Huye! I'm back! *treak-treak gak jelas* yah saya akan melanjutkan fic ini! Dengan otak humor yang pas-pasan dan gak ada gunanya! Jangan salahkan saya kalau nantinya fic ini tidak ada humornya sama sekali.
.
Ho iya mulai dari chapter ini adalah misi dari siswi kelas X dan client mereka.
Untuk chapter ini pairingnya adalah GinMatsu.
Sampe kiamat pun Bleach tetap milik Tite Kubo
?
?
?
Happy R&R!
High School Project
Chapter 3 : Protect a silver fox!
Pukul 23.30 di Gin Ichimaru Mansion.
Di dalam ruang kerja Gin masih berkumpul para pengawalnya, membahas tentang perketatan penjagaan terhadap dirinya karena di pihak musuh sepertinya sedang merencanakan penyerangan ke mansion Gin.
"Bos, sepertinya saya kurang yakin kalau anak SMA itu bisa melindungi anda dari pihak musuh" kata seorang pengawal yang sekarang tengah berdiri di depan Gin.
"Jadi...kau meragukan anak SMA itu?" kelopak mata Gin memperlihatkan mutiara merahnya.
"Bu..bu...kan...beg...beg..gi..tu" sang pengawal jadi gagap mendadak.
"Ku pecat baru tahu rasa kau!" kata Gin enteng.
"Jangan bos! Anak saya empat! Istri saya sedang sakit! Mereka mau makan apa kalau saya tak bekerja?" sang pengawal dengan gajenya ngomel-ngomel sambil gelayutan di kaki Gin.
"Salah siapa buat anak kebanyakan?" sebuah sweetdrop muncul di kening Gin.
"Bos! Tolong jangan pecat saya!" si pengawal mulai nangis gaje kaya sinetron-sinetron.
BRAAAK!
Pintu mewah dengan ukiran mahal itu dibuka dengan nistanya.
"Heh! Nyadar gak sih ini jam berapa?" tiba-tiba sang gadis SMA yang sedang dibicarakan muncul.
"Rangiku-chan!" wajah Gin berubah jadi kaya anak tk yang baru ketemu ibunya.
"Siapa yang tadi berisik?" aura hitam menjadi background Rangiku.
"Dia!" dengan polosnya Gin menunjuk si pengawal gaje yang masih gelayutan di kaki Gin.
"Oh...jadi kamu?" monster Rangiku beraksi *plaks!* matanya merah, rambut acak-acakan, rol rambut nyantol gak jelas, kantong mata, jalannya gontai.
Si pengawal gaje ngelepasin gelayutannya, trus mulai ngengsot menjauh.
"Nggak tahu apa? Kalo orang lagi usaha tidur?" seringai muncul di bibir Rangiku.
"Ampun..." si pengawal mulai nangis gaje lagi.
"Hidup Rangiku-chan!" Gin mulai nari-nari pake pom-pom.
Tampang monster Rangiku berubah menjadi tampang psikopat, Rangiku mengeluarkan garpu yang entah dari mana.
Si pengawal mulai komat-kamit baca doa dari berbagai keyakinan.
Tluk!
Garpu yang dipegang Rangiku jatuh dan dengan gerakan lambat tubuh Rangiku mulai jatuh tapi dengan secepat kilat Gin langsung menangkap tubuh Rangiku.
"Eh? Dia tidur?" batin Gin.
Si pengawal gaje langsung sujud sukur.
"Hey kau! Kau dihukum! Hitung semua rumput yang ada di halaman depan!" kata Gin dengan entengnya.
"Hweeee!" si pengawal gaje nangis alay.
"Semuanya bubar, kita lanjutkan besok pagi." Kata Gin memberi perintah.
Semuanya menuruti perintah sang bos.
"Lalu nona Rangiku mau anda apakan?" celetuk seorang pengawal.
Senyum rubah bercampur iblis terlukis di bibir Gin.
Tanpa menjawab pertanyaan pengawalnya, Gin melangkah meninggalkan ruangannya dan membawa Rangiku ke kamarnya.
(^-^)
Setelah membaringkan tubuh Rangiku, Gin melepaskan semua rol rambut yang terpasang di rambut Rangiku.
Gin duduk d sebelah Rangiku yang masih terlelap, mata merahnya menelusuri wajah polos Rangiku yang masih terlelap, bulu mata yang lentik terpasang indah di kelopak mata yang menutupi berlian musim gugur.
"Hoam..." Gin mulai terkantuk.
Gin melirik jam dinding yang terpasang, jam sudah menunjukkan jam 01.00
Dengan santainya Gin merebahkan dirinya di tempat tidur Rangiku.
