.
Aku menahan napas.
"Ada apa, Sakura?" Suara Kak Itachi yang keheranan terdengar di belakangku. Aku tak menghiraukannya.
Permukaan bawah sepatu itu—kini terdapat beberapa ekor semut yang terlihat mengerubungi sesuatu yang berwarna kemerahan pekat yang menempel di sol kayu itu. Cairan kemerahan yang tak wajar itu..
Keringat dingin tanpa sadar kembali menuruni punggung dan lenganku—diiringi sensasi desir yang aneh.
Tak mungkin..ini tidak mungkin.
Polaris
A SasoSaku (maybe) fanfiction..
Genre: Friendship/Fantasy
Rate: T
Naruto © Masashi Kishimoto
Disarankan untuk membaca chapter 3 ini sambil mendengarkan lagu Beethoven – Moonlight Sonata. Selamat menikmati!
.
Malam ini tengah ada badai salju di luar. Aku bangkit dari ranjangku, dan menutup gorden di jendela yang tadi terbuka sedikit. Bunyi angin yang menderu-deru bergema di luar sana.
Kurapatkan selimutku menutupi wajah. Huh, ini tak bagus. Aku tidak bisa tidur.
CRAK.
Terdengar suara ranting patah yang jatuh di luar. Aku menggigit bibir, keringat menetes di dahiku. Oke, aku tak tahan lagi.
Akhirnya aku pun mengambil kandil lilin yang terletak di meja kecil samping tidurku, dan segera keluar kamar—menyusuri koridor dengan langkah cepat-cepat. Tujuanku, kamar Kak Itachi.
Biasanya Kakak tertuaku itu belum benar-benar tertidur jam segini. Ia sedikit menderita insomnia. Berbeda dengan Kak Sasuke, yang biarpun mansion Marchen diguncang gempa sekalipun, sepertinya ia akan tetap nyenyak tenteram di tempat tidurnya.
Tuk, tuk.
"Siapa?" terdengar suara setengah menggumam dari dalam.
"Ini aku, Sakura," jawabku cepat. Lilin yang kupegang di tanganku bergoyang sesaat, menimbulkan bayangan aneh yang memantul di tembok.
Sejurus kemudian, pintu terbuka. Kak Itachi berdiri di ambang pintu sambil menatapku heran, sebuah cangkir berisi kopi tergenggam di tangan kanannya.
"Ada apa, Sakura?"
Aku menatap pemuda berambut hitam didepanku itu dengan pandangan memaksa. "Kak Itachi, malam ini aku tidur disini ya?"
Seperti yang kuduga, ia langsung mengiyakan.
"Hmm, kau ketakutan ya?" Ia tertawa kecil. "Ya sudah, masuklah kalau begitu," ia masuk lebih dulu ke dalam, diikuti aku yang berjalan di belakangnya.
Aku tak begitu takut lagi sekarang. Masa bodoh kalau nanti aku mendapat mimpi buruk seperti tadi siang. Karena saat ini, ada Kak Itachi yang menemaniku.
Aku tersenyum saat memikirkan itu, sebelum menarik selimutku ke atas dan segera terlelap.
.
"Jangan lari, mengapa takut padaku, Nona?"
Bisikan itu terdengar di telingaku, diikuti rasa dingin yang familiar.
Aku membuka mata, dan mendapati diriku sedang berdiri di tengah-tengah ruangan yang dipenuhi boneka. Ada yang tengah duduk mengelilingi meja seakan sedang menghadiri pesta minum teh, ada juga yang hanya berdiri bersandar di tembok.
Aku tercekat. Mata kaca mereka..seperti menatapku.
Dan ketika aku menolehkan kepala ke belakang, tampak boneka anak laki-laki berkostum pelaut yang kulihat kemarin. Mata cokelat lembutnya mengedip sekali.
Bukan ilusi.
Aku benar-benar merinding sekarang. Tapi lidahku mendadak kelu—dan tak ada teriakan yang keluar.
'Lari, lari Sakura..'
