Disclaimer : tetep masih punya Masashi Kishimoto kok..

KYAAAA! Maap telat! Karena sibuk ngerjain tugas dan akhirnya tepar juga.. sakit maksudnyeeee…

Ni saya bawa chapter 3! *Lari-lari*

KYAAA! Gedebuk! Bak! Buk! Jegrek! *kepleset, jatuh, nabrak pintu, ketimpa tangga*

Selamat membaca! Semoga kalian suka! =) *Tersenyum manis dengan wajah penuh luka dan lebam sana sini gara-gara jatuh tadi*

Naruto:Rasain LU! Bikin gue sial terus sih!

Author: Apa! *ngejar-ngejar Naruto*

Warning: OOC, gaje, typo, de-el-el..

Don`t like? Don`t read..

Chap 3,, Updet!

Boys Note

Naruto membuka matanya. Sekelilingnya dipenuhi oleh warna putih.

"Apa aku sudah mati?" tanyanya pada diri sendiri.

Naruto mencoba bangun, tapi sekujur tubuhnya terasa sangat sakit. Dan sekelilingnya berwarna putih.

"Di-dimana aku?"

"Na-naruto.. Ja-jangan bergerak dulu.." sebuah suara lembut menyapanya.

Naruto berusaha menoleh kepada orang yang sedang berbicara dengannya, "Aduh!"

"Ja-jangan memaksakan diri dulu," kata asal suara.

"Terima kasih, Hinata," ucap Naruto lemah.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara lain.

"Oh, sungguh mengharukan.. Hiks.. Hiks," kata seorang anak berambut merah sambil menyeka air matanya.

"Benar." kata seorang lagi yang berambut nanas.

"Uwoooo! Cinta itu memang mengharukan!" teriak seseorang yang beralis tebal sambil menyeka air hidungnya yang meluber.

"Berbicara tentang cinta. Cinta itu memang seperti piring pecah ketika hujan," sambung seseorang yang berkacamata hitam. Orang yang masuk ke ruangan UGD semakin banyak.

"Apa hubungannya sih, Shino?" tanya Tenten tak mengerti, menyembul dari belakang Shino.

"Maksudnya, itulah cinta.. Tak dapat dimengerti. Seolah-olah cinta itu adalah air asin."

"Hah? Maksudnya?" tanya Tenten lagi.

"Maksudnya cinta itu.."

Shino tidak sempat menyelesaikan ucapannya, karena Kankuro memotong dengan tiba-tiba, "Kalau dilanjutin gak ada habis-habisnya,"

"Maksudmu?" tanya Tenten.

"Lo emang lagi kumat begonya, yah?" tanya Kankurou.

"Umm.. Maksudnya? Beneran gak ngerti nih!" tanya Tenten sambil garuk-garuk kepala.

"Maksudnya, kalau si Shino diladenin, gak bakal ada habis-habisnya!" Kankuro hampir menjerit histeris.

"Ohh.. Tapi, kok belum ngerti yah?" tanya Tenten lugu.

Kankuro ingin sekali meremas dua bola di kepala Tenten saking geramnya.

"Maksudnya gini lho, Tenten sayang.. 5 kali 6 sama dengan 30. Nah, balonku ada lima . Pelangi macam-macam warnanya. Ngerti?" jelas Shikamaru cepat sebelum Kankuro meledak saking geramnya pada ketidakmengertian Tenten.

"Oh, gituuuu! Bilang dong dari tadi!" Tenten tersenyum senang.

"Kau bilang apa tadi?" tanya Kakashi muncul dari jendela.

Shikamaru hanya mengangkat bahu. "Mana aku tahu. Tadi hanya asal berkata sebelum terjadi keributan. Mungkin Tenten juga pura-pura mengerti, karena tadi aku memperingatkannya lewat isyarat mata dan sebuah injakan keras di kakinya," Shikamaru tersenyum senang.

Bletak!

Kepala si rambut nanas terkena pukulan yang dahsyat dari seseorang yang berambut panjang.

"Jangan kurang ajar pada Tenten," ucap Neji dingin. Sedingin kulkas.

Si rambut nanas hanya mendelik kesal. Sedangkan Kakashi hanya mengupil sambil menonton nanas dan si rambut panjang bertengkar.

"Wah, sudah dapat banyak, sensei?" tanya Chouji yang melihat Kakashi sedang mengupil.

"Yah, lumayanlah.." ujar Kakashi sambil menunjukkan upilnya yang sudah dikumpulkan sampai sebesar plastik besaaaaaar.

"Buat apa, Pak?"

"Oh, ini mau dijual ke tukang loak. Uangnya buat beli buku Icha-Icha Paradise."

Chouji mengangguk sedangkan Gaara memasang tampang mau muntah.

Naruto sama sekali tidak bahagia melihat begitu banyak orang yang mengunjunginya. Jelas saja, dia masih di ruangan UGD. Dan teman-temannya memenuhi ruangan yang kecil itu. Membuatnya tidak dapat istirahat sama sekali.

