Pink Rose X Camelia (OkiKagu Drabbles)
by Collaboration of & D.N.A. Girlz
Gintama by Sorachi-sensei
We just own this fanfiction, the prompts are from the OkiKagu Event on FB Group. The disclaimer belongs back to its own.
Warning: Third chap—AWAS KOMPOR GAS LAWAKAN, SOME LOVEY DOVEY, CUTENESS, RANDOMNESS, AND FLUFFINESS!
Pairing: Okita X Kagura 4EVER (+ Kondo X Otae, Yamazaki X Tama, Hint of Gintoki & Hijikata)
Rating: T
Genre (this chapter): Romance/Comedy/Friendship
Asli dari pemikiran author. Jika iya, itu dikarenakan oleh ketidak sengajaan, mohon dimaklumi. Kalau ada typo, kritik dan saran, tolong bilang ya~
Long Live Gintama Fandom and be creative in any supporting way ^_^
Suka tapi mau review? Yah silahkan review x3
Suka tapi gak mau review? Silahkan Fav~ :D
Gak suka tapi mau review? Ampun jangan flame xC
DLDR! WDGAF LOL
Happy reading guys~
BGM for this Chapter: Love Talk – Kisum ft. Hwasa Mamamoo
.
.
.
[Markas Shinsengumi...]
Pagi itu, seperti biasa organisasi Polisi Khusus Shinsengumi melaksanakan kegiatan rutinnya. Dimulai dari rapat yang diadakan setiap pagi, untuk membahas apa yang terjadi di hari sebelumnya.
Kondo Isao, sebagai Komandan Shinsengumi, memimpin rapat tersebut dengan penuh keseriusan dan tanggung jawab. Dia membahas berbagai tugas yang akan dilaksanakan nantinya oleh para anggota Shinsengumi. Mulai dari mengawal Shogun, berpatroli, dan melakukan penyergapan transaksi ilegal di pelabuhan. Semua anggota—kecuali Sougo—mendengarkan penjelasan sang Komandan dengan fokus, tidak ingin ada satu pun detail yang terlewat.
"Kita mendapat informasi bahwa Kiheitai akan melakukan transaksi dua minggu lagi. Kita semua, Shinsengumi, akan menangkap mereka dengan pasti hari itu. Jangan lupa untuk tetap siaga, omaera!"
"Hai'!"
Semua anggota menyahut dengan suara yang tegas. Mereka semua tidak akan melewatkan kesempatan untuk menangkap teroris yang selama ini diincar.
Hijikata yang tahu pembicaraan dalam rapat tersebut sudah selesai, segera mengatakan beberapa kata untuk penutup. Dia menghisap rokok yang sedari tadi ia pegang lalu memperhatikan wajah teman-temannya sekilas.
"Kalau begitu, rapat ini selesai. Kalian lakukanlah tugas hari ini dengan bena—"
"Tunggu dulu, Toshi! Masih ada yang ingin aku bicarakan."
Kondo dengan cepat memotong perkataan sang Wakil Komandan Iblis itu, membuat orang yang bersangkutan kebingungan.
"Ada apa lagi, Kondo-san? Bukannya sudah selesai?" tanyanya sambil menatap orang disampingnya heran.
Dia yakin bahwa pembicaraan saat itu sudah selesai. Apa ada hal lain yang tidak ia tahu?
Kondo menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu mengangguk pelan. "Iya, Toshi. Ada hal penting yang Tot-san sampaikan padaku."
"Besok hari Valentine, bukan? Tot-san bilang kita semua mendapatkan hari libur sehari. Hanya saja, ada syaratnya. Semuanya harus mengungkapkan perasaannya ke seseorang yang ia suka."
HEEEEEE?!
Hijikata juga semua anggota yang terkejut dengan pernyataan Kondo langsung membelalakan matanya. Bahkan Sougo yang tadinya tertidur lelap seketika bangun. Ia melepas eyemask-nya dan menatap sosok ayah baginya tersebut dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Kenapa Tot-san berkata seperti itu? Tidak masuk akal. Kita itu Polisi Khusus, Kondo-san! Tidak perlu memikirkan hal konyol seperti itu di saat begini." protes Hijikata seraya mematikan rokoknya.
Dia beranjak dari tempatnya dan berniat untuk pergi, kalau saja sang Komandan tidak menahannya.
"Tunggu, Toshi! Kalau tidak melakukannya, gaji kita semua akan ditahan Tot-san!"
EEEEEEEEEEHHHH?!
Semua mata anggota yang ada di ruangan itu seketika membelalak.
Gaji akan ditahan kalau tidak mengikuti perkataan dari sang Komisaris Polisi Shinsengumi?
Oh tidak, itu benar benar kabar buruk.
Jika Matsudaira sudah menentukan sesuatu, akan sulit bagi bawahannya untuk menolak. Wajar saja, karena lelaki paruh baya itu adalah pemimpin tertinggi di Shinsengumi.
"Kondo-san, aku tidak akan melakukannya."
Sougo yang akhirnya menyahut, menghela nafas panjang. Dia memijit pangkal hidungnya beberapa kali, mencoba untuk menenangkan diri.
Apa dia merasa terganggu dengan pernyataan dari Sang Gori—komandan itu?
Tentu saja.
Ia tidak ingin perasaan yang selama ini disembunyikan terbongkar karena acara konyol tersebut.
Dirinya tidak akan membiarkan itu, harga dirinya terlalu tinggi untuk menyatakan perasaannya dengan jujur. Dia lebih baik tidak mendapat gaji daripada gadis Cina yang ia su—maksudnya benci, tahu akan apa yang ia rasakan selama ini.