Jam 07.00
Krrriiiiing!
Jam kecil yang terselip di bawah bantal berdering dengan nistanya, memaksa orang untuk bangun.
"Berisik!" Gin mengambil jam kecil itu dan langsung melemparkannya ke sembarang tempat lalu kembali mencoba tidur lagi.
"Ngh..." Rangiku membalikkan badannya, matanya masih tertutup tapi tangannya meraba-raba mencari bantal untuk didekapnya, dan akhirnya dia menemukan yang dia cari, tanpa tahu apa yang sebenarnya dia dekap.
Suhu hangat menjalar di bahu Gin, rasanya nyaman. Gin membalikkan badannya tapi masih dengan mata terpejam lalu dengan pedenya memeluk Rangiku yang dia pikir adalah sebuah bantal.
Tik.
Tik.
Tik.
Jam yang terpasang di dinding menjadi musik pengiring kesunyian di kamar.
"Ngh...panas..." Rangiku mencoba melepaskan diri dari pelukan.
"Panas..." Rangiku masih saja mencoba melepaskan, tapi entah kenapa semakin dia mencoba, semakin erat juga pelukan itu.
"Panas!" dengan sekuat tenaga Rangiku menendang.
Bruk!
Terdengar dengan keras ada sesuatu terjatuh.
"Eh?" Rangiku langsung membuka matanya lalu beberapa kali mengerjapkan mata untuk mengumpulkan kesadaran.
"Aduh!" terdengar suara 'sesuatu' yang baru saja terjatuh dari tempat tidur Rangiku.
Rangiku langsung melihat apakah 'sesuatu' yang telah jatuh itu.
Deg!
Nafas itu bisa dirasakan dalam jarak yang sangat dekat.
Hening.
Wajah Rangiku mulai berubah warna.
Hening masih menjalar.
Tik!
"KYAAAAA!" teriak Rangiku yang sudah berhasil membuat orang di kutub utara menjadi tuli permanen.
Dengan sigap Gin langsung membekap mulut Rangiku.
"Diam." Kata Gin tegas.
Rangiku menganggukkan kepala.
"Bagus." Gin pun melepaskan bekapannya.
Rangiku langsung menjauh dari Gin.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rangiku histeris.
"Kecilakan dulu suaramu, baru akan aku jawab" kata Gin sambil berusaha bangkit dari lantai.
"Jawab!" kata Rangiku masih dengan kehisteriasannya.
"Tadi malam kamu tertidur pada saat..." Gin tidak melanjutkan perkataannya saat melihat gelagat aneh dari Rangiku.
"Sejak kapan?" mata Rangiku menelusuri Gin.
"Maksudmu?" Gin berusaha memahami.
Mata Rangiku mendapati keanehan telah terjadi di dalam kamarnya, jas hitam Gin tergeletak dalantai beserta dengan sepatunya dan kemeja yang sekarang dipakai Gin kancingnya terbuka sampai dada.
"APA yang kamu lakukan?" Rangiku mengeluarkan aura hitam.
"EH? Ini bukan seperti yang kamu bayangkan" nyali Gin menciut.
Brak!
Pintu kamar Rangiku ditutup dengan kasar.
"Sakit..." Gin memegangi pipi kirinya.
Sebuah tanda merah membekas disana.
Cklek!
Pintu kamar Rangiku dibuka lagi.
"Bawa itu!" Rangiku melemparkan sepatu Gin dan mendarat tepat di kepalanya.
Brak!
Pintu ditutup dengan kasar lagi.
Gin berjalan gontai menuju kamarnya.
(^-^)
"Bos! Kapan kita akan menyerang persembunyian rubah brengsek itu?" tanya seorang pengawal pada bosnya.
"Kita lihat..." sang bos yang bertampang sangar menolehkan wajahnya menatap seorang anak kecil autis yang sedang main lopat kodok di halaman.
"Eh?" sang pengawal bingung.
"Yachi-chan! Kapan kita akan mulai?" teriak sang bos dari jendela tempatnya yang terletak di lantai dua.
"Ken-chan!" sang anak kecil autis menegok ke sumber suara dengan mata yang berbinar-binar
"Permen atau manisan?" teriak sang bos.
"Permen!" jawab sang anak autis.
"Kau tahu kan jawabannya?" tampang sang bos kembali serius.
"Ba..baiklah" sang pengawal hanya bisa keheranan melihat majikannya itu.
Di halaman depan mansion Gin terlihat sorang pengawal dengan cucuran keringat masih menghitung rumput-rumput yang terhampar luas.
