―kau tidak salah, Kirara.
.
.
.
Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei
Danganronpa ©Spike Chunsoft
Story © Panda Dayo
ooc, au, typo(s), and others.
.
.
.
"Akhir-akhir ini kau selalu melamun, Komaeda-san. Tegur seorang rekannya, Itona, suatu hari.
"Ah, tidak apa-apa."
Itona memandanginya sebentar sebelum mengangguk pelan dan mencoba mempercayai jawaban Nagito. Mungkin ia sedang mencari cara menyembunyikan majalah porno dari orang tuanya? Wah, pasti berat sekali.
Ndasmu.
Seluruh penghuni kelas telah berkali-kali bertanya, dari Isogai Yuuma yang paling ramah, sampai gadis sombong bernama Celestia Ludenberg. Bahkan, salah satu anggota klub okult, Enoshima Junko dari kelas sebelah pun sering menginterogasinya, menanyakan apa hubungan mereka berdua sebenarnya. Nagito mengatakan tidak apa, jawaban yang selalu seisi kelas tahu, Nagito sedang galau akut karena tidak bertemu Kirara. Mereka semua sering melihat keduanya bersama. Awalnya mereka percaya bahwa Nagito dijadikan korban agar mau masuk ke klub okult. Kirara memang gencar mencari anggota untuk masuk ke klubnya meski caranya sedikit ekstrim.
Jadi, untuk sekarang, seisi kelas diam saja dan ingin melihat apa yang terjadi ke depannya.
Nagito gagal menemui Kirara waktu itu, karena kata anggota klub yang ia tanya, ketua mereka sudah pulang. Maka Nagito memutuskan untuk menemuinya di sekolah esok hari. Tapi keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya, karena Kayano dari kelas sebelah mengantarkan sebuah surat ijin yang menyatakan bahwa Kirara sakit.
Kenapa ia tidak merasakan apa-apa lagi ketika melihat Kayano?
Sayang, Nagito tidak tahu rumahnya. Lagipula belum tentu Kirara ada di kediamannya, bisa saja ia pergi ke Rumah Sakit.
Namun hari tanpa eksistensi Kirara terus berulang. Nagito sedikit merasa kesepian jika boleh jujur. Karena Kirara adalah gadis pertama yang ―mungkin―, mengajaknya berbicara tanpa ragu. Ya, mengingat bagaimana bentuk wajahnya sendiri, Nagito yakin tidak banyak yang menganggapnya orang ramah karena lebih tampak seperti preman pasar ikan.
Persiapan festival dilakukan penuh semangat meski tanpa Kirara. Mereka mengatakan bahwa harus meneruskan keinginan Kirara yang sedang sakit. Aslinya sih, cuma ngebet ingin menakut-nakuti doang.
Nagito kebagian jadi drakula. Seisi kelas berkata ia sangat cocok dengan kostum itu. Nagito sudah berhenti peduli dan hanya menuruti semua yang mereka katakan. Moodnya jadi hilang semenjak tidak bertemu Kirara. Secara ajaib, ia bahkan tidak ingat apa-apa lagi soal perasaannya pada Kayano, pun perihal surat salah kirim itu. Nagito baru menyadari kebodohannya tidak menyimpan nomor Kirara.
Eh? Nomor?
Nagito yang sedang duduk di bangkunya dengan cepat mengambil ponsel dari tasnya dan mencari di kotak masuk. Saat ini sedang jam kosong, karena Nagisa-sensei berhalangan hadir.
Syukurlah masih ada.
Nagito langsung menghubungi nomor itu. Dengan sabar ia menunggu, berharap Kirara akan mengangkat panggilannya.
'Maaf, pulsa yang anda miliki tidak mencukupi. Silahkan isi ulang pulsa an―'
Nagito langsung mengakhiri sebelum si operator selesai berbicara. Nagito tidak akan mencoba menghubungi Kirara sebelum ia mendapat jatah uang saku lagi bulan depan.
.
.
.
.
.
Hari festival akhirnya tiba. Semua kelas berlomba-lomba menarik minat pengunjung dengan apa yang mereka tawarkan, termasuk kelas Nagito yang membuat rumah hantu.