"Sougo, tapi Tot-san bilang: "Laki laki sejati tidak—"
"—Laki laki sejati tidak akan takut untuk mengungkapkan perasaannya." potong seseorang yang baru saja datang ke ruang rapat.
Siapa dia? Tentu saja sang Baginda Kanjeng Maha Prabu atasan; sang Matsudaira Katakuriko sendirilah, orang yang menjadi penyelenggara acara mendadak khusus Shinsengumi.
Secara serentak, semua yang ada di ruangan itu langsung menoleh kepadanya.
"T—Tot-san! Kau mampir?!" Kondo terkejut seraya berdiri dan memberi hormat grak—hormat sambutan padanya. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, tidak menyangka Sang Komisaris Polisi akan datang langsung ke Markas.
"Kondo, kau sudah memberitahu mereka semua soal acara itu, bukan?"
"T-Tentu saja. Mereka semua akan ikut dalam acara itu Tot-san." jawab sang Komandan gorila dengan cepat. Dia bisa merasakan tatapan tajam dari anak anak buahnya yang tidak setuju.
"Kondo-san, maaf tapi aku tidak akan ikut." protes Hijikata yang menyela.
"Aku juga tidak akan ikut." Sougo berdiri dari tempatnya dan beranjak untuk jalan keluar ruangan.
Dia tidak akan peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Ia akan tetap menjaga harga dirinya dan peraturannya sendiri.
"Kalau begitu, kau tidak boleh berada di Shinsengumi lagi. Okita, Hijikata." ujar Matsudaira penuh dengan keseriusan, membuat langkah pemuda tampan itu terhenti.
Oke, Hijikata terdiam dan langsung terpaksa ikut.
"Katakan perasaanmu atau pergi dari Shinsengumi. Pilih yang mana?"
Sougo yang tadinya juga tidak ingin terlibat pun terpaksa menurut pada ancamannya. Dia tidak ingin meninggalkan Shinsengumi, apapun yang terjadi.
Frustasi dengan keadaan saat ini, ia pun mengacak rambutnya lalu menghela nafas panjang.
Tidak ada cara lain.
Dia akan mengungkapkan perasaannya nanti.
.
.
.
"Hmm? Aku melihat anggota Shinsengumi lebih sering hari ini. Ada apa sebenarnya?" tanya Gintoki malas.
Dia saat ini sedang berkeliling bersama Kagura dan Shinpachi, menikmati indahnya hari yang cerah. Karena Yorozuya belum mendapatkan penawaran kerja akhir-akhir ini, mereka pun memiliki banyak waktu untuk bersantai.
Daripada diam dirumah dan mati kebosanan, lebih baik berkeliling, bukan?
Dengan begitu, peluang atau kesempatan bagi mereka untuk mendapat pekerjaan lebih besar.
"Mungkin sedang ada masalah." ujar Shinpachi meskipun tidak yakin. Pemuda tersebut benarkan posisi kacamatanya sekilas lalu melihat ke arah toko yang berjajar di kedua sisi mereka.
Entah kenapa di sepanjang jalan yang mereka lewati, setiap toko pasti saja penuh oleh remaja-remaja perempuan. Suara dari orang-orang yang berebut sesuatu terdengar begitu nyaring di telinga bahkan saat dari kejauhan, membuat sang pemuda berkacamata memasang earphone miliknya. Ia putar lagu dari Terakado Tsu tercinta dan mulai bernyanyi dengan lirik asal.
Gintoki yang melihat itu hanya menatapnya datar.
"Kau tidak berguna, Shinpachi." ucapnya dengan ejekan, namun sayang sekali orang yang dimaksud tidak mendengarnya.
"Ne, ne, Gin-chan, aku ingin coklat-aru." sahut Kagura tiba-tiba, matanya terfokus ke spanduk yang mempromosikan berbagai macam jenis coklat. Mulai dari coklat putih, coklat karamel, dan bahkan dark chocolate terpampang disana.
Sang gadis yang sudah lama tidak memakan makanan manis pun mulai tergoda, air liur terlihat di ujung bibirnya.
Dia ingin memakan semua coklat itu.
"Jangan berkhayal, Kagura. Yorozuya sudah tidak mendapat pekerjaan selama seminggu ini, tentu saja aku tidak memegang uang sepeser pun." Gintoki menjelaskan apa adanya, cukup untuk membuat harapan Kagura hancur menjadi berkeping-keping.
"Tapi, Gin-chan... Aku ingin coklat. Besok hari Valentine, bukan? Kalau begitu kau harus membelikanku coklat-aru." rengek gadis itu seraya menarik narik Yukata Gintoki, sambil menatap samurai bersurai perak tersebut dengan mata penuh harap.
Dengan begini, dia akan membelikan coklat untukku-aru, batin Kagura yakin. Dia yakin bahwa ayah angkatnya itu akan luluh dengan jurus andalannya.
"...Tidak."
Atau mungkin tidak.
"Gin-chan! Jual bajumu untuk sekotak coklat! Kalau tidak, aku akan membunuhm—"
"Oya oya, kasihan sekali tidak bisa memakan coklat."
Seseorang menyahut dengan nada sarkastik.
Tahu siapa pemilik suara itu, Kagura langsung menutup payungnya dan menyerang orang tersebut.
