"Chanyeol itu adalah saudara yang baik," Kyungsoo memulai pembicaraan. Ia melipat tangannya diatas meja lalu kembali menerawang apa saja yang ia ingat mengenai saudaranya itu.

"Dia sering mengalah saat aku berebut mainan dengannya dulu," Lanjut Kyungsoo.

"Dia bahkan memberikanku baju bergambar kartun pororo saat aku berulang tahun," Kyungsoo tersenyum cerah. Ingatan tentang Chanyeol yang memberinya hadiah ulang tahun berupa baju bergambar kartun kesukannya itu masih sangat jelas ia ingat. Saat itu umurnya baru menginjak lima tahun.

Baekhyun yang sedari tadi menjadi pendengar setia hanya memberengut kesal. Apa Kyungsoo baru saja pamer padanya? Tapi, ada sesuatu yang janggal. Sejak kapan Baekhyun meminta Kyungsoo untuk menceritakan hadiah apa yang ia terima saat berulang tahun? Well, itu tidak termasuk kedalam 'bercerita sedikit tentang saudaramu'.

"Dan juga ia sering—"

"Kyung—"

"—mentraktirku di kedai Es Krim Nyonya Shin,"

"Ia sering membelikanku es—"

"Kyung—"

"—krim dengan toping yang banyak, bahkan ia menyuruhku untuk memil—"

"Kyungsoo!" Baekhyun berteriak. Mengagetkan lawan bicaranya yang sedari tadi sibuk bercerita. Kyungsoo mengerjap lalu memandang Baekhyun bingung.

"Huh? Apa?"

"Aku memintamu menceritakan tentang saudaramu, bukan tentang dirimu yang diberi hadiah atau ditraktir oleh saudaramu!" umpat Baekhyun. Untung Baekhyun termasuk kedalam jajaran mahkluk tuhan paling seksi, jadi ia bisa bersabar menghadapi kelakuan lawan bicaranya.

"Benarkah? Jadi aku salah?" Baekhyun Sweatdrop. Lain kali ia akan berpikir ulang untuk mengajak Kyungsoo berbicara. Baekhyun tidak menyangka Kyungsoo bahkan jauh lebih ajaib dari tingkah absurd Luhan.

Baekhyun menghela nafasnya, "Sekarang ceritakan tentang saudaramu! Ingat, saudaramu!" Tegas Baekhyun mengingatkan.

"O-oke." Kyungsoo gugup.

Ekhem.

"Chanyeol itu adalah saudara yang baik," Kyungsoo memulai pembicaraan—lagi.

"Ia pandai sekali bermain musik," Kyungsoo menerawang. Baekhyun tersenyum –Tidak menyangka saudara adik kelasnya ini pandai bermain musik.

"Ia bahkan menamai gitar kesayangannya dengan nama Matilda," Baekhyun tersenyum 'kian lebar.

"Chanyeol juga sering mengajakku berduet bersama. Chanyeol yang bermain gitar dan aku sebagai penyanyinya," Baekhyun tetap mempertahankan senyum lebarnya.

"Biasanya aku yang akan memilih lagunya jika kami berduet," Baekhyun menaikkan alisnya.

"Dan tentu aku akan memilih lagu dari Maroon 5, aku benar-benar mengaguminya! Aku benar-benar mencintainya~" Kyungsoo berkata histeris, mata bulatnya berbinar-binar Lucu. Baekhyun?

Senyumnya telah hilang,

Baekhyun menjatuhkan wajahnya,

Bendera berwarna putih berkibar,

Baekhyun benar-benar menyerah sekarang.

.

.

.

.

.

.

Love Mart

By Spcy61

Chast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Etc.

Genre : Romance. Humor(Maybe)

Rate : T

Warning ! YAOI! BoysLove. BoyXBoy. Typo's dimana-mana. Bahasa Berantakan.

= NOTE : Chap tiga ini aku tulis dalam keadaan mood nulisku yang labil dan keadaanku yang lagi flu. Jadi maaf kalo jelek, nggak dapet feel, atau apapun. Semoga tidak membosankan

Happy Reading~

.

.

.

.

.

.

Chapter 3

Seperti dejavu Baekhyun kembali berdiri di depan toko yang terpasang berbagai macam lampu kerlap-kerlip didepannya. Kerlap-kerlip yang sempat membuat si mungil Byun mencemooh betapa sakit matanya saat melihat benda tersebut. Matanya juga kembali melihat sebuah tulisan 'Love Mart' yang terpampang jelas disana. Baekhyun mengingat bagaimana kemarin ia sudah menjelek-jelekkan toko bernama 'Love Mart' itu. Baekhyun merasa bahwa dunia ini terasa sempit baginya. Bertemu dengan—seorang berwajah khas anak kecil—Kyungsoo dan juga—si Tampan—Chanyeol dihari yang sama. Dan besoknya Baekhyun kembali dipertemukan dengan Kyungsoo. Baekhyun bahkan baru mengetahui kalau Kyungsoo adalah adik kelasnya, dan juga anak dari pemilik toko yang tokonya kemarin sempat Baekhyun jelek-jelekkan. Baekhyun merasa dunia ini benar-benar sesempit lubang analnya.

Dengan langkah pasti Baekhyun memasuki toko tersebut dengan semangat. Tidak seperti kemarin yang memasang wajah cemberutnya, kali ini Baekhyun menampakkan wajah kelewat sumringahnya. Benar-benar berbanding terbalik.

Suatu hal yang mampu membuat Baekhyun bersemangat seperti ini. Masih ingat dengan kejadian 10 ribu won kemarin? kali ini Baekhyun ingin menjemput 'anak'nya itu. Dengan berbekal uang 10 ribu won yang ia dapat dari perut paman Monokurobo (Celengan Babi milik Baekhyun) yang sudah ia pecahkan. Baekhyun bertekad ingin mengambil alih apa yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanapun Baekhyun sudah berjanji kepada 'anak'nya itu untuk segera membelinya. Ia tidak ingin dicap sebagai 'ayah' yang pendusta.

