Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

A/N: hollaaa.. Makasih udah di review ^o^. Disini Naruto kencan sama Hinata. Humornya gatau kurang apa enggak :Dv. Saya gak bermaksud ngebashing Sasuke di chp sebelumnya. Saya cuma pengen Sasuke lain di fict ini. Apa kalian gak bosan kalo Sasukenya dingin terus? Kalo saya sih bosen :D hehehe.. Sebenernya saya pengen banget bales review dari kalian. Sayangnya saya mengetik fict ini di hp, bukan di lappy/kompy. Yang ngepost juga bukan saya, tapi teman saya ^^. Kalian boleh memanggil saya apa aja.. Tapi jangan yang buruk-buruk ya ^^b. Yoshh sudah dulu basa basinya...

.

Apa Naruto mengajaknya kencan? Apa mungkin Naruto ingin menyatakan perasaannya? Pikiran-pikiran itu terus hilir mudik di otak Hinata. Ia tak sabar menunggu besok.

.

Genre: Romance? Humor?

Warning: Sasuke OOC. Naruto Girl. Typo. Gaje. EYD gak Sempurna. dsb.

Don't Like Don't Read! No Flame!

{{-}}

Hinata menunggu kedatangan Naruto. Ia datang terlalu cepat saking senangnya diajak oleh Naruto untuk jalan-jalan. Sekarang, dia berada di taman bermain, dengan memakai dress ungu bercorak polkadot putih tanpa lengan dan juga memakai syal berwarna putih. Rambutnya diikat satu. Tanpa make-up saja Hinata sudah manis.

Hinata melihat jam yang melingkar manis di tangan kirinya. Ternyata sebentar lagi pukul 10. Ia tetap duduk manis dibangku yang sudah disediakan.

"Lama menunggu ya?" sebuah suara mengagetkan Hinata. Ia menoleh ke asal suara tadi. Naruto. Ehh? Kok dia memakai baju wanita? Dan kenapa masih juga memakai wig? Hinata kira Naruto akan berpenampilan seperti laki-laki. Ternyata dugaan Hinata salah.

"Ti-tidak kok. Ke-kenapa Naruto-kun memakai baju wanita?" tanya Hinata bingung. Dia memanggil nama Naruto yang asli karena sekarang mereka tidak sedang berada dilingkungan sekolah.

"Kau lupa ya? Aku kan harus berpenampilan seperti wanita maupun itu diluar sekolah. Kecuali didalam rumah."

Hinata hanya membalas dengan kata 'oh' saja.

Naruto yang sekarang sedang memakai wig dengan celana berwarna hitam menggunakan suspender dan dalamannya kaos putih polos. Beanie berwarna hitam menghiasi kepalanya. Orang-orang yang melihat Naruto terkagum-kagum dengan kecantikannya. Ohh iya, Naruto memakai sepatu kets berwarna hitam dengan solnya yang berwarna putih.

"Na-Naruto-kun kan bisa diam-diam tidak berpenampilan seperti ini." usul Hinata. Dia agak kecewa dengan penampilan Naruto yang sekarang.

"Aku ini orangnya tidak bisa melanggar janji. Dan baju ini aku dapatkan dari Kiba." ujar Naruto. Tangan kirinya dimasukkan kedalam kantong. Sedangkan tangan kanannya seperti berkacak pinggang.

"Ummm.. Ya-yasudah. Ayo kita senang-senang." ajak Hinata.

"Ayo!"

{{-}}

Sekarang Naruto dan Hinata sedang mengantri untuk naik bianglala. Hinata berada didepan Naruto, karena antriannya hanya sebaris. Saat Naruto lagi asik-asiknya menatap sekeliling, tiba-tiba ada yang meraba dan sedikit meremas-remas bokongnya. Wajah Naruto yang semula senang menjadi kesal.

Dia berbalik dan langsung memegang tangan yang meraba-raba bokongnya tadi. Ternyata yang dihadapan Naruto sekarang adalah om-om yang menyeringai mesum.