TRAAAANNNGGGGG
Suara payung dan katana yang beradu terdengar begitu nyaring, membuat semua orang yang berada di sekitar tempat tersebut langsung menoleh pada dua remaja yang saling menahan serangan.
Kagura menatap tajam pemuda di hadapannya. "Kenapa kau disini, hah?"
"Jangan kasar begitu, China. Aku tidak berniat untuk bertarung denganmu, yah… Mungkin." jawab sang pemuda bersurai coklat pasir dengan santai. Seringaian khas terpampang jelas di wajah tampannya.
Kalian tahu siapa dia, bukan? Benar, dialah Okita Sougo, musuh sekaligus saingan dari sang gadis Cina itu sendiri.
"Kalau begitu kenapa kau disini, Sadist? Aku sedang tidak ingin melihatmu-aru. Cih, waktu bersantaiku terganggu." Kagura berdecih pelan lalu membuang mukanya.
Kakinya ia ayunkan ke arah Sougo, berniat untuk menendang pemuda menyebalkan itu. Namun sayang sekali, dia gagal karena sang Pangeran Sadis dengan cepat menghindar.
"Jangan percaya diri begitu, China. Aku kesini untuk berpatroli, bukan untuk menemuimu." jawab Sougo dengan kebohongan.
Dia berbohong? Tentu saja.
Sebenarnya ia datang ke daerah pertokoan untuk membeli sesuatu disana. Acara yang diadakan khusus untuk Shinsengumi itu benar benar membuat pemuda ini kesal. Dia frustasi karena harus menyatakan perasaannya ke gadis Cina yang berada tidak jauh darinya saat ini.
Ugh. Menyusahkan sekali, pikirnya.
"Hmm? Berpatroli-aru ka? Tetapi wajahmu kusut begitu. Apa benar Shinsengumi sedang ada masalah?" Kagura bertanya dengan nada khawatir yang tidak disengaja, membuat seringaian Sougo semakin jelas.
"Hee… Kau mengkhawatirkanku, China?"
BLUSH
Semburat merah seketika muncul di wajah sang gadis. Dia tiba-tiba merasa sangat malu, tidak berani menatap langsung manik rubi milik Sougo.
Bodohnya dia karena tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"S-S-Siapa juga yang khawatir-aru. Jangan berkata seenaknya!" protes Kagura sambil memelototkan kedua matanya.
Sougo yang melihat itu hanya terdiam dengan tatapan datar, meskipun di dalam hati ia tertawa karena tingkah sang gadis yang mudah ditebak.
"Begitukah? Hm." Sougo menyarungkan kembali katananya lalu menatap ke arah Gintoki dan Shinpachi yang sedang membaca brosur promosi coklat. "Danna, apa kalian menganggur lagi?" lanjutnya.
Gintoki yang sebelumnya melamunkan dunia manis penuh coklat langsung tersadar dan menatap sang pemuda yang memanggilnya.
"A-Ah, benar. Kami sedang tidak ada pekerjaan akhir-akhir ini." jawabnya seraya menggaruk pipinya dengan telunjuk sembari tertawa garing, lalu memberikan brosur coklat tadi ke Shinpachi.
"Kami berkeliling untuk mendapat pekerjaan." tambah sang pemuda berkacamata melengkapi. Dia melipat kertas yang ia pegang lalu menyimpannya di balik yukata.
"Begitu. Oh iya, Danna. Kalau kau berniat untuk menemui Hijikata-san, lebih baik jangan hari ini. Tunggu saja di rumahmu besok, dia pasti akan datang padamu." ucap Sougo dengan senyuman penuh arti, membuat manik rubi Gintoki membesar untuk beberapa detik.
"Dia akan datang?" tanyanya memastikan, Sougo pun mengangguk.
"Di Shinsengumi sedang terjadi sesuatu. Karena itu semua anggota sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Termasuk Kondo-san dan Hijikata-san."
"Kau juga-aru ka?" Kagura menyahut sambil menatapnya dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan.
Apa itu karena penasaran?
Bingung?
Berharap?
Entahlah.
Mungkin salah satu diantaranya. Melihat tatapan sang gadis yang seperti itu, Sougo pun tertegun.
Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Oi, Hijikata datang bukan karena ingin menangkapku, bukan?" tanya Gintoki sedikit khawatir.
Dia akan langsung kabur jika itu alasannya.
"Tanyakan saja padanya langsung besok, Danna." Sougo menepuk pundak sang bos Yorozuya itu sekilas lalu berjalan pergi, melambaikan tangannya tanpa berbalik ke belakang.
"Apa yang sebenarnya Okita-san maksud, ya?" tanya Shinpachi yang sedari tadi kebingungan. Gintoki yang juga tidak tahu apa maksud dari sang Pangeran Sadis itu pun hanya mengangkat kedua pundaknya sekilas, tak tahu menahu.
Berbeda dengan kedua rekannya yang kini membahas hal tidak penting, Kagura hanya terdiam sambil menatap kepergian Sougo.
Manik safir miliknya berkilauan, terkena sinar matahari yang masuk ke retina matanya.
Dia sangat penasaran dengan apa yang dikatakan Sougo beberapa detik yang lalu.
Di Shinsengumi sedang terjadi sesuatu.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Kenapa pemuda sadis itu tidak bertarung dengannya lebih lama?
Kenapa dia terlihat seperti banyak pikiran?
Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan di kepala jingga Kagura. Tidak seperti biasanya Sougo terlihat tidak tenang. Gadis ini bisa tahu karena ia selalu memperhatikannya.
