Disclaimer : Kishimoto Masashi.


Kejatuhan Sang Dewa


Siapa tak kenal sang mahadahsyat Pein?

Senjata pembunuh paling canggih itu merupakan sang pemimpin sebuah organisasi kriminal kelas berat, yaitu Akatsuki. Berbekal nama besar Akatsuki, sudah membuatnya menjadi urutan teratas dari daftar mereka –yang–sebaiknya–tidak–pernah–ditemui– apalagi jika ia juga adalah petinggi dalam kawanan ninja pelarian itu. Tak bisa dibayangkan bagaimana kengerian di wajah mereka yang terpaksa harus berhadapan dengannya.

Selain itu, ia juga memiliki gelar yang dianggap paling tinggi di kancah pertempuran dunia shinobi. Sang Dewa Perang, begitulah ia biasa disebut. Dia bahkan telah melampaui kepiawaian yang dimiliki gurunya, seorang sannin tersohor yang telah menjadi legenda sejak ketika beliau masih hidup. Orang yang juga telah mengajarkan ia terhadap lika-liku di dalam sebuah medan peperangan. Yang mana telah ia bunuh dengan amat gampang, tanpa tubuh aslinya terluka seujung kuku sekalipun. Dia juga berhasil membuat orang tua yang hebat itu mengeluarkan seluruh senjata yang ia miliki hingga kartu as terakhirnya.

Bahkan, merupakan hal yang meragukan bagi mereka yang berkemampuan di atas –minimal sama dengan orang itu, berani dengan terang-terangan menantangnya untuk berduel. Jika bukan untuk kondisi perkecualian, pasti tidak ada yang akan berani mencari masalah dengannya. Mereka lebih memilih untuk menghindar saja, daripada harus bertaruh dengan resiko yang sangat besar. Mempertaruhkan nyawa yang seumur hidup hanya ada satu kali kesempatan.

Namun tentu saja. Itu tidaklah mutlak terjadi terus-menerus untuk selamanya. Ada satu kali, mungkin dalam seribu hari, sebuah pertarungan besar tak bisa terelakkan. Sebagai catatan khusus, dalam kamusnya tak ada kata melarikan diri, yang mana berarti ia harus siap melawan siapa saja. Apa saja.

Dan rupanya, salah satu dari sekian kejadian yang termasuk dalam kategori kondisi perkecualian itu adalah tepat saat ini.

Berlangsung di sini. Di malam yang mengerikan ini.

Dan medan itu begitu senyap.

Sunyi mencekam.

Cahaya telah lama menjadi mangsa awan kelabu. Lenyap tak berbekas seolah-olah tak akan pernah lagi bersinar di masa datang.

Semesta menghampar hampa, layaknya sebuah dimensi tak terbatas yang siap menelan seluruh jagat raya bulat-bulat. Langit hitam polos tanpa berhias permata angkasa. Para pelita malam itu tak satu jua yang menampakkan diri, seolah segan terhadap kegelapan yang kali ini teramat sangat.

Suhu begitu rendah, sehingga mampu membuat gigi-gigi beradu dengan sendirinya, menimbulkan suara gemeretak. Udara yang mendesis melalui rongga mulut keluar dengan terpatah-patah. Buku-buku jemari menjadi sebeku bongkahan es. Sekaku mayat yang tak lagi segar.

Angin dingin menjilat tengkuk. Dengan perlahan menyapu bagian paling peka itu kemudian turun melewati seluruh kulit yang melapisi tubuh.

Akan tetapi semua kengerian itu sama sekali tak seberapa dibanding pertarungan yang tengah ia hadapi.

Kedua alis orang itu bertaut. Seluruh otot yang ada di wajahnya menegang.

Liur sulit sekali untuk dilewatkan melalui tenggorokannya. Dan ketika berhasil, ternyata menimbulkan suatu suara tenggakan yang cukup bisa terdengar oleh telinga.

Setitik air –dingin– keluar melalui pori-pori kulit di daerah sekitar pelipis. Menandakan apa yang selalu berada dalam perlindungan tengkorak kepala itu sudah tak mampu lagi digunakan.

Baru kali ini ia merasa begitu habis.

Benar-benar habis, sehingga ia bisa merasakan penderitaan mereka yang selama ini tumbang dengan cepat di tangannya sebelum kekalahan mereka.

Merasakan kengerian pada detik-detik terakhir sebelum kejatuhan dunia. Dunianya.

Mengutuki nasibnya, yang walau sehebat apapun ia biasanya, toh pada kenyataan ia tetap saja tidak bisa memenangkan pertarungan itu. Ternyata keberuntungan kali ini sangat melibatkan diri dalam penentuan sang pemenang.

Dan ia tinggal menunggu.

Menunggu ketika dirinya secara memalukan dinyatakan sebagai pihak yang kalah.

Tapi tak ada lagi hal yang bisa ia lakukan. Tak ada lagi pion yang bisa ia kerahkan.

Telah habis seluruh daya upayanya. Telah buntu akalnya. Telah mati langkahnya.

Strategi. Trik. Segala macam hal yang ia miliki telah dikerahkannya hingga benar-benar habis tak bersisa.

Bahkan jika ia dikatakan sebagai seorang pecundang besar, maka hal itu mau tak mau harus ditanggungnya. Walau kekalahan itu baru dimulai menjelang akhir babak, tapi apa bedanya dengan mereka yang kalah sejak awal pertandingan?

Toh kalah tetap saja kalah.

Dan pemuda itu menutup kedua matanya. Merasakan debaran jantung yang saking cepatnya, sehingga terdengar seperti derap genderang.

Yang sesaat setelahnya tidak lantas menurun, malah menjadi semakin cepat dan semakin cepat saja.

Dan semua sensasi itu bercampur dengan harga diri dan rasa malunya terhadap kekalahan terbesar yang ia alami kali ini.

Namun tiada lagi yang bisa dilakukan, selain hanya bisa terdiam.

Dengan pasrah menunggu saat yang tepat untuk berkumandangnya kabar kejatuhan Sang Dewa Perang.

Dan saat yang tepat itu adalah saat ini…

"Skak mat! Horeeee Tobi menaaaang!!!"


TAMAD??