Hai hai, minna-san! Saya dateng lagi dengan ff gaje nan garing:D
Sori ya kalo jelek, oh sori juga kemaren pas balesin review ada 1 nick saya salah ketik D: Huruf Y-nya harusnya gede. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.
By the way mohon bimbingannya ya, perasaan ini spacenya kacau melulu padahal udah dibenerin O_O
Maklum, saya noob disini.
Happy 17 agustus-an ya.. XD
Balesin Review :3
Hikaru Kisekine: Wah engga lho padahal, saya juga nyadar pas buka di hp lha kok dibold semua. Padahal waktu diketik, diupload, diedit dan disave ngga dibold semua dari pc. O_O Dari pc juga keliatan biasa aja (kecuali spacenya yang suka merapat sendiri ==") Kenapa ya? Mohon bantuannya. Update diusahakan secepatnya :3 Thanks lagi udah review ya XD
Kiroyin9: Aww, benarkah? benarkah? benarkah? *nanya ala spongebob* Fiuh, bagus deh kalo memang masih lucu XD Sakit perut tanggung sendiri ya? :D
Waah, thanks favenya! XD Thanks juga reviewnya *sujud-sujud ga jelas..lol*
Desclaimer: Vocaloid isn't mine. Kalo punya saya, saya udah terkenal sekarang *ngarep* :P
Warning: OOC, abal, bacot, bahasa gaul, typo, gaje, dll.
Chapter 3
Esok pagi, seperti biasa aku bangun dengan malasnya. Dengan mata yang masih setengah menutup, kupaksakan diriku untuk bangun dan menuju kamar mandi. Sekilas kulirik kalender dinding yang menggantung di tembok kamarku ini. Hari Jumat ya? Males banget hari ini ada pelajaran olah raga. Aku menghela nafas panjang lalu kembali ke tujuan asalku, mau mandi.
"Hoooaaaammmmmm…." Aku menguap lebar-lebar ga pake malu di tengah lapangan olah raga sekolah kami.
"Buset, Mik! Kalo nguap ditutup dong, kaya kuda nil aja lo." Celetuk Len sambil menyenggolku.
"Bener tu, berasa ngeliat gua jepang dah gue." Rin ikut berkomentar.
"Hah, kalian ini terlalu berlebihan. Gue males OR ni!" Jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku sedikit menggigil ketika angin pagi berhembus melewatiku. Dingin banget sih.
"Pemales amat sih lo, olah raga tu sehat kali. Kira-kira hari ini ngapain ya?" Tanggap Len dengan semangat. Yah, kalo dia sih emang seneng olah raga dan segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan.
"Hmm, snowboarding?" seru Rin.
"Ngawur lo, Rin! Saljunya aja ga ada, musim panas gini mau snowboarding!" ucap Len sedikit nyolot.
"Yah kali aja, Len. There can be miracles~ when u believe~" Sambung Rin dengan nyanyian, sok menghayati. Seakan-akan tangannya akan menggapai jeruk yang tidak kelihatan di udara.
"Nah anak-anak, baris yang rapi. Kita akan mulai sekarang. Hari ini kita akan …" ujar sang guru olah raga kita yang berambut ungu panjang layaknya wanita, Gakupo-sensei. (Upppssss, #ditakol Gakupo)
"Mau ngapain sih? Ngomong gini aja lama." Aku bergumam pelan menanggapi Gakupo-sensei yang memang freak ini.
"SKJ." Lanjutnya singkat sekaligus berhasil membuat siswa-siswi kelas kami cengo.
"Wtf? Ga seru ini! Wah, gimana sih ah?! Mana malu lagi ntar diliatin ibu-ibu tukang gossip disana. Tau gini gue pura-pura sakit dah tadi." Rin melirik ke arah kantin yang memang berhadapan dengan lapangan ini. Disana terlihat segerombolan (?) ibu-ibu yang terlihat siap sedia menertawakan kami semua.
"Paling ngga kita ga terlalu cape lah, Rin. Di ketawain sih bodo amat." Ucapku santai pada Rin yang terlihat frustasi.
"Yah itu kan kalo lo, Mik. Lo kan ga punya malu."
"Yang penting kan gue unyu-unyu, Rin." Jawabku dengan penuh percaya diri sambil berpose ala cherrybelle dam mengangkat sebelah kakiku.
"Yah lo belom liat sih gerakan SKJ-nya. Noh liat!" Rin menunjuk ke arah Gakupo-sensei yang tengah mencontohkan. Aku pun menoleh dan terbelalak detik itu juga melihat si terong ungu itu melakukan gerakan senam yang unfamiliar dengan cepat.