Hm, dia seorang stalker? Tentu saja bukan. Wajar saja memikirkan dan memperhatikan orang yang…
Ekhem, disuka.
Kalau kalian bertanya apa Kagura memiliki perasaan pada Sougo, jawabannya sudah jelas.
Dia sangat menyukai sang Kapten Divisi Satu dari Shinsengumi itu.
Gadis tersebut sudah menyukai Sougo sejak lama, namun tidak pernah mengungkapkan perasaannya.
Dia tidak berniat untuk memberitahu Sougo perasaannya yang sebenarnya, menunjukannya saja tidak pernah.
Halah alesan... XD
Dasar tsundere akut! Wwww..
Next!
Tetapi, beberapa waktu yang lalu Kagura tahu bahwa hari Valentine itu adalah hari yang tepat untuk menyatakan perasaannya.
Selain mengkhawatirkan sang Pangeran Sadis, sedaritadi ia juga berpikir apakah ini saatnya untuk jujur, atau tidak?
Setelah berpikir keras untuk beberapa menit, akhirnya sang gadis membulatkan tekadnya.
Sudah cukup menyukainya sembunyi-sembunyi selama dua tahun terakhir ini. Besok, dia akan membongkar semua perasaannya.
Dia akan melupakan sifat tsunderenya dan mengatakannya dengan jujur.
Kau pasti bisa, Kagura! Taktlukan orang sadis itu di hadapanmu!
Batinnya menyemangati diri sendiri sembari tersenyum puas.
Semuanya akan berjalan dengan lancar, dan dia sangat yakin. YOSH!
"Kagura-chan, kau tadi bilang ingin coklat, 'kan?"
Shinpachi tiba-tiba menyahut dan membuat Kagura langsung menoleh kepadanya.
"Apa? Kau mau membelikannya?" Kagura bertanya balik dengan curiga.
Kedua matanya ia sipitkan, merasa curiga dengan tingkah sang kakak angkatnya.
"Tetapi aku tidak menyukaimu, Pattsuan, kau bukan tipeku." lanjut Kagura arogan, membuat pemuda berkacamata tersebut kesal seketika.
"Bukan itu masalahnya!" sangkal Shinpachi dengan cepat karena kesal dikatai begitu dengan tak elitnya.
Pemuda itu menghela nafas panjang lalu memberikan amplop putih pada adik angkatnya itu. "Aneue menitipkan ini padaku. Katanya gunakan untuk membeli apapun yang kau inginkan." lanjutnya dengan senyuman tipis.
"Eh?! Anego? Benarkah?"
Kagura menerima amplop tersebut dan melihat isinya.
Matanya membesar ketika melihat uang yang ada disana. "U-Uang? Benar benar untukku-aru?"
"Iya. Aneue mendapat bonus di bar tempat kerjanya. Katanya, tidak apa sekali-kali berbagi." jelas Shinpachi sambil tersenyum dan mengelus kepala jingga Kagura sekilas.
"Untuk Gin-san mana?" tanya Gintoki dengan suara yang diimut-imutkan, membuat Shinpachi dan Kagura menatapnya datar.
"Untukmu tidak ada, Gin-san. Kau sudah dewasa, tidak pantas dikasih uang. Seharusnya kau yang memberi kami."
"Heee?! Apa? Kenapa kau kejam sekali dengan Gin-san? Aku butuh asupan gula... Kalau tidak, aku... Khhh..." Sang bos Yorozuya itu mencengkram bajunya sendiri dan berpura-pura merasa sakit.
Sungguh, usaha yang tidak ada gunanya.
"Sudahlah, Gin-san, nanti aku buatkan kare pas pulang." Shinpachi membenarkan posisi kacamatanya lalu menghela nafas panjang, "Jangan merengek seperti anak kecil, ingat umur."
"Kau kejam, Pattsuan. Kalau begitu, Kagur—"
"Gin-chan, Shinpachi, aku ada urusan-aru. Sampai bertemu nanti!"
Tanpa menunggu persetujuan dari kedua rekannya, sang gadis cantik itu langsung melesat ngeng pergi berlari meninggalkan mereka.
"Tung—Kaguraaaaaaaaaaaa!"
Teriakan Gintoki terdengar begitu menggelegar, namun sang gadis Cina bahkan tak acuh menoleh.
Ada hal penting yang harus ia lakukan sekarang.
Membeli sesuatu untuk diberikan pada Sougo besok di hari Valentine.
Membayangkan reaksi terkejut dari pemuda tampan itu membuat lengkungan kecil terbentuk di ujung bibir Kagura.
Dia tidak sabar untuk hari esok.
"Lihat saja besok, Sadist! Aku akan menaklukanmu."
.
.
.
[Sementara itu...]
Sougo yang sedari tadi berkeliling Edo, belum bisa menemukan sesuatu yang cocok untuk Kagura.
Yang sedari tadi ia lihat pasti coklat dan bunga, benar-benar biasa dan membosankan.
Apa hanya itu saja barang barang yang diinginkan perempuan?
Tentu tidak, bukan?
Kalau begitu kenapa setiap toko hanya menjual dua barang itu saja? Tidak masuk akal.
Frustasi karena tidak menemukan sesuatu yang diinginkan, pemuda tampan itu pun kembali ke markas.
Sesampainya di tempat yang dituju, Sougo pun disambut oleh beberapa anak buahnya—termasuk Yamazaki. Mereka semua sengaja menggoda pemuda tersebut karena tahu siapa orang yang disukainya.
Tidak suka dengan tingkah para temannya, Sougo pun menatap tajam mereka secara bergantian.
