[One-man Hide and Seek; Author: Natsu Dragneel]

"One-man Hide and Seek?" gumamku pelan. Kalau dipikir-pikir, sudah hampir seminggu semenjak aku mendapatkan surat itu. Dan besok tepat seminggu setelah kejadian kelam itu terjadi.

"Fu...fufufufu..."

[Peraturan ke-5: Kau akan diberikan waktu satu minggu untuk memenuhi perintah dari Kokkuri-san.]

"Fufu... Hahahahahaha!" aku tertawa sarkatis, lalu menatap lekat-lekat tulisan yang ada di dalam buku itu. Aku menyeringai.

"Akan aku lakukan, One-man Hide and Seek." Gumamku.

Menarik, aku tak akan mati di sini. Jika aku berhasil, aku tak akan mati. Aku yakin aku pasti bisa.

Aku mengeluarkan surat yang tertimbun di dalam tasku dan menyiapkan barang-barang yang tertulis di surat itu untuk beraksi.


A Fairy Tail Fanfiction

Demise Game

Disclaimer: Fairy Tail (c) Mashima Hiro

Shuuen no Shiori Project (c) Shuuen Staff (150P, Suzumu)

Chapter 3

Natsu: One-man Hide and Seek III ~Re: Hitori Kakurenbo: Now!~


Di dalam surat itu tertera jelas peraturan permainan Hitori Kakurenbo atau lebih kalian kenal dengan One-man Hide and Seek. Pertama-tama, aku harus menyiapkan boneka dengan anggota badan lengkap. Boneka? Apa aku punya? Tapi aku rasa aku pernah menyimpannya, tapi di mana...

Aku menelusuri seisi gudang yang berdebu, gelap, lembab dan dingin yang makin membuat buku kudukku berdiri. Entahlah, coba saja kalian pikir jika kalian jadi aku. Apa kalian mau mencari boneka di tempat gelap begini jam tiga pagi demi menjalankan ritual berbahaya? Aku yakin kalian akan menggelengkan kepala kalian sampai mungkin kepala kalian bisa lepas lalu menggelinding.

Oke, kesannya sadis sekali.

Tanganku menyentuh sesuatu yang lembut di dalam kardus. Aku tak yakin benda apa itu, namun dari teksturnya yang lembut dan empuk, aku tahu benda itu semacam bantal. Aku menariknya, debu yang mengepul membuatku sedikit menyipitkan mata. Di genggamanku telah terdapat boneka kucing berwarna biru yang sudah lusuh dan sedikit robek di bagian telinga kanan, membuat isi boneka itu sedikit keluar.

Aku menatap boneka itu datar, "Untung aku tak membuang boneka ini." gumamku pelan. Memang, boneka kucing biru ini dulu pernah menjadi teman bermainku. Namanya Happy, pemberian seseorang di masa lalu dan untuk beberapa alasan aku tak bisa membuangnya. Yah, aku menyimpan boneka ini karena aku terlalu takut untuk membuangnya.

Lho? Ah ya, begini, maksudku aku takut membuangnya dan ada beberapa alasan lainnya. Kau tak perlu tahu, itu saja.

Aku memutuskan untuk menggunakan Happy sebagai boneka untuk permainan ini. yah, aku tak mau pergi untuk membeli boneka baru hanya untuk permainan terkutuk seperti ini. Enak saja, buang-buang uang.

Selanjutnya adalah beras.

Aku membawa Happy menuju ke dapur, lalu meletakannya di atas meja makan. Aku beralih ke tempat penyimpanan beras untuk mengambil sedikit yang akan aku gunakan untuk mengganti isi perut Happy.

Aku mengambil satu cup beras dan membawanya ke meja makan, menaruh cup itu tepat di sebelah Happy. Aku sempat melirik ke secarik kertas yang berisi sebuah catatan yang tertempel di pintu kulkas, catatan dari ayah yang berisi pamitan karena dia telah berangkat ke ibu kota lagi kemarin sore untuk bekerja. Bagus, kalau begini aku sendirian di rumah besar menyeramkan ini.

Sekali lagi, aku merasakan tatapan yang sangat intens dari belakangku. Aku merinding, menolehkan kepalaku untuk melihat keadaan, namun nihil, tak ada seorang pun yang tertangkap oleh pengelihatanku.

