikkan kecepatan. Mobil itu melaju dan melesat sampai tak bisa terlihat. Baekhyun duduk tak nyaman dikursinya, ia belum ingin mati

."P-park sajangnim, hati-hati." peringat Baekhyun bergetar.

Bagi Chanyeol suara Baekhyun yg bergetar karna ketakutan itu malah terdengar seperti desahan yg indah nan sexy di telinganya. Ia semakin horny, hidungnya tak henti bergerak memasukkan udara yg bebeda itu kedalam paru-parunya. Tanpa Baekhyun sadari, mereka telah sampai di depan kantor mereka. Lelaki itu mengelus dadanya, yg barusan itu merupakan pelatihan jantung atau Chanyeol memang sudahgila ingin mati bersamanya? Cih, Baekhyun tidak sudi. Kalau mau mati, jangan mengajak dirinya.

"Kau, ce-cepat turun."

Baekhyun mengangguk, seharusnya ia yg ketakutan kenapa suara Chanyeol yg terdengar bergetar? Aneh

"Tunggu."

Tangan besar milik Chanyeol menghentikan Baekhyun, ia menatap tangan itu. Chanyeol terdiam di tempatnya, bibirnya tak bergerak sama sekali dan tak menunjukkan kalau dia akan mengatakan sesuatu. Baekhyun bertanya namun Chanyeol tidak menjawab. Pria itu menatap Baekhyun tanpa berkedip lalu tiba-tiba ia meremas lengan Baekhyun dengan kuat membuat Baekhyun terheran.

"Sajangnim, apa kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun khawatir. Wajah Chanyeol memerah, apa ia sakit?

"Kau boleh pergi."

Merasa kebingungan, tapi Baekhyun hanya mengedikkan bahunya lalu membuka pintu mobil. Chanyeol sendirian. Tak lama ia menciumi telapak tangannya yg sempat mencengkram lengan Baekhyun tadi. Memejamkan kedua matanya rapat-rapat, menikmati birahi menguasai seluruh sel tubuhnya berkat aroma yg tertinggal di tangannya itu. Aaah... sungguh nikmat. Bahkan ambrosia pada umumnya tidak senikmat ini. Kedua lensa matanya kini sudah berubah warna menjadi biru terang. Ia juga yakin tato di punggungnya juga sudah bereaksi. Birahinya semakin menjadi-jadi, tangannya turun kebawahdan mengelus penisnya perlahan. Tak lama meremasnya dan mencium tangan itu lagi. Ia lakukan itu berulang sambil membayangkan wajah Baekhyun

"Aku bisa saja memperkosanya tadi." Chanyeol mengerang.

Ia butuh dipuaskan di atas ranjang sekarang juga. Ia ingin Baekhyun yg melakukannya, persetan apakah Baekhyun itu perempuan atau laki-laki karna menurutnya sama saja. Baekhyun terlihat seperti perempuan dengan wajah imutnya itu. Untuk beberapa saat, Chanyeol menikmati aroma Baekhyun di dalam mobil sambil bermain dengan birahinya.

.

.

.

Baekhyun membawa nampan berisi makanannya ke salah satu sudut kantin. Hari ini ia sangat kelaparan karna belum sempat sarapan tadi pagi. Jadi saat jam makan siang ini ia ingin makan seperti orang gila dan memanjakan perutnya. Di tengah asik menyantap makanan, ia terpikir akan sosok Chanyeol. Pria itu memang aneh. Perubahan sikapnya membuat Baekhyun bingung dan jujur, ia sedikit takut. Suatu waktu Chanyeol akan bersikap dingin dan kejam seperti biasa, suatu waktu dia bisa jadi sangat baik namun tetap memegang teguh sifat angkuhnya, dan tak jarang dia berubah menjadi pria aneh yg dirasa Baekhyun dapat menelanjanginya kapan saja. Baekhyun bergidik ngeri.

"Hai Baekhyun." sapa seseorang membuat Baekhyun tersadar dari lamun.

"Oh, hai. Mau duduk di sini?" tawar Baekhyun, wanita itu mengangguk.

Baekhyun tersenyum dan melanjutkan makannya.

"Kau sudah bekerja beberapa hari ya disini, kau hebat bisa bertahan. Selamat." Baekhyun terkikik setelahnya, mengundang tanya dari sang wanita bernama Wendy itu.

