.

.

.

Hide Your Heat

Story by : Hoshiyowoo

Ship(s) : Soonhoon, Meanie and other

Warning! : M-preg, BxB, Omegaverse, bahasa

vulgar, kekerasan, dll

Genre : terserah anda, saya bingung, yang pasti ada

romance .

Disclaimer : Seventeen belongs to pledis Ent and their

parents.

.

.

.

Wonwoo masih membungkus tubuhnya dengan selimut. Sudah setengah jam yang lalu ia sadarkan diri, namun berusaha untuk tetap diam di tempat. Entah malas atau taktik kuno untuk mengetahui sesuatu, karena di samping kamar mandi, Jihoon dan seorang laki-laki tengah cekcok. Ia tidak tahu pasti apa yang mereka masalahkan, tapi ia curiga bahwa mereka tengah membicarakannya, dilihat dari gerak-gerik laki-laki asing itu yang menunjuknya beberapa kali.

Aw aww! Wonwoo menggigit bibirnya ketika menggerakan punggung. Ini sakit. Tapi ia tidak tahu kenapa ia bisa merasa sakit. Seingatnya kemarin malam, ia tidak terjatuh atau dipukul seseorang. Malah semalam ia merasakan sesuatu yang nikmat sekaligus menakutkan. Ia tidak terlalu yakin apa yang terjadi. Mungkin karena ruangan yang gelap dan 'AH' Kim Mingyu?

Dahi Wonwoo mengerut, terlihat jelas siku-siku samar muncul diantara kedua alisnya. Ia kembali berpikir. Apa yang dilakukan Kim Mingyu disana? Pada malam itu. Bersama dirinya. Ciuman. Mereka berciuman. BERCIUMAN? DIA DAN KIM MINGYU?

GILA! INI GILA! BERITAHU WONWOO BAHWA INI SEMUA BOHONG! TIDAK MUNGKIN. APALAGI-APALAGI PERANNYA SEBAGAI SUBMISIF, HELL NO, WONWOO ITU DOMINAN!

Wonwoo berteriak dalam hati. Wajahnya memerah begitu mengingat kejadian demi kejadian semalam. Tangannya bahkan refleks memegang leher. Kemarin Kim Mingyu psiko itu juga sempat menggigitnya di beberapa tempat. Apa lehernya membiru? Wonwoo melirik ke arah Jihoon dan laki-laki tadi yang masih marah-marah. Jihoon pasti tahu apa yang sudah terjadi, tapi, apa laki-laki itu juga tahu? Wonwoo harap orang itu tidak tahu, Bisa malu dia!

Bicara soal laki-laki asing, Wonwoo jadi teringat seseorang semalam. Ia berdecak, matanya menyipit, sepertinya bukan seseorang tapi banyak berkelompok. Benar, ada banyak suara. Ia tak bisa melihat dengan jelas waktu itu karena membaca terlalu lama, yang pasti mereka melakukan hal yang tidak benar. Yang bahkan Wonwoo merinding ketika mengingat adegan yang di tontonnya lewat celah pintu.

Laki-laki penyuka buku itu menggeleng, kepalanya tiba-tiba pening. Apa iya sudahi saja pura-pura tidurnya? Lagipula tujuan awalnya melakukan ini tidak terwujud, ia tidak mengetahui apa yang dua orang itu bicarakan dan malah melamun. Dan lagi, untuk apa laki-laki itu masuk kamarnya.

Tunggu-tunggu. sepertinya kamar ini bukan kamarnya. Benar, selimut bunga matahari ini juga bukan miliknya. Dan seharusnya ada Kim Taewoo, teman sekamarnya, tapi kemana orang itu? Kemana juga Park Jongsoo, dan Lee Minhwan yang selalu berada di kamar mereka? Atap-atapnya berbeda, tidak ada foto-foto yang menempel di dinding kamar.

Wonwoo melirik sekali lagi kedua orang yang masih adu pendapat. Kemungkinan besar, ia berada di salah satu kamar mereka.

"Hyung! Kau sudah sadar!"

Wonwoo sontak menoleh ke arah kanannya. Seorang laki-laki, dengan seragam alpha, lebih muda karena memanggilnya hyung, berdiri di sampingnya dengan mata berbinar dan tersenyum lebar. "Siapa?"