Ngomong-ngomong Baekhyun sudah izin kepada ibunya bahwa ia akan pulang terlambat hari ini, Baekhyun tidak ingin uang sakunya kembali dipotong. Itu benar-benar mengerikan.

Kling~

"Selamat datang ditoko kami…"

Bagai rekaman yang kembali diputar, Baekhyun memutar kepalanya kesamping, kearah dimana suara sapaan itu berasal. Tidak sepenuhnya sama, disana bediri seorang lelaki dengan seragam karyawannya. Tubuh lelaki itu tidak terlalu tinggi, tetapi wajah lelaki itu cukup mengatakan bahwa ia bukanlah Kyungsoo. Melainkan seorang lelaki berwajah kotak yang menyerupai sebuah… kotak televisi. Beruntung Baekhyun tidak berniat untuk menonton televisi sekarang.

Baekhyun mengingat bagaimana ia mengajak Kyungsoo untuk pulang bersama—setelah kejadian absurd dikantin tadi tentu saja— Tapi ternyata adik kelasnya itu sedang ada urusan dengan kegiatan klubnya, dan tentu kegiatan itu mengharuskan Kyungsoo untuk pulang lebih lama. Mungkin itu yang menyebabkan posisi kasir digantikan oleh sebuah kotak televisi.

Sama seperti kemarin, kini Baekhyun tengah berlari diantara rak-rak yang bahkan jauh lebih tinggi dari tinggi tubuhnya. Kaki-kakinya sudah berlari-lari ketempat dimana letaknya sudah ia hafal luar kepala. Hingga terlihatlah sebuah jejeran-jejeran rak berisi penuh aksesoris lelaki dan wanita, membuat Baekhyun terlihat semakin antusias. Baekhyun melangkah perlahan, matanya tidak pernah lepas memandangi jejeran-jejeran bandana dengan berbagai bentuk dan warna. Sampai matanya mulai menangkap sesuatu yang ganjil.

Bandana kesukaannya, Dimana bandana kesukaannya?

Baekhyun memeriksa satu persatu rak berisi bandana itu dengan tergesa. Berharap bandana kesukaannya terselip diantara bandana lainnya. Tetapi hingga sang kasir memelototinya karena hampir merusak barang-barang ditoko tersebut Baekhyun belum juga menemukan 'anaknya'—Bandana kesukaaannya— Dengan mata yang sudah memerah dan hampir mengeluarkan air mata Baekhyun berteriak frustasi.

"ANAKKUUU! KAU DIMANAAA?!"

Dan detik itu juga, Baekhyun akan berfikir ulang untuk datang ketoko itu lagi.

.

.

.

Kau tau bagaimana rasanya jika kau melihat kamarmu sendiri sudah tidak beraturan seperti baru saja terkena angin badai? Dan itu ulah sahabatmu sendiri. Ugh. Baekhyun sedang merasakannya saat ini; Buku-buku—yang pasti bukan buku pelajaran—sudah berserakan dilantai ataupun diatas kasurnya. Makanan ringan berupa snack sudah berjatuhan dilantai, bahkan ada yang sudah terinjak-injak. Bantal dan guling yang sudah tidak ada pada tempatnya(read:Kasur) sarungnya pun sudah terlepas entah kemana. Dan juga jangan lupakan dalang dari semua ini. Ya, Xi Luhan. Padahal kamarnya sudah rapi dan bersih saat Baekhyun meninggalkannya ke Sekolah tadi pagi. Tetapi sekarang, kamarnya persis seperti sudah bertahun-tahun tidak dibersihkan.

Baekhyun akan sedikit bersyukur jika Luhan sedang membersihkan kamarnya sekarang. Bukannya malah tidur-tiduran dengan kaki yang sudah bersender di Headboard kasurnya. Oh jangan lupa juga majalah bergambar kepala kelinci—tentu bukan milik Baekhyun— yang sedang dibacanya. Baekhyun sedikit meragukan siapa tuan rumah sebenarnya disini, melihat kelakuan Luhan yang terlihat seperti Nyonya besar.

Well, sudah cukup Baekhyun kehilangan 'anak'nya, ia tidak mau ditengah perasaan berduka citanya Baekhyun harus membersihkan kamarnya yang benar-benar kotor. Seharusnya Nyonya Byun dan Bibi Xi tau bagaimana kelakuan Luhan jika berada dikamarnya. Setidaknya Baekhyun dapat berpuas diri melihat sahabatnya itu diomeli oleh Bibi Xi.

"Hei Baek. Sudah pulang?" Well, sapaan macam apa itu? setelah membuat kamarnya seperti istana babi, si brengsek Xi itu malah menyapanya dengan cengiran bodoh miliknya? Oh bagus.

"Xi Luhan kuingatkan padamu! Ini kamarku bukan kandang babimu!"

"Yeah aku tau itu, ini kamarmu. Lagipula aku tidak pernah menganggap kamarmu seperti kandang babi. Tapi… kamarmu ini memang sedikit kotor Baek, apa kau lupa membersihkannya?" Dengan wajah sok polosnya Luhan memperhatikan keadaan kamar tumpangannya ini. Sedikit prihatin sebenarnya. Lalu pandangannya jatuh kearah lelaki mungil dengan wajah memerahnya. Tidak, itu bukan merah akibat merona, tapi—

"Mati saja kau!" Emosi Baekhyun sudah diubun-ubun. Tangannya mulai mengambil apa saja yang dapat dijangkaunya untuk dijadikan senjata. Pilihannya jatuh kearah jam weker berbentuk stroberi miliknya. Jika Baekhyun dalam keadaan normal mungkin ia akan merutuki kelakuannya ini, tapi sayang emosi sudah merasuki tubuhnya. Jadi tanpa mikir panjang Baekhyun dengan tidak berperikejaman dan berperikeluhanan segera melepar jam weker stroberinya itu tepat mengarah sang target.

