"Kenapa bersama dengannya, Naruto? Bukankah Sasuke mencarimu sejak tadi?"

Shion benci warna merah atau apapun yang berkaitan dengan warna itu—termasuk redhead bermata cyan ala panda karena insomnia yang tiba-tiba mendekati Naruto itu.

"Eeeh? Benarkah?"

Gadis kecil berambut pirang itu berusaha menggapai sosok yang selalu menemaninya—'berusaha' menjadi kata kuncinya, karena bocah yang kini berlari setelah melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan padanya itu terlalu jauh untuk ia jangkau. Ia berusaha memanggil namanya, namun suaranya menolak untuk keluar dari tenggorokannya. Sosok itu menjauh, menjauh, dan terus berlari menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangannya.

Atau hanya dirinyakah yang diselimuti kegelapan?

Oo—O—oO

Open the Beans!

[Sequel of 'And Then There Were None']

Oo—O—oO

Genre: Mystery – Horror

Rate: T—dan ada kemungkinan bakal naik di kemudian chapter.

Warning: horor belakangan, AU, kemungkinan adanya; OOC (lagi), gore scene (lagi dan lagi, dan belakangan), serta misstypo yang kemungkinan tersebar dimana-mana. Dan seperti di ATTWN: death charas. Don't like? Don't read, then.

Disclaimer: Karakter di sini seluruhnya punya Masashi Kishimoto-sensei. Saia cuma punya plot yang lumayan absurd dan mungkin ada plot hole-nya.

Oo—O—oO

Chapter 2

~Crimson Hands~

Oo—O—oO

If I can't flutter as a butterfly in the sky
I don't care if I become a demon that destroys you; you who bloomed in this crazy world

[Izayoi Namida © Aika Yoshioka]

Oo—O—oO

"Jangan harap kau bisa mendekatinya, Shion."

Betapa ia membenci suara dingin khas si Bungsu Uchiha itu.

"Jangan dekati ia lagi, orang aneh!"

"Kau akan membuatnya terluka kalau berada di dekatnya, kau tahu?"

Dua pasang mata yang nyaris sewarna dan berkesan sama di pikirannya: warna hijau yang menjijikkan.

"Aku berkata jujur, Shion: kalau kau berani melukai Naruto sedikit saja, jangan harap kau bisa lari dariku."

Coklat juga bukan warna yang Shion suka, sebenarnya. Apalagi jika yang punya adalah sosok sulung dari keluarga Sabaku yang selalu bersikap keras padanya.

"Aku memang baru pindah kemari, dan aku hanya mendengar obrolan tentang dirimu dari ibu-ibu di dekat rumahku. Kau yang bermental psikopat mendekati Naruto dengan tujuan apa sebenarnya, sih?"

Shion berasa ingin mencabik-cabik bocah berkulit pucat itu hingga tidak ada lagi yang tersisa darinya—apalagi sepasang mata hitam kelam yang sangat mirip dengan mata si bungsu Uchiha; orang nomor satu dalam daftar orang yang Shion benci.

"K-kumohon, jangan dekati Naruto-kun lagi! Tolong jangan menyakitinya lagi!"

/Apa karena kau adalah putri yang disayang semua orang, maka hanya kau yang boleh mendekatinya?/ Begitulah isi pikiran Shion ketika sang Putri dari keluarga Hyuuga yang dihormati semua orang meminta untuk berbicara empat mata dengannya suatu hari. Ia bungkam ketika gadis kecil berambut indigo itu berlari kecil menghampiri sang sepupu yang memanggil namanya. Kedua tangannya terkepal menahan amarah.

Seandainya saja ia tidak meninggalkan pisaunya di atas meja belajarnya, mungkin si Tuan Putri kesayangan semua orang itu sudah tidak utuh lagi tubuhnya sekarang.

#

"Hinata-sama, kurasa jika ada yang membawa tali kita bisa—"

"Tidak ada yang membawa tali, Neji."