"Chan, Wonwoo sudah sadar?"teriak Jihoon di ujung sana. Ia dan laki-laki tadi bergegas menghampiri Wonwoo. "Kau tidak apa-apa?" Jihoon menggoyang-goyangkan pundak Wonwoo pelan, kemudian membantu laki-laki itu duduk.

"Apa aku berada di kamarku?" tanya Wonwoo.

"Kau berada di kamarku. Aku Jeonghan, Yoon Jeonghan. Omega, teman Jihoon."

Apa yang sebenarnya terjadi? "Kenapa aku ada disini?" Wonwoo meremas rambutnya kuat-kuat, ini benar-benar pusing. Ia menatap Jihoon dan Jeonghan lalu satu orang lagi yang belum ia ketahui namanya. "Kau siapa?"

"Ah, namaku Lee chan, adik Lee Jihoon. Hyung, tidak apa-apa?"

Wonwoo mengangguk, "ya sekarang sudah lebih baik."

".. jadi, mengingat sudah enam hari kau tidak sadarkan diri, tubuhmu mungkin terasa sedikit lelah." Jeonghan mengambil alih percakapan, ia menyeret kursi belajar, dan mendudukinya. "Kenapa kau tidak terkejut?"

"Aku sedang berpikir, apa yang membuatku pingsan begitu lama." Wonwoo mengerutkan dahinya. Memandangi gerakan jarum jam sambil kembali mengingat, apa ada yang sudah ia lewatkan? Apa yang membuatnya tak sadarkan diri berhari-hari?

Jihoon terbatuk, ia menyenggol tangan adiknya. "Biar adikku yang menjelaskannya. Aku tidak mau disalahkan."

Wonwoo mengalihkan pandangannya pada Lee Chan, Bocah alpha itu terlihat cengengesan sebelum melihatnya dengan takut. "Ituu, hyung, tidak akan memukulku kan?"

"Tergantung situasi." jawab Wonwoo cepat.

Chan terlihat ragu-ragu, apalagi ketika melihat raut sang kakak yang menyuruhnya untuk cepat. Ia kembali melihat Wonwoo, laki-laki itu punya mata yang menakutkan, badannya juga lumayan. Bagaimana-bagaimana jika setelah Chan cerita, ia langsung memukulnya, atau membalasnya dengan sesuatu yang lebih menyakitkan. "Hyung janji dulu tidak akan memukulku."

Perkataan Chan sedikit banyak membuat Wonwoo emosi, tapi ia tidak punya hak untuk marah saat ini. "Baiklah, cepat katakan. Aku perlu kembali ke kamarku."

Ada perasaan lega terbesit dalam dada Lee Chan. Ia tersenyum lebar dan mengangguk. "Sewaktu membawa hyung kemari, aku terantuk, dan tubuh hyung menggelinding dari ujung tangga. Aku minta maaf, hyung. Dan salahkan saja Jeonghan hyung yang lebih memilih bawa Jihoon hyung, padahal badanku kan lebih kecil dari dia. Harusnya Jeonghan hyung yang membawa tubuh hyung."

"Karena kau alpha." sahut Jeonghan dan membuat Chan ciut. Jeonghan menghadap Wonwoo. Menatapnya lurus-lurus dan menghela napas. "Kau mungkin bertanya-tanya apa yang terjadi. Karena ini pertemuan pertama kita, aku akan senang hati menjelaskannya secara rinci kejadian enam hari yang lalu."

Jeonghan mengambil napas lalu mengembuskannya. "Saat itu Jihoon meneleponku untuk minta obat tidur. Kebetulan aku sedang berada di kamar Seungcheol yang lebih dekat dengan lokasi gudang."

"Seungcheol? Dia itu...Alpha." sela Wonwoo.

"Aku akan menceritakannya ketika kita sudah lebih akrab. Saat itu Jihoon tidak juga muncul, padahal jarak dari apartemennya ke asrama sekolah tidak terlalu jauh. Dia juga tau jalan alternatif untuk masuk lingkungan sekolah.. jadi, aku memutuskan mencarinya."

Raut wajah Jeonghan berubah, ia tersenyum kecut. "Disamping aku menemukan hal yang menjijikan, aku melihat Jihoon memasuki gudang. Lee chan kebetulan ada di belakangku, aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan, tapi kami mengikuti Jihoon."

"Saat itu keadaan gudang sangat gelap, aku tidak bisa melihat apapun. Aku mendengar suara rintihan dan debuman keras, tiba-tiba Chan mengambil tongkat baseball dan memukul seseorang sampai pingsan."