Nagito menunggu pengunjung yang masuk ke dalam, sementara Byakuya dan Celestia, teman sekelasnya, sedang berjaga di luar untuk mendapatkan lebih banyak orang agar berbelok ke kelas mereka.
Nagito memasang taring palsunya dan membenahi jubahnya begitu mendapat tanda dari walkie talkie yang kini digenggamnya; bahwa pengunjung pertama telah tiba. Ia berkaca sebentar pada cermin kecil yang ia bawa dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa wajahnya sudah seram. Ngomong-ngomong, ia berada di urutan terakhir, jadi ia memilih mendengarkan dulu apakah pengunjung itu ketakutan atau tidak. Setelah beberapa saat semenjak pengumuman datangnya pengunjung pertama, Nagito sudah berkali-kali mendengar suara jeritan membahana. Tapi, kenapa suaranya beda-beda, ya? Ada yang laki-laki, ada yang perempuan. Apa pengunjung ini datangnya rombongan?
Nagito tidak menghiraukan itu semua dan memilih bersiap saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Nagito menajamkan telinga agar dapat keluar di saat yang tepat, dan ketika ia menampakkan diri, justru ia yang terkejut.
"Hazama?"
Nagito berkedip heran.
Hazama Kirara selaku fokus pandangannya saat ini, hanya mengangkat sebelah tangannya dan mengatakan, "Yo."
Nagito justru celingukan mencari pengunjung yang ia kira datang menatapnya aneh, wajahnya seolah mengatakan bahwa Nagito melakukan hal yang sia-sia.
"Bukannya kau sakit?" Tanya Nagito setelah tak menemukan apa yang ia cari. Kirara terlihat memanggul sebuah tas besar. Isinya apa, ya?
"Kata siapa?" Kirara balik bertanya.
"Kayano-san yang bilang, disertai surat ijin." Ujar Nagito. Kirara terdiam sebentar sebelum membuka suara kembali,
"Oh. Aku sibuk mencari perlengkapan. Katanya kau mau gergaji mesin, ini aku bawakan." Kirara menunjukkan sebuah gergaji yang ia bawa pada Nagito. Ia sedikit menyeringai ketika memperlihatkannya. Nagito sih senang-senang saja, tapi..
'Jadi, yang tadi berteriak itu adalah personil rumah hantu?!'
Bagaimana mereka tidak teriak ketakutan ―meskipun itu teman kelas sendiri―, jika tersangkanya adalah seorang gadis horror yang membawa gergaji mesin.
Nagito menerima gergaji mesin itu dengan pasrah. Ia tidak mengira, Kirara masih mengingatnya. Padahal Nagito hanya bercanda waktu itu.
Sepertinya, Nagito lupa sesuatu.
"Aku akan menunggu di depan, ya, menggantikan Celestia-san. Ia lebih cocok menjadi suster ngesot."
'Bukankah kau yang lebih cocok?!'
Kirara akhirnya menuju pintu keluar dan meninggalkan Nagito yang masih terbengong.
.
.
.
.
Festival hari ini berakhir dengan baik. Nagito dan Kirara kedapatan jatah terakhir karena harus mendekor ulang di beberapa titik karena besok mereka masih harus membukanya lagi. Kirara selaku penanggung jawab atas tema kelas, dan Komaeda Nagito, pemuda yang tidak tahu kenapa ditinggal oleh yang lainnya. Sederhananya, hanya ia yang sering dekat dengan Kirara. Bukannya Nagito merasa senang atau apa sih.
Teman-teman durhaka. Nagito berjanji akan meminta bantuan Kirara untuk menyantet mereka.
Tapi, kalau bukan senang, kenapa ia merasa kehilangan ketika tidak menjumpai Kirara selama dua minggu terakhir?
Nagito tidak tahu kenapa.
Nagito tidak ingin tahu.
Kirara tampak bersemangat―tapi mengapa kebahagiannya terlukis oleh senyum menyeramkan seperti setan―ketika membongkar isi tas besar yang ia bawa. Ada beberapa peralatan seperti bola mata palsu, organ palsu, dan beberapa yang dapat membuat perut mual. Tapi Nagito tidak memedulikannya, sih.
