Disclaimer: Peach pit sensei. Warning: bs OC, bs jg OOC. a/n: enjoy he2, XD o ya pliss repiu donks, biar thu ada slh dmana, kesan2ny, brarti skali buat author, ya ya ;) *puppy-eyes.
Muncullah keberanian dalam diri Amu, dia membuka teksnya dan mulai membuka mulutnya untuk berpidato...
"Selamat pagi semuanya, namaku Amu Hinamori, wakil kelas 2-C. Hari ini kita semua berkumpul disini untuk merayakan kenaikan. Keluarga, orang tua, teman, kolega, semuanya disini berbagi kebahagiaan. Kita selangkah lagi menuju babak baru dalam kehidupan kita, menuju kedewasaan. Mimpi, harapan, dan impian, semuanya itu wajib kita genggam…" Amu menatap semuanya. "Ya… semuanya penting, tanpa itu semua, kita tidak ada pegangan hidup. Teman-temanku semua, kita harus punya impian, karena itu cita-cita kita. Kelak kita akan menjadi apa itu tergantung apa yang kita lakukan sekarang, dan jangan lupakan juga...cinta... lakukanlah segala perbuatanmu dengan cinta, dan kasih, sambil terus menggenggam impian... Selamat bagi kita semua, khususnya kelas 2-C... terima kasih..." Amu menyelesaikan pidatonya, hening sesaat... lalu ada tepuk tangan riuh dari semuanya. Amu jadi sumringah melihat semuanya bertepuk tangan, dia turun podium.
"Yee Amuchi! Keren sekali!" seru Yaya
"Bagus...Amu," Tadase tersenyum.
"Huwaa...Amuku keren sekali...," papa Amu terharu, "Iya...," Mama juga. "Yee kakak!" Ami bangga sama kakaknya.
.
Selesai acara kenaikan, di luar aula.
"Amuchi tadi keren. Benar-benar membuat perasaanku bergetar!" Yaya masih memuji Amu.
"Iya Amu, sangat memberi inspirasi," Rima tersenyum.
"Eh he he, aku hanya menuangkan apa yang aku pikirkan saja," Amu jadi malu-malu.
"Amu"
"Eh Tadase"
"Bagus sekali pidatonya, kata-kata yang tadi kamu utarakan... menggambarkan dirimu yang sekarang ya?"
"Ah ti tidak begitu juga kok... ha ha... intinya kata-kata itu hanya mengalir saja saat aku hendak menulisnya... entahlah, tau-tau, kata-kata itu keluar dari pikiranku he he."
"Keren kok, iya kan?" ujar Yaya semangat. Semuanya setuju, Amu jadi senang.
Amu melihat Utau dan Kukai yang baru keluar dari aula yang berbeda.
"Ah Utau!"
"Apa?" Utau melirik.
"Iku...dia... datang kan...kenapa dari tadi aku tak melihatnya...?"
"Mana kutahu... dia sendiri yang bilang mau datang, kalau seingatku dia juga tak bilang kapan persis harinya." Jawab Utau santai.
"O...oh..." Amu langsung tertunduk lesu, Tadase memandang Amu.
.
Saat mau pulang. Di depan gerbang sekolah.
"Amu! Kamu sudah mau pulang ya?"
"I iya... Ada apa Tadase?"
"Tidak... dari tadi kamu mengharapkan kedatangan kak Ikuto ya...? Dia sudah janji mau datang hari ini?"
"...Dia tidak berjanji sih...aku hanya mendengar dari Utau kalau dia rencana akan pulang hari ini..."
"Kamu kelihatan sedih Amu..."
"Begitukah? Ah biasa saja kok, kalau dia tidak bisa hari ini pasti ada alasan kan, iya pasti begitu" Amu berusaha ceria.
"Aku tahu kamu sedih Amu... tidak apa-apa jika ingin sedih...tawamu dipaksakan..."