Jihoo menggertakan giginya. "Itu aku, Chan memukulku. Jeonghan langsung ke intinya saja."

"Tunggu-tunggu, kalau aku dan Jihoon di bawa oleh kalian. Bagaimana dengan Mingyu? Wonwoo memotong pembicaraan mereka. Apa Mingyu sudah dipindahkan? Laki-laki itu juga pingsan.

"Peduli apa dengan Alpha brengsek itu? Aku akan langsung keintinya, bagaimana kau bisa menjadi omega? Apa kasusunya sama seperti Jihoon atau berbeda?

Mata Wonwoo membulat. "Jihoon seorang omega?"

.

.

Wonwoo mengucek matanya, sesekali menutupi mulutnya yang menguap. Ia mengantuk, entah karena apa. Padahal yang ia ketahui bahwa dirinya sudah tidur selama enam hari. Ia mengambil pensil dan mengetuk-ngetukan pada meja. Buku catatannya masih kosong, pelajaran bahasa asing dari Jhonny seonsaengnim juga tidak dicernanya dengan baik.

Sebenarnya sejak keluar dari kamar Jeonghan tadi pagi, ada satu hal yang mengganggu pikiran Wonwoo. Jihoon omega? Kenapa Jihoon omega? Jeonghan tak lagi membahas mengenai perubahannya ketika mendapat isyarat dari Jihoon. Laki-laki cantik itu hanya memberikan pil pencegah heat padanya, setelah itu ia diizinkan kembali ke kamarnya.

"Kau tidak memperhatikan pelajaran?"

wonwoo menoleh pada arah kanannya. "Sedang tidak mood."

Myungho terkekeh kecil. "Sejak kelas dimulai sampai saat ini kau hanya memandang ujung meja. Ada masalah?"

"Sedikit,, ah, mungkin lebih banyak dari sedikit."

"Kau tidak apa-apa?"

"Kau pikir aku wanita? Masalah seperti ini tidak mungkin tidak kutangani."

"Aku kan tidak tahu masalahmu." kesal Myungho, kemudian kembali menulis.

"Hei, Myungho, apa yang kau pikirkan tentang omega?"

"Mereka lemah, tidak berguna dan hei- bukankah kau sangat membenci omega? Bahkan kau pernah memperkosa seorang dari sekolah lain."

Wonwoo menggigit bibirnya. "Mungkin seharusnya aku tidak melakukan itu."

"Kau seharusnya memikirkan itu sejak dulu, dasar bajingan. Minggu besok, mau bareng denganku? Mobilku kosong." Myungho merapikan alat tulisnya seiring bel istirahat berbunyi. Ia mengambil ponselnya dan membuka grup chat kelas. "Baca ini."

"Apa itu?" wonwoo menyipitkan matanya. pandangannya memang tidak terlalu bagus sejak lahir. Ia merebut ponsel Myungho dan membaca rentetan kata lebih dekat. "Pesta?"

Myungho mengangguk, ia merebut kembali ponselnya. "Sudah kuduga kau tidak membuka emailmu. Pesta ini tidak boleh diketahui oleh guru atau siapapun dari pihak sekolah."

"Pesta apa?"

Myungho menggeretakkan giginya. Ia mendesis kesal. "Kau belum membacanya sampai selesai?!"

"Kau langsung merebut ponselmu!" Wonwoo sama kesalnya dengan Myungho. Ia memang tidak pernah cocok dengan laki-laki itu.

"Kukira kau sudah membacanya sampai selesai, kau lamban sekali!"

"Sudah jelaskan saja, aku tidak mau cekcok denganmu!"

"Hah! Baiklah akan ku jelaskan. Kau tahu alpha terkuat kita?"

"Sehan Sunbae?"

Myungho mengangguk. "Dia sudah punya 'fated mate' baru-baru ini. Dan ingin mengadakan perayaan besar-besaran. Ada minuman ada wanita dan untuk alpha diwajibkan datang. Ia juga mengundang beta, bahkan omega!"

"Omega? Bukankah itu berbahaya?"

"Karena itulah pihak sekolah tidak boleh tahu! Pestanya diadakan di villa pribadinya. Kau pergi denganku, aku tidak mau sendirian." Myungho bangkit dari duduknya. "Aku mau ke kantin, kau ikut?"