BUAGH!

Lelaki paruh baya itu terlempar ke belakang. Hidungnya mengeluarkan cairan merah yang tentu saja darah. Ternyata Naruto yang meninju lelaki itu.

"Dasar mesum!" teriak Naruto mengeluarkan amarahnya. Hinata yang melihat kejadian itu langsung menenangkan Naruto. Naruto benar-benar kesal. Sudah dua kali dia dilecehkan oleh laki-laki. Benar-benar menjijikkan, pikirnya.

{{-}}

Mereka sedang berada dipuncak bianglala. Hinata mengatur pikirannya agar tidak pingsan di saat-saat seperti ini. Naruto hanya diam saja. Naruto menyadari kalau suasana saat ini benar-benar canggung. Ia memulai pembicaraan. "Aku tanya sekali lagi. Kau suka padaku ya?"

"I-iya."

Naruto memajukan tubuhnya. Ditatapnya wajah Hinata lekat-lekat. Yang ditatap sudah seperti kepiting rebus. Sekarang arah pandang Naruto bergeser ke bibir Hinata. Ini kesempatan yang bagus untuk menciumnya. Mengingat tidak ada orang selain mereka berdua. Dan disaat Naruto ingin mencium bibir Hinata. Tiba-tiba saja bianglala bergerak.

Naruto yang hilang keseimbangan terjatuh menimpa Hinata. Hinata benar-benar ingin pingsan. Mukanya benar-benar merona hebat. Siapa yang tidak merona? Berdua dengan laki-laki yang kau sukai, tetapi sekarang mukanya berada dilehermu. Sungguh malu!

Nafas Naruto membelai leher jenjang Hinata. Pertamanya Hinata tidak bisa bergerak. Naruto yang menikmati adegan ini tidak beranjak dari posisinya.

"MESUM!" teriak Hinata yang sudah mendorong Naruto. Kepala Naruto terbentur kaca. Untung tidak ada luka.

Naruto menyesali perbuatannya tadi. Benar-benar memalukan! Jika ada orang yang melihat adegan tadi. Pasti dikira mereka itu lesbi. Untung saja hanya ada mereka berdua. Ditatapnya Hinata. Kepalanya tertunduk. Ia takut kalau Hinata menangis.

"Aku anggap ini sebagai kencan kita." ujar Naruto. Hinata yang semulanya tertunduk kini menatap Naruto. Ia terlihat senang. Ditampilkannya senyum manis untuk Naruto.

Deg!

'Ma-manis.' batin Naruto.

Tiba-tiba saja. Naruto ingin buang air kecil. Dipegangnya kemaluannya sambil mendesah dan mengigit bibir bawahnya. Hinata yang melihatnya hanya menatapnya bingung. "Naruto-kun kenapa?" tanya Hinata seraya memiringkan kepalanya.

"Ssshhhhh... Pengen ngencing nih." Naruto menggeliat-liat hebat dan juga desahannya seperti menggoda. "Naruto-kun tunggu saja. Sebentar lagi kita turun kok." ucap Hinata menenangkan Naruto. Bianglala yang sedang berputar tiba-tiba berhenti lagi.

Dari speaker terdengar bahwa bianglala sedang ada kesalahan teknis. Naruto dan Hinata yang lagi-lagi berada dipuncak mukanya memucat. Apalagi Naruto yang sedang menahan kencing harus bertahan sampai bianglala itu bergerak kebawah. Tak henti-hentinya dia menggeliat.

"Duh gak tahan nihh!" teriak Naruto frustasi.

"Tahan Naruto-kun sebentar lagi pasti bergerak." Hinata terus saja menenangkan Hinata.

10 menit sudah berlalu. Wajah Naruto benar-benar ingin mati sekarang. "Gila nih bianglala! Kesalahan teknis apanya sih... Ssshhhh.. Gila gak tahan nihhh!"

