Disclaimer : Naruto BUKAN punya saya.
What was that? © Vandalism27
Warning : Drabble, cerita super pendek, ga jelas, typo(s) dan seabrek kekurangan lainnya. Mohon dimaklumi, ya.
.
.
.
11.
Naruto menyesap kopi yang diminumnya, tanpa mengalihkan perhatian pada layar komputernya. Pemuda itu sedang lembur di kantor, demi menyelesaikan pekerjaannya sebelum libur panjang tiba.
"Aduh, aku kebelet pipis," gumam Naruto.
Dia menyimpan pekerjaannya sejenak, lalu beranjak menuju ke toilet pria yang ada di ujung koridor.
Naruto buang air sambil bersiul. Siulannya terhenti ketika ia melihat sosok Kiba, rekan sekantornya, masuk ke dalam toilet lalu berdiri di depan cermin, tanpa melakukan apapun.
"Oh, ternyata kau, Kiba. Aku pikir siapa. Bikin kaget saja," kata Naruto.
Pemuda itu mengernyitkan keningnya ketika ia tak mendengar jawaban dari Kiba. Tumben, padahal biasanya Kiba selalu berisik jika bertemu dengannya, dan tumben-tumbennya Kiba lembur sampai malam. Kiba itu paling anti dengan yang namanya lembur.
"Oi, Kiba. Kau kenapa? Sariawan?" canda Naruto, tapi tetap tak ada jawaban. Naruto menatap pantulan diri Kiba di cermin toilet. "Duh, aku tahu wajahmu itu tampan, tapi jangan terus-terusan melihat ke cermin. Nanti ada hantu, loh! Lagi pula, semua orang juga tahu kalau aku yang paling tampan di kantor ini."
Kiba melirik pantulan diri Naruto di cermin. "Pergi!" bentaknya, membuat Naruto berjengit kaget.
Naruto meneguk ludahnya ketika melihat lirikan tajam Kiba, mungkin temannya ini tersinggung dengan ucapannya. Naruto pun segera pamit sebelum terkena amukan Kiba yang terkenal maha dasyat.
"Hmm, kalau begitu aku duluan, ya. Pekerjaanku masih banyak," katanya, lalu segera kabur dari toilet yang malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Naruto keluar dari toilet dengan terus memikirkan Kiba dan segala keanehannya. Ketika Naruto masuk ke dalam ruang kerjanya, ia kaget setengah mati ketika ia melihat ada Kiba di dalam ruangan itu.
"Lho? Kiba? Kenapa kau ada di sini?"
Kiba, yang sedang memeriksa sesuatu di komputernya, menoleh ke Naruto. "Aku lupa menyalin pekerjaan yang harus ku bawa ke luar kota besok, makanya aku kembali ke sini. Padahal tadi aku sudah berbaring di ranjangku, terpaksa balik ke sini lagi," katanya. "Kau lembur lagi?"
Naruto tak menjawab pertanyaan Kiba. Ia menatap Kiba, pintu ruangan, lalu Kiba lagi dengan wajah bingung. "Bukannya kau ada di toilet?"
"Hah? Kau mengigau? Aku baru saja kembali dari rumah, aku sama sekali tidak pergi ke toilet!"
Naruto terdiam. Kalau Kiba tidak pergi ke toilet, lalu siapa Kiba yang dia temui di toilet tadi?
.
12.
Naruto berencana mencari apartemen sewaan yang letaknya lebih dekat dengan kantornya yang baru. Dia tidak mungkin berangkat kerja dari rumahnya, karena letak rumahnya lumayan jauh, sekitar dua jam perjalanan.
Pria itu memasuki sebuah unit apartemen yang menurutnya paling strategis. Apartemen itu pun sesuai dengan seleranya, meskipun harga sewanya lumayan tinggi.
"Ini adalah unit dengan view terbaik, dan sesuai dengan kriteria apartemen yang Anda cari. Letaknya juga tidak terlalu jauh dari tempat kerja Anda, hanya perlu lima belas menit perjalanan," kata staff yang memandu Naruto.
"Iya, apartemen ini memang sesuai dengan seleraku," jawab Naruto. Pria itu baru saja melihat isi kamar mandi yang luas, lengkap dengan perabotannya yang modern. "Tapi saya mau melihat unit yang lainnya, apakah bisa?" tanya Naruto.
"Bisa. Tapi ini yang paling luas, Naruto-san."
"Tidak apa-apa, lebih kecil dari ini pun tidak masalah," jawab Naruto. Pria itu berjalan keluar dari unit apartemen itu dengan terburu-buru, mengabaikan staff yang sedang memandunya.
Well, lebih baik Naruto tinggal di apartemen kecil dari pada di apartemen yang luas dan bagus tapi ada seseorang yang sedang tergantung di dalam kamar mandi.
.
13.
Tengah malam, Naruto terbangun dari tidurnya. Pria itu mengucek matanya, lalu duduk sambil menatap Hinata, sang istri yang sedang tidur di sebelahnya.