Wonwoo menggeleng, dan kembali memandangi ujung meja sambil berpikir. Pesta itu.. mau tidak mau harus ia hadiri. Ia tidak mau jadi bahan omongan teman-temannya nanti. Tapi.. apa tidak berbahaya? Saat ini,ia seorang omega. Masa heatnya juga datang tidak teratur. Apa yang harus ia lakukan? Wonwoo kembali menggigiti bibir bawahnya.

"Wonwoo! Wonwoo! Jeon Wonwoo!" suara khas Myungho menggagunya. Ia siap-siap akan berteriak kalau saja teman keturunan chinanya itu tidak menunjuk laki-laki bertubuh mungil yang berdiri diambang pintu kelas. "Laki-laki itu memanggilmu sejak tadi. Tidak kusangka kau berteman dengan seorang beta."

Tak menghiraukan ucapan Myungho, wonwoo beranjak dan berjalan menghampiri Jihoon. "Kenapa ada disini?"

"Ke kantin denganku. Ada yang mau aku bicarakan." Jihoon menatap Wonwoo dingin lalu berjalan lebih dulu menuju arah kantin. Wonwoo mengangkat sebelah alisnya dan mulai mengikuti Jihoon.

"Kalau aku tidak salah dengar, kemarin, ah seminggu yang lalu kau berkata untuk kita tidak berteman. Apa kau rindu dengan kocokkanku?" Wonwoo tertawa garing, niatnya ingin bercanda namun melihat reaksi Jihoon yang cenderung tak acuh membuatnya mati gaya.

"Toilet sebelah mana? Ini area alpha, jadi aku tidak tahu." Jihoon menghentikan langkahnya ketika merasakan cairan urine keluar dari lubang penisnya.

"Sebelum kelasku yang paling dekat."

"Kau ke kantin duluan. Aku harus ke toilet." Jihoon berbalik dan berlari menuju toilet yang ditunjuk Wonwoo. Ia sudah kebelet ketika keluar dari kelasnya tapi malu untuk bertanya dimana letak toilet. Ia tidak pernah ke area alpha sebelumnya jadi ia tidak tahu.

Jihoon membuka pintu Toilet dan bergegas menghampiri salah satu urinoir. Menurunkan resleting celananya, mengeluarkan penisnya yang mengembung. "Ahhh." Sambil mengurut penisnya, Jihoon mendesah lega. Ia merapikan seragamnya sebelum melangkah keluar. Namun belum sempat membuka pintu, ada sesuatu yang mendorongnya ke lantai.

"Argh." Jihoon mengerang. Punggungnya sakit sekali. orang kurang ajar mana yang menyerangnya dengan tiba-tiba? Ia mendongkakkan kepala dan membulatkan mata. Kwon Soonyoung ada diatasnya. Menatapnya dengan penuh amarah. Sambil menggertakan giginya, Soonyoung mengarahkan tangannya pada leher Jihoon.

"Berani-beraninya kau onani dihadapanku!" Soonyoung menggeram. Ia menekan leher Jihoon dengan tangannya.

Jihoon tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pikirannya blank. Yang ia rasakan adalah udara di sekitarnya semakin menipis. Jihoon menatap Soonyoung yang ada di atasnya, barulah ia sadar saat ini Soonyong tengah mencekiknya. "Haa-ah!"

"Lepaskan a-aku!" Jihoon mulai meronta. Ia menangkup tangan Jihoon yang berada di sekitar lehernya. Mencoba melepaskannya sekuat mungkin walau ia tahu itu tidak akan berhasil.

"Lihatlah kelinci ini, kau lemah, sebaiknya kau mati!" Soonyoung menatap Jihoon tajam. Pikirannya campur aduk.

"Aargh HA LEPASSKAN! Soonyoung!"

"Lihatlah, kelinci ini memanggil namaku. BERANI SEKALI KAU MEMANGGIL NAMAKU DENGAN MULUT KOTORMU!"

"Ss-soonyoung, soonyoung. Aku tidak tahu apa salahku, lepaskan tanganmu!"

"Aku tidak mau sialan!"

'Tolong aku, siapapun tolong aku!' Jihoon tidak tahu apa berteriak akan membantunya atau tidak. Cekikannya memang tidak terlalu kuat, Jihoon masih bisa bernapas. Tapi kalau dibiarkan terlalu lama, orang gila di atasnya ini akan membunuhnya. Ia harus mencari akal!