"Sepuluh ribu lima ratus tujuh belas, sepuluh ribu limaratus delapan belas, sepuluh ribu limaratus sembilan belas, sepuluh ribu lima ratus dua puluh..." sekali-kali sang pengawal menyeka keringatnya dan mulai menghitung lagi.
Rngiku yang kebetulan sedang lewat hanya bisa heran dengan hukuman yang diberikan Gin kepada pengawalnya itu.
"Hey! Sedang apa?" tanya Rangiku sambil melangkah mendekat ke tempat sang pengawal itu.
"Hiya! Jangan mendekat!" sang pengawal terlihat ketakutan dengan kedaangan Rangiku.
"Eh?" Rangiku mengehentikkan langkahnya.
Sementara sang pengawal yang ketakutan dengan Rangiku, di jendela lantai tiga mansion itu terlihat Gin yang sedang memperhatikan Rangiku.
"Aku tidak percaya kalau ini akan semakin rumit." Gumam Gin masih memperhatikkan Rangiku dari jendela ruangannya.
Rangiku merasa ada sesuatu, dia langsung mencari-cari sesuatu itu. Dilihatnya keadaan mansion tapi tidak ada yang mencurigakan lalu Rangiku mencari di setiap jendela yang terlihat dari tempatnya berdiri sekarang dan dia melihat sekelebat bayangan yang menghilang dari jendela lantai tiga.
"Siapa?" pikir Rangiku lalu langsung berlari menuju ruangan itu.
Sang pengawal merasa lega karena Rangiku sudah tidak mengganggunya dan sang pengawal itu pun mulai menghitung lagi.
"Eh? Tadi aku sudah menghitung sampai berapa ya?" tiba-tiba keringat dingin mengucur deras dari kening sang pengawal.
"Tidak! Aku harus mengitungnya lagi!" sang pengawal nagis gaje sambil ngais-ngais rumput.
Rangiku kembali ke kamarnya dan mengambil katananya lalu langsung melesat ke lantai tiga. Sesampainnya di lantai tiga Rangiku mencari ruangan yang diperkirakan jendelannya bisa terlihat dari halaman depan. Matanya menjelajahi dan menemukan ruangan itu.
Brak!
Rangiku mendobrak pintu dengan kasar sampai mengakibatkan sang penghuni terkejut.
"Rangiku?" Gin menatap Rangiku.
"Kamu?" Rangiku juga menatap Gin.
Hening...
"Maaf aku kira ada orang asing yang mau menyerang mu, permisi..." Rangiku hendak menutup pintu tapi Gin mengehentikannya.
"Tunggu!" cegah Gin.
Rangiku tidak jadi menutup pintu.
"Kamu adalah pengawalku, jadi jangan pernah jauh dariku" kata Gin.
Sebuah makna tersirat di dalam perkataan Gin.
"Hah..baiklah" kata Rangiku.
"Sekarang temani aku"
"Iya..iya"
Pukul 23.00
Di dalam kamar, Rangiku sedang mengobrol dengan Nanao lewat ponselnya.
"Ini aneh, kenapa tidak ada tanda-tanda dari musuh?" tanya Rangiku.
"Mungkin musuh masih menyusun rencana dengan matang dulu, baru mereka menyerang" jawab Nanao.
"Hey Nanao, kamu tahu bagaimana caranya supaya bisa memperkirakan apa yang musuh lakukan?" kat Rangiku.
"Bukannya kamu yang ahli menguasai kondisi?" Nanao balik bertanya.
"Entah, aku mulai meragukan kemampuanku" jawab Rangiku sambil meletakkan sebuah kertas yang tengah dia baca.
"Apa ada sesuatu?" Nanao sepertinya mengetahui sesuatu.
"Entahlah..eh sudah ya" Rangiku memutuskan sambungan.
Mansion luas itu sepi, para pengawal yang berjaga di luar terlihat tergeletak di tanah. Rangiku merasakan firasat aneh, dia mengambil katananya dan langsung berjalan mengendap-ngendap menuju kamar Gin yang ada di lantai tiga.
Saat melewati jendela besar yang ada di lantai tiga, Rangiku melihat semua pengawal tergeletak di tanah.
"Ternyata benar! Sialan!" Rangiku mempercepat langkahnya.
Brak!
Rangiku mendobrak pintu kamar Gin.
"Gin!" panggil Rangiku.
Orang yang dipanggil tidak menjawab. Keadaan kamar Gin kosong.
"Gin!" panggil Rangiku untuk kedua kalinya.