"Kalian ingin mati, ya?" ancamnya seraya sedikit menarik katanya.
"T-Tunggu dulu Okita-taichou. Kami hanya bercanda." sahut Yamazaki sambil mencoba untuk menenangkannya, "Soalnya Tot-san bilang besok harus ada yang merekam setiap pernyataan yang diucapkan; sebagai bukti katanya."
"Haa? Direkam? Cih, macam macam saja!" Sougo mengacak rambutnya asal, benar-benar kesal dan stress karena tuntutan dari Matsudaira.
Kenapa harus direkam segala? Apa mereka tidak boleh memiliki privasi?
Sangat merepotkan.
"I-Iya. Yang akan bersamamu besok itu Hijikata-fukuchou dan aku. K-Karena tujuan kita sama."
"Argh! Ya sudah, terserah kau saja. Aku tidak peduli." Sougo menahan emosi sambil membalas acuh, sebelum menghela nafas panjang lalu berjalan meninggalkan Yamazaki.
"Okita-taichou, apa kau sudah menemukan sesuatu untuk diberikan pada China Musume?"
Mendengar nama panggilan Kagura disebut, Sougo langsung menghentikan langkahnya dan menatap tajam Yamazaki dengan aura gelap.
"Apa kau bilang tadi?"
"Hiiiii!" pekik Yamazaki ketakutan.
Dia mundur beberapa langkah sebelum melanjutkan perkataannya, "K-Kalau belum, b-buat saja puisi untuknya. M-maa, itu hanya usul."
Puisi?
Oh iya. Benar juga.
Hadiah seperti itu 'kan biasanya disukai oleh wanita.
Kertas berisikan kata-kata cinta dan rangkaian kalimat pernyataan yang dimabuk asmara pasti bisa menumbangkan mereka sampai jatuh hati.
Kenapa Sougo tidak berpikir kesana, ya? Kalau yang ia berikan adalah puisi, dia tidak perlu mengatakan semua perasaannya secara langsung.
Dia hanya tinggal memberikan kertas berisi susunan kata kata indah tersebut, membiarkan Kagura membacanya, dan langsung pergi dari sana jika urusan sudah selesai.
Sempurna!
Ide yang sangat bagus. Tetapi, kalau bicara tentang puisi...
Apa seorang Okita Sougo yang tidak peka itu bisa membuatnya?
Jujur saja, dia tidak yakin. Dia tidak tahu harus menulis apa nantinya.
Karena itu, ia akan memilih jalan pintas yang cepat.
"Zaki, ide yang bagus. Kalau begitu, buatkan satu untukku." ucap Sougo sambil menyeringai licik, membuat Yamazaki menyesal karena sudah memberinya usul.
"E-Eh? Tapi puisi seharusnya dibuat sendir—"
"—Aku tidak peduli. Siapkan satu untukku besok, kalau tidak... Kau akan aku bunuh." potong sang Pangeran Sadis dengan kata-kata penuh ancaman.
Sayang dengan nyawanya sendiri, sang Intel dari Shinsengumi itu pun mengangguk beberapa kali.
"A-Aku mengerti, Okita-taichou." balas Yamazaki dengan suara yang sedikit bergetar.
"Baguslah kalau mengerti. Kalau begitu, aku serahkan padamu."
Tanpa menunggu respon dari sang Intel, Sougo pun pergi menuju ruangannya.
Masalah terselesaikan, hanya tinggal pelaksanaannya besok.
Tak memperkirakan kalau insiden akan terjadi besok karena kekeliruan yang terjadi.
.
.
.
[Keesokan harinya...]
Hari Valentine yang dibicarakan semua orang pun akhirnya datang.
Di setiap sisi dan sudut kota, terlihat banyak sekali pasangan yang bermesraan, menikmati indahnya hari kasih sayang yang jatuh pada tanggal kala itu.
Tidak berbeda halnya dengan para anggota Shinsengumi yang sejak pagi sibuk dengan urusannya masing-masing.
Acara khusus yang bertema hari kasih sayang itu sendiri bernama 'Pernyataan Cinta Dari Para Lelaki Sejati' yang diadakan oleh Matsudaira pun sudah dimulai semenjak hari berganti.
Sudah banyak anggota Shinsengumi yang menyatakan perasaannya pada orang yang mereka kagumi atau sukai.
Bagaimana hasilnya?
Apakah banyak yang berhasil?
Maa, bisa dibilang hasilnya bermacam-macam.
Ada yang diterima dan berakhir menjadi pasangan, ada yang ditolak mentah-mentah, dan ada yang digantungkan perasaannya.
Semua pernyataan yang konyol dan memalukan itu terekam dengan jelas di handycam yang sebelumnya dibagikan di Markas Shinsengumi, tidak ada pengecualian sama sekali. Tidak ada diantara mereka yang bisa memalsukan atau menghapus rekaman itu.
Kejam namun menarik.
Senang rasanya bisa melihat rekaman-rekaman tersebut. Semuanya menyatakan perasaannya dengan unik dan caranya masing-masing.
Contohnya:
Sang Komandan Kondo Isao yang datang mendatangi Otae dengan yukata formal. Semua yang ia rencanakan saat itu berjalan sangat lancar, Otae pun tidak memukulnya seperti biasa.
Ya, berjalan mulus...
Sampai Gorila itu mengatakan hal yang buat semuanya jumpalitan—
"Maukah kau menerima pisang coklatku ini?"
Dalam sekejap, lemparan Homerun pun terjadi.