Jihoon menatap horor Soonyoung yang mulai menggesek-gesekan kakinya pada sekitar area penis Jihoon. Laki-laki itu juga mulai mendekatkan wajahnya pada Jihoon. Tangannya yang kiri meraba bagian perut. Entah bagaimana tangan laki-laki gila itu sudah berada di dalam bajunya.

"Hmmh." Jihoon menggigit jari Soonyong yang sedang memainkan bibirnya, Ini nikmat sekali, lebih nikmat dari sentuhan Wonwoo tempo lalu. Tangan yang satunya meraba dari perut menuju keatas, memainkan puting sensitif milik Jihoon. "JANGAN AHH!"

Entah sejak kapan tubuhnya tidak bisa dikompromi dan kancing bajunya sudah terbuka. Jihoon mulai menikmati keadaannya saat ini. Apalagi ketika tangan Soonyoung merambat menuju lehernya. mengusap perlahan sebelum menuju pipi dan PLAK!

"Aw!" Jihoon memegangi pipinya yang ia yakin sudah memerah. Sialan! Siapa yang berani menamparnya. Dan kenapa tubuhnya ada di lantai,selain itu, kemana Soonyoung.

"Kalau kau menjadikanku objek fantasi seksualmu, sebaiknya lupakan." Jihoon tersentak, itu Soonyoung. ia memutar tubuhnya menghadap asal suara.

Soonyoung disana. berdiri di depan salah satu urinoir dan melepaskan urinnya yang mengumpul. "Kalau aku tahu kau memakaiku sebagai obajek fantasimu, kau mati!." Soonyoung menyelesaikan urusannya sebelum mengamati Jihoon yang masih duduk dilantai.

"Mahluk menjijikan, apa yang kau tunggu?! Pergi!" Bagai alarm, Jihoon bangkit dan berlari keluar toilet. Ia berlari walaupun beberapa kali terjatuh karena tubuhnya yang kecil. Sialan! Sialan! Bagaimana ia bisa menghayal seperti itu. Bagaimana Soonyoung selalu hadir dalam bayangannya ketika ia menutup mata lebih lama dari biasanya? Bahkan dalam mimpi pun, hanya Soonyoung yang hadir, menyakitinya, membunuhnya, memperkosanya. Jihoon bisa gila kalau terus begini. Ia butuh obat penenang lain yang lebih kuat.

Jihoon menghentikan langkahnya, menyandarkan tubuh penuh keringatnya pada dinding kelas. Ia tidak boleh seperti ini terus. Ia tidak boleh bertemu dengan laki-laki bernama Soonyoung itu. Si psikopat bajingan gila yang membuat hidup Jihoon yang tenang menjadi kacau seperti ini.

Ia mengatur napasnya sebelum kembali berjalan. Tenang, tenang, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Kau tidak akan bertemu lagi dengannya, kau tidak akan melihatnya lagi, tenang lee jihoon.

Sampai di kantin, Jihoon mengambil nampan dan mengisinya dengan makanan. Ia melihat Wonwoo yang duduk dekat jendela lalu menghampiri laki-laki bersurai hitam itu. "Maaf, lama."

Wonwoo mendongkak. Sesendok makanan yang akan masuk ke dalam mulutnya jatuh berhamburan ke meja karena ia terkejut. "Kau mengagetkanku."

"Maaf." Jihoon menyendok nasi dan memakannya.

"Kenapa lama?"

"Ada sesuatu."

"Di toilet? Kau tidak onani, kan?"

"Kau gila? Mau kubunuh?"

"Kau tidak bisa santai sedikit rupanya. Jadi apa yang ingin kau katakan?"

Jihoon menaruh sendoknya dan menatap Wonwoo lurus. "Pil untuk heat-mu, harus didapatkan langsung dari dokter." bisiknya.

Wonwoo mengernyit. "Kenapa? Aku punya pil dari Jeonghan."

"Dengar, kondisi tubuhmu dan Jeonghan berbeda. Pil yang saat ini ada di sakumu hanya bisa membantumu selama satu sampai dua jam. Kau harus diperiksa, baru bisa menentukan dosis yang tepat." Jihoon melihat sekitarnya, takut-takut ada yang mencuri dengar. "Aku juga akan ke dokter, pil-ku hampir habis."

Wonwoo hanya mengangguk. Laki-laki di depannya sudah pasti lebih tahu daripada dirinya. "Kapan kau akan ke sana?"