"...lagi, hah?" gumamku datar.

Abaikan saja, Natsu, mungkin itu hanya imajinasimu. Aku menghela napas berat lalu menyiapkan segelas air garam. Air garam, ya... aku sedikit merinding membayangkan asinnya seperti apa. Ya, air garam ini akan aku gunakan untuk ritual permainan petak umpet sendirian yang konyolnya minta dihajar ini. Entahlah, intinya aku ingin cepat-cepat menyelesaikan permainan sialan ini lalu hidup tenang.

Aku meletakkan air garam tersebut di atas meja makan, lalu menuju ke kamar orang tuaku untuk mengambil jarum dan benang jahit berwarna merah juga mengambil gunting dan pisau cutter.

Aku kembali ke dapur sembari membawa barang-barang yang aku ambil dari kamar orang tuaku. Jujur, tatapan tajam yang sedari tadi menghantuiku entah kenapa terasa begitu intens, lebih intens daripada sebelumnya. Sialan, hentikan semua ini, Natsu, jangan kau pikirkan. Fokus saja ke pekerjaanmu. Kau harus segera melakukan perintah yang tertulis di surat itu!

Aku mengambil boneka Happy lalu meletakannya di lantai. Aku menatapnya datar, keringat dingin mengucur dari pelipisku.

Inilah fase awal dari permainan Hitori Kakurenbo.

Aku menusuk bagian perut Happy, merobeknya secara vertikal lalu mengeluarkan isi dari perut boneka itu. Aku mengambil beras yang sudah aku persiapkan tadi lalu mengisi perut boneka Happy yang sudah kosong tersebut dengan beras.

Jujur, aku sedikit ngeri dengan apa yang aku lakukan. Dulu aku pernah menonton film yang di mana seorang ibu memutilasi anaknya dengan cara yang sama, merobek perut anaknya sampai isinya keluar semua dengan tatapan datar.

Entah, apakah ekspresiku sekarang sama datarnya dengan seorang ibu yang ada di film itu.

Setelah semua beras masuk ke dalam perut Happy, aku memasukan potongan kuku milikku lalu menjahitnya asal-asalan dengan benang merah.

Deg.

Ah sial, tatapan itu lagi.

Aku mendesah, lalu mengangkat boneka Happy dan menatapnya datar, "Seperti pembuluh darah, ya. Andai ini benar-benar pembuluh darah asli." Gumamku sembari meneliti jahitan hasil kerjaanku. Aku berdiri dengan memeluk boneka Happy, mengambil segelas air garam lalu menaruh air garam itu di tempat persembunyianku.

Aku mematikan semua lampu dan menutup tirai yang ada di rumahku. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah televisi yang ada di kamarku yang aku biarkan menyala—oh, dan cahaya bulan yang mengintip dari ventilasi. Aku tak meletakkan handphoneku untuk berjaga-jaga, aku menaruhnya di saku.

Aku berjalan menuju kamar mandi dengan Happy yang berada di pelukanku. Aku terdiam ketika pintu kamar mandi telah berada di depanku. Aku menatap boneka Happy lalu menyunggingkan senyum miris. "Tak mungkin aku tetap memakaikanmu nama Happy untuk permainan ini, kan?" ujarku pada Happy yang aku yakin tak akan merespon perkataanku. Haha, tentu saja.

Benar, selanjutnya nama untuk boneka. Aku tak mau tetap memakai nama Happy, yang benar saja. Masa iya nama kebahagiaan begitu dipakai untuk permainan nista begini.

Setelah beberapa lama aku berpikir, aku memutuskan untuk memakai nama orang itu.

Ayo mulai.

"Natsu akan menjadi 'oni[1]' yang pertama, Natsu akan menjadi 'oni' yang pertama, Natsu akan menjadi 'oni' yang pertama!" teriakku pada boneka itu dengan ekspresi setengah datar, tentu, mana bisa aku tenang di saat seperti ini. Badanku tegang, jujur saja, tatapan intens itu masih tetap menghantuiku.

Aku langsung menenggelamkan boneka itu ke dalam bak mandi. Di tempat yang minim cahaya begini, air yang berada di bak mandi memantulkan cahaya yang berasal dari luar, membuat bayang-bayang boneka yang aku tenggelamkan seakan-akan hidup.

Aku merinding, mengusap keringat dingin yang terus mengucur dari pelipisku.