Otae melempar Kondo sejauh-jauhnya, membuat rencana pernyataan cinta sang Komandan pun menjadi status gatot alias gagal total.
Padahal yang Kondo tawarkan itu benar-benar pisang coklat, ia sengaja membelinya dengan harga mahal. Namun karena Otae berpikiran yang lain, itulah yang terjadi.
Malang sekali nasibmu, oh kawan…
Oke, kita lupakan saja dulu Homerun dari kediaman Shimura.
Sekarang kita akan fokus ke Hijikata, Sougo, dan Yamazaki yang sudah berada di depan Yorozuya.
Sang Oni no Fukuchou mendapat giliran pertama di antara mereka bertiga untuk menyatakan perasaannya terlebih dulu.
Persetan dengan suit yang mereka lakukan beberapa menit yang lalu.
Tidak ingin basa basi, Hijikata pun menekan bel rumah yang ada di pinggir pintu.
"Haaaaaaii.."
Suara yang sangat familiar terdengar dari dalam. Dibukanya pintu shoji itu oleh seseorang yang menjadi tuan rumah.
"E-Eh? Hijikata, Okita-kun, Jimi, kenapa kalian disini?" Gintoki mengerjapkan matanya beberapa kali, tak menyangka aka nada tiga anggota kepolisian yang mampir ke kediamannya.
"Sudah kubilang bukan kemarin, Danna. Hijikata-san akan datang padamu." Sougo menjawab datar.
Sang anak buah mendorong punggung sang wakil komandan iblis, membuat orang yang bersangkutan berhadapan tepat dengan samurai bersurai perak tersebut.
Mengumpat dalam hati kepada sang junior, Hijikata tak bisa melakukan apapun karena di hadapannya sekarang adalah sang target.
Sang target acarayang tak tahu menahu hanya menatapnya polos.
"Hijikata? Ada apa sebenarnya ini?"
"A-Ah… Ano sa... G-Gintoki... O-O-Ore wa..."
Gugup dengan apa yang ingin dikatakan, suaranya pun tersendat-sendat bagaikan kaset rusak. Wajahnya mulai berubah menjadi merah bagaikan kepiting rebus.
Yamazaki dan Sougo yang merekam pun hanya bisa menanti pernyataannya di situ.
"Ore...wa..."
"Langsung saja, Hijikata-san~" Sougo menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa.
Gintoki masih bingung pun menyahut lagi. "Kau kenapa? Ada ap—"
"AKU MEMBENCIMU, YOROZUYA!"
Dengan teriakan membahana, Hijikata langsung memukul wajah tampan milik sang bos Yorozuya lalu berlari meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
"Khh—O-Oi! Tunggu, sialan!"
Tanpa membuang-buang waktu, Gintoki yang menjadi korban pukulan itu langsung mengejar sang pelaku yang melesat pergi entah ke arah mana.
"Yare yare, Hijikata-san benar-benar bodoh." Sougo tertawa puas, sudah lama tidak melihat Wakil Komandan itu malu seperti tadi.
Mendengar keributan yang terjadi di depan rumah, Kagura yang sebelumnya menonton TV pun langsung menghampiri Sougo dan Yamazaki.
"Sadist, Zaki, kenapa disini-aru?" tanyanya dengan ekspresi heran, membuat sang Pangeran Sadis berhenti tertawa.
Sialan! Kenapa dia ada dirumahsih, umpat Sougo.
"Karena kami ada perlu disini. Nah, Okita-taichou, kini giliranmu. Berikan itu sekarang." ucap Yamazaki sambil menyenggol lengan sang kapten dengan pelan.
"Percaya pada puisi buatanku." tambahnya dengan bisikan, agar Sougo saja yang mendengarnya.
"Aku tahu itu. Sudah sana kau pergi, Zaki."
"Iya, iya. Ohh? Tama-saaaaannn~"
Tidak peduli lagi dengan urusan orang lain, sang Intel Shinsengumi pun berlari untuk menyatakan perasaannya ke Robot Cantik yang menjadi idamannya selama ini.
Apa kalian tahu artinya? Sougo dan Kagura kini berduaan di depan rumah Yorozuya.
Waktu yang sangat pas sekali!
"Oi, Sadist! Jawab pertanyaanku-aru. Kenapa ada disini?"
Kagura menatap manik rubi Sougo sekilas sebelum menunduk melihat ke bawah. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa sangat malu. Padahal beberapa menit yang lalu ia berencana untuk datang ke Markas Shinsengumi secara langsung. Dia tidak menyangka bahwa pemuda itulah yang akan datang menemuinya terlebih dulu.
A-Apa dia akan menyatakan perasaannya? Berarti sama sepertiku, batin Kagura.
Ah, memikirkan kemungkinan itu saja sudah membuat wajah sang gadis Cina jadi memerah seketika.
"A-Ah, aku hanya mau memberikan ini."
Sougo langsung memberikan selembar kertas yang dilipat pada Kagura.
Dia menatap sang gadis sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Baca."
Kagura yang kebingungan hanya bisa terdiam seraya menerima kertas tersebut. Ia memperhatikannya sekilas lalu mendongak untuk menatap Sougo.
"Apa ini?"
"Sudah, baca saja."
Sougo memasukan kedua tangannya ke saku celana, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Tahu bahwa pemuda tersebut tidak akan menjawab pertanyaannya, Kagura pun membuka lipatan kertas itu lalu membaca apa yang tertulis disana di dalam hati.
.