"Tadase..." Saling memandang sebentar, lalu papa Amu memanggil Amu dari mobil, untuk pulang. "Sepertinya aku harus pulang...sampai ketemu lagi Tadase..."
"Amu cerialah, kamu lebih cocok ceria daripada sedih"
"Iya, thanks" Amu pulang, naik mobil, Tadase memandang Amu pergi.
Amu lagi-lagi tidak tenang, karena Ikuto pastinya, ketidakhadirannya. Amu sangat ingin melihatnya di acara itu. Sudah sore, sepanjang perjalanan pulang di mobil, Amu harusnya senang karena naik kelas dan pidatonya sukses, tapi malah sebaliknya... Mobil papa Amu terus berjalan, lewat di Mall yang baru dibuka, mall yang Amu tidak suka karena menggantikan tempat kenangannya bersama Ikuto, taman hiburan... Mallnya tampak dipadati pengunjung, orang-orang tampak senang, hati kecil Amu merasa ingin melihatnya.
"Pa, tolong berhenti sebentar"
"Ada apa Amu?"
"Iya, aku ingin ke mall itu, aku selalu penasaran bagaimana dalamnya, boleh kan aku ke situ?"
"Boleh saja," Papa setuju
"Ami ingin pulang, ngantuk!" Ami merengek.
"Yah Ami, tapi kakakmu," ujar mama Amu.
"Pulaang~!"
"Ya sudah, aku sendiri saja kalau begitu, ma, pa, tidak apa-apa, aku cuma sebentar"
Akhirnya Amu sendiri ke mall itu, keluarganya pulang duluan. Amu mencoba masuk, karena rasa penasarannya.
.
Dalamnya ya seperti mall biasa, tapi cukup besar juga. "Waah..." Ami melihat dalamnya yang cukup besar, dan terkesan megah. Melihat-lihat sekeliling, barang-barang yang dijual. Amu juga melihat ekspresi orang-orangnya, mereka senang sekali, Amu juga tersenyum melihatnya. Ada yang membawa keluarga mereka, teman, yang jelas mereka tidak sendiri, hanya Amu yang sendiri. Kemudian Amu melihat orang-orang berbondong-bondong ke bagian lebih dalam mall itu, terlihat semangat. "Ada apa ya...?" Amu jadi mengikuti mereka.
Tepat di bagian tengah mall itu, ada pintu masuk bertuliskan Wonderland, Amu terperangah melihatnya, mungkinkah ini seperti yang ia pikirkan. "Tidak mungkin..." Amu masu ke Wonderland... yang ternyata taman hiburan... Ya taman hiburan di dalam mall, taman hiburan kenangan Amu masih ada rupanya, dan sudah lebih bagus. Amu sama sekali tidak mengiranya. Dia seperti terdiam, semua wahana masih ada, dan lebih bagus. Semua orang bergembira mencoba wahana. Lalu Amu melihat cangkir putar, yang pernah dinaikinya bersama Ikuto. Semua itu membuat Amu agak terharu, bahagia, dan berkaca-kaca. "...Masih ada rupanya...Indah... Ikuto..." Dia jadi memikirkan Ikuto, andai Ikuto tahu semua ini, tempat kenangan mereka masih ada, tidak dihancurkan, dan sekarang banyak pengunjungnya. "Aku akan memberitahunya...ya...coba dia ada di sini juga..." Amu terdiam lagi, di tengah kegembiraan dan lalu-lalang orang. Lalu ada yang memanggilnya...
"Nona, nona, kau ingin naik cangkir putar? Dari tadi kau berdiri terus di situ," petugas yang menjaga cangkir putar bertanya pada Amu.
"Ah, tidak, aku kesini cuma lihat-lihat saja"
"Ooh..., tidak apa-apa kalau kau ingin naik"
"Tidak kok, aku tidak bawa uang," kata Amu sambil menggeleng.