Setelah boneka ini aku tenggelamkan, aku tak akan pernah bisa berhenti sebelum menyelesaikan permainan ini.

Aku kembali ke dapur, menggenggam sebuah cutter yang sudah aku persiapkan barusan lalu menghitung mundur.

Tatapan intens itu... masih terasa jelas. Namun aku memilih mengabaikannya.

Aku menutup mataku, mencoba untuk konsentrasi. "Sepuluh... sembilan... delapan..." aku mulai menghitung dengan tempo sedang, berusaha untuk tetap mengabaikan tatapan yang entah datang dari mana. "Tujuh... enam... lima..." aku menghela napas panjang, lalu mulai menghitung lagi. "Empat... tiga... dua..." aku membuka mataku lebar-lebar, mengeratkan genggamanku pada cutter yang sedari tadi aku pegang.

"Satu..." aku sedikit menyeringai. "Apakah kau siap?" tanyaku entah pada siapa.

Setelah mengatakan kalimat itu, aku langsung beranjak untuk pergi ke kamar mandi, tempat aku menenggelamkan boneka itu.

Aku berlari, lalu membuka paksa pintu kamar mandi. Aku mengambil boneka itu dari dalam bak—

—dan menikam perutnya.

"Berikutnya adalah giliran xxxx untuk menjadi 'oni', Berikutnya adalah giliran xxxx untuk menjadi 'oni', Berikutnya adalah giliran xxxx untuk menjadi 'oni'!"

Setelah mengatakan itu, aku berlari kembali ke dapur untuk meletakan cutter basah lalu beranjak ke tempat persembunyianku—lemari yang berada di kamarku, di mana aku telah meletakan segelas air garam.

Aku masuk ke dalam lemari berukuran sedang yang sedikit berdebu tersebut. Aku duduk si samping air garam yang telah aku sediakan.

Intinya, permainan ini untuk apa?!

Pokoknya, siapa yang di sebut penghianat? Seharusnya ritual permainan untuk mendapatkan buku itu belum dimulai! Apakah aku salah? Aku salah di mananya?

Permainan ini... intinya... apa?! Kenapa!

Aku menjambak-jambak rambutku sendiri. Ah, serius, aku tak mengerti keadaan yang terjadi sekarang. Semuanya... dari kematian teman sekelasku, surat itu, buku harian dari sepuluh tahun lalu, Bookmark of Demise, Book of Demise, korban... apa-apaan semua ini. seharusnya hal-hal seperti itu hanya rumor belaka, ya, 'kan?

Oke, akulah yang pertama kali mengharapkan hal seperti buku dan pembatasnya yang terkutuk itu benar-benar ada. Tapi bukan berarti aku juga mengharapkan untuk terlibat dalam permainan mengerikan seperti itu! Aku hanya ingin membuktikan bahwa hal-hal seperti itu bukan hanya sekadar rumor.

Tapi...

"..."

Cih, aku tidak ingin mati...

"Aku harus menemukan boneka itu..." gumamku setelah sekian lama aku hanya terduduk konyol sembari memikirkan hal-hal aneh.

Saat aku ingin beranjak dari tempat persembunyianku, aku melirik segelas air garam yang sudah aku persiapkan. Aku menatapnya. "Ah... aku harus memasukan ini ke dalam mulutku," gumamku pelan, sangat pelan, nyaris tak mengeluarkan suara.

Namun kemudian, sebelum aku memasukan air garam itu kedalam mulutku, aku mendengar sesuatu yang seharusnya tak terjadi.

Tap. Tap. Tap.

Di koridor, terdengar suara langkah kaki seseorang. Dalam koridor yang seharusnya tak ada orangnya... kenapa? Ada apa ini?!

Aku menahan napasku, meletakan air garam itu kembali ke tempatnya dan mencoba tak mengeluarkan suara.

Jejak kaki itu terdengar semakin dekat.

Tap. Tap. Tap—

Jantungku berdetak lebih kencang dari yang seharusnya, aku merinding, keringat dinginku terus mengucur, bulu kudukku berdiri. Sial, hawa dingin apa ini? Hentikan semua ini, hentikan. Hentikan. Hentikan!

—Stap.

Suara langkah kaki itu terhenti dan aku bisa mendengar suara tetesan air jatuh. Aku menutup kedua telingaku, menunggu sampai suara-suara aneh itu berhenti.