Luhan yang sudah antisipasi akan hal ini segera menyingkir secepat kilat. Apalagi saat melihat cara mendarat jam weker tersebut yang hampir mengenai wajahnya. Tapi tetap saja, jam weker yang sudah melayang bebas itu tetap mendarat disalah satu bagian tubuhnya. Dan bokongnya benar-benar sakit saat ini. Entah bagaimana kronologisnya hingga jam weker tersebut dapat dengan mulus mendarat di bokong Luhan. Well, sepertinya Jam weker itu sudah bekerja sama dengan pemiliknya.

Baekhyun tersenyum penuh kemenangan. Ia seperti seorang atlet pelempar professional yang baru saja memenangkan sebuah mendali emas.

"Yach! Apa-apaan kau Baek! A-aduh bokong seksiku!" Baekhyun dengan mode marah memang benar-benar seram. Luhan bergidik melihatnya.

"Rasakan! Biar saja bokongmu itu 'ku kuliti sekalian." Ucap Baekhyun sadis.

Luhan melotot, "Kau sungguh kejam Baek! Bokongku ngilu. Ini tindak pelecehan namanya! " Luhan mengusap-usap bokongnya pelan. Aset berharganya ini benar-benar tidak boleh lecet sedikitpun. Bisa-bisa tidak akan ada lelaki tampan yang meliriknya nanti.

Baekhyun mendengus. "Tindak kekerasan," ia mengoreksi. Baekhyun tidak akan pernah mau dianggap telah melecehkan Luhan. Ugh, maaf-maaf saja dia bukan lesbi.

Tapi sebenarnya Baekhyun sedikit prihatin melihat Luhan yang kesakitan, begini-begini ia masih mempunyai rasa kasihan. Walaupun melempari sahabatnya sendiri dengan jam weker termasuk tindakan yang cukup kejam. "Ada urusan apa kau kerumahku?" Tanya Baekhyun akhirnya.

"Memangnya aku harus mempunyai urusan baru boleh kerumahmu?" Jawab Luhan nyolot. Sepertinya lelaki bermarga Xi ini tidak bisa belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya, bagaimana akibatnya jika membuat seorang lelaki bermarga Byun marah. Melihat Baekhyun mulai mengeluarkan aura-aura tidak mengenakannya lagi Luhan segera tersadar. Ia menelan ludahnya gugup. "A-aku ingin kau bercerita padaku." sambung Luhan.

Baekhyun mengernyit, "Bercerita apa maksudmu?"

"Sudahlah kau itu bukan seorang aktor Baek. Kau tidak pandai berakting! Cepat ceritakan padaku ada apa denganmu? Mengapa dari kemarin kau terlihat aneh?" Tanya Luhan memaksa. Tangannya sudah ia sedekap dibawah dadanya. Membuat pose seakan-akan ia lah sang majikan disini, melupakan sebuah fakta bahwa ia adalah seorang korban yang baru saja mengalami tindak kekerasan oleh sahabatnya sendiri.

Baekhyun terdiam sesaat, lalu mulai menghela nafasnya. "Aku masih tidak mengerti, sungguh."

"Baek…" Luhan menatap Baekhyun jengah. Oh ayolah, Luhan tau Baekhyun mengerti apa maksud pertanyaannya.

"Aku benar-benar tidak mengerti, Luhan." Baekhyun memandang keadaan kamarnya yang terlihat berantakan, itu terlihat lebih baik daripada memandang wajah Luhan saat ini. Baekhyun merasa bahwa ia tidak bisa menghindar lagi seperti tadi dikelas. Terasa sangat lucu apabila Baekhyun tiba-tiba saja berlari dari kamarnya sendiri dan mengatakan bahwa ia ingin ke toilet. Itu terasa memalukan.

"Baek…"

"Sungguh! Aku benar-ben—"

"Baekhyun…"

"Ugh. Baiklah-baiklah!" Baekhyun menyerah.

Dan akhirnya Baekhyun benar-benar menceritakannya. Disebut menceritakan disini adalah benar-benar menceritakan semuanya. Berawal niatnya membeli hadiah untuk Luhan, bertemu Kyungsoo, bertemu Chanyeol, dan bertemu Kyungsoo lagi. Baekhyun benar-benar menceritakannya. Ia juga menceritakan bagaimana keadaan jantungnya yang selalu berdetak cepat jika dihadapkan oleh seorang bernama Chanyeol. Luhan menjadi heboh sendiri saat Baekhyun mengatakannya. "Kau menyukainya, Baek!" Luhan menyeletuk begitu saja.

Baekhyun yang baru saja selesai bercerita segera terdiam. 'Apa benar ia menyukainya?' selama ini Baekhyun memang bersikap seolah-olah ia menyukai Chanyeol dan sedang melakukan pendekatan melalui saudaranya Kyungsoo. Tetapi percayalah, Baekhyun tidak pernah berfikiran sampai sana. Baekhyun selalu berfikir bahwa ia hanya mengagumi sosok Chanyeol yang tampan, itu saja. Tapi saat Luhan bertanya apa ia menyukainya? Jujur Baekhyun tidak tau.

"Mengapa kau diam? Uhh—apa jangan-jangan kau sudah mencintainya? Omaya!" Luhan histeris. Tangannya sudah ia tangkupkan dikedua pipinya. Pipinya seketika memanas, tidak menyangka sahabatnya ini tengah merasakan jatuh cinta. Tapi sebuah kalimat yang meluncur secara tiba-tiba dari mulut Baekhyun membuat Luhan segera terdiam dari aksi histerinya.

"Aku tidak tau." Jawab Baekhyun lemas.

"Huh? Jawaban macam apa itu?" Luhan Shock.

"Aku benar-benar tidak tau, Lu." Jawab Baekhyun—lagi.