"Aku rasa itu bukanlah suatu hal yg perlu diberi ucapan selamat, Wendy-ssi. Aku juga tidak percaya bagaimana aku bisa bertahan.

"Wendy mengangguk, ia menatap Baekhyun intens dan penuh arti.

"Itu karna kau hebat, Baekhyun."

"Ah, tidak juga. Oh iya dimana Park sajangnim? Aku tidak pernah melihatnya makan di kantin ini."

Pertanyaan Baekhyun membuat Wendy menghentikan aksi mengunyahnya, ia buru-buru menelan makanannya dan melihat sekeliling memastikan sesuatu. Baekhyun hanya menatapwanita itu heran.

"Aku tidak tahu apakah kau akan mempercayai ini Baekhyun, tapi kurasa Park sajangnim bukanlah manusia."

Baekhyun menautkan alisnya. Apa maksud Wendy Park Chanyeol bukanlah seorang manusia?

"Maksudmu?"

Wendy melihat sekeliling lagi, kali ini memajukankepalanya berusaha membuat suaranya lebih kecil.

"Ku rasa dia adalah vampir, aku tidak pernah melihatnya makan selama aku bekerja disini. Begitu juga karyawan lain. Dia tidak pernah makan."

Baekhyun menahan tawa, berkatnya ia hampir tersedak. Wendy memukul tangan Baekhyun pelan.

"Aku serius!"

"Jangan berkata hal yg tidak-tidak Wendy-ssi. Tidak ada yg namanya vampir di dunia ini. Ayo lanjutkan makanmu. Kita lupakan masalah yg tadi. Anggap saja aku tidak pernah bertanya apa-apa."

Baekhyun masih cekikikan, membuat Wendy berdecak itu diam-diam mengamati Baekhyun, namja itu sangat manis, pikirnya. Wendy memainkan sumpitnya dan menutupi senyumannya dibalik mulut yg terus mengunyah.

"Apa kau suka kentang, Baekhyun?"

Baekhyun mengangkat kepala, tidak lagi fokus pada telur gulungnya. Ia mengangguk girang setelah itu Wendy memberikan potongan kentang miliknya ke nampan milik Baekhyun.

"Ah, terimakasih Wendy-ssi." Baekhyun tersenyum dan melanjutkan makannya.

Wendy tersenyum kecut setelahnya, Baekhyun masih memanggilnya dengan sebutan sangat formal. Padahal ia sudah berusaha agar setidaknya mereka seperti sudahmengenal satu sama lain. Tapi gagal, Baekhyun sangat sulit di dekati.

"Keberatan jika aku bergabung?" Suara berat itu mengejutkan dua orang yg tengah makan, begitu juga seisi kantin. Pasalnyauntuk yg pertama kalinya manusia bernama Park Chanyeol itu menginjakkan kakinya di tempat itu. Bahkan ada karyawan yg shock, apa yg Chanyeol lakukan disini?

"Nona Wendy, keberatan jika aku meminjam kursimu untuk duduk?"

Wendy terperangah, masih setengah percaya namun akhirnya ia membungkuk dan memindahkan nampannya. Baekhyun hanya diam di kursinya menyaksikan bagaimana manusia super elegan itu duduk. Cara duduknya berbeda, apa karna keangkuhannya itu jadi kelihatan berbeda

"Apa yg kau lihat Baekhyun? Lanjutkan makanmu." perintah Chanyeol sambil membaca bukunya.

"Ah, iya."

Baekhyun sangat ingin melaksanakan perintah Chanyeol namun sayangnya nafsu makannya hilang saat Chanyeol ada disisinya. Setelah menimang-nimang sumpitnya, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.

"Apa yg kau lakukan disini, sajangnim?"

Chanyeol berhenti dari aktivitasnya membaca buku, awalnya ia memegang teguh ekspresi datarnya sampai satu titik dimana matanya terlihat berlarian entah karna apa. Ia meletakkan bukunya diatas meja dan menatap Baekhyun.

"Aku.. hanya sedang bosan berada di ruanganku. Aku butuh penyegaran dan aku tidak begitu mengenal karyawan disini selain kau. Jadi, apa kau keberatan aku menghampiri mejamu dari sekian banyak meja di tempat ini?" Chanyeol berujar panjang lebar tanpa jeda membuat Baekhyun bingung harus berkata apa.