Buset itu senam ato kesurupan sih?!
Seluruh murid si kelas kami pun sweatdropped sekaligus membatu ditempat.
"Ayo ikutin! Malah bengong kalian." Seru sang terong mania.
"Nah, mampus kan?" bisik Rin padaku.
"Eh itu bukannya Luka-sensei ya?" teriak Len sambil menunjuk kearah lorong lantai 1, berusaha mengalihkan perhatian.
"Eh?! Dimana?" Gakupo-sensei menghentikan gerakannya kaya kalo di- pause. Dengan pose yang tidak elitnya.
"Tuh! Disana tadi, udah belok sih." Jawab Len, keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Takut ketauan bohongnya.
"Luka-sensei~ I'm coming! Ya udah kalian olah raga bebas aja yah? Jaa~" Ujarnya sambil mulai berlari-lari slow motion super lebay ke arah lorong tersebut ala Guy dan Rock Lee di senja hari.
"Lennnn! Lo penyelamat!" teriakku sambil memeluk Len erat-erat sampai tidak bisa bernafas.
"Bener! Untung ada lo, Len!" Rin ikut memeluk Len yang mulai membiru kehabisan nafas. Diikuti oleh seluruh murid di kelas kami, kaya di iklan ax*s (takut ga boleh promosi) yang jaman dulu itu lho, yang tiba-tiba pelukan.
"E-eh.. Gue ga bisa.. nafas ni.."
"Uuupssss, sori Len. Gue kesenengan sih." Responku seraya melepaskan Len yang membiru bak balon.
"Haaah… Nah kan gue bilang juga apa sebelumnya, gue emang super hero keren!" tanggap Len dengan penuh percaya diri sambil tebar pesona layaknya artis dunia.
-SKIPTIME-
"Eh Mik, lo mau bantuin kita di klub band ga besok?" Tanya Len sambil membereskan bukunya yang bergambar pisang semua.
"Bantuin apaan? Jadi Umbrella Girl?" Jawabku sambil mengunyah negi yang sengaja kubawa dari rumah.
"Lo kira di MotoGP apa ada umbrella girl segala? Maksud si Len, lo bantuin kita besok. Klub kita itu besok penilaian terus vokalis kita, si Lily lagi ga bisa nyanyi. Jadi mau ga lo jadi vokalis besok?" Rin menjelaskan panjang lebar, malah pake gambar segala di papan tulis.
"Ooooooooh, makanya kalo ngomong yang jelas dong. Boleh aja sih. Emang kenapa si Lily ga bisa?"
Rin melihatku dengan tatapan aneh, seakan ingin menyetrumku detik itu juga.
"Ga tau tuh, katanya sih sakit tenggorokan. Kebanyakan makan keripik maicih kali." Jawab Len asal.
"Jiaah, udah tau penyanyi malah makan begituan." Komentarku dengan santai. "Ya udah ya gue balik dulu. Ntar sms gue aja jamnya, oke?"
"Tumben lu balik cepet, Mik? Biasa nungguin sekolah ampe tutup bareng penjaganya. Hahahaha!" Rin tertawa sekeras-kerasnya sambil megang triplek eh? perutnya.
"Enak aja lo! Gue masih mau ngeborong negi yang diskon kemaren, lagian ngapain juga gue nungguin sekolah bareng si mas-mas penjaganya? Gue cuma mau negi sama Kaito-senpai!" Jawabku sambil melotot ke arah Rin, si tongfang girl ini sebelum melanjutkannya dengan nyanyian.
"I won nobody nobody but you~ I won nobody nobody but you~" Aku nyanyi ga pake malu sambil nunjuk-nunjuk dan mengangkat sebelah kakiku lalu menggoyangkan pinggulku ke segala arah dengan lebaynya.
"Want kali, bukan won. Won mah menang artinya, Mik. Juga nama mata uang negara kampoeng halaman senior sinting kemaren." Jawab Rin sambil memeras sapu tangan untuk sweatdropped-nya yang lebih dari 5 ember. Langsung ia duduk di lantai, berakting dan bernyanyi seakan-akan dirinya adalah seorang anak tiri yang disiksa. "Ibu tiri hanya cinta pada ayah seorang~"
"STOOOP! Kalian ini bener- bener gila! Oh pisang ajaib, apa yang harus kulakukan pada mereka berdua?" Teriak Len sebelum ia degera berlutut sambil mengangkat salah satu buah pisangnya tinggi-tinggi.