"Besok." Jihoon menyeruput minumnya.

"Besok tidak bisa."

"Kenapa?"

"Ada pesta."

"Pesta?"

Wonwoo mengeluarkan ponselnya dan membuka email dari Myungho. Ia memberikan pada Jihoon untuk dibaca. Jihoon merebutnya dan menelaah kata-perkata di dalamnya. "Kapan pestanya berlangsung?"

"Besok."

"Besok?" Wonwoo mengangguk. "Semua alpha diwajibkan ikut. Adikmu juga pasti akan kesana."

Jihoon menatap Wonwoo tajam. "Dan kau juga akan kesana? Dengan kondisimu yang seperti itu? Jangan bercanda Wonwoo, kau menggali kuburanmu sendiri."

"Aku tidak punya pilihan. Kau sudah pasti tahu apa alasannya."

"Kalau begitu, aku juga ikut."

.

.

Jihoon memasukan barang-barang yang mungkin ia butuhkan. Tidak lupa dengan kartu siswa yang bisa menunjukan asal sekolah dan statusnya. Bicara soal status, entah sampai kapan ia akan menyembunyikannya. Sampai saat ini hanya ada tiga orang yang tahu. Jeonghan, Wonwoo dan Chan. Ia bersyukur tidak terjadi masalah. heat-nya juga bisa diatasi dengan mudah walaupun menyakitkan. Namun yang membuat ia sedikit khawatir adalah Chan. Adiknya yang polos.

Lee Chan seseorang yang murni dan polos. Kadang-kadang perkataannya kelewat jujur. Ia tidak pandai menjaga rahasia, itu yang Jihoon takuti. Semoga tidak terjadi apa-apa. Semoga ia bisa mempertahankan status betanya sampai dapat pekerjaan, ah, terlalu jauh, kalau bertahan sampai lulus sekolah juga ia sudah bersyukur.

Kemarin Wonwoo memanggil temannya saat mereka tengah makan siang. Seo Myungho, laki-laki keturunan china yang akan membawa mereka ke tempat pesta itu berlangsung. Berkenalan sebentar lalu menentukan tempat bertemu karena mereka tinggal di lokasi yang berbeda. Dan mereka sepakat untuk bertemu di toko kelontong dekat sekolahnya. Jihoon mengaitkan tali ranselnya ke pundak, mengunci pintu sebelum berjalan keluar rumah.

Cuaca malam ini sangat dingin dan dengan bodohnya Jihoon meninggalkan jaket yang sudah ia siapkan di atas meja belajarnya. Kalau ingin mengambilnya, ia sudah terlanjur ada di tempat perjanjian. Ah, masa bodo dengan jaket. Toh ia cukup kuat melawan dingin.

Ia melirik ponselnya, waktu penjanjian jam tujuh, jadi sekitar Lima belas menit lagi mereka sampai disini. Jihoon memutuskan untuk menunggu di dalam toko sambil memakan ramyeon dengan kimchi instan. Ia belum makan lagi sejak jam istirahat kemarin.

Tadi pagi, Heatnya kembali muncul. Jihoon sengaja tidak meminum pil dan mengatasinya seorang diri. Ia harus belajar untuk terbiasa dengan berbagai keadaan yang mungkin terjadi dengan tiba-tiba. Ia tak bisa selamanya membutuhkan Jeonghan. Lagi pula, Jeonghan sudah punya mate. Setelah lulus sekolah, ia akan tinggal dengan mate-nya, bisa saja tempat itu jauh dengan tempat tinggalnya nanti.

Kalau ia omega, apa ia bisa hamil?

Tiba-tiba kalimat itu muncul di benak Jihoon. Ia mengeluarkan ramyeon yang sedang di kunyah kedalam wadahnya. Membuat ramyeon yang masih tersisa banyak menjadi terlihat menjijikan untuk di santap.

"Aku tidak akan hamil!" Jihoon berkata dengan penuh penekanan. Ya, sampai kapanpun ia tidak akan hamil. Ah, bukan! Sampai kapanpun ia tidak akan membiarkan orang lain menghamilinya. ia laki-laki, seorang beta, akan menjadi suami dari seorang wanita, berperan sebagai pihak memasuki, bukan dimasuki. Sialan! Pikiran ini membuat mood Jihoon hancur.