"Tidak, sajangnim." akhirnya ia tersenyum dan melanjutkan makannya. Begitu juga Chanyeol yg membuka kembali bukunya yg sebenarnya ia sendiri tidak tahu judul dari buku tersebut. Ia mengambilnya asal dari rak di ruangannya tadi.

"Dasar aneh.." gumam Baekhyun pelan, sangat pelan. Bahkan hampir tidak terdengar karna ia masih mengunyah makanannya. Chanyeol menatap Baekhyun sesaat.

"Aku dengar itu Baekhyun." Baekhyun terperanjat, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"ya? Tidak. Maafkan aku sajangnim."

"Apa anda tidak makan, sajangnim?"

Pertanyaan itu membuat Chanyeol salah tingkah, ia membenarkan posisi duduknya agar merasa nyaman. Lalu berdehem dan mengggaruk tengkuknya. Baekhyun dibuat Baekhyun karnanya, apa susahnya menjawab pertanyaan itu?

"Aku tidak.. maksudku aku.. sudah kenyang. Kaumakan saja."

Lelaki mungil itu mengedikkan bahunya acuh, tidak ada yg perlu di tanyakan lagi. Tugasnya sekarang hanyalah memasukkan semua makanan lewat mulutnya dan merasa kenyang. Itu tidak sulit. Sementara diseberang meja Chanyeol menatap Baekhyun tiada henti. Perlahan, ia menarik ujung bibirnya. Ia suka melihat Baekhyun makan. Bahkan saat manusiayg satu ini makan ia terlihat semakin menarik. Chanyeol menopang dagunya dengan tangannya, merasa nyaman dengan posisi seperti ini untuk mengamati Baekhyun dari dekat. Sedari tadi ia juga tengah menikmati aroma ambrosia yg ia yakini berasal dari rambutkecoklatan milik Baekhyun. Aroma yg menguar setiap kali Baekhyun menggerakkan kepalanya dan rambutnya menjadi saling bergersekan. Indah sekali.

"Untuk ukuran seorang lelaki, kau sangat wangi. Baekhyun." pertanyaan tiba-tiba Chanyeol membuat Baekhyun mendongakkan kepalanya kembali. Ia terdiam dengan makanan memenuhi mulutnya, lalu buru-buru mengunyahnya agar ia bisa berbicara.

"Aku tidak pernah memakai parfum, sajangnim. Terlalu boros." Chanyeol mengangguk. Jadi aroma yg memabukkan itu bukan dari parfum atau sejenis minyak wangi lainnya. Tapi memang berasal dari kulit Baekhyun. Ajaib.

"Baekhyun, jangan pernah panggil aku sajangnim lagi. Telingaku sakit mendengar kau menyebutnya."

"Kenapa?"

"Tidak ada alasan dan tidak ada penolakan. Panggil aku Chanyeol. Mengerti?" perintah Chanyeol tegas.

"Tapi orang lain akan berpikir kalau kita sudah saling mengenal satu sama lain lebih jauh."

Chanyeol menatap Baekhyun, "Memang itu yg ku inginkan."

Baekhyun menelan salivanya secara paksa. Suasana tiba-tiba berubah jadi aneh.

"Tapi sajangnim, aku masih merasa tidak enak. Karyawan lain akan.."

"Astaga lakukan saja. Apakah itu susah?" Baekhyun terdiam, ia menelan makanannya untuk yg terakhir kali.

"Tidak, Chanyeol."

Lelaki tinggi itu tersenyum, ia kembali menyusun sebuah pertanyaan yg akan ia lontarkan namun tiba-tiba ia teringat akan kotak pandora. Ia merinding. Menatap Baekhyun dengan tatapan benci dan tidak suka. Bagaimana mungkin ia bisa lupa dengan rencananya kemarin?

"Baekhyun, siapa kau sebenarnya?"

Kedua mata sipit itu tidak berkedip, berusaha memproses pertanyaan yg Chanyeol lontarkan dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah pertanyaan yg asing dan rumit.

"Aku Byun Baekhyun." jawabnya polos.

Apakah benar ia polos? Atau itu hanya sekedar taktik? Chanyeol menerawang dan terus menerawang jauh kedalam retina milik Baekhyun, mencoba mencari sebuah kebohongan disana. Namun nihil. Yg ada hanya tatapan bingung dan naif.

"Dari mana asalmu? Dimana kau tinggal? Siapa orang tuamu? Berapa lama kau tinggal di tanah ini?"