"Komaeda, sampai kapan kau akan berdiri di sana?"
Suara itu menyadarkan Nagito dari lamunannya. Ia yang sedang berdiri usai membenahi dekor, lalu menatap Kirara secara refleks.
"Kira―maksudku, Hazama.."
"Kirara saja tidak apa."
Nagito tiba-tiba saja mengingat perihal surat yang ia temukan di saku celananya dua minggu lalu tanpa sengaja ketika akan membayar belanja makan malamnya. Ia mencemaskan hubungan tak sengaja ini hanya karena surat tidak jelas itu? Lagipula siapa yang beraninya meletakkan di saku celananya.
"Apa kita masih berpacaran?"
Nagito, apa yang baru saja kau katakan? Bukankah ini saat yang tepat untuk mengakhirinya karena mendapat bukti yang cukup kuat? Tadi kau bilang apa? Berpacaran, hah?!
Kau kenapa, Komaeda Nagito? Ada yang salah dengan dirimu!
Kirara hanya menjawab seadanya, "Menurutmu?"
Hening.
"Aku tidak memaksa, namun jika kau merasa terbebani dengan hal itu, maka.." Sebelum Kirara menyelesaikan perkataannya, gadis itu merasakan sebuah kehangatan melingkupi tubuhnya.
"Ko-Komaeda?" Tanyanya, tidak menduga akan tindakan Nagito.
Nagito tidak tahu mengapa ia memeluk gadis itu. Nagito sungguh tidak mengerti isi hatinya sendiri.
"Jangan pergi tanpa kabar lagi, ya?"
Dan Nagito tidak tahu mengapa ia bisa mengucapkan hal seromantis itu. Ada yang salah dengan dirinya, dan kini Nagito tahu mengapa.
Kirara hanya tersenyum kecil, dan balas memeluknya.
Kirara sempat meragukannya, namun bukti ada di depan mata. Ia meletakkan sehelai kertas berisi curahan hatinya di saku celana Nagito beberapa waktu lalu saat berpapasan di depan pintu ruang klub okult. Ia kira Nagito membencinya, dan mungkin akan lebih baik berpisah. Karena ia tahu Nagito sebenarnya menyukai Kayano. Namun yang didapatnya kini buka angan atau fiksi lagi.
Nagito menyukainya, walau pengakuan ini datang terlambat.
Nagito lupa permasalahan apa yang ingin ia tanyakan sebenarnya karena sibuk menyembunyikan wajah merahnya di balik leher Kirara.
Semuanya baru saja dimulai, bukan?
.
.
.
.
―Omake 1―
.
.
.
"Apa? Mereka berdua jadian?" Kasak-kusuk para siswa tak terhentikan lagi, sejak Nagito menceritakan kepada seisi kelas apa yang terjadi antara dirinya dan Kirara selama ini. Semuanya lega, karena ternyata permasalahannya tidak begitu serius.
.
.
―Omake 2―
.
.
.
Kayano terkejut mendapati sesuatu di lokernya. Sebuah surat cinta dari Komaeda Nagito, mantan teman waktu kelas satu dulu. Kayano bukan sekali dua kali mendapatkannya, sering malah, tanpa nama pengirim rata-rata. Namun untuk hari ini baru ada satu.
"Kayano, tidak pulang?" Kirara, teman yang lokernya kebetulan berada di sebelah Kayano bertanya. Bukan hanya itu sih, mereka memang sudah akrab semenjak kanak-kanak dan selalu bersekolah di sekolah yang sama meski berbeda kelas. Selain itu, karena mereka tetangga.
"Aku mendapat surat, nih. Untukmu saja bagaimana, Kirara-kun?" Tanya Kayano dengan senyum mautnya.
"Bukan surat tagihan, kan?" Kirara mencari aman.
"Tentu saja tidak, ini dari Komaeda Nagito, ―"
Kirara tersentak saat Kayano memberikannya. Tidak menyangka bahwa perkataan yang ia dengar selanjutnya adalah rahasia terbesar di antara mereka.
"―aku tahu kau menyukainya."
.
.
.
.
.
TAMAT DENGAN INDAHNYA UHUY
.
.
.
thanks for read
siluman panda