"Apa? Jadi kau benar-benar tidak tau? Dasar bodoh!" Luhan membalas kesal. Baekhyun yang tidak terima dipanggil bodoh segera melayangkan jitakannya. Luhan meringis pelan, lalu ia kembali berbicara. "Baiklah, kalau begitu kita akan buktikan apa kau benar-benar menyukainya atau tidak." Putus Luhan dengan jentikan di jarinya. Otaknya tengah membayangkan rencana-rencana yang akan ia gunakan untuk kelancaran aksinya dengan Baekhyun nanti.

Baekhyun dengan ragu bertanya, "Bagaimana caranya?" Sungguh Baekhyun merasakan sesuatu hal yang tidak enak. Apalagi saat kedua matanya menangkap sebuah seringaian yang muncul dibibir Luhan. Seringaian Luhan benar-benar suatu hal yang harus Baekhyun hindari.

"Aku punya sebuah ide!"

.

.

.

"Dia Tampan!"

"Astaga! Dia tampan!"

"Ya Tuhan dia benar-benar tampan!"

Baekhyun merolling eyes kan kedua matanya. Sudah hampir Dua jam penuh mereka—Baekhyun dan Luhan—berdiri dibelakang sebuah pohon besar yang berada tepat disebelah kiri halaman toko bernama Love Mart tersebut. Baekhyun 'pun tidak habis pikir dengan ide Luhan ini; Menyuruhnya berpakaian serba hitam dengan sebuah teropong yang baru saja Baekhyun pinjam dari rumah tetangganya. Beruntung tetangganya itu mempunyai seorang anak kecil, jadilah mereka dapat meminjam salah satu mainannya, atau kalau tidak ide Luhan ini tidak akan pernah terealisasikan, karena bagaimanapun salah satu dari mereka tidak akan ada yang mau mengeluarkan uang sepeserpun untuk membelinya. Jangan lupakan sebuah masker—tentu juga berwarna hitam—yang menutupi setengah wajah mereka, sehingga hanya terlihat kedua matanya saja. Luhan bilang ini cukup ampuh untuk menyamarkan wajah mereka agar tidak terlihat. Dan Baekhyun bertransformasi menjadi lebih penurut kali ini.

Sebenarnya Baekhyun cukup bingung melihat kelakuan Luhan sekarang. Dari mana kelakuan Luhan yang dapat disebut dengan 'kita akan buktikan apa kau benar-benar menyukainya atau tidak' Jika Luhan saja tengah asik berteriak-teriak histeris memandang Chanyeolnya melalui teropong dengan tatapan memuja seperti itu. Baekhyun jadi menyesal mengajak Luhan kemari.

Lagipula Chanyeolnya? Sejak kapan Chanyeol jadi miliknya.

Baekhyun menghela nafasnya. Jika saja Baekhyun tau akan begini jadinya, ia tidak akan pernah menyanggupi ide Luhan ini. Ini sih sama saja dengan ia tengah menjodohkan Luhan dan Chanyeol. Apalagi Luhan terus-menerus memanggil Chanyeol dengan sebutan tampan. Intinya Baekhyun benar-benar tidak suka. Penampilannya kali ini juga tidak mendukung sama sekali. Oh ya Tuhan, sudah beberapa kali Baekhyun melihat para pejalan kaki yang menahan tawa saat melihat mereka. Pakaian serba hitam memang tidak pantas dipakai dihari terik seperti ini. Tidak cocok dan benar-benar memalukan.

"Mengapa kau cemberut begitu? Kau cemburu?" Tanya Luhan tanpa mengalihkan pandangannya. Matanya masih terfokus melihati sang objek yang sedang asik bergulat dengan kertas kado dihadapannya. Teropong hasil peminjaman 'pun masih setia bertengger dikedua mata Luhan. Entah bagaimana bisa Luhan tau kalau Baekhyun sedang cemberut. Terkadang Luhan memang bersikap seperti cenayang.

"A-apa? Ti-tidak, tentu saja tidak!" Jawab Baekhyun gugup.

Mendengar nada bicara Baekhyun yang terdengar aneh, Luhan segera mengalihkan pandangannya. Matanya memandang teliti raut wajah sahabatnya. Baekhyun yang dilihati sebegitu dalam hanya memandang balik Luhan. "Kau tau, raut wajahmu seperti mengatakan bahwa kau baru saja berbohong."

Refleks Baekhyun menutupi wajahnya, "Kau bukan seorang ahli pembaca wajah, Lu."

"Memang. Lalu kenapa kau menutupi wajahmu seperti itu?" Luhan tersenyum mengejek.

"Ti-tidak, aku tidak sedang menutupi wajahku." Dengan panik Baekhyun membuka kembali kedua tangannya yang sempat menutupi wajahnya.

"Kau menyukainya, bukan? Seorang nenek-nenek yang sudah rabun 'pun dapat melihat bahwa kau menyukainya!"

"Memang kau pernah bertemu nenek-nenek yang sudah rabun?"

"Oh ayolah itu hanya sebuah perumpamaan! Intinya kau menyukainya!" Ucap Luhan kesal. Dengan kesoktauan Luhan kembali memakai teropong pinjaman itu dan kembali memfokuskan dirinya ke kegiatan sebelumnya. Baekhyun yang tidak terima segera merebut teropong hasil pinjamannya dengan paksa. Enak saja, Baekhyun yang meminjam mengapa Luhan yang terus memakainya. Tetapi sebelum Luhan sempat protes sebuah suara tidak dikenal mengiterupsi berdebatan yang baru saja akan terjadi.

"Hei, mengintip seseorang dengan teropong itu benar-benar tindakan yang tidak sopan. Apalagi penampilan kalian yang terlihat aneh. Kalian ini sedang mengintip atau sedang bermain ninja-ninjaan? Atau kalian sejenis ninja yang suka mengintip?"