'O, sang jelita yang menari di bawah sinar matahari
Matamu yang berkilau bagaikan permata selalu memikat daku
Warna biru yang selalu membawaku untuk tenggelam di dalamnya'
.
Eh? Apa ini? Puisi?
Kagura mengalihkan pandangannya dari kertas lalu menatap Sougo sekilas. Wajahnya memerah padam, merasa sangat malu dengan setiap kata yang ada di kertas itu. Dia tidak menyangka Sougo bisa membuat puisi seindah ini.
Mungkin dia harus mengubah pandangannya soal pemuda itu.
Penasaran dengan kelanjutannya, Kagura pun kembali membaca.
.
'Gelak tawamu mempesona
Wajahmu bagaikan sang dewi rembulan
Senyuman khasmu selalu membuatku teringat pada sesuatu
Manis dan menggoda, bagaikan pasta Azuki'
.
Huh? Persamaan yang aneh.
Dia membacanya lagi.
.
'Setiap yang kau lakukan selalu membuatku terperangah
Membuat makin terjatuh hati dnegan dalamnya
Sifatmu itu halus seperti adonan anpan yang digiling
Membuatku menginginkannya lebih dan lebih'
.
Apa?!
Kagura yang mulai sedikit kesal pun sengaja membacanya dengan suara keras.
'Mendapatkanmu itu membutuhkan banyak usaha lebih
Setiap detik, setiap menit, aku selalu menunggu waktu yang tepat
Aku selalu ingin menyatakan perasaan yang selama ini tersembunyi di dalam lubuk hatiku
Bahwa aku...'
DEG DEG DEG DEG
Detak jantung Kagura seketika berdetak dengan cepat. Moodnya sudah kembali karena kata-kata yang tertulis di sana sudah kembali seperti semula, sangat manis dan romantis.
Entah kenapa ia bisa tahu kelanjutan dari surat itu. Perlahan namun pasti, dia memfokuskan kedua matanya ke tulisan terakhir. Semburat merah terlihat jelas di pipi sang gadis.
Menarik nafas panjang lumayan lama, ia pun kembali membaca.
.
'Bahwa aku...
Menyukai...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Anpan.'
.
KORRRRRAAAAAAAA!
Kertas yang ia pegang dengan cepat ia sobek menjadi beberapa bagian. Setelah semuanya berubah menjadi kepingan kertas kecil, ia pun menatap Sougo dengan penuh emosi.
Sougo yang melihtanya begitu merasa heran. Ada apa?
Berani-beraninya dia mempermainkan perasaannya.
"Sadist, kau benar benar brengsek-aru!" Teriaknya sambil mengangkat satu tangannya.
Dia berniat untuk memukul wajah pemuda itu, namun sang empu langsung menahannya.
"T-Tunggu dulu, China, dengarkan aku dulu."
Sougo berusaha sekuat tenaga menahan kekuatan Kagura. Jujur saja, dia sebenarnya belum membaca atau memeriksa puisi yang dibuat Yamazaki. Kemarin, sang Intel terlihat sangat bisa diandalkan, karena itu sang Kapten Divisi Satu ini tidak mencurigainya sama sekali.
Bodohnya ia karena sudah menyerahkan semuanya pada Penggila Anpan.
Sialan kau, Zaki! Kau akan mati!
Rutukan Sougo dalam hati menguar di sanubari.
"Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu-aru! Shineeeee!"
Kagura mencoba berontak beberapa kali, namun genggaman di pergelangan tangannya semakin kuat. Sougo tidak akan melepasnya begitu saja.
"Dengarkan dulu, Chin—"
"Tidak-aru! Tidak mau! Aku tidak mau mendengarnya! Kau harus mati-aru! Shin—"
"SUKI DA!"
Teriakan Sougo sangatlah keras hingga menyentaknya dan berhasil membuat sang gadis berhenti berontak.
Dia menatap lurus manik safir milik Kagura dengan penuh keseriusan.
Kagura menatapnya balik dengan mata terbelalak.
Dia tak bohong, bukan?
"Kau bilang apa tadi?" tanyanya hati-hati.
"Aku menyukaimu, Kagura." ulangnya dengan suara yang lebih lembut.
Tangan kanannya yang bebas menyentuh pipi Kagura dan mengusapnya.
Sang gadis yang terkejut hanya bisa terdiam dan menatap Sougo dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mencari keseriusan di dalam manik rubi itu, dia harus memastikannya.
Dan ternyata ia menemukannya, sorot mata Sougo menjelaskan semua perasaannya. Suaranya sedikit bergetar ketika menanyakannya.
"K-Kau tidak berbohong-aru?"
"Sama sekali tidak."
"Benarkah? Bena- benar serius?"
"Iya, aku serius."
"Benar benar benar benar serius?"
TWITCH
"Jangan membuatku mengulangnya, China sialan."
Tidak mau mendengar perkataan Kagura lagi, Sougo pun menariknya ke dalam pelukan. Didekapnya erat tubuh sang gadis, tidak ingin melepaskan kehangatan yang tercipta diantara mereka berdua.
"Ka-Kalau kau serius, puisi tadi apa-aru?"
"Oh, itu Zaki yang membuatnya." Sougo menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, "Aku bingung harus memberimu apa jadi aku meminta tolong padanya. Bodohnya aku karena sudah percaya padanya."
"Pfft—Ahahaha..."
Kagura yang tadinya diam langsung tertawa terbahak-bahak. Ia memukuli dada Sougo beberapa kali, membuat sang empunya keheranan.