"Na-Naruto-kun..."

"Udah ah! Gua pipis disini ajaaaaa..." apa Naruto tidak malu? Didepannya itu adalah cewek polos yang disukainya. Kalo author sih malu ngencing depan orang, apalagi orangnya itu yang author sukai.

"Ja-jangan Naruto-KUN!" teriak Hinata mulai panik.

"Gak tahan nih Hinata! Aduhhh.. Udah ya gua pipis disini aja!" Naruto meremas-remas ujung celananya. Bibirnya benar-benar pucat. Desahannya benar-benar hebat.

"Jangan! Pokoknya jangan! Tahan aja sih!" perintah Hinata mulai tambah panik. Hinata yang berpikir semulanya naik bianglala pasti akan romantis kok malah jadi begini?

"Sshhhhh... SUMPAH GUA GAK TAHAN!" Naruto mulai menghentak-hentakkan kakinya karena frustasi.

"Tahan! Tarik nafassss... Keluarkan..." Naruto mengikuti perintah Hinata. Ngomong-ngomong kok ini jadi kayak mau ngelahirin? Tau ah.

20 menit sudah berlalu sekarang mereka mulai turun dari bianglala 'nista' itu. Naruto langsung saja berlari ke toilet. Hinata juga mengejar Naruto. Hinata yang melihat Naruto salah memasuki toilet meneriakinya. Tetapi keburu Naruto sudah masuk toilet itu.

Naruto langsung membuka resletingnya. Orang-orang yang ada di wc itu pada kaget dan bingung lihat Naruto. Pundak Naruto ditepuk oleh seseorang "hey cewek! Kau punya 'burung' ya? Ngapain ke wc cowok?" tanya pemuda itu.

'Heh? Wc cowok? Ohh iya ya! Aku kan sedang menyamar jadi wanita! Duhh begok! Gara-gara nahan kencing nih!' batin Naruto.

Naruto yang tidak mempunyai jawaban yang pas hanya nyengir saja dan langsung berlari meninggalkan wc cowok. Orang-orang yang melewati wc cowok pada kaget karena seorang wanita masuk ke wc yang isinya laki-laki semua. Hinata yang melihat itu cengo.

Saat memasuki wc cewek, ia melihat gadis kecil ingin membuang air kecil juga. Secara gak sadar Naruto membentaknya "GUA DULUAN WOY!" gadis kecil yang dibentak itu kaget dan langsung menangis. Naruto tidak memperdulikannya dan langsung membuang air kecil.

Setelah selesai ia bernapas lega. Langsung saja ia melenggang pergi tanpa melihat tatapan tajam dari ibunda si gadis kecil tadi.

{{-}}

Setelah insiden menahan kencing, mereka mencoba wahana lain. Naruto memaksa Hinata agar ikut bermain Tornado. Hinata kan benar-benar takut dengan wahana itu. Mengalah saja, pikir Hinata. Setelah menaiki tornado, Hinata muntah-muntah. Naruto jadi panik dan membelikannya minuman. Istirahat sebentar saja Hinata sudah pulih.

Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Perut mereka mulai ribut minta diisi. Akhirnya mereka berkunjung ke tempat makan yang ada di taman bermain itu.

Setelah selesai makan Naruto melihat permainan yang mengambil-mengambil boneka. Ia mencoba permainan itu. Mukanya terlihat sangat serius. Hinata hanya memberi semangat kepada Naruto.

Ternyata Naruto mendapatkan bonekanya. Boneka beruang sedang berwarna putih bersih. Dia memberikannya kepada Hinata.

"Ini untukmu"

"Makasih." jawab Hinata riang. Lagi-lagi jantung Naruto berdegup cepat. Melihat senyum Hinata yang manis saja sudah seperti ini.

"Ayo jalan-jalan lagi." ajak Naruto.