Pemandangan itu seperti orang kampung yang baru datang ke kota alias norak abis. Naruto tak habis pikir, mengapa orang-orang di sekitarnya bisa segitu norak.

Tiba-tiba Kiba datang dengan segerombol cewek-cewek. Tsunade, Suzuna, Ino, dan Sakura. Ruangan itu kembali bertambah sempit.

Naruto megap-megap dibuatnya. Hinata pusing mengurusi Naruto yang mulai megap-megap kayak ikan yang kurang oksigen. Ditambah lagi, orang-orang sakit yang berada di UGD mulai merasa risih dengan pengunjungan yang terlalu banyak di sana. Mending kalau dikasih buah atau makanan untuk yang sakit di sana. Yang ada mereka cuma nambah pengap di ruangan itu.

"STOP!" Jiraiya tiba-tiba berteriak sambil memegang baju yang sepertinya baru dibeli. "Jangan bikin ribut di sini!"

"Memang kenapa?" tanya Tsunade tak senang. "Ini kan rumah sakit milikku!"

"Walaupun ini rumah sakitmu.. Kau tidak melihat situasi, ya?" tanya Orochimaru yang muncul dari belakang Jiraiya. Tampaknya dia telah terpengaruh Jiraiya untuk membeli baju dari Toko Guy`s T-shirt.

"O-Orochimaru?" Tsunade tak percaya.

"Ya. Ini aku. Kenapa?" tanya Orochimaru sok keren.

"Kau sudah bertobat atas dosa-dosamu yang telah lalu?"

Orochimaru menatap sebal pada Tsunade, "Memang kenapa, hah? Gak boleh?"

"Udah-udah.. Kasian yang lagi sakit. Tsunade, Orochimaru udah insaf. Kalo gak percaya nanti kita liat aja rekamannya," Jiraiya berkata pada Tsunade.

"Sialan! Rupanya kau merekamnya ya? Sudah kuduga! Awas kau!"

Jiraiya dan Orochimaru berkejar-kejaran kayak anak kecil. Semakin menambah kepengapan dan kesesakan di sana. Ino dan Sakura prihatin kepada Naruto. Bagaimanapun, mereka mengambil bagian dalam menyebabkan Naruto masuk ke rumah sakit.

"Naruto.. Maaf ya.. Kami keterlaluan sama kamu," ucap Ino lebih dulu karena kalah maen suit.

"Iya, Naruto. Kami gak maksud bikin kamu sampe kayak gini," Sakura nyambung.

"Nih, buku harian kamu berhasil kami selamatkan. Tapi, jangan tulis yang aneh-aneh lagi ya!" kata Ino lembut bernada setengah mengancam disertai tatapan tajam menusuk.

Naruto tersenyum dipaksakan. Dia sudah pusing dengan orang-orang yang mengelilinya.

"Ah, sudah jam segini!" teriak Kiba.

"Memang ada apa?" tanya Tenten.

"Kan ada layar tancep tuh, di balai desa!" teriak Kiba lagi.

"MAUUU!"

Semua berebut keluar dari ruang UGD.

"AWWWW!"

"SABAR DONG!"

"SAKIT TAUK!"

"KAKIKU!"

"MAMA!"

"ARGHHHHH!"

"NOOOOOOOO!"

"NYAAAAAAWWWW!"

"JUKEN!"

"MINGGIR! AKU JUGA MAU NONTON! WADAUW!"

"AWASSSS!"

.

.

BRAK!

Pintu ruang UGD itu rusak dalam waktu sekejap. Karena di lewati oleh lima orang sekaligus. (5 orang seakan 10 orang saja!)

Sekarang hanya tinggal Naruto dan Hinata beserta pasien-pasien lain yang berada di ruang UGD yang pintunya telah rusak akibat perbuatan tak bermoral para pengunjung yang ingin berebut nonton layar tancep. (buset.. dah!)

Naruto memandang ngeri pada buku hariannya. Kalau saja dia tidak menulis buku hariannya pada hari itu, dia tidak akan masuk rumah sakit. Kalau saja dia tidak menulis pada hari itu dia tidak akan di pukul oleh Ino. Kalau saja…

"Na-Naruto.. A-aku pulang dulu ya," Hinata berkata dengan wajah merah.

"Ya.. Terima kasih," jawab Naruto masih lemas.

Sepeninggal Hinata, tanpa sadar Naruto mengambil pulpen dan membuka buku hariannya.

11 Januari

Aku masuk rumah sakit

Belum selesai Naruto menuliskan satu paragraph, tangannya ditahan oleh seseorang. Ino.

"E-eh.. Ino?" tanya Naruto setengah gugup.

"Yup, ini aku. Jangan menuliskan hal yang aneh ya!" Ino menyeringai seram.

Naruto menelan ludahnya.

Kali ini dia harus berhati-hati.

To Be Continue

Chap 3 end.

Gimana? Gimana?

Segini aja dulu ya!

Jangan lupa review dong.. Hehehee…

Author: Gimana? Dah gak sial lagi kan ?

Naruto: Masih sial! *megang tombak*

Author: Masa?

Naruto: Iya! *ngejar Author pake tombak*

Author: Hieee… *lari*