*Hening bukan sejenak lagi sampai terdengar suara berbisik seperti hantu*
"Ke.. Tongfang..ajah…"
"Halah Rin, lo ga usah nakut-nakutin kita deh. Pake promosi juga lagi." Aku menuduh Rin yang masih ngesot-ngesot berlagak mengepel lantai di kelas kosong ini. Siapa lagi coba yang tukang promosi klinik sarap itu?! Mendadak aku jadi merinding, jangan-jangan yang ngomong ga keliatan lagi.
"Apa sih? Bukan gue itu! Gue daritadi mingkem gini, nuduh aja lo. Si Lenny kali tuh." Tuduh Rin seenaknya.
"Enak aja! Tadi tu kaya suara cewe, tau sendiri gue kan cowo." Jawab Len yang masih dalam pose berlutut sambil mengangkat pisang.
"Bah, alibi lo. Suara tinggi lo kan kaya cewe, siang Len malem Lenny kan? Fufufufufufu!" Rin melirik ke arah Len dengan tatapan mengerikan sambil menutupi mulutnya yang memonyong (?).
"Sial lo, Rin! Jahat banget sih ke kembaran lo sendiri. Gue ga maho ya." Akhirnya Len menghentikan posenya lalu berdiri dan mendengus kesal.
"Woy, kalian mau disini ampe kapan? Mau gue pel ni lantainya!"
Kami bertiga terperanjat mendengar bentakan dari lelaki jangkung berambut merah dibalut seragam biru-biru khas cleaning service dilengkapi oleh seperangkat peralatan ngepel. Aku menyipitkan mataku untuk melihat lebih jelas kearah name tagnya yang bertuliskan A-K-A-I-T-O. Lho? Kok bisa yak? Jangan-jangan dia putri yang terbuang lagi, eh? pangeran deng.
"Heh! Malah pada bengong, buruan pergi! Ngelamain aja ni gue juga mau balik tau, buruan!" bentaknya lagi seraya masuk ke dalam, melempar kami bertiga beserta tasnya dan mengepel asal-asalan tanpa arah sambil ngedumel.
"Galak bener sih!" Omel Rin sambil jalan.
"Tau tuh, makan cabe mulu kali ya tu orang." Len berpendapat.
"Ganteng juga ya tu mas-mas klining servis. Ngga nyangka gue." Kataku sambil memancarkan kilauan mataku yang berbinar-binar ibarat lampu sorot panggung.
"Ganteng sih ganteng Mik, cuma galaknya itu lho, cape deh~" celetuk Rin lalu menempelkan punggung tangannya ke jidatnya sendiri yang seluas landasan pesawat terbang.
"Ya udah lah ya, yuk ah gue balik dolo." Aku melambaikan kedua tanganku tepat di depan wajah mereka dan ngacir ke pasar swalayan atau supermarket yang kemaren.
-SKIPTIME-
Sore itu aku sedang bersantai bersama negi-negi imut milikku di sofa panjang(?), menikmati acara tv yang isinya 50% sinetron yang tidak berkesudahan dan 50% sisanya hanya iklan gaje.
"Hah?! Apaan tu ceritanya kecelakaan nabrak pohon, tapi yang luka cuma kepalanya doing sih? Mana mobilnya juga kaga penyok. Hmm.." Komentarku sambil mengunyah negi dan menekan tombol remote, ganti channel.
"Lho?! Ini apa lagi lari-lari dikejar mobil? Mau ditabrak kali ya? Malah teriak 'Tolong! Tolong' bukannya naek ke trotoar, gimana sih ih?!" Komentarku dengan kesal akan ketololan cerita sinetron tersebut.
Gimana engga? Padahal kan solusinya tinggal naek ke trotoar. Ga mungkin kan mobilnya ikut naek, ngejar di atas trotoar. Sedangkan sang pemeran utama malah lari-lari lebay sambil mangap-mangap minta tolong padahal ga ada orang laen.
Huh! Kalo ga gara-gara ini tv mahal, Samson smart tv, bakal gue tendang ni tv!
Baru saja sebuah negi akan meluncur ke mulutku, terdengar suara hp-ku yang menjerit-jerit kesurupan(?).
"Wah ada sms, siapa ya… WOW! Kaito-senpai!" tanpa sadar aku berteriak keras banget sampai tetangga sebelah terperanjat dan menumpahkan ramennya.
Hai, Miku-chan! Besok sore ada kerjaan ga? Mau nemenin gue nonton ga ni?
Gue tunggu ya di ********** jam 15.30, oke :D?
Oh, Kami-sama! Ini mimpi bukan sih?! Segera aku menampar pipiku sendiri.