"Begitu rupanya, sayang sekali... bagaimana kalau begini, kau bisa naik gratis, tidak usah bayar, tampaknya kau sangat menyukai wahana ini?"
"Apa? Gratis? Tidak, tidak usah, terima kasih," Amu terkejut.
"Sudah naik saja," Amu didorong petugasnya, langsung duduk di cangkir.
"Lho, lho?"
"Selamat menikmati!" Petugas menekan tombol, dan cangkir itu berputar, ada irama lagunya, putarannya tidak terlalu cepat, jadi tidak pusing. Amu menyukainya.
"Ha ha, yee!" Amu jadi senang. Setelah beberapa saat, permainan selesai, Amu mengucapkan terima kash pada petugasnya, karena dibolehkan naik gratis. Karena masih terbawa suasana, Amu melihat-lihat lagi wahana yang lain, ada ferris wheel atau bianglala mini, roller coaster mini, mobil-mobilan, memang semuanya untuk anak kecil, tapi orang dewasa masih bisa menaikinya. "Benar-benar menyenangkan sekali...Semua orang menikmatinya... Oh sudah jam berapa ya...jam delapan...hhh tidak terasa...ya sudah aku harus pulang kalau begitu..." Amu sepertinya masih ingin di situ, tapi dia harus pulang. Saat Amu berbalik, dia melihat ada orang yang memperhatikannya dari jauh, Amu tetap jalan untuk pulang, jalan jadi mendekat ke orang itu, seorang pria, cukup tinggi, memakai kemeja putih, Amu seperti merasa dilihati olehnya. Semakin jelas, Amu langsung tersentak...
Pria muda itu tersenyum padanya, "Halo Amu... kau terlihat cantik hari ini..."
"... I...Ikuto...?" setengah tidak percaya, orang yang di depannya sekarang, Ikuto. "Ka...kau...disini...?"
"Ya"
"Ka...kau...ha ha maksudku halo!" Amu jadi bingung.
"Hmph, kau tidak berubah ya Amu" Ikuto jadi ketawa.
"Apa maksudmu? Kau sendiri...kau sendiri...! Kenapa baru...dari tadi aku..." Amu jadi berkaca-kaca, hampir menangis.
"Amu...? Kau menangis...?" tanya Ikuto perhatian.
"Aku tidak menangis kok, enak saja! Dari tadi..." ucapan Amu terpotong.
"Kau menungguku kan? Aku tahu kok. Sebenarnya dari tadi aku mengawasimu..."
"Hah? Apa maksudnya? Mengawasi apa?"
"Iya, aku mengawasimu dari tadi"
"Se sejak kapan?"
"Sejak kau membawakan pidato," Ikuto tersenyum.
"A apa? Kau ada di sana rupanya? Aku mencari-carimu tahu, kenapa kau tidak menampakkan dirimu?"
"Memang sengaja, kan kejutan. Yang cangkir putar tadi juga, itu tidak gratis lho"
"Oh tadi karena kau ya? Pantas saja, mana mungkin aku boleh naik gratis, ha ha bisa saja kau Ikuto." Memandang Ikuto sesaat.
"Lagian aku sudah menduga kau akan ke tempat ini"
"Kau sengaja biar bertemu aku disini...?" Amu agak bingung.
"Yup, sebenarnya kemarin aku tiba di Jepang, terus sekalian berkeliling. Aku lihat tempat kenangan kita sudah jadi mall, aku penasaran ingin masuk, ternyata, taman hiburan kita masih ada"
"Tempat kenangan kita apa, dasar..." Amu sambil memperhatikan Ikuto lagi, dia agak lebih tinggi sekarang, wajahnya tak banyak berubah, tapi aura kerennya seakan memancar, beberapa perempuan muda yang ada di situ juga jadi memperhatikannya. Amu pikir-pikir lagi, dia memang kangen sama Ikuto. "Hei... kenapa tidak balas emailku, telepon, atau surat ha...?"