"Mmmm.. Ayo!" jawab Hinata semangat. Baru beberapa langkah mereka berjalan mereka dihentikan teriakan yang memanggil nama Naruto. Naruto langsung menoleh dan menyengir senang. "Yo, Kiba!" Kiba langsung menuju tempat Naruto berada.

"Ngapain kau disini? Wahh kau cantik juga kalau memakai baju bebas. Naruto, misalnya aku disuruh perlihatkan pacarku pada teman-temanku, kau mau gak?" tanya Kiba dengan senangnya.

'Heh?' Hinata kaget.

"OGAH!" tolak Naruto mentah-mentah. "Hahaha... Eh? Kau sudah punya pacar ya?" yang dimaksud Kiba adalah Hinata. Muka Hinata langsung bersemu merah mendengar kata-kata 'pacar'. "Baru calon.." jawab Naruto dengan yakin.

"Ohh ya sudah kalau begitu.. Aku pergi dulu ya.. Jaa!" Kiba pun berbalik dan langsung menuju ke tempat teman-temannya berkumpul.

"Siapa tu Kib? Gebetan? Kenalin dong.." ucap teman Kiba.

"Iya Kib! Waah tipe gua banget tuh! Tinggi, kulitnya eksotis, tapi satu kurangnya gak bohay broo." kata teman Kiba yg satunya sambil membentuk-bentuk lekuk tubuh cewek bohay. Ternyata yang dimaksud mereka adalah Naruto. Kiba menahan tawa dengar omongan teman-temannya.

"Tapi kok namanya kayak cowok ya? Naruto kan namanya?"

"Baka! Gak usah dengar namanya! Lihat saja tubuh dan wajahnya!" bantah teman Kiba yang satu lagi. Benar-benar bikin Kiba mati-matian menahan tawa.

{{-}}

Sekarang sudah pukul empat sore. Mereka bermaksud untuk pulang. Sebelum itu, Hinata melihat tempat photo box. Ia memaksa Naruto agar berfoto dengannya. Naruto hanya mengiyakan saja.

Hinata berada didepan Naruto. Naruto yang lebih tinggi tentu saja menunduk ke arah kamera.

Dengan refleks Naruto memeluk leher Hinata. Dan ditundukkannya kepalanya sedikit. Ia mengarah pada pipi kiri Hinata yang sekarang merah. Bukan karena blush on, tetapi karena menahan malu.

'Cup!'

Bersamaan dengan suara kamera, Naruto mencium pipi kiri Hinata.

Mereka melihat foto mereka yang sudah jadi. Disitu wajah Hinata benar-benar merah. Tapi dalam hati ia senang. Hinata memberikannya kepada Naruto, dan satunya untuk dia sendiri.

{{-}}

"Benar tidak mau ku antar pulang?" tanya Naruto.

"Benar kok. Nanti aku dijemput oleh Neji-nii." jawab Hinata meyakinkan.

"Yasudah kalau begitu. Aku pulang dulu ya." pamit Naruto.

Hinata melihat kepergian Naruto. Setelah Naruto pergi, datang mobil yang dipakai oleh nii-sannya. Hinata memasuki mobil dan langsung melesat pergi.

Dia tidak tau kalau foto yang diambil bersama Naruto tadi jatuh dari kantong dressnya. Seorang pemuda mengambil foto itu.

"Ini kan, Kurihara dan Hyuuga. Kenapa mereka terlihat mesra?" ujar pemuda itu bingung. Disimpannya foto itu dikantong celananya. 'Khukhukhu~~ Bisa jadi berita besar nih.' pikirnya sambil menyeringai licik.

TBC!

Siapa ya yang ambil foto Hinata dan Naruto? :O coba di jawab :p wkwk... Tunggu chp slanjutnya ya. Mau tanya nih.. Rated K itu untuk apa ya? Saya gak tau hehehe.. Saya suka update cepat jika sedang mood, atau reviewnya nambah banyak. Ya udah review yaaaaa :))

NO Flame!

Jaa-nee! :D