Pemuda berambut panjang itu terbungkam saat mendengar suara yang pastinya bukan suara milik adik sepupunya. Suara Hinata tidak sebegitu kasar nadanya, minna-san. Hinata juga memanggilnya dengan embel-embel 'nii-sama', bukan dengan hanya nama saja seperti yang diucapkan sosok berjubah hitam itu.

Sosok berjubah hitam yang masih bisa dikenali oleh matanya meskipun penerangan di ruangan ini sangatlah minim.

"...kenapa kau ada di sini, Shion?"

Bibir merah menyeringai lebar ketika kakinya melangkah mendekati sosok yang biasaa menatapnya angkuh itu. /Terpojok bagaikan tikus di sudut ruangan, eh?/ "Kenapa aku tidak boleh ada di sini sementara akulah yang mengadakan pesta ini?"

Kali ini, mata tanpa pupil itu membelalak lebar. Ia sudah tidak bisa kemana-mana lagi saat jarak antara Shion dan dirinya hanya tinggal sejengkal—atau kurang dari itu, malahan. Satu-satunya rute pelarian yang bisa ia tempuh hanyalah jendela. Atau alternatif lain: mendorong mundur gadis berwatak setan di hadapannya lalu lari keluar dari pintu yang entah sejak kapan sudah tertutup di belakang punggung sosok berjubah hitam ini. Setidaknya, itulah pikiran Neji sebelum ia melihat kunci yang bergelantungan di tangan kiri Shion; tanda bahwa pintu itu telah terkunci sejak sang penyelenggara pesta memasuki ruangan.

Satu peribahasa yang tepat menggambarkan keadaan Neji sekarang: bagai telur di ujung tanduk.

"Kalau kau memang ingin keluar dari jendela untuk memanggil polisi seperti keinginanmu, Neji," ucap Shion ketika mata violet-nya menangkap gerakan akan melompat dari sosok yang lebih tua darinya itu, "kau tinggal minta bantuanku saja. Dengan senang hati akan kebantu kau keluar dari manor berhantu ini, kau tahu? Aku tidak sejahat yang kau kira." Tepat setelah seringaian keji terbentuk di wajah yang jarang terlihat oleh mata Neji itu, tangannya yang tidak menggenggam apapun maju untuk mendorong Neji (yang posisinya sudah jongkok di bingkai jendela—bersiap untuk melompat ala ninja ke atas pagar) hingga yang bersangkutan kehilangan keseimbangan dan—

"Lagipula, aku tidak suka kalau ada tamu tak diundang datang ke pesta yang kuadakan."—'BRUGH!'. Tubuh yang tidak sempat melawan gaya gravitasi untuk mengubah arah mendaratnya itu, tanpa diragukan lagi, jatuh hingga ujung-ujung pagar yang tajam menembus tubuhnya yang kini berlumuran darah.

"Kembalilah ke neraka, Hell Fighter 17."

.

Alis pirang bertautan saat melihat pintu yang tertutup rapat. Ia memang memutuskan untuk tidak melanjutkan nyanyiannya sebelum korban keempat jatuh, tetapi tetap saja rasa kecewa karena tidak bisa melihat korbannya tewas dengan mata kepalanya sendiri masih belum mau minggat dari kepalanya. /Baiklah, minta pakai cara tidak langsung, eh?/

Ia menggedor pintu, terus, terus, dan terus menggedornya hingga suara benda berat yang jatuh menghantam sesuatu—kepala salah satu dari mereka yang ada di dalam sana, mungkin?—terdengar bagaikan alunan melodi merdu di telinganya. Begitu cepatnya jam berbentuk beruang kesayangannya itu jatuh (iya, ia tahu kalau yang jatuh adalah jam itu karena hanya jam itulah satu-satunya benda dengan bobot seberat satu kilo di dalam sana) hingga ia sama sekali tidak mendengar suara orang yang menjadi tempat 'beruang' itu mendarat.

Oh, kini ada susulan berupa suara benda ringan yang jatuh dari pintu. Sudah saatnya ia pergi dan mencari mangsa lain. Hi-hi-hi-hi. Biarkan yang satunya ketakutan melihat ilusi dari potret dirinya yang banyak terpajang di dalam sana.