"Iya...maaf Amu...Aku benar-benar sibuk saat itu...mempersiapkan pertunjukkan, tapi fuuh syukurlah semua selesai dengan sukses..." Ikuto tersenyum, senyum bangga. Amu langsung memerah melihat Ikuto. "Tadi...siang, pidatomu benar-benar bagus Amu..."
"Ha? Oh tentu saja, aku berpikir keras menyusun kata-katanya tahu," Amu berlagak bangga juga. "Ngomong-ngomong kau berada di mana saat aku pidato?"
"Di... kau tahu kan di aula itu, ada bagian atapnya, ada ruangan, aku di situ, melihatmu dari atas he he"
"Hah? Maksudmu di atap? Kau kucing apa ha ha" Tawa Amu terhenti, karena memang iya, Ikuto kan seperti kucing.
"Kita sudah cukup lama tidak bertemu, kenapa aku tidak dapat pelukan hangat darimu?" tawar Ikuto, seketika membuat Amu salting.
"Ti tidak! Tidak perlu! Aku juga mau pulang, besok kita bisa ketemu lagi, nanti sms saja kau mau ketemu di mana, aku pulang ya daah," Amu seperti berjalan terburu-buru untuk pulang, karena sangking malunya, tak mampu lagi melihat wajah Ikuto, tapi ketika melewati Ikuto, tangan Amu langsung ditarik...
Ikuto memeluknya, Amu kaget, malu bukan main, "He hei...!" berusaha melepaskan diri, tapi Ikuto menahannya.
"Aku merindukanmu Amu... boleh kan aku membauimu juga?" pelukan Ikuto semakin erat.
"Hei!" Amu malah jadi larut dan membiarkan Ikuto memeluknya lebih lama. Terang saja, mereka jadi perhatian orang. "Su sudah oke!, malu tahu." Ikuto selesai memeluk Amu, lumayan lama juga.
Ikuto jadi mengantar Amu pulang, jalan kaki, rumah Amu tidak terlalu jauh juga. Mereka juga bisa saling ngobrol-ngobrol santai. Perbedaan umur sekitar lima tahun tidak menjadi halangan untuk mereka mengobrol dengan lancar dan nyambung, dan terlihat akrab. Mereka teman, atau mungkin lebih dari itu. Amu sampai juga di rumah, dia mengucapkan selamat tinggal buat Ikuto, bukan untuk waktu lama, karena besok mereka akan bertemu lagi. "Sampai jumpa besok ya, Ikuto"
"Ya, besok ya," Keduanya tersenyum, Ikuto memperhatikan Amu masuk, setelah masuk, dia pergi.
"Amu, kamu sudah pulang rupanya, bagaimana tempatnya? Bagus kan?" mama menyambut Amu.
"Iya ma, menyenangkan sekali!"
"Wah ada apa, kau jadi kelihatan lebih senang?"
"Aku bertemu hal yang paling menyenangkan hari ini, aku ke kamar ya ma" Amu naik, ke kamarnya.
"Anak itu... memang lebih pantas ceria..." ujar mama Amu.
Di kamar, Amu jadi senyum-senyum sendiri, memikirkan pertemuannya dengan Ikuto, dan juga karena taman hiburannya masih ada. Amu teringat juga akan pidatonya, kalau impian harus selalu ada, impian tidak akan hilang dan tidak boleh hilang dari hati. "Oh kak Tsukasa juga bilang kalau telur hati tidak akan hilang, tetap akan ada...karena itu adalah impian dan cita-cita kita...ya aku ingat...sama seperti taman hiburan itu... ternyata masih ada..." Amu tersenyum mengingat semuanya, sebelum dia bersiap tidur, dan berharap mimpi-mimpi indah.
Yee ktemu Ikuto! Kyaa! XD, wait for next chapter y, RnR, thxx.