Sial, detak jantungku sudah tak bisa aku kendalikan. Benar-benar... hal seperti ini di luar logika. Apa-apaan ini.

Setelah yakin bahwa suara-suara aneh itu sudah berhenti, aku memberanikan diri untuk mengintip dari dalam lemari. Aku menahan napasku yang sedaritadi memburu.

Dan yang terpampang jelas dalam pengelihatanku adalah hal yang seharusnya tak ada di situ.

SEHARUSNYA TAK ADA! KENAPA—

"Ke-kenapa... kau..." aku membeku, mataku membulat sempurnya, lidahku terasa kelu.

Badanku bergetar hebar.

.

.

.

.

.

.

.

"—Aku menemukanmu~"

SLASH!

Pikiranku serasa pecah. Aku tak mengerti semuanya, kenapa hal ini bisa terjadi! Aku merintih, menahan sakit dari lenganku yang tertebas. Aku mencoba meraih gunting yang berada di dekatku, namun tubuhku ditendangnya yang aku tahan dengan kedua tanganku, namun tubuhku tetap terlempar hingga menabrak lemari yang berada di belakangku.

Mataku melebar, menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ia mendekatiku, menginjak dadaku.

Ia memiringkan kepalanya. "Tak ada gunanya," Gumamnya dingin sembari menatapku tajam.

Kenapa! Kenapa hal seperti ini bisa terjadi!

Mungkinkah... mungkinkah dia penghianatnya?

Seperti yang kulakukan pada boneka tadi, ia mengangkat cutter basah itu tinggi-tinggi. Badanku makin menegang—

STAB.

—ia menikam perutku.

Ia melakukan itu berulang-ulang, persis seperti apa yang aku lakukan pada boneka tadi. Namun anehnya, aku yang bahkan tak bisa berteriak, malah bisa berpikir jernih. Aku mengambil handphone di dalam saku dengan sisa tenaga yang aku miliki. Aku memasuki menu pesan teks saat kesadaranku mulai memudar. Aku menggumamkan namanya.

"Huh? Kau bilang apa? Aku tak bisa mendengarmu, tahu." Ujar orang itu santai.

Aah, pada akhirnya suaraku memang tak akan bisa terdengar. Perasaan aneh menyelimuti diriku saat aku sadar, kalau kesadaranku perlahan-lahan...

...menghilang.


["Sekilas info. Hari ini, di sebuah rumah yang terletak di tengah kota Magnolia, mayat seorang siswa ditemukan. Mayat seorang siswa laki-laki ini di temukan berada di dalam kamarnya dengan sebuah cutter menusuk perutnya. Korban ditemukan sedang memegang erat ponsel yang diduga miliknya. Selain itu, korban pembunuhan misterius beberapa hari yang lalu tampaknya seorang teman sekelas dari korban. Polisi menduga bahwa ada kemungkinan dua pembunuhan ini dilakukan oleh pelaku yang sama. Penyelidikan telah dimulai—"]

.

.

BLIP.

.

.

"Berikutnya giliranmu."


to be continued.


Kamus:

[1] Oni (Setan): Penjaga pada permainan petak umpet.


Afterwords:

Holaho! Nacchan kembali menepati janjinya untuk mengupdate Demise Game :'D

Aah, Natsu, sepertinya dia gagal, ya... *dijitak* oke sip, jujur saja saya kurang puas dengan chapter ini. Feelsnya kurang ngena di aku. Kurang ngeri. -3-

Tapi biarlah, semoga dengan ini kalian puas, ya :')

Kira-kira besok giliran siapa, ya... ada yang bisa nebak?

Upupu, kalau begitu, balas review!


Titan of Pianist:

GAAAAAAAAAAAAH FANS SHUUENPRO! SINI PELUK SINI UHUHUHU *nangis* eh eh makasih ya, aku cinta kamu :"333 /okekamukenapa /abaikan. Ini sudah dilanjut, silahkan dinikmati :'3

Hannyanpuu:

Hweh, lol apa banget lo. Wwww ini udah dilanjut, cyiin. XD


Dan sisanya sudah saya balas lewat PM :'3

Oke, sekian dulu! Review wajib, yaw. Lelelelel.

Salam unyu,

Nacchan