KELUARGA WARNA-WARNI
.
.
.
Namjoon and Seokjin with their babies;
Yoongi. Hoseok. Jimin. Taehyung. Jungkook.
.
Family. Humor. Romance.
Yaoi. AU
.
.
.
.
"Ayah, kapan pulang?"
Itu adalah sapaan pertama ketika Namjoon menerima panggilan dari suami tercintanya. Namjoon melihat jam tangannya, masih jam sebelas siang. "Mungkin sekitar pukul empat sore. Ada apa bunda, tumben menelepon jam segini."
"Ayah, Jungkook sakit! Badannya panas dan dia rewel sekali!"
Namjoon tanpa sadar berdiri dari kursinya, teman-temannya hanya menatap aneh pada lelaki tampan itu. "Sakit! Dari kapan bun?!" Namjoon ikut panik. "Baru tadi pagi. Bagaimana ini ayah? Anak-anak belum pulang sekolah dan aku tidak mungkin menjemput mereka sedangkan Jungkook sakit. Aku harus membawanya ke rumah sakit."
Namjoon mengusap rambutnya, "Jangan panik bunda. Begini, aku akan menyuruh Youngji menjemput anak-anak dan kita bisa membawa Jungkook ke ruma sakit."
Seokjin belum menjawab dan Namjoon bisa mendengar tangisan kencang dari anak bungsunya. Merasa kasihan kepada pasangannya itu, pasti Seokjin sangat repot saat ini. Namjoon tetap menunggu Seokjin menjawab sambil merapihkan meja kantornya.
"Baiklah ayah. Cepat kemari ya, aku sungguh tidak tega melihat Kukie yang terus menangis."
"Iya bunda, jangan sedih ya. Kukie pasti sembuh kok. Aku mencintaimu bunda."
"Aku juga mencintaimu ayah."
Setelah penggilan ditutup Namjoon langsung meminta izin kepada kepala bagian divisinya untuk pulang lebih awal. Untung saja ia diizinkan karena alasannya ingin membawa anaknya yang sedang sakit ke rumah sakit. Tanpa menunggu lama Namjoon segera melesat pulang setelah menelepon Youngji untuk menjemput anak-anaknya.
.
.
.
.
"Pertama ke sekolah si sulung. Hemm, tidak terlalu jauh. Lalu ke sekolah Hoseok dan si kembar. Baiklah Youngji, go go go."
Setelah menerima perintah dari kakaknya, Youngji langsung menyanggupi. Lumayan bisa bertemu dengan keponakan super ganteng dan manis dari kakaknya. Tidak berapa lama ia sudah sampai di sekolah Yoongi. Youngji turun dari mobilnya dan langsung menuju pos satpam yang berada di samping gerbang.
"Permisi paman." Youngji tersenyum.
"Oh, iya ada yang bisa kubantu nona?"
"Itu, aku ingin menjemput Yoongi, anaknya Kim Namjoon dan Kim Seokjin."
Satpam yang berjaga ini mengamati Youngji dari ujung kepala hingga kaki. Youngji mengerti maksud dari satpam itu, dia agak risih juga dilihat seprti itu. "Aku ini adiknya Kim Namjoon. Namaku Youngji."
"Tante Youngji!"
Si satpam belum sempat bersuara tetapi nama Youngji sudah dipanggil dengan suara cempreng khas anak-anak milik Yoongi.
"Hai, Yoongi." Youngji melambaikan tangannya, Yoongi berlari kecil untuk menghampiri Youngji dan memeluk kaki tantenya itu.
"Oh, Yoongi, itu tantemu ya." Kata si satpam. "Iya paman. Tanteku, cantik bukan?"
Wajah Youngji memerah, mereka berdua akhirnya berpamitan pada satpam. Youngji mengenakan Yoongi sabuk pengaman dan mengeluarkan air mineral untuk Yoongi minum. "Tante, kenapa yang jemput tante? Biasanya bunda yang jemput. Bunda kemana?"
Youngji masih fokus pada jalanan, "Bunda tidak bisa menjemputmu hari ini, adik Kukie sedang sakit dan ayah dan bunda membawanya ke rumah sakit."
"Adik Kukie sakit?! Sakit apa tante?"