Sebuah perkataan sindiran yang tertangkap indra pendengaran kedua makhluk bergender sama itu mampu membuat mereka yang akan berdebat mengalihkan pandangannya kebelakang. Terlihat wanita dengan rambut cokelat sebahunya menatap tidak habis pikir dengan dua orang berpakaian aneh didepannya. Wanita itu kira manusia aneh sudah tidak ada lagi di Seoul. Tapi melihat fakta yang ada, sepertinya wanita itu harus memikirkan kembali spekulasinya.

"Kau ini cerewet sekali! Kalau tidak suka pergi saja sana!" Ketus Luhan. Wajahnya sudah sinis memandang wanita didepannya.

Wanita dengan blouse merah muda yang melekat ditubuhnya terkejut tidak percaya. Wanita itu yakin kedua makhluk didepannya ini pasti lebih muda darinya. Tetapi perkataannya sungguh sangat menyakitkan hati. "Dasar bocah! Tidak sopan sekali dengan yang lebih tua!" Wanita itu berujar marah.

Seseorang melebarkan diameter matanya. Oke, itu Baekhyun. Baekhyun yang memang paling sentsitif dengan perkataan; pendek, bocah, dan cantik sudah mengeluarkan aura-aura tidak mengenakan dari tubuhnya. "Dengar ya Noona! Kami ini sudah SMA, bukan seorang bocah!" Protes Baekhyun berapi-api.

Wanita itu terkejut main-main. "Mengejutkan! kupikir kalian ini siswa sekolah dasar! Tapi… jika memang kalian sudah SMA seharusnya kalian tau apa itu bersikap sopan dan tau aturan. Aku benarkan?"

"Pertama, mengintip seseorang dengan teropong itu bukan tindakan yang baik. Kedua, Berbicara kasar dengan orang yang lebih tua juga bukan tindakan yang baik. Dan yang ketiga, memarkirkan kendaraan disembarang tempat itu juga bukan tindakan yang baik dan melanggar aturan," Wanita itu melanjutkan.

Baekhyun dan Luhan mempertemukan kedua alisnya. Merasakan bahwa kedua makhluk aneh didepannya ini tidak mengerti, wanita itu kembali melanjutkan. "Kau lihat, mobilku jadi tidak bisa masuk gara-gara mobilmu. Jadi kuharap, kalian segera memindahkan mobil kalian bocah-bocah manis." Wanita itu tersenyum sekilas. Tangannya sudah menunjuk-nunjuk sebuah mobil keluaran terbaru yang terparkir sembarangan dipinggir jalan.

"Kami bukan bocah!" Protes Baekhyun—lagi.

"Sudahlah kita pergi saja, Baek." Luhan yang merasa bahwa merekalah disini yang bersalah segera menarik pergelangan tangan Baekhyun. Luhan sebenarnya sedikit merutuki kecerobohannya yang memarkirkan mobil miliknya sembarangan. Tetapi salahkan saja Baekhyun yang memintanya untuk cepat-cepat turun sesaat setelah sampai, membuat Luhan memarkirkan mobilnya dengan sembarangan.

Jadi, dengan kecepatan yang dibilang tidak biasa Luhan segera membawa mobilnya meninggalkan Love Mart. Meninggalkan sesosok wanita yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anak jaman sekarang."

.

.

.

"Kau melihatiku terus. Apa ada yang aneh dengan wajahku?"

Chanyeol yang saat itu tengah memainkan segelas cangkir kopi dikedua tangannya merasa sedikit heran dengan gelagat sang Noona yang terus memperhatikannya. Beberapa menit lalu Noonanya datang ke tempatnya bekerja untuk mengajaknya makan siang, beruntung bibi Do tidak keberatan. Bagaimanapun makan siang terlebih dahulu daripada karyawan lainnya membuat Chanyeol merasa tidak enak. Tetapi mendengar rengekan manja sang Noona yang akan terus berlanjut jika Chanyeol tidak menurutinya pasti akan terasa lebih merepotkan. Jadi disinilah Chanyeol sekarang, duduk disebuah restoran cepat saji dengan sang Noona yang memperhatikannya terus-menerus.

Yoora menggeleng imut, lalu kemudian ia sesap teh hijau yang tersaji didepannya. Setelah air berwarna hijau itu mengalir dengan bebas ditenggorokannya Yoora membuka suara. "Aku hanya heran. Apa kau terlihat begitu tampan sehingga memiliki seorang pengagum."

Chanyeol terkekeh. "Tidak ada orang yang mengagumiku."

"Tapi aku menemui seseorang—aah tidak, ada dua orang yang seperti itu. Dan itu baru saja terjadi." Ucap Yoora menggebu-gebu.

"Siapa maksudmu?" Walaupun tidak yakin dengan ucapan Noonanya setidaknya Chanyeol cukup penasaran.

"Dua orang ninja."

Chanyeol mendengus malas. "Seharusnya aku tau kau sedang bercanda."

"Tidak-tidak aku sedang tidak bercanda. Maksudku dia manusia yang berpakaian seperti ninja. Kau mempunyai dua orang pengagum yang unik, Yeol. Siapa tau kau ingin menjadikan salah satunya kekasihmu." Yoora tersenyum genit. Menggoda adiknya sekali-sekali boleh juga.

"Itu tidak mungkin, Noona."

"Oh ayolah, mengapa tidak?" Tanya Yoora gemas.

"Kau ingat Noona, aku pernah bilang padamu bahwa aku mempunyai sebuah misi." Yoora mengangguk-anggukan kepalanya. Masih teringat jelas dikepalanya saat Chanyeol mengungkapkan tentang sebuah misi yang sampai saat ini masih membuat Yoora penasaran. "Noona ingat."