Suara klakson mobil membuat dirinya tersadar. Jihoon mendongkak, mereka sudah datang. Ia bergegas, setelah membayar sejumlah won, Jihoon menghampiri mobil tadi. "Kau sudah menunggu lama? Kami isi bensin dulu." Wonwoo mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil. Jihoon menggeleng dan masuk ke kursi penumpang.

"Aku baru selesai makan." jawabnya ketika memasang sabuk pengaman.

"Chan tidak bersamamu?" wonwoo kembali bertanya

"Dia tidak ingin diganggu. Dia pergi dengan teman-temannya."

"Kalian sudah siap? Aku akan menjalankan kecepatan maksimal karena sepertinya kita sudah terlambat."

.

.

Soonyoung memutar gelas birnya dengan perlahan. Pestanya membosankan. Tidak ada sesuatu yang bisa membuat gairahnya bangkit, bahkan wanita-wanita ini juga terlihat sangat jalang. Menjijikan. Kenapa mereka menyediakan barang bekas seperti ini?

Salah satu wanita yang berada di samping kanannya mulai menggerayangi lengannya membuat Soonyoung mendorong wanita itu sampai terjatuh. "Jangan menyentuhku, jalang." Wanita itu bangkit dan kembali duduk. Namun kali ini tidak mengambil langkah duluan. Menunggu masternya memerintahkan sesuatu.

"Kutebak kau bosan." Mingyu yang berada tak jauh di sampingnya mengeluarkan suara. Soonyoung meliriknya sekilas kemudian kembali memutar-mutar gelas bir. "Sama sepertimu, Kim."

"Bangsat! Jangan memanggilku seperti itu!" Mingyu paling tidak suka hanya dipanggil Kim. Ia punya alasan tersendiri dan tidak ada orang yang tahu.

Soonyoung mengangkat bahu. "Itu namamu. Omong-omong kemana yang lainnya?Kenapa hanya kita berdua."

"Bertiga. Lihat si Seokmin di ujung sana, ah Berempat Junhui yang sedang digerumuti empat jalang." sahut Mingyu. Ia mengernyit jijik melihat teman-temannya bergumul dengan para wanita bayaran. "Kalau dilihat dari sini, mereka menjijikan."

Soonyoung menghela napas. "Dari segimanapun mereka tetap terlihat menjijikan."

"Tidak biasanya kau seperti ini."

"No mood."

"Mood-mu selalu hilang ketika ada wanita. Apa sekarang orientasi seksualmu berubh?"

"Brengsek! Aku tidak gay! Kau yang gay! hampir memperkosa seorang laki-aki di gudang. beruntung aku dan Seungcheol mencarimu malam itu."

Mingyu mengusap wajahnya kasar. "Saat itu aku sedang mabuk." ia meneguk bir langsung dari botolnya. "Tapi yang aku tahu, tubuhnya nikmat."

Soonyoung mendecih, kemudian bangkit. "Aku mau cari udara segar, kau ikut?"

"Aku disini."

Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia keluar dari ruangan khusus untuk alpha level satu. Pelayanannya memang memuaskan tapi tidak ada yang menantang. Soonyoung selalu suka tantangan. Ia berjalan menuju ruang utama. Tempat pesta di gelar. Dari tempatnya berada, terdengar suara riuh. Soonyoung benci kebisingan tapi ia lebih benci tempatnya sekarang.

Ternyata vila milik sepupunya Seungcheol boleh juga. Luas dan bersih. Bukan tipikal biasa karena memberikan perasaan nyaman. Soonyoung kembali mendecih, kenapa ia jadi melankolis begini? Ia mempercepat jalannya dan sampai ketempat yang ia tuju.

"Wow. Lihat siapa yang baru datang. Kemari-kemari. kami sedang main permainan, Soonyoung-ssi." MC diatas panggung tiba-tiba menunjuk ke arah Soonyoung yang otomatis membawa perhatian besar kearahnya.

Jihoon tersedak minumannya. Ia melotot. Bagaimana laki-laki itu ada disini? Ia sudah bersyukur ketika tidak menemukan Kwon Soonyoung dimanapun. Ah hari bahagiannya sudah berakhir.

Ia berjalan menjauh dari keramaian. Menuju sudut gelap yang tak tersentuh, menunggu disana, sampai pesta selesai. Ia akan melihat semuanya dari kejauhan. Permainan yang sedang berlangsung memang terlihat menarik, Jihoon beberapa kali tertawa dibuatnya. Sayang sekali ia tidak bisa menikmati permainan itu lagi.