Rangiku mencari di sekeliling kamar tapi Gin masih tidak ditemukan, sampai pada akhirnya Rangiku melihat Gin sedang bermain dengan seorang anak kecil berrambut pink.
"Siapa anak kecil itu?" Rangiku meneliti anak kecil yang sedang bermain dengan Gin.
Matanya terbelalak setelah mengetahui kalau anak kecil itu adalah musuh. Tidak pikir panjang Rangiku langsung memecahkan kaca jendela dan langsung melompat ke semak-semak.
Di halaman Gin dan anak kecil itu menyadari ada sesuatu yang baru saja jatuh. Tidak lama muncullah Rangiku dari semak-semak.
"Gin! Menjauh dari anak itu!" teriak Rangiku.
"Eh?"
Senyum iblis terlukis di bibir anak kecil berrambut pink itu.
"Mau permen?" anak kecil itu mengeluarkan sesuatu yang mirip seperti permen kapas dan melemparkannya ke arah Rangiku.
Bum!
Permen kapas itu meledak tepat di depan Rangiku dan mengeluarkan asap yang membuat mata perih.
"Jadi kau?" Gin menodongkan pistolnya pada anak kecil yang sekarang sedang berdiri tenang di sebelahnya.
"Mau permen juga?" anak kecil itu mengeluarkan sebuah permen kapas lagi.
Bum!
Permen kapas itu meledak dan mengeluarkan asap tebal.
Dor!
Gin menekan pelatuk pistolnya.
Perlahan-lahan asap menghilang dan terlihatlah semuanya, Rangiku terlihat sedang memegangi betisnya yang mengeluarkan banyak darah. Mata Gin terbelalak, ternyata pelurunya mengenai Rangiku.
"Kamu tidak apa-apa?" Gin langsung duduk di depan Rangiku.
"Kemana anak kecil itu?" tanya Rangiku tanpa menjawab pertanyaan Gin.
"Jangan pedulikan dia! Lihat dirimu!" Gin terlihat panik.
"Dia adalah musuh yang harus dibereskan!" Rangiku mencoba untuk berdiri.
Gin menahan Rangiku, lalu Gin merobek lengan kemejanya dan melilitkannya pada betis Rangiku.
"Terima kasih" Rangiku mencoba berdiri lagi dan akhirnya bisa.
Gin hanya menatap Rangiku yang mencoba mengejar anak kecil berrambut pink itu.
"Berlindunglah dulu! Aku akan segera kembali!" teriak Rangiku dari kejauhan, Gin tersenyum.
Rangiku masih mencari anak kecil berrambut pink yang tadi menyerangnya, di dalam taman dia tidak menemukan siapa pun.
"Mencari aku?" anak kecil berrambut pink itu muncul dari deretan bambu yang ada di taman.
"Yah bisa dibilang begitu, hey tahukah? Aku membawakan permen lho" Rangiku mengeluarkan satu bungkus permen lolipop.
"Wah! Aku mau, aku mau" mata anak kecil itu berbinar-binar melihat kumpulan permen lolipop yang sekarang sedang di pegang Rangiku.
"Kalau kamu mau ini, jawab pertanyaanku!' kata Rangiku.
"Iya,iya" kata anak kecil itu polos.
"Siapa kamu dan siapa yang menyuruhmu?" tanya Rangiku.
"Namaku Yachiru dan yang mengutusku adalah Ken-chan!" anak kecil itu mengeluarkan bungkusan permen kapas seperti yang tadi dia lakukan.
Bum!
Asap memenuhi taman.
"Terima kasih atas permen lolipopnya" anak kecil itu mengambil permen lolipop yang sedang dipegang Rangiku dan menggantinya dengan sebuah amplop hitam.
Kesadaran Rangiku perlahan-lahan menurun, tubuhnya pun terhempas ke tanah.
"Sadarlah..."
"Bangun..."
"Ngh..." Rangiku merasa ada yang sedang memainkan bulu matanya.
"Bangun..."
"Ngh..." Rangiku membuka matanya.
"Hehehe..." senyum rubah Gin langsung terlukis saat Rangiku terbangun.
Rangiku hanya diam sambil menatap Gin yang masih saja tersenyum rubah dengan kedekatan jarak wajah mereka.
"Dasar mesum!" Rangiku langsung menjauhkan wajah Gin.
"Hiyaaa!" lagi-lagi Gin terjatuh dari tempat tidur.
Rangiku duduk di tempat tidurnya, mencoba mengingat kejadian tadi malam.
"Tadi malam, ada sesuatu yang diberikan anak kecil itu." Kata Rangiku.
"Apa maksudmu amplop ini?" Gin menyerahkan amplop hitam itu pada Rangiku.