"Aku mencintai seseorang," Chanyeol menghela nafasnya. Sedikit ragu untuk memberi tahu perihal 'misi'nya kepada sang Noona. Kegagalan kisah percintaannya yang terdahulu membuat Chanyeol sedikit menutupi diri dengan kisah percintaannya yang sekarang. Tetapi melihat wajah sang Noona yang penuh harap padanya membuat hati kecil Chanyeol menjadi luluh. Bagaimanapun wanita didepannya ini adalah Noonanya. Wanita yang akan selalu membela dan mengerti dirinya. Chanyeol telah yakin bahwa memberitahukan misinya kepada Noonanya bukan suatu hal yang salah. "Aku ingin membuat seseorang itu juga mencintaiku. Apa… Apa kau mengerti maksudku, Noona?"

Yoora terperangah. "Ya Tuhan! Mengapa kau tidak pernah bilang pada Noona! Beritahu Noona siapa dia Chanyeol!?"

Chanyeol tersenyum bahagia, membuat Yoora semakin terperangah akan senyum itu. Itu senyum Chanyeolnya yang dulu. "Dia—dia adalah seorang pria mungil yang berwajah manis."

Dan detik itu juga Yoora tau bahwa Chanyeolnya benar-benar telah kembali. Masa-masa kehilangannya telah berlalu, digantikan oleh sebuah kebahagiaan yang akan segera hadir. Dan jika saat itu tiba, Yoora akan sangat berterimakasih kepada siapapun yang membawa kebahagiaan itu datang.

.

.

.

Sial! Baekhyun merutuki nasibnya hari ini. Sejak awal seharusnya ia tidak pernah mengikuti semua saran Luhan. Baekhyun seharusnya sudah hafal betul apa isi dari otak sahabatnya itu. Baekhyun merasa menjadi seorang yang teramat sangat bodoh karena mudah percaya dengan orang bodoh.

Bagaimana bisa sahabatnya—Baekhyun sungguh ingin menyebutnya si brengsek— itu meninggalkannya sendirian ditengah jalan?

Luhan benar-benar keterlaluan. Jika saja Luhan ada disini, bukan tidak mungkin ia akan menjadi korban kekerasan Baekhyun. Baekhyun dengan senang hati akan mendorong tubuh Luhan ke tengah jalan lalu berlanjut dengan terlindas oleh sebuah truk besar. Bukan sesuatu yang mustahil jika hal itu terjadi dalam keadaan emosi Baekhyun yang meningkat. Ya, bukan suatu hal yang mustahil jika saja sang objek 'pendorongan' berada ditempat pengeksekusian sekarang. Bukannya malah sibuk pergi berkencan dan meninggalkan sang 'tersangka' ditengah jalan.

Setelah kepergok oleh seorang wanita berambut cokelat—Baekhyun tidak tau siapa dia—karena asik memata-matai di Toko 'Love Mart' tadi, Baekhyun dan Luhan sepakat untuk jalan-jalan saja menggunakan mobil baru Luhan yang ia dapat dari Ayahnya sebagai hadiah ulang tahun. Itupun atas saran Luhan, Baekhyun sih senang-senang saja. Anggap saja sebagai penyembuh rasa sakitnya karena baru saja kehilangan 'anaknya'. Toh sangat jarang sekali ia bisa pergi jalan-jalan menaiki mobil dengan Luhan. Apalagi dengan dirinya yang belum diizinkan untuk mengendarai kendaraan beroda empat tersebut.

Tetapi, kesenangan Baekhyun hilang ketika sebuah pesan elektronik muncul di ponsel milik Luhan. Entah apa yang tertera disana, yang pasti Baekhyun mengutuk apapun isi pesan tersebut dan siapapun pengirimnya. Pasalnya setelah membaca isi pesan tersebut Luhan—yang memang sudah sarap—berteriak-teriak heboh dan mengatakan ia akan segera pergi berkencan. Dan seperti yang kalian lihat sekarang,

Seorang Byun Baekhyun baru saja ditinggalkan oleh Seorang Xi Luhan ditengah jalan.

Sungguh miris.

Terlebih lagi cuaca yang sepertinya tidak berada di pihak Baekhyun. Terbukti dengan hujan deras yang mengguyur kota Seoul tidak lama setelahnya. Terlihat seperti mengejek keadaan Byun Baekhyun sekarang. Lihatlah kaki-kaki pendeknya yang berlari-lari mencari tempat untuk berteduh. Baekhyun sedikit menyesal karena selalu beralasan tidak enak badan saat pelajaran olahraga, yang menyebabkan kecepatan berlarinya kini melambat. Lemak-lemak yang bersarang di tubuhnya cukup membuatnya basah kuyup sekarang. Benar-benar hari yang sial untuk Baekhyun.

Akan menjadi hal mudah jika Baekhyun dapat melambaikan tangannya dan sebuah taksi akan segera datang menghampirinya lalu menghantarnya pulang kerumah hingga selamat. Tetapi dengan keadaannya yang sekarang; Tidak membawa uang sepersenpun dan juga tubuhnya yang basah kuyup. Mana sudi seorang supir taksi menghantarkannya pulang. Terlebih keadaannya yang terlihat seperti seseorang yang baru saja menenggelamkan dirinya kesungai, dan seseorang itu juga tidak membawa uang sepersen 'pun. Mau di bayar pakai apa dia?

Sampai sekarang Baekhyun selalu ingat dengan sebuah kalimat yang tak sengaja ia temukan di akun sosial medianya,

'Hidup itu tak selalu semulus paha Hyorin sistar.'

Dan dari sebuah kalimat tersebut Baekhyun mencoba mengambil kesimpulan bahwa; 'Pahanya jauh lebih mulus dari paha Hyorin sistar.'

"Hei."

Baekhyun hampir saja terloncat saat sebuah tangan menepuk bahunya. Bayangan tentang paha Hyorin sistar yang sempat berkelebat dikepalanya pecah bagai balon sabun yang terkena sesuatu benda. Hilang tak tersisa. Seseorang itu sukses membuat Baekhyun terkejut. Terlebih suaranya yang terdengar sangat berat. Mengingatkan Baekhyun tentang 'Tukang pembungkus kado' yang ia temui kemarin.