"Kau kenapa, ha? Stress?" ejek Sougo dengan nada menyebalkan.
"Kau bodoh-aru." balas Kagura sambil tersenyum manis.
Ia menariknya dan mengecup pipi Sougo sekilas lalu mundur beberapa langkah seraya melepas pelukan.
"Selamat Hari Kasih sayang, Baka-Sadist. Ini coklat untukmu-aru." sambungnya sambil menyodorkan sekotak coklat di hadapan sang pemuda. Sougo yang terkejut akan hal itu mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menatap Kagura.
"Untukku?"
"Tentu saja-aru. Ini untuk... Aku sendiri! Haha!~"
TWITCH
Perempatan siku-siku mampir di pelipis Sougo. Sepertinya diantara dirinya dan sang gadis Cina tidak akan berubah meskipun sudah menyatakan perasaannya masing-masing.
Sudah diduga.
"Hahaha, kalau mau ambil saja-aru." ucap Kagura seraya lari menjauh dari Sougo.
Tidak keberatan dengan tantangannya, sang Pangeran Sadis itu pun langsung mengejar sang gadis idaman.
Mungkin pernyataan perasaan mereka tidaklah mainstream, mulai dari puisi tidak bermutu dan tantangan yang berakhir dengan pertarungan.
Tetapi tidak apa. Pasangan yang satu ini tidak membutuhkan rasa manis dari coklat, maupun keromantisan dari sebuket bunga.
Yang mereka perlukan hanyalah hubungan pahit-manis seperti biasanya.
Tanpa mereka sadari, semua yang terjadi sudah terekam dari balik lensa dan akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
.
.
.
Fin
Thank you for reading~
===D.N.A. Girlz===
HAIIIIIII~~~ DNAgirlz aka Shinju desu~~~
Back lagi nih dan kali ini kami membawakan FF tema terakhir nih dari OKIKAGUWEEKID2018!
Kami puas karena benar-benar mati-matian membuat chapter puncak ini lol
Dan juga HAPPY OKIKAGU DAY!
WE REALLY LOVE THIS PAIR SO MUCH! XDDD
SENSEIIIII TOLONG JADIKAN CANON PLEASE! #maruklu
Jadi prompt kali ini memang asli garing dan romcom abis. Maafkan karena KonTae GinHiji dan ZakiTama ada nyempil lol not gomen ah~~~ BODO AMAT YANG PENTING HEPI #heh
DAN OTSUKARE BANGET DAN MAKASIH BANGET BUAT SHENA KARENA BIKIN PUISINYA MANTAP JIWA SEKALI. SAYA TAMBAHKAN LAGI YANG PUITISNYA BIAR MANCAYYYY~~~
Ah meskipun OkiKagu Day dan Gintama berakhir, FF ini juga akhirnya completed, reader jangan bersedih ya~~
Selama ada semangat kalian dan cinta kepada Gintama, takkan ada pernah yang padam di hati kita qwq
GINTAMA FANDOM DENGAN RAGAM MACAM PAIRINGNYA AKAN TETAP HIDUP!
Oke sekian aja dulu ya.
Yang sudah baca, Voment, Review, MAKASIH BANYAK YAAAAA *tebar cipok basah*
Untuk Shena, gapapa say. Aku selalu menunggumu kok uvu #eaasetiabanget
GANBATTE DAN AMIN SEMOGA BISA COLLAB LAGI SAMA SHENA DAKU TERTJAYANK EAA #plakk
Dan untuk yang baca, LOVE YOU FULL!~~~
Sekian dari saya, adios amigos!~ See you on the next fanfiction~
Regards,
D.N.A. Girlz
.
.
.
Hai hai hai, Shena and Shinju is BAAAAACKKK!
Kami membawa FF tema terakhir nih dari OKIKAGUWEEKID2018!
Ah, bener bener perjuangan. Aku ngetik ngebut dari jam 12 siang... XD Untung saja keburu!
Ah sebelum berkata lebih lanjut...
HAPPY OKIKAGU DAY!
AAHHHHH LOVE THIS PAIR SO MUCH!
Semoga mereka tetap bersama meskipun Gintama End.. *sobsob*
Oke, lupakan yang sedih sedih dan bahas yang menyenangkan~~~
Jadi gini... Prompt terakhir itu Random Prompt... Dibuat di shindanmaker *sama admin kayanya* dan aku dapet yang Moment OkiKagu ketika bersama Yamazaki.
Jadi aku dan Shinju bikin plot Yamazaki bikinin puisi buat Kagura karena disuruh Sougo! XD
Ahahaha jujur aku ngakak sewaktu ngetik puisi tidak bermutu itu... Aduh ampun... Semoga kalian suka yaaaaaaa!
Ah meskipun OkiKagu Day dan Gintama berakhir, juga FF ini completed, jangan bersedih ya~~
Selama aku suka Gintama, aku akan tetep bikin cerita tentang mereka... Tentang OTP OTP ku tercintaaaahh!
GINTAMA FANDOM AKAN TETAP HIDUP!
Oke, mungkin itu aja A/N nya~
Yang sudah baca, Voment, Review, ARIGATOU GOZAIMASU!
WE LOVE YOU! *chuchu*
Untuk Shinju, maaf chapter terakhirnya telat... Duh bersalah ini... XD
MAA GANBATTE ORETACHI! SEMOGA BISA COLLAB LAGI YA!
Kalau begitu, sampai bertemu di FF kami selanjutnya~~
Bai bai~~
Adios~~ *wink*
Love,
Shena & Shinju