Pria itu mengamati wajah tidur Hinata yang terlihat damai. Istrinya itu berwajah cantik, dengan kulitnya yang putih pucat. Dibalik kelopak matanya yang tertutup, tersimpan manik berwarna putih keperakan yang cantik. Hidungnya mancung dengan porsi yang pas. Bibir tipisnya berwarna merah muda lembut. Naruto merasa beruntung bisa mendapatkan istri secantik dan sebaik Hinata.
"Hinata …," Naruto menyebutkan nama sang istri dengan pilu. Isakan lolos dari bibirnya, kemudian ia menangis. "Aku merindukanmu, aku mencintaimu. Akhirnya kau pulang juga," gumam Naruto di sela isak tangisnya.
Ya, Naruto sedang bersedih sekarang. Ia sangat merindukan Hinata, istrinya yang cantik dan sangat ia cintai. Hinata telah berpulang satu tahun yang lalu karena sakit kanker yang telah lama ia derita.
.
14.
"Naruto, kalau kau mendapat kabar dari Hinata, segera kabari aku!" Ujar Hiashi, ayah Hinata. "Aku tidak akan segan memenjarakanmu kalau kau berani menyentuh atau menyakiti putriku!"
Hiashi menghela napas untuk meredakan emosinya. Dua hari yang lalu, sang putri kabur dari rumah karena ia ketahuan hamil. Parahnya lagi, Hinata dihamili oleh Naruto, pemuda urakan yang sama sekali tidak disukai oleh Hiashi.
Hiashi mengira Hinata pergi menemui Naruto, tapi ternyata pemuda ini pun tak mengetahui keberadaan putri sulungnya itu.
"Baiklah, Paman. Akan saya kabari jika Hinata menghubungi saya," kata Naruto, lalu berpamitan pada Hiashi.
Naruto berjalan santai menuju ke rumahnya. Sampai di rumah, ia segera pergi menuju ke kamarnya. Kemudian, pemuda itu membuka lemari pakaian yang ada di sudut kamar, lalu menggeser pakaian yang tergantung di dalam lemari itu. Ia mendorong dinding lemari sampai dinding itu terbuka, dan ternyata dinding lemari itu adalah sebuah pintu masuk rahasia menuju ke ruang bawah tanah.
Naruto masuk ke ruang bawah tanah sambil bersenandung. Saat ini mood-nya sedang bagus.
Pemuda itu menyeringai ketika ia menemukan apa yang dicarinya. Seorang gadis yang sedang menatapnya dengan tatapan memohon. Mata sang gadis berkaca-kaca, "Tolong lepaskan aku, Naruto-kun, aku tidak akan mengganggumu lagi, aku akan menghilang dari kehidupanmu."
"Tidak semudah itu," desis Naruto. "Ayahmu telah membunuh ibuku. Dan sekarang, giliran tua bangka itu yang merasakan kehilangan!" Bentak Naruto. Pria itu meraih sebuah besi tua yang teronggok di dekat kakinya, lalu menghantamkannya kuat-kuat ke kepala sang gadis.
Naruto tertawa ketika gadis itu tidak bergerak, dengan kepala berlumuran darah. "Selamat tidur, Hinata-chan!"
.
15
"Mama!"
Naruto, seorang anak laki-laki berusia empat tahun menyambut ibunya yang baru saja pulang bekerja. Bocah berambut pirang itu memang sangat dekat dengan sang ibu.
"Naruto!" sang ibu memeluk anak bungsunya itu, lalu menciuminya dengan gemas. "Bagaimana harimu? Apakah menyenangkan? Kamu tidak nakal pada Ayame-san, kan?" tanya Kushina.
Naruto memang dititipkan pada seorang pengasuh anak bernama Ayame, sementara ibunya pergi bekerja. Pengasuh itu tidak menginap di rumah, ia akan pamit pulang jika Kushina sudah berada di rumah. Well, Kushina terpaksa bekerja karena suaminya ditahan oleh polisi karena telah membunuh anak sulung mereka, tiga tahun yang lalu.
"Tidak, Mama, aku tidak nakal!" bocah itu berseru dengan nada khas anak-anak yang lucu. "Tadi aku bermain dengan teman baru!"
"Teman baru?"
"Iya, dia ke sini untuk menemani aku bermain, dan sekarang dia ada di kamar," kata Naruto. "Dia sangat baik padaku, Ma, tapi aku kasihan padanya."
"Kasihan? Memangnya dia kenapa?"
"Dia terluka, Ma, lehernya terus meneteskan darah. Dia bilang dia ditebas pedang oleh ayahnya sendiri. Ditebas pedang itu apa, Ma?" tanya Naruto dengan polosnya, sama sekali tidak menyadari perubahan di raut wajah ibunya.
.
.
FIN
.
.
Masih mau lanjut?
Oh ya, ada satu hal yang ingin saya sampaikan buat kalian. Kalo kalian mau baca fic saya yang lainnya (kalo gak baca ya abaikan saja note ini), mohon baca warning baik-baik. Saya sering main di "aliran" yang "berbeda". Jadi baca warning itu penting biar kalian gak "tersesat". Soalnya kemarin saya dapat PM yang isinya protesan. Hahaha.
Thank you.