Ketika aku melangkahkan kaki untuk berlari, sepatu satinku yang licin menghambat langkahku. Dan..
DRAK.
Ujung tumit sepatuku itu tersandung paku yang menonjol dari sebuah papan lantai, dan dengan segera aku pun hilang keseimbangan. Sial, sial. Mengapa sempat-sempatnya terjatuh di saat-saat seperti ini?
Lututku sakit.
Aku tak bisa bangkit. Sepertinya aku terkilir. Aku mendecakkan lidah kesal, sementara keringat dingin mengaliri pelipisku perlahan.
Dan dalam saat genting seperti itu, tiba-tiba sebuah tangan pucat terulur di depanku—seakan menawarkan bantuan untuk menyanggaku berdiri.
Tangan siapa itu? Sepertinya milik Kak Sasuke. Tapi aku segera meraihnya, tanpa memikirkan berbagai kemungkinan lagi.
Tapi..
..itu bukan tangan Kak Sasuke.
Ketika aku sudah berdiri sempurna, kuangkat wajahku untuk melihat wajah sang penolongku barusan.
Tapi yang kutemui adalah sepasang iris cokelat lembut yang menatapku kosong. Bola mata kaca. Aku tercekat.
"Kyaaaaa!"
.
"Kyaaaaa!"
Tanganku bergerak menggapai-gapai ke depan, hanya untuk menemui udara kosong. Aku membuka mata. Ada Kak Itachi yang masih tertidur di sampingku.
Ternyata hanya mimpi.
Aku menghela napas lega. Hh..syukurlah. Tapi bayangan iris cokelat lembut milik sang boneka pelaut yang menatapku kosong itu masih segar di ingatanku. Aku menggelengkan kepala, dan mengambil air putih yang berada di meja di samping ranjang.
Setelah meminum air di gelas itu, aku merasa lebih baik.
Aku menghela napas. Sepertinya..siang nanti aku harus ke tempat pertunjukan boneka yang kemarin lagi. Untuk mengecek sesuatu..
.
"Tiketnya, Nona?"
Setelah memberi karcis pada penjaga pintu tenda berambut pirang barusan, aku memasuki tempat pertunjukan itu. Seperti biasa, beberapa tempat duduk yang strategis sudah terisi penuh. Setelah melihat berkeliling untuk beberapa saat, aku memutuskan untuk mengambil tempat di sebelah kakak beradik berambut hitam yang duduk di dekat panggung.
Pertunjukan dimulai lima belas menit kemudian. Lakon yang dimainkan kali ini adalah cerita "Putri Tidur". Boneka anak perempuan berambut pirang yang memerankan sang putri sungguh cantik. Ia bergerak kesana kemari di panggung, dengan bunyi klik-klak mekanis pertanda engsel-engselnya yang saling beradu.
Aku diam, menonton pertunjukan itu antusias. Tak terlalu banyak dialog dalam pertunjukan kali ini, dan lebih didominasi oleh musik pengiring dari gramofon tua yang diputar di sudut panggung. Selang setengah jam kemudian, para boneka itu pun berkumpul di tengah panggung, dan saling membungkuk ke arah penonton berbarengan—pertanda pertunjukan telah selesai. Tepuk tangan meriah mewarnai akhir pertunjukan itu.
Layar pun diturunkan, dan satu persatu penonton bergegas keluar dari tenda pertunjukan. Aku masih terdiam di tempatku duduk, mengawasi tempat duduk penonton yang perlahan menyepi.
Setelah penonton terakhir keluar, aku beranjak dari tempat dudukku—melangkah perlahan ke arah panggung. Saatnya memastikan.
.
Aku menyingkap tirai penutup panggung itu pelan-pelan. Seperti kemarin, puluhan boneka tampak berjejer mengelilingi tembok di ruangan di balik panggung itu. Mata kaca mereka menatap hampa ke depan.
Hening. Aku berdiri diam di tempatku di dekat tirai, menunggu sesuatu terjadi. Tak ada yang aneh—
"Apa yang kau cari disini, Nona?"