"Aw, perih banget! WOW! Berarti ini kenyataan! WOOOOOO YEAHHH!" Aku melonjak-lonjak kegirangan dan berlarian ala pesawat terbang seakan-akan tengah merayakan keberhasilan diriku yang super unyu ini mencetak gol ke gawang timnas Spanyol.
-SKIPTIME-
Besok paginya, aku sudah siap sedia menuju ke sekolah untuk membantu si kembar Tongfang itu. Kuperhatikan bayangan diriku yang memakai kaos putih berkerah, cardigan abu-abu lengkap dengan celana pendek hijau yang senada dengan rambutku ini di cermin. Sedangkan rambutku? Tentu saja di-twintail kaya biasa!
"Oke, istimewa~!" seruku dengan nada khas cherrybelle sambil mengacungkan kedua jempolku ke depan.
Setelah mengambil hp dan dompetku, aku berhamburan(?) keluar rumah sembari berteriak tanpa menunggu respon dari si negi lover yang lebih tua.
"Mikuooooo! Gue pergi dulu yaaah. Dahhh~"
Aku berlari menuju sekolah dengan kecepatan tinggi, ingin rasanya segera kuceritakan kabar bahagia ini pada si kembar Tongfang. Segera aku menuju ke ruang music begitu tiba di sekolah, menendang pintunya keras-keras.
BRAKKKKKK!
Si kembar pun langsung menoleh seketika dan menatapku bulat-bulat(?).
"Bisa biasa ga sih buka pintunya, Mik? Tau ga jantung gue hampir copot!" Komentar gadis Tongfang yang memakai kaos putih plus celana pendek hitam tersebut. Lengkap dengan pita putih di atas kepalanya, always!
"Sori, gue pengen cepet-cepet ngasih tau lo-lo semua kabar gembira hari ini!" aku berteriak antusias.
"Apaan Mik?" Tanya Len yang tengah duduk di kursi drumnya, penasaran.
"Kaito-senpai ngajak gue nonton, man! Amazing!" ujarku sambil melompat-lompat.
"Oya? Wow! Cieeeee! Ada yang ngedate ni yeeee!" teriak si kembar sarap itu bersamaan sambil melancarkan jurus patokan ularnya, tapi yang kali ini lebih mirip pose monyet.
"Diam kaliaaan!" lagi-lagi pipiku memanas mendengar kata 'ngedate'. Berbagai macam hal romantis mulai berseliweran di kepalaku.
"Eaaaaaa, yang blushing… cieeee lah!" seru Len keras-keras sambil tertawa lebar-lebar(?).
"Sssshhhhhh! Jangan keras-keras kalian!" aku memegangi pipiku yang semakin merah dan memanas seperti mau mendidih. Mereka tiada henti terus ngebully diriku yang unyu dan innocent ini. "Ah, sialan kalian! Ini semua gara-gara Kaito-senpai…"
"Lhoo~ kenapa tuh?" Tanya Rin yang akhirnya menghentikan aksinya.
"Yah soalnya Kaito-senpai sudah mencuri hatiku~" Jawabku mendramatisir dilanjutkan dengan nyanyian sambil menggerakkan kedua tanganku berirama, kedepan dan kebelakang kaya baling-baling. Dilengkapi dengan goyangan pinggulku yang kesana kemari ala penyanyi dangdut.
"Stop! Kau mencuri hatiku~ hatikuuuu~ Stop! Kau mencuri hatiku~ hatikuuu~"
"Eh? Ngapain lo ada disini Miku-chan?"
Detik itu juga aku menoleh ke sumber suara dan melihat sosok sang idola, Kaito-senpai tengah berdiri dekat pintu dan menatapku dengan bingung. Kusoooooo! Gue ketangkep basah lagi bertingkah memalukan sama Kaito-senpai! Bisa rusak dah image gue, sialan!
"E-eh, Kaito-senpai… g-gue gantiin vokalis mereka hari ini.. Se-sepai sendiri?" Aku tergagap menjawabnya. Mukaku memerah entah karena malu atau blushing. Malu banget coy!
"Gue nganterin ade gue extrakurikuler hari ini. Ya udah deh kebetulan ketemu lo disini." Kaito-senpai masuk terus duduk di meja nganggur yang memang ada di ruangan ini.
"K-kaito-senpai n-ngapain disini?" Tanyaku yang belum pulih dari syok.
"Ya mau dengerin lo nyanyi lah, masa belanja." Jawab laki-laki berambut biru yang memakai kaos hitam dan celana jeans biru, lengkap dengan syal biru mudanya.