"Sepertinya demam,"
"Kasihan sekali adikku yang paling lucu," bibir Yoongi melengkung ke bawah dan membuat wajah sedih. Yang diamta Youngji itu adalah mimic paling lucu, dia hampir saja mencubit kedua pipi keponakannya itu.
Mereka berdua sampai di sekolah Hoseok dan si kembar. Hoseok masih duduk di taman kanak-kanak sedangkan si kembar berada di kelas play group. Ketika sampai sekolah mereka sudah agak sepi dan Youngji bisa melihat ketiga adik Yoongi ini sedang bermain di halaman sekolah bersama dengan seorang guru muda.
Yoongi langsung berlari menghampiri ketiga adiknya yang sedang bermain itu. "Hoseok, Jimin, Taehung!"
"Yoongi hyung!"
Hoseok berlari mengampiri Yoongi tapi begitu melihat Youngji, dia langsung berbelok arah. "Tante Youngji!"
Youngji tertawa lebar melihat Yoongi yang marah-marah karena dicuekin oleh Hoseok. "Halo Hoseok, apa kabar?" Hoseok merentangkan tangannya minta digendong Youngji. "Halo kembar," Youngji memberi sapa pada Jimin dan Taehyung yang berdiri di depannya.
"Halo tante,"
"Tante, tumben kemari?" Hoseok mengalungkan kedua tangannya di leher Youngji. "Hemm, karena aku ingin bertemu kalian." Hoseok tersenyum senang mendengarnya.
"Halo apa kabar? Apa kau ini tantenya Hoseok dan si kembar?"
Youngji menurunkan Hoseok dan memberi salam pada guru keponakannya itu. "Ah, halo. Aku Youngji."
"Tante, ini Bu guru Nara. Guru aku dan Taehyung."
Nara tersenyum dan mengacak rambut Jimin. "Aku kira bunda mereka telat menjemput karena ini sudah lebih satu jam dari jam biasanya dia menjemput mereka."
"Ah, maaf. Seokjin oppa tidak bisa menjemput mereka, anak bungsunya sedang sakit."
"Oh, begitu."
Jimin diam-diam menghampiri Yoongi yang sedang membuat istana pasir di dalam kotak kecil yang berisi pasir. Yoongi sangat serius hingga tidak sadar Jimin datang dan bersiap untuk mengejutkannya.
"BOO!"
Yoongi terlonjak kaget, tangannya yang memegang sendok pasir terangkat membuat pasirnya bertebangan kemana-mana. Sampai Jimin terkena pasir itu dibagian matanya.
"Ya! Jimin!"
"Aduh, perih~ perih~"
Yoongi menjadi bingung dan kaget saat Jimin menghentakkan kakinya sambil mengucek matanya. Meneriakan kata perih dengan kencang, Youngji, Guru Nara dan yang lainnya berlari panik ke arah mereka berdua.
"Ya ampun Jimin, ada apa?"
Youngji berusaha melepaskan tangan Jimin yang terus saja mengucek matanya. "Tadi Jimin mengagetkan aku, lalu aku tidak sengaja membuat matanya kelilipan pasir." Jelas Yoongi. Guru Nara langsung membawa Jimin ke ruang kesehatan diikuti Youngji dan Hoseok yang tidak mau lepas dari Youngji.
Tangan Yoongi digoyangkan oleh Taehyung, dia menengok dan menemukan Taehyung dengan mata membesar yang lucu. "Aku tidak sengaja melakukannya. Lagipula Jimin duluan yang mengagetkanku."
Yoongi melangkah ke mobil dengan kaki dihentakkan. Matanya tanpa sadar ikut memanas, merasa kasihan juga pada Jimin. Tapi itu bukan salahnya juga, kalau saja Jiminn tidak mengagetkannya tadi, Jimin tidak akan kelilipan pasir seperti tadi.
Taehyung kebingungan sendiri, hanya tinggal dia seorang di taman ini. Mau ikut ke dalam dan melihat Jimin tapi dia malas sekali. Kalau ikut Yoongi ke mobil… tidak ah, Yoongi hyung sedang marah. Itu menyeramkan.
Akhirnya Taehyung bermain pasir sendirian. Dia membuat gambar dan menulis secara abstrak. "Ini ayah, bunda, lalu Yoongi hyung dan Hoseok hyung. Aku dan Jimin, loh kok adik Kukie kecil sekali gambarnya? Oh iya, adik Kukie kan masih kecil."