"Nah, sekarang musik akan dimulai. Teman-teman bisa bersembunyi dimanapun dan ketika musik berhenti, tidak ada yang boleh bergerak. Sampai yang jaga menemukan korban selanjutnya, hahaha ups. oke musik!"

Para tamu yang datang berlarian kesana-kemari entah itu laki laki atau perempuan. Mereka tidak mau ditangkap dan menjadi korban. Keadaan sangat bising, sampai musik berhenti.

Jihoon terkekeh. Tempatnya sangat strategis, tapi siapa yang jaga? Jihoon menoleh kesana kemari, tidak ada yang memakai pita merah yang menutupi matanya. Dimana yang jaga?

Ah, itu dia, sedang menghampiri para tamu satu persatu untuk ditangkap dan dijadikan korban. Jihoon kembali terkekeh, melihat setiap raut wajah orang yang ingin mengindar tapi tidak bisa atau yang sedang berdoa dalam hati untuk tidak dijadikan korban. Jihoon melihat Wonwoo masuk kedalam orang-orang itu. Bibirnya bergetar lucu.

Tapi siapa yang jaga? Laki-laki dengan rambut sehitam itu belum pernah ia temui. Oh tuhan! Laki-laki itu berjalan kearahnya! Tenang Jihoon, Tenang. Tempatmu tidak bisa dilihat oleh orang lain apalagi untuk orang dengan mata tertutup.

Bingo! Dan benar saja orang itu melewatinya. Jihoon menghela napas lega. Ia mengucap syukur berkali-kali, tapi ketika ingin mengetahui siapa korban yang di tangkap, semua orang menuju kearahnya. bahkan MC pun melihat kearahnya dengan tatapan horor. Keadaan tiba-tiba menjadi lebih hening.

Jihoon mengikuti arah pandang para tamu, mungkin orang disisinya yang menjadi korban. Ia menoleh, namun bibirnya terlebih dahulu di sambar oleh bibir lain. Sialan, ia ditangkap oleh yang jaga! Ia bahkan bisa merasakan orang lain saling menahan napas mereka.

'aw' Kenapa orang ini malah menggigit bibirnya dan menciumnya dengan kasar. Penuh nafsu dan gairah yang bergejolak. Ini harus dihentikan! perjanjiannya hanya kecupan ringan! Jihoon berusaha mendorong tubuh laki-laki itu, tapi pinggangnya lebih dulu ditangkap. Lebih sialannya lagi, ia dicium oleh laki-laki.

Awalnya Jihoon tidak merasakan apa-apa. Tapi semakin lama Ciuman itu terasa semakin nikmat. Bahkan si jaga ini memiringkan kepalanya untuk meraup bibir Jihoon lebih dalam.

"Soonyoung-ssi. Hentikan. Lepaskan Korbannya."

Nama yang dilontarkan MC membuatnya terkejut. Soonyoung!

Jihoon merasa Soonyoung tersenyum sekilas sambil terus berusaha memasukan lidahnya pada mulut Jihoon. Kalau lama-lama seperti ini ia bisa ikut mendesah. Soonyong menggigiti bibirnya, menghisap dengan kuat sampai lidahnya masuk menjelajahi rongga mulut Jihoon.

"Hmmph." Jihoon mengerang ketika lidahnya digigit. Ia lalu menendang penis Soonyoung dengan dengkulnya sebelum berlari menjauh memasuki dalam villa. Ia terus berlari dan berlari sampai menemukan suatu ruangan kosong dan menguncinya dari dalam.

"Keluar! Keluar atau aku dobrak pintunya!" Suara Soonyoung menggema memenuhi pendengaran Jihoon. Ia tidak mau ditangkap! Ia tidak mau jadi korban!

.

.

.

Yaaayy sedikit telat tapi ngga apa-apa kan? haha

terima kasih untuk yang sudah komen, komentar kalian merupakan semangat saya.

Saya beritahukan lagi bahwa ini ff soonhoon dan meanie jadi otomatis porsi mereka seimbang yaa. ^^

Oh ya, disini saya jadikan semua member seangkatan minus chan, karena dia my aegi.

Alur Chapter saya buat lebih lambat, saya minta saran dari teman-teman lebih enak alur lambat apa cepat?

dan sekali lagiii saya minta tolong berikan komen yang membangun, semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian..

sampai jumpa jumat depan .