Keringat dingin mengalir menuruni pelipisku—tapi aku berusaha untuk tak menghiraukannya. 'Jangan takut, Sakura,' bisikku dalam kemudian segera kutolehkan kepalaku ke belakang, untuk mencari tahu sang pemilik suara tadi. Seperti kemarin—
—sesosok boneka anak laki-laki berambut cokelat yang berkostum pelaut tengah berdiri di sana. Mata cokelat kacanya menatapku kosong.
"K-kau yang berbicara barusan, Tuan Boneka?" kataku gugup. Mungkin aku sudah gila sekarang, bisa-bisanya berbicara pada boneka.
Tanpa disangka-sangka, kepala boneka anak laki-laki itu bergerak, memberi sebuah anggukan kecil.
Ia merespon.
Ini bukan halusinasi.
"B-boneka..bisa berbicara?" gumamku gugup, namun tak bisa menyembunyikan keherananku. Oke, sekali lagi, ini buka halusinasi. Ini benar-benar nyata.
Ia tak menjawab. Sejurus kemudian, jemari berlapis sarung tangan putihnya terangkat keatas—mencengkeram kedua sisi kepalanya.
Ia menarik tangannya keatas, dan kepala berambut cokelat itu pun bergerak perlahan.
Aku menahan napas.
Itu..
.
Itu..
Kepala berambut cokelat itu terangkat keatas, dan menyingkapkan sesosok wajah anak laki-laki yang berusia sekitar delapan belasan yang berada di bawahnya. Rambutnya berwarna merah, dan irisnya berwarna sama seperti iris kaca milik kepala boneka tadi. Leher kebawahnya masih berbalut kostum pelaut.
Kini kepala berambut cokelat milik boneka berseragam pelaut tadi itu tergenggam diam di kedua tangannya.
"Mm." Ia menggumam, membuatku tersadar kembali dari keterkejutanku barusan.
"K-kau..bersembunyi di balik topeng boneka itu?" tanyaku agak ragu. Keringat dingin mengaliri pelipisku perlahan.
Ia memiringkan kepala berambut merahnya sedikit,membuatnya kelihatan agak kekanak-kanakkan. "Sembunyi? Lebih tepatnya menyamar, Nona."
Ternyata ia bukan boneka. Ia manusia asli, sudah dapat dipastikan. Aku menghela napas lega dalam hati.
"Boleh aku bertanya tentang sesuatu?"
Iris cokelat sayunya menatapku lekat-lekat, sebelum ia memberi anggukan kecil.
"Bisakah kau memberitahuku..cairan apa ini?" Aku melepas sepatu satin biru yang kupakai di kaki kiriku, dan membaliknya hingga kelihatan sol bagian bawahnya. Ia memajukan kepalanya sedikit, dan mata cokelat sayunya menangkap noda kemerahan yang menempel di sol kain sepatu itu.
"Apakah ini..darah?" tanyaku dengan nada perlahan. Dalam hati aku masih merasa sedikit waswas akan pemuda berambut merah di hadapanku ini.
Ia mengangkat wajahnya, dan menatap iris plumku dengan ekspresi tak tertebak. Tatapannya tidak menusuk, tentu saja—namun entah mengapa, ia memiliki tipe tatapan yang memberimu perasaan seperti sedang diselidiki dan tak bisa berbohong.
Sejurus kemudian, bibir pucat itu bergerak, menggumamkan jawaban yang teramat perlahan, sehingga terlihat seperti lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.
"..Bukan."
.
.
Bersambung..
.
A/N: Fufufu, semoga menikmati chapter 3 nya. Maaf update-nya agak lama. :)
Apakah terkesan sedikit..mendebarkan? XD Mudah-mudahan tidak terlalu ya. #halah
Terima kasih kepada SilverMatch, Lily cherry blossom luvlee scorpius, SparkSomniaA0321, Sherry Hoshie Kanada, dan Mizuira Kumiko yang telah mereview chapter 2 kemarin. ^^ Danke schon, untuk support-nya! :D
Terima kasih sudah membaca. Kritik atau komentar, jika berkenan? :)