Memang siapa yang menyuruh mereka untuk masuk ke ruangan pribadi yang banyak terdapat foto dirinya, hah?

#

Sepasang kelopak mata terbuka perlahan, membawa pikiran si empunya kembali ke masa kini. Sepasang mata violet yang biasanya berkilauan ketika melihat darah orang yang ia benci bercipratan ke segala arah—termasuk wajahnya—kini tampak muram. Karena paman dari orang yang ia kejar selama ini mengemudikan mobilnya terlalu cepat ala pembalap mobil handal (Shion jadi bertanya-tanya apa pekerjaan lelaki berambut merah itu sebenarnya: penulis seperti pada nama yang biasa ia temukan di sampul novel favoritnya, model karena wajah itu terlihat familiar di sampul beberapa majalah fashion, atau pembalap dadakan?), ia jadi kehilangan jejak Naruto dan berakhir 'mendamparkan diri sendiri' di taman yang lumayancoretsangat sepi ini.

Padahal ia masih ingin bermain 'petak umpet' dengan Naruto dan Sasuke lagi, ngomong-omong, seperti yang mereka lakukan di stasiun tadi pagi. Setidaknya, hal itu lebih baik daripada duduk bengong di taman sendirian dengan resiko ketempelan arwah gentayangan mereka yang sudah ia bunuh dengan kedua tangannya yang tak lagi suci ini.

.

Kalau boleh jujur, matahari yang sedang bersinar di langit sana menyengat sekali ya, panasnya. Sampai-sampai orang berkepala dingin seperti Shion pun akhirnya angkat tangan untuk menahan panasnya dengan tidak bergerak sama sekali dan memutuskan untuk menghampiri paman penjual es yang berada tak jauh darinya.

...um, kalau boleh bermain logika sebentar, untuk apa seorang penjual es berhenti di tempat yang tidak ada orang (selain Shion sendiri, tentunya) seperti ini? Bukankah tujuan seseorang berdagang itu untuk mencari untung? Kalau membiarkan esnya meleleh di dalam kotak pendingin itu bukannya malah rugi namanya?

Dan author pun kembali curcol tentang pelajaran ekonomi di sekolah—lupakan yang barusan dan mari kembali ke topik sebenarnya.

Dengan langkah ragu-ragu, si gadis berambut pirang yang sekilas tampak tak berdosa itu pun mendekati si penjual aneh yang masih duduk membelakanginya di bangku yang berada di bawah pohon sakura yang sudah mati. Pundak berlapis kaos biru muda berlengan pendek itu naik turun, kepalanya tertunduk. Shion ikut menundukkan kepalanya untuk melihat wajah di balik helaian rambut putih (yang pastinya bukan uban) itu, dan yang ia temukan adalah...

"Ternyata rasa penasaran memang bisa membunuh kucing, eh?"

...kedua tangannya yang ditarik mendadak oleh si 'penjual es' serta terborgol dalam kejapan mata. Juga bonus berupa identitas si 'paman penjual' es yang ternyata adalah bawahan polisi yang menjebloskannya ke penjara pada Halloween dua tahun yang lalu.

Ekspresi Shion berubah dari penasaran menjadi kesal setengah mati. "Lepas tanganku sekarang, Yakushi Kabuto!"

Yang dibentak malah tersenyum tanpa dosa, seolah ia tidak melakukan apapun yang pantas membuat buronan bertampang malaikat di dekatnya ini mengamuk seperti sekarang. "Sayang sekali, aku tidak bisa melakukannya. Atas perintah dari atasanku, aku diharuskan menangkapmu dan tidak bersimpati padamu walaupun engkau menangis histeris atau berakting terkena serangan jantung seperti yang kau gunakan untuk kabur dari penjara dulu, Shion-san," sahut Kabuto sambil beranjak dari tempatnya lalu melakukan peregangan sementara Shion mundur teratur; gesture khas orang yang siap-siap mau kabur.