Baekhyun dibuat semakin bingung, sifat aneh Chanyeol telah kembali.

"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu sajangnim?" tanya Baekhyun menyulut emosi Chanyeol.

"JAWAB SAJA PERTANYAAN KU!" teriak Chanyeol menggebrak meja membuat seisi kantin gempar.

Para karyawan yg ketakutan memilih meninggalkan kantin satu demi satu sampai tempat itu kosong bahkan staf yang berjaga juga pergi. Chanyeol dan Baekhyun masih duduk berdua di meja mereka. Chanyeol baru menyadari kalau Baekhyun seutuhnya manusia saat dilihatnya sepercik rasa dalam bola mata Baekhyun. Perasaan yg lazim ada pada diri manusia. Rasa takut. Kini ia yakin sepenuhnya kalau Baekhyun tidak ada kaitannya dengan para dewa ataupun kotak pandora.

"Maaf."

Baekhyun masih terdiam dan membeku di kursinya. Chanyeol berusaha meredam emosinya dan menatap Baekhyun yg terlihat mengenaskan. Dia ketakutan.

"Maaf, kupikir kau.." Chanyeol tidak sanggup melanjutkan kalimatnya saat dilihatnya perlahan kepala Baekhyun tertunduk. Aroma ambrosia juga dirasanya tidaksekuat tadi, membuat Chanyeol untuk yang kesekian kalinya berteriak dalam hati bahwa ia yakin aroma itu berasal dari tubuh Baekhyun. Chanyeol menatap prihatin, baru kali ini ia merasa bersalah karna telah membuat anak manusia takut. Membuat para manusia ketakutan adalah kesenangannya dulu tapi sekarang ia bahkan tidak tega untuk meninggikan suaranya lagi. Mungkinkah Chanyeol telah.. jatuh hati?

"Baekhyun, tatap aku." titah Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun perlahan. Ia melihat kedua manik itu berkaca-kaca, sebenarnya Baekhyun ingin menangis namun mengapa wajahnya jadi sangat indah dimata Chanyeol? Ia berusaha tersenyum selembut mungkin, meyakinkan bahwa ia tidak berbahaya,ia tidak akan memakan manusia.

"Maaf telah membentakmu. Aku tidak bermaksud membuatmu takut."

Bibir Baekhyun sedikit terbuka dan bergerak pelan, hendak berucap namun ia mengurungkannya. Hal itu justru dilihat Chanyeol sebagai pembangkit libidonya. Bibir tipis berwarna pink nan sensual itu membuatnya tidak bisa berhenti menatap benda itu. Cukup lama berhenti di bibir Baekhyun, mata Chanyeol kembali bertemu dengan mata namja itu. Ia menelam salivanya kasar, ia sudah tidak tahan. Tiba-tiba ia menarik tangan Baekhyun dan membawanya pergi dari kantin yg sudah sepi.

Chanyeol membawa Baekhyun ke ruangannya dengan sangat lembut, berbeda sekali dengan apa yg ia lalukan saat menarik Baekhyun di halteuntuk masuk ke dalam mobilnya. Sementara Baekhyun hanya mampu menurut dan tidak tahuharus berbuat apa. Entahlah ia tiba-tiba menjadi seperti orang dungu. Ia tidak dapat menolak tindakan Chanyeol dan merasa seperti di sihir. Chanyeol terlalu tampan untuk di di ruangan itu, sikap Chanyeol berubah 180 derajat. Ia membanting pintu dan menguncinya. Nafasnya memburu dan mendekati Baekhyun yg berdiri di sisi tembok dengan tatapan tajam. Tiba-tiba ia menghimpit tubuh Baekhyun dengan kuat membuat Baekhyun berteriak dan kembali merasa takut. Kedua tangannya mengunci pergerakan tubuh Baekhyun di tembok. Ia menatap Baekhyun tanpa berkedip sambil mengatur nafasnya.

"Baekhyun.. Anggap... anggaplah aku sudah gila. Aku sedang sakit dan aku sangat membutuhkan obat. Maukah kau membantuku?"

nafas Chanyeol terengah, ia berusaha menyelesaikan kalimatnya dengan nafas yg membuat Baekhyun khawatir. Baekhyun pikir Chanyeol akan segera mati karna nafasnya sangat pendek.

"Chanyeol kau kenapa? Apa yg terjadi? Kau baik-baik saja?"