Tunggu—tukang pembungkus kado?

Baekhyun menolehkan kepalanya kesamping. Disana terlihat seorang lelaki tinggi—Baekhyun bahkan harus mendongak saat melihatnya—dengan hoodie panjang berwarna abu-abu yang melekat ditubuhnya. Rambut lelaki itu sedikit basah karena terkena cipratan air hujan. Entah karena kadar ketampannya yang tinggi atau memang takdirnya yang mengharuskannya selalu terlihat tampan, rambutnya yang basah tidak berpengaruh sedikitpun dengan ketampannya. Ia tetap tampan seperti biasanya, bahkan rambutnya yang sedikit basah membuatnya terlihat lebih seksi.

"Kau yang kemarin datang ke toko tempatku bekerja 'kan?"

Baekhyun mengangguk tanpa sadar. Keterpanaannya pada lelaki itu masih berlanjut. Bahkan kali ini lebih parah. Baekhyun tidak dapat mengerakkan mulutnya sama sekali. Entahlah, dipenglihatannya sosok lelaki didepan matanya terlihat begitu sempurna. Dan sama seperti kemarin, jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Sekilas tentang percakapannya dengan Luhan dikamar terngiang dikepalanya. Apa benar ia menyukai lelaki ini?

Seorang Lelaki bernama Park Chanyeol.

"Bajumu basah."

Baekhyun segera melihat penampilannya. Baekhyun baru saja berlari ditengah hujan, jelas bajunya menjadi basah. Tetapi yang ada dipikarannya kali ini adalah; Apa ia terlihat lebih gendut dengan baju yang basah? Apa cetakan-cetakan lemak ditubuhnya menjadi jelas terlihat? Jika iya, Demi Tuhan! Baekhyun harus apa? Apalagi dengan bajunya yang terlihat aneh. Ugh, Baekhyun butuh sebuah kekuatan penghilang sekarang.

"Terkena hujan… tadi." Chanyeol mengangguk paham.

Terjadi keheningan setelahnya. Baekhyun sibuk memeluk dirinya sendiri, tubuhnya benar-benar kedinginan. Biasanya Baekhyun tidak menyukai sebuah keheningan, ia pasti akan terus mengoceh walau dalam keadaan apapun. Tetapi dalam situasi seperti sekarang, Baekhyun benar-benar bingung harus berbuat apa. Pikirannya seakan tidak dapat lagi berjalan.

"Kau sedang menunggu bus?" Baekhyun bernafas lega. Akhirnya Chanyeol menanyakan sesuatu, setidaknya mereka tidak perlu berdiam-diaman.

"Tidak juga sih, aku sedang berteduh."

"Bagaimana jika kau berteduh di Apartementku saja, sekalian kau mengganti bajumu, aku tau kau pasti kedinginan, apartementku tidak jauh dari sini kok."

Baekhyun merasakan jantungnya bergetar hebat. Apa Baekhyun tidak salah dengar? Chanyeol baru saja mengajaknya ke apartement miliknya? Apa Baekhyun harus mengiyakannya?

Baekhyun mengigiti bibirnya. Ini kesempatan bagus untuknya. Yang ia tau sebuah kesempatan bagus tidak akan datang dua kali. Jika memang benar begitu, Baekhyun tidak boleh menyia-nyiakannya.

"Ba-baiklah, jika kau memaksa."

Setidaknya Baekhyun dapat menjawab satu hal saat bertemu Luhan nanti, bahwa; Byun Baekhyun tidak menyukai Park Chanyeol, melainkan mencintainya.

.

.

.

Baekhyun memandang keseluruhan interior Apartement Chanyeol. Apartement ini benar-benar sangat sederhana. Baekhyun berdecak kagum saat matanya melihat keadaan apartement Chanyeol yang benar-benar rapi. Tidak terlihat seperti apartement lelaki kebanyakan; kotor dan banyak sampah berserakan. Jika dibandingkan dengan keadaan kamar Baekhyun yang sehabis diguncang badai(Read;kedatangan Luhan) apartement Chanyeol ini bagaikan istana impian dan kamar Baekhyun adalah kadang babi. Perbedaan yang cukup jauh.

Baekhyun jadi ingat perkataan Kyungsoo yang mengucapkan bahwa Chanyeol menyukai musik. Ternyata Kyungsoo tidak berbohong. Terbukti dengan berjejernya bermacam alat musik; Drum, Piano, Gitar, dan sebuah Bass diruang tengah Apartement ini. Chanyeol benar-benar seorang penyuka musik.

"Aku telah menyiapkan bajumu, Kau bisa mengganti bajumu disana. Sebelumnya aku ingin mandi terlebih dahulu, tidak apa-apakan?"

Chanyeol yang baru saja keluar dari salah satu kamar segera mendekati Baekhyun. Sebelumnya Chanyeol telah meminta izin kepadanya untuk menyiapkan baju untuknya terlebih dahulu, sedangkan Baekhyun diminta untuk menunggu diruang tengah sebentar. "Tidak apa-apa kok."

Setelah itu Chanyeol segera memasuki kamarnya. Tidak lupa memberikan sebuah senyum singkat yang sialnya kembali membuat jantung seorang Byun Baekhyun bergetar hebat. Dengan wajah meronanya Baekhyun segera memasuki kamar satunya—tempat Chanyeol keluar tadi—untuk berganti pakaian. Karena bagaimanapun tubuhnya sudah benar-benar kedinginan.

Setelah sepuluh menit berganti baju akhirnya Baekhyun keluar dengan keadaan yang lebih baik. Baju kebesaran milik Chanyeol membuat tubuhnya terasa lebih hangat. Apalagi harum tubuh milik Chanyeol yang masih tersisa dibaju yang ia pakai. Baekhyun jadi bisa leluasa menghirup aroma tubuh Chanyeol sepuasnya.