Di paling ujung Taehyung membuat sebuah gambar kecil lagi di samping gambar Jungkook. "Dan ini adiknya adik Kukie. Kasihan Kukie tidak punya adik. Hihihi."
.
.
.
.
Namjoon dan Seokjin sudah membawa Jungkook ke rumah sakit terdekat dan saat ini Jungkook sedang diperiksa berkala oleh dokter. Dari hasil tes pertama menunjukkan bahwa Jungkook hanya terkena demam biasa, ini sering terjadi oleh bayi berusia satu tahun. Seokjin menghembuskan napas leganya, tadi dia sangat panik sekali karena anak-anaknya yang lain tidak pernah sakit separah ini. Bahkan dia kira Jungkook terkena demam berdarah karena panas tubuhnya yang tinggi. Tapi syukurlah itu tidak terjadi.
Namjoon membawakan satu kotak makan siang untuk Seokjin dan semangkuk bubur bayi. Mereka mampir sebentar dirumah orang tua Seokjin yang kebetulan dekat dari rumah sakit. Namjoon juga menyuruh Youngji untuk mengantar anak-anaknya ke sini.
"Sudah baikan?"
Seokjin menerima kotak dari Namjoon dan tersenyum. "Panasnya sudah mulai turun tapi dia masih rewel." Namjooon mengusap kepala Seokjin dengan sayang, "Itu biasa, mungkin dia kegerahan dan hanya bisa menangis."
Seokjin menaruh kepalanya dipundak Namjoon dan menghela napas lagi. Beruntung sekali ia mempunyai seorang suami siaga seperti Namjoon. Bahkan Namjoon meminta izin cuti beberapa hari untuk membantu Seokjin merawat Jungkook sampai anak bungsunya itu sembuh.
"Aku dapat kabar dari Youngji kalau Jimin terkena pasir dimatanya."
"Benarkah, ada apa lagi dengan anak-anak? Sepertinya mereka tidak bisa membiarkan bundanya untuk merawat satu anak secara fokus." Namjoon terkekeh membiarkan Seokjin makin merapat padanya. Bisa dibilang ini adalah waktu berkualitas bagi mereka berdua. Karena sibuknya Namjoon dengan pekerjaannya dan di rumah Seokjin sibuk dengan anak-anak, maka waktu bersantai seperti ini sangat berharga bagi mereka.
Lalu terdengar rengekan Jungkook dari kamar, Seokjin bangkit dan segera mengambil Jungkook. Ada kompres penurun panas didahinya. "Sini bun dekat ayah," Namjoon menepuk ruangan di sebelahnya. Dan Namjoon dengan sigap mengambil kompresan yang lain beserta sebotol susu Jungkook.
"Cup cup anak bunda jangan menangis lagi ya." Seokjin menggoyangkan Jungkook dalam gendongannya. Si bungsu masih saja menangis meski tak serewel tadi. Namjoon mengambil peran juga, dia memainkan mainan Jungkook agar anaknya itu mau berhenti menangis.
"Duh ayah, bunda gak tega nih liat Kukie yang nangis terus." Seokjin mencium seluruh wajah Jungkook dan wajahnya menampakan raut cemas dan sedih. "Bunda jangan cemas dulu ya. Kita berdoa saja supaya Kukie baik-baik saja."
.
.
.
Yoongi masih berdiam diri dalam mobil. Youngji sudah beberapa kali mencoba mengajak bicara tapi hanya gumaman yang diterimanya. Jimin sudah diobati matanya dan sudah berhenti nangis. Matanya agak memerah, untung saja tidak sampai bengkak. Taehyung terus saja menghibur saudara kembarnya itu dengan menyanyi bersama Hoseok.
"Yoongi mau makan di luar apa di rumah?" Youngji masih mencoba peruntungannya.
"Di rumah." Jawab Yoongi ketus. Youngji hanya menghela napasnya, anak kecil kalau sedang ngambek susah dirayu.
"Baiklah kita makan di rumah. Tadinya sih tante mau beliin kalian Baskin Robins."
Taehyung dan Hoseok yang mendengar langsung histeris, Yoongi juga sempat membelalakan matanya. "Tante, ayo beli Baskin Robin. Taehyung mau~"
"Hoseoki juga mau~"
"Jimin juga tante~"
Youngji tersenyum senang melihat ketiga keponakannya yang antusias. Tinggal merayu si sulung yang masih ngambek. "Tante sih mau saja beliin kalian es krim. Tapi, Yoongi-nya tida mau."