Rangiku menerima amplop itu dan kemudian membukanya.
"Apa isinya?" tanya Gin penasaran, dan langsung duduk di sebelah Rangiku.
Pesan:
Ini adalah permulaan.
K.Z
Permen.
(^o^)/
"Apa maksudnya?" mereka berdua berpandangan.
Hening.
Senyum rubah terlukis di bibir Gin.
"Apa?" tanya Rangiku.
"Pertolonganku tidak gratis lho" Gin mendekatkan wajanya.
"Maksudmu?" Rangiku baru ingat kalau dia dan teman-temannya berniat untuk mengerjai client mereka, terbesitlah ide untuk mengerjai client mesum ini.
"Oh itu? Baiklah tapi ada syaratnya" kata Rangiku.
"Apa?"
"Tutup matamu pakai kain ini" Rangiku memberikan sebuah kain hitam yang entah dari mana.
"Baiklah" dengan polosnya Gin menutup matanya dengan kain pemberian Rangiku.
Rangiku menuntun Gin berdiri dan menyuruhnya diam di tempat.
"Tunggu sebentar." Rangiku keluar dari kamarnya.
Di sepanjang lorong Rangiku tidak menemukan seseorang untuk menjalankan rencananya dan pada akhirnya dia menemukan pengawal yang pernah dia temui di halaman depan.
"Hey kau! Sini!" panggil Rangiku pada pengawal itu.
Si pengawal pura-pura tidak tahu. Rangiku pun kesal.
"Ya sudah, padahal aku disuruh Gin untuk memanggilmu lho, kalau kau menolak kira-kira hukuman apa lagi ya?" Rangiku pura-pura akan kembali ke kamarnya.
Si pengawal mulai merinding dengan perkataan Rangiku.
"I..iya...ada apa?" si pengawal takluk juga dengan ancaman Rangiku.
"Kau disuruh menghadap Gin, tapi dengan satu syarat, kau harus memakai penutup mata" kata Rangiku dengan tampang yang sangat meyakinkan.
Akhirnya si pengawal menuruti syarat yang dikatakan Rangiku, Rangiku pun menuntun si pengawal ke kamarnya.
Cklek!
Rangiku membuka pintu dengan hati-hati.
"Rangiku?" panggil Gin yang masih saja berdiri dengan penutup mata.
"Ya..aku disini"
Rangiku menyuruh si pengawal berdiri di tengah kamar dan juga menyuruhnya supaya tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Rangiku menghampiri Gin yang sekarang masih berdiri di sebelah tempat tidur.
"Tangkap aku dan kamu akan mendapatkannya..." bisik Rangiku di telinga Gin.
"Oke...mulai" dengan cepat Gin berhasil menggenggam tangan Rangiku, tapi ternyata Rangiku bisa mengelak.
Gin masih berusaha mendapatkan Rangiku dengan mendengar suara Rangiku, dan pada akhirnya Gin berhasil memeluk yang dia inginkan.
"Yakin kalau itu aku?" bisik Rangiku di tengkuk Gin.
Gin langsung membuka penutup matanya dan mendapati dirinya sedang memeluk pengawal yang juga memakai penutup mata. Si pengawal juga membuka penutup matanya.
"Hitung semua kelopak bunga sakura yang ada di halaman belakang!" titah Gin geram.
Si pengawal langsung menjalankan perintah sang bos.
"Rangiku!" Gin memperlihatkan mata merahnya, Rangiku masih saja tertawa tanpa mengira kalau Gin sedang melangkah mendekatinya.
Bruk!
Gin memojokkan Rangiku ke dinding.
"Aku akan mendapatkannya" Gin menatap Rangiku lurus.
"Itu tidak bisa dipaksakan, aku di sini hanya menjadi pengawalmu" kata Rangiku yang juga menatap Gin.
Gin melepaskan Rangiku.
"Tapi terima kasih atas pertolonganmu" Rangiku mengecup pipi Gin
"Tidak bisa lebih?" tawar Gin.
"Tidak." Jawab Rangiku dan diakhiri dengan sebuah senyum.
"Permen. Permen. Permen" anak kecil autis masih saja menjilati permen lolipopnya yang dia ambil seenaknya.
"Hehehe rencana sudah berhasil." Sang bos tersenyum iblis
==========================To Be Countinue==========================
Nyahahahahah akhirnya chapter 3 selesai!
Kepanjangan ya? maaf dah!
Gimana ceritannya? Apakah membosankan?
Yah dimohon REVIEW!
SPECIAL THANKS TO REVIEWERS AND READERS~! (^-^)/