Suara gemericik air dari kamar disampingnya mampu menyadarkan Baekhyun bahwa sang pemilik apartement masih belum selesai memandikan tubuhnya. Tanpa pikir panjang Baekhyun kembali menghampiri ruang tengah apartement Chanyeol dan duduk dengan tenang disalah satu sofa. Lebih baik Baekhyun menunggu Chanyeol disini.

Baekhyun yang memang terlahir tidak bisa diam akhirnya menyerah dimenit kelima. Duduk disofa tanpa melakukan apa-apa terasa sangat membosankan. Dengan bermodalkan tekad akhirnya Baekhyun memilih berkeliling apartement Chanyeol; mengelilingi dapur, membuka isi kulkasnya, melihat pemandangan kota seoul dari balkon apartmentnya, hingga pandangan Baekhyun jatuh ke sekumpulan alat musik yang berjejer rapi.

"Ma… til… da…" Baekhyun mengeja salah satu nama alat musik yang ada sana. Baekhyun jadi mengingat perkataan Kyungsoo jika Chanyeol memiliki sebuah gitar kesayangan yang diberi nama Maltida. Dan lagi-lagi Kyungsoo tidak berbohong kepadanya.

"Jadi ini yang namanya Maltida. Lihat saja! Sebentar lagi aku yang akan menjadi kesayangan Park Chanyeol! Ingat itu baik-baik, Matilda!" Baekhyun berkata tajam. Kedua jarinya sudah menunjuk-nunjuk sesosok gitar yang tergeletak tidak berdaya dengan tatapan penuh kebencian.

Kring~

Eh?

Suara apa itu?

Kring~

Dengan pendengarannya yang masih tajam Baekhyun segera mendekati asal suara. Disebuah sofa tempat Baekhyun duduk tadi tergeletak sebuah benda persegi dengan layarnya yang menyala-nyala. Sudah jelas itu pasti ponsel Chanyeol. Tapi, apa Baekhyun harus mengangkatnya? Akan terlihat begitu lancang jika Baekhyun mengangkatnya. Tapi, Chanyeol belum selesai mandi. Apa ia biarkan saja? Tapi bisa saja itu sebuah telepon penting. Berbagai pikiran berkecamuk dibenaknya. Yasudahlah angkat saja.

Dengan segala pemikirannya Baekhyun segera mengambil benda persegi yang masih menyala-nyala dengan bunyinya yang terus berdering.

Love calling..

Baekhyun mengerutkan alisnya.

Love?

Apa-apaan ini? Mengapa nama ID penelpon ini Love?

Jadi… Chanyeol sudah mempunyai kekasih.

Kalau begini, Baekhyun 'kan patah hati. Ini sih sama saja dengan kalah sebelum berperang.

Dengan perasaan sakit hatinya Baekhyun segera menggeser Ikon bergambar telepon berwarna hijau. Tetapi sebelum hal itu sempat terlaksanakan sebuah ide jahil bermunculan diotaknya. Seringaian kelicikan timbul dikedua sudut bibir Baekhyun. Siapapun kekasih Chanyeol ini siap-siap saja menerima serangan jantung mendadak dari seorang Byun Baekhyun. Haha…

Ekhem,

"Halo~, Dengan Nyonya Park Baekhyun disini, cari siapa ya?" Sapa Baekhyun kelewat antusias.

Baekhyun sendiri sedang menahan tawanya sekarang. Biar saja kekasih Chanyeol ini salah paham, kalau perlu Baekhyun mengharapkan kekasih Chanyeol memutuskan Chanyeol detik ini juga. Lagipula Nama Park Baekhyun sepertinya tidak terlalu buruk.

Jeda beberapa saat. Baekhyun kira sang penelpon sudah mematikan teleponnya karena sangat terkejut mendengar pengakuan Baekhyun—itu isi pemikiran sempit Baekhyun—. Baekhyun baru saja akan menekan ikon merah sebelum sebuah suara wanita menyahut membuat Baekhyun membatalkan niatnya. Wanita itu mengeluarkan suaranya, setelahnya Baekhyun terkejut setengah mati. Bukan karena suara itu, terlebih perkataan yang suara itu bicarakan.

"Saya Park Sooyeon, bisa bicara dengan Park Chanyeol, saya ibunya."

Baekhyun melebarkan matanya. "APA!" Jadi? Ibunya Chanyeol?

Braak~

Baekhyun membanting ponsel Chanyeol kesofa. Baekhyun terlalu kaget, oke.

Dan rasanya Baekhyun ingin berteleportasi saja sekarang.

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

A/N :

Makin ancurrr. Ancurr banget. Sumpaaahh ini ancur banget… Otakku stuck disini rrghh(?) Udah 1 bulan lebih yaa ff ini nggak dilanjut.. maafkan daku atas keterlambatannya tapi cukup terbayar dengan chap 3 yang 5k words donkk:v.

Mungkin dua chap lagi fanfic ini bakal tamat. Karena dari awal fanfic ini aku buat emang nggak ada niatan bikin konflik yang berat-berat. Dan untuk ChanBaek moment bakal tumpah di Chap 4 Yuhuuuuuu~ jadi ditunggu ajaa:v hihi~

Dibaca juga yuk Fanfiction Oneshoot aku; ZODIAK itu ChanBaek jugaa kok. disitu si Baekhyun ceritanya maniak zodiak banget. Kaloo udah baca jangan lupa tinggalkan komentar yaa~

Byee… sampai jumpaa lagii~

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dikotak ripyuu~

Ripyu kalian semangat buat aku juga:v

.

.

Thank's For Review :

firdazzy | LuXiaoLu | Orielspy | yousee | | HoshinoChanB | biezzle | chan banana | Guest | jiellian21 | fairylatte | kecup satu-satu:*

#ChanBaekIsReal

Spcy61