"Ya~ Yoongi hyung mau dong,"
"Iya, jadinya kita dibeliin es krim nih."
"Eng… iya Yoongi hyung,"
Yoongi mendecak kesal karena saudara-saudaranya yang sangat berisik. Tapi karena godaan untuk membeli es krim sangat besar akhirnya Yoongi mengangguk. "Ya sudah, aku juga mau es krim."
"YEAY!" Seru mereka bertiga. Tangan Youngji mengusap rambut halus Yoongi.
.
.
.
.
"Bundaaaaa~ Ayaaaah~"
Hoseok berlari sejak turun dari mobil sampai ke ruang keluarga. Namjoon yang sigap segera mengangkat Hoseok ke dalam gendongannya. Taehyung mengikuti apa yang dilakukan kakaknya itu. "Halo anak-anak, bagaimana hari kalian?"
Seokjin menghampiri Youngji yang menggendong Jimin. "Bagaimana keadaan Jimin?"
"Tidak apa-apa, dia sudah diberi obat oleh gurunya di sekolah,"
Seokjin menghela napas lega lalu matanya melihat Yoongi yang menundukkan kepalanya. Dia menyuruh Youngji membawa Jimin pada ayahnya, "Yoongi, sini peluk bunda."
Yoongi melangkah dengan ragu ke arah Seokjin dan memeluk bundanya itu. "Yoongi gak sengaja kok bun bikin mata Jimin sakit."
Seokjin mengelus rambut Yoongi, "Iya bunda tau. Tapi Yoongi meminta maaf bukanlah hal yang salah. Minta maaf bukan berarti kamu yang salah, tapi kamu sudah memperlihatkan sebuah kebenaran."
"Tapi bunda, aku takut Jimin masih marah denganku."
"Bunda yakin anak-anak bunda adalah anak yang baik hati semua. Jadi coba minta maaf lebih dulu, Jimin pasti memaafkanmu."
Setelah itu Seokjin membiarkan Yoongi menghampiri Jimin yang bersandar pada sofa sedang bermain tablet. Yoongi duduk di sebelah Jimin, "Jimin, apa masih sakit?"
Jimin hanya mengangguk, matanya masih menatap layar tablet.
"Jimin, maafkan aku ya. Aku tidak sengaja,"
Jimin diam.
"Kata bunda, anak bunda pada baik hati, jika ada yang meminta maaf pasti dimaafkan."
Jimin masih diam.
"Dan aku suka dengan orang yang baik hati."
"Iya Yoongi hyung, aku maafin kok."
Yoongi menengok ke Jimin dan tersenyum melihat adiknya itu kini tersenyum juga padanya. "Aku sudah memaafkan hyung, jadi hyung jangan sedih ya."
Yoongi mengangguk dan memeluk Jimin. Tiba-tiba saja Taehyung sudah ikut nimbrung dengan Yoongi dan Jimin, lalu disusul Hoseok. Mereka berempat kini saling tumpuk di atas sofa. "Aww Tae, kaki hyung jangan diinjak!"
"Hahaha Hoseok hyung jangan kelitikin Taehyung dong"
"Aduh Yoongi hyung berat sekali sih. Jimin ga bisa napas nih."
Seokjin dan Namjoon yang melihat keempat anaknya bermain hanya bisa tersenyum bahagia. Ada perasaan hangat dan sayang melihat pemandangan seperti ini. Melihat anak-anaknya yang senang dan bermain bersama.
"Namjoon oppa, Jungkooki bangun nih,"
Seokjin mengambil Jungkook dari gendongan Youngji. "Waah baby bunda sudah tidak demam lagi ya."
Namjoon memeriksa dahi Jungkook dan benar, panasnya sudah turun. Wajah Jungkook juga sudah mulai memerah, pertanda bahwa si kecil sudah lebih baik. "Adik Kukie sudah sembuh."
Taehyung dan yang lain yang mendengar ayahnya berseru, langsung berbondong menuju ke kedua orangtua mereka. "Yeay, adik Kukie tidak sakit lagi."
Dan sore itu kediaman rumah keluarga Kim ini dipenuhi oleh canda dan tawa dari kelima anak mereka.
To be continued