"Percuma kabur. Kalau pergi ke utara, ada Inspektur Yamato yang sedang melakukan razia lalu lintas. Di selatan taman ini juga ada Shizune yang sedang 'kerja sampingan' menjadi guru TK. Bahkan seorang Itachi rela bekerja tanpa dibayar dan menyamar sebagai waiter di cafe di barat sana untuk melindungi Adiknya darimu, kau tahu?" Walaupun ia bicara panjang lebar begitu, Shion tahu maksud lelaki di hadapannya ini hanyalah satu.

Dirinya sudah terkepung dan tidak bisa lari lagi sekarang.

"Jadi, daripada boros tenaga untuk kabur dan membunuh lebih banyak orang lagi, bagaimana kalau kau—"

Lagi, terjadi perubahan ekspresi yang cepat di wajah Shion. Kali ini, dari kesal tingkat dewa menjadi bingung karena ucapan dan tingkah Kabuto yang aneh. Ucapannya tiba-tiba terputus, mulutnya menganga, dan matanya tiba-tiba membelalak lebar. Dalam satu kejapan mata pula, lelaki yang usianya terpaut tidak terlalu jauh dari Shion itu rubuh ke tanah dengan sebuah peluru bersarang telak di tengkuknya. Alis Shion bertautan melihatnya. Namun bukannya kabur atau apa guna mengantisipasi bahaya atas kemungkinan peluru yang sama juga akan bersarang di salah satu bagian tubuhnya, gadis bermata violet itu malah berjongkok untuk mengamati tubuh yang tak lagi bernyawa itu dengan lebih teliti.

/Gaya membunuh dengan menembak di tengkuk dan tanpa suara dari kejauhan ini.../ Shion merasa jantungnya akan copot ketika sebuah tangan mendarat di bahunya, padahal pendengarannya yang tajam sama sekali tidak mendengar suara langkah yang mendekatinya beberapa saat sebelumnya.

Sebuah tangan berbalut handgloves hitam yang terasa familiar di ingatannya.

"Sudah berapa lama kita tidak bertemu, Shion?"

Suara yang juga tak kalah familiar itu membuat yang dipanggil namanya reflek menoleh ke sumber suara. Matanya ikut melebar dalam keterkejutan saat melihat helaian rambut yang berwarna sama seperti miliknya dan membingkai wajah yang ia kenali itu dengan sempurna. Satu kata yang terucap dari mulutnya ketika melihat sosok yang pastinya berjenis kelamin laki-laki itu adalah;

"Onii-san?"

.

#

.

To be continued.

A/N: ...ini chapter terlalu pendek yah, readers-san? *lihat ke atas*Gomenasai... dikarenakan otak masih rada macet gara-gara remedial MTK-Kimia-Fisika yang soalnya meski cuma 40 bisa bikin rambut rontok sampai menuh-menuhin lantai kamar 'n harus dipotong, chapternya jadi abstrak begini... (=.=)U Tapitapitapi! Itu proses matinya Shika 'n Neji udah ketauan, 'kan? Jadi reviewer yang minta supaya cara matinya lebih dijelasin lagi udah puas, 'kaan~? *celingukan nyari reviewer ybs*

Er, balas anonymous review dulu yah!

-Guest: Eeh, lebih kejem? Bakal diusahain... Soal adegan petak umpetnya kalau ditulis saia malah bingung deskripsiinnya gimana... #jitaked

-Okushi: Kalau g gitu, bukan Nagato namanya... #ngeles Soalnya kemungkinan gore masih dipertimbangkan, saia udah jarang nonton film horor soalnya... Jadi untuk sementara, Rate T dulu yah. (_ _)

-Nissa: anda double S, saia double N namanya... 8P Ini dia udah muncul. Sasunaru jangan sampe mati? Saia g bisa jamin yah... #kabur

Sekian dulu dari saia. Daripada ini chapter dipenuhi bacotan yang lebih banyak daripada ceritanya, lebih baik saia ijin kabur sekarang aja. Mohon RnR-nya yah, minna-san! #kabur #dilemparkaleng