"O-oh gitu ya.." aku cengengesan ga jelas. Rin menyodorkan kertas berisi lirik lagu yang akan kunyanyikan. Mataku terbelalak begitu melihat judulnya.
"Wtf?! Serius lo Rin? Ini kan lagu Kucing Garong!" Dengan galaknya aku melolot ke arah Rin yang memasang tampang watados. Helllow?! Mau disimpen dimana muka gue nyanyi lagu beginian di depan Kaito-senpai?! Kami-sama help mee!
"Beneran, Mik. Disuruhnya lagu itu. Lo juga harus joged pas dinilainya. Please ya? Demi nilai kita berdua ini." Len memasang puppy eyes shotanya yang menggemaskan.
"Ah! Apa boleh buat, terpaksa dah gue." Aku menyerah pada keadaan tidak menguntungkan ini. Anj*r, sialan lo Lily! Pantesan ya lo kaga dateng, awas lo ya! Aku mengancamnya dalam hati.
Bunyi langkah kaki sang guru musik memasuki ruangan ini. Berkacamata, derpakaian rapi, ditambah rambut coklat model culun.. Upppsss.. Yah itulah Kiyoteru-sensei.
"Okay, kalian siap sekarang? Kalo kalian siap, siapa yang saya tes sekarang?" Tanyanya bingung. Hening, kami semua sweatdropped.
"Ya udah deh mulai aja." Lanjutnya mempersilakan.
Rin mulai memainkan skateboardnya eh? keyboadnya sesuai intro lagu, begitu pula dengan Len yang memainkan drumnya. Aku memegang mike dengan kesal. Ah, sial!
"Kelakuan si kucing garong~
Ora kena ndeleng sing mlesnong
Main sikat main embat
Apa sing liwat~"
Aku mulai menyanyikan lagu tersebut sambil menggoyangkan pinggul dan bahuku bak penyanyi dangdut professional di atas panggung. Baru satu bait, Kiyoteru sensei tiba-tiba menghentikan perform kami.
"Tunggu Hatsune-san, lagu yang ditentukan bukan itu deh. Kalian kebagian lagu 'Moves Like Jagger' kan?" Tanya Kiyoteru-sensei seraya membetulkan posisi kacamatanya.
JDERRRRRRR!
Aku cengo sampai membatu kaya malin kundang yang dikutuk mendengar kalimat Kiyoteru-sensei. Aku menoleh ke arah si kembar bersaudara, mereka saling berpandangan lalu serempak memasang expresi troll face ke arahku. Grrrrrr! Kusooo! Sialan gue dikerjain! Di depan Kaito-senpai lagi! Aku sangat berharap bisa menendang mereka sekarang juga.
"Kok diem? Kalo kalian diem, siapa dong yang menilai?" Tanya si sensei linglung ini dengan wajah bingung.
Aku menahan nafas seketika. Mampus gue kan ga bisa bahasa inggris! Bisa juga cuma yes sama no lagi. Muv laik jeger kan lagu bahasa inggris, asem beneran ni si kembar Kagamine Tongfang ini!
"Eeh, saya ga bisa lagu bahasa inggris sensei.." Jawabku sejujur-sujurnya dari bagian sepatu yang paling dalam.
"Terus gimana dong? Kalo Hatsune-san ngga bisa, saya dong yang nyanyi? Kalo saya yang nyanyi, kalian yang menilai dong?" Tanya si sensei linglung ini dengan wajah 100x jauh lebih bingung dari yang tadi.
"Hmm, gimana kalo saya ikut nyanyi, sensei? Boleh kan?" Kaito-senpai yang dari tadi dikacangin mengusulkan sesuatu.
"Wah, boleh tuh. Kalo Shion-san yang nyanyi, kan saya yang tetap menilai. Mulai deh." Kiyoteru-sensei menjentikan jarinya lalu sebuah lampu menyala tiba-tiba. Tanda menemukan solusi.
Kaito-senpai mendekat lalu membisikkan sesuatu di telingaku.
"Kita duet, Miku-chan."
Hal sepele itu pun sukses membuat pipiku merona bagai mawar merah. Ya gimana ngga? mikenya kan cuma satuuu.
Eitss, datenya di next chapter ya, takut kepanjangan ntar bosen lagi.
Thanks yang udah baca yah :D
Komentar, usulan, dll bisa ditulis di review yah. Silakan ditulis reviewnya :3
Mohon bantuannya untuk saya, penulis gaje yang payah ini dalam merombak layoutnya yang selalu kacau balau D:
Sori kalo ga lucu ya, saja juga bingung mau nulis apa lagi XD
Jangan kapok review yah? Saya ngga gigit kok XD