Chanyeol terpejam, mendengar suara Baekhyunyg halus membuatnya semakin horny. Hidungnya kembali membaui aroma yg memabukkan itu. Wajahnya semakin merah.

"Ti-tidak, aku sakit dan butuh obat."

"Apa.. apa yg bisa kulakukan untukmu? Apa obat yang kau butuhkan?"

Tatapan Chanyeol menjadi sayu, ia menjilat bibirnya dan fokus menatap bibir Baekhyun.

"Kau."

Perlahan, Chanyeol mendekati wajah Baekhyun yg memang sudah sangat dekat dengannya. Ia mengelus pipi Baekhyun membuat namja itu memejamkan matanya, ia senang Baekhyun menikmati sentuhannya. Bibirnya berhenti tepat bibir Baekhyun yg sedikit terbuka. Kepala Chanyeol sedikit bergerak untuk menghirup aroma dari dalam mulut Baekhyun. Surga. Chanyeol menghisap aroma itu layaknya menghisap ganja.

Setelahnya, ia langsung meraup bibir Baekhyun yg sudah sangat ia idam-idamkan. Baringas, penuh nafsu. Nafsu yg sudah tertahan selama beberapa hari. Mencium, menghisap, melumat, menggigit. Chanyeol seperti sudah kehilangan akal sehatnya. Bagaimana mungkin bibir Baekhyun menjadi candu baru baginya. Sementara tangannya juga tengah bergerilya di tubuh namja yg menggairahkan itu. Meremas seluruh bagian tubuh Baekhyun tanpa terkecuali, mengundang desahan tertahan dari Baekhyun.

"Aaaaah... Mmmmmhhh..."

Lenguhan Baekhyun semakin membuat Chanyeol gila. Sementara Baekhyun hanya mampu menikmati cumbuan panas yg tak terduga ini. Ia sendiri sedang berada di ambang surga saat ini. Saat Chanyeol meremas bokongnya dengan kuat membuatnya tak kuasa untuk tidak meremas rambut belakang Chanyeol.

Tak cukup sampai disitu, Chanyeol memeluk Baekhyun erat dan membawa lelaki itu untuk bercumbu di atas lantai. Chanyeol berada di atas Baekhyun, masih menikmati bibir yg membuatnya mabuk kepayang. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan berusaha mencarikenikmatan atas bibir Baekhyun. Memasukkan lidahnya dan bermain bersama benda tak bertulang milik Baekhyun itu. Tidak perduli apakah Baekhyun sudah hampir mati karna kehabisan nafas. Ia mulai beralih menciumi dagu dan turun ke leher Baekhyun. Oh godd kulit Baekhyun bahkan terasa manis di lidahnya. Ia tidak tahu Baekhyun terbuat dari apa yg jelas Baekhyun sangat menggairahkan.

"Kau ambrosiaku. Mulai sekarang kau jadi milikku."

bisik Chanyeol sensual dan menggoda di telinga Baekhyun. Ia menjilat dan mengulum daun telinga itu dan kembali menyesap aroma ambrosia dalam-dalam. Memberinya kekuatan dan birahi. Baekhyun hanya mammpu mengangguk pelan di sela erangan dan desahannya. Ia tak mampu berucap bahkan sekedar untuk membuka mata. Semua ini terlalunikmat, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia bagai di hipnotis, namun ia menyukainya. Ia adalah milik Chanyeol. Ia adalah milik Chanyeol. Itu tidak buruk.

Entah sudah berapa lama, yg jelas Chanyeol masih tidak bosan bergumul dengan benda kenyal milim Baekhyun itu. Sampai rasanya ia ingin begini selamanya, ia ingin menciumi Baekhyun sampai mati. Menjilati dan melumuri seluruh tubuh Baekhyun dengan air liurnya tanpa ada satu titikpun yg tersisa. Menciptakan tanda di sekujur tubuh Baekhyun dan mendengar namja itu mendesah hingga pagi menjelang. Tidak perduli apakah bibir Baekhyun sudah berdarah atau bengkak, yg jelas ia ingin menelanjangi dan meniduri tubuh Baekhyun saat ini juga.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

Haihai^^ aku balik lagi ngerepost ff karya kak Every_Twins

Rasanya lega banget dua hari libur, jadi bisa ngetik sama ngedit ff deh

See you next chap

Makasih buat yang sudah memfollow favotirite review dan menyempatkan membaca karya ini